E-Journal STIQ Al-Lathifiyyah
Not a member yet
    69 research outputs found

    PROBLEMATIKA AYAT MUHKAM MUTASYABIHAT DALAM AL-QUR’AN

    No full text
    Artikel ini menganalisis secara kritis pemahaman bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, olehkarena itu untuk memahami hukum-hukum dalam teks Al-Qur’an perlu dipahami antara lain dari segi bahasa,dalam hal ini budidaya. Para ulama yang ahli dalam bidang fikih telah melakukan penelitian secara menyeluruhterhadap teks-teks al-Qur'an dan kajian ini tertuang dalam prinsip-prinsip yang dipegang oleh umat Islam yangbenar untuk memahami isi al-Qur'an dengan benar. Aturan-aturan ini membantu umat Islam untuk memahamiteks-teks yang tampak kabur (tidak jelas), interpretasi global teks takwil dan aturan hukum terkait lainnya dariteks-teks Al-Qur'an. Dengan demikian dapat dipahami mana ayat yang muhkam dan mana ayat yang mutasyabihatdalam Al-Qur'an itu sendiri

    NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL (Q.S Al-Hujurat Ayat 9-13 Studi Analisis Tafsir An-Nuur)

    No full text
    Penelitian ini dilaksnakan untuk membahas mengenai; 1) nilai-nilai pendidikan multicultural yang terdapat pada QS.al-hujurat ayat 9-13, 2) serta bagaimana cara mengimplementasi pendidikan multicultural yang sesuai dengan pendidikan islam. Penelitian disini menggunakan jenis penelitian kepustakaan sedangkan dalam membahas konflik yang akan dibahas menggunakan metode tafsir maudlu'I dan menggunakan teori pendekatan pendidikan multicultural, sehingga akhirnya penelitian ini menginformasikan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan yang bentul-betul memiliki keberagaman dalam beragam suku, ras, agama yang mana semuanya berhak mendapatkan yang hak sama. Sebagimana Al-Qur'an telah menyatakan bahwasannya orang yang bertakwalah yang muliah disisi Allah Swt. dalam Al-Qur’an juga melarang untuk tidak berbuat jahat atau bermusuhan karna akan membuat perselisihan, sebab itu harus mengedepankan prinsipprinsip dasar toleransi sosial. Dalam QS. al-Hujurat yang mana dari ayat 9-13, mengandung Nilai-nilai multikulturalisme yakni; kita harus memupuk sifat kekeluargaan meskipun berbeda, sikap Menghargai dan Menghormati, Menjauhi sikap prasangka, dan memiliki sikap Terbuka, harus Menumbuhkan sikap Inklusivitas, menciptakan sikap toleransi, dan harus selalu menaikkan keimanan pada Allah Swt, sehingga sikap multikulturar dalam dunia pendidikan dapat dihadirkan melalui mata pelajaran pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan dalam mata pelajaran sekolah sehingga dapat mencipkan generasi yang memiliki sikap yang multicultural

    AKTUALISASI NILAI KHALIFAH DALAM AL-QURAN

    No full text
    This paper discusses efforts to actualize the values of the Caliphate according to the Qur'an. Humans as rulers and regulators of life on earth (Al-Baqarah: 30). At least there are three elements that are interconnected between humans and the environment, first is humans as caliphs. The Caliph is a servant of Allah who obtains a mandate as implementer, regulator, policy maker and establishes laws according to the will of Allah and the aspirations of those who pledge him as caliphs, second, is the earth. Earth or regions are places to do the Caliphate. So that, a caliph must have knowledge to manage object with their power, third is the relationship between the Almighty and the territory and its relationship with the Almighty (Allah) as a mustakhlilf. Empirical experience shows that the main factors that make an important contribution in a good environmental management effort are the leadership factors inherent in their leaders. The ability to refrain from damaging the environment and realizing the sustainability of development. The role of humans is actually as a creature choosen by God not just as a ruler on earth. But also its role to prosper the earth. The contextualization of the role of the caliphate is actually the first step in maintaining the environment which is increasingly damaged, and even brings total destruction to the world

