RADIAL (E-Journal)
Not a member yet
331 research outputs found
Sort by
NILAI KUAT TEKAN BETON PADA SLUMP BETON TERTENTU
ABSTRAK
Beton adalah bahan yang diperoleh dari mencampur semen, pasir, agregat kasar atau batu pecah, air, yang mengeras menjadi benda padat. Perencanaan campuran beton (mix design) adalah suatu langkah yang sangat penting dalam pengendalian mutu beton. campuran yang salah akan mempengaruhi kemudahan pelaksanaan maupun performa beton dalam pemakaian. Kemudahan pekerjaan beton biasanya dipengaruhi oleh tingkat kekentalan beton yang bisa diukur dengan slump test. Kekentalan beton dipengaruhi faktor air semen. Penambahan air yang berlebihan pada campuran akan mempengaruhi nilai slump. Biasanya, apabila slump beton melebihi dari yang disyaratkan oleh Pengawas Lapangan maka beton tersebut tidak bisa digunakan karena dikhawatirkan akan menurunkan nilai kuat tekan.
Untuk mengetahui pengaruh nilai kuat tekan pada setiap perubahan slump, maka harus dilakukan penelitian langsung dengan variasi slump. Mutu beton yang direncanakan adalah mutu K-350 atau setara dengan 28,498 Mpa dengan nilai slump 12, 14 ,16 dan 18. Metode Mix Design yang digunakan berdasarkan SNI 03-2834-2000 tentang Tata Cara Pembuatan Beton Normal.
Hasil penelitian dieroleh kuat tekan rata-rata untuk slump 12 sebesar 34,97 Mpa, kuat tekan ini memenuhi kuat tekan yang direncanakan yaitu sebesar 28,498 Mpa, sedangkan kuat tekan rata-rata slump 14 sebesar 27,84 Mpa, kuat tekan rata-rata slump 16 sebesar 26,40 Mpa, dan kuat tekan rata-rata slump 18 sebesar 25,20 Mpa. Slump 14, 16 dan 18 tidak memenuhi syarat kuat tekan yang direncanakan. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai kuat tekan beton dapat dipengaruhi oleh variasi slump dengan penambahan jumlah air. Semakin tinggi nilai slump maka kuat tekan beton semakin turun demikian pula sebaliknya.
Kata Kunci : Beton, Slump, Kuat Tekan Beto
PERANCANGAN TERMINAL DENGAN KONSEP HISTORIKAL DI GORONTALO
ABSTRAK
Terminal adalah tempat kendaraan umum/angkutan umum atau bus untuk berhenti menurunkan/menaikkan dan tempat penumpang untuk menunggu pemberangkatan ketempat tujuan. Perkembangan suatu daerah dengan pertumbuhan ekonomi masyarakatnya yang semakin meningkat dapat berpengaruh pada transportasi darat karena transportasi ini sangat mudah dan murah sehingga bisa menjangkau kalangan ekonomi menengah untuk melakukan perjalanan menggunakan angkutan bis.
Oleh karena itu, diperlukan suatu perancangan terminal di Kabupaten Gorontalo tepatnya di Kecamatan Tibawa. Pertimbangan pengambilan lokasi yang paling utama yaitu karena objek adalah terminal dengan skala Provinsi juga disekitar lokasi merupakan area rencana pengembangan sehinga memaksimalkan penghadiran objek ini.
Pada dasarnya perencanaan bentuk objek ini mengambil filosofi bulat telur yang berkesan tidak monoton dan bersifat fleksibel, karena berdasarkan hasil pengamatan visual perancang pada bangunan sejenis sebagian besar terminal yang ada mempunyai gubahan bentuk yang monoton. Adapun untuk tampilan bentuknya perancang mengambil langgam arsitektur modern.
Dengan adanya Perencanaan Pembangunan Terminal Type A di Gorontalo ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Gorontalo, mulai dari penyedia jasa sampai pengguna jasa dan pemerintah Provinsi Gorontalo itu sendiri.
