Jurnal Ilmiah Kanderang Tingan
Not a member yet
263 research outputs found
Sort by
F, Tasya Hubungan Kemandirian Belajar, Fasilitas Belajar Dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMPN 2 Palangka Raya
This research against the background of mathematics learning outcomes of students who are still relatively low, lack of learning independence, and mathematical learning facilities that are still not optimally used. This study aims to determine the correlation between learning independence and learning facilities with the learning outcomes of Mathematics for Class 8th grade students of SMPN 2 Palangka Raya. The approach used in this research is the quantitative approach with the correlational research type. This research was conducted in the even semester of the academic year 2022/2023. The population in this study were students of class 8th grade SMPN 2 Palangka Raya in the academic year 2022/2023 with the total of population are 352 students and the research samples of 196 students. The results of this study are: (1) there is a significant positive correlation between learning independence and mathematical learning outcomes with very low correlation criteria ( ); (2) there is no significant positive correlation between learning facilities and mathematics learning outcomes ( ); (3) There is a significant positive correlation between learning independence and learning facilities with mathematical learning outcomes with low correlation criteria (0,22767).Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil belajar matematika siswa yang masih tergolong rendah, masih ada siswa yang memiliki kemandirian belajar yang kurang, dan fasilitas belajar matematika yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kemandirian belajar dan fasilitas belajar dengan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 2 Palangka Raya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitaitf jenis penelitian korelasional. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2022/2023. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 2 Palangka Raya tahun ajaran 2022/2023 berjumlah 352 siswa dengan sampel penelitian sebesar 196 siswa. Hasil penelitian ini adalah: (1) ada hubungan positif yang signifikan antara kemandirian belajar dengan hasil belajar matematika dengan kriteria korelasi sangat rendah ( ); (2) tidak ada hubungan positif yang signifikan antara fasilitas belajar dengan hasil belajar matematika ( ); (3) ada hubungan positif yang signifikan antara kemandirian belajar dan fasilitas belajar dengan hasil belajar matematika dengan kriteria korelasi rendah (0,22767)
Analisis Kesulitan Siswa dalam Memahami Konsep Hukum-Hukum Dasar Kimia (Systematic Review)
This study aims to describe and summarize the results of analyses on students' difficulties in understanding the concepts of fundamental laws of chemistry. The research employs a systematic review method. The sample consists of theses related to students' difficulties in understanding the concepts of fundamental laws of chemistry. Data collection was carried out using documentation techniques by searching and gathering thesis documents, selecting theses for analysis, and determining the research data to be analyzed. The results of the study indicate that students' difficulties in understanding the concepts of fundamental laws of chemistry are as follows: (1) The findings from FY-22 reveal more student difficulties compared to YM-16 and NS-22. (2) In chemical reactions, students assume that the total mass of substances before the reaction changes or is not equal to the total mass of substances after the reaction. Students believe that determining the mass of reaction products is done by summing the mass ratios of the elements without considering the remaining substances, causing the mass ratios of the elements to vary. (3) Students think that the mass ratio of elements forming more than one compound is not fixed and is not a simple whole number. (4) Students assume that determining the volume ratio is based on indices and by summing the coefficients of the reaction equation. (5) Students believe that the forming elements in a reaction have the same volume ratio and that the volume of reacting gases is equal to the mass of the gases involved in the reaction. (6) These findings emphasize the need for targeted strategies to address these conceptual misconceptions in teaching fundamental laws of chemistry.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta merangkum hasil analisis tentang kesulitan siswa dalam memahami konsep hukum-hukum dasar kimia. Penelitian ini menggunakan metode systematic review. Sampel dalam penelitian ini adalah skripsi yang berkaitan dengan kesulitan siswa dalam memahami konsep hukum-hukum dasar kimia.Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi dengan mencari dan mengumpulkan dokumen skripsi, kemudian menentukan skripsi yang akan dianalisis, dan menentukan data hasil penelitian yang akan dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan siswa dalam memahami konsep hukum-hukum dasar kimia yaitu: (1) hasil penelitian FY-22 lebih banyak mengungkapkan kesulitan siswa daripada YM-16 dan NS-22, (2) pada reaksi kimia, siswa menganggap bahwa massa total zat sebelum reaksi mengalami perubahan atau tidak sama dengan massa total zat sesudah reaksi, (3) siswa beranggapan bahwa dalam menentukan massa hasil reaksi dilakukan dengan cara menjumlahkan perbandingan massa unsur-unsurnya dan siswa tidak memperhatikan massa zat yang tersisa, sehingga perbandingan massa unsur-unsurnya dapat berubah-ubah, (4) siswa beranggapan bahwa dalam menentukan perbandingan massa unsur yang membentuk lebih dari suatu senyawa tidak tetap, dan bukan merupakan bilangan bulat yang sederhana, (5) siswa beranggapan bahwa dalam menentukan perbandingan volume dilihat dari indeks dan menjumlahkan koefisien dari persamaan reaksi, dan (6) siswa menganggap bahwa unsur-unsur pembentuk dalam suatu reaksi memiliki perbandingan volume yang sama, dan menganggap volume gas yang bereaksi sama dengan massa gas yang terlibat dalam reaksi
