E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
Not a member yet
    783 research outputs found

    Pemanfaatan Senam Hamil Terhadap Penurunan Low Back Pain Pada Ibu Hamil Trimester III di Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara

    No full text
    Complaints of pregnant women with Low Back Pain(back pain) during pregnancy at 13 weeks to 30 weeks of pregnancy, it was found that the older the pregnancy, the stronger the back pain experienced by pregnant women was found to be up to 51% experiencing increased back pain during pregnancy. The purpose of this activity is so that pregnant women in Trimester III can benefit and increase the knowledge of pregnant women and reduce the intensity of back pain in pregnant women called Low Back Pain, so that healthy and happy pregnant women are created. Weight gain and hormonal changes that often occur during pregnancy are physiological changes experienced by mothers during pregnancy, one of which is a trigger for back pain. Pregnant women need to prepare for the birth process due to the physical changes and psychological changes they experience. The method is carried out by utilizing pregnancy exercises to overcome pain during the labor process in addition to pharmacological therapy, it can also be done with the pregnancy exercise method, pregnancy exercise can reduce pain in physical ways. Fear, anxiety in facing childbirth are elements that can cause psychological and physical tensions, especially related to the muscles during the labor process. The results of pregnant women who do pregnancy exercises regularly during their pregnancy, will experience a much easier and smoother birth process and a shorter delivery time. Solution to the problem: Conclusion The need to utilize pregnancy exercises to reduce Low Back Painin pregnant women Trimester III to reduce complications that may occur during pregnancy, childbirth and postpartum.Keluhan ibu hamil Low Back Pain(nyeri punggung) pada kehamilan di usia kehamilan 13 minggu sampai 30 minggu usia kehamilan, ditemukan bahwa semakin tua kehamilan semakin kuat mengalami nyeri punggung hamil ditemukan sampai 51% mengalami peningkatan nyeri punggung pada kehamilan. Tujuan kegiatan ini adalah agar ibu hamil Trimester III dapat  bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan ibu hamil dan mengurangi intensitas nyeri punggung pada ibu hamil yang disebut Low Back Painmaka tercipatalah ibu hamil yang sehat dan bahagia. Kenaikan berat badan dan perubahan hormone yang kerap terjadi selama masa kehamilan adalah merupakan perubahan fisiologis yang dialami ibu selama kehamilan yang salah satunya merupakan pemicu terjadinya nyeri punggung. Ibu hamil perlu mempersiapkan proses kelahiran dikarenakan perubahan fisik dan perubahan psikis yang dialaminya. Metode dilakukan dengan pemanfaatan senan hamil  untuk  mengatasi  nyeri  pada  proses  persalinan selain    terapi farmakologi  dapat    juga  dilakukan  dengan  metode  senam hamil,  senam  hamil  dapat  mengurangi  rasa  nyeri  dengan  cara-cara  yang bersifat  fisik.    Rasa  takut,  cemas  menghadapi  persalinan  merupakan unsur-unsur  yang  bisa  menimbulkan  ketegangan-ketegangan  psikis  danfisik  terutama  berhubungan  dengan  otot-otot  selama  proses  persalinan. Hasil ibu hamil    yang    melakukan    senam    hamil    secara    teratur    selama kehamilannya, akan mengalami proses melahirkan yang jauh lebih mudah  dan lancar serta waktu melahirkan yang lebih singkat. Solusi permasalahan : Kesimpulan Perlunya Pemanfaatan senam hamil terhadap penurunan Low Back Painibu hamil Trimester III untuk mengurangi komplikasi yang mungkin terjadi pada kehamilan persalinan dan nifas.

