Jurnal Ilmiah Kanderang Tingan
Not a member yet
263 research outputs found
Sort by
Kemampuan Mahasiswa PGSD Universitas Palangka Raya dalam Mengembangkan Cerita Anak Bergambar sebagai Alternatif Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
Elementary school age, ranging from 7-12 years, according to Piaget's development theory, is in the concrete operational phase. This phase is the initial stage where a person is able to develop the ability to think logically about an object that is concrete or real. At this phase, children who are at elementary school age are not yet fully able to understand abstract concepts. It is necessary to have the help of teaching aids/learning media to help connect reality and something abstract so that students can present real concepts from something abstract. For this reason, it is necessary for a prospective teacher to have the ability to develop illustrated stories as one of the media that can be used for learning Indonesian. This study was conducted to determine the ability of UPR PGSD students in developing illustrated children's stories. This study is a qualitative study with a descriptive approach. The subjects of observation were students of the PGSD Study Program Class C Class 2022. Data were obtained by conducting observations and documentation. The results of the study showed that most students already had good abilities in developing illustrated children's stories, although some improvements needed to achieve better results as seen from several indicators, such as creativity and originality, quality of language use, visuals and illustrations, structure and storyline, character development, and messages and moral values.Usia sekolah dasar, rentang 7—12 tahun, menurut teori perkembangan Piaget, berada pada fase operasional konkret. Fase ini merupakan tahap awal seseorang mampu mengembangkan kemampuan berpikir logis mengenai sebuah objek yang bersifat konkret atau nyata. Pada fase ini, anak yang berada pada usia sekolah dasar belum mempu sepenuhnya untuk memahami konsep-konsep yang bersifat abstrak. Perlu bantuan alat peraga/media pembelajaran untuk membantu menghubungkan antara realitas dan sesuatu yang abstrak sehingga siswa dapat menghadirkan konsep nyata dari sesuatu yang abstrak. Untuk itu perlu bagi seorang calon guru memiliki kemampuan mengembangkan cerita bergambar sebagai salah satu media yang dapat digunakan untuk pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa PGSD UPR dalam mengembangkan cerita anak bergambar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek observasi adalah mahasiswa Program Studi PGSD Rombel C Angkatan 2022. Data diperoleh dengan melakukan observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa sudah memiliki kemampuan yang baik dalam mengembangkan cerita bergambar anak meskipun perlu ada beberapa perbaikan agar mencapai hasil yang lebih baik yang dilihat dari beberapa indikator, seperti kreativitas dan orisinalitas, kualitas penggunaan bahasa, visual dan ilustrasi, struktur dan alur cerita, pengembangan karakter, serta pesan dan nilai moral
Analisis Kualitatif Kesalahan Konseptual Senyawa Ionik dan Senyawa Kovalen dalam Argumentasi Mahasiswa pada Laporan Praktikum Kimia Dasar
Understanding the concept of ionic and covalent compounds is a fundamental foundation in basic chemistry education, as these concepts underpin the structure, properties of compounds, and their applications in daily life. Misconceptions about ionic and covalent bonding are common and negatively impact students' ability to analyze compound properties, critical thinking skills, and scientific argumentation. On the other hand, Generation Z demonstrates weaknesses in deeply reflecting on conceptual errors, as evident in basic chemistry lab reports. Lab reports can reveal both the depth of understanding and the patterns of conceptual errors experienced by students. This study aims to analyze students' conceptual errors related to ionic and covalent compounds in Basic Chemistry I lab reports. The research employs a case study method with a qualitative descriptive approach. The researcher acts as an instrument to assess students' conceptual errors by discussing their lab reports. The findings reveal three conceptual errors in the sub-topic of melting point comparison and five conceptual errors in the sub-topic of solubility.Pemahaman konsep senyawa ionik dan kovalen merupakan pondasi penting dalam pembelajaran kimia dasar karena keduanya mendasari struktur, sifat senyawa, dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Kesalahan konsep yang terjadi pada topik ikatan ionic dan kovalen sering terjadi dan berdampak negatif pada kemampuan mahasiswa dalam analisis sifat senyawa, keterampilan berpikir kritis, dan argumentasi ilmiah. Di sisi lain, generasi Z menunjukkan kelemahan dalam refleksi mendalam terhadap kesalahan konseptual, yang tercermin dalam laporan praktikum kimia dasar. Laporan praktikum dapat menunjukkan seberapa dalam pemahaman sekaligus pola kesalahan konsep yang dialami oleh mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan konseptual mahasiswa terkait senyawa ionik dan kovalen dalam laporan praktikum kimia dasar I. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Peneliti berperan sebagai instrumen yang menilai kesalahan konsep yang terjadi pada mahasiswa melalui pembahasan laporan praktikum. Terdapat 3 kesalahan konsep pada sub-topik perbandingan titik leleh, dan 5 kesalahan konsep pada sub-topik kelarutan
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan Keterampilan Numerasi Peserta Didik UPT SMA Negeri 9 Bone
Development of Differentiated Learning Tools to Improve Students' Numeracy Skills on Climate Change and Global Warming Material (supervised by Firdaus Daud and Muhammad Arsyad).
