E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
Not a member yet
    783 research outputs found

    Gambaran Resiliensi dan Kesehatan Mental Perawat di Indonesia: Sebuah Systematic Review

    No full text
    Ringkasan: Latar Belakang: Perawat menghadapi bahaya psikososial di tempat kerja yang meningkatkan masalah kesehatan mental seperti stres kerja dan burnout syndrome. Resiliensi yang baik diperlukan untuk menghadapi kesulitan dan mempertahankan kesehatan mental perawat. Tujuan: Mengidentifikasi tingkat resiliensi, instrumen pengukuran, dan hubungan antara resiliensi dengan kesehatan mental perawat di Indonesia. Metode: Systematic review menggunakan alur PRISMA dengan pencarian artikel pada database Scopus, ProQuest, dan Garuda. Setelah proses identifikasi, skrining, dan eligibilitas studi, diperoleh 12 studi untuk ditelaah. Hasil: Resiliensi perawat Indonesia berada pada tingkat sedang hingga tinggi. Instrumen CD-RISC merupakan alat ukur yang paling sering digunakan. Resiliensi berhubungan negatif dengan depresi, berhubungan positif dengan burnout syndrome, namun tidak berhubungan dengan kecemasan dan stres kerja. Simpulan: Makin tinggi resiliensi perawat, makin rendah tingkat depresi yang dialami. Saran: Diperlukan kajian lanjutan tentang faktor yang mempengaruhi resiliensi dan penelitian intervensi resiliensi pada perawat Indonesia.Perawat merupakan profesi yang banyak dikelilingi oleh bahaya psikososial di tempat kerja. Hal ini dapat meningkatkan terjadinya masalah kesehatan mental di tempat kerja seperti stres kerja dan burnout syndrome. Dibutuhkan resiliensi yang baik pada perawat untuk dapat menghadapi kesulitan dan bangkit kembali sehingga kesehatan mental perawat dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Gambaran tentang resiliensi perawat di Indonesia dibutuhkan dalam mengembangkan intervensi resilinesi. Penelitian ini bertujuan  untuk mengidentifikasi tingkat resiliensi, instrumen yang sering digunakan untuk mengukur resiliensi, dan hubungan antara resiliensi dengan kesehatan mental perawat di Indonesia. Metode penelitian menggunakan systematic review menggunakan alur Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) dalam pencarian artikel pada database Scopus, Proquest, dan Garuda. Setelah melalui proses identifikasi, skrining, dan eligibilitas studi, diperoleh 12 studi untuk ditelaah. Hasil kajian literatur yaitu, resiliensi perawat Indonesia berada pada tingkat sedang hingga tinggi. Instrumen CD-RISC merupakan alat ukur yang paling sering digunakan untuk mengukur tingkat resiliensi perawat di Indonesia. Resiliensi memiliki hubungan positif dengan burnout syndrome namun sebaliknya berhubungan negatif dengan depresi. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa makin tinggi resiliensi maka makin rendah depresi pada perawat. Disarankan adanya kajian lanjutan tentang faktor yang memengaruhi resiliensi dan penelitian tentang intervensi resiliensi

