Jurnal Akademi Pariwisata Medan
Not a member yet
101 research outputs found
Sort by
Peningkatan Keselamatan Angkutan Penyeberangan (Fery) Lintas Ajibata-Ambarita Kabupaten Toba Samosir
The background of this study is the incident of the sinking of KM Sinar Bangun in Lake Toba which claimed many lives. The accident can actually be avoided if the ship's safety factor is sufficient and also the manifest of the passenger is recorded. This study uses a qualitative descriptive method, by distributing questionnaires to the passengers of the ship. The findings obtained are that the safety facilities have been repaired, and that the passenger manifest has been recorded and also the construction of a new pier in the port of Ajibata. Furthermore, the future efforts that can be done is to further promote lake crossings so that tourists from outside the province are willing to make a visit to Samosir Island by using the lake crossing.
REFERENCES
BNPB.(2008). Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana.
Carter, G.M., et al.(1992). Building Organizational Decision Support Systems,. Academic Press, Boston..
Mulyana Deddy.(2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya.
Siagian, Sondang P.(2003). Manajemen Sumber Daya Manusia. Cetakan Ketujuh. Jakarta: Bumi Aksara.
Siagian Sondang.(2005). Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit : Bumi Aksara.Latar belakang dari penelitian ini adalah kejadian tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba yang banyak menelan korban jiwa. Kecelakaan tersebut sebenanrnya dapat dihindari apabila faktor keselamatan kapal cukup dan juga manifes penumpang yang tercatat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan penyebaran kuesioner kepada para penumpang kapal. Temuan yang didapat adalah fasilitas keselamatan sudah diperbaiki, sudah dilakukan pula pencatatan manifes penumpang dan juga pembangunan dermaga baru dipelabuhan Ajibata. Selanjutnya kedepan usaha yang dapat dilakukan adalah lebih mempromosikan penyeberangan danau sehingga wisatawan luar provinsi bersedia untuk melakukan kunjungan ke Pulau Samosir dengan menggunakan penyeberangan danau
Pengembangan Sumber Daya Manusia Kepariwisataan dalam Pendidikan Kejuruan
One of the institutions in the formal education pathway is preparing graduates to have an advantage in the world of work, including through vocational educations channels, especially. Tourism midwives. Vocational education has different characteristics, from other education units. The difference can be assessed in terms of educational objectives, substance of study, important need in the future. Vocational Education in the XX1 century continues to be developed in line with technological developments both macro and micro, accompanied by the development of Human Resource to support the success of vocational education, especially in the field of tourism in Indonesia. Indonesia places vocational education as part of the national education system to prepare graduates to work or continue to a higher level or work independently as an entrepreneur. This goal contains three main aspect, namely having work competence, character (personality and noble character) for independent living (live skills), and career development through vocational education
REFERENCES
Alford, Juechter, (1998), Five Condition For High Performance Culture, Journal Of Training And Development.
Badan Pusat Statistik. (2020,14 Januari). Jumlah Pekerja Pada Industri Pariwisata Dalam Proporsi Terhadap Total Pekerja, 2015 –2018. Diperoleh 14 Jnauari 2020, dari https://www.bps.go.id/dynamictable/2018/05/18/1332/jumlah-pekerja-pada-industri-pariwisata-dalam-proporsi-terhadap-total-pekerja-2015---2016
Bloom, Benyamin S. (1979). Taxonomy Of Educational Objective. New York:Longman.
Coombs, P (1968), The World Educational Crisis. New York : Oxford University Press.
Eti Rochaety, Dkk. (2005) . Sistem Informamsi Manajemen Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Finch, C. Dan Crunkilton, J.R. (1984). Curriculum Development In Vocational And Technical Education : Planning,Content And Implementation. Boston : Allyn And Bacon, Inc.
Gill, I.S., Fluitman, F.,& Dar, A. (2000). Vocational Education And Training Reform, Matching Skills To Markets And Budgets. Washington: Oxford University Press.
Joyce, Bruce, & Marsha Weil (2000), Models Of Teaching. Amerika: A. Person Education Company.
Masatip, A. (2016). Kualitas Kehidupan Kerja, Komitmen Organisasi Dan Kepuasaan Kerja Serta Implikasinya Pada Kinerja Tenaga Pengajar Sekolah Tinggi Pariwisata Negeri Di Indonesia. (Doctoral Dissertation, UNPAS).
Ritonga, A. K. (2018). Program Development As An Alternative Improvement Of Service Quality And Results Of Vocational Education. International Journal Of Social Sciences And Educational Studies, 4(4), 22-26.
