Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sulawesi Barat
Not a member yet
68 research outputs found
Sort by
PENGELOMPOKKAN PARTISIPASI PENDIDIKAN MENGGUNAKAN METODE SELF ORGANIZING MAPS
Pengelompokkan partisipasi pendidikan pada suatu wilayah dapat dilakukan dengan menggunakan 2(dua) parameter partisipasi pendidikan, yaitu angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM). Data paramater partisipasi pendidikan tahun 2016-2018 digunakan sebagai data training dengan 64 data dan tahun 2019 digunakan sebagai data uji dengan 16 data berdasarkan kecamatan pada kabupaten polewali mandar. Pada tahap preprocessing dilakukan proses normalisasi data dengan metode min - max Normalization yang bertujuan untuk membatasi nilai variabel berada pada range 0-1, sehingga tidak terdapat variabel yang dominan, dan tahapan selanjutnya dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode Algoritman SOM. Dibangun Aplikasi komputer untuk mengimplementasikan metode Algoritma SOM dengan menggunakan bahasa pemrograman matlab. Hasil pengujian menunjukkan kelas yang peroleh tidak sesuai dengan kelasnya terdapat 3 kecamatan dan tingkat keakuratan yang dihasilkan 81,25%, Akurasi yang diperoleh ditentukan model data training dan banyaknya jumlah data training. Dengan tingkat keakuratan yang diperoleh maka Algoritma SOM dapat direkomendasikan sebagai teknik dalam melakukan pengelompokkan. 
ANALISIS POTENSI WILAYAH KOMODITAS UNGGULAN SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN MAMUJU
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi komoditas unggulan sektor pertanian dan penyebaran komoditas unggulan di setiap kecamatan yang ada di kabupaten mamuju. Penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi dan mendokumentasikan kegiatan pembangunan bidang pertanian. Data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data tentang dokumentasi kinerja bidang pertanian di Kabupaten Mamuju. Metode analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk mengetahui potensi komoditas unggulan sektor pertanian. Analisis koefisien lokalita digunakan untuk mengetahui karakteristik penyebaran komoditas sektor pertanian di kabupaten mamuju. Berdasarkan hasil Analisis Koefisien Lokalita secara keseluruhan diketahui tidak ada yang mencapai nilai diatas satu. Hal ini menunjukkan bahwa semua komoditas–komoditas dari sub sektor pada sektor pertanian tersebar disemua kecamatan dan tidak ada terkonsentrasi di satu kecamatan
DISEMINASI PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA KAKAO RAMAH LINGKUNGAN UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KAKAO DI SULAWESI BARAT
Sulawesi Barat merupakan salah satu daerah penghasil kakao tertinggi di Indonesia. Biji kakao merupakan salah satu komoditas ekspor andalan hasil pertanian yang besar dan salah satu komoditas penyumbang tersbesar terhadap Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sulawesi Barat. Pelaksanaan pengakajian penerapan teknologi budidaya kakao ramah lingkungan untuk peningkatan produktivitas kakao di Sulawesi Barat dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2020. Hasil Kajian yang diperoleh yaitu Jumlah anggota kelompok tani yang terlibat dalam kegiatan sebanyak 10 (Orang). Tingkat pendidikan rata-rata dari TTS – SMA dengan umur rata-rata 36,8 tahu. Lahan kakao anggota kelompok seluas 13,5 ha dengan rata-rata kepemilikan 1,35 ha setiap anggota. Pengelolaan kakao oleh anggota kelompok tani telah memproduksi atau menghasilkan biji kering kakao sebesar 12.165 kg dengan tingkat nilai penerimaan sebesar Rp.364.950.000,- sedangkan pengelolaan ternak kambing oleh anggota kelompok tani telah memproduksi atau menghasilkan sebanyak 11 ekor dengan tingkat penerimaan dari hasil penjualan ternak sebesar Rp. 15.900.000,-. Pengelolaan beberapa industri dalam kegiatan termasuk pengolahan limbah ternak dan beberapa sumberdaya disekitar lahan telah menghasilkan beberapa produk antara lain pupuk organik telah diproduksi sebanyak 42.480 kg, dan telah digunakan sebanyak 15.180 kg, dan yang telah dijual sebanyak 22.900 kg dengan nilai penerimaan sebesar Rp.22.900.000,-. Sedangkan Urine telah diproduksi sebanyak 6.788liter dan yang sudah digunakan sebanyak 1.812 liter. Nilai penerimaan kotor anggota kelompok tani mandiri sebesar Rp.1403.750.000,- dengan rata-rata penerimaan setiap anggota Rp. 40.375.000,
