Rumah Jurnal STAIN Majene
Not a member yet
395 research outputs found
Sort by
Teknologi Komunikasi: Komunikasi Massa dan Globalisasi
Teknologi komunikasi telah mengubah cara masyarakat mengakses, menyebarkan, dan memahami informasi melalui media digital yang bersifat cepat, interaktif, dan melampaui batas geografis. Media sosial, situs berita daring, dan aplikasi komunikasi menciptakan ruang baru untuk pertukaran informasi secara instan dan lintas budaya. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh teknologi komunikasi terhadap komunikasi massa, dampak ketimpangan digital terhadap partisipasi global, serta tantangan yang dihadapi media tradisional dalam bersaing dengan platform digital. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun teknologi komunikasi membuka peluang besar untuk konektivitas global dan distribusi informasi yang lebih luas, tantangan seperti penyebaran misinformasi, ketimpangan akses teknologi, rendahnya literasi digital, dan penurunan kualitas berita tetap memerlukan perhatian serius serta kolaborasi berbagai pihak untuk menciptakan ekosistem informasi yang inklusif dan berkelanjutan
Abd. Majid Tradisi Mappande manuq dalam Pernikahan Masyarakat Mandar Desa Arabua Kabupaten Polewali Mandar Perspektif Maqa>s}id al-Syari>‘ah
Penelitian ini membahas tentang Tradisi Mappande manuq dalam Pernikahan Masyarakat Mandar Desa Arabua Kabupaten Polewali Mandar Perspektif Maqa>s}id al-Syari>‘ah, tafaul dan ‘Urf. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengulas pelaksanaan dan makan filosofis tradisi mappande manuq kaitannya perkawinan Mandar. (2) Mengurai implikasi tradisi mappande manuq terhadap kehidupan rumah tangga masyarakat mandar. (3) Menjelaskan perspektif Maqa>s}id al-Syari>‘ah terhdap budaya mappande manuq dalam kaitannya dengan keharmonisan keluarga Mandar.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, data diperoleh melalui wawancara dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, data tersebut dianalisis dan ditelaah, kemuadian dibuat abstraksi dari semua hasil wawancara. Pemilihan informan dalam penelitian kualitatif ini menggunakan teknik purposive sampling, dengan penentuan informan yang ditetapkan secara sengaja dengan kriteria tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tradisi Mappande manuq melambangkan tanggung jawab calon suami melalui penyerahan bahan pangan kepada calon istri. Ritual ini mencerminkan harmoni adat dan agama, mengajarkan nilai keadilan, gotong royong, dan komitmen. Filosofinya, wanita diibaratkan ayam yang perbuatannya harus sesuai dengan ucapannya dan membutuhkan perhatian. (2) Tradisi Mappande manuq membangun rumah tangga berlandaskan tanggung jawab, harmoni, dan kebersamaan. Tradisi ini menanamkan komitmen pasangan, memperkuat peran suami sebagai penyedia, serta menciptakan dukungan keluarga dan masyarakat. Pelibatan keluarga besar menghasilkan modal sosial yang penting bagi stabilitas dan keberlanjutan rumah tangga. (3) Tradisi Mappande manuq di Desa Arabua merepresentasikan budaya kaya nilai spiritual dan sosial. Tradisi ini melestarikan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta sesuai Maqasid al-Syariah. Sebagai ekspresi budaya yang selaras dengan Islam, tradisi ini memperkuat optimisme, kohesi sosial, serta dukungan emosional dan spiritual dalam kerangka al-‘urf dan tafaul
Strategi Pengembangan Pasar Usaha Seni Lukisan Bakar (Boring Art ) Di Kabupeten Polewali Mandar
Kata Kunci :