Sagala, S.(2005). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta.
Sudrajat, H. (2003). Undang Undang Pendidikan Nasional. Yogyakarta : Pustaka Belajar.
Suharkimi, A. ( 1997). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
Slamet, P.H. (2008). Pendidikan Kecakapan Hidup: Konsep Dasar. Jurnal Pendidikan Dan
Kebudayaan, No. 037, Juli 2008., Jakarta: Balitbang Depdiknas.
Supriadi, D. (2002). Perubahan Pendidikan Harus Bertahap, Pikiran RakyatPada suatu Lembaga dengan jalur Pendidikan formal dapat mempersiapkan lulusannya yang mempunyai keunggulan di dunia kerja, dengan diantaranya yaitu pada khususnya pada jalur Pendidikan kejurusan bidang kepariwisataan. Pendidikan kejuruan memiliki karakteristik yang berbeda dengan satuan pendidikan lainnya. Perbedaan tersebut dapat dikaji dari tujuan pendidikan, substansi pelajaran, tuntutan pendidikan dan lulusannya. Pengembangan Kepariwisataan dalam pendidikan kejuruan (vocational) merupakan suatu kebutuhan sangat penting pada masa mendatang. Pendidikan Kejuruan abad XXI terus dikembangkan seiring dengan perkembangan teknologi baik secara makro dan mikro dengan diiringi pengembangan Sumber Daya Manusia untuk mendukung keberhasilan pendidikan kejuruan khususnya bidang kepariwisataan di Indonesuia. Indonesia menempatkan pendidikan kejuruan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional untuk menyiapkan lulusan bekerja atau melanjutkan kejenjang lebih tinggi atau bekerja mandiri berwirausaha. Terdapat beberapa tujuannya yang terdiri atas tiga aspek pokok, yaitu kompetensi kerja, karakter (kepribadian dan ahklak mulia) untuk hidup mandiri (life skills), dan berkembangnya karir melalui pendidikan kejurua
Kompetensi Sumber Daya Manusia Bidang Perhotelan Pada Hotel Bintang 4 Di Kota Berastagi Kabupaten Karo
This research was conducted to find out how far the competence of employees in the field of hospitality, especially in 4 star hotels in Berastagi city and to know how big the role of Karo district government in increasing the competence of employees working in hotel in Berastagi. The method used in this research is qualitative method with descriptive research type which explain the actual condition that happened in the field with data collection technique through observation, interview and documentation. Based on the results of the research can be in the know that employees who work at hotels in Berastagi have never followed the certification of competence and management of 4 star hotels in Berastagi has not conducted a competency test for employees who work in hotels and Karo district government also has not done activities related to training or competency tests as a form of government support.
REFERENCES
Fogg, Luthans. (2004). Organizational Behaviour. NY: MC Graw-Hill Book.
Kravetz. First published: 26 May. (2004). Full publication history; DOI: 10.1002/col.20040 View/save citation; Cited by (CrossRef): 0 articles Check for updates.
Moeheriono. (2012). Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ruky. (2003). Kualitas Sumber Daya Manusia.Jakarta: PT Gramedia. Pustaka.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung : Alfabeta.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana kompetensi karyawan di bidang perhotelan khususnya di hotel bintang 4 yang ada di kota Berastagi dan untuk mengetahui seberapa besar peran pemerintah kabupaten Karo dalam meningkatkan kompetensi karyawan yang bekerja di hotel hotel yang ada di Berastagi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif dimana menjelaskan kondisi yang sebenarnya yang terjadi di lapangan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, interview dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat di ketahui bahwa karyawan yang bekerja di hotel yang ada di Berastagi belum pernah mengikuti sertifikasi kompetensi dan manajemen hotel bintang 4 yang ada di Berastagi belum ada melaksanakan kegiatan uji kompetensi bagi karyawan yang bekerja di hotel serta pemerintah Kabupate Karo juga belum ada melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pelatihan atau uji kompetensi sebagai bentuk dukungan dari pemerintah
Analisis Warung Wajik Peceren Dan Warung Sari Tebu Manis Sebagai Branding Kuliner Di Kota Wisata Berastagi Kabupaten Karo
This research was conducted to find out how big the interest of tourists who come to visit wajik stalls and sugar cane juice sweet so that in know whether the two places are worthy made in culinary branding in the city of Berastagi tourism. The method used in this research is qualitative method with descriptive research type which explain the actual condition that happened in the field with data collection technique through observation, interview and documentation. Based on the results of the research can be in the know that in general the interest of visitors to enjoy the menu at the stall wajik peceren better in comparison the interest of visitors in sweet sugar cane stalls. The price offered in these two stalls is very relative and classified as not so expensive and visitors who come to stalls wajik peceren usually buy diamonds that are characteristic of the shop to be brought as by the family at home while the visitors who enjoy the menu at the sweet sugar cane where in general, visitors who come only enjoy the menu on offer, especially Berastagi sugar cane and not brought home as souvenir for the family.
