E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
Not a member yet
    783 research outputs found

    Environmental and Behavioral Determinants of Skin Diseases In Wetland Areas: A Study In Gandus, Palembang

    No full text
    Ringkasan: Latar belakang: Tingginya prevalensi penyakit kulit di daerah lahan basah, seperti Kecamatan Gandus, Palembang, didorong oleh kondisi lingkungan dan perilaku kebersihan masyarakat yang kurang optimal. Tujuan: Menilai hubungan faktor lingkungan (struktur rumah, pengelolaan sampah, dan praktik cuci tangan) serta perilaku higiene terhadap kejadian penyakit kulit. Metode: Penelitian cross-sectional dengan 100 responden menggunakan purposive sampling; data dikumpulkan melalui kuesioner, dianalisis dengan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil: Variabel cuci tangan (PR=3,468; p=0,007), plafon rumah (PR=0,361; p=0,026), dan pengelolaan sampah (PR=0,268; p=0,044) berhubungan signifikan dengan kejadian penyakit kulit. Simpulan: Pencegahan efektif membutuhkan edukasi perilaku cuci tangan, pengelolaan sampah aman, dan perbaikan infrastruktur rumah berupa plafon. Saran: Penguatan edukasi masyarakat, program sanitasi terpadu, serta intervensi infrastruktur lingkungan berbasis karakteristik lokal dapat menekan prevalensi penyakit kulit.Penyakit kulit merupakan masalah kesehatan yang signifikan di daerah tropis, termasuk Kecamatan Gandus, Kota Palembang. Faktor lingkungan seperti kondisi rumah, sanitasi, dan perilaku kebersihan masyarakat berperan penting dalam prevalensi penyakit kulit. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara faktor lingkungan dan perilaku kebersihan dengan kejadian penyakit kulit. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 100 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, lalu dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa perilaku mengelola sampah tidak aman (p=0,016), kebiasaan tidak mencuci tangan pakai sabun (p=0,020), dan keberadaan plafon rumah (p=0,017) memiliki hubungan signifikan dengan kejadian penyakit kulit. Variabel perilaku mencuci tangan memiliki pengaruh paling signifikan (OR=3,468), diikuti oleh keberadaan plafon rumah (OR=0,361) dan pengelolaan sampah (OR=0,268). Temuan ini menegaskan pentingnya kebersihan lingkungan dan perilaku higienis dalam mencegah penyakit kulit. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan edukasi masyarakat tentang kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah yang aman, serta pembangunan infrastruktur rumah yang memadai seperti plafon untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat

    The Pelatihan Peningkatan Keterampilan Pemantauan Tumbuh Kembang Anak oleh Kader Posyandu pada Wilayah Kerja Puskesmas Motui Konawe Utara

    No full text
    Posyandu cadres have a strategic role in monitoring child growth and development, but their limited skills can hinder service optimization. This community service activity aims to improve the skills of posyandu cadres through practice-based training in the Motui Health Center work area, North Konawe. Training methods include lectures, simulations, group discussions, and field practice. The results showed an increase in cadre skills in monitoring child growth and development (from 50.0% to 73.3%), measuring body dimensions (from 90.0% to 100%), and counseling (from 66.7% to 90.0%). The average cadre skill score also increased, especially in measuring body dimensions with an increase of 21.6 points. This training shows that cadre training helps improve child growth and development monitoring skills. It is recommended that ongoing training programs and routine refresher courses be provided evenly to ensure optimal quality of posyandu services.Kader posyandu memiliki peran strategis dalam pemantauan tumbuh kembang anak, namun keterbatasan keterampilan mereka dapat menghambat optimalisasi layanan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kader posyandu melalui pelatihan berbasis praktik di wilayah kerja Puskesmas Motui, Konawe Utara. Metode pelatihan meliputi ceramah, simulasi, diskusi kelompok, dan praktik lapangan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pada keterampilan kader dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak (dari 50,0% menjadi 73,3%), pengukuran dimensi tubuh (dari 90,0% menjadi 100%), serta penyuluhan (dari 66,7% menjadi 90,0%). Rata-rata nilai keterampilan kader juga meningkat, terutama pada pengukuran dimensi tubuh dengan peningkatan sebesar 21,6 poin. Pelatihan ini menunjukkan bahwa pelatihan kader membantu meningkatkan keterampilan pemantauan tumbuh kembang anak. Disarankan agar program pelatihan berkelanjutan dan penyegaran rutin diberikan secara merata untuk memastikan kualitas layanan posyandu yang optimal

