E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS EDUKASI KESEHATAN DAN SKRINING PROTEINURIA DALAM DETEKSI DINI RISIKO GAGAL GINJAL KRONIK PADA REMAJA: STUDI CROSS-SECTIONAL
Latar belakang: Gagal ginjal kronis pada remaja meningkat, sementara kebiasaan minum air putih rendah dan skrining ginjal jarang dilakukan. Tujuan: Menganalisis efektivitas edukasi kesehatan dan skrining proteinuria sebagai deteksi dini risiko gagal ginjal kronik pada remaja SMA. Metode: Pengabdian masyarakat dengan desain pre–eksperimental one group pretest–posttest pada 50 siswa SMA Negeri 2 Kendari. Intervensi berupa edukasi menggunakan video dan presentasi disertai diskusi, dilanjutkan pemeriksaan protein urin sewaktu dengan metode carik celup. Data pengetahuan dijelaskan secara deskriptif komparatif. Hasil: Rerata skor pengetahuan meningkat dari 68,80 menjadi 98,10 (kenaikan 42,6%) dengan penyebaran skor yang lebih homogen. Skrining menunjukkan 12% siswa tanpa proteinuria, 82% positif +1, dan 6% positif ++2. Simpulan: Pendidikan kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan pencegahan gagal ginjal kronik, sedangkan tingginya temuan proteinuria membuktikan pentingnya penemuan dini. Saran: Diperlukan pemantauan lanjutan, indikasi klinis, dan integrasi program pendidikan ginjal berkelanjutan di sekolahLatar Belakang: Gagal ginjal kronik merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi meningkat pada populasi remaja. Sulawesi Tenggara mencatat 6.510 kasus dengan peningkatan signifikan pada kelompok usia 15-24 tahun periode 2021-2023. Survei awal identifikasi rendahnya konsumsi air putih pada siswa SMA Negeri 2 Kendari sebagai faktor risiko. Tujuan: Melakukan deteksi dini kegagalan risiko ginjal kronik melalui program edukasi kesehatan dan skrining proteinuria pada remaja. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 50 siswa. Intervensi berupa edukasi menggunakan video dan power point , evaluasi pengetahuan melalui pre-test dan post-test , serta pemeriksaan protein urin dengan metode carik celup. Hasil: Rerata pengetahuan meningkat signifikan dari 68,80 (kategori kurang baik) menjadi 98,10 (kategori sangat baik), setara dengan peningkatan 42,6%. Skrining proteinuria menunjukkan 12% hasil normal, 82% positif +1, dan 6% positif ++2. Simpulan: Program edukasi efektif meningkatkan pengetahuan pencegahan gagal ginjal kronik pada remaja. Tingginya prevalensi proteinuria menunjukkan urgensi deteksi dini berkelanjutan. Saran: Disarankan melakukan penelitian longitudinal untuk menganalisis korelasi perilaku kesehatan dengan perkembangan proteinuria serta eksplorasi komprehensif faktor risiko pada populasi remaja Indonesia
The Effect Of Plyometric Depth Jump Exercise On Vertical Jump In Basketball Players With Post Ankle Sprain Injury
Ringkasan: Latar belakang: Cedera pergelangan kaki merupakan salah satu cedera paling umum pada pemain basket yang dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot dan nyeri kronis, serta mempengaruhi kemampuan vertical jump yang esensial dalam permainan basket. Tujuan: Mengetahui pengaruh latihan plyometric depth jump terhadap peningkatan vertical jump dan penurunan nyeri pada pemain basket dengan cedera pergelangan kaki kronis. Metode: Penelitian kuasi-eksperimental dengan desain pre-post test control group pada 22 pemain basket yang dibagi secara acak menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi diberikan latihan plyometric depth jump selama empat minggu dengan protokol FITT (3x/minggu, 4 set, 12 repetisi). Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan peningkatan signifikan pada vertical jump (p=0,000) dan penurunan nyeri (p=0,002). Terdapat perbedaan bermakna vertical jump antara kelompok intervensi dan kontrol (p=0,000), namun tidak untuk perubahan nyeri (p=0,076). Simpulan: Latihan plyometric depth jump efektif meningkatkan vertical jump pada pemain basket dengan cedera pergelangan kaki kronis melalui optimalisasi energi elastik dan kontrol neuromuskular. Saran: Penelitian selanjutnya perlu menambah variasi intervensi atau membandingkan efek pada cedera ankle akut untuk hasil yang lebih komprehensif.Salah satu cedera paling umum yang dialami pemain basket adalah cedera pergelangan kaki. Keseleo pergelangan kaki kronis dapat mengakibatkan penurunan kekuatan otot akibat berkurangnya kekuatan otot akibat rasa nyeri yang dirasakan. Salah satu metode stimulasi aktivasi sel serabut otot motorik adalah latihan plyometric depth jump. Latihan pliometrik yang dikenal sebagai lompatan kedalaman bertujuan untuk memperkuat otot dan efektivitas kekuatan pada titik terjauh di bawah, yang berguna untuk melakukan gerakan lompatan yang paling ekstrem, maka pliometrik merupakan jenis latihan untuk mengembangkan kekuatan berbahaya yang menggabungkan strategi dan prosedur untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan jarak terjauh. Dengan desain kelompok kontrol, pra- dan pasca-tes, serta intervensi pra- dan pasca-tes, penelitian ini merupakan jenis penelitian kuasi-eksperimental. Populasi yang bermain basket berjumlah 30 orang, dan sampel berjumlah 22 orang. Uji impak memberikan hasil (p = 0,000 ± 0,05) yang menunjukkan bahwa susunan mediasi plyometric depth jump berpengaruh signifikan terhadap peningkatan lompatan vertikal. Di sisi lain, uji efek perbedaan menghasilkan hasil (p = 0,002 ± 0,05) yang menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok pembanding setelah berpartisipasi dalam pelatihan plyometric depth jump, dengan perbedaan rata-rata 11,0 antara kedua kelompok
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Pajanan Mangan (Mn) Pada Air Minum Isi Ulang di Pulau Kecil
Ringkasan: Latar Belakang: Pulau kecil menghadapi keterbatasan sumber daya air bersih, sehingga masyarakat bergantung pada Air Minum Isi Ulang (AMIU) dari sumur bor yang rentan kontaminasi mangan (Mn). Mangan dalam konsentrasi tinggi berpotensi menyebabkan gangguan neurologis dan dampak neurotoksik, terutama pada kelompok rentan. Tujuan: Menganalisis konsentrasi mangan dalam AMIU dan menilai risiko kesehatan masyarakat Pulau Barrang Lompo menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Metode: Penelitian observasional analitik dengan pengambilan sampel air dari tiga Depot AMIU dan survei 193 responden masyarakat. Analisis data menggunakan pendekatan ARKL meliputi identifikasi bahaya, analisis dosis-respon, analisis pemajanan, dan karakterisasi risiko. Hasil: Konsentrasi mangan dalam AMIU sebesar 0,0043 mg/L, masih di bawah baku mutu 0,1 mg/L. Nilai Risk Quotient (RQ) saat ini 0,002 menunjukkan kategori aman. Proyeksi jangka panjang menunjukkan peningkatan kadar mangan hingga 0,0351 mg/L dalam 30 tahun pada skenario optimis. Simpulan: Konsumsi AMIU saat ini masih aman, namun proyeksi menunjukkan potensi peningkatan risiko jangka panjang. Saran: Diperlukan pemantauan berkala kualitas air, penerapan sistem pengolahan efektif, dan kebijakan pengelolaan air berkelanjutan untuk mencegah risiko kesehatan akibat akumulasi mangan.Pulau kecil merupakan wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya air bersih, sehingga penduduknya menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan air minum. Pulau barrang Lompo adalah pulau kecil yang masyarakatnya bergantung pada air minum isi ulang (AMIU) bersumber dari sumur bor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi dan melakukan analisis risiko mangan (Mn) dalam AMIU yang dikonsumsi oleh masyarakat Pulau Barrang Lompo menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pengambilan sampel air dari tiga titik Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) serta 193 