E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
Not a member yet
    783 research outputs found

    Edukasi Pencegahan Penyakit Demam berdarah Dengue dan Optimalisasi Pemanfaatan Tanaman Berpotensi Penolak Vektor Penular DBD

    No full text
    There are approximately 50 million cases of dengue fever every year, and 40% of the population is at risk of being infected with the dengue virus. Apart from utilizing government programs through the 3M program, dengue prevention measures can be taken by sowing larvicide. However, the use of chemical larvicides has disadvantages, such as repeated use of chemical larvicides carries the risk of contamination of pesticide residues in water, especially drinking water, and repeated use results in the emergence of resistance from various mosquito species. Research on plants with the potential to be larvicidal and repellent or mosquito repellents has proven that plants can be used as mosquito repellents, therefore it can eliminate the population level of the Aedes mosquito as a vector for transmitting dengue fever. The results of the research require to be introduced to the community,because indirectly reduce the occurrence of dengue fever cases in a village. The aim of this community service is to provide education to the public regarding Dengue Hemorrhagic Fever and information about plants that have the potential to repel mosquitoes as an effort to eliminate vectors that transmit dengue fever. This community service also aims to measure community knowledge about dengue hemorrhagic fever and its prevention. Educational activities regarding dengue hemorrhagic fever, prevention methods and socialization of plants that have the potential to repel dengue vectors were carried out on September 14 2023 in Taipa village, Lembo district, North Konawe district. In the education provided, it was seen that the participants were very active in asking questions about things they did not understand. The percentage increase in public knowledge regarding Dengue Hemorrhagic Fever after being given education was 76%.Terdapat kurang lebih 50 juta kasus DBD setiap tahun , dan terdapat 40 % penduduk yang memiliki resiko untuk terinfeksi virus dengue . Selain pemanfaatan program pemerintah melalui program 3M, tindakan pencegahan DBD dapat dilakukan dengan menabur larvasida. Namun demikin pemakaian larvasida kimia memiliki kekurangan, seperti penggunaan larvasida kimia yang berulang memiliki risiko kontaminasi residu pestisida dalam air, terutama air minum, dan pemakaian yang berulang mengakibatkan munculnya resistensi dari berbagai macam spesies nyamuk. Penelitian-penelitian mengenai tanaman berpotensi larvasida dan repellent atau penolak nyamuk telah membuktikan bahwa tanaman dapat digunakan digunakan sebagai penolak nyamuk sehingga dapat mengeliminir tingkat populasi nyamuk Aedes sebagai vector penular DBD.  Hasil penelitian tersebut perlu diperkenalkan kepada masyarakat, sehingga sehingga secara tidak langsung dapat menekan terjadinya kasus DBD di suatu desa. Tujuan Pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi  kepada masyarakat mengenai Demam Berdarah Dengue dan  penyuluhan mengenai tanaman berpotensi  penolak nyamuk sebagai  upaya eliminasi vektor penular DBD. Pengabdian masyarakat ini juga bertujuan untuk mengukur pengetahuan masyarakat mengenai demam berdarah dengue dan pencegahannya.Kegiatan edukasi mengenai demam berdarah dengue, cara pencegahan dan sosialisasi tanaman berpotensi penolak vector DBD telah dilaksanakan pada tanggal 14 September 2023 di desa Taipa Kecamatan Lembo Kabupaten Konawe Utara.  Pada edukasi yang diberikan, terlihat bahwa peserta sangat aktif dalam menanyakan hal-hal yang belum difahami. Presentase peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai Demam Berdarah dengue  setelah diberikan edukasi adalah 76 %

    A Penyuluhan CTPS dan konsumsi buah-sayur pada anak-remaja di kelurahan Asanno RT 003/RW 004: Penyuluhan kesehatan mengenai CTPS dan konsumsi buah-sayur ditatanan rumah tangga lebih khusus pada anak-remaja di kelurahan Asanno RT 003/RW 004

