UMI Medical Journal
Not a member yet
    153 research outputs found

    Hubungan Hipertensi dengan Peningkatan Tekanan Intra Okuler di Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

    Get PDF
    Latar belakang: Hipertensi adalah gangguan sistem peredaran darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah ≥ 140/90 mmHg. Tekanan darah yang tinggi tersebut dapat mengakibatkan kerusakan struktural dan fungsional pada organ-organ tertentu misalnya jantung, ginjal, otak dan mata.. Kondisi hipertensi menyebabkan meningkatnya retensi natrium. Meningkatnya retensi natrium akan menyebabkan penumpukan cairan di mata yang juga menekan nervus optikus. Hal ini dapat memicu peningkatan tekanan intraokuli akibat menumpuknya cairan dan menyebabkan hilang atau gangguan penglihatan akibat penekanan pada nervus optikus. Tujuan: Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dengan penigkatan tekanan intraokuli di Rumah Sakit Ibnu Sina. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif-analitik dengan studi cross sectional dimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dengan tekanan intraokuli dengan cara observasi dan pengumpulan data dilakukan secara simultan. Analisa data menggunakan uji spearman. Hasil: Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 50 orang yang menjadi sampel, yang mengalami hipertensi grade 1 dengan tekanan intra okuler yang tidak meningkat sebanyak 17 orang (34%) dan dengan tekanan intra okuler yang meningkat sebanyak 5 orang (10%). Sedangkan yang mengalami hipertensi grade 2 dengan tekanan intra okuler yang tidak meningkat sebanyak 7 orang (14%) dan dengan tekanan intra okuler meningkat sebanyak 21 orang (42%). menunjukkan bahwa hubungan antara hipertensi dengan peningkatan tekanan intra okuli yang terjadi pada pasien dirumah sakit Ibnu Sina Makassar, diperoleh nilai p < 0,05 (lebih kecil dari nilai α = 0,05). Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian maka diambil kesimpulan bahwa ada hubungan secara statistik antara hipertensi dengan peningkatan tekanan intraokuli di Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

    Patofisiologi Kesadaran Menurun

    Get PDF
    Kesadaran adalah kondisi sadar terhadap diri sendiri dan lingkungan. Kesadaran terdiri dari dua aspek yaitu bangun (wakefulness) dan ketanggapan (awareness). (Avner,2006) Kesadaran diatur oleh kedua hemisfer otak dan ascending reticular activating system (ARAS), yang meluas dari midpons ke hipotalamus anterior. RAS terdiri dari beberapa jaras saraf yang menghubungkan batang otak dengan korteks serebri. Batang otak terdiri dari medulla oblongata, pons, dan mesensefalon. Proyeksi neuronal berlanjut dari ARAS ke talamus, dimana mereka bersinaps dan diproyeksikan ke korteks

    Nutrisi pada Pasien Tuberculosis dengan Geriatri Disertai Gizi Buruk

    Get PDF
    Pasien dikonsul dari bagian Interna divisi Pulmonologi untuk evaluasi dan penatalaksanaan gizi serta rawat bersama dengan diagnosis medis Tuberkulosis Paru on treatment BTA positif +atelectasis dan efusi pleur

    Hubungan antara Kadar Plasminogen Activator Inhibitor-1 Serum dengan Derajat Kontrol Penderita Asma

