UMI Medical Journal
Not a member yet
153 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pemberian Air Rebusan Daun Sirsak (Annona muricata Linn.) terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Darah Mencit (Mus musculus)
Latar belakang : Asam urat merupakan hasil metabolisme purin yang diproduksi dari senyawa purin endogen maupun dari makanan. Hiperurisemia dapat dianggap suatu kondisi terkait dengan peningkatan risiko terhadap penyakit gout, penyakit kardiovaskular, hipertensi dan penyakit metabolik. Pemanfaatan tanaman herbal untuk mengatasi hiperurisemia dan untuk mengurangi efek samping yang diakibatkan oleh pemberian obat-obatan antihiperurisemia.
Metode : Penelitian ini adalah jenis penelitian analitik dengan menggunakan Pre-Experimental Designs dengan metode pendekatan One Group Pre-test Post-test. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara randomisasi sederhana (simple random sampling), di mana semua objek atau elemen populasi memiliki kesempatan yang sama sebagai sampel. Besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sepuluh ekor mencit (Mus musculus) jantan tiap kelompok. Terdapat dua kelompok terdiri dari satu kelompok kontrol dan satu kelompok perlakuan. Total sampel yang digunakan adalah 20 ekor mencit. Mencit dibuat hiperurisemia dengann pemberian makanan tinggi purin yaitu melinjo yang dicampur dengan pelet serta jus hati ayam selama 9 hari. 10 ekor mencit pada kelompok kontrol diberikan aquades selama 7 hari, 10 ekor mencit pada kelompok perlakuan diberikan rebusan daun sirsak sebanyak 0.52ml/25gBB/hari selama 7 hari. Pada hari ke-9 dan hari ke-16 penelitian kedua kelompok mencit akan diukur kadar asam urat darahnya dengan alat ukur Nesco Multicheck®. Setelah itu, kadar asam urat kedua kelompok akan dibandingkan. Karena data berdistribusi normal, analisa uji hipotesis menggunakan uji beda T berpasangan dan dilanjutkan uji T independen.
Hasil : Rebusan daun sirsak dapat menurunkan kadar asam urat darah mencit selama 7 hari pemberian (p<0,05).
Kesimpulan : Terdapat pengaruh yang bermakna dari rebusan daun sirsak terhadap penurunan kadar asam urat darah mencit
Analisis Faktor-Faktor Risiko Terjadinya TB Paru pada Pasien DM Tipe 2 DI RS Ibnu Sina Makassar
Latar Belakang : Peningkatan prevalensi DM, sebagai faktor risiko TB juga disertai dengan peningkatan prevalensi TB. Peningkatan kasus TB pada pasien DM terutama pada negara-negara berpenghasilan rendah-menengah, juga terjadi di Indonesia. Cukup banyak pasien DM yang mengalami TB dan hal tersebut meningkatkan morbiditas maupun mortalitas TB maupun DM. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian analitik deskriptif dengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan teknik total sampling. Sampel yang digunakan berupa rekam medik dengan jumlah 60 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi di RS Ibnu Sina Makassar pada tahun 2015-2016. Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil data secara langsung pada bagian rekam medik RS Ibnu Sina Makassar. Analisa data menggunakan uji chi-square. Hasil Penelitian : Didapatkan subjek penelitian ini yaitu rekam medik pasien DM Tipe 2 di RS Ibnu Sina Makassar tahun 2015-2016 berjumlah 60 orang, dengan prevalensi kejadian TB Paru pada pasien DM Tipe 2 adalah 50% dari jumlah sampelyang digunakan. Berdasarkan hasil analisis bivariat, didapatkan faktor resiko yang berpengaruh terhadap kejadian TB Paru adalah status gizi dan riwayat kontak TB. Setelah dilakukan analisis multivariat, faktor yang memiliki hubungan bermakna dengan TB Paru pada pasien DM Tipe 2 yaitu riwayat kontak TB (OR 145; p=0,000;[IK95% 15,8-1325,3]). Kesimpulan : Hasil penelitian di RS Ibnu Sina Makassar tahun 2015-2016 didapatkan pasien DM Tipe 2 dengan komplikasi TB Paru berjenis kelamin wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria dan terbanyak pada rentang usia 50-60 tahun. Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian TB Paru pada pasien DM Tipe 2 yaitu status gizi dan riwayat kontak TB Paru. Sedangkan faktor risiko kejadian TB pada pasien DM yang paling berpengaruh adalah riwayat kontak TB