REFERENCES
Ardika, I Wayan. (2011). Gastronomi dalam Pariwisata Budaya. Pemberdayaan dan Hiperdemokrasi dalam Pembangunan Pariwisata. Persembahan untuk Prof. Ida Bagus Adnyana Manuaba. Denpasar : Pustaka Larasan.
Jean Anthelme, Brillat-Savarin. (1948). Physiologie du gout ou méditations gastronomie transcendante ouvrage théorique, historique, et à l’ordre du jour.Paris : Librairie Garnier Frères.
Kotler dan Keller. (2009), Manajemen Pemasaran Jilid I. Edisi Aristo.
Surya (2009) Analisis Pengaruh Brand Awareness, brand associatuin.
Kotler.(2003). Manajemen Pemasaran,Edisi Kesembilan. Jakarta: PT.Indeks Gramedia. Djaslim. Saladin. (2002).
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar minat wisatawan yang datang berkunjung ke warung wajik dan warung sari tebu manis sehingga di ketahui apakah kedua tempat tersebut layak di jadikan branding kuliner di kota wisata Berastagi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif dimana menjelaskan kondisi yang sebenarnya yang terjadi di lapangan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, interview dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat di ketahui bahwa secara umum minat pengunjung untuk menikmati menu di warung wajik peceren lebih baik di bandingkan minat pengunjung di warung tebu manis. Harga yang ditawarkan di kedua warung ini sangat relative dan tergolong tidak begitu mahal serta pengunjung yang datang ke warung wajik peceren biasanya membeli wajik yang menjadi ciri khas warung tersebut untuk di bawa sebagai oleh oleh keluarga di rumah sedangkan pengunjung yang menikmati menu di warung tebu manis dimana secara umum pengunjung yang datang hanya menikmati menu yang di tawarkan khususnya air tebu Berastagi dan tidak di bawa pulang sebagai oleh oleh buat keluarga
Analisis Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Hutan Raya Bukit Barisan Kecamatan Dolat Rayat Kabupaten Karo
Development of ecotourism Raya Bukit Barisan Forest Park in Tongkoh Village Dolat Rayat Sub district has a long term positive prospect to improve the social and economic life of the community around Raya Bukit Barisan Forest area. Exploitation of Raya Park Bukit Barisan unstructured should be avoided. Therefore, it is necessary to prepare a blue print in the development of Raya Bukit Barisan Ecotourism ecotourism, one of which is to conserve nature in the Raya Bukit Barisan Forest Park on a continuous basis. So that the community in the utilization and use of Raya Bukit Barisan Forest Park for the community in the long term can be realized. Efforts are made to maintain environmental conditions Raya Park Bukit Barisan Forest to remain in good condition. Ecotourism activities at Bukit Barisan Forest Park should be able to provide economic benefits and provide employment opportunities for the surrounding community. Avoiding environmental hoards at Bukit Barisan Forest Park when tourists make a visit. So the participation of the surrounding community is a major factor in encouraging the existence of Bukit Barisan Forest Park through reforestation, monitoring of deforestation, clearing of forest edge areas and so on.
REFERENCES
Abadi, Muhammad Afzan. (2006). Upaya Meningkatkan Minat Baca Pada Anak. Skripsi. Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam. Fakultas Adab. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. http://alamipii.multiply.com/journal/item/4 [4Februari 2008].
Abikusno, Rhinomuraena Murtoaji. (2005). Studi Pengembangan Potensi Kawasan Wisata Pemandian Air Panas Sari Ater Hot Spring Resort (Ciater), Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sripsi. Departemen Konservasi Sumber daya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Denman R. 2001. Guidelines for Community-Based Ecotourism Development.UK:WWFInternational. Assets.panda.org/download/guidelinesen [12 Mei 2008].
Departemen Kehutanan Republik Indonesia. (2007). Kemungkinan Meningkatkan Ekowisata. http://www.dephut.go.id/informasi/PHPA/mphpa1.html [6 September 2008].
