UMI Medical Journal
Not a member yet
153 research outputs found
Sort by
Analisis Antibodi Ireguler pada Reaksi Inkompatibel Darah Transfusi
Latar belakang: Terjadi kasus inkompatibilitas karena pemberian darah yang inkompatibel dapat disebabkan oleh dua hal, yang pertama akibat ketidakcocokan golongan darah saat melakukan transfusi sehingga terjadi reaksi hemolisis intravaskular akut dan juga dapat disebabkan oleh reaksi imunitas antara antigen dan antibodi karena adanya golongan darah lain atau antibodi ireguler. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis antibodi ireguler pada hasil inkompatibilitas darah transfusi uji silang serasi darah transfusi.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan metode cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 70 sampel inkompatibel uji silang serasi yang ditemukan di Unit Bank Darah RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dan Unit Donor Darah PMI Makassar. Dilakukan pemeriksaan golongan darah dan uji silang serasi jika sampel yang telah di lakukan uji silang serasi dan hasilnya terjadi reaksi inkompatibel golongan darah maka sampel tersebut diambil kemudian di lanjutkan ke Direct antiglobulin test. Sampel yang Direct antiglobulin test positif dilanjutkan dengan pemeriksaan monospesifik yaitu tes IgG dan C3d. Analisis data menggunakan Metode analitik, yaitu dengan uji Chi Square untuk menilai variabel yang berhubungan dengan antibodi ireguler.
Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa, dari 70 sampel yang mengalami reaksi inkompatibilitas ternyata hanya 7 sampel yang positif memiliki antibodi ireguler, di antaranya Anti E 3 (4,29%), anti CDEd 1 (1,42%), dari ketujuh sampel yang positif terdapat 2 (2,86%) sampel yang positif semua pada sebelas sel panel tersebut dan terdapat 1 (1,42%) sampel yang positif pada sel panel kecil (sel 1 dan sel 2) untuk skrining antibodi.
Kesimpulan: Kejadian inkompatibel golongan darah sebagian besar bukan karena adanya antibodi ireguler, hanya sekitar 10% inkompatibel akibat antibodi ireguler terjadi maka skrining antibodi ireguler belum menjadi urgensi di setiap Unit pelayanan Transfusi darah maupun di unit Bank darah Rumah sakit
Pengaruh Latihan Fisik terhadap Penyakit Diabetes Melitus Tipe II: Fokus pada Telomer
Telomer merupakan bagian penting dalam penyimpanan informasi dalam kromosom kita. Setiap pembelahan sel, telomer akan mengalami pemendekkan dan akan memberikan suatu signal bahaya pada saat mencapai batas tertentu. Selain dari pemendekkan sel, ada berbagai macam hal yang bisa menyebabkan pemendekan telomer. Gaya hidup sedenter, kebiasaan merokok, indeks masa tubuh yang tinggi, dan penyakit-penyakit kronis lain sering memberikan efek pada panjang telomer. Banyak penelitian yang menyatakan Latihan fisik dapat berpotensi untuk menahan proses pemendekkan telomer. Ada berbagai mekanisme molekuler yang terkait dengan permasalahan maupun solusi yang ada dalam latihan fisik tersebut. Pencegahan penyakit metabolik telah banyak dikaitkan dengan latihan fisik. Penuaan sel yang dapat ditahan oleh aktivitas fisik maupun latihan fisik dapat menjadi salah satu jalur yang dapat dipikirkan mengenai mekanisme molekuler tersebut
Pengaruh Ekstrak Daun Salam (Eugenia polyantha) terhadap Kadar Glukosa Darah pada Mencit (Mus Musculus)
Latar belakang: Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yangterjadi karena kelainan sekresi insulin, kinerja insulin, atau kedua-duanya. Menurut Kementerian KesehatanRepublik Indonesia (Kemenkes RI) tahun 2010, diperkirakan terus meningkat sampai 21,3 juta orang pada tahun 2030. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh ekstrak daun salam atau Eugenia polyantha terhadap kadar glukosa darah pada mencit atau Mus musculus.