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN DAN KERAGAAN PRODUKTIVITAS JAGUNG VUB BALITBANGTAN DI KABUPATEN MAMUJU SULAWESI BARAT
Analisis kesesuaian lahan dan keragaan produktivitas jagung varietas unggul baru Balitbangtan dilaksanakan di desa Guliling, kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Luas lahan kajian yang digunakan seluas 3 ha milik petani. Inovasi teknologi budidaya jagung dlakukan dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu, meliputi penggunaan VUB hibrida Balitbangtan, yaitu Nasa 29, JH 37 dan JH 45, sistem tanam double row dengan jarak tanam (100 - 40 cm) x 20 cm (1 tanaman/lubang), pupuk berimbang Urea 250 kg dan NPK Phonska 300 kg/ha, pengendalian OPT secara terpadu. Hasil kajian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan yang dihasilkan Balitbangtan tahun 2016, kesesuaian lahan untuk tanaman jagung di lokasi kajian, yaitu di kecamatan Kalukku, kabupaten Mamuju tergolong sesuai marjinal (S3) dengan faktor pembatas retensi hara (nr), ketersediaan hara (na), ketersediaan air (wa), dan media perakaran (rc). Luas lahan yang sesuai marjinal (S3) untuk tanaman jagung seluas 46.778 ha, terdiri atas kelas S3-nr/na/wa seluas 5.582 ha, S3-rc/wa seluas 3.463 ha, dan S3-wa seluas 37.733 ha. Hasil jagung varietas unggul baru Balitbangtan yang dicapai rata-rata dengan penerapan inovasi teknologi sebesar 9,43 t/ha, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata hasil jagung di Sulawesi Barat dan Kabupaten Mamuju. Penggunaan varietas unggul baru hibrida dengan sistem tanam double row dan pemupukan secara berimbang mampu meningkatkan hasil jagung dibandingkan dengan cara konvensional
ANALISIS PENDAPATAN USAHA PENGGILINGAN PADI DI KECAMATAN KARERA, KABUPATEN SUMBA TIMUR
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pendapatan usaha penggilingan padi di kecamatan Karera. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja dengan metode Purposive Sampling dengan pertimbangan bahwa kecamatan tersebut melakukan usaha penggilingan padi. Jumlah responden sebanyak 20 orang pengusaha penggilingan padi. Data yang digunakan data primer adalah data yang diperoleh pada objek hasil samping berupa dedak pada usaha penggilingan padi. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif untuk mengetahui besarnya pendapatan yang diperoleh responden dari usaha penggilingan padi di kecamatan Karera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima usaha penggilingan padi dari penjualan hasil samping dedak rata-rata sebesar Rp. 14.158.000/ responden/tahun. Usaha penggilingan padi di kecamatan Karera masuk kriteria layak untuk diusahakan dengan nilai R/C rasio sebesar 4,29
ANALISIS PEMASARAN CABAI RAWIT MERAH DI PASAR TERDISIONAL DI DESA TARAILU KECAMATAN SAMPAGA KABUPATEN MAMUJU