Fandeli, Chafid dan Muhammad Nurdin. (2005). Pengembangan Ekowisata Berbasis Konservasi di Taman Nasional. Fakultas Kehutanan UGM, Pusat Studi Pariwisata UGM, dan Kantor Kementerian Lingkungan Hidup. Yogyakarta.
Santoso SP. Tangkilisan HNS. Tanpa tahun. Strategi Pengembangan Sektor Pariwisata. PT. Yayasan Pembaharuan Administrasi Publik Indonesia (YPAPI). Yogyakarta.
Soekadijo, R. G. (2000). Anatomi Pariwisata. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sudarto, G. (1999). Ekowisata: Wahana Pelestarian Alam Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yayasan Kalpataru Bahari bekerjasama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Bandung.
Suhaidin, TAhaimin. (2008). Artikel Motivasi dan Pembangunan Diri: Defenisi, Pengertian, dan Motivasi Takrifan Motivasi. http://www.ugmc.bizland.com/ak-ertimotivasi.tm [4 Februari 2008].
Suprana, N. (1997). Pengembangan Pariwisata Alam di Kawasan Pelestarian Alam: Suatu Peluang, Ekonomi, Peran Serta Masyarakat dan Ramah Lingkungan Dalam Pengembangan Obyek Wisata Alam. Prosiding Pelatihan dan Lokakrya Perencana Pariwisata Berkelanjutan. ITB. Bandung.
Usman, M. (1999). Peluang Pengembangan Ekotourisme Indonesia sebagai Andalan Alternatif Kepariwisataan Nasional. Makalah Pada Seminar Prospek dan Manajemen Ekotourisme Memasuki Milenium Ketiga. Departemen Kehutanan. Bogor. Jawa Barat.Pengembangan ekowisata Taman Hutan Raya Bukit Barisan pada Desa Tongkoh Kecamatan Dolat Rayat memiliki prospek positif dalam jangka panjang untuk memperbaiki tahap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat disekitar kawasan Taman Hutan Raya Bukit Barisan. Eksploitasi Taman Hutan Raya Bukit Barisan secara tidak terstruktur perlu dihindari. Oleh sebab itu perlu disusun suatu blue print dalam pengembangan ekowisata Taman Hutan Raya Bukit Barisan, salah satunya melakukan konservasi alam pada kawasan Taman Hutan Raya Bukit Barisan secara berkesinambungan. Sehingga kontiunitas dalam pemanfaatan dan penggunaan Taman Hutan Raya Bukit Barisan bagi masyarakat dalam jangka panjang dapat terwujud. Upaya yang dilakukan adalah menjaga kondisi lingkungan Taman Hutan Raya Bukit Barisan agar tetap dalam kondisi baik. Kegiatan ekowisata pada Taman Hutan Raya Bukit Barisan harus dapat memberikan keuntungan ekonomi dan memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitarnya. Menghindari kerasakan lingkungan pada Taman Hutan Raya Bukit Barisan pada saat wisatawan melakukan kunjungan. Maka partisipasi masyarakat sekitarnya menjadi faktor utama dalam mendorong eksisistensi Taman Hutan Raya Bukit Barisan melalui penghijauan, pengawasan terhadap penebangan hutan, membersihkan area pinggiran hutan dan sebagainy
Analisis Hubungan Strategi Komunikasi Pemasaran dan Tingkat Pendapatan Homestay di Kabupaten Karo
The research titled Relationship Analysis of Marketing Communication Strategy and Income Level of homestay in Tanah Karo Regency aims to analyze the relationship between homestay characteristics with income level and relationship marketing communication strategy with homestay income level. The approach used in quantitative research. Data collection using survey method and statistical data analysis to know the correlation between marketing communication strategy variable and income level. Area tourist destination in an area of course there are good accommodation hotel and lodging Travel Bureau to support the development of tourist destinations. The homestay concept combines lodging with affordable cost and an authentic local cultural experience. The homestay development will be done by mobilizing local communities in the region, as part of the development of the tourist village. It is also expected to have a wider positive impact. Homestay tourist village has in terms of tourist attractions and the aspect of amenitas. The aspect of tourist attraction means that it has a tourist attraction, especially cultural tourism by re-lifting the Karo District Traditional Architecture and its location in the tourist destination, especially in the Tourism Village so that tourists can interact with the local community. While the aspect of amenitas means to be a safe and comfortable place to live for the people & tourists with the management of Homestay national or international standards required by the central government or local government able to encourage economic growth that exist in tourist destinations.