    Hubungan Penggunaan Gadget dengan Perkembangan Kognitif dan Sosial Anak di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 09 Sidayu

    No full text
    Children at an early age are often exposed to gadgets without supervision which can cause addiction, decreased thinking abilities and impaired social interaction. This research aims to analyze the relationship between gadget use and children's cognitive and social development. This research uses a quantitative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 88 children selected randomly using simple random sampling techniques. Data was collected through questionnaires on gadget use and social development as well as observations of cognitive development. Data analysis used the Spearman Rank test. The results of research at Kindergarten Aisyiyah Bustanul Athfal 09 Sidayu were that most of the use of gadgets was in the medium category as many as 45 (51.1%) children, cognitive development was mostly in the beginning to develop category as many as 52 (59%) children and social development was in the doubtful category as many as 48 (51.1%) children. The use of gadgets with children's cognitive development obtained a p value of 0.000 <0.05. The results of research on gadget use and children's social development showed a p value of 0.000 < 0.05. There is a relationship between gadget use and children's cognitive and social development at Aisyiyah Bustanul Athfal 09 Sidayu KindergartenAnak-anak di usia dini sering terpapar gadget tanpapengawasan yang dapat menyebabkan kecanduan, penurunankemampuan berpikir, dan gangguan interaksi sosial. Penelitianini bertujuan untuk menganalisis hubungan penggunaangadget dengan perkembangan kognitif dan sosial anak. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif denganpendekatan Cross-sectional. Sampel terdiri dari 88 anak yang dipilih secara acak menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner penggunaangadget dan perkembangan sosial serta observasiperkembangan kognitif. Analisa data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian di Tk Aisyiyah Bustanul Athfal 09 Sidayu sebagian besar penggunaan gadget memiliki kategori sedang sebanyak 45 (51,1%) anak, Perkembangan kognitif sebagian besar memiliki kategori mulai berkembang sebanyak 52 (59%) anak dan perkembangan sosial memiliki kategori meragukan sebanyak 48 (51,1%) anak. Penggunaan gadget dengan perkembangan kognitif anak didapatkan nilai p0,000 < 0,05. Hasil penelitian penggunaan gadget denganperkembangan social anak didapatkan nilai p 0,000 < 0,05. Ada hubungan penggunaan gadget dengan perkembangan kognitif dan sosial anak di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 09 Sidayu

    Pengaruh Intensitas Kebisingan Terhadap Stress Kerja Pada Pekerja Depo Lokomotif PT X: pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, kesimpulan dan saran, kekurangan kajian, pernyataan (ucapan terima kasih, pendanaan, kontribusi setiap penulis, pernyataan konflik kepentingan) daftar pustaka