strategi pengembangan pasar, seni lukisan bakar, pyrography, SWOT, ekonomi kreatif. Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan pasar usaha seni lukisan bakar Boring Art di Kabupaten Polewali Mandar. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis SWOT, melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Boring Art memiliki kekuatan utama berupa keunikan teknik produksi pyrography, daya tahan produk, dan posisi sebagai satu-satunya usaha sejenis di wilayah tersebut. Peluang yang dapat dimanfaatkan meliputi kerja sama dengan sektor pariwisata, tren dekorasi interior, serta meningkatnya minat masyarakat terhadap seni lokal. Namun, kelemahan yang dihadapi meliputi keterbatasan fasilitas, waktu produksi, dan promosi, sementara ancaman berasal dari fluktuasi harga bahan baku dan keterbatasan modal. Strategi yang direkomendasikan mencakup peningkatan promosi digital, penguatan kerja sama lintas sektor, inovasi produk, dan optimalisasi proses produksi. Temuan ini diharapkan menjadi acuan pengembangan usaha kreatif berbasis seni di daerah, khususnya dalam mendorong keberlanjutan dan daya saing Boring Art
Efektivitas Media Pembelajaran Memrise Dalam Pembelajaran Maharah Kitabah Bahasa Arab MTs Al-Hidayah Batu
This research aims to describe the effectiveness of Memrise learning media in learning Maharah Kitabah Arabic at MTs Al-Hidayah Batu. This is based on technological developments. To achieve the goal, the author uses quantitative research methods with experimental design. The research subjects in this study were class IX students of MTS SA AL-HIDAYAH Batu City. The population in this study was class IX students at MTS SA AL-HIDAYAH, Batu City, totaling 22 students. The instrument used is a test. Data resulting from statistical analysis used the t-test to determine the significance of the difference in pre-test and post-test averages. The results of the research show that the effectiveness of Memrise learning media is in increasing the ability to understand the Arabic book of MTs Al-Hidayah Batu. Based on the T test of 0.9781 > 0.05, it can be concluded that there is a significant difference between Increasing the Ability to Maharah Kitabah and the use of conventional media. Apart from that, the average difference between the pretest and posttest in the experimental class was 31.3636. Meanwhile, the average difference between the pretest and posttest in the control class was 36.8182. This indicates that the use of memrise learning media is an effective alternative for improving the ability to understand the Book of the Bible
Aspek Teologi Al-Asy’ariyah dalam Tafsir Mafâtîh al-Ghaib: Studi atas Pemikiran Fakhruddin Ar-Razi
This study examines aspects of Ash'ariyah theology in Fakhruddin Ar-Razi's Tafsîr Mafâtîh al-Ghaib, with the aim of exploring how Ar-Razi integrates ratios and revelations in interpreting Qur'anic verses related to theology. Fakhruddin Ar-Razi is a central figure in the Ash'ariyah theological tradition known for his ability to combine rational and textual approaches in his commentary. In his commentary, Ar-Razi divides the attributes of Allah into two main categories: the nature of salbiyah and the nature of thubutiyah, and explains that Allah's will is absolute and His actions are not bound by time. Ar-Razi also discusses ru'yatullah (seeing Allah), emphasizing that seeing God physically in this world is impossible, but it is possible to do so in the hereafter in a spiritual sense. Regarding the purpose of Allah's actions, Ar-Razi argues that Allah does not have a specific purpose in each of His actions, but that all His actions are based on wisdom and benefits that arise as a natural result of His will. The study also notes how Tafsîr Mafâtîh al-Ghaib combines peripatetic philosophy and Ash'ariyah theology, creating a powerful synthesis between ratio and revelation. Ar-Razi criticized the view of Mu'tazilah, who considered that Allah's actions must have a specific purpose, and asserted that Allah's actions remain legitimate and perfect without a specific purpose. Tafsîr Mafâtîh al-Ghaib is a monumental work in the study of Islamic theology, combining rationality with textual interpretation in understanding the theology of the Qur'an in depth.
