Dialog (E-Journal)
Not a member yet
283 research outputs found
Sort by
MAKNA TRADISI ZIARAH DAN RITUAL MUBENG BETENG DI MAKAM RAJA-RAJA IMOGIRI, YOGYAKARTA
Tulisan ini membahas tentang tradisi yang terdapat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepatnya di Makam raja-raja Mataram yang terletak di Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Tradisi tersebut adalah ziarah makam. Ziarah ini dilakukan tidak seperti ziarah makam pada umumnya yang dilaksanakan pada waktu-waktu khusus seperti pada malam 1 syura, jum\u27at kliwon, dan selasa kliwon. Selain berziarah ada hal yang menarik, yaitu masyarakat melakukan ritual “mubeng betengâ€. Ritual ini dilakukan dengan mengelilingi pagar benteng dari makam raja-raja Mataram. Pelaksanaan ritual tersebut merupakan simbol-simbol keagamaan yang menarik dilihat untuk mengetahui apa makna dari tindakan dalam ritual mubeng beteng tersebut
Sejarah Advokasi Pluralisme Agama: Studi Kasus Advokasi Agama Leluhur di Indonesia
November 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi para penghayat agama leluhur atas pasal 61 ayat 1 dan pasal 64 ayat 1 Undang-Undang Administrasi dan Kependudukan (Adminduk) 2013. Putusan MK di atas merupakan tonggak penting advokasi pluralisme agama di Indonesia. Bagaimana rute dan jalan advokasi terhadap ragam agama, dalam konteks ini penghayat agama leluhur dalam sejarahnya? Menggunakan metode penelitian kualitatif, tulisan ini mengajukan argumen bahwa penghayat kepercayaan sejak kemerdekaan telah terbiasa mengadvokasi diri sendiri untuk memperjuangkan nasib komunitasnya di hadapan berbagai rezim. Peran aktivis LSM dan akademisi lebih sebagai sistem pendukung atas keputusan komunitas penghayat agama leluhur dalam menghadapi perubahan struktur politik dan politik agama sejak kemerdekaan hingga era reformasi
Post-Theistic Negotiation Between Religion And Local Customs: Roles Of Indigenous Local Faiths In Lombok Island: Study Of Epistemology And Sociology Of Knowledge: Negosiasi Post-Theistik Penghayat Kepercayaan Lokal Dalam Mendialogkan Agama Dan Adat di Pulau Lombok: Studi Epistemologi dan Sosiologi Pengetahuan
This article describes post-theistic negotiation conducted by the followers of indigenous local faith in Lombok Island. This study is a qualitative research method based on epistemological and sociological perspectives. This research found: first the epistemological structure developed by indigenous religion\u27s followers is constructed in the frame of established epistemological cycles; second, social reality construct within Lombok community is dynamic supported by local belief, intellectual maturity, intellectual maturity, and social awareness. Third, religion and local customs have compatible relations. Post-theistic negotiation is seen as a means to boast inter- faith dialogue.
Tulisan ini membahas tentang negosiasi post-theistik penghayat kepercayaan lokal dalam mendialogkan agama dan adat di Pulau Lombok. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, melalui analisis epistemologi dan sosiologi pengetahuan, penelitian berkesimpulan: Pertama, formasi epistemologi yang dikembangkan para penghayat kepercayaan lokal menujukkan model persinggungan epistemologis yang menunjukkan kemapanan dalam tiap-tiap lingkaran epistemologis. Kedua, konstruksi realitas sosial yang mengelilingi individu maupun komunitas masyarakat Lombok bergerak dalam lingkaran sosial yang dinamis dimana warisan kepercayaan lokal, kemapanan intelektual, kepekaan sosial telah memberikan warna pada bangunan sosial mereka saat ini. Ketiga, agama dan adat tidak boleh dipertentangkan tanpa melalui proses intelektual dan sosial yang panjang. Negosiasi post-theistik adalah mekanisme penting yang layak digunakan dalam dialog antar keyakinan secara khusus dan dialog agama-agama secara umum guna menuju suatu tatanan masyarakat dialog yang mapan
Millennial Generation\u27s Views On The Myth Of “Jilu Marriage†In Nganjuk East Java: Pandangan Generasi Milenial Terhadap Mitos Pernikahan “Jilu†Di Nganjuk Jawa Timur
One of Indonesia\u27s attractive cultures is available in the Javanese culture, especially in marriage tradition. Javanese marriage has been practiced in the forms of ritual or traditional ceremonies one of which is Jilu marriage. Jilu marriage is a customary law that prohibits a marriage between the fisrt child and the third child. Javanese people believe that the transgression of this law may bring about misfortune. This study explores how millennial generations view this tradition This research was conducted by using qualitative and quantitative approaches. Methods of collecting data include interview, literature review, and questionnaire. Quantitative data relies upon the statistic method while qualitative data is analyzed by reducing, exposing, and making conclusion. The study found that the mythology of Jilu marriage derives from Javanese ancestors\u27 beliefs that regard number 3 as sacred number. Interestingly, millennials views of this can be categorized into three groups: those who believe, those who do not take it into consideration, and those who are neutral.