    Pentingnya Skrining Kesehatan Remaja sebagai Upaya Deteksi Dini Penyakit di SMAN 11 Konawe Selatan

    No full text
    This community service aims to provide health services in the form of blood type, blood pressure and nutritional status examinations as an effort to detect diseases that are common among students early. The method of implementing the activity consists of several stages, namely the preparation stage, socialization, and implementation of health screening. A total of 50 students of SMAN 11 South Konawe Regency participated in this activity. The screening results showed that 32 students (64%) had normal nutritional status, 9 students (18%) had poor nutritional status, 4 students (8%) were overweight, and 5 students (10%) were obese. The most common blood type found was blood type O, as many as 23 people (46%), followed by blood type A as many as 13 people (26%), blood type B as many as 9 people (18%), and blood type AB as many as 5 people (10%). Most students (43 students or 86%) had normal blood pressure, and 7 students (14%) had blood pressure in the pre-hypertension category. From this activity, it can be concluded that the majority of students are in good health, but there are some who need attention regarding nutritional status and blood pressure. Intervention recommendations such as nutrition education and increased physical activity need to be implemented to maintain and improve adolescent health as a whole.Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan golongan darah, tekanan darah dan status gizi sebagai upaya deteksi dini penyakit yang umum terjadi di kalangan pelajar.  Metode pelaksanaan kegiatan terdiri dari beberapa tahap yaitu tahap persiapan, sosialisasi, dan pelaksanaan skrining kesehatan.  Sebanyak 50 siswa SMAN 11 Kabupaten Konawe Selatan mengikuti kegiatan ini. Hasil skrining diketahui 32 siswa (64%) memiliki status gizi normal, 9 siswa (18%) status gizi kurang,  4 siswa (8%) kelebihan berat badan, dan 5 siswa (10%) mengalami obesitas. Golongan darah yang paling banyak ditemukan adalah golongan darah O, sebanyak 23 orang (46%), diikuti oleh golongan darah A sebanyak 13 orang (26%), golongan darah B sebanyak 9 orang (18%), dan golongan darah AB sebanyak 5 orang (10%).  Sebagian besar siswa (43 siswa atau 86%) memiliki tekanan darah kategori normal, dan 7 siswa (14%) memiliki tekanan darah pada kategori pra hipertensi. Dari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas siswa dalam kondisi sehat, namun terdapat sebagian yang memerlukan perhatian terkait status gizi dan tekanan darah.  Rekomendasi intervensi seperti edukasi gizi, peningkatan aktivitas fisik, perlu diterapkan guna menjaga dan meningkatkan kesehatan remaja secara menyeluruh. Kata Kunci: Deteksi Dini, Remaja, Skrining Kesehata

    Pengembangan Aplikasi Deteksi Kecemasan Kesehatan dan Intervensi: Pengembangan Aplikasi Deteksi Kecemasan Kesehatan dan Intervensi