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efisiensi pemasaran cabai rawit merah di pasar tradisional Desa Tarailu, Kabupaten Mamuju. Kegunaan dari penelitian ini adalah Adanya upaya untuk peningkatan pendapatan usaha tani cabai rawit khususnya petani. Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu 7 orang pedagang Perantara, 1 orang pedagang Pengumpul dan, 5 orang pedagang pengecer. Jumlah sampel petani pada lokasi penelitian bersifat relative, tergantung pada heterogenitas populasi. Data dari lembaga pemasaran dalam hal ini pedagang perantara merupakan informasi awal yang digunakan sebagai patokan untuk menelusuri petani cabe rawit merah yang terlibat dalam pemasaran. Hasil penelitian bahwa keuntungan yang diterima petani cabe rawit merah di pasar tradisional Tarailu dari saluran pemasaran I adalah sebesar Rp.8.400,-/Kg atau share margin 33,6%, dengan penjualan langsung kepada pedagang pengepul sebesar Rp.17.000/Kg. Sementara keuntungan pada saluran pemasaran II sebesar Rp.6.400/Kg dengan share margin 27,33% yang dijual pada pedagang Perantara dengan harga Rp.15.000,-/Kg. Rendahnya harga tersebut disebabkan karena petani terlebih dahulu mengambil sarana produksi seperti pupuk dan uang untuk keperluan rumah tangga petani. Dari hasil perhitungan saluran pemasaran I lebih efisien dibanding Saluran pemasaran II ini dapat dilihat bahwa nilai Ec untuk Saluran Pemasaran I sebesar 4,4% sedangkan saluran pemasaran II nilai 3,7%
THE EFFECT OF FISCAL DECENTRALIZATION, CAPITAL EXPENDITURE, TOTAL POPULATION, AND AVERAGE LENGTH OF SCHOOL TO THE GDP GROWTH OF WEST SULAWESI PROVINCE 2006 ̶ 2013
The empirical studies that have been done show that fiscal decentralization can bring a positive or negative impact as well as some research to get the result that there is no relationship between fiscal decentralization on economic growth. Fiscal decentralization role in stimulating economic growth has been a concern of many countries, include in Indonesia. Since 2001, effectively the Indonesian government has run large fiscal decentralization policy as a strategy to accelerate regional development. This study aims to examine the effect of fiscal decentralization on GRDP growth in West Sulawesi Province. The standard of the fiscal decentralization used in the analysis is expenditure indicator. The impact of the fiscal decentralization on GRDP growth will be viewed together with other variables that are have function as determinant factors to economic growth, in this case it called the control variables, such as; population, capital expenditure, and the accumulation of human capital represented by average length of school. The autor use data panel from 5 distrcts in West Sulawesi Province which cover the years period (2006 – 2013). Analysis performed by multiple regression analysis model by using fixed effect estimation model. The analysis show that indicators of fiscal desentralization does not have significant impact on GRDP growth in West Sulawesi Province. The Capital Expenditure variable, population and average length of school have positive and significant impact on GRDP growth districts in West Sulawesi Province
KERAGAAN HASIL BEBERAPA VARIETAS PADI SAWAH PADA DATARAN TINGGI DI KABUPATEN MAMASA DENGAN PEMBERIAN BAHAN AMELIORAN
Kajian dilakukan di kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa pada lahan sawah dataran tinggi pada tahun 2017. Tujuan kajian adalah mengetahui keragaan hasil beberapa varietas padi sawah yang diberi perlakuan bahan amelioran dalam mengatasi pH tanah. Varietas yang digunakan adalah IPB 3S, Inpari 30, Cigeulis, dan varietas pembanding adalah varietas eksisting (Kuda). Hasil kajian adaptasi dari beberapa varietas unggul padi sawah di dataran tinggi Kabupaten Mamasa menunjukkan bahwa penanaman varietas unggul/lokal dengan penerapan inovasi teknologi PTT dan penambahan bahan amelioran kapur dolomit atau procals mampu meningkatkan produktivitas padi sawah varietas unggul dan lokal sebesar 0,8 t – 1,0 t/ha atau meningkat sebesar 13% - 20 %. Varietas yang memberikan hasil tertinggi (konversi hasil ubinan 2 m x 2,5 m) adalah IPB 3S (7,00 t GKG/ha), menyusul Inpari 30 Ciherang Sub-1 (6,80 t GKG/ha) dan Cigeulis (6,60 t GKG/ha), sedangkan varietas pembanding lokal Kuda sebesar 6,00 t GKG/ha