    EDUKASI KESEHATAN REPRODUKSI MELALUI E-KOMIK “ANAKKU STUNTING” DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING

    No full text
    The causes of stunting start from adolescent girls as mothers-to-be suffer from anemia, lack of nutritional intake when they are still teenagers until before marriage and pregnancy. S This affects the nutritional quality of the child he will conceive. Therefore, understanding health starting from adolescence is very important so that when planning a family, adolescents have maintained health and understand the good and bad impacts related to health. Teenagers today generally prefer something that is varied and not boring, the educational process must be designed with this in mind. The use of the right media can be one solution to increase adolescents' interest in obtaining health information. One of the media that can be used is e-comics where Indonesia is ranked second in the world for the number of comic readers with an average score of someone reading 3 comic books. Methods: quasi-experimental research with two group pre and post test design. The research sample was 40 students (20 people per group) of SMP 5 Kendari grade IX with an accidental sampling technique. The analysis used the wilcoxon test and the Mann Whitney test. Results: the results of the knowledge wilcoxon test in the experimental group showed p-value = 0.000 which means there was a significant difference in knowledge before and after the intervention. The Mann Whitney test between the two groups showed a p-value = 0.000 which means that there is an influence of education through e-comics on reproductive health knowledge in stunting prevention. Suggestion: It is hoped that the provision of health education to adolescents can utilize e-comic media so that it attracts interest in reading.Penyebab stunting dimulai sejak remaja putri sebagai calon ibu menderita anemia, kurang mendapat asupan gizi saat masih remaja sampai sebelum menikah dan mengandung. Hal tersebut memengaruhi kualitas gizi dari anak yang akan dikandungnya. Oleh karena itu pemahaman tentang kesehatan mulai dari remaja sangat penting sehingga ketika merencanakan berkeluarga, remaja memiliki kesehatan yang terjaga dan memahami dampak baik buruk terkait kesehatan. Remaja saat ini umumnya lebih menyukai sesuatu yang bersifat variatif dan tidak membosankan, Proses edukasi harus dirancang dengan memperhatikan hal tersebut. Penggunaan media yang tepat dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan minat remaja untuk mendapatkan informasi kesehatan. Salah satu media yang dapat digunakan adalah e-komik dimana Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia untuk jumlah pembaca komik dengan nilai rata-rata seseorang membaca 3 buku komik. Metode: penelitian quasi eksperimen dengan rancangan two group pre and post test design. Sampel penelitian adalah 40 siswa (masing-masing 20 orang setiap kelompok) SMP 5 Kendari kelas IX dengan teknik pengambilan sampel secara accidental sampling. Analisis menggunakan uji wilcoxon dan uji Mann Whitney. Hasil: hasil uji wilcoxon pengetahuan pada kelompok eksperimen menunjukkan p-value = 0,000 yang berarti ada perbedaan signifikan pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Uji Mann Whitney antar kedua kelompok menunjukkan p-value = 0,000 yang berarti ada pengaruh edukasi melalui e-komik terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi dalam pencegahan stunting. Saran: Diharapkan pemberian pendidikan kesehatan kepada remaja dapat memanfaatkan media e-komik sehingga menarik minat untuk dibaca

    Pembuatan Peta Bising dengan Software Golden Surfer sebagai Upaya Pengendalian Kebisingan di Power Plant PT. X, Jawa Tengah

    No full text
    Ringkasan: Latar Belakang: Kebisingan di lingkungan kerja power plant menjadi perhatian utama karena dampak signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Lebih dari 30% pekerja sektor energi Indonesia terpapar kebisingan di atas Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA. Tujuan: Memetakan tingkat kebisingan di unit Power Plant PT. X menggunakan software golden surfer untuk mengidentifikasi zona-zona kritis yang memerlukan penanganan khusus. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan pengukuran kebisingan di 35 titik sampling menggunakan metode grid. Pengukuran dilakukan menggunakan Sound Level Meter PCE-322A dan dianalisis dengan software golden surfer untuk membuat peta kontur kebisingan. Hasil: Tingkat kebisingan bervariasi dari 64,10 dBA hingga 104,75 dBA, dengan 42,86% area melebihi NAB 85 dBA. Area G3 memiliki kebisingan tertinggi (103,1-106,0 dBA) yang berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran dan risiko kesehatan non-auditori. Simpulan: Peta kontur kebisingan berhasil mengidentifikasi zona-zona berisiko tinggi yang memerlukan intervensi segera untuk melindungi kesehatan pekerja. Saran: Diperlukan sistem zonasi kebisingan dengan penandaan jelas dan pemantauan berkala untuk evaluasi efektivitas pengendalian kebisingan.Kebisingan di lingkungan kerja industri, khususnya sektor power plant, menjadi perhatian utama karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tingkat kebisingan di unit power plant PT. X menggunakan software Golden Surfer. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pengukuran kebisingan di 35 titik sampling menggunakan metode grid. Pengukuran dilakukan pada 14 Agustus 2024 menggunakan Sound Level Meter PCE-322A. Hasil penelitian menunjukkan variasi tingkat kebisingan dari 64,10 dBA hingga 104,75 dBA, dengan 42,86% titik pengukuran melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA. Area G3 teridentifikasi memiliki tingkat kebisingan tertinggi pada rentang 103,1 – 106,0 dBA, tingginya paparan kebisingan berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran (NIHL) dan risiko kesehatan non-auditori. Peta kontur kebisingan yang dihasilkan memvisualisasikan distribusi kebisingan di seluruh area, mengidentifikasi zona-zona kritis yang memerlukan penanganan khusus. Kesimpulannya, meskipun PT. X telah menerapkan berbagai upaya pengendalian kebisingan, masih terdapat area yang memerlukan perhatian khusus dan pengendalian lebih lanjut. Peta kebisingan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk perencanaan pengendalian kebisingan, evaluasi efektivitas upaya pengendalian yang telah dilakukan, dan penyusunan strategi perlindungan kesehatan dan keselamatan pekerja di lingkungan industri energi