    No full text
    Ringkasan: Latar belakang: Kecemasan kesehatan merupakan masalah psikologis yang sering timbul pada penderita penyakit kronis, terutama usia lanjut. Penggunaan kuisioner konvensional Health Anxiety Inventory (HAI) membutuhkan kertas berlembar-lembar untuk 18 item pertanyaan dan memerlukan waktu lama dalam pengolahan data skoring. Tujuan: Mengembangkan aplikasi deteksi dan intervensi kecemasan kesehatan menggunakan Software Development Life Cycle (SDLC) untuk mempermudah pengukuran dan pengolahan data. Metode: Penelitian pengembangan menggunakan model SDLC dengan tahapan perencanaan, analisis, desain, pengembangan, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan. Kuisioner HAI tervalidasi (Cronbach's alpha = 0,936) diintegrasikan dalam aplikasi dan diuji pada 23 responden di Balai Kelurahan dan Laboratorium Keperawatan Maret-Desember 2024. Hasil: Pengujian fungsionalitas menunjukkan semua komponen berfungsi baik, termasuk login, informed consent, pengisian HAI, terapi menulis dan membaca, serta download hasil. Evaluasi pengguna menunjukkan 52,2% responden sangat paham kemudahan aplikasi. Simpulan: Aplikasi berhasil dikembangkan dan dapat mengurangi penggunaan kertas, mempercepat pengolahan data, serta menyediakan database kecemasan kesehatan untuk mendukung pengambilan keputusan klinis. Saran: Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan aplikasi dengan menambah fitur penanganan kecemasan di rumah.Pada kuisiner kecemasan kesehatan apabila menggunakan kertas membutuhkan berlem-lembar untuk satu orang karena terdapat 18 item pertanyaan. Adanya aplikasi ini diharapkan dapat menurunkan penggunaan kertas dan dapat digunakan kapan saja, serta dapat digunakan kader untuk mengukur kecemasan Kesehatan dan dapat diakses apapun. Selain itu, ini dapat menjadi data based kecemasan Kesehatan yang dapat digunakan pada puskesmas untuk menjadi dasar dalam pengambilan Keputusan dan pengembangan program dalam masalah psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aplikasi pengukuran kecemasan Kesehatan Metode pengembangan dengan model SDLC dan pengujian black box testing. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi ini dapat digunakan untuk mendeteksi kecemasan Kesehatan dan dalam apliaksi ini terdapat pilihan intervensi kecemasan yang dapat diterapkan dirumah yaitu terapi menulis

    SCREENING AND HEALTH EDUCATION ON HEALTH ISSUES RELATED TO DIVING AMONG TRADITIONAL FISHERMEN IN LEPPE VILLAGE, SOROPIA DISTRICT, KONAWE REGENCY

    No full text
    Traditional divers may experience barotrauma and decompression sickness, which are emergency diving conditions. This study aims to determine the community's knowledge of decompression sickness, prevention methods, and the identification of decompression sickness and barotrauma symptoms through health screening in Leppe Village, Soropia District, Konawe Regency. Method: Education was provided in the form of health education sessions and health screenings. The target group for this activity was traditional divers in Leppe Village, Soropia Sub-district, Konawe District, numbering 30 people. Results. The level of knowledge among respondents before the educational intervention showed that 50% had low knowledge and 23.3% had adequate knowledge. After the intervention, the percentage of respondents with low knowledge decreased to 16%, while those with adequate knowledge increased to 40%. Consequently, the percentage of respondents with good knowledge increased from 26.6% to 43%. Several symptoms were experienced by more than 50% of fishermen, including skin disorders such as itching and a rash (bluish discolouration) on the skin, musculoskeletal problems such as joint and muscle pain, and some fishermen had experienced paralysis and difficulty urinating. There is a need for education on safe diving practices (in accordance with standards). Collaborate with cross-sectoral agencies to train fishermen in alternative fishing methods besides diving.Nelayan penyelam tradisional dapat mengalami barotrauma dan Dekompresi yang menunujukkan kondisi kegawatdaruratan  penyelaman. Mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang penyakit dekompresi cara pencegahan dan mengidentifikasi keluhan Dekompresi dan Barotrauma melalui skrining kesehatan di Desa Leppe Kec. Soropia Kabupaten Konawe. Metode : Pemberian edukasi dilakukan dalam bentuk penyuluhan dan skrining kesehatan, Sasaran kegiatan ini adalah penyelam tradisional di desa Leppe Kec.Soropia Kab. Konawe, berjumlah 30 orang. Hasil. Tingkat pengetahuan responden sebelum pemberian edukasi, nampak persentase responden berpengetahuan kurang 15 responden atau 50%) dan cukup sebanyak 7 responden atau 23,3 % mengalami penurunan dengan jumlah responden berpengetahuan rendah menjadi 5 responden (16%) dan berpengetahuan cukup meningkat menjadi 12 responden (40%), sehingga persentase responden berpengetahuan baik yang sebelumnya sebesar 8 responden ( 26,6%) mengalami peningkatan menjadi 13 responden (43%). Beberapa gejala dirasakan oleh > 50 % nelayan, diantaranya gangguan kulit berupa rasa gatal dan Nampak rash ( kebiruan ) pada kulit, masalah musculoskeletal seperti nyeri sendi dan otot), Ditemukan nelayan yang pernah mengalami kelumpuhan hingga kesulitan mengeluarkan urine Perlunya dilakukan edukasi terkait penyalaman yang sehat (sesuai standar). Bekerjasama dengan instansi lintas sector terkait pelatihan metode penangkapan selain metode penyelaman. Kata Kunci : Nelayan, Dekompresi, Penyuluhan, skrinin