responden masyarakat. Analisis data dilakukan dengan pendekatan ARKL yang meliputi identifikasi bahaya, analisis dosis-respon, analisis pemajanan, dan karakterisasi risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi mangan dalam AMIU sebesar 0,0043 mg/L, masih berada di bawah baku mutu 0,1 mg/L yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan No. 2 Tahun 2023. Nilai Risk Quotient (RQ) saat ini adalah 0,002, yang menunjukkan bahwa konsumsi AMIU masih berada dalam kategori aman. Berdasarkan proyeksi jangka panjang, kadar mangan dapat meningkat hingga 0,0351 mg/L dalam 30 tahun ke depan pada skenario optimis, yang meskipun masih di bawah ambang batas, tetap perlu diwaspadai. Diperlukan pemantauan kualitas air secara berkala, penerapan sistem pengolahan air yang lebih efektif, serta kebijakan pengelolaan air minum yang berkelanjutan diperlukan untuk mencegah potensi risiko kesehatan akibat akumulasi mangan dalam jangka panjang
THE HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG PADA IBU BALITA 12–59 BULAN DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS CIBINGBIN KABUPATEN KUNINGAN TAHUN 2025: HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU BALITA STUNTING DI WILAYAH KESENJANGAN KESEJAHTERAAN
The prevalence of stunting in Cibingbin District has reached 8.9%, partly due to low family welfare levels, which serve as a major risk factor in fulfilling children's nutritional needs. This study aims to determine the relationship between mothers' level of knowledge about balanced nutrition and the incidence of stunting among children aged 12–59 months in the working area of UPTD Puskesmas Cibingbin, Kuningan Regency, particularly in the villages of Sukaharja, Ciangir, Cipondok, and Sindangjawa. The study employed a quantitative approach with a cross-sectional design to assess the relationship between variables at a single point in time. A total of 64 respondents were selected using the cluster random sampling technique.
Data collection instruments included a closed-ended questionnaire to measure mothers' knowledge of balanced nutrition and anthropometric measurements using height-for-age (TB/U) indicators to determine stunting status. The results showed that most mothers had low knowledge of balanced nutrition (75%). Among the children, 45.3% were categorized as stunted and 54.7% as severely stunted. Statistical analysis using the Spearman Rank test revealed a significant relationship between mothers' knowledge of balanced nutrition and stunting incidence (p = 0.032; r = -0.268), with a negative correlation.Prevalensi stunting di Kecamatan Cibingbin mencapai 8,9%, yang salah satunya dipengaruhi oleh rendahnya tingkat kesejahteraan keluarga sebagai faktor risiko utama dalam pemenuhan gizi balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan kejadian stunting pada balita usia 12–59 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cibingbin, Kabupaten Kuningan, khususnya di Desa Sukaharja, Ciangir, Cipondok, dan Sindangjawa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional untuk menilai hubungan antara variabel pada satu waktu pengukuran. Sampel sebanyak 64 responden diperoleh melalui teknik cluster random sampling.
Instrumen yang digunakan berupa kuesioner tertutup untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu, serta pengukuran antropometri dengan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U) untuk menentukan status stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi seimbang dalam kategori kurang (75%). Balita yang mengalami stunting dalam kategori pendek sebesar 45,3% dan sangat pendek sebesar 54,7%. Hasil uji statistik menggunakan Rank Spearman menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan kejadian stunting (p = 0,032; r = -0,268), dengan arah hubungan negatif.