REFERENCES
Arikunto, Suharsimi. (2006). Metode Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Antonius, dkk. (2002). Empowerment, Stress dan Konflik. Jakarta: Ghalian Indonesia Aw, Suranto. (2011). Komunikasi Interpersonal, PT. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Burgoon, Michael.(1994). Human Communication. USA : Sage Publications
David, Fred R. (2004). Manajemen Strategi Konsep, Edisi ketujuh, PT. Prenhalindo, Jakarta.
Dyckman, Thomas R., Roland E. Dukes, Charles J. Davis. (2002). Akuntansi Intermediate, Edisi Kesepuluh, Jilid I, Terjemahan Emil Salim. Jakarta: Erlangga
Chang, Raymond. (2005). Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Effendy, Onong Uchjana. (1997). Ilmu teori & Filsafat Komunikasi. Bandung:Citra Aditya Bakti.
Husein, Umar. (2003). Strategic Manajemen in Action, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Mulyana, Deddy. (2007). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Chang, Raymond. (2005). Kimia Dasar:Konsep-konsep Inti Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Hovland, Carl L. (2007). Definisi Komunikasi. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Harahap Sofyan Safri, (2002). Teori Akuntansi Laporan Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Ikatan Akuntan Indonesia. (2001). Standar Profesional Akuntan Publik. Kompartemen Akuntan Publik IAI. Jakarta.
Pendit, Nyoman S. (1990). Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: T. Pradnya Paramita.
Sukirno, Sadono. (2002). Teori Mikro Ekonomi. Cetakan Keempat Belas. Rajawali Press: Jakarta.
Sumitro Djojohadikusumo. (2005). Ekonomi Pembangunan, Jakarta: Pustaka Ekonomi.
Suparmoko. (2002). Ekonomi publik untuk keuangan dan pembangunan daerah. Andi.Yogyakarta.
Tuanakotta, Theodorus. M. (2009). Menghitung Kerugian Keuangan Negara dalam Tindak Pidana Korupsi. Salemba Empat: Jakarta.
Yoeti Oka. A. (1996). Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung : Angkasa
Pengaruh Kualitas Pelayanan Dan Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Konsumen Di 71st Omakase Restoran, Cikajang Jakarta
This research was conducted to determine the effect of service quality, product quality on consumer satisfaction in 71st Omakase Restaurant. Service quality and product quality factors are the most important factors that are always sought by the Management in maintaining customers to be satisfied and loyal. This study uses a quantitative method by looking at the entire population of nearly 4200 visitors and the sample is conducted on 100 guests in the final period 2018. Using a measurement scale used is the Likert scale 1-5. Data analysis begins with the validity test and the reliability test. The approach used is the corrected item total correlation which is processed using SPSS version 23. The results of the study explain that the test results of the coefficient of determination, the results obtained are 51.5%, which means the variable service quality, product quality affects the customer satisfaction variable by 51.5% and the remaining 48.5% is influenced by other factors. It is recommended to examine other factors such as: brand image, customer or customer loyalty
REFERENCES
Abdullah, M. (2014). Manajemen Pemasaran.Yogyakarta:Penerbit Aswaja Pressindo.
Buchari, A. (2004). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung: Alfabeta.
Terry, G.R. (2010). Manajemen PemasaranEdisi Pertama. CetakanPertama. Jakarta : Penerbit Kencana
Garvin, D.A. (1994), Kualitas ProdukAlat Strategi Yang Penting: Free Press
Hasibuan, M.S.P.(2007), Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Bandung:PT. Bumi Aksa.
Kotler, P. & Garry A.(2010). Principles of Marketing, Thirteen Edition. New Jersey:Prentice all.
Kotler, P. & Kevin, L. K.(2012). Marketing Management. New Jersey: Pearson Education Limited
Kotler, Philip and Garry A. (2012). Principles of Marketing.New Jersey: Pearson Education Limited
Lupiyoadi, R. (2006). Manajemen Pemasaran Jasa.Jakarta : Salemba Empat.
Ninemeier, J. D. &Hayes, D.K. (2006). Restaurant Operations Management.New Jersey : Principles and Practices
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Bisnis, Cetakan ke-17. Bandung : Alfabeta.Strauss, B and Neuhaus P (1997), The Qualitative Satisfaction Model, International Journal of ServicesIndustries Management. 8 (3). 236-249. Doi:10.1108/095642397101854. 24.
Tjiptono, F., Gregorious,C.&Dedi, A. (2008). Pemasaran Strategic, Yogyakarta: Andi Offset.