Salah satu budaya di Indonesia yang menarik untuk dikaji adalah budaya Jawa. Salah satunya terletak pada bidang pernikahan. Dalam melaksanakan pernikahan ada serangkaian ritual atau upacara adat yang harus dilaksanakan. Salah satu aturannya adalah dilarang melakukan pernikahan Jilu, yakni menikahkan anak nomor satu dengan anak nomor tiga karena dipercaya akan mendatangkan malapetaka. Pada era modern masyarakat Jawa masih ada yang percaya terhadap tradisi tersebut dan ada juga yang sudah meninggalkan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang mitos pernikahan Jilu dan pendapat generasi milenial tentang mitos tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, studi pustaka, dan kuesioner. Data kuantitatif yang ada dianalis dan disajikan dengan model statistika (diagram batang dan lingkaran) dan dilakukan penarikan kesimpulan, sedangkan data kualitatif dianalisis dengan cara mereduksi serta memaparkan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan mitos pernikahan Jilu berasal dari kepercayaan nenek moyang suku Jawa yang mengkeramatkan angka 3 dan dampaknya sering terjadi karena menjadi guneman masyarakat. Generasi milenial di Nganjuk ada yang percaya dengan tradisi Jilu, ada yang tidak percaya, dan ada yang bersikap netral
PENYUSUNAN MATERI PEMBELAJARAN QAWAID NAHWIYAH DALAM KITAB AL-JURUMIYAH
Bahasa Arab tanpa ilmu nahwu tidak dapat dimengerti. Kitab Jurumiyah, merupakan satu kitab rujukan dalam pembelajaran qawaid (tata bahasa Arab) yang biasa digunakan pesantren. Semua santri diharuskan mempelajari gramatika bahasa Arab sebagai dasar kemampuan bagi mereka dalam membaca kitab-kitab kuning yang menjadi rujukan dalam pembelajaran di pesantren. Fokus penelitian ini berkenaan dengan penyusunan materi pembelajaran qawaid dalam kitab Jurumyiah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripisikan susunan materi pembelajaran qawaid nahwiyah dalam kitab al-Jurumiyah yang ditulis oleh Ibnu Jurum atau dikenal Ash-Shanhaji. Penelitian ini adalah penelitian kualitataif deskriptif dengan menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukan bahwa kitab Jurumiyah termasuk dalam kelompok jenis materi yang bersifat konseptual. Penyusunan materinya telah sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan materi dan adaptable dengan perubahan paradigma pembelajaran yang menekankan pada keaktipan siswa (santri) yang mempelajarinya
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN KHONGHUCU DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
Artikel ini memaparkan bagaimana penyelenggaraan pendidikan keagamaan Khonghucu di kepulauan Bangka Belitung dilihat dari siswa, guru, dan kurikulum. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi ke beberapa lokasi yang diduga terdapat program sekolah minggu Khonghucu, wawancara baik individu maupun kelompok dilakukan kepada penyelenggara Sekolah Minggu Khonghucu, guru, siswa, Kabag TU Kanwil, Matakin, Makin, tokoh masyarakat Khonghucu dan masyarakat Khonghucu, dan pengumpulan data melalui dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan Khonghucu di Babel adalah kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di Xuetang dan Litang. Pelaksanaan pendidikan di kedua tempat tersebut dinamakan oleh mereka sebagai Sekolah Minggu Khonghucu. Sekolah Minggu Khonghucu dikelola oleh umat dan organisasi Makin dan Matakin. Sekolah Minggu Khonghucu dikelola secara terbatas dari sisi ketersediaan, kuafikasi, dan status guru dan kurikulum. Belum ada pedoman penyelenggaraan Sekolah Minggu Khonghucu baik dari Matakin maupun Kementerian Agama. Kepada Pusat Bimas dan Pendidikan Khonghucu untuk menyediakan guru agama Khonghucu baik di sekolah formal maupun pendidikan keagamaan Khonghucu. Selain itu, diperlukan penyiapan draft PMA tentang pendidikan keagamaan khonghucu dan Standar pelayanan pendidikan keagamaan Khonghucu
PENGARUH SELF ESTEEM, OPTIMISME DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING GURU HONORER SDN KABUPATEN SERANG
