UMI Medical Journal
Not a member yet
153 research outputs found
Sort by
Hubungan Kebiasaan Mengkonsumsi Teh (Camellia sinensis) dengan Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Ibu Hamil di Puskesmas Malimongan Baru
Latar Belakang: Dampak anemia pada ibu hamil bukan hanya saja mengenai ibu sendiri, tetapi berdampak juga terhadap kehamilannya, hal ini dapat menimbulkan komplikasi kehamilan dan persalinan seperti toxsemia (keracunan darah) dan mempengaruhi hasil kehamilan. Prevalensi anemia cukup tinggi pada golongan usia rawan seperti bayi, anak-anak dan ibu hamil. Ibu hamil termasuk kelompok yang rawan menderita anemia gizi karena adanya hemodelusi atau pengenceran darah yang dapat menyebabkan kadar haemoglobin menurun sehingga frekuensi anemia dalam kehamilan meningkat. Tanaman teh (Camellia sinensis) merupakan tanaman yang memiliki kandungan tanin alami yang tinggi. Senyawa tanin apabila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan akan menghambat penyerapan mineral misalnya besi.Tujuan Umum: Untuk mengetahui hubungan antara konsumsi teh (Camellia sinensis) dengan gejala anemia defisiensi besi pada ibu hamil.Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional.Hasil Penelitian: Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan minum the (Camellia sinensis) terhadap gejala anemia defisiensi besi pada ibu hamil (P=0,004) dan kelainan bentuk sel darah merah dari pemeriksaan sel darah tepi ibu hamil (P=0,000)Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan minum the terhadap kejadian anemia pada ibu hamil
Terapi Nutrisi pada Penyakit Kanker Pankreas
Kanker pankreas relatif jarang ditemukan, sekitar 2,5% dari seluruh jenis kanker di dunia. Namun, karena angka mortalitas yang tinggi dengan angka harapan hidup dalam 5 tahun <5% dan rata-rata harapan hidup 4,5 bulan (stage IV) dan 24,1 bulan (stage IA) sehingga kanker pankreas merupakan penyebab kematian kelima terbanyak di negara-negara maju termasuk Amerika Serikat dan Eropa. American Cancer Society memper-kirakan pada tahun 2017 terdapat 53.670 orang (27.970 pria dan 25.700 wanita) akan didiagnosis dengan kanker pankreas dan 43.090 orang (23.300 pria dan 20.790 wanita) akan meninggal karena kanker pankreas di Amerika Serikat (Bodmer 2012, American Cancer Society 2016). Kegagalan terapi konvensional kanker pankreas dibuktikan dengan dengan angka harapan hidup 18% dalam 1 tahun dan 4% dalam 5 tahun. Lebih dari 98% penderita kanker pankreas akan meninggal dunia dan sebagian besar pasien yang menderita kanker pankreas meninggal dalam enam bulan setelah diagnosis ditegakkan. Prognosis yang buruk ini karena ketidakmampuan mendiagnosis kanker pankreas pada stadium awal. Pankreas yang terletak jauh di dalam tubuh, sehingga tumor tidak dapat dilihat atau dirasakan oleh dokter selama pemeriksaan fisik rutin. Pasien biasanya tidak memiliki gejala sampai kanker telah menyebar ke organ lain. Keluhan dan gejala mulai timbul ketika kanker sudah dalam stadium lanjut dan metastasis ke nodus limfe regional dan organ-organ sekitar bahkan organ yang jauh (Thomson 2007, Steriti, Redlich 2003)
Pengaruh Konsumsi Harian Susu Kacang Kedelai (Glycine max(L.)Merr) terhadap Penurunan Kadar Kolesterol Total Darah pada Mencit Jantan (Mus musculus) yang Hiperkolesterol
Latar Belakang : Dislipidemia merupakan suatu kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, dan penurunan HDL di dalam serum. Didalam susu kacang kedelai mengandung isoflavon yang terdiri atas genistein dan daidztein, dan protein kedelai yang dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskular dengan cara mengikatkan profil lemak darah. Khususnya, protein kedelai menyebabkan penurunan yang nyata dalam kolesterol total. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan pre-post true experimental test group design dengan menggunakan 24 hewan coba yang hiperkolesterol yang dibagi menjadi 3 kelompok dengan total masing-masing kelompok sebanyak 8 ekor mencit. Kelompok kontrol negatif yang diberi aquades, kelompok kontrol positif diberi simvastatin 0.244 mg/30 gBB mencit/hari, dan kelompok perlakuan yang diberi susu kacang kedelai 0.154 g/ 30 gBB mencit/hari dengan total intervensi 14 hari. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan Rerata kadar Kolesterol total darah mencit pada hari ke-7 pemberian susu kacang kedelai (Glycine max (L.)Merr) adalah 185 mg/dl dan pada hari ke-15 adalah 139 mg/dl. Terdapat perbedaan kadar kolesterol total pada mencit tiap kelompok yang cukup signifikan yakni kelompok kontrol negatif dengan mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 6 mg/dl (p=0.06), kelompok kontrol positif mengalami penurunan yang signifikan sebesar 31 mg/dl (p=0.00) dan kelompok perlakuan mengalami penurunan signifikan sebesar 46 mg/dl (p=0,00) sehingga ada pengaruh konsumsi harian susu kacang kedelai (Glycine max (L.) Merr) terhadap penurunan kadar kolesterol pada mencit jantan (Mus musculus) yang hiperkolsterol. Kesimpulan : Diantara ketiga kelompok, yang paling signifikan penurunan kadar kolesterolnya ada pada susu kacang kedelai dibandingkan kelompok simvastatin sedangkan pada kelompok pemberian aquades terjadi peningkatan kadar kolesterol total pada mencit (Mus musculus)
Analisis Faktor Diabetes Melitus terhadap Pasien Penyakit Jantung Koroner (PJK) Di RS TNI AU Dr Dody Sarjoto Makassar
Latar Belakang : Survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan secara berkala oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskuler memberikan kontribusi sebesar 19,8% dari seluruh penyebab kematian pada tahun 2011 dan meningkat menjadi 24,4% pada tahun 2011 (Goya 2011). Penyakit kardiovaskuler, termasuk PJK, merupakan salah satu gejala jangka panjang dari masa peralihan ini dan penyakit diabetes mellitus merupakan faktor pencetus progresifitas terjadinya PJK oleha karena itu peneliti sangat tertarik untuk meneliti hubungan faktor resiko penyakit diabetes mellitus terhadap angka kejadian pasien penyakit jantung koroner (PJK). Metode Penelitian : Penelitian ini termasuk penelitian Observational Analitik yaitu penelitian yang bertujuan menjelaskan hubungan antar variabel, yang dalam hal ini adalah variabel faktor risiko penyakit Diabetes melitus dan variabel penyakit jantung koroner (PJK). Rancangan penelitian yang digunakan adalah case-control, dimana kasus dan kontrol telah diketahui pada saat (awal) penelitian, kemudian ditelusuri secara retrospektif faktor risiko (paparan) yang berperan dalam kejadian PJK. Hasil Penelitian : Menunjukkan bahwa pada pasien PJK, sebagian besar responden memiliki DM sebesar 73,4%, sedangkan responden yang tidak memiliki DM sebesar 26,6%. Kelompok bukan PJK, persentase responden memiliki DM yaitu sebesar 41,7 %, sedangkan yang tidak memiliki DM sebesar 58,3%. Nilai X2hitung(4,721)< X2tabel (3,841) atau nilai p (0,03) < α (0,05) berarti bahwa ada hubungan antara diabetes melitus dengan kejadian PJK. Kesimpulan : Hasil penelitian diperoleh ada hubungan yang bermakna antara diabetes melitus dengan kejadian PJK
Dukungan Nutrisi pada Penderita Pemfigus Vulgaris dengan Hipoalbuminemia Berat
Pemfigus vulgaris adalah penyakit autoimmune berupa bula yang bersifat kronik, dapat mengenai membran mukosa maupun kulit dan ditemukannya antibodi IgG yang bersirkulasi dan terikat pada permukaan sel keratinosit, menyebabkan timbulnya suatu reaksi pemisahan sel-sel epidermis diakibatkan karena tidak adanya kohesi antara sel-sel epidermis, proses ini disebut akantolisis dapat menyebabkan kerusakan kulit dan membran mukosa sehingga dapat terjadi kehilangan cairan dan ketidakseimbangan elektrolit, infeksi, bahkan sepsi
Seorang Penderita dengan Infeksi Entamoeba Histolytica pada Pleura
Pada laporan kasus ini akan dipaparkan seorang penderita abses hepar yang menyebabkan terjadinya empiema. Tujuan laporan kasus ini adalah memaparkan kasus yang jarang terjadi dengan diagnosa empiema amuba torasis kanan dimana dibutuhkan diagnosa yang cepat dan tepat karena sering terjadi keterlambatan diagnosa dan penatalaksanaan yang tidak tepat akan memberikan prognosis yang buruk. Terapi antibiotik empirik yang diberikan sebelum pemeriksaan parasit pada penderita empiema dengan abses hepar dapat mengaburkan data insiden penyakit ini
Etika dalam Penelitian Kedokteran Kesehatan