 
INTERFERENSI BAHASA INDONESIA DALAM MAHARAH KALAM: STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN SYEKH HASAN YAMANI POLEWALI MANDAR
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk interferensi bahasa Indonesia dalam penggunaan bahasa Arab, khususnya dalam keterampilan berbicara (maharah kalam) di pondok pesantren Syekh Hasan Yamani. Interferensi terjadi ketika unsur-unsur bahasa ibu (B1), dalam hal ini bahasa Indonesia, memengaruhi produksi bahasa kedua (B2), yaitu bahasa Arab. Fenomena ini kerap dijumpai dalam komunikasi lisan para santriwati, baik dalam kegiatan formal seperti muhādatsah di kelas, maupun dalam praktik percakapan sehari-hari di lingkungan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi dan wawancara di pondok pesantren Syekh Hasan Yamani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk interferensi yang paling dominan meliputi interferensi fonologis (pelafalan huruf-huruf Arab yang tidak tepat), serta sintaksis (struktur kalimat Arab yang terpengaruh tata bahasa Indonesia) dan juga semantik (penggunaan kosakata yang tidak tepat). Faktor-faktor penyebab interferensi meliputi pengaruh bahasa Indonesia, serta kurangnya praktik berbicara secara intensif, keterbatasan penguasaan kosakata bahasa Arab. Temuan ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengajar bahasa Arab di pondok pesantren Syekh Hasan Yamani dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih komunikatif dan menciptakan lingkungan yang kondusif, serta terus menerus mengoreksi kesalahan bahasa santriwat
Konsep Komunikasi Dalam Perspektif Al-Qur’an Studi Kasus Manajemen Pendidikan Islam Di Sekolah
This research aims to analyze the concept of communication in the Al-Qur'an, especially those contained in Q.S. An-Nahl verse 125, Q.S. An-Nisa verses 9 and 63, Q.S. Al-Ahzab verse 32, Q.S. Al-Isra verse 23, as well as Q.S. Thoha verse 44, and applying it to the management of Islamic education. The focus of the study is to explore Islamic communication principles that can be applied in building a harmonious, ethical and effective educational environment. The research method used is library research with a thematic interpretation approach. These verses are analyzed to identify Islamic communication values such as wisdom, empathy, politeness and respect. The data collected comes from tafsir books, Islamic education literature, and other relevant research. The research results show that each verse makes an important contribution in forming communication strategies in Islamic education management. Q.S. An-Nahl verse 125 emphasizes a wise approach, polite dialogue and good advice, which are relevant in guiding students. Q.S. An-Nisa verses 9 and 63 emphasize empathy and gentleness in communication, which helps create harmonious relationships between educators, students and other stakeholders. Q.S. Al-Ahzab verse 32 teaches the importance of maintaining politeness in social interactions, especially between genders, which can be applied in communication ethics in educational environments. Q.S. Al-Isra verse 23 teaches respect in communication, especially towards authority figures such as teachers and parents. Meanwhile, Q.S. Thoha verse 44 emphasizes gentleness in conveying messages even in difficult situations, which is relevant in handling conflicts in educational institution
Etika Kecerdasan Buatan (AI) dalam Perspektif Al-Qur’an Kajian Tafsir Kontemporer M. Quraish Shihab: Analisis tentang Etika kecerdasan buatan AI dalam Perspektif Al-Qur'an menurut kajian tafsir kontemporer M. Quraish Shihab