    No full text
    Latar Belakang: Kebisingan okupasional di depo lokomotif yang melebihi nilai ambang batas 85 dBA berpotensi memicu stres kerja psikofisiologis melalui mekanisme neuroendokrin yang kompleks. Tujuan: Menganalisis hubungan intensitas kebisingan dengan risiko stres kerja pada teknisi depo lokomotif. Metode: Penelitian cross-sectional observasional dengan total sampling pada 40 teknisi di Depo Lokomotif. Intensitas kebisingan diukur menggunakan sound level meter tipe II pada 5 titik area kerja dengan metode time-weighted average, dikategorikan ?85 dBA dan >85 dBA. Stres kerja diukur dengan kuesioner tervalidasi 30 item (?=0,89). Analisis data menggunakan uji Chi-square dan Cramer's V. Hasil: Sebanyak 62,5% area kerja memiliki intensitas kebisingan >85 dBA (rata-rata 88,4±3,1 dBA) dan 72,5% pekerja mengalami stres kerja. Analisis Chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara paparan kebisingan >85 dBA dengan stres kerja (p=0,030, OR=3,8; 95%CI: 1,4-9,9, Cramer's V=0,34). Usia dan masa kerja tidak berpengaruh signifikan (p>0,05). Simpulan: Paparan kebisingan okupasional di atas nilai ambang batas meningkatkan risiko stres kerja psikofisiologis secara signifikan pada teknisi depo lokomotif. Saran: Intervensi pengendalian kebisingan berbasis hierarki kontrol dan penelitian longitudinal dengan sampel yang lebih besar serta desain kohort prospektif diperlukan untuk memvalidasi temuan dan menguji efektivitas intervensi berbasis buktiKebisingan di tempat kerja merupakan salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan stress kerja pada pekerja industri. Tingkat kebisingan di tempat kerja masih menjadi masalah signifikan di seluruh dunia. Menurut WHO dengan lebih dari 30 juta pekerja Amerika berisiko terpapar kebisingan berbahaya. Mengingat tingginya tingkat gangguan pendengaran akibat kebisingan di Indonesia, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana intensitas kebisingan memengaruhi stress kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana intensitas kebisingan memengaruhi stress kerja pada pekerja di Depo Lokomotif PT X. Metodologi kuantitatif dengan pendekatan cross- sectional digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini melibatkan 40 pekerja Depo Lokomotif PT X dengan menggunakan metode pengambilan Total Sampling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana intensitas kebisingan terhadap stress kerja pada pekerja di Depo Lokomotif PT X. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan pendekatan cross- sectional. Penelitian ini melibatkan 40 pekerja Depo Lokomotif PT X dengan menggunakan metode pengambilan Total Sampling. Tingkat stress kerja diukur menggunakan kuesioner, sedangkan intensitas kebisingan diukur menggunakan sound level meter. dan alat pengukur tingkat kebisingan digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan. Uji Chi Square digunakan dalam analisis data untuk menilai korelasi antara intensitas kebisingan dan stress kerja. Pengukuran Tingkat Kebisingan di tempat kerja dalam penelitian ini dengan menggunakan SNI 8247:2017. Uji Chi Square mengungkapkan korelasi yang signifikan antara tingkat kebisingan dan stress kerja (p = 0,022; p 0,05), dengan interval kepercayaan (CI) 95% sebesar 10,91–13,89 dan Risiko Relatif (RR) sebesar 0,167 (0,0241,175).Terdapat hubungan yang kuat antara intensitas kebisingan dan stress kerja pada pekerja Depo Lokomotif PT X. pekerja yang terpapar tingkat kebisingan di atas nilai ambang batas lebih mungkin mengalami stress kerja. Untuk mengurangi risiko stress kerja pada pekerja, penting untuk menggunakan alat pelindung diri yang tepat dan menerapkan strategi manajemen kebisingan

    Waspada Hipertensi Tersembunyi di Tempat Kerja: Analisis Faktor Metabolik Pegawai Usia di Atas 40 Tahun

    No full text
    Latar Belakang: Hipertensi tersembunyi di tempat kerja merupakan ancaman kesehatan serius pada populasi usia produktif yang kerap tidak terdeteksi melalui pemeriksaan konvensional. Identifikasi faktor metabolik yang berkontribusi terhadap kondisi ini penting untuk mendukung strategi pencegahan berbasis tempat kerja. Tujuan: Menganalisis hubungan parameter metabolik dengan kejadian hipertensi pada pegawai berusia ?40 tahun. Metode: Studi potong lintang retrospektif menggunakan data sekunder pemeriksaan kesehatan 140 pegawai Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya periode Februari – Maret 2024. Analisis dilakukan menggunakan uji ANOVA satu arah dan regresi logistik. Hasil: Indeks massa tubuh dan kolesterol total berhubungan signifikan dengan hipertensi (p<0,05). Setiap peningkatan satu unit IMT meningkatkan risiko hipertensi sebesar 25% (OR=1,254; 95% CI: 1,051–1,493). Interaksi kolesterol total dan LDL memperkuat risiko hipertensi secara bermakna. Simpulan: IMT dan Kolesterol total merupakan determinan metabolik dominan hipertensi pada pegawai usia produktif. Saran : Institusi perlu mengimplementasikan skrining metabolik secara berkala, program pengendalian berat badan, dan manajemen profil lipid sebagai komponen kebijakan kesehatan kerja preventifHipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang umum dijumpai pada pegawai usia produktif, terutama mereka yang berusia di atas 40 tahun. Faktor risiko metabolik seperti indeks massa tubuh (IMT), dislipidemia, dan kadar glukosa darah berperan penting dalam peningkatan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara parameter metabolik dan status hipertensi pada pegawai usia ?40 tahun. Kajian dilakukan secara retrospektif dengan pendekatan deskriptif-analitik menggunakan data sekunder dari hasil pemeriksaan kesehatan rutin pada 140 pegawai. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji ANOVA, dan multivariat melalui regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa usia, IMT, kolesterol total, LDL, serta gula darah puasa dan postprandial cenderung meningkat pada kelompok hipertensi. IMT dan kolesterol total memiliki hubungan signifikan terhadap hipertensi, dengan IMT sebagai prediktor kuat (OR = 1,254; CI 95%: 1,051–1,493). Interaksi kolesterol total dan LDL juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko hipertensi. Temuan ini menegaskan pentingnya pengendalian faktor metabolik melalui intervensi berbasis tempat kerja seperti edukasi nutrisi, promosi aktivitas fisik, dan pemantauan kesehatan berkala. Penelitian lanjutan direkomendasikan dengan desain longitudinal untuk memperkuat pemahaman hubungan kausal dan mempertimbangkan faktor tambahan seperti stres kerja dan konsumsi obat antihipertensi