Zulian, Y. (2010), Manajemen Kualitas Produk & Jasa,Vol. Edisi Pertama,Yogyakarta : Jurnal Akademi Pariwisata Medan ISSN 2656-0992 (Online), ISSN 1858 –2842 (Print), Juli –Desember 2020, Vol. 8 No.2131Jurnal Akademi Pariwisata Medan EKONISIAPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh kualitas pelayanan, kulaitas produk terhadap kepuasan konsumen di 71st Omakase Restoran. Faktor kualitas pelayanan dan kualitas produk merupakan faktor yang terpenting yang selalu diupayakan pihak Manajemen dalam mempertahankan para pelanggan agar menjadi puas dan loyal. Penelitian ini mengunakan metode kuantitatif dengan melihat seluruh populasi yang hampir 4200 pengunjung dan sample dilakukan pada 100 tamu pada periode akhir 2018. Dengan menggunakan skala pengukuran yang digunakan adalah skala Likert 1-5. Analisis data diawali dengan uji validitas dan uji reabilitas. Pendekatan yang digunakan adalah corrected item total correlation yang diolah menggunakan SPSS versi 23. Hasil penelitian memaparkan bahwa hasil uji koefisien determinasi, hasil yang sudah didapat yaitu 51,5% yang berarti variabel kualitas pelayanan, kualitas produk memperngaruhi variabel kepuasan pelanggan sebesar 51,5% dan sisanya 48,5% dipengaruhi oleh faktor lain. Disarankan untuk meneliti faktor lain seperti: brand image, wom atau loalitas pelangga
Pengaruh Kualitas Fasilitas terhadap Kepuasan Pelanggan untuk Berkunjung kembali di Kabupaten Humbang Hasundutan (Studi Di Beberapa Hotel Berbintang Di Kecamatan Bakti Raja)
This research is motivated by a problem that occurs that guests often complain because they are not satisfied with the quality of facilities and services provided by the hotel. With the existing problems, the study was conducted to analyze the occurrence of these errors by looking at the effect of the quality of the facility on customer satisfaction. This research uses quantitative research which is classified as descriptive research. The research data were collected from 34 respondents, the respondents' answers were then processed using the Statical Product and service solutions (SPSS) program, by conducting validity tests, reliability tests, descriptive statistical tests, hypothesis tests, partial tests, and determination. The analysis shows that the quality of the facility has a significant effect on customer satisfaction. The quality of the facility affects customer satisfaction by 58.3%. Based on the results of these studies it is suggested to the parties concerned to be able to improve the quality of the facilities owned.
REFERENCES
P, A.P. (2012), Teori-teori Politik.Yogyakarta: Graha Ilmu
Arikunto, S. (2006). Metode Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Cronin, J.J and Taylor, S.A. (1994). Servperf Versus Servqual: Reconciling PerformanceBased and Perceptions-Minus-Expectations Measurement Of Service Quality. p.125–31.
Fandy, T. (2002), Manajemen Jasa, Yogyakarta: Penerbit Andi
Greenberg. (2010). Perilaku Konsumen. Jakarta: Prentice Hall
Kotler, P. (2004). Manajemen Pemasaran Edisi Delapan. Jakarta :Salemba Empat
Kotler, P. (2000). Manajemen Pemasaran Edisi Milenium. Jakarta Prenhalindo.
Kotler, A. (2001). Prinsip-prinsip pemasaran, Edisi keduabelas, Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Kotler, P. (2007). Manajemen Pemasaran Edisi 12 Jilid 1. Jakarta: PT.Indek.
Kotler. P, & Amstrong, Gary.(2005). Dasar-dasar Pemasaran. Jakarta: Prehallindo
R, Basiya dan Rozak, Hasan A. (2012). Kualitas Daya Tarik Wisata, Kepuasan, dan Niat Kunjungan Kembali Wisatawan Mancanegara di Jawa tengah. Jurnal Dinamika Kepariwisataan, Vol. XI No.2, p.1-12
Ritonga, A. K (2018). Program Development as an Alternative Improvement of Service Quality and Result of Vocational Education. International Journal of Social Sciences & Educational Studies, 4(4), 22-26
Sugiyono. (2005). Riset Penelitian. Bandung : Alfabeta
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Tse and Wilton. (1988). Models Of Consumer Satisfaction Formation : An Extention. Journal
Of Marketing Reaserch, Vol. 25, pp. 204-212, 1988.