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experiment dengan rancangan pre-test and post-test controlgroup design, dimana pengukuran kadar glukosa darah pada mencit dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Percobaan ini menggunakan mencit sebanyak 25 ekor, dibagi dalam 5 kelompok, masing-masing terdiri dari 5 ekor mencit. Kelompok 1 (kontrol negatif) diberi diet standar, kelompok 2 (kontrol positif) diinduksi aloksan monohidrat dosis 70 mg/kgBB, kelompok 3 diberi ekstrak daun salam dosis 250 mg/kgBB, kelompok 4 diberi ekstrak daun salam dosis 500 mg/kgBB, dan kelompok 5 diberi ekstrak daun salam dosis 1000 mg/kgBB.Hasil: Ekstrak daun salam secara signifikan (p < 0.05) dapat menurunkan kadar glukosa darah pada mencit. Dosis 250 mg/kgBB dapat menurunkan glukosa darah sampai kadar rata-rata 115,40 mg/dL, dosis 500 mg/kgBB yaitu 115,00 mg/dL, dan dosis 1000 mg/kgBB yaitu 91,40 mg/dL.Kesimpulan: bahwa ekstrak daun salam dapat menurunkan kadar glukosa darah pada mencit dan efektivitasekstrak daun salam lebih baik pada dosis 1000 mg/kgBB dibandingkan dosis 250 mg/kgBB dan dosis 500mg/kgBB
Patofisiologi Penurunan Kognitif pada Penyakit Parkinson
Penyakit Parkinson (PD) merupakan penyakit yang mengganggu pergerakan dan merupakan penyakit degeneratif sistem saraf pusat yang paling umum setelah Alzheimer. Parkinson biasanya terjadi pada usia 65 hingga 70 tahun. Kasus sebelum usia 40 tahun terjadi kurang dari 5%. Patologi pada PD ditandai oleh hilangnya intervasi neuron dopaminergik di subsantia nigra. Neurodegerasi PD tidak terbatas hanya pada neuron dopaminergik di substantia nigra, namun juga melibatkan sel-sel yang berlokasi di area otak lain yang saling terkoneksi. Gangguan motorik terjadi pada PD. Namun, seiring dengan perkembangan penyakit, dapat terjadi gangguan non-motorik seperti penurunan indra penciuman, disfungsi otonom, nyeri, kelelahan, gangguan tidur, gangguan kognitif dan psikiatrik. Penurunan kognitif, dalam bentuk penurunan fungsi eksekutif, visuospasial dan memori, serta demensia, merupakan aspek gangguan non-motorik dari penyakit parkinson. Hal tersebut berefek secara signifikan terhadap kualitas hidup penderita PD. Pemahaman terkait patologi yang mendasari penurunan kognitif pada PD memungkinkan dilakukannya intervensi dini dalam pencegahan perkembangan PD yang mengarah pada gangguan non-motorik. Neuropatologis utama PD adalah keberadaan Lewy bodies yang mengandung α-synuclein dan hilangnya neuron dopaminergik di substantia nigra, yang bermanifestasi penurunan fasilitasi gerakan sadar. Sejalan dengan perkembangan PD, patologi Lewy bodies menyebar ke daerah neokortikal dan kortikal. Neurodegenerasi daerah kortikal dan limbik yang luas, deposisi Lewy bodies, neuroinflamasi, small vascular disease (SVD), dan faktor genetik terlibat dalam penurunan fungsi kognitif pada PD
Studi Deskriptif tentang Partisipasi dan Persepsi Mahasiswa terhadap Kegiatan Inaugurasi
Latar belakang:. Di semester 1, mahasiswa baru dihadapkan dengan jadwal perkuliahan yang padat dan persiapan kegiatan rutin tahunan inaugurasi yang cukup menyita waktu. Untuk memberikan gambaran tentang partisipasi dan persepsi mahasiswa terhadap kegiatan inaugurasi.
Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan kuesioner yang telah divalidasi. Subjek penelitian adalah seluruh mahasiswa Fakulta Kedokteran Universitas Muslim Indonesia angkatan 2017 dan 2018 yang berpartisipasi pada kegiatan inaugurasi angkatannya dan terhitung masih aktif sebagai mahasiswa FK UMI saat penelitian berlangsung. Teknik pengumpulan sampel menggunakan total sampling.
Hasil: Mayoritas responden berpartisipasi sebagai panitia dan pengisi acara inaugurasi (57,2%) dan menghabiskan 1–2 bulan untuk persiapan inaugurasi (51,69%). Sebanyak 46,77% responden menggunakan lebih dari 6 jam setiap hari untuk persiapan inaugurasi. Mayoritas responden berpendapat bahwa inaugurasi mengganggu konsentrasi belajar (80%) dan menyebabkan waktu belajar berkurang (92%) namun tetap perlu dilaksanakan (80,3%).