    Get PDF
    Latar Belakang: Asma merupakan penyakit heterogen ditandai hiperrespons dan inflamasi saluran napas. Proses inflamasi pada asma erat hubungannya dengan remodelling saluran napas. Plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1) adalah enzim penghambat pada cascade plasminogen-plasmin sehingga menyebabkan deposisi matrix extracellular dan proses fibrosis pada remodeling jalan napas. Salah satu faktor penyebab asma tidak terkontrol dihubungkan dengan proses remodeling jalan napas. Tujuan: Menilai hubungan antara kadar PAI-1 serum dengan derajat kontrol penderita asma. Metode: Penelitian observational ini menggunakan metode rancangan potong lintang, dilaksanakan pada bulan April-Juni 2016 di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan RS Universitas Hasanuddin, pada penderita asma dengan umur >18 tahun, bukan perokok dan tidak menderita infeksi paru. Kadar PAI-1 diperiksa dengan metode teknik enzyme linked immune sorbent assay, dan metode analisa statistik menggunakan SPSS versi 22. Derajat kontrol asma dinilai menggunakan modifikasi kriteria GINA 2015. Hasil: Sebanyak 47 subyek asma yang diperiksa, berumur 20-74 tahun, perempuan lebih banyak dibanding laki- laki (70,2% vs 29,8%),76,6% subyek non-obes, dan 53,2% menderita asma tidak terkontrol. Didapatkan rentang kadar PAI-1 serum yaitu 0,95-33,39 U/mL dengan rerata 5,73+5,75. Pada subyek dengan asma tidak terkontrol, rerata kadar PAI-1 serum signifikan lebih tinggi dibanding asma terkontrol (p=0,003). Berdasarkan umur, subyek yang <50 tahun dengan derajat asma tidak terkontrol, rerata kadar PAI-1 serum signifikan lebih tinggi dibanding asma terkontrol (p=0,007). Subjek obese dengan asma tidak terkontrol, kadar PAI-1 lebih tinggi dibandingkan dengan subjek obese asma terkontrol, meskipun secara statistik tidak signifikan (p>0,05). Subjek non-obese dengan asma tidak terkontrol, kadar PAI-1 signifikan lebih tinggi dibandingkan subjek non-obese dengan asma terkontrol (p=0,007). Kesimpulan: Kadar PAI-1 ditemukan lebih tinggi secara bermakna pada asma tidak terkontrol

    Repair Defek Hernia Diafragmatika dengan Kombinasi Anestesi Epidural Torakal dan Intubasi Endotrakeal dengan Teknik Rapid Sequence Induction

    Get PDF
    Hernia diafragmatika (HD) dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu; HD kongenital dan defek diafragmatika yang didapat (acquired). HD kongenital timbul ketika otot-otot yang membentuk diafragma gagal menyatu sempurna. Menghasilkan komponen abdomen masuk kedalam rongga toraks dan kebanyakan pasien timbul pada awal-awal kehidupannya dibanding pada masa tuanya. Bagaimanapun juga HD kongenital dapat timbul pada masa dewasa dimana pada masa kecilnya tidak terdeteks

    Hubungan Status Fisik Pra Anestesi Umum dengan Waktu Pulih Sadar Pasien Pasca Operasi Mastektomi di RS Ibnu Sina Februari - Maret 2017