    Fisherman Mobile Screening (F-Mobile NCDs) untuk Deteksi Dini Resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) Berbasis Android pada Nelayan

    No full text
    Ringkasan: Latar Belakang: Perkembangan teknologi informasi memberikan dampak pada bidang kesehatan, khususnya deteksi dini penyakit. Nelayan sebagai kelompok berisiko tinggi terhadap penyakit tidak menular (PTM) memerlukan perhatian khusus dalam dokumentasi deteksi dini. Tujuan: Mengembangkan aplikasi screening risiko PTM pada nelayan berbasis android untuk membantu program transformasi kesehatan. Metode: Research and Development (R&D) dengan tahapan studi pendahuluan, pembuatan aplikasi, validasi pakar, uji coba, dan implementasi. Sampel 31 responden di Puskesmas Sawa menggunakan purposive sampling. Hasil: Aplikasi F-Mobile NCDs menunjukkan kemudahan penggunaan (100%), mengunduh (90,90%), mengakses web (90,90%), kejelasan tampilan (96,97%-100%), dan kemanfaatan untuk kesehatan serta pendataan nelayan (100%). Kesimpulan: F-Mobile NCDs mempermudah kader PTM dalam pelaporan secara efektif dan dapat menjadi alternatif deteksi dini risiko PTM pada nelayan. Saran: Diperlukan pengembangan fitur yang lebih komprehensif dan pelatihan optimal bagi pengguna.ABSTRAK Perkembangan teknologi informasi berkembang dengan sangat pesat sehingga membawa dampak bagi manusia pada kehidupan sehari-hari. Perkembangan tersebut memberikan dampak pada besarnya kemudahan dalam menunjang aktivitas sehari-hari dengan memanfaatkan akses dari informasi teknologi tersebut. Bidang kesehatan merupakan salah satu bidang yang memperoleh dampak dari berkembangnya informasi teknologi tesebut. Penggunaan teknologi internet digunakan sebagai salah satu metode dalam melakukan deteksi dini kesehatan, hal ini sejalan dengan program transformasi kesehatan salah satunya adalah deteksi dini terhadap penyakit menular. Nelayan adalah kelompok khusus yang beresiko terhadap resiko penyakit tidak menular dikarenakan gaya hidup, pola makan, aktivitas, dan pekerjaanya. Oleh karena itu, melalui penelitian ini, peneliti bertujuan untuk membuat screening resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) pada nelayan berbasis android, diharapkan dengan adanya aplikasi ini dapat membantu program pemerintah dalam transformasi kesehatan secara cepat melalui upaya penuntasan, pengobatan dan pelacakan penyakit tidak menular  oleh kader PTM. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan metode Research and Development (R&D), dengan langkah terdiri dari: (1) Tahap studi pendahuluan; (2) Rancangan dan pembuatan aplikasi android; (3) validasi desain oleh pakar; (4) Melakukan uji coba dan revisi desain; (5) Implementasi dan pengukuran penilaian aplikasi android, lokasi penelitian diwilayah kerja Puskemas Sawa dengan populasi seluruh kader PTM dan Programer PTM dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 31 orang menggunakan metode purvosive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi F-Mobile NCDs ini dapat diaplikasikan untuk Deteksi dini resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) berbasis android pada nelayan yaitu kemudahan mengunduh aplikasi, mengakses android di playstore kategori mudah, simbol pada aplikasi tampilan gambar dan bermanfaat bagi pelaporan di Posyandu PTM. Kesimpulan: kebutuhan masyarakat akan informasi sangat besar dan salah satu akses untuk mendapatkan informasi adalah melalui media sosial yang salah satu medianya menggunakan smatrphone, aplikasi ini bisa menjadi salah satu alternatif deteksi dini risiko penyakit tidak menular pada nelayan.   Kata Kunci : f-Mobile Ncds, Nelayan, PTM

    Analysis of The Implementation of the Exclusive Breastfeeding Program in Labuhanbatu District Health Office

