Jurnal Program Studi Universitas Pertahana
Not a member yet
1215 research outputs found
Sort by
PENGGUNAAN KEKUATAN KOMANDO OPERASI KHUSUS TENTARA NASIONAL INDONESIA DALAM MENGATASI TERORISME DI INDONESIA
Terorisme adalah ancaman asimetris dan merupakan salah satu implikasi dari kemajuan global yang memberi dampak negatif atau buruk pada tatanan hidup secara global. Di Indonesia, pembentukan Komando Operasi Khusus Tentara Nasional Indonesia (Koopsus TNI) merupakan salah satu upaya memerangi dan menumpas terorisme yang mengganggu tatanan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis aksi terorisme dan pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menangani terorisme di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan melakukan wawancara secara mendalam terhadap narasumber terutama pelibatan unsur TNI dalam menangani terorisme. Teori yang digunakan adalah teori strategi, teori kedaulatan, teori terorisme, taori pengembangan organisasi, dan konsep keamanan komprehensif. Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa pertama, ancaman aksi terorisme di Indonesia sudah sangat meresahkan karena tujuan dan sasarannya menyebarkan ideologi yang mengganggu negara. Kedua, pembentukan Komando Operasi Khusus Tentara Nasional Indonesia merupakan jalan yang tepat untuk menangani aksi terorisme itu. Ketiga, pelibatan Komando Operasi Khusus Tentara Nasional Indonesia (Koopsus TNI) sudah menjadi tepat dan merupakan keharusan, karena mengingat terorisme telah mengganggu kedaulatan negara dan keutuhan bangsa. Strategi pelibatan Koopsus TNI dinilai telah tepat dan benar dalam menangani aksi terorisme sehingga ancaman asimetris yang dapat membahayakan kedaulatan negara itu dapat ditindak dan ditumpas maka terciptalah suasana yang aman dan nyaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, memperkuat jalinan kerja sama antar kementerian dan lembaga sebagai pembuat kebijakan, serta TNI dan pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah merupakan pelaksana operasional serta semua aturan pendukung, sehingga ancaman terorisme dapat diatasi.Kata Kunci: Operasi, Pasukan Khusus, Pelibatan, Strategi Pertahanan, Terorism
PENILAIAN RISIKO SERANGAN SIBER PADA SISTEM MANAJEMEN KEAMANAN INFORMASI PT. UAV
Serangan siber merupakan salah satu ancaman nyata yang muncul akibat perkembangan lingkungan strategis dunia yang semakin dinamis dan kompleks. Di Indonesia, serangan siber tidak hanya menyerang infrastruktur pemerintahan saja, namun juga menyerang infrastruktur kritis nasional lainnya, termasuk: PT. UAV yang merupakan salah satu industri pertahanan yang telah bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia dalam memproduksi Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan berupa Pesawat Terbang Tanpa Awak. Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis dan mengevaluasi risiko serangan siber pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi PT. UAV. Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian kualitatif dengan menggunakan desain penelitian studi kasus. Pada penelitian ini, proses pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui tiga tahap, yaitu: kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil identifikasi risiko mengungkapkan bahwa terdapat 10 jenis risiko serangan siber yang dapat mengeksploitasi SMKI PT. UAV, yaitu: 1) risiko serangan siber terhadap perangkat keras berupa kegiatan jamming dan network intrusion, dan 2) risiko serangan siber terhadap perangkat lunak berupa serangan Distributed Denial of Service, SQL injection, malware/virus, defacement, spam, worm Stuxnet, ransomware WannaCry dan penyusupan siber. Setelah dianalisis lebih lanjut, dari kesepuluh risiko serangan siber tersebut ternyata terdapat dua jenis risiko serangan siber yang diperkirakan ‘Mungkin Sekali’ terjadi dan akan memberikan dampak ‘Tinggi’ pada aktifitas bisnis yang sedang digeluti oleh PT. UAV. Selain itu, juga ditemukan tiga jenis risiko serangan siber yang telah memiliki skala risiko ‘5’. Setelah dievaluasi, ketiga jenis risiko tersebut ditentukan sebagai prioritas utama dalam proses pengendalian risiko yang harus dilaksanakan oleh PT. UAV. Berdasarkan hasil temuan tersebut, maka peneliti merekomendasikan kepada manajerial PT. UAV untuk segera menyusun standard operasional prosedur dalam rangka untuk menangani risiko serangan siber yang telah dinilai pada penelitian ini.Kata Kunci: Industri Pertahanan, Penilaian Risiko, Manajemen Pertahanan, Pertahanan Siber, Serangan Siber, Sistem Manajemen Keamanan Informasi