Pengaruh Ekstrak Minyak Jintan Hitam (Nigella Sativa) terhadap Mukosa Lambung Mencit (Mus Musculus) yang Diinduksi Etanol 80%
Belum adanya penelitian menyeluruh, terpadu, dan terstandarisasi terhadap khasiat Jintan Hitam. Penelitian ini bertujuan Menilai pengaruh pemberian ekstrak minyak Jintan Hitam dosis 0,1ml/20grBB, 0,2ml/20grBB, dan 0,3ml/20grBB yang diberikan selama 4 dan 7 hari terhadap skor ulkus, indeks ulkus, tingkat erosi, jumlah leukosit PMN (Polymophonuclear), dan perubahan morfologi lambung mencit yang diinduksi etanol 80%. Penelitian ini dilakukan di laboratorium hewan fakultas kedokteran Universitas Hasanuddin pada bulan April – September 2015, dengan desain penelitian eksperimental post test only. Mencit yang digunakan sebanyak 40 ekor, terbagi dalam 8 ekor mencit kelompok kontrol negatif, 8 ekor kelompok kontrol positif, dan kelompok perlakuan pemberian ekstrak minyak Jintan Hitam dosis 0,1ml/20grBB, 0,2ml/20grBB, dan 0,3ml/20grBB masing-masing 8 ekor. Hasil penelitian menunjukkan Pemberian ekstrak minyak Jntan Hitam dosis 0,1 ml/20grBB yang diberikan selama 4 hari, menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan dengan nilai p=0.034 (p<0.05) berdasarkan skor ulkus
A Brain Tumor Mimicking Brain Abscess
A brain tumor could be mimicking brain abscess in some cases. Not just in imaging but also both of has a similar symptoms, physician must anamnesis properly and run several tests. A brain abscess is an intraparenchymal collection of pus. The incidence of brain abscesses is approximately 8% of intra-cranial masses in developing countries and 12% in the western countries. In this case, we reports a male patient with gradually left hemiplegia, left deviation of tongue, left hemifacial paresis, and visual hallucination and psychological disturbance. Initial imaging showed the possibilities of space occupying lessions (SOL) with suspect to Astrocytoma. But, based from the history taking, there is bad habit of oral hygiene, that the patient usually sticks his gum with tooth stick and after confirmation from second head CT scan with contrast enhancement, confirmed right cerebral abscess with perifocal oedem. After 2 weeks empirical antibiotic therapy, there is significant clinically improvement. But, after we confirm with second Head CT scan with contrast enhancement, there is a very minimum decreased size of the abscess lesion, so surgical drainage is indicated. We collect Xanthochromic liquid from surgical drainage (not purulent), and from microscopic evaluation inflammation lesion confirmed. But by microbiological culture, there is no growth of aerobic bacteria from drainage liquid culture, we assume because of empirical antibiotic therapy was started before the microbiological culture test. After surgical drainage, there is no complication, and clinical become more improve
Pengaruh Mengkonsumsi Teh Setelah Makan terhadap Kejadian Anemia Defisiensi Besi pada Remaja Putri