    THE RELATIONSHIP BETWEEN PHYSICAL ACTIVITY AND THE RISK OF HEART DISEASE IN ADOLESCENT FEMALES AT STATE SENIOR HIGH SCHOOL 13 BOMBANA, MATAOLEO DISTRICT, BOMBANA REGENCY

    No full text
    Pendahuluan: Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) dengan angka kematian tertinggi di dunia dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, termasuk di Indonesia. Saat ini, risiko penyakit jantung tidak hanya ditemukan pada usia dewasa dan lanjut usia, tetapi juga mulai meningkat pada kelompok usia remaja seiring dengan perubahan gaya hidup yang ditandai oleh rendahnya aktivitas fisik. Penurunan aktivitas fisik pada remaja dipengaruhi oleh modernisasi, peningkatan aktivitas sedentari, serta tingginya screen time, yang berdampak pada munculnya faktor risiko awal penyakit jantung seperti obesitas, hipertensi, dan gangguan metabolik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan risiko penyakit jantung pada remaja putri di SMA Negeri 13 Bombana Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bombana. Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif dan dirancang menggunakan observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah semua remaja putri di SMA Negeri 13 Bombana Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bombana sebanyak 187 orang. Sampel adalah remaja di SMA Negeri 13 Bombana Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bombana yang berjumlah 65 orang. Alat uji yang digunakan dalam analisis bivariat adalah uji Kai kuadrat (Chi Square). Hasil: %). Dari 65 orang responden, aktifitas fisik pada remaja putri terbanyak dalam kategori tinggi sebanyak 35 orang (53,8%), risiko penyakit jantung pada remaja putri terbanyak dalam kategori tidak berisiko sebanyak 45 orang (69,2%) Ada hubungan aktifitas fisik dengan risiko penyakit jantung pada remaja di SMA Negeri 13 Bombana Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bombana (x2= 11,081; p-value = 0,004). Kesimpulan: Ada hubungan kebiasaan aktifitas fisik dengan risiko penyakit jantung pada remaja putri di SMA Negeri 13 Bombana Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bombana.Introduction: Heart disease is one of the non-communicable diseases (NCDs) with the highest mortality rate worldwide and remains a serious public health problem, including in Indonesia. Currently, the risk of heart disease is not only found in adults and the elderly but is also increasing in adolescents along with lifestyle changes characterized by low physical activity. The decline in physical activity in adolescents is influenced by modernization, increased sedentary activities, and high screen time, which have an impact on the emergence of early risk factors for heart disease such as obesity, hypertension, and metabolic disorders. The purpose of this study was to determine the relationship between physical activity and the risk of heart disease in adolescent girls at SMA Negeri 13 Bombana, Mataoleo District, Bombana Regency. Methods: This study was quantitative and designed using an observational cross-sectional approach. The population was all 187 adolescent girls at SMA Negeri 13 Bombana, Mataoleo District, Bombana Regency. The sample was 65 adolescents at SMA Negeri 13 Bombana, Mataoleo District, Bombana Regency. The test tool used in the bivariate analysis was the Chi-square test. Results: %). Of the 65 respondents, the highest physical activity level among adolescent girls was in the high category (35 respondents, 53.8%), and the highest risk level among adolescent girls was in the low-risk category (45 respondents, 69.2%). There is a relationship between physical activity and the risk of heart disease in adolescent girls at State Senior High School 13 Bombana, Mataoleo District, Bombana Regency (x2 = 11.081; p-value = 0.004). Conclusion: There is a relationship between physical activity habits and the risk of heart disease in adolescent girls at State Senior High School 13 Bombana, Mataoleo District, Bombana Regency

    HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENYAKIT JANTUNG DAN PENCEGAHAN STUNTING DI SMAN 12 KONAWE SELATAN

    No full text
    Introduction: Heart disease is the leading cause of death for men, women, and people from most racial and ethnic groups. One person dies every 33 seconds from cardiovascular disease. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and heart disease prevention behavior at SMAN 12 South Konawe. Methods: This study was quantitative and designed using an observational cross-sectional approach. The population was all 290 adolescents at SMAN 12 South Konawe, Lalembuu District, South Konawe Regency. The sample size was 74 adolescents. The instrument was a questionnaire. Data analysis used the chi-square test. Results: Of the 74 respondents, the majority of adolescents' knowledge was in the poor category (35 respondents (47.3%), and the majority of respondents (52 respondents (70.3%) did not engage in heart disease prevention behavior. The data analysis results obtained an X2 value of 9.032 (greater than the X2 table value of 5.99) and a p-value of 0.011 (? 0.05), thus concluding that there is a relationship between adolescent knowledge and heart disease prevention behavior at SMAN 12 South Konawe. Conclusion: There is a relationship between knowledge and heart disease prevention behavior at SMAN 12 South Konawe.Pendahuluan: Penyakit jantung merupakan penyebab kematian utama bagi pria, wanita, dan orang-orang dari sebagian besar kelompok ras dan etnis. Satu orang meninggal setiap 33 detik akibat penyakit kardiovaskular. Tujuan penelitian adalan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan penyakit jantung di SMAN 12 Konawe Selatan. Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif dan dirancang menggunakan observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah semua remaja di SMA Negeri 12 Konawe Selatan, Kec. Lalembuu. Kab. Konawe Selatan sebanyak 290 orang.. Sampel berjumlah 74 remaja.  instrumen adalah kuesioner.. Analisis data menggunakan uji chi square.. Hasil: Dari 74 orang responden, pengetahuan remaja terbanyak dalam kategori kurang sebanyak 35 orang (47.3%), sebagian besar responden tidak melakukan perilaku pencegahan penyakit jantung sebanyak 52 orang (70.3%). Hasil analisis data diperoleh nilai X2 = 9.032 (lebih besar dari nilai X2 tabel = 5.99) dan nilai p-value = 0.011 (? 0.05), sehingga dapat disimpulkan ada hubungan pengetahuan remaja terhadap perilaku pencegahan penyakit jantung di SMAN 12 Konawe Selatan. Kesimpulan: Ada hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan penyakit jantung di SMAN 12 Konawe Selatan. &nbsp

    Pengaruh Crumpled Paper Exercise Dan Constraint Induced Movement Therapy Terhadap Otot Ekstremitas Pasien Pasca Stroke