    Get PDF
    Latar belakang: Keganasan yang menyerang wanita yaitu kanker payudara. Kanker yang terbatas pada payudara, pengobatannya hampir selalu pembedahan untuk mengangkat sebanyak mungkin tumor. Terdapat sejumlah pilihan pembedahan, pilihan utama adalah mastektomi yaitu pengangkatan seluruh payudara. Untuk memfasilitasi operasi ini, anestesi umum merupakan teknik yang paling sering dipilih. Untuk menentukan prognosis ASA (American Society of Anesthesiologists) membuat klasifikasi berdasarkan status fisik pasien pra anestesi yang membagi pasien ke dalam 5 kelompok atau kategori dari ASA I – V. Evaluasi pra anestesi pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas perioperatif dan untuk menghilangkan kecemasan pasien. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan teknik purposive sampling. Sampel berjumlah 8 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi di RS Ibnu Sina. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner data yang berupa daftar isian untuk mencatat status fisik pra anestesi umum dan waktu pulih masing-maisng pasien, serta lembar penilaian skala modifikasi sedasi Ramsay untuk mengukur tingkat sedasi pada pasien. Analisa data pada penelitian ini digunakan uji statistik bivariat menggunakan metode analisis korelasi Spearman rho. Hasil: Dari 8 sampel yang diperoleh, didapatkan 2 responden (25%) memiliki status fisik pra anestesi umum ASA I, 4 responden (50%) memiliki status fisik pra anestesi umum ASA II, dan 2 responden (25%) memiliki status fisik pra anestesi umum ASA III. Pada penelitian ini juga dilakukan pengukuran waktu pulih sadar dari anestesi umum yaitu waktu yang dihitung mulai voltile ditutup yang di lakukan pada jahitan terakhir kulit sampai dengan pasien mencapai modifikasi skala sedasi ramsay 2 dimana pasien dapat mencapai tingkat sedasi yang ringan, kooperatif, berorientasi dan tenang. Di dapatkan perbedaan rerata waktu pulih sadar pasien pasca operasi mastektomi dengan status fisik pra anestesi umum kirteria ASA 1 (12 menit), ASA II (26 menit 25 detik) dan ASA III (36 menit). Dari hasil pengujian data menunjukkan nilai sig. (2-tailed) 0,025 < 0,05, maka artinya terdapat hubungan yang signifikan (berarti) antara variabel independen dan variabel dependen sehingga H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya ada hubungan antara status fisik pra anestesi umum maka waktu pulih pasien pasca operasi mastektomi. Kesimpulan: Hasil penelitian di RS Ibnu Sina Februari – Maret 2017 menunjukkan adanya hubungan antara status fisik pra anestesi umum dengan waktu pullih pasien pasca operasi mastektomi dengan nilai sig. (2-tailed) 0,025 < 0,05 yang berarti H1 diterima

    Dermatitis Atopik pada Anak

    Get PDF
    Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronik relaps yang terjadi umumnya pada anak tapi dapat juga terjadi pada orang dewasa. Rash ditandai dengan papul yang gatal (umumnya vesikel pada infant) yang menjadi ekskoriasi dan likenifikasi, dan khas terdapat pada daerah fleksural. Etiologi dan patogenesis penyakit ini merupakan kompleks interaksi antara suseptibilitas genetik yang menghasilkan defek barier kulit, defek pada sistem innate immunity, dan meningkatkan respon imunologik alergen dan antigen mikroba. Dilaporkan satu kasus dermatitis atopik, yang memberikan respon baik terhadap pengobatan dengan kortikosteroid topikal dan antihistamin

    Efektivitas Minyak Habbatussauda (Nigella Sativa) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Aureus

    Get PDF
    Latar belakang: Jintan hitam (Nigella sativa) atau habbatussauda,black cumin, atau pun black seed merupakan salah satu tanaman rempah yang sangat popular. Dari ekstrak biji jintan hitam yang mengandung thymoquinone, fixed oil dan turunannya ditemukan efek farmakologi yang berspektrum luas diantaranya sebagai imunopotensiasi dan anti histamine, anti diabetik, anti hipertensi, anti inflamasi dan anti mikroba. Penyakit infeksi merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk di negara berkembang, termasuk Indonesia. Penyebab infeksi yang sering terjadi di rumah sakit salah satunya disebabkan oleh Methicillin Resistent Staphylococcus aureus. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas anti bakteri minyak habbatussauda pada Staphylococcus aureus yang merupakan penyebab infeksi yang memiliki prevalensi cukup tinggi di Indonesia. Penelitian ini meliputi uji efektivitas minyak habbatussauda (Nigella sativa) dalam berbagai konsentrasi dengan pertumbuhan bakteri Staphyloccoccus aureus. Tujuan: Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui efektivitas minyak habbatussauda terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian secara eksperimental laboratorium dengan metode disc diffusion. Hasil: Minyak habbatussauda ini terbukti kuat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 50% dengan daya hambat 36 mm, 40% daya hambat 29 mm, dan 30% daya hambat 26,5 mm. Kesimpulan: Minyak habbatussauda pada konsentrasi 50%, 40%, 30% berdasarkan klasifikasi Greenwood memiliki daya hambat kuat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Pada konsentrasi 20% berdasarkan klasifikasi Greenwood memiliki daya hambat lemah terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. pada konsentrasi 10% berdasarkan klasifikasi Greenwood tidak memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Minyak habbatussauda efektif dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus pada konsentrasi 30%