This development research aims to produce differentiated learning tools that are valid, practical and effective for improving Numeracy skills on climate change and global warming material. The development model used in this research refers to the ADDIE development model developed by Robert Marie Branch (2009) which includes 5 stages, namely (1) Analysis, (2) Design, (3) Development, (4) Implementation, (5) Evaluation. The tools developed in this research are Learning Implementation Plans (RPP), Student Worksheets (LKPD), modules, HOTS assessment instruments, and multiple representation ability instruments. The quality testing stage of the differentiated learning tools and supporting instruments that will be used in the research is carried out through a validity test given to two validators. Field trials were carried out on class X 1 students totaling 30 people. The results of the research show that the differentiated-based learning tools developed meet product quality, namely: 1) validity including: (a) lesson plans with a value of 3.48 (valid), (b) LKPD with a value of 3.58 (very valid), ( c) module with a score of 3.40 (valid), and (d) Numeracy skills assessment instrument with a score of 0.77 (valid); 2) practicality includes: (a) implementation of learning tools with a score of 1.80 in the fully implemented category, (b) teacher response to learning tools with a score of 93.42% in the very practical category; 3) effectiveness includes assessment of Numeracy skills with a pretest average of 14.30% in the low category and a posttest average of 78.01% in the medium category and N-gain results of 0.76 in the high category. Thus, the research results show that learning tools based on the Differentiated learning model have valid, practical and effective qualities.Penelitian pengembangan ini bertujuan menghasilkan perangkat pembelajaran berdiferensiasi yang valid, praktis dan efektif untuk meningkatkan keterampilan Numerasi pada materi perubahan iklim dan pemanasan global. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan ADDIE yang diadaptasi dari Robert Marie Branch (2009) meliputi 5 tahap, yaitu (1) Analysis, (2) Design, (3) Development, (4) Implementation, (5) Evaluation. Perangkat yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), modul, instrumen penilaian HOTS, dan instrumen kemampuan multipel representasi. Tahap uji kualitas perangkat pembelajaran Berdiferensiasi dan instrumen pendukung yang akan digunakan dalam penelitian dilakukan melalui uji kevalidan yang diberikan kepada dua orang validator. Untuk uji coba lapangan dilakukan pada peserta didik kelas X 1 yang berjumlah 30 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perangkat pembelajaran berbasis berdiferenisasi yang dikembangkan memenuhi kualitas produk, yaitu: 1) kevalidan meliputi: (a) RPP dengan nilai 3,48 (valid), (b) LKPD dengan nilai 3,58 (sangat valid), (c) modul dengan nilai 3,40 (valid), dan (d) instrumen penilaian keterampilan Numerasi nilai 0,77 (valid); 2) kepraktisan meliputi: (a) keterlaksanaan perangkat pembelajaran dengan nilai 1,80 dalam kategori terlaksana seluruhnya, (b) respons guru terhadap perangkat pembelajaran dengan nilai 93,42% dalam kategori sangat praktis; 3) keefektifan meliputi penilaian keterampilan Numerasi dengan rata-rata pretest 14,30% dalam kategori rendah dan rata-rata posttest 78,01% dalam kategori sedang dan hasil N-gain 0,76 dalam kategori tinggi. Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran berbasis model pembelajaran Berdiferensiasi memiliki kualitas valid, praktis dan efektif
Kajian Inovatif BIPA Melalui Webinar HISKI Pusat 27 Desember 2023
Learning Indonesian for Foreign Speakers (BIPA) is an important aspect in supporting the spread and understanding of Indonesian culture internationally. In the context of BIPA learning innovation, Prof. Uli Kozok from the University of Hawai'i at Manoa has implemented two forms of learning that emphasize two main approaches. According to Prof. Uli Kozok has two forms of BIPA learning, namely: (1) Synchronous, carried out using direct communication technology such as TV, Zoom and Skype. (2) Asynchronous, learning can be done with flexibility via the internet, such as via the world wide web (WWW).