KAJIAN ANALISIS PENDAPATAN KERIPIK PISANG KELOMPOK WANITA TANI MUTIARA MAMUJU TENGAH
Propinsi Sulawesi Barat memiliki potensi dalam menghasilkan buah pisang , ketersediaan buah pisang dalam jumlah banyak dan keragaman varietas yang luas sehingga dapat membantu mengatasi kerawanan pangan. Pisang dapat digunakan sebagai alternatif pangan pokok karena mangandung karbohidrat yang tinggi, sehingga dapat menggantikan sebagian konsumsi beras dan terigu. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan keripik pisang KWT Mutiara Mamuju Tengah Pengkajian dilaksanakan di Kabupaten mamuju tengahdengan melibatkan petani kooperator sebanyak 20 orang.Penelitian pengolahan dan pengemasan pisang dilakukan di Kabupaten Mamuju Tengah terhadap rumah tangga petani Pisang untuk mengetahui beberapa Nilai Tambah hasil olahan produk pisang sebagai salah sumber pangan alternatif. Sebanyak 20 petani koperat, Berdasarkan hasil kajian pengolahan keripik pisang memberikan keuntungan yang diterima adalah sebesar Rp 5.313.500 per dua puluh tiga proses produksi selama satu bulan, nilai tambah yang dinikmati pemilik dari pengolahan pisang sebesar Rp 2.404/kg bahan baku yang dimanfaatkan, Nilai tambah ini merupakan keuntungan yang didapatkan oleh Pengeolahan keripik pisang dalam 1 kilogram penggunaan bahan baku, dengan adanya pengolahan pisang menjadi keripik pisang memberikan keuntungan tersendiri bagi petani pisang dimana petani dapat menjual pisang secara borongan kepada industri keripik pisang, Hasil Kajian menunjukkan bahwa teknologi Pengolahan Pisang yang telah mereka gunakan dapat membantu mereka dalam proses produksi, dimana selain mempercepat proses produksi, teknologi ini juga mampu untuk meningkatkan kapasistas produksi mereka, meningkatkan kualitas produk yang mereka hasilkan, serta mampu untuk menghemat tenaga kerja yang mereka butuhkan. Hal ini akan sangat membantu dalam pengembangan usaha mereka
PEMBANGUNAN KELUARGA MELALUI PEMAHAMAN DAN PRAKTEK DELAPAN FUNGSI KELUARGA DI PROVINSI SULAWESI BARAT
Penelitian ini merupakan survei bersakala nasional yang dirancang untuk menghasilkan data representatif provinsi dan nasional. Pengumpulan data dilakukan bekerjasama antara Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Barat dengan Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju. Kerangka sampel menggunakan pendekatan klaster sebagai enumeration area dengan rancangan sampling stratified multistage samplig. Selanjutnya melakukan listing dan mengambil 35 rumah tangga secara random dengan teknik SRS (Sistematis random sampling) disetiap klaster yang terpilih dengan total 46 klaster yang ditentukan oleh BPS yang tersebar di 6 kabupaten/kota di provinsi sulawesi Barat. Pembangunan keluarga ditujukan untuk meningkatkan kualitas keluarga sehingga tercipta keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Besarnya peranan keluarga sebenarnya dapat dilihat dari apa saja fungsi keluarga tersebut. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) membagi fungsi keluarga menjadi delapan fungsi, yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan pembinaan lingkungan. Delapan fungsi tersebut diharapkan menjadi pedoman kehidupan keluarga-keluarga Indonesia. Selain itu menjadi prasyarat, acuan, dan pola hidup setiap keluarga dalam rangka terwujudnya keluarga sejahtera dan berkualitas. Oleh karenanya menarik untuk dikaji topik tentang pembangunan keluarga melalui pemahaman dan kesadaran keluarga di Provinsi Sulawesi Barat dalam menerapkan delapan fungsi keluarga. Hasilnya Secara umum keluarga di Provinsi Sulawesi Barat tidak pernah mendengar/mengetahui delapan fungsi keluarga (76,4%), namun ketika di probing setiap indikator fungsi keluarga pada dasarnya keluarga Provinsi Sulawesi Barat sudah menerapkannya.