    Efektifitas Ekstrak Buah Sawo Manila (Achras Zapota L.) terhadap Salmonella Typhi dengan Metode Agar Difus

    Get PDF
    Latar Belakang: Demam tifoid adalah infeksi sistemik akibat Salmonella enterica serotype typhi (S. typhi). Pada tahun 2004 S. typhi diperkirakan menginfeksi 21,7 juta orang dan menyebabkan 217.000 kematian di seluruh dunia. Insidensi tinggi demam tifoid (>100 kasus/100.000 populasi/tahun) ditemukan di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Selatan, sebanyak 80% kasus berasal dari area kumuh di Bangladesh, Cina, India, Indonesia, Laos, Nepal, Pakistan, dan Vietnam. Tujuan: Untuk Mengetahui efektifitas ekstrak buah sawo manila (Achras zapota L.) terhadap Salmonella typhi dengan metode agar difus dengan mengetahui sensitivitas Salmonella typhi penyebab demam tifoid terhadap buah sawo manila dalam menekan pertumbuhan bakteri dan mengukur zona hambat ekstrak buah sawo manila terhadap Salmonella typhi dalam menekan pertumbuhan bakteri. Metode: Penelitian ini adalah penelitian true experimental post test dengan menggunakan metode disc diffusion untuk melihat efektivitas ekstrak buah sawo manila (Achras zapota L.). Hasil: Dari konsentrasi 100%, 200% dan 400% di dapatkan dari sawo manila yang diencerkan menggunakan DMSO bahwa pada konsentrasi 100% didapatkan zona hambat yang terbentuk dengan interpretasi resisten, 200% didapatkan zona hambat yang terbentuk dengan interpretasi intermediet dan 400% didapatkan zona hambat yang terbentuk dengan interpretasi sensitif, terhadap bakteri Salmonella typhi

    Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Dismenorea dengan Perilaku Penanganan Dismenorea pada Mahasiswi FK UMI Makassar Angkatan 2013

    Get PDF
    Dismenorea merupakan nyeri perut bagian bawah yang terkadang rasa nyeri tersebut meluas hingga ke pinggang, punggung bagian bawah dan paha. Angka kejadian dismenorea di dunia sangat besar. Rata-rata lebih dari 50% perempuan di setiap dunia mengalaminya. Dari hasil penelitian, di Amerika persentase kejadian dismenorea sekitar 60%, Swedia 72% dan di Indonesia 55%. Wanita di Indonesia yang mengalami dismenorea lebih banyak mengatasinya dengan mengkonsumsi obat penghilang rasa nyeri yang beredar di pasaran. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa nyeri ini akan hilang setelah wanita menikah, sehingga mereka membiarkan gangguan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswi Fakultas Kedokteran UMI Makassar angkatan 2013 tentang dismenorea dengan perilaku penanganan disemenorea. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan desain penelitian analitik dengan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Jumlah sampel sebanyak 96 orang. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel 2010 dan SPSS versi 18.0. Data yang diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan dijelaskan dalam bentuk narasi (uraian) untuk memperjelas hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Hasil penelitian tingkat pengetahuan mahasiswi mengenai dismenorea sebanyak 33 responden (34,4%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, sebanyak 31 responden (32,3%) yang memiliki kategori cukup, dan sebanyak 32 responden (33,3%) memiliki kategori kurang. Perilaku penanganan dismenorea sebanyak 75 responden (21,246%) melakukan pemijatan untuk menangani dismenorea yang dirasakan secara mandiri dan sebanyak 63 responden (65,6%) telah melakukan perilaku yang sesuai untuk menangani dismenorea. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan tentang dismenorea dengan perilaku penanganan dismenorea pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Angkatan 2013

    133

    full texts

    153

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UMI Medical Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