    No full text
    Washing hands with soap and consuming fruits and vegetables are indicators of PHBS (Clean and Healthy Living Behavior) in the household setting. This outreach activity aims to increase the knowledge of children and teenagers about the importance of washing hands with soap (CTPS) and consuming fruits and vegetables to maintain health. The outreach method combines lectures, Q&A sessions, and the use of visual media such as posters. The posters contain the correct steps for washing hands with soap and running water, as well as the benefits of consuming fruits and vegetables. This combination of methods helps to convey health messages in an engaging and easily understandable way for children and teenagers. The results of the outreach activity show an increase in knowledge and understanding among children and teenagers, as evidenced by their ability to correctly answer the statements we provided. Therefore, this activity needs to be conducted regularly to ensure continuous understanding, thereby helping to prevent diseases and promote a healthy lifestyle within the household.Cuci tangan pakai sabun dan konsumsi buah dan sayur merupakan indikator-indikator dalam PHBS di tatanan rumah tangga. Kegiatan penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anak-anak dan remaja tentang pentingnya cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan konsumsi buah serta sayur guna menjaga kesehatan.  Metode kegiatan penyuluhan dilakukan dengan kombinasi ceramah, sesi tanya jawab, dan menggunakan media visual yaitu poster. Poster tersebut berisikan langkah-langkah yang benar mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta manfaat dari mengonsumsi buah dan sayur. Kombinasi metode ini membantu menyampaikan pesan-pesan kesehatan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak maupun remaja. Hasil kegiatan penyuluhan menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan pengetahuan dan pemahaman anak-anak serta remaja terlihat dari kemampuan mereka dalam menjawab pernyataan yang kami berikan dengan tepat. Oleh karena itu, kegiatan ini perlu dilakukan secara rutin untuk memastikan pemahaman yang berkelanjutan, sehingga dapat membantu mencegah penyakit dan mempromosikan gaya hidup sehat di dalam rumah tangga

    Perbedaan Terapi Pijat Effleurage Dan Terapi Kompres Terhadap Penurunan Afterpain Pada Ibu Postpartum Di RS. Dewi Sartika Kota Kendari Sulawesi Tenggara

    No full text
    Ringkasan: Latar Belakang: Involusio uterus pada masa postpartum menimbulkan kontraksi otot-otot uterus yang menyebabkan ketidaknyamanan atau nyeri afterpain selama 3-4 hari postpartum. Tindakan non-farmakologis seperti terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat diperlukan untuk meredakan nyeri. Tujuan: Mengidentifikasi perbedaan terapi pijat effleurage dengan terapi kompres hangat dalam menurunkan afterpain pada ibu postpartum. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan eksperimen two group pretest posttest pada 50 ibu postpartum normal hari ke-1 di RS Dewi Sartika Kendari. Sampel dibagi menjadi dua kelompok menggunakan consecutive sampling. Nyeri dinilai dengan Numerical Rating Scale (NRS) dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Kedua terapi efektif menurunkan afterpain dengan nilai p=0,000. Uji perbandingan menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p=0,750) antara terapi pijat effleurage dan kompres hangat. Simpulan: Terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat sama-sama efektif menurunkan nyeri afterpain ibu postpartum. Saran: Kedua terapi dapat menjadi pilihan intervensi keperawatan untuk mengatasi afterpain dan memberikan kenyamanan ibu postpartum.Periode postpartum, juga dikenal sebagai "trimester keempat kehamilan", adalah waktu antara kelahiran bayi baru lahir dan kembalinya fungsi rahim seperti sebelum hamil. Pada masa postpartum terjadi perubahan baik secara fisiologis maupun psikis. Perubahan fisik yang terjadi selama periode postpartum termasuk yang terkait secara spesifik dengan sistem reproduksi serta perubahan sistemik lainnya. Salah satu perubahan fisiologis pada ibu postpartum adalah terjadi involusio uterus yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot-otot uterus sehingga menimbulkan ketidaknyamanan atau rasa nyeri yang di sebut afterpain. Tindakan non farmakologis yang bisa di berikan untuk meredakan nyeri pada ibu diantaranya memberikan terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan terapi masage effleurage dengan terapi kompres hangat dalam menurunkan afterpain pada ibu postpartum.  Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan eksperimen two group pretess posttest yaitu rancangan eksperimen yang dilakukan pada kedua kelompok yang berbeda yang mendapatkan intervensi yang berbeda. Hasil uji beda berpasangan wilcoxon didapatkan hasil pada terapi masage effleurage dan terapi kompres hangat p value = 0,000 yang bermakna ada pengaruh kedua terapi  terhadap penurunan afterpain pada ibu postpartum. Sedangkan pada uji beda tidak berpasangan uji mann whitney antara terapi massage effleurage dan terapi kompres air hangat tidak signifikan dengan nilai p value = 0,750, tidak ada perbedaan pada kedua terapi tersebut dengan demikian terapi masage eflleurage dan terapi kompres hangat sama-sama efektif dalam menurunkan nyeri afterpain ibu postpartum