Kata kunci : Perancangan Pembangunan Terminal Type A
ANALISIS KEBUTUHAN AIR BERSIH (PDAM) DI WILAYAH KOTA GORONTALO
ABSTRAK
PDAM Kota Gorontalo merupakan satu-satunya Badan Usaha Milik Daerah di Kota Gorontalo yang menyediakan jasa pelayanan dan pendistribusian air bersih ke konsumen di wilayahnya. PDAM Kota Gorontalo terletak di kawasan strategis karena diapit oleh dua buah sungai besar yaitu sungai bone dan sungai bolango sebagai sumber air baku. Selain itu wilayah pelayanannya adalah kawasan yang padat penduduk dengan berbagai macam aktivitas masyarakat. Untuk itu pihak PDAM Kota Gorontalo berupaya memberikan pelayanan yang maksimal kepada pelanggan, namun masih terdapat kendala baik dalam aspek teknis maupun non teknis.
Penelitian ini bersifat studi kasus dengan melakukan analisis data. Dalam pengolahan data menggunakan metode geometrik dan persamaan regresi linier. Data-data yang digunakan adalah data jumlah penduduk, data jumlah pelanggan serta data produksi air PDAM Kota Gorontalo tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Tahapan penelitian meliputi proyeksi pertumbuhan jumlah penduduk, proyeksi kenaikan jumlah konsumen dan analisis kebutuhan air bersih PDAM Kota Gorontalo tahun 2015 sampai dengan tahun 2020.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kebutuhan air yang diperlukan PDAM Kota Gorontalo pada tahun 2020 sebesar 356,117 lt/dt dengan jumlah konsumennya mencapai 201.431 jiwa. Tingkat pelayanan penduduk dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2020 mengalami peningkatan, akan tetapi jika ditinjau dari aspek kebutuhan yang harus dipenuhi oleh PDAM kota Gorontalo masih mengalami defisit air setiap tahunnya, karena kapasitas produksi saat ini baru mencapai 248 lt/dt.
Kata Kunci : Kebutuhan Air, Tingkat Pelayana
EVALUASI TINGKAT PENERANGAN JALAN UMUM (PJU) DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus : Ruas Jalan Prof. Dr. Jhon Katili)
ABSTRAK
Utilitas publik terdiri dari listrik, telekomunikasi, jaringan air bersih, sanitasi/air limbah, persampahan dan jaringan gas. Penerangan jalan umum (PJU) merupakan salah satu bagian utilitas publik yang harus disediakan oleh pemerintah kota/kabupaten, untuk dapat menyediakan dan merawat penerangan jalan umum yang telah ada pemerintah menarik dana dari masyarakat melalui pajak yang dibayarkan setiap bulan bersamaan dengan rekening listrik kepada PT. PLN (Persero).
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi intensitas cahaya dan tingkat Penerangan Jalan Umum (PJU) di ruas jalan Prof. Dr. Jhon A. Katili, analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan cara pengumpulan data yang berhubungan dengan Penerangan Jalan Umum (PJU). Dalam perhitungan intensitas pencahayaan (lux) penerangan jalan umum, digunakan alat bantu ukur Digital Lux Meter, model LX-1010B.
Lokasi penelitian dilakukan yakni di sepanjang ruas jalan Prof. Dr. Jhon A. Katili, mengukur lebar jalan dan klasifikasi kelas jalan, kemudian mengukur jarak antar lampu jalan. Selain itu, penelitian itu juga meliputi tingkat Penerangan Jalan Umum (PJU) di ruas jalan Prof. Dr. Jhon A. Katili. Dilakukan cara : (1) survey/mengukur intensitas cahaya pada lampu jalan Penerangan Jalan Umum (PJU), mengklasifikasikan kelas jalan, mengukur lebar jalan, kondisi jalan, kondisi sekitar dan kendaraan yang ada serta jarak antar lampu (2) analisis data hasil survey/pengukuran di lapangan dengan menggunakan standar pencahayaan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 04-6262-2000 tentang rekomendasi untuk pencahayaan jalan bagi kendaraan bermotor dan pejalan kaki.Dari hasil analisis data diperoleh bahwa intensitaspencahayaan PJU pada ruas jalan Prof. Dr. Jhon A. Katili cenderung memiliki intensitaspencahayaandi bawah standar.
