Rumah Jurnal STAIN Majene
Not a member yet
395 research outputs found
Sort by
Etika Penggunaan Media Sosial Dalam Al-Qur’an Sebagai Alat Komunikasi si Era Digitalisasi
Artikel ini membahas tentang etika penggunaan media sosial yang dikaitkan dengan kandungan isi al-Qurán sebagai pedoman bagi setiap manusia. Media sosial telah menjadi alat komunikasi paling dibutuhkan di era globalisasi saat ini, sehingga dibutuhkan etika dalam penggunaannya. Dalam menggunakan media sosial sebaiknya mengacu pada al-Qur’an yang telah diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad saw. Sebagai pedoman hidup bagi seluruh ummat manusia tentunya mampu menjadi sumber rujukan tertinggi. Dalam al-Qur’an terjelaskan etika berkomunikasi dengan media sosial yang tidak bertentangan dengan konstitusi Negara Indonesia
PENGEMBANGAN KAJIAN TAFSIR INDONESIA DALAM KONTEKS KAJIAN TAFSIR LOKAL: (Studi Pada Tafsir NU Versus Muhammadiyah)
Kajian Tafsir di Indonesia sejak abad ke 17 sampai saat ini telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan tafsir di tanah air. Para penecetus dan penulis kitab tafsir Indonesia, yang memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda mengembangkan penafsiran ke dalam ayat-syat al-Qur’an melalui penafsiran yang mudah dipahami oleh masyarakat lokal. Upaya penafsiran al-Qur’an dari para ulama Indonesia yang muncul di berbagai daerah di Indonesia memberikan hazanah keilmuan bagi perkembangan tafsir secara umum di Indonesia. Maka kajian tafsir yang hingga saat ini boleh dikatakan berkisar pada tokoh penafsir yang belakang NU dan penafsir yang berlatar belakang Muhammadiyah
STUDI KOMPARASI HASIL BELAJAR AKIDAH AKHLAK ANTARA SISWA YANG TINGGAL DI DALAM PONDOK DAN DI LUAR PONDOK
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang lebih banyak mengumpulkan data-data berupa gambar atau angka dengan menggunakan metode komparasi. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan dokumentasi, observasi, dan wawancara dari sampel yang berbeda yaitu siswa yang tinggal di pondok sebanyak 18 orang dan siswa yang tinggal di luar pondok sebanyak 18 siswa dengan total sampel berjumlah 36 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas VIII MTs Awaluddin Kuo Mamuju Tengah tahun ajaran 2020/2021 yang tinggal di pondok mendapat nilai hasil belajar dengan rata-rata 86,66 dengan kategori baik. Adapun siswa yang tinggal di luar pondok mendapat nilai hasil belajar dengan rata-rata 85,50 juga berada pada kategori baik. Demikian pula diketahui nilai thitung 0,697 dan nilai ttabel yaitu 2,042, karena nilai thitung < t tabel maka dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran akidah akhlak antara siswa yang tinggal di pondok dan di luar pondok
Hukuman Koruptor Perspektif T.M Hasbi Ash-Shiddieqy: (Studi Analisis dalam Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur QS.Al-Maidah [5] : 38-40)
Tulisan ini mendiskripsikan salah satu pemikiran tokoh nusantara Teuku Muhamad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam menafsirkan hukuman potong tangan bagi pencuri. Penulis menterkaitkan makna pencuri dengan koruptor, melihat dari perkembangan zaman definisi koruptor disinonimkan dengan pencuri. Dengan itu metode penulisan ini menggunakan deskripsi-analisis yang bahan utamanya kitab tafsir “Al-Qur’anul Majid An-Nur”. Disamping menjelaskan secara detail, penulis juga menggunakan teori munasabah ayat al-Qur’an sebagaimana ciri khas dari tafsir An-Nur. Sehingga mendapatkan suatu pemahaman terkait hukuman potong tangan bagi pencuri. Menurut T.M Hasbi Ash-Shiddieqy hukuman potong tangan bagi pencuri boleh dijatuhkan ketika pencuri melakukan perbuatannya berkali-kali. Hal ini hakekatnya selaras dengan kasus korupsi sekarang yang mencuri uang dengan jumlah yang tinggi. Tetapi dalam pengambilan hukum harus dengan hasil yang matang. Disamping tulisan ini membahas masalah hukuman potong tangan, pembahasan keterkaitannya juga mengingatkan seorang hamba kepada sang Maha Khaliq
Studi Kritis atas Hadis “Sab’ah Ahruf”
The Hadis talking about “unzila al-Qur’an ‘ala sab’ah ahruf” has been interpreted by some Islamic scholars. Every scholar has different opinion. According to this, it is important to re-read for making clear what “sab’ah ahruf” meaning is. This paper would like to analyze this hadis on steps; external criticism, internal criticism and syarh al-hadis (understanding). In the conclusion, based on the al-Razi’s view, this mini-research shows that “sab’ah ahruf” is about the sevent differences in Quranic reading. Then, flexibility in reading the Quran to make it easier to be read indicates that Quran is possible to be interpreted in different approaches to make it easier to be understood
Teaching Indonesian-English Combined Task to Improve Students’ Skills in Writing English Sentences