    No full text
    Kurang dari separuh bayi yang baru lahir saat ini menerima ASI eksklusif. Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi program ASI eksklusif di Kabupaten Labuhanbatu. Metode gabungan (mix methode)  dengan rancangan desain sekuensial ekploratori. Tahap I (kualitatif), menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap 13 Informan yang dianggap berhubungan dengan program ASI eksklusif. Tahap II (kuantitatif) menggunakan cross sectional dengan 80 sampel ibu-ibu yang memiliki bayi 6-24 bulan. Hasil pada tahap I dilihat dari variabel yang dikemukakan Van Metter dan Van Horn yakni standar, tujuan, dan sasaran kebijakan; Sumber daya; karakteristik organisasi pelaksana; komunikasi antar organisasi; disposisi atau sikap pelaksana; dan kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Pada tahap II, ditemukan hubungan signifikan antara status pekerjaan, pengetahuan ibu, dukungan suami dan keluarga, dan dukungan kader kesehatan dengan nilai P < 0,05. Kesimpulan: Implementasi kebijakan pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Labuhanbatu sudah cukup baik.  Ringkasan: Latar belakang: Cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Labuhanbatu menurun dari 46,23% (2021) menjadi 45,2% (2022), masih di bawah target nasional. Implementasi kebijakan memerlukan evaluasi menggunakan model Van Meter-Van Horn. Tujuan: Menganalisis implementasi program ASI eksklusif di Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu berdasarkan variabel yang mempengaruhi keberhasilannya. Metode: Mix method desain sekuensial eksploratori. Tahap I: wawancara mendalam 13 informan dengan variabel Van Meter-Van Horn. Tahap II: cross sectional 80 ibu bayi 6-24 bulan dengan chi-square test. Hasil: Implementasi kebijakan cukup baik namun menghadapi kendala kualitas SDM dan ketiadaan dana khusus. Variabel signifikan dengan ASI eksklusif: status pekerjaan, pengetahuan ibu, dukungan suami-keluarga, dan dukungan kader (p<0,05). Simpulan: Implementasi kebijakan ASI eksklusif Kabupaten Labuhanbatu cukup baik. Saran: Peningkatan kualitas SDM, alokasi dana khusus, dan pembentukan satuan pengawas program

    Hubungan Masa Kerja dan Durasi Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Pekerja Pemanen Sawit PT Abdi Budi Mulia Teluk Panji Labuhanbatu Selatan

    No full text
    Ringkasan: Latar belakang: Musculoskeletal disorders (MSDs) adalah gangguan yang mempengaruhi fungsi normal sistem muskuloskeletal akibat paparan berulang berbagai faktor risiko di tempat kerja, dengan faktor masa kerja dan durasi kerja menjadi determinan utama. Tujuan: Mengetahui hubungan masa kerja dan durasi kerja dengan keluhan MSDs pada pekerja pemanen sawit PT Abdi Budi Mulia Teluk Panji, Labuhanbatu Selatan. Metode: Penelitian cross-sectional pada 101 pekerja pemanen sawit menggunakan total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Nordic Body Map dan dianalisis dengan uji Spearman's rank. Hasil: Sebanyak 94 responden (93,1%) mengalami keluhan MSDs sedang, 59 responden (58,4%) memiliki masa kerja <10 tahun, dan 88 responden (87,1%) bekerja <7 jam/hari. Terdapat hubungan signifikan antara masa kerja dengan keluhan MSDs (p=0,001; r=0,333) dan durasi kerja dengan keluhan MSDs (p=0,006; r=0,271). Simpulan: Masa kerja dan durasi kerja berkorelasi positif dengan keluhan MSDs pada pekerja pemanen sawit. Saran: Implementasi program pencegahan ergonomis dan pelatihan postur kerja untuk mengurangi risiko MSDs.Musculoskeletal Disorders (MSDs) adalah gangguan yang mempengaruhi fungsi normal sistem musculoskeletal akibat paparan berulang berbagai faktor risiko di tempat bekerja. Faktor pekerjaan yang berkaitan dengan MSDs adalah beban kerja, masa kerja, dan durasi kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan masa kerja dan durasi kerja dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja pemanen sawit yang berada di Teluk Panji. Sampel pada penelitian ini adalah semua pekerja pemanen sawit yang berada di Teluk Panji. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner nordic body map. Analisis data menggunakan uji statistik spearmen rank. Responden yang mengalami keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) lebih banyak yaitu 94 responden (93.1%). Responden yang memiliki masa kerja <10 tahun lebih banyak yaitu 59 responden (58,4%). Responden yang memiliki durasi kerja <7 jam lebih banyak yaitu 88 responden (87,1%). Ada hubungan antara masa kerja dengan keluhan MSDs dengan nilai p=0,001<? (0,05) Ada hubungan antara durasi kerja dengan keluhan MSDs dengan nilai p=0,006<? (0,05). Kondisi muskuloskeletal penting sepanjang kehidupan, dari masalah jangka pendek seperti nyeri dibagian tubuh tertentu. Penelitian ini menemukan pekerja pemanen kelapa sawit sering mengalami keluhan MSDs pada bahu, punggung, paha, leher, dan lengan bawah, terkait dengan masa dan durasi kerja