    Efektivitas Edukasi Manajemen Stres terhadap Peningkatan Status Mental Emosional Remaja: Pre-Experimental Study di SMA Negeri 3 Kendari

    No full text
    Latar Belakang: Ketidakstabilan emosi remaja berisiko menghambat kematangan psikologis jika tidak dikelola secara tepat. Tujuan: Penelitian ini mengevaluasi efektivitas edukasi manajemen stres terhadap status mental emosional siswa di SMA Negeri 3 Kendari. Metode: Desain pra-eksperimental one-group pretest-posttest diterapkan pada 30 siswa kelas XI yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Intervensi dilaksanakan intensif selama tiga hari, diukur menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), dan dianalisis dengan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Terdapat penurunan signifikan pada skor masalah emosional (p = 0,000; t = -7,730) dengan selisih rata-rata -6,233. Secara klinis, kategori emosional tinggi (6,7%) tereliminasi total menjadi 0% pasca-intervensi, mengindikasikan perbaikan kemampuan regulasi diri. Simpulan: Edukasi manajemen stres terbukti efektif meningkatkan stabilitas emosi siswa melalui penguasaan teknik relaksasi. Saran: Direkomendasikan agar sekolah mengintegrasikan modul manajemen stres ke dalam layanan rutin Bimbingan Konseling sebagai strategi preventif berkelanjutan bagi kesehatan mental siswaStatus mental emosional remaja merupakan masalah kesehatan yang terus meningkat setiap tahunnya baik ditingkat global maupun nasional, dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial. Edukasi manajemen stres merupakan salah satu alternatif dalam membantu mencegah dan mengatasi masalah psikologis remaja. Tujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi manajemen stres terhadap status mental emosional remaja di SMA Negeri 3 Kendari.Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan keperawatan jiwa, subjek penelitian 30 siswa kelas XI yang memiliki masalah emosional, intervensi berupa edukasi manajemen stres dilakukan selama tiga hari dengan pemberian materi manajemen stres dan teknik relaksasi napas dalam. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat emosional pada siswa setelah diberikan edukasi manajemen stres.Kesimpulan edukasi manajemen stres yang diberikan terbukti efektif dalam mengurangi tingkat emosioanal tinggi pada remaja dan meningkatkan kemampuan remaja dalam mengelola stress. Kata kunci: Edukasi manajemen stres, remaja, status mental emosiona

    HUBUNGAN POLA TIDUR DENGAN KECEMASAN IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA BLUD UPTD PUSKESMAS ATARI JAYA