PENGARUH LUAS SAWAH, PERSEPSI DANA DESA DAN KETAHANAN PANGAN TERHADAP PENDAPATAN PETANI TAHUN 2017 (STUDI DI DESA GUNUNGREJO, KECAMATAN SINGOSARI, KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR)
Akses lahan sawah pemuda di Gunungrejo sangat terbatas, sehingga mereka memilih pekerjaan diluar pertanian. Keadaan ini membuat petani memiliki akses lebih terbuka terhadap lahan karena dapat mengelola lahan sawah yang ditinggalkan anak-anaknya. Sedangkan pertanian Gunungrejo telah menggunakan sistem irigasi yang dibangun menggunakan pemanfaatan dana desa. Lalu apakah pembangunan irigasi mampu meningkatkan produktifitas pertanian menurut persepsi petani. Peningkatan produktifitas petani dapat meningkatkan pendapatan petani sehingga mampu meningkatkan akses diversifikasi makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas sawah, persepsi dana desa dan ketahanan pangan terhadap pendapatan petani di Gunungrejo. Penelitian menggunakan data primer yang didapatkan dari hasil wawancara kepada 125 petani dan data sekunder didapatkan dari Kantor Kelurahan Gunungrejo. Penelitian menggunakan model analisis regresi berganda. Variabel terdiri dari Luas sawah (X1), persepsi dana desa (X2) dan ketahanan pangan (X3), dan pendapatan petani (Y). Hasil uji-t menunjukkan bahwa luas sawah (X1) dan ketahanan pangan (X3) memiliki pengaruh terhadap pendapatan petani. Sedangkan persepsi dana desa tidak memiliki pengaruh terhadap pendapatan petani. Hasil uji-F menunjukkan bahwa luas sawah (X1), persepsi dana desa (X2) dan ketahanan pangan (X3) berpengaruh secara bersama-sama terhadap pendapatan petani (Y) sebesar 57.5%, sisanya sebesar 42.5% dipengaruhi oleh variabel lain diluar model. Diharapkan pemerintah desa dapat melihat potensi desa, sehingga pemberdayaan desa dengan memanfaatkan dana desa dapat dikelola secara maksimal dan masyarakat juga dapat merasakan manfaat yang didapatkan dari program pemberdayaan melalui penyuluhan pertanian.Kata Kunci: Luas Sawah, Persepsi Dana Desa, Ketahanan Pangan, Pendapatan Petan
KAPASITAS KELEMBAGAAN EKONOMI DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA UNTUK MEWUJUDKAN KETAHANAN EKONOMI DAERAH (STUDI PADA DESA WISATA TEMBI KABUPATEN BANTUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)
Desa Wisata merupakan salah satu kebijakan strategis dalam pengembangan destinasi dan sektor pariwisata yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata. Pengembangan desa wisata diharapkan dapat menarik minat wisatawan dengan kekhasan daerah seperti kebudayaan, kodisi alam atau wisata sejarah yang ditawarkan. Pengembangan desa dengan memberdayakan masyarakat setempat dapat memberikan kesempatan untuk turut berpartisipasi aktif dalam membangun dan mengembangkan potensi wisata yang ada. Sehingga pengembangan desa wisata diharapkan dapat berdampak positif terhadap keberlanjutan ekonomi dan pembangunan serta menjadi langkah alternatif untuk mencapai kesejahteraan. Pengembangan desa wisata salah satunya dipengaruhi oleh adanya kelembagaan di desa wisata tersebut. Penelitian ini menganalisis kapasitas kelembagaan ekonomi dan struktur kelembagaan ekonomi dalam pengembangan desa wisata untuk mewujudkan ketahanan ekonomi daerah studi pada Desa Wisata Tembi, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur kelembagaan yang digunakan desa wisata dan kapasitas kelembagaan ekonomi dalam pengembangan desa wisata. Diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan ketahanan ekonomi daerah. Penelitian dilakukan melalui wawancara, pengamatan dan penggunaan dokumen yang ada. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur kelembagaan telah menggambarkan program dan tujuan pengembangan desa wisata, kapasitas kelembagaan ekonomi telah menunjukkan kompetensi yang optimal dalam pengelolaan potensi wisata, dan kompetensi pokdarwis dalam memanfaatkan potensi lokal meliputi kekayaan alam didukung sarana dan prasaran sudah maksimal sehingga dapat memperluas kesempatan kerja serta peningkatan kapasitas sehingga meningkatkan perwujudan ketahanan ekonomi daerah.Kata kunci: kapasitas, kelembagaan ekonomi, desa wisata, ketahanan ekonomi daerah
PEMELIHARAAN OTOMOTIF TANK AMX-13 DI BATALYON KAVALERI 2 / TANK KODAM IV / DIPONEGORO UNTUK MEMPERPANJANG USIA PAKAI
TNI adalah alat negara bidang pertahanan yang memiliki tugas pokok menegakkan kedaulatan, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, baik Operasi Militer Perang dan Operasi Militer Selain Perang. TNI AD melaksanakan tugas TNI matra darat di bidang pertahanan dengan fungsi teknisnya terbagi kedalam satuan tempur, satuan bantuan tempur dan satuan bantuan administrasi yang dibedakan pada jenis kesenjataan yang diawakinya. Sedangkan pemeliharaan materiil TNI AD terbagi kedalam jenis: kendaraan, senjata dan alat optik, munisi dan teknologi mekanik. Satuan Yonkav-2/TANK “Turangga Ceta” masih menggunakan kendaraan tempur yang tergolong berusia tua, maka pemeliharaannya harus sesuai aturan agar diperoleh usia pemakaian yang lama. Tugas utama sebagai satuan penggempur dan pengamanan obvitnas, VIP/VVIP dan wilayah. Sedangkan fungsi organik menyelenggarakan kegiatan intelijen, operasi, sumber daya manusia, logistik dan teritorial non kowil guna mendukung tupok Kodam IV/Diponegoro. Dengan adanya hal tersebut kita akan menganalisa pada kebijakan dan prosedur serta kendala yang timbul pada tingkat pemeliharaan otomotif Tank AMX-13, sedangkan metode yang dipergunakan penelitian kualitatif dengan deskriptif analisis. Karena pemeliharaan merupakan strategi mendukung kinerja yang terbagi kedalam tiga pemeliharaan, yaitu: reaktif, proaktif dan agresif. Hal ini dikarenakan Yonkav-2/TANK “Turangga Ceta” mampu melaksanakan pemeliharaan yang menjadi tanggungjawabnya terhadap kendaraan tempur yang tergolong cukup tua tersebut, tetapi satuan telah mampu melaksanakan pemeliharaan sampai Tingkat - 4. Ini disebabkan adanya kemauan dan kemampuan yang dimiliki, dimana prajurit mampu melaksanakan pemeliharaan yang melebihi kapasitas (over prestasi) tetapi hanya dilakukan dalam keadaan darurat saja. Apalagi pemeliharaan berhubungan erat dengan suku cadang, sehingga perlu motivasi, inovasi dan kemauan dari prajurit jika ada kendala yang muncul akan cepat diatasi oleh tim pemeliharaan. Hal ini perlu didukung dengan adanya suatu sertifikasi Standart Operating Procedure (SOP) sebagai payung hukum bagi personel satuan pemeliharaan dan satuan pemakai dalam melaksanakan pemeliharaan, baik untuk Tank AMX-13 maupun untuk kendaraan tempur lapis baja jenis baru nantinya.Kata Kunci: Pemeliharaan, Otomotif, Kavaleri, Tank AMX-13, Alusist
ANALISIS REQUIREMENT DETEKTOR BOM BERBASIS QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) SEBAGAI ANTISIPASI ANCAMAN TERORISME PADA PELAYANAN MASYARAKAT
Terorisme merupakan ancaman nyata, yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, bersifat random, indiscriminate, dan non-selective serta mengandung unsur kekerasan dan kejahatan. Permasalahan penelitian yaitu tentang kebutuhan pengguna untuk desain konseptual detektor bom sebagai pertahanan dan keamanan nasional. Tujuan penelitian untuk menganalis kebutuhan operasional dan desain konseptual dalam bentuk desain konfigurasi. Menggunakan toeri design engineering dan life cycle model untuk mendapatkan kebutuhan operasi dengan metode wawancara, observasi dan studi literatur. Teknik analisis menerapkan Quality Function Deployment (QFD). Perhitungan analisa menggunakan Quality Function Deployment (QFD) menghasilkan Benchmark Performance menunjukkan hasil Power Suplai, Deteksi