Artinya, semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu, maka semakin rendah risiko stunting pada balita. Temuan ini menunjukkan perlunya peningkatan upaya edukasi gizi secara intensif dan berkelanjutan kepada ibu balita, khususnya di desa-desa yang rentan terhadap masalah gizi, sebagai strategi promotif dan preventif dalam penurunan angka stunting
Fatigue In Breast Cancer Patients: Correlation With Hemoglobin
Latar belakang: Prevalensi kanker payudara terus meningkat dengan kelelahan sebagai gejala debilitating yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk penurunan kadar hemoglobin akibat kemoterapi. Tujuan: Menganalisis hubungan antara kadar hemoglobin dengan tingkat kelelahan pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain korelasional menggunakan total sampling terhadap 34 pasien kanker payudara di RSUD Bahteramas Kendari pada Agustus-September 2024. Kadar hemoglobin diukur menggunakan Easy Touch GCHb terkalibrasi, sedangkan kelelahan dinilai dengan Brief Fatigue Inventory versi Indonesia. Data dianalisis menggunakan uji Pearson correlation (?=0,05). Hasil: Ditemukan korelasi negatif kuat antara kadar hemoglobin dengan tingkat kelelahan (r=-0,675; p<0,001), menunjukkan semakin rendah hemoglobin, semakin berat kelelahan yang dialami. Simpulan: Kadar hemoglobin berkorelasi signifikan dengan tingkat kelelahan pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Saran: Monitoring hemoglobin rutin sebagai bagian manajemen kelelahan pasien kanker payudara perlu dipertimbangkan dalam praktik ilmu keperawatan onkologiPrevalensi kanker payudara semakin meningkat setiap tahun. Kelelahan yang terjadi pada pasien kanker payudara dipengaruhi oleh berbagai hal. Salah satunya adalah penurunan kadar hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hemoglobin dengan kelelahan pada pasien kanker payudara. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dan diperoleh sebanyak 34 responden pasien kanker payudara yang menjalani perawatan termasuk kemoterapi di RSUD Bahteramas Kendari. Hemoglobin di ukur menggunakan alat easy touch GCHb, yang telah dikalibrasi dengan menggunakan chip kuning kalibrasi sebelum digunakan. Instrumen Brief Fatigue Inventory versi Indonesia digunakan untuk mengukur kelelahan. Metode analisis data yang digunakan adalah uji pearson corellation dengan p-value<0,05. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan berpola negatif antara kadar hemoglobin dengan kelelahan pada pasien kanker payudara di RSUD Bahteramas Kota Kendari (r=-0,670; p-value = 0,000) maka dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar hemoglobin berkontribusi terhadap terjadinya kelelahan pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi
Quality and Nutritional Adequacy Review of the Free School Meal Program (MBG) for Elementary School Children in Gorontalo City.
Latar Belakang: Masalah gizi anak sekolah dasar masih menjadi isu serius di Indonesia, khususnya Kota Gorontalo dengan prevalensi gizi buruk, gizi kurang, kelebihan berat badan , dan obesitas yang cukup tinggi. Tujuan: Mengidentifikasi kualitas dan keseimbangan gizi program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdasarkan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG). Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif observatif pada 147 siswa di SDN 77 Kota Tengah Gorontalo dan MI Terpadu Al-Ishlah Gorontalo. Data kualitas makanan diperoleh melalui kuesioner, analisis kandungan gizi menggunakan NutriSurvey berbasis DKBM 2019 selama 5 hari. Hasil: mayoritas siswa menilai makanan berkualitas baik (78-84%) pada kebersihan, porsi, rasa, dan kematangan, namun hanya 41% yang menyatakan makanan hangat. Rata-rata energi menu MBG 377,46 kkal, di bawah standar AKG 531 kkal. Protein (17,76 g) dan lemak (15,98 g) tidak memenuhi standar, karbohidrat (41,52 g) sesuai, kandungan mikronutrien bervariasi. Simpulan: Program MBG perlu diperkuat melalui diversifikasi menu berbasis pangan lokal, pemantauan berkelanjutan, dan kolaborasi BGN dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Saran: Penelitian selanjutnya mengkaji keamanan pangan dan dampak terhadap status gizi antropometrik siswaProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program pemerintah yang bertujuan menekan angka malnutrisi dan stunting di Indonesia. Permasalahan gizi pada anak-anak khususnya usia sekolah dasar masih menjadi isu serius di Indonesia, terutama di Kota Gorontalo yang memiliki prevalensi gizi buruk, gizi kurang, kelebihan berat badan , dan obesitas cukup tinggi. Kondisi ini berpotensi menghambat pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta prestasi akademik siswa. Namun keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kualitas dan kesesuaian gizi makanan yang diberikan sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas dan kesesuaian gizi pada makanan yang diberikan dalam program MBG. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif observatif. Pelaksanaan penelitian dilakukan di SDN 77 Kota Tengah Gorontalo dan MI Terpadu Al-Ishlah Gorontalo. Hasil kualitas makanan dalam program MBG dinilai baik oleh sebagian besar siswa, meskipun terdapat beberapa indikator yang dinilai kurang. Kesesuaian gizi dalam makanan berdasarkan standar AKG harian dalam buku petunjuk teknis penyelenggaraan bantuan pemerintah untuk program MBG tahun 2025 oleh Badan Gizi Nasional (BGN) berada pada kategori ”Sesuai” untuk karbohidrat dan ”Tidak Sesuai” untuk protein, lemak, dan energi dalam satu kali pemberian makan. Terdapat pula keberadaan komponen mikronutrien seperti vitamin dan mineral dalam menu makanan, yang hasil rata-ratanya disesuaikan dengan standar AKG harian dalam PMK RI No. 28 tahun 2019 tentang angka kecukupan gizi yang direkomendasikan untuk masyarakat Indonesia. Kualitas dan kenyamanan program gizi MBG perlu dilakukan monitoring dan evaluasi kembali oleh pengelola program yakni BGN agar tujuan program dapat tercapai secara maksimal
Efektivitas Konseling terhadap Pengambilan Keputusan Penggunaan Kontrasepsi pada Ibu Postpartum
Latar belakang: Penggunaan kontrasepsi postpartum di Indonesia belum optimal, meningkatkan risiko kehamilan berjarak dekat. Tujuan: Menilai pengaruh konseling kontrasepsi berulang terhadap pengetahuan dan pengambilan keputusan ibu postpartum. Metode: Quasi-experimental pretest-posttest with control group pada 90 ibu postpartum (45 perlakuan, 45 kontrol) dipilih purposive di Kabupaten Sragen. Kelompok perlakuan mendapat lima sesi konseling (±25 menit sesi awal, ±15-20 menit sesi lanjutan), kelompok kontrol tanpa intervensi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi (Cronbach's ?=0,812). Hasil: Skor pengetahuan kelompok perlakuan meningkat signifikan (10,11±1,50 menjadi 12,11±1,48; p<0,001; d=0,85) dibanding kontrol (8,82±1,84 menjadi 10,38±1,48). Pengambilan keputusan meningkat bermakna hanya pada kelompok perlakuan (18,91±2,46 menjadi 20,91±2,29; p<0,001; d=0,79), disertai peningkatan penggunaan MKJP (IUD +28,9%). Simpulan: Konseling berulang efektif meningkatkan pengetahuan dan pengambilan keputusan kontrasepsi postpartum. Saran: Direkomendasikan integrasi konseling terstruktur dalam pelayanan masa nifas dengan evaluasi berkalaPenggunaan kontrasepsi pada ibu postpartum masih tergolong rendah, yang salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan belum optimalnya pelaksanaan konseling dalam mendukung pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas konseling terhadap peningkatan pengetahuan dan pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi pada ibu postpartum. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest with control group design. Sampel penelitian berjumlah 90 ibu postpartum yang terdiri atas 45 responden kelompok perlakuan dan 45 responden kelompok kontrol, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan dan pengambilan keputusan yang telah diuji validitas serta reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-test dan Independent Sample t-test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kelompok perlakuan, baik dalam pengetahuan (p = 0,000) maupun pengambilan keputusan (p = 0,000). Sementara itu, pada kelompok kontrol peningkatan hanya terjadi pada pengetahuan (p = 0,000), sedangkan pengambilan keputusan tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p = 0,664). Dapat disimpulkan bahwa konseling berulang efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta kemampuan ibu postpartum dalam mengambil keputusan penggunaan kontrasepsi. Tenaga kesehatan disarankan mengintegrasikan konseling berulang dalam pelayanan kunjungan nifas guna mendukung keberhasilan program keluarga berencana. 