Sistem Pendidikan Di Indonesia: (Antara Keinginan dan Realita)
The educational system in Indonesia is based on the national education system. However, there is a gap between the ideals and the reality. This can be seen from many faktors such as the weakness in management sector, the low support from the government and the community, low learning effectivity and efficiency, educational resource inferiority, and the low standard of learning. As a result, the expectations of a good education system is still far from satisfaction. Many solutions have been proposed including updating the curriculum nationally, but still many serious constraints are faced. These circumstances then require systematic reformulation by considering many faktor namely the politic, economic, social and cultural aspects of Indonesia.Sistem pendidikan di Indonesia, yang didasarkan pada sistem pendidikan nasional, terdapat kesenjangan antara cita-cita dan kenyataan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai faktor seperti kelemahan pada sektor manajemen, dukungan pemerintah dan masyarakat yang masih rendah, efektifitas dan efisiensi pembelajaran yang masih lemah, inferioritas sumber daya pendidikan, dan terakhir lemahnya standar evaluasi pembelajaran. Akibatnya, harapan akan sistem pendidikan yang baik masih jauh dari sukses. Berbagai solusi dikemukakan termasuk memperbarui kurikulum secara nasional juga masih menemui berbagai kendala yang serius. Keadaan tersebut membutuhkan reformulasi yang secara sistemik memperhatikan berbagai faktor yaitu politik, ekonomi, sosial, dan budaya Indonesia
Implementasi Model Pembelajaran Inovatif Flipped Classroom Masa Bencana Alam Di SDN Tumbang Rungan
The aim of this research is to determine the phenomenon of the innovative flipped classroom learning model during the flood disaster at Public Elementary School Tumbang Rungan, Pahandut District, Palangka Raya City, Central Kalimantan. Using a qualitative approach, data was collected through literature study, observation, interviews, documentation, and analysis of new findings related to the flipped classroom learning model at Tumbang Rungan Elementary School. The findings of the research are as follows: first, elementary school students can learn innovatively from digital teaching materials; second, there is collaboration between teachers and students in facing challenges in the era of digitalization; third, through training and teacher working group activities, school principals and some teachers have prepared themselves to face challenges and find solutions using appropriate learning models to deal with natural disaster problems; fourth, the obstacles faced include: (1) Some of the learning facilities for students have been provided, but the unfavorable natural conditions present a challenge; (2) Some teachers are reluctant to learn due to age factors; (3) Parental support has not been optimal.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fenomena model pembelajaran inovatif flipped classroom selama masa bencana banjir di SDN Tumbang Rungan, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui studi literatur, observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis hasil temuan baru yang berkaitan dengan pembelajaran model flipped classroom di SD Tumbang Rungan. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: pertama, murid SD dapat belajar secara inovatif dari bahan ajar digital; kedua, terdapat kolaborasi yang baik antara guru dan murid dalam menghadapi tantangan di era digitalisasi; ketiga, melalui pelatihan dan kegiatan kelompok kerja, guru, kepala sekolah, dan sebagian guru telah mempersiapkan diri menghadapi tantangan dan mencari solusi menggunakan model pembelajaran yang tepat untuk menghadapi masalah bencana alam; keempat, kendala yang dihadapi antara lain: (1) fasilitas pembelajaran bagi siswa sebagian sudah terpenuhi, namun kondisi alam yang kurang mendukung menjadi tantangan; (2) sebagian guru kurang termotivasi untuk belajar karena faktor usia; (3) dukungan dari orang tua belum maksimal
Kesulitan Siswa Memahami Konsep Penentuan Perubahan Entalpi Reaksi di Kelas XI-MIPA SMA Tahun Ajaran 2022/2023 Menggunakan Tes Diagnostik Berbentuk Uraian