    Effervescent Tablets as an Alternative to Increase Breast Milk Production with an Indicator of Baby's Defecation Frequency in Breastfeeding Mothers

    No full text
    Air Susu Ibu (ASI) suatu asupan gizi  alami yang baik dan penting karena mengandung nutrisi yang sangat dibutuhkan bagi bayi selama 6 bulan pertama kehidupan. ASI mengandung  laktagogum  dapat membantu merangsang  produksi ASI,  sehingga  dapat  membantu  ibu  dalam mengatasi masalah menyusui memiliki potensi dalam meningkatkan produksi ASI yang terbukti dari peningkatan berat badan bayi, peningkatan frekuensi BAB bayi, frekuensi BAK bayi dan frekuensi menyusui. Pemberian ASI eksklusif yang masih tergolong rendah karena adanya kendala yang dialami ibu yaitu salah satunya faktor ASI sedikit dan tidak mencukupi sehingga menghambat aktivitas menyusui, maka dari itu diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi ASI. Salah satunya dengan cara non farmakologi dengan mengkonsumsi tablet effervescent daun kelor yang mengandung zat laktagogum sebagai alternatif untuk meningkatkan produksi ASI. Tujuan penlitian ini mengetahui pengaruh tablet effervescent daun kelor terhadap produksi ASI dengan indikator frekuensi BAB bayi. Penelitian ini menggunakan desain quasy eksperiment dengan rangcangan pretest-posttest control group desain, pada 32 ibu nifas yang direkrut dengan metode purposive sampling, menggunakan kuesioner Endiburgh Postnatal Depression Scale (EPDS), lembar karakteristik responden, kepatuhan mengkonsumsi tablet, dan lembar observasi Frekuensi Buang Air Besar bayi digunakan untuk mengukur jumlah ASI yang diproduksi. Analisis data menggunakan uji Friedman Test, Mann Whitney. Hasil ada pengaruh tablet effervescent daun kelor 100 mg 1x sehari selama 14 hari sebagai alternatif peningkatan produksi ASI dilihat indikator frekunesi BAB bayi rata-rata sebelum intervensi 2,69 meningkat menjadi rata-rata 4,50 (p=0,010) dengan effect size 1,04. Ada pengaruh Pemberian tablet effervescent daun kelor dapat meningkatkan produksi ASI dengan indikator frekuensi BAB bayi.Ringkasan: Latar Belakang: Cakupan ASI eksklusif masih rendah akibat produksi ASI ibu yang kurang optimal . Daun kelor mengandung laktagogum flavonoid dan polifenol yang meningkatkan hormon prolaktin dan oksitosin untuk memperlancar laktasi. Tujuan: Menganalisis pengaruh tablet effervescent daun kelor terhadap produksi ASI berdasarkan frekuensi defekasi bayi pada ibu menyusui. Metode: Penelitian quasi experiment dengan desain pretest-posttest control group pada 32 ibu nifas di Puskesmas Sidomulyo Kota Pekanbaru. Kelompok intervensi mendapat tablet effervescent daun kelor 100 mg, kelompok kontrol mendapat plasebo selama 14 hari. Data dianalisis menggunakan uji Friedman dan Mann-Whitney. Hasil: Tablet effervescent daun kelor berpengaruh signifikan terhadap produksi ASI (p=0,010). Frekuensi defekasi bayi meningkat dari rata-rata 2,69 menjadi 4,50 dengan effect size 1,04 dan efektivitas klinis 67%. Simpulan: Tablet effervescent daun kelor efektif meningkatkan produksi ASI. Saran: tenaga kesehatan memanfaatkan sebagai alternatif mendukung program ASI eksklusif