Keywords: BIPA, synchronous, and asynchronousPembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) merupakan aspek penting dalam mendukung penyebaran dan pemahaman budaya Indonesia di dunia internasional. Dalam konteks inovasi pembelajaran BIPA, Prof. Uli Kozok dari University of Hawai’i at Manoa telah menerapkan dua bentuk pembelajaran yang menekankan dua pendekatan utama. Menurut Prof. Uli Kozok ada dua bentuk pembelajaran BIPA, yaitu: (1) Sinkronus, dilakukan dengan memanfaatkan teknologi komunikasi langsung seperti TV, Zoom, dan Skype. (2) Asinkronus, pembelajaran yang dilakukan dengan fleksibilitas bisa melalui internet seperti melalui world wide web (WWW).
Kata Kunci: BIPA, sinkronus, dan asinkronu
Meta-Analisis Pengembangan Media Pembelajaran Android Pada Materi Koloid
Meta-analysis is an activity that involves identifying, evaluating, and interpreting relevant research to systematically combine the results of existing studies. This research aims to analyze central tendency, variation, and errors in studies. This research uses four theses related to the development of Android-based learning media on colloid material. This research employs a quantitative meta-analysis method with the following steps: 1) Searching for sources and identifying thesis documents, 2) Expert assessment by media experts, material experts, and students, analyzing N and I values, 3) Calculating effect size and standard error, 4) Creating a forest plot for the effect size and standard error values. The results of the study are as follows: In the development studies of Android-based learning media on colloid material, media experts, material experts, and students have different percentage levels due to differences in location, research subjects, and media used. The assessment by media and material experts most suitable for Android-based colloid learning, reviewed from effect size and forest plot, is in study or research NA-22. In the material expert assessment, study RS-19 is the most suitable evaluation to obtain student responses for the development of Android-based learning media on colloid material.Meta-Analisis merupakan kegiatan mengidentifikasi, mengevaluasi, menginterpretasi penelitian relevan untuk mengkombinasikan hasil studi yang telah ada dan dilakukan secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecenderungan sentral, variasi dan kesalahan dalam penelitian. Pada penelitian ini menggunakan sebanyak empat skripsi yang berkaitan dengan pengembangan media pembelajaran android pada materi koloid. Penelitian ini menggunakan metode penelitian meta-analisis kuantitatif dimana langkah-langkah dalam penelitian sebagai berikut 1) Penelusuran sumber dan identifikasi dokumen skripsi, 2) Penilaian ahli media, ahli materi dan peserta didik dianalisis nilai N dan I, 3) Menghitung effect size dan standard error,4) Nilai effect size dan standard error dibuat menjadi forest plot. Penelitian mendapatkan hasil 1) Pada studi pengembangan media pembelajaran android pada materi koloid nilai ahli media, ahli materi dan peserta didik memiliki tingkat persentase yang berbeda disebabkan karena perbedaan lokasi, subjek penelitian, media yang digunakan, 2) Penilaian ahli media dan materi yang paling cocok digunakan dalam pembelajaran koloid dalam basis android ditinjau dari effect size dan forest plot yaitu pada studi atau penelitian NA-22, 3) Pada penilaian ahli materi studi RS-19 merupakan penilaian yang paling cocok untuk mendapatkan respon peserta didik pada pengembangan media pembelajaran androi pada materi koloid
Peran Kampus Mengajar V dalam Adaptasi Tekonolgi Bagi Guru di SDN 3 Petuk Katimpun