13 buah lampu PJU memiliki kriteria persentase dibawah standar 54%, sesuai standar 38%, dan diatas standar 8%. Intensitaspencahayaan tidak merata pada masing-masing PJU. Untuk PJU 1 yang terletak pada perempatan jalan dan terdapat lampu lalu lintas, batasan intensitas pencahayaan (iluminansi) dan luminansi pada rambu-rambu lalu lintas yangdipasang berdekatan dengan lampu penerangan jalan atau papan reklame bertujuan agar lebih menarik perhatian bagi pengguna jalan.
Kata Kunci : Intensitas Cahaya, Klasifikasi Jalan, Penerangan Jalan Umum (PJU
PERANCANGAN RTH BANTARAN SUNGAI KECAMATAN DUMBO RAYA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR SEMIOTIKA
ABSTRAK
Perancangan RTH Bantaran Sungai Kecamatan Dumbo Raya dengan Pendekatan Arsitektur Semiotika merupakan suatu proses perancangan ruang terbuka hijau yang areanya memanjang mengikuti sisi bantaran sungai di Kecamatan Dumbo Raya, dengan fungsi sebagai tempat tumbuh tanaman guna meningkatkan kualitas lansekap kota, maupun tempat yang dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan seperti bermain, berolahraga, dan aktivitas sosial lainnya, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka untuk publik dengan menggunakan pendekatan Arsitektur Semiotika. Penggunanaan Arsitektur Semiotika sebagai pendekatan dalam rancangan ini dimaksudkan untuk mewujudkan visualisasi RTH Bantaran Sungai Kecamatan Dumbo Raya yang lebih mencirikan kultural daerah Gorontalo, sebab dari beberapa pembangunan beberapa RTH yang pernah ada di Gorontalo, sulit menemukan RTH yang menampilkan ciri khas daerah Gorontalo sebagai sajian visualnya. Sementara pemilihan bantaran Sungai Bone dalam kecamatan Dumbo Raya sebagai lokasi RTH ini, didasarkan pada tingginya kepadatan penduduk (terutama Kelurahan Bugis) yang menyebakannya menjadi kawasan padat bangunan namun tidak disertai dengan adanya taman atau RTH, padahal RTH di kawasan perkotaan merupakan suatu persyaratan yang wajib dipenuhi untuk kehidupan masyarakat yang sehat. Pembangunan RTH ini juga bisa menjadi solusi untuk kondisi sungai Bone yang tidak lagi terjaga kelestariannya akibat perkembangan permukiman yang begitu pesat sehingga banyak dijadikan tempat pembuangan sampah dan limbah rumah tangga.
Kata Kunci: RTH, Bantaran Sungai, Arsitektur Semiotika, Sungai Bon
MASTERPLAN PUSAT PERKANTORAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN
ABSTRAK
Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, dengan pusat pemerintahan berada di Bolaang Uki. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2008, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Bolaang Mongondow. Kabupaten yang baru terbentuk ini memiliki luas 1.615,86 km2 dengan jumlah penduduk 87.012 jiwa. Semua kecamatan berada di pesisir Teluk Tomini dengan panjang garis pantai 290 km. (BPS Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan), Saat ini sistem pelayanan pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan belum efisien karena Satuan Kerja Perangkat Derah (SKPD) masih menggunakan bangunan rumah tinggal warga yang disewa untuk dijadikan sebagai gedung kantor dan letak antara SKPD sangat berjauhan.
Masterplan Pusat Perkantoran bertujuan untuk mendukung aktivitas atau kegiatan dalam pemerintahan pusat setempat dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada masyarakat dan melayani kepentingan umum serta dapat berperan sebagai symbol filosofi, fungsional, teknis, monumental, serta memiliki fungsi keterbukaan yang menjadi cerminan kota atau Kabupaten tersebut. Metode yang digunakan merupakan metode perancangan arsitektur dengan pendekatan Arsitektur Post Moderen karena cocok untuk karakteristik bangunan perkantoran yaitu lebih Rasional, modern dan menambahkan unsur klasik pada desain tersebut sehingga menggambarkan karakter gedung pemerintahan.