Tjiptono, F. (2005). Pemasaran jasa. Jawa Timur:Bayumedia Publishing
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah yang terjadi yaitu tamu kerap kali komplen karena merasa tidak puas dengan kualitas fasilitas maupun pelayanan yang diberikan oleh pihak hotel. Dengan masalah yang ada maka penelitian dilakukan untuk menganalisis terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat dari pengaruh kualitas fasilitas terhadap kepuasan pelanggan. Dalam penelitian ini digunakan penelitian kuantitatif yang tergolong ke dalam penelitian deskriptif. Data penelitian dikumpulkan dari 34 orang responden, jawaban responden tersebut kemudian diolah dengan menggunakan program Statical Product and service solutions (SPSS), dengan melakukan uji validitas, uji realibilitas, uji statistic deskriptif, uji hipotesis, uji parsial, dan determinasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas fasilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Kualitas fasilitas mempengaruhi kepuasan pelanggan sebanyak 58,3 %. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan kepada pihak yang bersangkutan agar dapat meningkatkan kualitas fasilitas yang dimiliki.
 
Persepsi dan Ekspektasi Wisatawan Terhadap Kualitas Pelayanan Rumah Makan Wisata di Desa Terong, Kabupaten Belitung
Quality of service is one of the dimensions in achieving tourist satisfaction when visiting, not only in tourist destinations but also in restaurants or tourist restaurants. This is important to maintain sustainable tourism. This study was to analyze the level of perception and level of expectation of the quality of tourist restaurant services in Terong Village, Belitung Regency. The quality of service studied included tangible variables, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. Data collection techniques used were interviews, questionnaires, and observations. Data analysis model used by the Importance Performance Analysis (IPA) method, to determine the priority of indicators that can affect service quality. The study population was 60 tourists who were traveling in Belitung Regency. Research shows. the suitability level index of service quality is at 77.57 percent and to improve the quality of services identified ten indicators are priority factors for improvement. Six other indicators detected as a supporting factor for service quality, achievement has been able to meet the level of tourist expectations.
REFERENCES
Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung. (2019). Kabupaten Belitung Dalam Angka 2019. Kabupaten Belitung: Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung. (2018). Kecamatan Sijuk Dalam Angka 2018. Kabupaten Belitung: Badan Pusat Statistik.
Dirgantara, Bima Harya dan Aryo Tri Sambodo, Penerapan Model Importance Analysis dalam Studi Kasus: Analisis Kepuasan Konsumen bhinneka.com, Jurnal Sains dan Teknologi Kalbiscentia, Vol. 2 No. 1 Februari 2015: 52-62.
Ghozali, Imam. (2011).Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 19, Edisi Kelima, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Marsyangm, (1999), Manajemen Jasa Pendekatan Terpadu, Ghalia Indonesia, Bogor.
Melati, Dhine Ayu Restu dan Putu Nina Madiawati, Analisis Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan menggunakan Metode Importance Performance Analysis (IPA) pada PDAM Tirtawening Kota Bandung, e-Proceeding of Management: Vol. 2 No. 3 Edisi Desember 2015: 3561-3567.
Murti, B. (2013). Desain dan ukuran sample untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif di bidang kesehatan . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kualitatif: Untuk penelitian yang bersifat: eksploratif, enterpretif, interaktif dan konstruktif. Bandung: Alfabeta
Tjiptono, Fandy, Gregorius Chandra. (2016). Service, Quality, & Satisfaction, Edisi 4Yogyakarta: Andi.
Zeithaml, Valarie A., Mary Jo Bitner. (2000). Service Marketing:Integrating Customer Focus Across The Firm, Second Edition. New York, NJ: Mc Graw-Hill Companies Inc.