Latar Belakang: Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kandungan tanin dan polifenol dalam teh dapat menghambat penyerapan zat besi dalam saluran cerna yang merupakan pemicu terjadinya anemia atau penyakit kurang darah. Karena zat tanin yang terdapat pada teh dapat mengikat zat besi pada makanan yang dicerna, sehingga membuat penyerapan zat besi atau Fe yang dilakukan oleh sel darah merah berkurang. Metode Penelitian: Desain penelitian ini adalah survei yang bersifat analitik yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh mengkonsumsi teh setelah makan terhadap kejadian anemia pada remaja putri di Sekolah Putri Darul Istiqamah Kabupaten Maros. Rancangan yang digunakan adalah cross sectional. Analisis Bivariat yang digunakan yaitu dengan sistem komputerisasi melalui uji Chi-Square. Hasil Penelitian: Di Sekolah Putri Darul Istiqomah Kabupaten Maros remaja putri yang memiliki kebiasaan minum teh setelah makan secara rutin sebanyak 16 orang. Tidak ada responden yang memiliki riwayat anemia berat dari ke 16 responden sedangkan yang memiliki riwayat anemia sedang adalah 50%, anemia ringan adalah 31,2%, dan tidak anemia adalah 18,7%. Kesimpulan: Terdapat pengaruh antara kebiasaan minum teh setelah makan terhadap kejadian anemia pada remaja putri di Sekolah Putri Darul Istiqamah Kabupaten Maros
Eritroderma et causa Psoriasis Vulgaris
Eritroderma merupakan kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema lebih dari 90%, dan biasanya disertai dengan skuama. Salah satu kausa yang paling sering dari eritroderma adalah disebabkan oleh psoriasis. Eritroderma dapat membahayakan jiwa di mana kulit kehilangan fungsi proteksinya. Perawatan di rumah sakit biasanya dilakukan untuk mengantisipasi beberapa komplikasi sistemik yang dapat terjadi. Dilaporkan satu kasus eritroderma yang disebabkan oleh perluasan penyakit psoriasis vulgaris lalu diterapi dengan kortikosteroid sistemik dan kortikosteroid topikal ditambah emolient, serta antibiotik sistemik yang kemudian memberikan perbaikan klinis
SLICC 2012: Kriteria Klasifikasi SLE
Istilah Lupus diambil dari bahasa latin yang berarti serigala dan dipakai pertama kali pada abad pertengahan untuk menggambarkan lesi kulit yang erosive yang mirip dengan gigitan serigala. Pada tahun 1846 seorang ahli dari Vienna bernama Ferdinand von Hebra memperkenalkan istilah “kupu-kupu” untuk menggambarkan rash di daerah malar dan menyebutnya sebagai lupus erythematosus . Ilustrasi ini dipublikasikan pertama kali dalam bukunya berjudul Atlas os Skin Disease pada tahun 1856. Lupus kemudian dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu Discoid Lupus Erythematosus,Neonatal Lupus Erythematosus, Drug Induced Lupus dan Systemic Lupus Erythematosus
Hubungan antara Kejadian Hematuria Mikroskopis dengan Volume Prostat Pada Penderita Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
Latar belakang: BPH dengan peningkatan proliferasi sel stromal dan aciner menstimulasi peningkatan vascular dari pembuluh darah (angiogenesis) sehingga mudah pecah dan menyebabkan timbulnya perdarahan. Pasien dengan BPH memiliki jumlah pembuluh darah lebih banyak di bagaian suburopithelial prostatic uretra yang dianggap mudah terjadi perdarahan
Tujuan Penelitian: Mengetahui adanya hubungan antara kejadian hematuria mikroskpois dengan volume prostat penderita BPH pada pemeriksaan ultrasonografi.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan survey analitik dengan pendekatan cross sectional berdasarkan data dari rekam medis Rumah Sakit Ibnu Sina dengan teknik pengambilan sampel yang dipakai adalah total sampling dengan jumlah sampel 35 pasien. Sampel yang didapat kemudian dianalisis dengan uji korelasi Chi-Square.
Hasil Penelitian : Pada Penelitian ini nilai hasil uji chi Square yang didapatkan adalah 15,784 dan jika dibandingkan dengan tabel signifikan (lampiran) dengan derajat kebebasan (df) = 12, maka nilai chi square hitung lebih kecil dari nilai chi square tabel yang dapat disimpulkan hipotesis H0 diterima. Dari tabel diperoleh nilai Pearson Chi Square mempunyai nilai signifikan p > 0,05 yang artinya tidak terdapat hubungan antara volume prostat dengan hematuria.