Kata Kunci : Masterplan, Kantor, Arsitektur Post Moder
PUSAT PENELITIAN BIOTA LAUT DI GORONTALO DENGAN PENDEKATAN METODE ARSITEKTUR SEMIOTIK
ABSTRAK
Gorontalo sebagai salah satu Provinsi termuda di Indonesia memiliki banyak keragaman dan keindahan biota laut yang memiliki nilai estetika dan ekonomi yang tinggi. Untuk mendukung hal tersebut maka diperlukan membangun sebuah pusat penelitian biota laut dengan tujuan untuk meneliti dan melestarikan biota laut khususnya yang ada di perairan Gorontalo.
Fasilitas yang tersedia dalam perancangan bangunan ini yaitu fasilitas pengelola, penelitian, pelestarian, dan edukasi rekreasi. Analisa terhadap tapak dilakukan berdasarkan beberapa aspek klimatologi, keunikan lahan dan topografi lahan. Sedangkan analisa terhadap gubahan bentuk ditinjau dari beberapa aspek seperti struktur dan utilitas serta konsep perancangan makro dan mikro. Adapun pedekatan yang digunakan dalam perancangan yaitu menggunakan pendekatan Arsitektur Semiotik. Sebuah ilmu yang mempelajari tentang tanda.
Kata Kunci : Penelitian, Biota, Semiotik, Gorontalo
 
ANALISIS KINERJA DAN KAPASITAS ARUS LALU LINTAS PADA RUAS JALAN ACHMAD NADJAMUDDIN KOTA GORONTALO
ABSTRAK
Sebagai kota dengan predikat kota jasa, kota Gorontalo merupakan salah satu daerah dengan tingkat gangguan lalu lintas yang cukup besar. Gorontalo juga merupakan kota dengan tingkat perkembangan penududuk tinggi. Hal ini diprediksi akan mempengaruhi permasalahan transportasi. Keadaan ini dialami oleh Jalan Raden Saleh sebagai salah satu jalan di pusat perkotaan yang cukup sering terjadi masalah pada ruas jalannya. Analisis dan evaluasi perlu dilakukan agar tercipta efisiensi dan kenyamanan dalam berlalu lintas.
Analisis yang dilakukan mengacu pada manual yang sesuai dengan kondisi ruas lalu llintas di Indonesia. Dalam hal ini dilakukan analisis menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 untuk memperhitungkan kinerja lalu lintas yang meliputi analisis operasional dan perencanaan untuk ruas jalan perkotaan. Selanjutnya untuk menentukan kriteria tingkat pelayanan (LOS) mengacu padaperaturan menteri Perhubungan No: KM 14 tahun 2006. Data lalu lintas di peroleh dari pencacahan jumlah kendaraan dilapangan yang dilakukan selama 6 hari pada jam – jam sibuk dan di sajikan dalam bentuk tabel data kendaraan, kemudian di analisis kinerja lalu lintasnya.
Kecepatan kendaraan ringan sebagai parameter kinerja juga mengalami penurunan tiap tahunnya, sehingga waktu tempuh menjadi lebih lama. Hal ini menunjukan bahwa ruas jalan Raden Saleh memerlukan antisipasi untuk peningkatan kinerja jalan tersebut. Hal ini ditunjukan dengan penurunan derajat kejenuhan, kecepatan tempuh kendaraan ringan dan waktu tempuh.
Kata Kunci : Ruas Jalan, Derajat Kejenuhan, Kecepatan Tempuh, Waktu Tempuh, Tingkat Pelayanan Jalan
PENGUKURAN DEBIT AIR PADA POS AWLR SUNGAI BIYONGA DENGAN METODE KEMIRINGAN LUAS
ABSTRAK
Sungai biyonga merupakan Salah satu sungai penyebab banjir di DAS. limboto dimana banjir sering terjadi pada malam hari, sehingga tidak bisa diadakan persiapan untuk melakukan pengukuran aliran banjir. Apabila dilakukan pengukuran dengan alat ukur arus kadang-kadang membahayakan keselamatan team pengukur dan alat.