    Application of Brain Exercise Therapy in Im-proving the Cognitive Health of the Elderly

    No full text
    Seiring dengan bertambahnya umur, terjadi penurunan dalam daya ingat lansia. Banyak lansia yang lupa akan sesuatu. Penurunan daya ingat jika dibiarkan saja akan berdampak pada akhirnya pada kualitas hidup lansia. Daya ingat sebagai bagian dari fungsi kognitif lansia perlu ditingkatkan. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan kemampuan lansia dalam mempraktikkan secara mandiri senam otak dalam upaya meningkatkan fungsi kognitif pada lansia, sebagai kegiatan preventif dan promotif bagi kesehatan lansia. Terapi senam otak diikuti oleh 12 lansia di wilayah RT 06 RW 01 kelurahan tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang, yang pelaksanaanya dilakukan di rumah salah satu warga. Kegiatan dijalankan dalam 2 sesi yakni sesi latihan dan sesi terapi, terdiri dari 8 gerakan tangan yang melatih keseimbangan otak kanan dan kiri. Hasil kegiatan menunjukkan terdapat 5 lansia yang dapat melakukan senam otak secara mandiri dan 7 lansia lain dapat melakukan dengan bantuan. Kegiatan ini berjalan dengan baik, lansia antuasias dengan kegiatan ini yang terlihat melalui kalimat maupun gestur tubuh serta kehebohan dalam melakukan gerakan senam otak. Dengan kegiatan ini Pengabdi menyimpulkan bahwa pelatihan ini memiliki keberhasilan 42% untuk dapat mempraktikkan sendiri terapi senam otak dalam meningkatkan kesehatan kognitif lansia.As older people get older, there is a decline in the elderly's memory. Many elderly people forget something. If left unchecked, memory loss will ultimately impact the quality of life of the elderly. Memory as part of the cognitive function of the elderly needs to be improved. The aim of this community service is to provide brain exercise therapy in an effort to improve cognitive function in the elderly, as a preventive and promotive activity for the health of the elderly. Brain exercise therapy was attended by 12 elderly people in the RT 06 RW 01 area, Tanjungrejo sub-district, Sukun District, Malang City, which was carried out at the house of one of the residents at 07.30-11.00 WIB. The activity is carried out in 2 sessions, namely a training session and a therapy session, consisting of 9 hand movements that train the balance of the right and left brain. Community service activities have been carried out and are going well, the elderly expressed their enthusiasm for this activity, which was conveyed through sentences and body gestures as well as excitement in doing brain exercise movements. With this activity, the Community Service concluded that this activity is not only useful for improving the cognitive function of the elderly if done regularly, but also reduces the mental and mental burden of the elderly through free laughter while doing exercise

    the Edukasi Tentang Pentingnya Gizi Saat Kehamilan, Asi Eksklusif, Mp-Asi Tumbuh Kembang Bayi Pada Wanita Usia Subur Dalam Upaya Pencegahan Stunting