bahan peledak (explosive), Deteksi logam mencapai 84,32 % menunjukan tingkat prioritas kepentingan sangat tinggi dan memberikan komponen yang berkualitas. Jamming 74.50 % dengan tingkat kepentingan yang tinggi dengan komponen yang berkualitas. Power Suplay mencapai 64.05 % dengan kepentingan yang cukup tinggi dengan komponen yang berkualitas. Processing Device dan Receiver Device mencapai hasil 50.32 % dengan kepentingan cukup tinggi dengar fitur-fitur yang detail. Peringatan dini (Sirine), Jaringan Penghubung, dan Sensitifitas baik menunjukkan hasil di 32-39 %.Kata Kunci: Requirement, Detektor Bom, QFD, Terorisme, Pelayanan Masyarakat
ANALISIS MULTIPLIER EFFECT TEKNOLOGI SIMULATOR PESAWAT TEMPUR GENERASI 4.5 GUNA MENDUKUNG SISTEM PERTAHANAN NEGARA
Salah satu prinsip yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan industri pertahanan yaitu kemandirian, kemandirian dalam industri pertahanan bertepatan dengan perkembangan fondasi yang kuat untuk mempertahankan keberlanjutan dan mencegah runtuhnya suatu negara, Indonesia dan Korea Selatan pada tahun 2009 menandatangani kerja sama berkaitan dengan pengembangan pesawat tempur, dalam proses akuisisi teknologi pertahanan, ketersediaan teknologi adalah persyaratan utama dalam pembangunan, namun dalam perkembangannya sering kali terdapat permasalahan seperti lisensi teknologi, terutama critical technology elements (CTE) yang merupakan teknologi kunci yang memainkan peranan penting dalam pengembangan teknologi. Teknologi simulator adalah salah satu teknologi kunci yang digunakan dalam berbagai aspek penerbangan, selain itu dibutuhkan sebuah sosialisasi terkait manfaat dan effect dari pengembangan proyek pesawat tempur. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis multiplier effect. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed-method based dengan menggunakan tools PEST analysis yang diilustrasikan dengan PESTLEweb yang mana kemudian dijadikan referensi strategi pengembangan teknologi simulator pesawat tempur generasi 4.5, Hasil studi menunjukkan terdapat beberapa efek yang ditimpulkan dari adanyya pengembangan teknologi simulator baik dalam bidang politik, ekonomi, social, maupun teknologi yang dapat menukung kemandirian industry pertahanan dan multiplier effect dari pengembangan teknologi terhadap bidang lain.Kata Kunci: Critical Technology Elements, Multiplier effect, Pesawat Tempur Generasi 4.5, PEST Analysis, Teknologi Simulato
STRATEGIC PLANNING MEMPERTAHANKAN OPINI WTP BPK RI MENUJU GOOD GOVERNANCE DI TNI AD
Abstrak-TNI AD mempunyai komitmen yang kuat untuk melaksanakan reformasi birokrasi, guna mendukung kebijakan pemerintah good governance. Namun terdapat sebuah fenomena TNI AD mendapatkan Opini WDP (Wajar Dengan Pengecualian) dari BPK RI pada 2013-2017, dan WTP namun dengan Penekanan Suatu Hal (PSH) pada 2018. Atas dasar pemikiran dan pertimbangan tersebut, peneliti berkeinginan untuk meneliti lebih lanjut dengan menggunakan metode kualitatif yang merupakan langkah dan cara dalam mencari, merumuskan, menggali data, menganalisis, membahas dan menyimpulkan masalah dalam penelitian. Hasil Penelitian menunjukkan perlu adanya Strategic Planning dalam bidang Kebijakan Pimpinan, organisasi, Personel, APIP. Tujuan dari Penelitian ini untuk Mendeskripsikan dan Menganalisis Strategic Planning TNI AD Mempertahankan Opini WTP BPK RI Menuju Good Governance. Langkah yang dapat dilaksanakan Kebijakan Pimpinan dalam mendorong Opini BPK RI diantaranya dengan mengadakan MoU dengan BPKP, Penyiapan Kasatker dalam menghadapi DIPA Satker Daerah Serta Revisi Regulasi yang tidak aplikatif yang kesemuanya berbasis akan teknologi. Dalam Aspek Organisasi, perlu Role Model Organisasi yang mendukung Opini WTP BPK RI antara lain Validasi, Pembentukan Badan Perencanaan Pusat, Disadaad (Dinas Pengadaan AD) dan UAKPB (Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Bararang) tingkat Satker dan Efisiensi Organisasi. Dalam segi personel diperlukan Sistem Perekrutan Berbasis Keilmuan, Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan dengan Penataran dan Pendidikan serta Jenajng Karier yang linier bagi Pejabat Perencanaan . Untuk bidang APIP, diperlukan adanya Pemeriksaan berbasis Teknologi serta Sinkronisasi Metode Pemeriksaan dengan BPK RI serta Peningkatan Kemampuan APIP terutama di wilayah. Kesimpulan dengan Strategic Planning dalam bidang Kebijakan Pimpinan,Organisasi, Personel dan APIP akan dapat mendorong Opini WTP BPK RI sehingga manajemen TNI AD menjadi lebih baik menuju Good Governance yang menjadi tuntutan Pemerintah..Kata Kunci: Strategic Planning, Opini WTP BPK RI, Good Governanc