Psychological well-being adalah keadaan dimana individu mampu menerima keadaan dirinya secara positif, baik keadaan yang sedang dijalaninya saat ini maupun pengalaman hidupnya termasuk pengalaman yang dianggapnya tidak menyenangkan dan menerima semua itu sebagai bagian dari dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk untuk melihat apakah self esteem, optimisme dan social support secara bersama-sama mempengaruhi psychological well-being guru honorer SDN Kabupaten Serang. Populasi penelitian ini adalah 221 guru honorer SDN Kabupaten Serang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 210 guru honorer. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tekhnik purposive sampling. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif. Validitas alat ukur dalam penelitian ini diuji dengan Confirmatory Factor Analysis (CFA). Analisis data menggunakan multiple regression analysis (regresi berganda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa self esteem, optimisme dan social support secara bersama-sama mempengaruhi psychological well-being. Variabel self esteem dan optimisme berpengaruh signifikan terhadap psychological well-being. Sedangkan variabel dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan informasi, dukungan kelompok, tidak terbukti secara statistik berpengaruh terhadap psychological well-being. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memilih populasi di suatu tempat atau beberapa area saja agar lebih terarah
NILAI MAQASID AL SYARIAH DALAM PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA: NILAI MAQASID AL SYARIAH DALAM PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
ABSTRAK
Latar belakang penelitian ini adalah bahwa ada pihak yang berusaha memembenturkan pancasila dengan ajaran Islam. Mereka menganggap Indonesia dengan menjadikan pancasila sebagai dasar negara adalah sesat. Doktrin seperti itu sudah merambah pada institusi institusi negara yang telah terpapar dengan doktrin tersebut tidak terkecuali pada institusi pendidikan milik negara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan. Sumber referensi diperoleh dari artikel dalam suatu jurnal ilmiah, buku dan referensi terkait dengan topik yang diangkat. Teknik analisis data penggunakan pendekatan reflektif terhadap nilai-nilai maqasid al syariah yang terkandung dalam Pancasila. Kesimpulan penelitian ini yaitu usaha untuk membenturkan pancasila dengan Islam adalah sesuatu yang sia sia karena secara kontektual antara Islam dan pancasila tidak saling bertentangan dan justru dengan melaksanakan pancasila sama halnya dengan mengamalkan ajaran Islam. Pancasila pada dasarnya merupakan implementasi dari nilai nilai Maqasid Al Syariah yang merupakan inti ajaran Islam. Sila sila dalam pancasila yaitu: 1) Ketuhanan Yang Maha Esa, 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, 3) Persatuan Indonesia, 4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, 5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. merupakan implementasi dari nilai maqasid al syariah dari Maslahat kulliyah, Maslahat al-juz\u27iyyah al-khashshah dan maqasid al syariah dharuriyyat.
Kata Kunci: Maqasid Al Syariah, Pancasila, Dasar Negara.
ABSTRACT
The background of this research is that there are those who try to bang Pancasila with Islamic teachings. They consider Indonesia by making Pancasila as the basis of the state is misguided. Such a doctrine has penetrated the state institutions which have been exposed to the doctrine, including state-owned educational institutions. This research uses a qualitative approach. The data collection method uses library research. Reference sources were obtained from articles in a scientific journal, books and references related to the topics raised. The data analysis technique uses a reflective approach to the values ​​of maqasid al sharia contained in Pancasila. The conclusion of this research is that the effort to clash Pancasila with Islam is something that is futile because contextually between Islam and Pancasila is not in conflict with each other and precisely by implementing Pancasila as well as practicing Islamic teachings. Pancasila is basically an implementation of the values ​​of Maqasid Al Sharia which is the core of Islamic teachings. Precepts in Pancasila, namely: 1) Godhead, 2) Fair and Civilized Humanity, 3) Indonesian Unity, 4) Democracy Led by Wisdom in Consultation / Representation, 5) Social Justice for All Indonesian People. is an implementation of the value of maqasid al syariah from Maslahat kulliyah, Maslahat al-juz\u27iyyah al-khashshah and maqasid al syariah dharuriyyat.