Education in Indonesia aims to produce excellent students capable of contributing to the nation's progress. However, many schools still struggle to achieve an ideal level of learning, one of the contributing factors being the learning difficulties experienced by students. Chemistry is often perceived as a difficult subject due to its abstract and complex concepts. Determining reaction enthalpy changes in thermochemistry is one of the subtopics that students find challenging, leading to learning difficulties at the high school level. This issue is crucial to understand because chemistry concepts are interconnected, and difficulties in one area can affect the understanding of subsequent concepts. Hence, a study on students' difficulties in understanding the concept of determining reaction enthalpy changes is essential. This research was conducted on 125 Grade XI-MIPA students from two high schools in Palangka Raya. Data on students’ difficulties were collected using a diagnostic essay test instrument on the ability to determine reaction enthalpy changes (TKPPER), consisting of four questions. The aim of this research was to describe the difficulties experienced by Grade XI-MIPA students in the 2022/2023 academic year in understanding the concept of determining reaction enthalpy changes using diagnostic essay tests. The results showed that students experienced difficulties in understanding the concept of determining reaction enthalpy changes, with an average difficulty percentage of 37.44%. Several conceptual indicators focused on in the study exhibited varying levels of difficulty: Determining reaction enthalpy changes based on Hess's Law (65.67%), with students facing the following difficulties: (a) Assuming it is sufficient to sum the enthalpy change values (∆H) of three reactions provided in the question without considering the thermochemical equations of these reactions. (b) Believing that the value and sign of ∆H remain the same even when the thermochemical equation is reversed or the roles of reactants and products are switched. Determining reaction enthalpy changes based on bond energy (43.90%), with students experiencing the following issues: (a) Assuming that some compounds involved in the reactants and products are treated as single compounds in the chemical reaction. (b) Simply summing the bond energy values of each compound in the products and reactants without considering the number of bonds in each compound. Determining reaction enthalpy changes based on standard enthalpy change data (20.38%), with students facing the following challenges: (a) Assuming that the reactants in a chemical reaction are the products and vice versa. (b) Believing that it is sufficient to sum the bond energy values of each compound involved without accounting for the number of compounds (stoichiometric coefficients) in the reaction. Determining reaction enthalpy changes based on calorimeter experiment data (19.82%), where students struggled with identifying the values of the components in the formula, specifically determining the mass of water (m), specific heat capacity of water (c), and temperature change (∆T).Pendidikan di Indonesia bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang unggul dan mampu membangun kemajuan bangsa. Namun, masih banyak sekolah yang tidak mampu mencapai tingkat pembelajaran yang ideal, salah satunya disebabkan oleh kesulitan belajar yang dialami oleh siswa. Mata pelajaran kimia sering dianggap sulit oleh siswa karena konsepnya abstrak dan kompleks. Penentuan perubahan entalpi reaksi di dalam materi termokimia menjadi salah satu sub materi yang sulit dipahami oleh siswa, sehingga menimbulkan kesulitan belajar pada siswa di tingkat SMA. Hal ini penting untuk dipahami karena pemahaman konsep kimia saling berkaitan satu sama lain, sehingga mempengaruhi pemahaman konsep berikutnya. Hal ini perlu dilakukan penelitian tentang kesulitan siswa memahami konsep penentuan perubahan entalpi reaksi. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI MIPA dari dua SMA di Kota Palangka Raya yang berjumlah sebanyak 125 siswa. Data kesulitan siswa dijaring menggunakan instrumen tes kemampuan penentuan perubahan entalpi reaksi (TKPPER) sebanyak 4 butir soal berbentuk uraian. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesulitan siswa kelas XI-MIPA SMA tahun ajaran 2022/2023 dalam memahami konsep penentuan perubahan entalpi reaksi menggunakan tes diagnostik berbentuk uraian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep penentuan perubahan entalpi reaksi, dengan persentase rata-rata kesulitan sebesar 37,44%. Dalam penelitian ini, beberapa indikator konsep yang menjadi fokus penelitian menunjukkan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Pertama, penentuan perubahan entalpi berdasarkan hukum Hess (65,67%) dengan kesulitan siswa yaitu: (a) menganggap bahwa cukup dengan menjumlahkan nilai perubahan entalpi (∆H) dari tiga reaksi yang disajikan dalam soal tanpa memperhatikan persamaan termokimia dari reaksi-reaksi tersebut, dan (b) beranggapan bahwa nilai dan tanda dari ∆H akan tetap sama meskipun persamaan termokimia dibalik atau peran reaktan dan produk diubah. Kedua, penentuan perubahan entalpi berdasarkan energi ikatan (43,90%) dengan kesulitan siswa yaitu: (a) menganggap bahwa beberapa senyawa yang terlibat dalam reaktan maupun produk adalah sebagai satu senyawa dalam reaksi kimia yang terjadi, dan (b) hanya menjumlahkan nilai energi ikatan dari masing-masing senyawa produk dan reaktan tanpa mempertimbangkan jumlah ikatan dalam masing-masing senyawa. Ketiga, penentuan perubahan entalpi berdasarkan data perubahan entalpi pembentukan standar (20,38%) dengan kesulitan siswa yaitu: (a) beranggapan bahwa reaktan dalam suatu reaksi kimia adalah produk, begitu pula sebaliknya, dan (b) menganggap bahwa hanya perlu menjumlahkan nilai energi ikatan dari masing-masing senyawa yang terlibat tanpa memperhatikan berapa banyak senyawa yang terlibat (koefisien senyawa) dalam reaksi. Keempat, penentuan perubahan entalpi berdasarkan data hasil percobaan kalorimeter (19,82%) dengan kesulitan siswa yaitu keliru dalam menentukan nilai dari komponen rumus yang dituliskan, yaitu menentukan nilai massa air (m), kalor jenis air (c), dan perubahan suhu (∆T)