This research aimed to find out the effectiveness of Teaching Indonesian-English Combined Task to improve students’ skills in writing English sentences. It was undertaken in PDF Ulya As’adiyah Putri Sengkang in Academic Year 2016/2017. It applied pre-experimental method. Writing test was employed as the instrument of the research. The population of this research was 16 students. The technique of data collection involved giving pre-test to know the writing skills gained previously of the students and post-test after giving the treatment to know how the skills of the students in writing English sentences by using Indonesian-English combined task. The result of the calculation of the students’ score indicated that the mean score of the students’ pre-test was (55.25) which was classified as fair classification and the mean score of the students’ post-test was (73,93) as good classification. The value of paired sample test for post-test was greater than the t-table. In short, teaching Indonesian-English combined task is effective to improve students’ skills in writing English sentences
The Students’ Skill in Performing A Speech in SMA Negeri 6 Pinrang
The aims from this research are to know how is students’ skill in performing a speech, and to know the students’ deprivation in performing a speech. This research is mix method design to answer the problem of this thesis. The research took place at SMA N 6 Pinrang. The population was the students from eleventh grade, the sample of this research were 34 students who are from class XI MIPA 1 by used purposive sampling technique. The researcher used test and interview as instrument for this research. The speech performance used manuscript speech delivery method. The results of this research find that the students’ skill in performing speech are not fully fill up with the criteria of assessment, where the mean score from the performance is 189.79. Additionally, in analyzing the interview, the researchers conclude that there are some deprivations when the students perform their speech, the factors that been found over the interview were the use of English as a language used it selves in performing a speech. Moreover, the use of vocal variety and physical movement also mentioned with the students as their deprivation in performing a speech
MEMBENTUK MANUSIA BERPARADIGMA QUR’ANI MELALUI TAFAKUR AYAT-AYAT ALLAH
Artikel ini mengkaji tentang upaya pembentukan manusia yang berparadigma qur’ani melalui tafakur ayat-ayat Allah, yakni: ayat-ayat Qauliyah, Afaqiyah dan Anfusiyah yang terkandung dalam QS. Fussilat [41]: 53. Cara pandang manusia modern yang dikenal dengan paradigma sains modern, turut andil dalam melahirkan kemerosotan moral manusia modern-kontemporer dan krisis ekologi global yang berdampak pada bencana alam di abad ke-21. Dari sini terlihat pentingnya reintegrasi ilmu atau sains modern dengan agama yang didasarkan pada wahyu al-Qur’an untuk melahirkan kembali manusia literat dan berparadigma qur’ani. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, artikel ini menyimpulkan bahwa Tafakur ayat-ayat Allah baik ayat-ayat qauliyah (al-Qur’an), afaqiyah (alam raya) dan anfusiyah (diri manusia) merupakan suatu metode dalam pembentukan manusia yang berparadigma al-Qur’an (Qur’anic theory building) yang digunakan dalam memahami realitas dan mengantarkan seseorang pada realitas tertinggi, yakni Sang Maha Benar (al-Haqq). Dalam aplikasinya, perumusan paradigma al-Qur’an dapat dilakukan melalui tiga tahapan, yakni tahapan pembacaan, pemahaman dan pengamalan
Tradisi Barzanji, Antara Sakral dan Profan di Masjid Raya Campalagian
Ada banyak cara atau metode memanggil orang-orang untuk melaksanakan panggilan ibadah. Salah satunya adalah tradisi barazanji yang rutin dilaksanakan setiap malam Jum’at setelah shalat magrib berjamaah. Agenda rutin ini merupakan praktek yang telah turun-temurun dititiskan oleh para ulama-ulama sebagai upaya mensyi’arkan Islam. Hal ini dalam rangka untuk memudahkan masyarakat dalam mempraktekkan konsep ibadah ritual maupun sosial. Ada yang berbeda ketika praktek tersebut kita bandingkan dengan apa yang umum terjadi di daerah lainnya. Di tengah pembacaan teks barzanji, terdapat momen sakral yang disebut mahallul qiyam (asarakah), di mana para peserta diwajibkan berdiri dengan sikap merendahkan hati. Ungkapan simbolik ini terangkum dengan hadirnya buah-buahan seperti pisang, langsat, mangga, dan rambutan, sebagai salah satu bagian terpenting dalam kegiatan tersebut dan buah akan dibagikan kepada para jama’ah setelah pembacaan doa barzanji. Tidak ada yang mengetahui persis kapan tradisi ini dimulai dan mengapa harus buah yang dihadirkan dalam praktek tersebut. Namun, yang terpenting dari tradisi ini, terselip nilai-nilai simbolisasi yang memberikan kesan yang luhur bahwa para ulama-ulama dahulu dalam memberikan akses terbuka untuk menyampaikan ajaran Islam, tidak hanya dengan cara metode skriptual atau fundamentalis, juga tidak mengabaikan apsek sosial masyarakat yang mengitarinya, tetapi keduanya menyatu dalam bingkai budaya dan nilai spiritual Islam
Signifikansi Linguistik Arab terhadap Ilmu-ilmu Syariat
Artikel ini membahas secara sinoptik tentang signifikansi linguistik Arab terhadap ilmu-ilmu syariat seperti ilmu tafsir, hadis, dan fikih. Sebagai konklusi bahwa linguistik Arab sangat fundamental serta memiliki impresi masif terhadap setiap disiplin ilmu syariat sehingga para ulama berkonsensus untuk menjadikannya sebagai salah satu atribut wajib seorang mujtahid. Sedangkan untuk mereka yang tidak mencapai level dan derajat ijtihad, yakni orang awam, maka kewajiban bagi mereka hanyalah mempelajari bahasa Arab dengan apa yang dengannya salat mereka sah seperti mengetahui serta memahami bacaan salat,zikir, takbir, dan sejenisnya. Dan tidak kalah penting bahwa sebab mula terjadinya heretic dan deviasi akidah adalah afrasia