Technology adaptive in targeted schools are one of the teaching campuss programs for interesting learning, increasing study motivation and study result of students. However in SDN 3 petuk Katimpun the teacher still using a convention learning model. The research aim is to understand the role of the teaching campuss in technology adaption for teacher in SDN 3 Petuk Katimpun. The reseach was used a descriptive qualitative method and was held in a month. Data collected by doing observation, interview and documentation. The result show that after the mentoring about adaptive technology was held by the researcher and member of the teaching campuss, the teacher was able to produce an interesting media learning and the teaching campuss has important role in order to increase the capability of teacher’s technology adaptationAdaptasi teknologi di sekolah-sekolah sasaran adalah salah satu program dari Kampus Mengajar. untuk menghasilkan pembelajaran yang menarik, meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar pesertadidik. Akan tetapi di SDN 3 Petuk Katimpun guru-guru masih menerapkan model pembelajaran dengan media pembelajaran yang konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan kampus mengajar dalam adaptasi teknologi bagi para guru di SDN 3 Petuk Katimpun. Penelitian yang dilakukan selama satu bulan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan adaptasi teknologi oleh peneliti dan mahasiswa kampus mengajar kepada para guru berupa pendampingan aplikasi Canva, para guru sudah mampu membuat media pembelajaran yang menarik dan secara signifikan menurut para guru kampus mengajar angkatan 5 berperan penting terhadap peningkatan adaptif teknologi para guru
Pengembangan Mobile-Learning SARITHA-Apps Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dan Berpikir Kritis Mahasiswa S1 Pendidikan Biologi Universitas Palangka Raya
This research aims to develop mobile-learning SARITHA-Apps, describe product validity, analyze the development of mobile-learning SARITHA-Apps towards improving learning outcomes and critical thinking of undergraduate students in the Biology Education Study Program, FKIP Palangka Raya University. This research refers to the ADDIE development design and data collection using questionnaire sheets, media expert assessment sheets and material expert assessment sheets. The research results show: (1) one product has been produced as a result of the development of Mobile-Learning Environmental Science material, namely the SARITHA-Apps Mobile-Learning Application; (2) The average result of the Expert Team's assessment of the suitability of the SARITHA-Apps Mobile-Learning Application instrument and product is 91%, which means it is in the "Very Feasible" qualification; (2) The SARITHA-Apps Mobile-Learning application is able to improve student learning outcomes for environmental science material, namely with an N-Gain of 0.4, which means it is in the "Medium" category; (3) Student learning outcomes according to critical thinking skills from the questions given, it was found that the explanation indicator had the highest percentage increase value, namely 6% compared to the percentage increase in other critical thinking indicators, where the self-regulation indicator was 5%, while the analysis and analysis indicators inference of 2%.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan mobile-learning SARITHA-Apps, mendeskripsikan validitas produk, menganalisis pengembangan mobile-learning SARITHA-Apps terhadap peningkatan hasil belajar dan berpikir kritis mahasiswa S1 di Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Palangka Raya. Penelitian ini mengacu pada desain pengembangan ADDIE dan pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner, lembar penilain ahli media dan lembar penilaian ahli materi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) telah dihasilkan satu produk hasil pengembangan Mobile-Learning materi Ilmu Pengetahuan Lingkungan yaitu Aplikasi Mobile-Learning SARITHA-Apps; (2) Hasil rerata penilaian Tim Ahli terhadap kelayakan instrument dan produk Aplikasi Mobile-Learning SARITHA-Apps adalah 91% yang berarti berada pada kualifikasi “Sangat Layak”; (2) Aplikasi Mobile-Learning SARITHA-Apps mampu meningkatkan hasil belajar mahasiswa untuk materi ilmu pengetahuan lingkungan yaitu dengan N-Gain 0,4 yang berarti berada pada kategori “Sedang”; (3) hasil belajar Mahasiswa menurut kemampuan berpikir kritis dari soal yang diberikan didapati bahwa indikator eksplanasi memiliki nilai peningkatan persentase tertinggi yaitu sebesar 6% dibandingkan dengan peningkatan persentase pada indikator berpikir kritis lainnya, dimana indikator pengaturan diri sebesar 5%, sedangkan indikator analisis dan indikator inferensi sebesar 2%