Pengembangan Media Interaktif Berbasis Augmented Reality Materi Siklus Air Untuk Pembelajaran Di Sekolah Dasar
Learning in elementary schools plays a central role in forming the foundational knowledge and skills of students. In this context, the subjects taught at the elementary level are key to developing a good understanding. One of the subjects in elementary school is Science, Environment, Technology, and Society (IPAS). To support the successful implementation of learning and the achievement of the learning objectives of IPAS as mentioned above, teachers must provide instructional media. By using media, it is expected that teachers can more easily convey material, and students can also receive lessons well and enjoyably, thus fostering their motivation to learn. This study aims to determine the feasibility of developing augmented reality (AR)-based interactive media in teaching the water cycle to fourth-grade students at SDN 10 Langkai and to assess the response of the fourth-grade students at SDN 10 Langkai to the development of AR-based interactive media for water cycle learning. The research uses the research and development (R&D) method. According to Borg & Gall (1983), as cited in Risal, Hakim, & Abdullah (2022:2), the R&D method is used to develop and validate an educational product. The development of the learning media in this research follows the ADDIE model. Based on the research results, the feasibility of the AR-based interactive media was rated at 86%, categorized as "Highly Feasible." The students responded positively to the development of the AR-based interactive media, showing great enthusiasm and active engagement in learning the water cycle. Therefore, the AR-based interactive media was deemed "Highly Feasible" and received positive feedback from the students.Pembelajaran di Sekolah Dasar memegang peran sentral dalam membentuk dasar pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Dalam konteks ini, mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar menjadi kunci untuk mengembangkan pemahaman yang baik. Salah satu mata pelajaran yang ada pada jenjang Sekolah Dasar yaitu IPAS. Agar dapat menunjang terlaksananya pembelajaran dan tercapainya tujuan pembelajaran IPAS sesuai dengan penjelasan di atas maka guru harus menyediakan media pembelajaran. Dengan menggunakan media seorang guru diharapakan bisa lebih mudah dalam menyampaikan materi dan siswa juga dapat menerima pelajaran dengan baik dan menyenangkan sehingga menimbulkan motivasi siswa untuk belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pengembangan media interaktif berbasis Augmented Reality (AR) dalam pembelajaran Siklus Air peserta didik Kelas IV SDN 10 Langkai dan mengetahui respon peserta didik Kelas IV SDN 10 Langkai terhadap pengembangan media interaktif berbasis Augmented Reality (AR) dalam pembelajaran Siklus Air. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D). Menurut Borg & Gall (1983) dalam (Risal, Hakim, & Abdullah, 2022:2) metode R&D merupakan metode yang digunakan untuk mengembangan dan memvalidasi sebuah produk pendidikan. Pengembangan media pembelajaran pada penelitian ini menggunakan model ADDIE. Berdasarkan hasil penelitian kelayakan media interaktif berbasis Augmented Reality (AR) diperoleh persentase sebesar 86% dengan kategori “Sangat Layak”. Dan peserta didik merespon baik terhadap pengembangan media interaktif berbasis Augmented Reality (AR) mereka sangat antusias dan terlibat aktif dalam pembelajaran Siklus Air. Maka dari itu kelayakan pengembangan media interaktif berbasis Augmented reality (AR) dikatakan “Sangat Layak” dan mendapatkan respon positif oleh peserta didik
Pentingnya Evaluasi Hasil Belajar Di SMP
Learning evaluation at the Junior High School (SMP) level has an important role in ensuring the success of the learning process, forming a knowledge base, and developing students' critical thinking skills. Evaluation is used to assess learning outcomes, provide feedback, and assist students and teachers in identifying areas that need improvement. This study uses a literature review method by analyzing seven relevant articles from 2020-2024. The results of the study show that learning evaluation includes cognitive, affective, and psychomotor aspects, and is carried out through tests and non-tests. Effective evaluation helps teachers assess the success of the learning process, while for students, evaluation provides motivation to improve their achievements. However, some obstacles were found, such as difficulties in assessing attitudes and skills, which could be overcome through teacher training and improvement of evaluation instruments. With proper evaluation, it is hoped that the improvement of the quality of education in junior high schools can be achieved.