    The Efek Terapi Musik Alam Terhadap Intensitas Nyeri Pada Anak Usia 6-12 Tahun Selama Pemasangan Infus di Ruang IGD Puskesmas Puuwatu Kota Kendari

    No full text
    Ringkasan: Latar belakang: Prosedur pemasangan infus sering menimbulkan nyeri dan kecemasan pada anak, memerlukan intervensi nonfarmakologis efektif untuk meningkatkan kenyamanan. Tujuan: Menilai pengaruh terapi musik alam terhadap intensitas nyeri pada anak usia 6–12 tahun selama prosedur pemasangan infus di IGD Puskesmas Puuwatu Kendari. Metode: Quasi-eksperimen Non-Equivalent Control Group Design melibatkan 30 anak (15 intervensi, 15 kontrol) yang dipilih dengan convenience sampling. Kelompok intervensi mendengarkan musik alam selama 30–45 menit, sedangkan kontrol tanpa terapi. Intensitas nyeri diukur dengan Visual Analog Scale pre dan post test, dianalisis dengan paired t-test (?=0,05). Hasil: Terapi musik alam menurunkan skor nyeri rata-rata 1,20 (p<0,001) pada kelompok intervensi, sedangkan penurunan pada kontrol 0,33 (p=0,055). Simpulan: Terapi musik alam efektif mengurangi intensitas nyeri anak selama pemasangan infus. Saran: Terapkan terapi musik alam sebagai distraktor standar dalam prosedur invasif pediatrik.Setiap pasien yang di rawat selalu menerima tindakan pemasangan infus, tindakan ini menyebabkan rasa sakit sehingga diperlukan tindakan non farmakologi untuk meminimalkan rasa sakit yang dirasakan oleh anak, terapi musik alam merupakan salah satu pilihan yang tepat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik alam terhadap intensitas nyeri anak usia 6-12 tahun selama prosedur pemasangan infus di ruang IGD Puskesmas Puuwatu Kendari. Jenis Penelitian ini adalah Kuantitatif dengan metode quasi eksperimen Non-Equivalent Control Group Design. Sampel adalah anak yang mendapatakan tindakan pemasangan infus usia 6-12 tahun yang dipilih dengan menggunakan metode convenience sampling terdiri dari 15 orang dalam kelompok intervensi dan 15 orang dalam kelompok kontrol. Terapi musik alam didengarkan oleh anak pada kelompok intervensi selama 30-45 menit mulai dari persiapan prosedur hingga selesai sedangkan pada kelompok kontrol tanpa terapi musik. Hasil uji paired t-test menunjukkan penurunan yang signifikan intensitas nyeri pada kelompok intervensi dengan nilai p-value <0,001 dan pada kelompok control p-value 0.055. Terapi musik alam efektif dalam menurunkan intensitas nyeri pada anak usia 6-12 tahun selama prosedur pemasangan infus

    EDUKASI TENTANG PENTINGNYA PENCEGAHAN KEHAMILAN USIA DINI DAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS PADA WANITA USIA SUBUR

    No full text
    Maternal and infant health problems are one of the problems that receive special attention related to improving the quality of human life in the world. One of them is cases of chronic energy deficiency (CED) and early pregnancy which are still health problems in Indonesia. The prevalence of CED in pregnant women in Indonesia based on 2018 Riskesdas data was 17.3% and based on the 2019 Indonesian Health Profile of 17.9%, there has been an increase in the incidence of pregnant women and women of childbearing age with CED in Indonesia . This community service applies previous research conducted by the proponent on factors related to the incidence of CED in pregnant women and early pregnancy. The community service method used is educational and participatory outreach, targeting women of childbearing age. The results of the activity illustrate that there is a positive response from the community which can be seen in participating in community service activities and after being given counseling, most of the knowledge and attitudes of women of childbearing age about the importance of preventing early pregnancy and CED are good and positive. There is a need for education among women of childbearing age, especially in increasing knowledge about the importance of nutrition before and during pregnancy which can break the chain of CED events. It is hoped that women of childbearing age will be agents in preventing the incidence of CED.Masalah kesehatan ibu dan bayi merupakan salah satu masalah yang mendapat perhatian khusus terkait peningkatan kualitas hidup manusia di dunia. Salah satunya adalah kasus kurang energi kronik (KEK) dan kehamilan usia dini yang masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Prevalensi KEK pada wanita hamil di Indonesia berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 sebesar 17,3% dan berdasarkan profil Kesehatan Indonesia tahun 2019 sebesar 17,9%, terjadi peningkatan angka kejadian ibu hamil dan wanita usia subur dengan KEK di Indonesia. Pengabdian masyarakat ini mengaplikasikan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh pengusul tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian KEK pada ibu hamil dan kehamilan usia dini. Metode pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah penyuluhan edukatif, dan partisipatif, dengan sasaran wanita usia subur. Hasil kegiatan menggambarkan adanya respon positif dari masyarakat yang terlihat dalam mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan setelah diberikan penyuluhan sebagian besar pengetahuan dan sikap wanita usia subur tentang pentingnya pencegahan kehamilan usia dini dan KEK sudah baik dan positif. Diperlukannya edukasi pada wanita usia subur terutama dalam meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya gizi sebelum dan saat kehamilan yang dapat memutus mata rantai kejadian KEK. Diharapkan wanita usia subur menjadi agen pencegah kejadian KEK

    Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Menopause di Desa Lambangi Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan

    No full text
    Ringkasan: Latar Belakang: Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan semakin banyak perempuan mengalami menopause dengan berbagai dampak kesehatan fisik dan psikologis yang memerlukan identifikasi faktor risiko untuk intervensi dini. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian menopause di Desa Lambangi Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional terhadap 64 ibu berusia 40-65 tahun menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner karakteristik dan pengetahuan menopause, kemudian dianalisis dengan Chi-Square (? = 0,05) dan Confidence Interval 95%. Hasil: Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan (p < 0,05) antara usia menarche (p = 0,003), paritas (p = 0,011), pendidikan (p = 0,045), pekerjaan (p = 0,003), dan riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal (p = 0,015) dengan kejadian menopause. Simpulan: Usia menarche, paritas, pendidikan, pekerjaan, dan penggunaan kontrasepsi hormonal merupakan faktor determinan kejadian menopause. Saran: Diperlukan peningkatan pelayanan konseling pra-menopause dan penelitian lanjutan faktor menopause untuk mengurangi dampak negatif.Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan jumlah perempuan yang mengalami menopause semakin banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian menopause di desa Lambangi Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe selatan. Penelitian ini menggunakan rancangan Cros sectional. Populasi adalah semua ibu berusia 40-65 tahun yang berada di Desa Lambangi Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan yang berjumlah 64 orang. Cara pengambilan sampel dengan teknik total sampling, penelitian ini dilakukan pada 64 responden. Analisis data dengan menggunakan Chi-Square (x²) dilanjutkan dengan Confidence Interval (CI) 95%. Hasil uji stsistik menunjukkan bahwa variabel usia menarche, paritas, pekerjaan, riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal, menunjukkan hubungan yang signifikan dengan nilai denga nilai P < 0,05

    Effectiveness of Animated Video and Leaflet Counseling Media on Knowledge and Hemoglobin Levels in Female Students with Anemia