The Effect of Adding Ginger Extra to Dragon Fruit Juice to Increase Hemoglobin Levels in Pregnant Women at the Kabila Health Center, Bone Bolango Regency
Abstrak: Latar Belakang: Prevalensi anemia pada kehamilan di Indonesia mencapai 48,9% sehingga diperlukan pendekatan pangan fungsional yang mudah diakses. Buah naga merah dan jahe dipilih karena kandungan vitamin C, zat besi, serta efek hematopoietik yang saling melengkapi. Tujuan: Mengevaluasi pengaruh penambahan ekstrak jahe pada jus buah naga merah terhadap kadar hemoglobin ibu hamil dengan anemia ringan. Metode: Penelitian kuasi-eksperimental pretest-posttest control group selama 10 hari di Puskesmas Kabupaten Bone Bolango melibatkan 60 ibu hamil trimester kedua dengan anemia ringan. Kelompok intervensi menerima 150 mL jus buah naga merah dengan 2 g ekstrak jahe per hari, sedangkan kontrol menerima jus tanpa jahe. Kadar hemoglobin diukur menggunakan Hemocue Hb 201+. Data dianalisis menggunakan paired t-test dan independent t-test (p<0,05). Hasil: Peningkatan hemoglobin pada kelompok intervensi (1,3±0,4 g/dL) lebih tinggi dibanding kontrol (0,7±0,3 g/dL; p=0,008; 95% CI=0,18-0,97). Simpulan: Penambahan ekstrak jahe meningkatkan hemoglobin lebih efektif dibanding jus buah naga merah saja. Saran: Kombinasi ini berpotensi diterapkan sebagai intervensi pangan lokal untuk pencegahan anemia pada ibu hamil.Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia termasuk di Indonesia. Secara global, prevalensi anemia tahun 2021 sebesar 36,5%. Ibu hamil trimester pertama dapat mengalami abortus dan kelainan kongenital. Pemberian jus buah naga merah dapat meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil sebanyak 1,42 gr/dlPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan eksra jahe pada jus buah naga untuk peningkatan kadar hemoglobin pada ibu hamil yang anemia di Puskesmas Wilayah Kabupaten Bonebolango. Desain eksperimen dengan pretest dan posttest nonequivalent control group. Sampel berjumlah 60 ibu hamil yang terdiri dari 30 sampel untuk kelompok perlakuan dan 30 sampel untuk kelompok control menunjukkan pada jus naga tambah jahe menujukkan peningkatan dari pada jus naga dengan nilai p<0,000 manfaat dari naga + jahe mengurangi muntah pada ibu hamil.