    No full text
    Ringkasan: Latar Belakang: Dampak stroke seperti hemiparesis atau kelumpuhan ekstremitas menyebabkan penurunan kinerja dan kekuatan otot pada pasien pasca stroke. World Stroke Organization mencatat 7,6 juta kematian akibat stroke dengan 13,7 juta kasus baru annually. Tujuan: Mengetahui pengaruh kombinasi crumpled paper exercise dan constraint induced movement therapy terhadap peningkatan kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien pasca stroke. Metode: Penelitian quasi experimental pre-post test with control group design terhadap 38 pasien pasca stroke (19 kelompok intervensi, 19 kelompok kontrol) di Puskesmas Sawah Lebar Bengkulu. Intervensi dilakukan 5 menit/hari, 2 kali/minggu selama 4 minggu. Kelompok kontrol mendapat mirror therapy. Kekuatan otot diukur menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). Hasil: Uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p=0,001, yang berarti terdapat pengaruh signifikan kombinasi terapi terhadap peningkatan kekuatan otot ekstremitas atas pasien pasca stroke. Simpulan: Kombinasi crumpled paper exercise dan constraint induced movement therapy efektif meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas pasien pasca stroke. Saran: Diperlukan penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan durasi intervensi lebih panjang.Dampak stroke seperti hemiparesis atau kelumpuhan pada ekstremitas menyebabkan turunnya kinerja ekstremitas dan menimbulkan menurunnya kekuatan otot pada pasien pasca stroke. Tujuan : Mengetahui pengaruh crumpled paper exercise dan constraintiinduced movementitherapy terhadap peningkatan kekuataniotot ekstremitas atas pada pasien pasca stroke. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis quasi experiment menggunakan rancangan pre-test and post-test with controligroup design dengan total sampel sebanyak 38 orang, 19 orang kelompok intervensi dan 19 orang kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan instrument MMT (ManualnMuscle Testing) untuk mengukur kekuatannotot ekstremitas. Hasil : hasil uji bivariate Mann-Whitney didapatkan nilai p value 0.001 yang artinya ada pengaruh crumpled paper exercise dan constraint induced movement therapy terhadapnpeningkatan kekuatannotot ekstremitasnatas pada pasiennpasca stroke. Kesimpulan : Dengan demikian, crumpled paper exercisendan constraintninduced movementntherapy dapat memberikan manfaat dalam mengatasi kelemahan otot pada pasien pasca stroke

    The 3S-BASED NURSING CARE TRAINING FOR NURSES AT MOTUI COMMUNITY HEALTH CENTER, NORTH KONAWE DISTRICT

    No full text
    Proses keperawatan adalah metode yang sistematis dalam memberikan asuhan keperawatan yang berfokus pada induvidu, keluarga dan masyarakat. Pemberian asuhan keperawatan harus terdokumentasi dengan baik. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) telah menerbitkan secara resmi Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Buku 3S (SDKI, SLKI dan SIKI) dapat digunakan oleh perawat di Puskesmas dalam menjalankan tugasnya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan perawat tentang 3S (SDKI, SLKI dan SIKI) melalui sosialisasi pelatihan. Metode yang digunakan dalam kegiatan yaitu pre dan post test tanpa kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampling dengan total sampling 20 perawat. Instrumen yang digunakan menggunakan kuisioner tingkat pengetahuan tentang 3S (SDKI, SLKI, SIKI). Hasil kegiatan ini didapatkan pengetahuan perawat sebelum pelatihan dengan pengetahuan kurang 35 %, pengetahuan cukup 60 %, dan pengetahuan baik 5 %. Setelah pelatihan pengetahuan perawat meningkat menjadi baik (100%).Nurses at health centers have the main task of providing nursing services in the form of individual, family, group, and community nursing care. Nursing care is expected to be well documented in accordance with the Indonesian Nursing Diagnosis Standards, Indonesian Nursing Outcome Standards, and Indonesian Nursing Intervention Standards or abbreviated as 3S nursing standards. Nursing care based on the 3S standards at the Motui Health Center, North Konawe is not optimal. The purpose of this community service is to improve nurses' knowledge of nursing care based on the 3S standards. The method used is training with a case study approach. The results of this activity found that before being given training, 7 nurses (35%) received poor scores, 12 nurses (60%) received sufficient scores, and 1 nurse (5%) received good scores. After training, all nurses (100%) received good scores. There was a significant increase in knowledge before and after training with a p value of 0.000. Conclusion: training with a case study approach is effective in improving nurses' knowledge of 3S-based nursing car