Simpulan : tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian hematuria mikroskopis dengan volume prostat pada penderita BP
Uji Efektivitas Pemberian Ekstrak Rimpang Jahe Merah (Zingiber officinale var. Rubrum) Sebagai Antimikroba yang Bersifat Bakterisid terhadap Bakteri Escherichia coli
Latar Belakang : Pada dasarnya Escherichia coli merupakan bakteri komensal saluran pencernaan. Namun, dapat menjadi patogen jika jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan meningkat atau berada di luar usus. Escherichia coli juga merupakan salah satu penyebab paling sering dari banyak infeksi bakteri umum. Resistensi Escherichia coli terhadap berbagai antibiotika telah banyak dilaporkan. Disisi lain, Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan tanaman herbal yang sering digunakan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi masalah kesehatan. Salah satu tumbuhan yang digunakan adalah rimpang dari tumbuhan jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum). Metode Penelitian : Penelitian ini adalah penelitian true experimental post test melalui metode disc diffusion untuk menguji efektivitas pemberian ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) sebagai antimikroba terhadap bakteri Escherichia coli. Hasil Penelitian : Dari konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% ekstrak rimpang jahe merah terhadap bakteri Escherichia coli didapatkan bahwa pada konsentrasi 20% zona hambat yang terbentuk pada replikasi 1 dan 2 memiliki interpretasi intermediet. Pada konsentrasi 40% diameter zona hambat yang terbentuk pada replikasi 1 memiliki interpretasi intermediet sedangkan pada replikasi 2 memiliki zona hambat yang sensitif. Pada konsentrasi 60% memiliki zona hambat yang intermediet pada replikasi 1 sedangkan pada replikasi 2 memiliki zona hambat yang sensitif. Pada konsentrasi 80% terbentuk zona hambat yang sensitif pada kedua replikasi. Begitu pula pada konsentrasi 100% juga terbentuk zona hambat yang sensitif pada bakteri Escherichia coli pada kedua replikasi. Kesimpulan : Dari kelima konsentrasi rimpang jahe merah yang diujikan didapatkan hasil yang sensitif pada konsentrasi 40%, 60%, 80% dan 100%
Skizoafektif Tipe Mania
Pendahuluan: Gangguan skizoafektif memiliki ciri baik skizofrenia dan gangguan afektif (sekarang disebut gangguan mood). Kriteria diagnostik untuk gangguan skizoafektif telah berubah dengan berjalannya waktu, sebagian besar karena perubahan dalam kriteria diagnostik untuk skizofrenia dan gangguan mood. Terlepas dari sifat diagnosis yang dapat berubah, diagnosis ini tetap merupakan diagnosis yang terbaik bagi pasien yang sindrom klinisnya akan terdistorsi jika hanya dianggap skizofrenia atau hanya suatu gangguan mood.
Laporan Kasus: Perempuan 37 tahun, diantar oleh keluarga dengan keluhan gelisah dialami 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien sering mondar-mandir di rumahnya tanpa tujuan yang jelas serta selalu mau naik ke atap rumah dan mengatakan ada yang memanggil dirinya. Pasien sering menyendiri dan mengurung diri di kamarnya serta mematikan lampu kamarnya. Menurut keluarga, awal perubahan perilaku dialami pada tahun 2002. Pada pemeriksaan status mental didapatkan adanya halusinasi auditorik, waham persekutori dan juga ditemukan adanya suatu keadaan mania dengan mood yang labil dan peningkatan afek yang cukup, psikomotor yang kesan meningkat, produktivitas bicara cukup banyak, arus pikir menunjukkan flight of ideas, kebutuhan tidur yang berkurang, dan waham kebesaran.
Kesimpulan: Penegakan diagnosis skizoafektif tipe mania dapat ditegakkan apabila memenuhi kriteria skizofrenia dan pada saat bersmaan juga timbul gejala afektif yang menonjol