 
P Pengaruh Pemberian Modifikasi Makanan Selingan Puding Labu Kuning & Wortel Terhadap Kadar Glukosa Darah Pasien Diabetes Mellitus Di RSUD Palembang BARI
Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang meningkat yang memerlukan pengelolaan pola makan yang efektif. Labu kuning dan wortel mengandung serat larut, beta-karoten, serta antioksidan yang berpotensi menstabilkan glukosa darah. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian puding labu kuning dan wortel terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus di RSUD Palembang Bari. Metode: Penelitian quasi-experiment dengan desain one group pre-test–post-test pada 32 pasien diabetes melitus yang mengonsumsi puding selama tujuh hari berturut-turut. Kadar glukosa darah diukur menggunakan glukometer sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis dengan uji t-dependent. Hasil: Terdapat penurunan signifikan kadar glukosa darah sewaktu (p<0,05) dengan rata-rata penurunan sebesar 54,9 mg/dL setelah intervensi. Simpulan: Puding labu kuning dan wortel efektif menurunkan kadar glukosa darah pasien diabetes melitus. Saran: Diperlukan penelitian lanjutan dengan desain uji klinis terkontrol, sampel lebih besar, dan durasi intervensi lebih panjang untuk memperkuat pedoman praktik gizi rumah sakitDiabetes melitus merupakan penyakit metabolik ditandai dengan hiperglikemia yang disebabkan karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Kasus diabetes melitus setiap tahun terus meningkat, sehingga penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan global termasuk di Indonesia. Penatalaksanaan diabetes melitus dapat dilakukan dengan pendekatan farmakologis dan non farmakologis. Salah satu intervensi non farmakologis yang penting yaitu melalui pengaturan konsumsi serat harian. Salah satu altelrnatif untuk melnurunkan kadar glukosa dalam darah dipelrlukan altelrnatif belrupa modifikasi makanan sellingan tinggi selrat yakni puding labu kuning & wortel. Penelitian ini bertujuan untuk melngeltahui pelngaruh pelmbelrian puding labu kuning & wortel selbagai makanan sellingan pasien diabetes mellitus di RSUD Palembang Bari. Penelitian quasi elxpelrimelnt ini menggunakan rancangan onel group prel-telst - post-telst dengan sampel 32 pasien diabetes mellitus di RSUD Palembang Bari. Kelompok perlakuan diberikan puding labu kuning & wortel selama 7 hari berturut-turut. Hasil uji statistik (t-delpelndelnt) menunjukkan signifikansi perubahan kadar glukosa darah setelah pemberian puding labu kuning & wortel dengan nilai P < 0,05. Puding labu kuning & wortel bermanfaat sebagai alternatif makanan selingan tinggi serat yang dapat mengontrol kadar glukosa darah pasien diabetes mellitus
The Prototype of Barber Johnson Graph Application at the Statistics Laboratory of Health Polytechnic of Tasikmalaya
Ringkasan: Latar belakang: Efisiensi pengelolaan tempat tidur di rumah sakit sangat penting untuk mutu layanan, namun pelaporan Grafik Barber Johnson masih banyak dilakukan manual, menyebabkan risiko human error dan terbatasnya akurasi. Tujuan: Mengembangkan prototipe aplikasi Barber Johnson untuk pembelajaran dan pengelolaan efisiensi tempat tidur secara optimal. Metode: Penelitian pengembangan (R&D) dengan model waterfall, melalui analisis kebutuhan, desain, implementasi, integrasi, dan pengujian (black box testing). Hasil: Prototipe berbasis web mampu menghitung dan menampilkan nilai TOI, BOR, BTO, AvLOS, serta grafik Barber Johnson untuk periode fleksibel, meminimalisir kesalahan manual, dan memungkinkan ekspor grafik dalam format JPG. Simpulan: Aplikasi dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi pelaporan efisiensi tempat tidur bagi mahasiswa dan fasilitas kesehatan. Saran: Kolaborasi dengan rumah sakit untuk aplikasi berbasis data real-time, serta pengujian tahap maintenance dan interaksi multiuser agar sistem lebih komprehensif.Grafik Barber Johnson adalah media yang digunakan untuk menggambarkan tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur di rumah sakit. Pembelajaran pembuatan Grafik Barber Johnson di Program Studi D III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan di Cirebon Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, dilakukan secara manual serta menggunakan master sheet Microsoft Excel., meskipun fitur yang digunakan terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe aplikasi Grafik Barber Johnson di Laboratorium Statistik pada Program Studi D III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Cirebon, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. Penitilian menggunakan metode yang research and development dengan model waterfall sebagai model pengembangan sistemnya. Penelitian ini menghasilkan prototipe aplikasi Grafik Barber Johnson yang berfungsi untuk menghitung efisiensi pemakaian tempat tidur dengan Grafik Barber Johnson. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan Grafik Barber Johnson dibutuhkan data rekapitulasi register. Sistem yang dirancang mampu menghasilkan nilai TOI, AvLOV, BOR, BTO, serta Grafik Barber Johnson dalam periode yang fleksibel, memungkinkan pihak kampus untuk membuat studi kasus dengan variasi periode yang beragam