    No full text
    Introduction: Pregnancy is a natural biological process that is crucial in a woman's life. During this time, women face various challenges, ranging from drastic physical changes, hormonal fluctuations, the responsibilities of being a mother-to-be, to concerns about fetal safety and the delivery process. The purpose of this study was to determine the relationship between sleep patterns and anxiety among pregnant women in the BLUD UPTD Atari Jaya Community Health Center (Puskesmas Atari Jaya) work area. Methods: This study was quantitative and designed using an observational cross-sectional approach. The population was 139 pregnant women at the UPTD Atari Jaya Community Health Center. The sample was 58 pregnant women at the Obstetrics Polyclinic within the UPTD Atari Jaya Community Health Center. The chi-square test was used in the bivariate analysis. Results: Of the 58 respondents, the sleep patterns of pregnant women were mostly in the good category (27 respondents (46.6%). Of the 58 respondents, the anxiety of pregnant women was mostly in the not anxious category (30 respondents (51.7%). The data analysis results obtained an X2 value of 15.237 (greater than the X2 table value of 12.592) and a p-value of 0.018 (? 0.05). Therefore, it can be concluded that there is a relationship between sleep patterns and anxiety among pregnant women in the BLUD UPTD Atari Jaya Health Center Work Area. Conclusion: There is a relationship between sleep patterns and anxiety among pregnant women in the BLUD UPTD Atari Jaya Health Center Work Area.Pendahuluan: Kehamilan merupakan proses biologis alami yang sangat penting dalam kehidupan seorang perempuan. Pada masa ini, wanita menghadapi berbagai tantangan mulai dari perubahan fisik yang drastis, fluktuasi hormon, tanggung jawab sebagai calon ibu, hingga kekhawatiran mengenai keselamatan janin dan proses persalinan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pola tidur dengan kecemasan ibu hamil di Wilayah Kerja BLUD UPTD Puskesmas Atari Jaya. Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif dan dirancang menggunakan observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah ibu hamil di UPTD Puskesmas Atari Jaya sebanyak 139 orang. Sampel penelitian adalah ibu hamil di Poli Kebidanan Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Atari Jaya berjumlah 58 orang. Alat uji yang digunakan dalam analisis bivariat adalah uji Kai kuadrat (Chi Square). Hasil: dari 58 orang responden, pola tidur ibu hamil terbanyak dalam kategori baik sebanyak 27 orang (46.6%). Dari 58 orang responden, kecemasan ibu hamil terbanyak dalam kategori tidak cemas sebanyak 30 orang (51.7%). Hasil analisis data diperoleh nilai X2 = 15.237 (lebih besar dari nilai X2 tabel = 12,592) dan nilai p-value = 0.018 (? 0.05) sehingga dapat disimpulkan ada hubungan pola tidur dengan kecemasan ibu hamil di Wilayah Kerja BLUD UPTD Puskesmas Atari Jaya Kesimpulan: Ada hubungan pola tidur dengan kecemasan ibu hamil di Wilayah Kerja BLUD UPTD Puskesmas Atari Jaya

    Peran BPJS Kesehatan dalam pelayanan pencegahan stunting untuk mencapai generasi emas 2045: Literature Review