Zulganef. (2006). Pemodelan Persamaan Struktur dan Aplikasinya menggunakan AMOS 5 . Bandung: PustakaKualitas pelayanan merupakan salah satu dimensi dalam mencapai kepuasan wisatawan ketika berkunjung, tidak hanya pada destinasi wisata tetapi juga pada restoran atau rumah makan wisata. Hal ini penting dijaga demi menjaga pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini untuk menganalisis tingkat persepsi dan tingkat ekspektasi dari kualitas pelayanan rumah makan wisata di Desa Terong, Kabupaten Belitung. Kualitas pelayanan yang diteliti mencakup variabel tangible, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, kuesioner, dan observasi. Model analisis data yang digunakan dengan metode Importance Performance Analysis (IPA), untuk mengetahui prioritas terhadap indikator yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan. Populasi penelitian adalah 60 orang wisatawan yang sedang berwisata di Kabupaten Belitung. Penelitian menunjukkan. indeks tingkat kesesuaian dari kualitas pelayanan berada pada angka 77,57 persen dan untuk meningkatkan kualitas pelayanan teridentifikasi terdapat sepuluh indikator yang menjadi faktor prioritas perbaikan. Enam indikator lain terdeteksi sebagai faktor penunjang kualitas pelayanan, berprestasi telah mampu memenuhi tingkat ekspektasi wisatawan
Peranan Batik Bakaran Sebagai Cenderamata Khas Kecamatan Juwana
There are several factors that make a product can be categorized as a souvenir typical of a region. Among them is having the distinctiveness of a place or unique, relative price, can be carried by hand, has a value of reminiscence, is able to be awarded and have the memory of events from somewhere. Typical regional products Juwana one of them is Batik Offering. This study aims to determine whether Batik Bakaran fulfills the criteria for a souvenir and development efforts. The study was conducted using qualitative method by conducting depth interviews with informants. Informants are looking for is a trader and craftsmen Batik Bakaran, and buyers who frequently use the product Batik Offering. Based on research data obtained, Batik Bakaran can be called as souvenirs of the District Juwana because it has a strong characteristic 5 of the 6 available. For development efforts that have been made for this, among others, by utilizing technology to introduce the product, participated in the exhibition to get a new variation of the motif.
REFERENCES
Budiono, B., dan Vincent, A. (2011). Batik Industry of Indonesia: The Rise, Fall and Prospects. University of Pancasila.
Collins-Kreiner, N., dan Zins, Y.(2010). Tourists and Souvenirs: change through time, space and meaning. University of Haifa.
Darnawi. (2011). Pengaruh Konsep Bauran Pemasaran terhadap Kepuasan Konsumen dan Keputusan Membeli Produk Batik di Malioboro. Tesis: Program Pasca Sarjana, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia.
Dora,P.E., dan Poetiray,S.G. (2012).The Role of Basic Design Course In The Introduction And Development Of Local Culture Values. Universitas Petra Surabaya.
Hamzuri. (1989). Batik Klasik (Classical Batik). Jakarta: Djambatan.
Hoven, E.v.d., dan Eggen, B. (2005). Personal souvenirs as Ambient Intelligent Objects . Eindhoven University of Technology.
Indonesian Batik: A Cultural Beauty. (2008). Departemen Perdagangan Republik Indonesia. Jakarta: Balitbangdag.
Kusumaningtyas, R.F. (2009). Perlindungan Hak Cipta atas Motif Batik Sebagai Warisan Budaya Bangsa (Studi Terhadap Karya Seni Tradisional Kraton Surakarta. Tesis. Semarang: Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro.
Mijoc, J., Hornis, M., Tomasevic. N., dan Horvat, J. (2011). Book As A Souvenir: Partnership Between TourismPotentials, Cultural Identity Promotion and Publisher’s Profits . Statistical Yearbook of the Republic of Croatia.
Murtadlo, A. (2013). Upaya Pengembangan Usaha Pengrajin Batik Malangan (Studi Kasus di Desa ruju Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang). Universitas Brawijaya.
Nomura, M. (2002). Souvenir Purchase Patterns of Domestic Tourists. University of inconsin-Stout.
Oparinde, S.S. (2012). Batik As A Cultural Identity Of The Yoruba:Hand Colouring Techniques And Applications, Possibility Of Adaptations. International Refereed Research Journal.
Purwaningtyas,N.E., Widiarto,T.,dan Purwiyastuti,W.(2014). Potensi Batik Bakaran Dalam Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Pati. Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Rahayu, K. (2008). Upaya Perlindungan Batik Lasem Oleh Pemerintah Kabupaten Rembang Tesis. Semarang: Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro.
Sarwosri, A. J., (2010). Upaya Pemberdayaan Perempuan dalam Pengembangan Wisata Budaya Batik (Study Kasus Kampoeng Batik Laweyan Surakarta).Tesis: Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia.
Wilkins., H. (2009). Souvenis: What and why we buy”. Griffith University.
---(2015). Sejarah Batik Bakaran Juwana-Pati.(http://patikab.go.id/2014/08/09/sejarah-batik-bakaran-juwanapati/, diakses 12 Agustus 2015).
---(2015)Perajin Berharap Pesanan Batik Tak Mandek.(http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/category/smcetak/ Perajin Berharap Pesanan Batik Tak Mandek _ Cetak Suara Merdeka dot com, diakses 6 Januari 2016