    No full text
    Stunting refers to the condition of a child's height being shorter than the height appropriate for his or her age. 2019 shows that the number of stunted toddlers in Indonesia is 27.67 percent and is still a public health problem. The prevalence of stunting in Southeast Sula-wesi Province in 2021, there are five regions with red status with a stunting prevalence above 30% and there are 12 districts and cities with yellow status with a prevalence above 20-30% one of which is North Konawe. Based on this data, it is hoped that all parties will support and take part in caring and taking action in efforts to prevent stunting in children, including women of childbearing age. This community service applies previous research conducted by the proposer regarding maternal factors related to the incidence of stunting. There is a need for education for women of childbearing age, especially in increasing knowledge about the importance of nutrition during pregnancy, exclusive breastfeeding, MP-ASI, baby growth and development which can break the chain of stunting in toddlers. It is hoped that women of childbearing age will become agents for preventing stunting. The community service method carried out is educational and participatory outreach, targeting women of childbearing age. Providing education to women of childbearing age in an effort to prevent early stunting can increase understanding of women of childbearing age about the importance of nutrition during pregnancy, exclusive breastfeeding, MP-ASI, baby growth and development in efforts to prevent stunting.Masalah kesehatan ibu dan bayi merupakan salah satu masalah yang mendapat perhatian khusus terkait peningkatan kualitas hidup manusia di dunia (Thompson et al, 2017). Masalah kesehatan ibu dan bayi banyak faktor yang mempengaruhi dan saling berhubungan satu sama lain (Arigliani et al, 2018). Salah satunya adalah kasus kurang energi kronik (KEK) dan kehamilan usia dini yang masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia (Kemenkes RI, 2018). Kekurangan Energi Kronik merupakan kondisi yang disebabkan karena adanya ketidakseimbangan asupan gizi antara energi dan protein, sehingga zat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak  tercukupi (Kemenkes RI, 2018). Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Tahun 2015,2016 dan 2017 ditemukan data persentase ibu hamil dan wanita usia subur kekurangan energi kronis (KEK) di Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 13,3%, pada tahun 2016 sebanyak 16,2%, pada tahun 2017 sebanyak 14,8% (Kemenkes, 2017). Prevalensi KEK pada wanita hamil di Indonesia berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 sebesar 17,3% dan berdasarkan profil Kesehatan Indonesia bahwa angka kejadian KEK pada ibu hamil dan wanita usia subur tahun 2019 sebesar 17,9% (Kemenkes RI, 2019). Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan angka kejadian ibu hamil dan wanita usia subur dengan KEK di Indonesia. Pengabdian masyarakat ini mengaplikasikan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh pengusul tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kekurangan energi kronis pada ibu hamil dan kehamilan usia dini. Hasil dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa faktor ibu, seperti berat badan ibu, usia, pendidikan, pengetahuan tentang gizi dan kehamilan berhubungan dengan kejadian KEK. Diperlukannya edukasi pada wanita usia subur terutama dalam meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya gizi sebelum dan saat kehamilan yang dapat memutus mata rantai kejadian KEK. Diharapkan wanita usia subur menjadi agen pencegah kejadian KEK

    Effect of Stabilization of Storage Temperature on PH Levels in Expressed Breast Milk from Working Mothers in Campus I, Health Polytechnic, Ministry of Health, Semarang