    FENOMENOLOGIS SAINS BERBASIS SPIRITUALITAS DALAM KAJIAN AL-QUR’AN

    No full text
    This paper shows the success of Al-Quran as a representation of scientific change of science that is very basic and deep. Phenomenological science in human life experienced a very rapid and comprehensive civilization. This will be balanced by improving the structure of human thinking in seeing and living a global life as it is today. The Qur'an provides knowledge of the principles of science and education, which are always associated with metaphysical knowledge, morality and spirituality. This study also intends to address the evidence of integrated science education in the perspective of the Qur'an. As well as trying to maximize the education of mod-ern science with knowledge of spirituality based on the study of Al-Qur'an Sciences in human life. This phenomenon brings the paradigm to humans, in the view of science, which makes the basis of knowledge assumption begins from the intellect (human intellect) in understanding the phe-nomenon that occur

    MASLAHAT DALAM PENETAPAN HUKUM QISHAS: Studi Terhadap Tafsir Ahkam Karangan Syekh Muhamad Ali Says QS. Al-Maidah: 45

    No full text
    Maslahat is the fundamental purpose of Islamic law. All that are Allah commanded by Allah through His lawcontain benefit dan kindness to anyone who done it and vice versa all that Allah prohibited contain vices. None of His law is meaningless. Allah has put human beings at the highest level of creation, honored them among His creations, and protects and look after mankind’s life. Qishas was created by Allah to prevent human beings from the vice of human act that endangerhis spirit and body.&nbsp

    KONSEP MUHASABAH DALAM AL-QUR’AN: Telaah Pemikiran al-Ghazali

    No full text
    This paper examines the concept of muhasabah according to al-Ghazali in the Qur'an. According to al-Ghazali, perfect muhasabah consists of six stages. First, Musyarathah or setting conditions. Second, Muraqabah or supervised. Third, Muhasabah or audited. Fourth, Mu'aqabah or sanctioned. Fifth, Mujahadah or earnest. Sixth, Mu'atabah or self-denial. These stages can be divided into three parts, namely preparations, moments of thought and practice afterwards. Musyarathah and Muraqabah can be categorized as practiced before being able to control and monitor the intention before performing a practice. While the Mu'aqabah, Mujahadah and Mu'atabah are the practices that follow after reflection. All three serve reward or punishment to oneself who have obtained evaluation results from the process of muhasabah

    AL-QUR’AN DAN ISLAMISASI BAHASA ARAB

    No full text
    Al Qur’an was sent down to Prophet Muhammad SAW as the Holy book by Arabic. Allah decided Arabic as one of miracles because it was the pure language and uninfluenced by any concept, philoshopy of religion, and doctrines by other cultures; and also built by a great roof of words with eternally semantic guarded purity. In Jahiliyah, Arabic was stated as sastra language. It was changed as a science of language since itwas sent down as wahyu. By this case, author decided that process (the alteration from sastra to be wahyu) is a part of Islamization process. The terms, definitions, and new key words come from Islamization process. Those concepts gave new sense which was different in using and understanding before Al qur’an was sent down.  Islamization Arabic, worldview, and framework of the society were changed into Islamic substance

    KONSEP KEPEMIMPINAN MENURUT PANDANGAN BUYA HAMKA DALAM TAFSIR AL-AZHAR

    No full text
    Tentang Kepemimpinan, Haji Abdullah Malik Karim Abdullah (HAMKA) sebagai tokohulama ulama Nusantara telah banyak membincangkan hal-hal yang berkaitan kepemimpinan didalam karya-karya beliau. Tafsîr Al-Azhâr sebagai karya agung beliau turut tidak ketinggalan dalammembincangkan masalah tersebut. Skripsi ini akan mengupas lebih mendalam tentang banyak halyang berkaitan dengan kepemimpinan studi pemikiran Hamka. Pembahasan di dalamnya berisitentang memahami ayatayat tentang kepemimpinan yang ada dalam tafsir karya beliau membahastentang istilah atau pemaknaan yang telah digunakan Hamka dalam menjelaskan maksud darikepemimpinan itu sendiri. Skripsi ini juga akan membicarakan pemikiran Hamka tentangbagaimana seseorang menjadi pemimpin yang ideal menurut pandangan Hamka, Serta tidakketinggalan membahas peranan Hamka yang telah banyak memberi sumbangsih dan peranan yangamat penting dalam menginspirasi umat, khususnya umat islam sendiri dan perjuangannya ataskemajuan bangsa semasa ia hidup