Kesimpulan: Kegiatan inaugurasi cukup menyita waktu sehingga mengganggu konsentrasi dan waktu belajar namun perlu dilaksanakan
Pengaruh Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Konsumsi Obat Cacing pada Murid Sekolah Dasar MI DDI Gusung Kota Makassar
Latar belakang:. Infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah adalah salah satu infeksi paling umum di seluruh dunia. Infeksi cacing dapat berdampak pada tingkat kecerdasan dan produktivitas. Ibu merupakan garis terdepan dalam tahap pencegahan cacingan pada anak yang salah satu perannya adalah memastikan anak mengonsumsi obat cacing secara rutin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Konsumsi Obat Cacing pada Murid Sekolah Dasar MI DDI Gusung. Sampel penelitian adalah ibu dari murid SD Kelas 1,2 dan 3 MI DDI Gusung Kota Makassar.
Metode: Penelitian merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di MI DDI Gusung Kota Makassar pada bulan Maret - April 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu dari murid di MI DDI Gusung Periode Maret 2019 dan sampel yang diambil adalah ibu dari murid SD kelas 1, 2 dan 3 di MI DDI Gusung Kota Makassar Periode Maret 2019.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan pengetahuan baik memiliki persentase lebih tinggi (66.7%) dalam mengonsumsi obat cacing secara rutin dibandingkan responden dengan pengetahuan kurang (0%). Hasil uji statistik chi-square didapatkan p=0.000 yang berarti terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan konsumsi obat cacing. Untuk variabel sikap menunjukkan bahwa responden dengan sikap yang baik memiliki persentase lebih tinggi (47.5%) dalam mengonsumsi obat cacing secara rutin dibandingkan responden dengan sikap kurang (33.3%). Hasil uji statistik chi-square didapatkan p=0.019, ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara sikap dengan konsumsi obat cacing.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu terhadap konsumsi obat cacing pada murid sekolah dasar MI DDI Gusung Kota Makassa
Hubungan Kebisingan dan Masa Kerja terhadap Jenis Ketulian dan Stres pada Pekerja PT. Semen Tonasa
Latar Belakang: Kemajuan teknologi sektor industri, telah menciptakan macam produk mesin yang seringkali menghasilkan timbulnya bising di tempat kerja. Gangguan pendengaran disebabkan beberapa faktor diantaranya: umur, intensitas bising, masa kerja, lama kerja dan penggunaan Advanced Package Tool (APT). Maka dari itu penelitian ini ingin mengetahui hubungan kebisingan dan masa kerja terhadap jenis ketulian dan stres pada pekerja.
Metode: Penelitian ini adalah analisis observasional dengan metode cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pekerja pabrik PT. Semen Tonasa yang berjumlah 82 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan wawancara melalui kuesioner dan pengukuran intensitas kebisingan dengan Sound Level Meter serta data rekam medik.
Hasil: Penelitian menunjukkan dari 82 responden, didapatkan yang bekerja pada area bising <80 dB yaitu 30 orang, Yang bekerja pada area bising 80-100 dB yaitu 10 orang dan yang bekerja pada area bising >100 dB yaitu 42 orang. Kemudian didapatkan 30 orang diantaranya memiliki hasil pemeriksaan audiometri normal, 28 orang NIHL, 20 orang BCHL dan 4 orang campuran. Pada pekerja berusia 20-30 tahun yaitu 22 orang, berusia 31-40 tahun 17 sampel, berusia 41-50- tahun yaitu 33 sampel dan berusia >51 tahun yaitu 10 orang. Pada pekerja dengan masa kerja lebih dari 5 tahun yaitu 76 sampel dan 6 sampel dengan masa kerja ≤5 tahun. Pada pekerja tidak stres 30 orang, stres ringan 12 orang, stres sedang 18 orang dan stres berat 22 orang.
Kesimpulan: Derajat kebisingan memiliki hubungan signifikan dengan stres. Sedangkan tidak didapatkan hubungan antara masa kerja terhadap jenis ketulian. Masa kerja juga tidak memiliki hubungan signifikan terhadap stres
Karakteristik Penderita Demam Tifoid di RS. Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2016 - 2017
Latar Belakang: Demam Tifoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) diperkirakan 11-20 juta orang di dunia terkena penyakit demam tifoid dan menyebabkan kematian sekitar 128.000 - 161.000 jiwa. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk melihat karakteristik penderita demam tifoid di rumah sakit Ibnu Sina kota makassar pada tahun 2016-2017.
Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode total sampling menggunakan data sekunder dari rekam medik. Pada penelitian ini didapatkan jumlah penderita demam tifoid tahun 2016–2017 sebanyak 233 orang.
Hasil: Kejadian demam tifoid tertinggi adalah tahun 2016 bulan April sebanyak 26 orang (14,8%) dengan kelompok usia terbanyak yaitu 21-30 sebanyak 80 orang (34,3%), jenis kelamin terbanyak perempuan sebanyak 124 orang (53,2%). Jenis pekerjaan penderita demam tifoid terbanyak yaitu kelompok mahasiswa sebanyak 62 orang (26,6%) dengan gejala subjektif demam sebanyak 233 orang (100%). Pada pemeriksaan lidah kotor positif sebanyak 80 orang (34,3%). Pemeriksaan penunjang diagnosis yaitu pemeriksaan darah rutin didapatkan yang mengalami anemia sebanyak 38 orang (12,5%).
Kesimpulan: Gejala subjektif tertinggi yaitu demam dengan pemeriksaan fisis yaitu lidah kotor. Pemeriksaan penunjang diagnosis terbanyak adalah pemeriksaaan darah rutin dan pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah tes widal
Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Penyakit Kecacingan
Latar belakang: Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang tersebar luas didaerah tropis dan subtropis. Personal hygiene dan sanitasi lingkungan yang kurang baik pada anak-anak merupakan faktor yang mempermudah penularan kecacingan. Salah satu cara untuk memberantas kecacingan adalah dengan menghilangkan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya penularan salah satunya adalah keadaan hygiene atau perilaku hidup dan sanitasi lingkungan.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik obsevasioanal, dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah total sampling dengan mengambil seluruh siswa-siswi di salah satu sekolah dasar, wilayah kerja puskesmas Tabaringan. Terdiri dari kelas 4 dengan jumlah siswa 25 orang; kelas 5 dengan jumlah siswa 20 dan kelas 6 dengan jumlah siswa 20 orang. Alat ukur yang digunakan adalah kuisioner, lembar observasi dan pemeriksaan laboratorium feses diperoleh dengan cara kunjungan ke sekolah dasar, tempat tinggal subyek, dan puskesmas Tabaringan.
Hasil: Adanya hubungan antara kebiasaan mencuci tangan (ρ=0,048), kebersihan kuku (ρ=0,014), kebiasaan jajanan (ρ=0,035), kebiasaan BAB (ρ=0,009), penggunaan air bersih (ρ=0,002), pembuangan air limbah (ρ=0,025), pembuangan kotoran (ρ=0,048) dengan kejadian cacingan pada siswa.
Kesimpulan: Ada hubungan personal hygiene dan sanitasi lingkungan dengan kejadian cacingan pada siswa sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Tabaringan Makassar
Hubungan Tingkat Kepatuhan ANC dengan Kejadian Anemia, Makrosomia, dan Gemelli pada Kasus Pendarahan Postpartum
Latar Belakang :Antenatal care (ANC) merupakan pelayanan ibu hamil yang dilakukan selama kehamilan oleh tenaga kesehatan profesional. Keidakpatuhan ANC merupakan salah satu faktor risiko tidak langsung mengakibatkan terjadinya komplikasi kehamilan seperti anemia, makrosomia dan gemelli. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat kepatuhan ANC dengan kejadian anemia, makrosomia dan gemelli.
Metode : Penelitian ini menggunakan design penelitian yaitu analitik retrospektif dengan pendekatana Cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah semua ibu hamil yang mengalami perdarahan postpartum di RSUD Syekh Yusuf Tahun 2018. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling.
Hasil : penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat kepatuhan ANC dengan kejadian anemia dengan nilai p-value sebesar 0,004. Sedangkan variabel lain didapatkan hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan, yaitu hubungan tingkat kepatuhan ANC dengan kejadian makrosomia didapatkan nilai p-value sebesar 0,759, dan hubungan tingkat kepatuhan ANC dengan kejadian gemelli didapatkan nilai p-value sebesar 0,085.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat kepatuhan ANC dengan kejadian anemia