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suhu penyimpanan terhadap kadar pH ASI sebagai indikator kualitasnya. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimen dengan variabel independen berupa suhu penyimpanan dan variabel dependen berupa kadar pH ASI. Metodeologi yang digunakan adalah pengukuran suhu penyimpanan ASI dalam dua kondisi: ASI yang di simpan pada suhu stabil pada 2-5 °C selama 6 jam, dan pada 2-4 °C selama 10 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua kondisi ini terdapat penurunan kadar pH ASI sebesar 0,13%. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata yang signifikan antara kedua kondisi ini (p = 0,739), menunjukkan bahwa suhu penyimpanan 2-5 °C selama 6 jam dan 2-4 °C selama 10 jam memiliki efek yang serupa terhadap kadar pH ASI. Perbandingan dengan metode lain, seperti penggunaan cooler bag dengan es gel, menunjukkan perbedaan yang signifikan. Cooler bag dengan es gel menghasilkan suhu yang lebih tinggi 4-9 °C setelah 6 jam, dan 13-16 °C setelah 10 jam serta penurunan kadar pH ASI yang lebih besar 2% setelah 6 jam, dan 3,47% setelah 10 jam (Vidianti, 2018; Yundelfa et al., 2018) dengan nilai p yang signifikan (p = 0,000). Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa suhu penyimpanan stabil pada 2-5 °C secara efektif mempertahankan kadar pH ASI, yang merupakan indikasi penting untuk menjaga kualitas ASI. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah untuk memberikan pemahaman kepada ibu menyusui mengenai pentingnya suhu penyimpanan yang tepat untuk meminimalkan perubahan kualitas ASI. Kebijakan untuk mendukung penyediaan fasilitas penyimpanan ASI yang memadai di tempat kerja juga dapat membantu mempertahankan praktik pemberian ASI eksklusif di tengah tantangan perubahan sosial seperti meningkatnya jumlah wanita yang bekerja.Ringkasan: Latar Belakang: Peningkatan jumlah ibu bekerja menuntut strategi penyimpanan ASI perah yang optimal untuk mempertahankan kualitas nutrisi bagi bayi. Suhu dan durasi penyimpanan menjadi faktor kritis yang mempengaruhi stabilitas pH sebagai indikator kualitas ASI. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas stabilisasi suhu penyimpanan terhadap perubahan kadar pH ASI perah selama 10 jam. Metode: Penelitian quasi-eksperimen pada 34 sampel ASI dengan desain pre-post test control group. Kelompok intervensi menggunakan cooler bag termoelektrik (2-5°C), kelompok kontrol menggunakan cooler bag es gel. Pengukuran pH dilakukan menggunakan pH meter digital pada jam ke-0, 6, dan 10. Hasil: Penyimpanan dengan cooler bag termoelektrik menunjukkan penurunan pH minimal (0,13%) tanpa perbedaan signifikan antar waktu pengukuran (p=0,739). Sebaliknya, cooler bag es gel mengalami penurunan pH signifikan hingga 3,47% (p=0,000). Simpulan: Stabilisasi suhu 2-5°C efektif mempertahankan kualitas pH ASI. Saran: Diperlukan penyediaan fasilitas penyimpanan bersuhu stabil di tempat kerja untuk mendukung program ASI eksklusif

    Analisis Determinan Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Pada Remaja Putri

    No full text
    Ringkasan: Latar belakang: Kanker payudara merupakan penyakit keganasan paling umum pada wanita dan deteksi dini melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di kalangan remaja masih rendah. Tujuan: Menentukan faktor determinan pengetahuan, keterpaparan informasi, dan dukungan keluarga yang berhubungan dengan perilaku SADARI pada siswi SMAN 1 Kutalimbaru. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 88 siswi terpilih melalui stratified random sampling. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner terstandar dan dianalisis univariat serta uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Tiga determinan berhubungan positif signifikan dengan perilaku SADARI: pengetahuan (r=0,290; p=0,006), keterpaparan informasi (r=0,382; p<0,001), dan dukungan keluarga (r=0,465; p<0,001). Simpulan: Pengetahuan, informasi, dan dukungan keluarga berperan penting dalam peningkatan perilaku SADARI remaja putri. Saran: Perkuat edukasi ibu sebagai agen pendukung utama dan tingkatkan penyebaran informasi melalui media elektronik di sekolah untuk meningkatkan pengetahuan dan praktik SADARI.Kanker payudara menjadi kanker terbanyak yang diderita oleh wanita, Riset Penyakit Tidak Menular mengatakan jika perilaku masyarakat dalam deteksi dini kanker payudara masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan yang berhubungan dengan perilaku SADARI pada siswi di SMAN 1 Kutalimbaru. Metode yang digunakan yakni kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian diambil menggunakan metode stratified random sampling hingga diperoleh sebanyak 88 sampel. Sumber data penelitian menggunakan data primer yang diperoleh secara langsung melalui pengisian kuesioner. Data di analisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikan sebesar <0,05 sehingga adanya hubungan. Besarnya hubungan dilihat dari nilai koefisien korelasi untuk pengetahuan sebesar 0,290, untuk ketepaparan informasi sebesar sebesar 0,382 dan dukungan keluarga sebesar 0,465. Nilai koefisien korelasi yang bernilai positif ini menunjukkan adanya hubungan yang searah semakin tinggi pengetahuan, ketepaparan informasi serta dukungan keluarga yang dimiliki remaja maka akan semakin baik perilaku SADARI. Determinan yang berhubungan dengan perilaku SADARI remaja putri yaitu pengetahuan, ketepaparan informasi, dan dukungan keluarga. Saran yang dapat diberikan yakni dengan memberikan edukasi terhadap para ibu tentang perilaku SADARI sehingga dengan meningkatnya pengetahuan ibu ini diharapkan seorang ibu dapat memberikan dukungan kepada putrinya yang mana hal ini akan sejalan dengan meningkatnya perilaku SADARI

    138

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