    No full text
    Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di yang dapat dialami oleh semua kelompok umur. Prevalensi anemia pada kelompok usia remaja menunjukkan Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di yang dapat dialami oleh semua kelompok umur. Prevalensi anemia pada kelompok usia remaja menunjukkan hasil Riskesdas sebesar 84,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas media  penyuluhan video animasi  dan leaflet terhadap  pengetahuan dan kadar hemoglobin pada siswi dengan anemia di SMA Negeri 6 Palembang Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan pre-post test group design. Penelitian ini menggambarkan perbandingan antara 2 kelompok perlakuan. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas XI SMA Negeri 6 Palembang yang menderita anemia. Dimana responden  kemudian dibagi dalam dua kelompok perlakuan yang dipilih secara random yaitu kelompok 1 yang diberi penyuluhan melalui pemutaran video  dan kelompok 2 yang diberi penyuluhan melalui leaflet.  Hasil penelitian diperoleh prevalensi anemia pada siswi SMA Negeri 6 sebesar 37,2 %. Ada perbedaan signifikan antara media video animasi dan leaflet dengan pengetahuan tentang anemia pada Siswi SMA Negeri 6 Palembang (p value = 0,043). Perlunya pengembangan media edukasi yang sesuai yang disukai oleh siswi untuk lebih bisa diterima untuk peningkatan pengetahuan tentang anemia serta aplikasi yang mampu memantau tingkat kepatuhan konsumsi tablet tambah darah guna penurunan prevalensi anemia pada remaja puterihasil Riskesdas sebesar 84,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas media  penyuluhan video animasi  dan leaflet terhadap  pengetahuan dan kadar hemoglobin pada siswi dengan anemia di SMA Negeri 6 Palembang Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan pre-post test group design. Penelitian ini menggambarkan perbandingan antara 2 kelompok perlakuan. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas XI SMA Negeri 6 Palembang yang menderita anemia. Dimana responden  kemudian dibagi dalam dua kelompok perlakuan yang dipilih secara random yaitu kelompok 1 yang diberi penyuluhan melalui pemutaran video  dan kelompok 2 yang diberi penyuluhan melalui leaflet.  Hasil penelitian diperoleh prevalensi anemia pada siswi SMA Negeri 6 sebesar 37,2 %. Ada perbedaan signifikan antara media video animasi dengan leaflet dengan pengetahuan tentang anemia pada Siswi SMA Negeri 6 Palembang (p value = 0,043). Perlunya pengembangan media edukasi yang sesuai yang disukai oleh siswi untuk lebih bisa diterima untuk peningkatan pengetahuan tentang anemia serta aplikasi yang mampu memantau tingkat kepatuhan konsumsi tablet tambah darah guna penurunan prevalensi anemia pada remaja putri.Ringkasan: Latar Belakang: Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi 84,6% berdasarkan Riskesdas 2018. Media penyuluhan yang efektif diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan dalam pencegahan anemia. Tujuan: Mengetahui efektivitas media penyuluhan video animasi dan leaflet terhadap pengetahuan dan kadar hemoglobin pada siswi dengan anemia di SMA Negeri 6 Palembang. Metode: Penelitian quasi experimental dengan pre-posttest group design pada 70 siswi kelas XI yang menderita anemia. Responden dibagi menjadi dua kelompok secara random: kelompok video animasi dan kelompok leaflet. Data pengetahuan dikumpulkan menggunakan google form, kadar hemoglobin diukur dengan metode Easy Touch. Hasil: Prevalensi anemia siswi 37,2% dengan rata-rata kadar Hb 13,1 mg/dl. Terdapat peningkatan pengetahuan signifikan antara pre-test dan post-test (p=0,043). Video animasi menunjukkan peningkatan pengetahuan lebih baik dibandingkan leaflet. Simpulan: Media video animasi lebih efektif meningkatkan pengetahuan anemia dibandingkan leaflet pada remaja putri. Saran: Diperlukan pengembangan media edukasi yang sesuai preferensi siswi dan aplikasi monitoring konsumsi tablet tambah darah

    Deteksi Metilasi Gen IGF2/H19 Pada DNA Sel Darah Tepi Anak Stunting Usia 3-5 tahun: Metilasi IGF2 pada anak stunting