Kemajuan teknologi modern termasuk AI sering kali menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual dan etika Qur’ani. Karena itu, muncul kebutuhan mendesak untuk meninjau fenomena AI melalui lensa etika Al-Qur’an agar perkembangan teknologi tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Penelitian metode library research dan pendekatan tafsir maudhu‘i yang dipadukan dengan analisis etik-teologis. Sumber data dalam penelitian ini meliputi Al-Qur’an dan Tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab serta buku dan jurnal yang membahas etika Islam, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI). Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan langkah kategorisasi ayat-ayat serta interpretasi makna etisnya dalam konteks fenomena AI. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa Al-Qur’an selaras dengan pengembangan kecerdasan buatan dengan adanya perintah kepada manusia untuk mengamati, meneliti, dan menggunakan akal untuk memahami ciptaan Allah. Prinsip-prinsip etika al-Qur’an menjelaskan bahwa penggunaan teknologi harus didasarkan pada prinsip tanggungjawab, keadilan, keseimbangan, kebaikan dan keihlasan. Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab memberikan dasar yang kuat karena seluruh penafsirannya sejalan dengan kesimpulan bahwa AI hanya dapat diterima dalam perspektif Qur’ani apabila dikembangkan berdasarkan akal yang tercerahkan, dijalankan dengan etika yang kuat, dan digunakan untuk memperkuat keadilan serta kesejahteraan manusia. Tafsir al-Misbah memberikan kerangka hermeneutis yang relevan untuk memastikan bahwa inovasi seperti AI tetap berada dalam koridor nilai-nilai ilahiah yang menuntun manusia menuju kebaikan dan kemanusiaan. Dengan demikian, AI harus menjadi inovasi yang selaras dengan nilai-nilai moral dan tujua
Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 119/PUU-XXIII/2025 Tentang Perlindungan Terhadap Aktivis Lingkungan Hidup Perspektif Siyasah Qadhaiyyah
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 119/PUU-XXIII/2025 yang menafsirkan kembali Pasal 66 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Putusan ini menjadi penting dalam memperluas perlindungan hukum bagi para aktivis lingkungan hidup melalui prinsip Anti-SLAPP terhadap partisipasi publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan metode deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Mahkamah Konstitusi melalui tafsir progresif terhadap Pasal 66 UU PPLH memperluas makna frasa “setiap orang” sehingga mencakup korban, pelapor, saksi, ahli, dan aktivis lingkungan yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup; 2) Putusan MK Aquo menegaskan peran Mahkamah Konstitusi sebagai peradilan konstitusi yang hijau (green constitutional court) dengan menjamin perlindungan terhadap hak partisipasi publik dan mengutamakan kelestarian alam, namun tantangan terletak pada implementatsi putusan; 3) Putusan MK Aquo sejalan dengan konsep siyāsah qaḍha’iyyah, terutama dengan nilai-nilai yang dianut oleh peradilan islam wilayah al-maẓhalim serta relevan dengan prinsip maqasid syariah, yang menekankan perlindungan hak publik sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemaslahatan
ألفاظ الاستفهام الخارجة عن غرضها الأصلي في الجزء الثلاثين من القرآن (دراسة بلاغية)
لهذا البحث هدفان، وهما: 1) ذكر ألفاظ الاستفهام الخارجة عن غرضها الأصلي في الجزء الثلاثين من القرآن. 2) وبيان أسباب تخرجها عن غرضها الأصلي إلى أغراض أخرى. وقد سلك منهج تحليل المحتوى (Metode Analisis Konten) من خلال كتب التفاسير البلاغية بمقاربة تفسيرية بلاغية (Pendekatan Interpretatif Sastrawi)، وقد تم جمع البيانات من خلال القراءة الفاحصة في كتب التفسير اللغوية لمعرفة ألفاظ الاستفهام الخارجة عن غرضها الأصلي ثم عرضها في صورة وصفية ثم تحليلها تحليلا توضيحيا مقارنا (Analisis Eksplanatori Komparatif) لمعرفة الأسباب التي تخرجها عن غرضها الأصلي. وللبحث نتيجتان، وهما: 1) وجود عشرة (10) ألفاظ الاستفهام الخارجة عن غرضها الأصلي في الجزء الثلاثين من القرآن بداية من سورة الشرح ونهاية إلى سورة الماعون. 2) ووجود ثلاثة أسباب أخرجت ألفاظ الاستفهام عن غرضها الأصلي إلى أغراض أخرى، وهي: السياق، والتأويل البياني، والمجاز. ووسع مساهمتهما كامن في إثراء الدراسات البلاغية وبالأدق في علم المعاني، ومثل ذلك في إثراء الدراسات التفسيرية والقرآنية وبالأخص التفسير البلاغي