PENDEKATAN SISTEM FUZZY DALAM PENENTUAN KELAYAKAN RUTE EVAKUASI BENCANA BANJIR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
Kota Semarang adalah salah satu benchmark untuk tata kelola perubahan iklim di Indonesia. Diketahui bahwa pada sebagian besar zona Semarang Bawah berisiko terhadap banjir yang disebabkan karena memiliki ketinggian permukaan tanah rendah. Dalam situasi banjir, diperlukan penyusunan rencana evakuasi sebagai langkah untuk membantu penduduk terdampak banjir. Evakuasi penduduk dilaksanakan dari permukiman menuju kantor kelurahan. Ketidaktahuan pada kondisi jalan dapat menghambat proses evakuasi. Maka dari itu, disamping memperhatikan perencanaan rute evakuasi dari jarak dan kapasitas jalan, juga melihat kondisi kualitas jalan. Dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG), perencanaan rute dapat lebih cepat dilakukan. Proses penentuan rute evakuasi menggunakan ArcGIS dan menggunakan metode fuzzy Sugeno untuk memperoleh bobot ruas jalan dan mengetahui kelayakan ruas jalan yang ingin digunakan sebagai rute evakuasi. Hasil yang diperoleh adalah bahwa sebagian besar ruas jalan Semarang Bawah 89,02% layak jika dimanfaatkan sebagai rute evakuasi, lalu 10,98% bersyarat. Ketidak lengkapan data jalan membuat penentuan rute evakuasi terhambat
STRATEGI MAINTENANCE, REPAIR DAN OVERHAUL (MRO) KAPAL PERANG TNI AL DALAM MENDUKUNG KESIAPAN OPERASI LAUT DI FASHARKAN LANTAMAL V SURABAYA
Peran TNI AL adalah sebagai komponen utama pertahanan matra laut untuk menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan politik dalam menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan wilayah NKRI, serta melaksanakan Operasi Militer untuk Perang dan Operasi Militer Selain Perang. Dalam melakukan tugas pokoknya unsur-unsur yang digunakan seperti kapal perang sering mengalami kendala terkait Maintenance, Repair dan Overhaul engine-nya pada saat mengalami trouble atau kerusakan, sehingga sangat mempengaruhi terhadap tugas operasi yang diembannya. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu (1) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi alasan perlunya pengembangan Maintenance, Repair, dan Overhaul (MRO) KRI bengkel mesin Fasharkan Lantamal V Surabaya; (2) menentukan pembobotan prioritas dan rencana strategi pengembangan MRO KRI dilaksanakan oleh Fasharkan Lantamal V Surabaya untuk mendukung kesiapan operasi laut. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mix method. Data yang ditampilkan berbentuk tabulasi atau tabel dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan Delphi-AHP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengembangan MRO kapal perang TNI AL dalam mendukung operasi laut di bengkel mesin Fasharkan Surabaya, dilakukan beberapa tahap yaitu dimulai dari tahap identifikasi alasan strategi pengembangan menggunakan Analisis Delphi, sehingga didapatkan beberapa kriteria pengembangan dan selanjutnya dilakukan pembobotan urutan kriteria dengan AHP (Analitical Hierarchy Process). Adapun yang menjadi prioritas utama dalam strategi pengembangan ini adalah lingkup teknologi yang meliputi kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam upaya pengembangan MRO KRI oleh bengkel mesin di Fasharkan Lantamal V Surabaya, sehingga strategi yang harus dilakukan dengan cara bekerjasama dengan perguruan tinggi terkait dengan cara mengadakan kursus langsung di Fasharkan Lantamal V Surabaya baik teori maupun praktek