Model Pembinaan Kepala Sekolah Melalui Pendekatan Nilai Kearifan Lokal Kakaluargaan Untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru
The aim of this research is to explore the model for coaching school principals through the application of local wisdom values of Kakaluargaan to improve the professional competence of teachers at SMKN 3 Banjarbaru, implementation, and identify inhibiting factors and the solutions offered. This research uses qualitative methods with data collection techniques including observation, interviews and documentation. The results of the research show that the coaching model used by the Principal of SMKN 3 Banjarbaru is by: conducting assessments, analyzing, providing suggestions, evaluating and following up, involving senior teachers and motivating and providing guidance to teachers. Meanwhile, the implementation of the coaching model carried out by the school principal is by: a) carrying out supervision: carrying out pre-observation, observation, evaluation and follow-up; b) coaching outside supervision: sharing experience and knowledge in an effort to increase teacher professional competence. Meanwhile, the solution taken by the school principal if there are challenges and obstacles is to embrace, involve teachers in teacher professional development training, provide access to teacher professional development, teachers learn from colleagues and carry out evaluations and feedback.Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi model pembinaan kepala sekolah melalui penerapan nilai kearifan lokal dalasan balangsar dada untuk meningkatkan kompetensi profesional guru di SMKN 3 Banjarbaru, impelemntasi, dan mengidentifikasi faktor-faktor penghambat serta solusi yang ditawarkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembinaan yang digunakan oleh Kepala Sekolah SMKN 3 Banjarbaru yaitu dengan: melakukan asesmen, menganalisis, memberikan saran, mengevaluasi dan menindaklanjuti, melibatkan guru senior dan memotivasi serta melakukan pengayoman kepada guru. Sedangkan, implementasi model pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah yaitu dengan: a) melakukan supervise: melakukan pra observasi, observasi, evaluasi dan tindak lanjut; b) pembinaan diluar supervise: berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam upaya peningkatan kompetensi profesional guru. Adapun, solusi yang dilakukan kepala sekolah apabila terdapat tantangan dan hambatan yaitu dengan merangkul, mengikut sertakan guru dalam pelatihan pengembangan profesional guru, memberikan akses dalam pengembangan profesional guru, guru belajar kepada kawan sejawat dan melakukan evaluasi dan umpan balik
Analisis Soal Hots Pada Buku Teks Kimia Kelas XI Semester Ganjil SMA/MA Di Palangka Raya
This study aims to describe the HOTS aspects developed in chemistry textbooks for class XI odd semester SMA/MA in Palangka Raya based on the HOTS aspects according to Brookhart's theory. HOTS aspects in this study include: analyzing, evaluating, creating, reasoning and logic, decision making, problem solving, and creative thinking. The method used in this research is descriptive quantitative. The source of the data in this study was the question papers for Class XI Chemistry Textbooks for Odd Semester SMA/MA in Palangka Raya. The results of this study indicate that the percentage of HOTS aspects developed in Chemistry Textbook questions for Class XI Odd Semester SMA/MA in Palangka Raya is 43,9% consisting of 11,6% analyzing aspects, 8,4% reasoning and logic aspects, 3,9% aspects of decision making, and 20,0% aspects of problem solving, while aspects of evaluating, aspects of creating, and aspects of creative thinking are not developed in the textbooks analyzed. Thus, it can be concluded that the questions developed in the analyzed chemistry text books still pay little attention to HOTS aspects.