    No full text
    Ringkasan: Latar Belakang: Stunting dengan prevalensi 24% pada anak Indonesia berkaitan dengan kekurangan donor metil yang mengatur ekspresi gen pertumbuhan melalui metilasi DNA gen IGF2. Tujuan: Mengevaluasi perbedaan metilasi DNA gen IGF2 pada anak stunting sebagai penanda biologis. Metode: Studi case-control retrospektif melibatkan 46 anak usia 3-5 tahun (23 stunting, 23 normal) di Pandeglang, Banten. DNA darah tepi dianalisis menggunakan Methylation Specific PCR dengan kit CpG WIZ H19-IGF2. Analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil: Metilasi DNA gen IGF2 lebih tinggi pada anak stunting (median 22% vs 17,83%, p>0,05) namun tidak bermakna statistik. Metilasi bermakna lebih tinggi pada anak laki-laki (median 28,68% vs 14,80%, p=0,04). Simpulan: Metilasi DNA gen IGF2 berpotensi menjadi penanda biologis stunting, terutama pada anak laki-laki. Saran: Diperlukan penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar untuk mengeksplorasi mekanisme molekuler stunting.Stunting atau tinggi badan anak tidak sesuai umur masih merupakan tantangan kesehatan di Indonesia. Keberadaan stunting adalah indikasi asupan gizi yang kurang secara kronis yang berdampak kepada keterlambatan pertumbuhan, kecerdasan, dan kerentanan mengalami penyakit seperti infeksi dan obesitas. Kekurangan gizi kronis berdampak pada jumlah donor metil yang diperlukan untuk mengatur ekspresi gen dengan memodifikasi DNA. Metilasi pada situs DNA yang menyandi IGF2 (insulin growth factor) pada lokus DMR (differential methylated region) berpotensi mengatur tingkat ekspresi gen IGF2. Untuk mengevaluasi adanya perbedaan metilasi DNA gen IGF2, studi retrospektif case control dilakukan dengan merekrut 23 anak stunting dan 23 anak normal di rentang usia 3-5 tahun. Dengan menggunakan MSP (Methylation Specific PCR), metilasi DNA pada gen IGF2 ditemukan lebih tinggi di DNA darah anak stunting dibanding anak normal (median 22% vs 17,83%, p value >0.05) namun tidak bermakna secara statistik. metilasi DNA IGF2 ditemukan lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding perempuan yang bermakna secara statistik (median 28,68% vs 14,80%, nilai p 0,04). Perbedaan persentase metilasi DNA pada gen IGF2 perlu dieksplorasi lebih jauh untuk menjelaskan mekanisme terjadinya stunting akibat malnutrisi kronis

    PELATIHAN BACK EXERCISE PADA IBU HAMIL TRIMESTER III

    No full text
    As older people get older, there is a decline in the elderly's memory. Many elderly people forget something. If left unchecked, memory loss will ultimately impact the quality of life of the elderly. Memory as part of the cognitive function of the elderly needs to be improved. The aim of this community service is to improve the ability of the elderly to independently practice brain gymnastics in an effort to improve cognitive function in the elderly, as a preventive and promotive activity for the health of the elderly. Brain exercise therapy was attended by 12 elderly people in the RT 06 RW 01 area, Tanjungrejo sub-district, Sukun District, Malang City, which was carried out at the house of one of the residents. The activity is carried out in 2 sessions, namely a training session and a therapy session, consisting of 9 hand movements that train the balance of the right and left brain. The results of the activity showed that there were 5 elderly people who could do brain exercises independently and 7 other elderly people could do it with help. This activity went well, the elderly were enthusiastic about this activity which was seen through sentences and body gestures as well as excitement in doing brain exercises. With this activity, the Service concluded that this training had a success of 42% to be able to practice brain gymnastics therapy in improving the cognitive health of the elderly.Seiring dengan bertambahnya umur, terjadi penurunan dalam daya ingat lansia. Banyak lansia yang lupa akan sesuatu. Penurunan daya ingat jika dibiarkan saja akan berdampak pada akhirnya pada kualitas hidup lansia. Daya ingat sebagai bagian dari fungsi kognitif lansia perlu ditingkatkan. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan kemampuan lansia dalam mempraktikkan secara mandiri senam otak dalam upaya meningkatkan fungsi kognitif pada lansia, sebagai kegiatan preventif dan promotif bagi kesehatan lansia. Terapi senam otak diikuti oleh 12 lansia di wilayah RT 06 RW 01 kelurahan tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang, yang pelaksanaanya dilakukan di rumah salah satu warga. Kegiatan dijalankan dalam 2 sesi yakni sesi latihan dan sesi terapi, terdiri dari 8 gerakan tangan yang melatih keseimbangan otak kanan dan kiri. Hasil kegiatan menunjukkan terdapat 5 lansia yang dapat melakukan senam otak secara mandiri dan 7 lansia lain dapat melakukan dengan bantuan. Kegiatan ini berjalan dengan baik, lansia antuasias dengan kegiatan ini yang terlihat melalui kalimat maupun gestur tubuh serta kehebohan dalam melakukan gerakan senam otak. Dengan kegiatan ini Pengabdi menyimpulkan bahwa pelatihan ini memiliki keberhasilan 42% untuk dapat mempraktikkan sendiri terapi senam otak dalam meningkatkan kesehatan kognitif lansia

    138

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