    No full text
    Ringkasan: Latar belakang: Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pencegahan stunting dengan prevalensi 21,5% tahun 2023, sementara BPJS Kesehatan telah mencakup 83% penduduk namun akses layanan kesehatan belum merata terutama di daerah terpencil. Tujuan: Menganalisis peran BPJS Kesehatan dalam pelayanan promotif, preventif, dan kuratif untuk pencegahan stunting guna mendukung pencapaian Generasi Emas 2045. Metode: Penelitian kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan literature review menggunakan artikel ilmiah dan sumber resmi terkait pencegahan stunting, analisis data model Miles dan Huberman. Hasil: BPJS Kesehatan berperan dalam edukasi gizi dan pemeriksaan rutin (promotif-preventif), pemberian TTD dan suplemen (preventif), serta rujukan anak stunting untuk intervensi gizi spesifik (kuratif). Simpulan: BPJS Kesehatan memberikan kontribusi signifikan melalui layanan komprehensif namun masih menghadapi keterbatasan alat medis dan tenaga terlatih. Saran: Diperlukan peningkatan ketersediaan fasilitas medis, perluasan cakupan layanan, evaluasi rutin program pencegahan, dan penguatan kolaborasi lintas sektor.Stunting merupakan salah satu tantangan kesehatan di Indonesia yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia. BPJS Kesehatan, sebagai penyedia asuransi kesehatan, berperan penting dalam mendukung pelayanan kesehatan promotif, preventif, dan kuratif untuk menurunkan angka stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran BPJS Kesehatan dalam pelayanan promotif, preventif, dan kuratif untuk pencegahan stunting di Indonesia guna mendukung pencapaian Generasi Emas 2045. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif desktiptif-analitis dengan pendekatan literature review, mengacu pada artikel ilmiah dan sumber resmi terkait pencegahan stunting di Indonesia. Analisis data dilakukan secara interaktif menggunakan model Miles dan Huberman untuk mengevaluasi kontribusi BPJS Kesehatan terhadap penurunan angka stunting. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun meskipun cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan telah menjangkau lebih dari 83% penduduk, akses layanan kesehatan masih belum merata, terutama di daerah terpencil. Program promotif dan preventif seperti pemberian suplemen gizi serta edukasi kesehatan telah menunjukkan dampak positif, namun implementasinya memerlukan kolaborasi lintas sektor dan evaluasi berkala. Perlunya peningkatan ketersediaan alat medis, pelatihan tenaga Kesehatan, serta penguatan cakupan layanan BPJS Kesehatan untuk mendukung pemerataan akses dan efektivitas pelayanan dalam menurunkan angka stunting di Indonesia

    DETERMINAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OFA PADANG MAHONDANG TAHUN 2024

    No full text
    Ringkasan: Latar belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas balita di negara berkembang. Puskesmas Ofa Padang Mahondang mencatat 397 kasus ISPA pada balita tahun 2023, menunjukkan ISPA masih menjadi masalah kesehatan masyarakat signifikan. Tujuan: Mengetahui pengaruh kondisi fisik rumah dan perilaku keluarga terhadap kejadian ISPA pada balita. Metode: Penelitian case control melibatkan 180 balita (90 kasus, 90 kontrol) di Puskesmas Ofa Padang Mahondang, Juni-Desember 2024. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner terstandar. Analisis bivariat menggunakan Chi-square, multivariat regresi logistik. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara ventilasi (p=0,033; OR=0,373), suhu-kelembapan (p=0,031; OR=0,364), kepadatan hunian (p=0,000; OR=0,222), penggunaan obat nyamuk bakar (p=0,000; OR=6,348), dan merokok dalam rumah (p=0,000; OR=4,042) dengan kejadian ISPA. Obat nyamuk bakar meningkatkan risiko 6,3 kali, merokok 4,0 kali. Simpulan: Kondisi fisik rumah tidak memenuhi standar dan perilaku keluarga tidak sehat, khususnya penggunaan obat nyamuk bakar dan merokok dalam rumah, secara signifikan meningkatkan risiko ISPA pada balita. Saran: Diperlukan intervensi keluarga untuk menurunkan kejadian ISPA.Ringkasan: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi pemicu utama morbiditas dan mortalitas pada balita di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kejadian ISPA pada balita ditinjau dari karakteristik anak, perilaku keluarga, dan kondisi lingkungan rumah di wilayah kerja Puskesmas Ofa Padang Mahondang, Kabupaten Asahan. Penelitian ini menggunakan studi observasional analitik dengan desain case control, melibatkan 180 responden terdiri atas 90 kasus dan 90 kontrol. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi langsung, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa usia balita 21–40 bulan memiliki proporsi tertinggi dalam kelompok kasus. Seluruh variabel lingkungan fisik dan perilaku keluarga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA (p < 0,05). Balita yang tinggal di rumah dengan ventilasi tidak memenuhi syarat memiliki risiko ISPA 5,25 kali lebih besar (CI 95%: 2,74–10,07). Suhu dan kelembaban tidak memenuhi syarat berisiko 4,17 kali lipat (CI 95%: 2,16–7,80), dan kepadatan hunian tinggi berisiko 3,76 kali lipat (CI 95%: 2,01–7,05). Anak yang tidak terpapar asap obat nyamuk bakar dan asap rokok memiliki risiko lebih rendah terhadap ISPA dengan OR masing-masing sebesar 0,18 (CI 95%: 0,09–0,34) dan 0,23 (CI 95%: 0,12–0,42). Kondisi fisik rumah dan perilaku keluarga berperan signifikan terhadap kejadian ISPA pada balita. Intervensi promotif dan preventif berbasis rumah tangga perlu ditingkatkan untuk menurunkan risiko ISPA di masyarakat