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran aspek HOTS yang dikembangkan pada buku teks kimia kelas XI Semester Ganjil SMA/MA di Palangka Raya berdasarkan aspek HOTS menurut teori Brookhart. Aspek HOTS pada penelitian ini meliputi: menganalisis, mengevaluasi, mencipta, penalaran dan logika, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan berpikir kreatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah dokumen soal Buku Teks Kimia Kelas XI Semester Ganjil SMA/MA di Palangka Raya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase aspek HOTS yang dikembangkan dalam soal Buku Teks Kimia Kelas XI Semester Ganjil SMA/MA di Palangka Raya sebesar 43,9% yang terdiri dari 11,6% aspek menganalisis, 8,4% aspek penalaran dan logika, 3,9% aspek pengambilan keputusan, serta 20,0% aspek pemecahan masalah, sedangkan aspek mengevaluasi, aspek mencipta, dan aspek berpikir kreatif tidak dikembangkan pada buku teks yang dianalisis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa soal yang dikembangkan pada buku teks kimia yang dianalisis masih kurang memperhatikan aspek HOTS
Pembelajaran Kimia secara Daring di SMA Negeri 5 Palangka Raya
Since online learning was implemented, SMA Negeri 5 Palangka Raya as part of the education implementers in Central Kalimantan has been trying to find solutions and innovate to provide the best educational services for students. Likewise in learning chemistry, chemistry teachers must ensure that students can accept the concepts and material provided through online learning. This study aims to explore students' constraints and difficulties in conducting online learning related to understanding concepts in chemistry learning. This research also provides an overview of the implementation of online learning and evaluations that need to be carried out in preparation for the new school year. The subjects in this study were 103 students of class XI MIPA at SMA Negeri 5 Palangka Raya. Data was obtained from student responses regarding chemistry learning during the Covid-19 Pandemic using an online questionnaire. Then it is processed by changing each response to the question items into a percentage of the number of responses and triagulated with responses in the form of reasons. From the results of the study, it was concluded that most students can carry out online learning with various learning platforms. The level of attendance and enthusiasm of students is quite high and some students do not feel burdened by online learning. In terms of material understanding, difficulties are felt in material related to symbols, formulas, calculations and reaction mechanisms as well as microscopic aspects. Obstacles that are felt are divided into technical constraints, constraints on teaching methods and materials, as well as internal student constraints.Sejak diberlakukan pembelajaran secara daring, SMA Negeri 5 Palangka Raya sebagai bagian dari pelaksana pendidikan di Kalimantan Tengah telah berupaya mencari solusi dan melakukan inovasi demi memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik bagi siswa. Demikian pula halnya dalam pembelajaran kimia, guru kimia harus memastikan bahwa siswa dapat menerima konsep-konsep dan materi yang diberikan melalui pembelajaran daring. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri kendala dan kesulitan siswa dalam melakukan pembelajaran daring terkait dengan pemahaman konsep dalam pembelajaran kimia. Penelitian ini juga memberikan gambaran pelaksanaan pembelajaran daring dan evaluasi yang perlu dilakukan dalam menghadapi tahun ajaran baru. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 5 Palangka Raya yang berjumlah 103 orang. Data diperoleh dari tanggapan siswa mengenai pembelajaran kimia di masa Pandemi Covid-19 menggunakan kuisioner online. Selanjutnya diolah dengan mengubah setiap tanggapan terhadap butir pertanyaan menjadi persentase jumlah respon dan ditriagulasi dengan tanggapan berbentuk alasan. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan: sebagian besar siswa dapat melaksanakan pembelajaran daring dengan berbagai flatform pembelajaran. Tingkat kehadiran dan antusiasme siswa cukup tinggi dan sebagian siswa tidak merasa terbeban dengan pembelajaran daring. Dalam hal pemahaman materi, kesulitan dirasakan pada materi yang berkaitan dengan simbol, rumus-rumus, perhitungan dan mekanisme reaksi serta aspek mikroskopis. Kendala yang dirasakan terbagi menjadi kendala teknis, kendala metode dan bahan ajar, serta kendala internal siswa