Mengetahui debit banjir pada suata aliran yang terjadi di sungai biyonga merupakan salah satu faktor yang sangat penting, sebagai dasar untuk merencanakan dalam rangka penanggulanan banjir yang terjadi pada sungai biyonga. Metode yang di gunakan untuk menghitung debit banjir pada sungai biyonga penulis menggunakan cara, menghitun debit cara tidak langsung dengan metode kemiringan luas. Alat yang di gunakan untu mengetahui luas penampang banjir, di gunakan alat ukur Theohidolite dan alat penunjang lainya.
Sesuai data ukur yang di lakukan di dapatkan data – data sungai biyonga sebagai berikut : Luas penampang kesatu (PI) = 32,12 m2 tinggi mukair (h) = 3,6 m, luas penampang kedua (PII) = 26,57 m2 tinggi muka air (h) =3,5 m dan luas penampang ketiga (PIII) = 26,23 m2 Tinggi muka air banjir (h) = 3,48 m. Beda tinggi muka air banjir ( ) antara P1-2 = 0,022 m dan P2-3 = 0,0242 m. Kemiringan dasar sungai ( i ) antara P1-2 = 0,00044 m. dan kemiringa dasar sungai antara P2-3 = 0,00605 m. Sesuai data di atas dan setelah dilakukan penghitungan di dapat debit (Q) antara P1-2 = 18,704 m3/det dan (Q) antara P2-3 = 21,7116 m3/det sehingga di peroleh debit banjir maksimum (Q) = 19,062 m3/det.
Kata kunci : Debit, banjir, sungai
EVALUASI KUAT PENERANGAN BUATAN DALAM RUANG KULIAH
ABSTRAK
Penerangan pada malam hari bisa dihasilkan oleh pencahayaan buatan dengan menggunakan lampu. Pemanfaatan jenis dan penempatan lampu memberikan pengaruh terhadap kuat penerangan yang dihasilkan. Selain dari sumber penerangan, tata letak meja dan kursi dalam ruangan tersebut juga memberikan efek terhadap kuat penerangan yang diterima. Letak meja yang tepat berada di bawah lampu lebih maksimal menerima penerangan dibandingkan dengan meja yang letaknya lebih jauh. Penempatan layout yang salah bisa memberikan efek negatif untuk kelangsungan proses perkuliahan. Universitas Teknologi Sulawesi Utara (UTSU) merupakan salah satu penyelenggara pendidikan yang memiliki program perkuliahan malam di Manado. Pihak kampus berusaha memaksimalkan penggunaan ruangan dalam bangunan yang di alihfungsikan dari ruko menjadi kampus. Sehingga sistem pencahayaan yang digunakan hanya mengikuti sistem yang sudah tersedia dalam bangunan ruko tersebut. Dengan adanya penelitian ini, kita bisa melihat kembali efisiensi sistem pencahayaan ruko yang digunakan untuk ruang kuliah dan memberikan masukan kalau ternyata harus ada perubahan dalam desain dan sistem yang sudah ada. Hal ini dimaksudkan agar tujuan dari pelaksanaan proses perkuliahan bisa terwujud dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. kebutuhan ruangan.
Nilai kuat penerangan yang direkomendasikan untuk ruang perkuliahan yaitu 250 lux. Dengan adanya patokan ini diharapkan bahwa setiap perencanaan sistem penerangan untuk ruang kelas bisa dilakukan dengan baik sebelum digunakan sepenuhnya, mengingat kenyamanan visual masing-masing orang berbeda. Jadi diharapkan dengan perencanaan yang memenuhi standar bisa memenuhi kriteria kenyamanan manusia pada umumnya.
Kata Kunci : Penerangan, Pencahayaan Buatan, Ruang Kulia