    Analisis Pelaksanaan Rujukan Pasien Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Puskesmas Bahorok

    No full text
    Ringkasan: Latar belakang: Sistem rujukan pelayanan kesehatan berjenjang merupakan bagian penting dalam pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional untuk memastikan pasien mendapatkan layanan sesuai tingkat fasilitas kesehatannya. Namun, di Puskesmas Bahorok, pelaksanaan sistem rujukan masih menghadapi kendala dengan angka rujukan mencapai 16,5% pada 2024, melampaui batas BPJS maksimal 15%. Tujuan: Menganalisis pelaksanaan sistem rujukan pasien JKN di Puskesmas Bahorok dan mengidentifikasi faktor penyebab tingginya angka rujukan. Metode: Penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi melibatkan tujuh informan terdiri dari tenaga kesehatan dan pasien JKN melalui purposive sampling. Hasil: Tenaga kesehatan memadai, namun terdapat kekurangan ketersediaan alat kesehatan yang belum sesuai standar Kompendium Alat Kesehatan dan obat belum sepenuhnya mengacu Formularium Nasional. Banyak pasien mengajukan rujukan atas permintaan sendiri karena rendahnya pemahaman terhadap peran Puskesmas sebagai gatekeeper. Simpulan: Pelaksanaan sistem rujukan belum optimal akibat keterbatasan sarana-prasarana dan pengetahuan masyarakat yang belum memahami fungsi gatekeeper. Saran: Penguatan kapasitas layanan melalui penyediaan alat dan obat sesuai standar serta edukasi berkelanjutan kepada.Sistem rujukan adalah mekanisme dalam pelayanan kesehatan yang mengatur pembagian dan pengalihan tanggung jawab antara berbagai tingkatan fasilitas kesehatan secara terkoordinasi, baik antartingkat (vertikal) maupun sesama tingkat (horizontal). Sistem rujukan diselengarakan dengan tujuan memberikan pelayanan kesehatan secara bermutu kepada masyarakat, sehingga tujuan pelayanan tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan rujukan pasien peserta JKN di Puskesmas Bahorok. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam (in-depth interview). Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh informasi komprehensif (lengkap) mengenai pelaksanaan rujukan di Puskesmas Bahorok. Hasil: Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelayanan rujukan yang diberikan Puskesmas di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya memenuhi standar yang ditetapkan, hal ini berdampak pada peningatan angka rujukan. Meskipun Sumber Daya Manusia (SDM) di Puskesmas telah sesuai dengan standar, fasilitas alat kesehatan belum lengkap berdasarkan Kompendium Alat Kesehatan. Selain itu, jenis dan jumlah obat yang tersedia di Puskesmas tidak sesuai dengan kebutuhan dan standar yang tercantum dalam Formularium Nasional. Salah satu faktor kunci yang mempengaruhi tingginya angka rujukan di Puskesmas Bahorok adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang fungsi gatekeeper Puskesmas. Hal ini terbukti dari pernyataan informan bahwa banyak masyarakat masih meminta rujukan atas permintaan sendiri (APS) karena kurangnya pemahaman terhadap peran Puskesmas sebagai penapis rujukan dalam pelayanan kesehatan

    138

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