Keywords: Maqasid Al Syariah, Pancasila, State Basis.
 
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TOLERANSI DI INDONESIA
Artikel ini mendiskusikan dua rumusan masalah yaitu bagaimana pemetaan kajian pendidikan toleransi di Indonesia, dan bagaimana implementasinya. Artikel ini mempermudah peneliti selanjutnya dalam menentukan tema penelitiannya terhadap pendidikan toleransi. Kajian dilakukan melalui pendekatan literature review secara sistematik. Pencarian data dilakukan melalui google scholar. Untuk mempersempit pencarian, maka dilakukan pembatasan dengan beberapa strategi yaitu; kata kunci “pendidikan toleransiâ€, in title (semua kata kunci tercakup pada judul), dan tahun terbitan (2015-2020). Penulis menyimpulkan bahwa: 1) berdasarkan pemetaan (maping) terhadap kajian terdahulu, terdapat sejumlah gap yang perlu dikaji oleh peneliti selanjutnya; 2) implementasi pendidikan toleransi dapat dikategorisasikan berdasarkan lokasi implementasinya, yaitu sekolah, pesantren, komunitas pemuda, dan keluarga. Tempat yang paling sering dijadikan lokasi penelitian pendidikan toleransi adalah sekolah dan pesantren, sedangkan tempat penelitian yang jarang dijadikan tempat penelitian pendidikan toleransi adalah komunitas dan keluarga
The IMPLEMENTATION OF LITERACY TREE PROGRAM THROUGH DICE ROLLING METHOD AND COLLABORATIVE LEARNING TO ENHANCE STUDENTS\u27 LITERACY COMPETENCE AT MIN I KOTA TASIKMALAYA (ENHANCING STUDENTS\u27 LITERACY COMPETENCE): A CASE STUDY OF IMPLEMENTING LITERACY TREE PROGRAM THROUGH DICE ROLLING METHOD AND COLLABORATIVE LEARNING AT MIN I KOTA TASIKMALAYA
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi peserta didik dengan membuat program pohon literasi kelas dan menumbuhkan sikap disiplin, bertanggungjawab, kerja keras dan kerjasama dengan menerapkan metode lempar dadu dan pembelajaran kolaborasi. Dalam hal ini peneliti melakukan pendalaman pembelajaran literasi dalam materi tematik tentang membaca cerita, dimana siswa akan aktif belajar dan menjadi peran utama dalam proses pembelajaran. Selanjutnya siswa membuat resume singkat dari cerita yang mereka baca menggunakan media pohon literasi. Metode yang digunakan peneliti adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan kualitatif deskriptif yaitu memberikan soal yang berkaitan dengan cerita melalui dua siklus pembelajaran. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pemahaman siswa semakin meningkat dengan rata-rata nilai siklus pertama yaitu 54,93 dan peningkatan signifikan terjadi pada rata-rata nilai siklus kedua yaitu 82,03. Dari data yang diperoleh tersebut dapat dilihat adanya peningkatan hasil belajar dari dua siklus. Dengan demikian model pembelajaran yang digunakan dalam materi tematik sangat bermanfaat untuk meningkatkan hasil belajar dan pemahaman siswa agar proses pembelajaran menjadi lebih baik lagi.
This study aims at improving students\u27 literacy competence by implementing literacy tree program through dice rolling method and collaborative learning, which are expected to promote discipline, responsibility, hard work and teamwork among students. The author went through deep research of literacy learning in thematic lesson related to story reading in which students will be engaged, participate actively, and play the main role during teaching-learning activities. Then afterwards they created short resume of the story using literacy tree media. The method used in this classroom action research (CAR) is qualitative-descriptive, by which the author conducted two learning cycles. The improvement of the average scores was recorded from 54,93 in the first cycle and significantly improved to 82,03 in the second cycle. Regarding the results obtained after two cycles, it is obviously seen the improvement of the average scores as the whole class. Thus, this method used by the author is beneficial to help improve students\u27 reading comprehension, undergo better learning experience and achieve better learning outcomes