    EDUKASI GIZI SEIMBANG BAYI DAN BALITA

    No full text
    Toddlers are children aged 1-5 years who experience rapid growth and development. The nutritional status of infants and toddlers is one of the indicators used to measure the nutritional status of a community. Toddlers and infants are one of the age groups that are vulnerable to disease, one of which is malnutrition. The objective of this activity is to provide knowledge to mothers with infants and toddlers about the definition of balanced nutrition, the nutritional needs of infants and toddlers, and proper feeding patterns for infants and toddlers. This educational activity was conducted at the Beberan Village Health Post and was attended by 20 mothers of infants and toddlers. The educational activity was conducted using leaflets and the KIA book, with pre-tests and post-tests to evaluate the success of the activity. Overall, the activity demonstrated effective results in improving mothers' knowledge about balanced nutrition, with 30% of respondents having good knowledge, 40% having adequate knowledge, and 25% having insufficient knowledge before the education activity. After the education program, the results showed that 70% of respondents had good knowledge, 30% had adequate knowledge, and none had insufficient knowledge. This educational activity was conducted as an effort to support government policies aimed at reducing nutritional issues among infants and toddlers.  Balita adalah kelompok usia 1-5 tahun yang memiliki karakteristik pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Status gizi pada bayi dan balita merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur status gizi masyarakat. Anak balita dan kelompok bayi merupakan salah satu kelompok umur yang rentan terhadap penyakit, salah satunya adalah kekurangan gizi. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada ibu-ibu yang mempunyai bayi dan balita tentang definisi gizi seimbang, kebutuhan gizi seimbang pada bayi dan balita, serta pola pemberian gizi bayi dan balita. Kegiatan edukasi ini dilakukan di Posyandu Desa Beberan dan dikuti oleh 20 ibu bayi dan balita. Metode kegiatan edukasi ini dilakukan dengan menggunakan media leaflet dan buku KIA, dilakukan pretest dan posttest untuk mengevaluasi keberhasilan kegiatan. Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan hasil yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu yang mempunyai bayi dan balita tentang pemenuhan gizi seimbang dengan hasil sebelum dilakukan edukasi responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 6 orang, cukup sebanyak 9 orang dan kurang sebanyak 4 orang. Setelah dilakukan edukasi didapatkan hasil responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik menjadi 14 orang, cukup 6 orang dan tidak ada yang memiliki pengetahuan yang kurang. Kegiatan edukasi ini dilakukan sebagai upaya dalam membantu kebijakan pemerintah untuk mengurangi masalah gizi pada bayi dan balita

    EDUKASI GIZI SEIMBANG MENGGUNAKAN INFOGRAFIS TENTANG PERILAKU MAKAN PADA REMAJA AWAL

    No full text
    Nutrition issues among adolescents often arise due to unhealthy eating habits, such as an imbalance between nutrient intake and the recommended nutrition. The use of engaging learning media can stimulate motivation and interest in learning among adolescents. The goal of community service is to improve adolescents' knowledge and eating behavior regarding balanced nutrition through infographic media. The method used involves providing education on balanced nutrition for adolescents and monitoring eating behaviors. The target group for this education is early adolescents aged 12-14 years at SMPN 1 Malang. The results of the education show that the adolescents' knowledge in the pre-test was 5% good and 90% good in the post-test. The results of monitoring eating behavior showed that in the pre-test, 9% had good behavior, and 76% showed good behavior in the post-test. The conclusion of the community service is that it successfully improved adolescents' knowledge and eating behavior regarding balanced nutrition to maintain optimal adolescent health.  Masalah gizi di kalangan remaja sering kali timbul akibat pola makan yang tidak sehat, seperti ketidakseimbangan antara asupan gizi dan gizi yang seharusnya dikonsumsi. Penggunaan media pembelajaran yang menarik dapat memicu motivasi dan minat remaja untuk belajar. Tujuan pengabdian kepada masyarakat yaitu meningkatkan pengetahuan dan perilaku makan remaja tentang gizi seimbang melalui media infografis. Metode yang digunakan yaitu memberikan edukasi tentang gizi seimbang usia remaja dan memantau perilaku makan. Sasaran edukasi yaitu remaja awal usia 12-14 tahun di SMPN 1 Malang. Hasil edukasi menunjukkan bahwa pengetahuan remaja saat pre-test sebesar 5% baik dan post-test sebesar 90% baik. Hasil pemantauan perilaku makan, saat pre-test sebesar 9% baik dan post-test sebesar 76% baik. Kesimpulan pengabdian kepada masyarakat yaitu berhasil meningkatkan pengetahuan dan perilaku makan remaja tentang gizi seimbang untuk menjaga kesehatan remaja yang optimal

    138

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