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, telah terjadi berbagai perubahan fundamental dalam kehidupan manusia, antara lain perubahan peran ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Iptek yang sebelumnya, merupakan sarana penunjang berubah peran dan memberi landasan pada keseluruhan upaya manusia. Dari sini berkembanglah konsep-konsep baru, seperti pembangunan berdasarkan pengetahuan (knowledge based development) dan diakui bahwa mutu pengelolaan pengetahuan strategik menentukan keberlangsungan hidup suatu upaya/ organisasi. Ini dapat dilihat dari daya saing dan kemampuannya beradaptasi pada perubahan lingkungan. Berdasarkan konsep baru upaya kesehatan dilaksanakan dengan sistem kesehatan berdasarkan pengetahuan (knowledge based health systems). Akibat perubahan fundamental tersebut, maka pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan iptek memegang peran, yang makin menentukan dalam penyusunan kebijakan dalam pembangunan kesehatan dan implementasiny
Efektivitas Pemberian Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus) terhadap Penurunan Kolesterol pada Tikus Putih (Rattus Novergicus)
Kolesterol dalam darah merupakan salah satu masalah besar yang dihadapi oleh masyarakat di dunia. Kelebihan kolesterol dalam darah (hiperlipidemia) akan mengakibatkan penyakit jantung dan stroke. Menurut World Health Organization (WHO) dan Organisasi Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) penyakit jantung saat ini menjadi penyebab utama kematian di negara-negara Asia dan Eropa. Setiap tahun diperkirakan 17,3 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular. Sebanyak 11,1 juta diantaranya terjadi akibat penyakit jantung dan 6,2 juta akibat stroke. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani hiperlipidemia, antara lain melalui perubahan gaya hidup seperti terapi diet, yaitu dengan mengkonsumsi serat, ikan,mengurangi daging, mengkonsumsi sumber lemak tak jenuh (MUFA dan PUFA). Penggunaan obat sintetis dapat menimbulkan efek samping seperti alergi atau menyebabkan gangguan fungsi organ lain. Untuk itu, perlu dicarikan obat alternatif dari bahan alami. (Orey, C. 2008) Jamur tiram putih telah dikenal masyarakat sebagai bahan pangan sejak lama. Jamur tiram putih memiliki kandungan gizi yang baik yaitu kadar protein dan serat tinggi, tetapi rendah lemak. Untuk membuktikan apakah Jamur Tiram putih dapat menurunkan kadar kolesterol pada tikus putih jantan yang dibuat hiperlipidemia dengan menggunakan obat simvastatin sebagai pembanding, maka peneliti melakukan penelitian ini
Rehabilitasi Ptisis Bulbi: Case Series
Ptisis bulbi merupakan suatu keadaan dimana bola mata mengecil, tidak bisa melihat dan bola mata tidak berfungsi lagi. Keadaan ini mengganggu penderita karena estetika yang kurang baik membuat penderita tidak percaya diri.Penyebab terbanyak dari ptisis bulbi adalah peradangan non infeksi ( 28%), yang menyebabkan gangguan produksi humour aquous terjadilah hipotoni atau penurunan tekanan intra okuler sehingga nutrisi untuk jaringan mata berkurang. Operasi eviserasi dengan dermatofat graft disertai pemasangan protesa membantu merehabilitasi bola mata dan memperbaiki simetris wajah dan penampilan dari pasien ptisis bulbi.Rehabilitasi pasien ptisis bulbi memerlukan pendekatan multidisipliner melibatkan oftalmologi, medah plastik dan prostodentis
Pengaruh Pemijatan terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi Umur 3 – 4 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kanjilo Kecamatan Barombong Kabupaten Gowa
The research aimed at investigating whether there was the massage effect on the growth and development of the infants of 3 – 4 months old in the working area of PHC Kanjilo, Barombong District, Gowa Regency. This was a quasy experiment research with the pretest-posttest method on the treatment and control groups. Sample consisted of 38 subjects who were selected by the purposive sampling technique. The samples were divided into 2 group, namely the treatment group ( n=19) and control group (n=19) by matching the same age and sex in the two groups. The variables measured were the body weight gain, height gain, development indicator change. The research used the statistic test of Wilcoxon signed rank test, Mann Whitney U test, McNemar test with the significance level of 0.05. The research result indicates that after the massage has been carried out for 30 days, there is the significant change particularly on the body weight gain variable with the value of p = 0,008 (<0.05) and the development indicator change variable with the value of p = 0.05. While for the height, the change is not significant between the infants who are given the massage and are not given the massage with the value of p = 0,091 (> 0.05), likewise, the development indicator change is not significant on the infants who are not massaged (p=0,317)