Evaluasi pembelajaran di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) memiliki peranan penting dalam memastikan keberhasilan proses pembelajaran, membentuk dasar pengetahuan, serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Evaluasi digunakan untuk menilai hasil belajar, memberikan umpan balik, dan membantu siswa serta guru dalam mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan. Penelitian ini menggunakan metode literatur review dengan menganalisis tujuh artikel yang relevan dari tahun 2020-2024. Hasil kajian menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, serta dilaksanakan melalui tes dan non-tes. Evaluasi yang efektif membantu guru menilai keberhasilan proses pembelajaran, sedangkan bagi siswa, evaluasi memberikan motivasi untuk memperbaiki prestasi. Meskipun demikian, beberapa kendala ditemukan, seperti kesulitan dalam menilai sikap dan keterampilan, yang dapat diatasi melalui pelatihan guru dan perbaikan instrumen evaluasi. Dengan evaluasi yang tepat, diharapkan peningkatan kualitas pendidikan di SMP dapat tercapai.
 
Analisis Kebutuhan Pengembangan e-LKPD Pembelajaran Berdiferensiasi Pada Konsep Asam-Basa
This study aims to analyze the need for the development of differentiated learning-based e-Worksheet (e-LKPD) on the acid-base concept at SMA Negeri 2 Palangka Raya. Differentiated learning allows teachers to present materials and assessments tailored to students' varying abilities and learning styles. The research method used is qualitative descriptive, with data collection techniques including questionnaires, interviews, and observations involving teachers and students. The results show that teachers need a comprehensive, interactive, and flexible e-LKPD with adjustable content and exercises of varying difficulty levels. Students desire a visually appealing e-LKPD that is easily accessible across multiple devices and includes interactive features and instant feedback. In conclusion, the development of a differentiated learning-based e-LKPD is essential for improving the effectiveness of teaching the acid-base concept, supporting individual differences among students, and facilitating active engagement in learning.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pengembangan e-LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik elektronik) berbasis pembelajaran berdiferensiasi pada materi asam-basa di tingkat SMA Negeri 2 Palangka Raya. Pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan guru untuk menyajikan materi dan evaluasi yang sesuai dengan perbedaan kemampuan dan gaya belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui angket, wawancara, dan observasi terhadap guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru membutuhkan e-LKPD yang komprehensif, interaktif, dan fleksibel dengan materi yang dapat disesuaikan dan soal latihan dengan berbagai tingkat kesulitan. Siswa menginginkan e-LKPD yang menarik secara visual, mudah diakses melalui berbagai perangkat, serta dilengkapi fitur interaktif dan umpan balik langsung. Kesimpulannya, pengembangan e-LKPD berbasis pembelajaran berdiferensiasi sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran konsep asam-basa, mendukung perbedaan individu siswa, dan memfasilitasi keterlibatan aktif dalam pembelajaran
Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Prestasi Akademik Siswa Melalui Nilai Kearifan Lokal Waja Sampai Kaputing
The aim of this research is to explore the principal's leadership strategies in improving student academic achievement at SMAN 3 Banjarbaru, as well as identifying inhibiting factors and the solutions offered. This research uses qualitative methods with data collection techniques including observation, interviews and documentation. The results of the research show that the strategy used by the Principal of SMAN 3 Banjarbaru is by conducting a SWOT analysis, establishing a vision, mission and making a strategic plan by carrying out effective communication through the waja to kaputing philosophy and creating a supportive environment and approaching students both internally and external. Meanwhile, the implementation carried out by the school principal is by listening to opinions, accommodating needs and ensuring the commitment of all school members. Meanwhile, the solution taken by the school principal if there are challenges and obstacles is to carry out analysis, provide solutions and provide guidance and follow-up.Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi strategi kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan prestasi akademik siswa di SMAN 3 Banjarbaru, serta mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan solusi yang ditawarkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang digunakan oleh Kepala Sekolah SMAN 3 Banjarbaru yaitu dengan melakukan analisis SWOT, menetapkan visi, misi dan membuat rencana strategis dengan melakukan komunikasi yang efektif melalui filosofi waja sampai kaputing dan menciptakan lingkungan yang mendukung serta melakukan pendekatan kepada siswa baik secara internal dan eksternal. Sedangkan, implementasi yang dilakukan oleh kepala sekolah yaitu dengan mendengarkan pendapat, mengakomodasi kebutuhan dan memastikan komitmen seluruh warga sekolah. Adapun, solusi yang dilakukan kepala sekolah apabila terdapat tantangan dan hambatan yaitu dengan melakukan analysis, pemberian solusi dan pembinaan serta tindak lanjut
Hubungan Antara Status Gizi Dengan Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa SMA Negeri 1 Kahayan Hilir Kabupaten Pulang Pisau
Physical fitness is a person's ability to carry out daily activities optimally without experiencing significant fatigue and still having energy reserves to carry out the next activity. In physical fitness there are several influencing factors, namely internal and external factors. Internal factors include genetics, age, gender, while external factors are nutritional status, physical activity, exercise habits and others. This research aims to determine the relationship between nutritional status and the level of physical fitness of students at SMA Negeri 1 Kahayan Hilir, Pulang Regency. Knife. This research is correlational research with a non-experimental research design. The population in this study were students of SMA Negeri 1 Kahayan Hilir, Pulang Pisau Regency with a population of 280 students and the sample for this study was class X, class sampling. The instrument in this study uses nutritional status measurements based on Body Mass Index according to Age (BMI/U), while to measure physical fitness levels using the MFT (Multistage fitness test) test instrument. For data analysis used is the gamma correlation coefficient. From the results of statistical calculations it shows a value of 0.227 and a sig of 0.564, this shows that sig (0.564) > alpha 0.05 which means that H0 is accepted and H1 is rejected. Thus, it can be concluded that there is no significant relationship between nutritional status and the level of physical fitness of students at SMA Negeri 1 Kahayan Hilir, Pulang Pisau Regency, because there are several other factors that influence the level of physical fitness, for example physical activity and exercise habits.Kebugaran jasmani merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan optimal tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk melakukan aktivitas berikutnya. Dalam kebugaran jasmani ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor internal dan ekstenal. Faktor internal antara lain adalah genetik, umur, jenis kelamin sedangkan faktor eksternal adalah status gizi, aktivitas fisik, kebiasaan olahraga dan lain-lain.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan tingkat kebugaran jasmani siswa di SMA Negeri 1 Kahayan Hilir Kabupaten Pulang Pisau. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan desain penelitian non-eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 1 Kahayan Hilir Kabupaten Pulang Pisau dengan besarnya populasi 280 siswa dan sampel penelitian ini adalah kelas X, kelas XI kelas IPS dan XII-IPA dengan jumlah 79 siswa, dimana teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah stratified random sampling. Instrumen pada penelitian ini menggunakan pengukuran status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) sedangkan untuk mengukur tingkat kebugaran jasmani menggunakan instrumen tes MFT (Multistage fitness test). Untuk analisis data yang digunakan adalah Koefisien korelasi gamma.Dari hasil perhitungan statistik menunjukkan value sebesar 0.227 dan sig sebesar 0.564, hal ini menunjukkan bahwa sig (0.564) > alpha 0.05 yang berarti bahwa H0 diterima dan H1 ditolak. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan Antara status gizi dengan tingkat kebugaran jasmani siswa di SMA Negeri 1 Kahayan Hilir Kabupaten Pulang Pisau, karena ada beberapa faktor lain yang berpengaruh terhadap tingkat kebugaran jasmani misalnya aktivitas fisik dan kebiasaan berolahraga