    SENI RUPA DALAM AL-QUR’AN (QS, SABA’: 13)

    No full text
    Penelitian skripsi ini bertema SENI RUPA DALAM ALQUR’AN (TAFSIR TAHLILI QS, SABA’: 13). Skripsi ini di latar belakangi mengenai bagaimana seni rupa terbentuk dari perkembangan zamannya terutama di dalam .Al-Qur’an, sehingga dengan melihat perkembangan seni rupa ini menjadikan solusi pandangan bahwa bisa jadi seni rupa itu sendiri bisa membawa kebaikan maupun membawa keburukan. Dalam penelitian ini, seni rupa merupakan cabang dari seni. Seni rupa merupakan suatu karya seni yang diwujudkan secaranampak dapat memberikan keindahan, rasa   dan kepuasan bagi para penikmat. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa di zaman Nabi Sulaiman pernah membuat karya seni rupa yakni dalam Qs, Saba’: 13. Seni rupa dalam Al- Qur’an dijelaskan bawah sudah ada sejak zaman Nabi Sulaiman, hal ini dijelaskan dalam Qs, Saba’:13 bahwa para jin yang diperintah oleh Nabi Sulaiman untuk membuat berupa maharib (gedung-gedung, rumah, masjid), tamatsil (patung, gambar-gambar), jifan (piringpiring), qudurirrosiyat (periuk-periuk untuk memasak), kesemua ini termasuk kedalam bidang seni rupa, bahwasanya seni rupa merupakan bentuk yang diciptakan secara nampak. seni rupa dalam Qs, Saba’:13 menjelaskan bahwa seni rupa pada zaman Nabi Sulaiman sangat berpengaruh dalam keberhasilan terhadap sosial budaya, antara lain membuat keindahan bagi kota Yerussalem

    PERGESERAN PARADIGMA PENAFSIRAN ULAMA NUSANTARA TENTANG MODERASI BERAGAMA (Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Misbah)

    No full text
    Berbagai gagasan mengenai sikap moderasi beragama terus tumbuh menunjukkan bagaimanaintelektual Muslim Indonesia memiliki pandangan mengenai sikap-sikap yang toleran atas pemeluk agamalain. Salah satu tokohnya ialah Hamka dan Quraish Shihab dengan karya Tafsirnya. Kedua tokoh tersebutmenghadapi situasi yang berbeda karena lahir pada generasi berbeda. Artikel ini berusaha untuk melihatbagaimana respon kedua tokoh tersebut tentang toleransi beragama di Indonesia di dalam karya tafsirmasing-masing dengan menggunakan pendekatan Kuhn mengenai konsep pergeseran paradigm (paradigmshift) untuk melihat pergeseran penafsiran yang terjadi. Analisis akan diarahkan dengan meninjau latarbelakang ideologi, relasi kuasa (otoritas), dan fanatisme terhadap suatu ideologi. Penelitian ini fokus padaayat-ayat moderasi beragama yakni surah al-Baqarah [2]: 256, Ali ‘Imran [3]: 85, Al-Kafirun [109]: 1-6, yangakan ditinjau juga dengan mengalisis aspek sosial-budaya dan otoritas penafsiran yang terjadi. Hasil daripenelitian ini menunjukkan adanya pergeseran pemikiran dari kedua tokoh di atas dari teologi-Madhabikepada teologi-Humanis. Penafsiran Hamka cenderung klasik terutama dalam melihat relasi agama danbudaya, sementara Shihab lebih terbuka atas perbedaan. Ini menunjukkan keterpengaruhan penafsiranberdasarkan konteks keindonesiaan yang beragam

    0

    full texts

    69

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal STIQ Al-Lathifiyyah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