E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
    711 research outputs found

    Pemanfaatan Teknologi Informasi Berbasis Android Sebagai Media dalam Pembelajaran Hindu

    Get PDF
    Saat ini perkembangan teknologi informasi sangat pesat dimana hal ini dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat secara umum baik itu dibidang sosial, ekonomi, politik maupun pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu bidang yang menjadi sorotan pemerintah untuk menghasilkan generasi muda yang cerdas dan siap bersaing, dimana sangat dibutuhkan adanya suatu kemajuan proses pembelajaran yang dapat membantu memajukan sistem pendidikan. Salah satunya adalah dengan menerapkan penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi informasi. Agama Hindu merupakan salah satu agama yang ada di Indonesia memerlukan cara untuk menerapkan sistem pembelajaran dengan teknologi dalam penyampaian ajaran agamanya. Salah satu media teknologi pembelajaran yang paling banyak dipergunakan dikalangan masyarakat secara umum adalah teknologi android, dimana media ini diharapkan dapat memberikan simulasi dalam pembelajaran Hindu agar lebih memahami dan mendalami tentang ajaran-ajaran yang telah diberikan kepada siswa. Oleh karena itu penulis ingin mengangkat tentang seberapa pentingnya manfaat teknologi berbasis android dalam pembelajaran Hind

    BATANG HARING (Sebuah Kajian Mitologi, Fungsi dan Makna)

    Get PDF
    Penduduk asli Kalimantan Tengah adalah suku Dayak Ngaju. Ngaju. Suku Dayak Ngaju memiliki keunikan tersendiri dalam memandang alam ini dengan simbol-simbol atau ilustrasi yang tetap diyakini hingga saat ini bahkan simbol tersebut salah satunya kini menjadi mascot bagi mayoritas suku ini, yaitu Batang Garing atau di sebut juga dengan Batang Haring. Batang Garing atau Batang Haring yang berarti Pohon Kehidupan. Batang Haring berbentuk seperti mata tombak yang mengarah ke atas atau langit. Hal ini dipercaya melambangkan kepercayaan agama Kaharingan (kepercayaan suku Dayak) Ranying Hatala Langit, sumber segala kehidupan. Setiap dahan memiliki tiga buah yang menghadap ke atas dan ke bawah. Dahan tersebut melambangkan tiga kelompok besar manusia sebagai keturunan Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja Bunu. Sedangkan daunnya melambangkan ekor dari salah satu burung yang menjadi identitas suku Dayak yaitu burung Enggang (burung Tingang). Sedangkan pada bagian bawah Batang Haring mempunyai guci berisi air suci serta dahan berlekuk yang juga melambangkan Jatha atau dunia bawah atau sering disebut dengan Pulau Batu Nindan Tarung. Pulau yang menjadi tempat manusia pertama kali sebelum diturunkan ke bumi. Batang Haring atau Pohon Kehidupan juga melambangkan keseimbangan atau keharmonisan hubungan antara sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Sebuah triangulasi, Batang Haring dengan Guci (Balanga) menyimbolkan dua dunia, dimana dunia atas dilambangkan dengan Pohon Kehidupan dan dunia bawah dengan dilambangkan dengan Guci, tapi terikat oleh satu kesatuan yang berhubungan serta membutuhkan.  Sementara buah yang ada pada Batang Haring melambangkan sebuah kelompok dari umat manusia. Dimana kedua buah tersebuat ada yang mengarah ke atas dan juga ada yang mengarah ke atas adalah sebagai pengingat bagi manusia untuk selalu menghargai antara sesama. Jadi tempat asal dari manusia yaitu ada di dunia atas atau Lewu Tatau.Penduduk asli Kalimantan Tengah adalah suku Dayak Ngaju. Ngaju. Suku Dayak Ngaju memiliki keunikan tersendiri dalam memandang alam ini dengan simbol-simbol atau ilustrasi yang tetap diyakini hingga saat ini bahkan simbol tersebut salah satunya kini menjadi mascot bagi mayoritas suku ini, yaitu Batang Garing atau di sebut juga dengan Batang Haring. Batang Garing atau Batang Haring yang berarti Pohon Kehidupan. Batang Haring berbentuk seperti mata tombak yang mengarah ke atas atau langit. Hal ini dipercaya melambangkan kepercayaan agama Kaharingan (kepercayaan suku Dayak) Ranying Hatala Langit, sumber segala kehidupan. Setiap dahan memiliki tiga buah yang menghadap ke atas dan ke bawah. Dahan tersebut melambangkan tiga kelompok besar manusia sebagai keturunan Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja Bunu. Sedangkan daunnya melambangkan ekor dari salah satu burung yang menjadi identitas suku Dayak yaitu burung Enggang (burung Tingang). Sedangkan pada bagian bawah Batang Haring mempunyai guci berisi air suci serta dahan berlekuk yang juga melambangkan Jatha atau dunia bawah atau sering disebut dengan Pulau Batu Nindan Tarung. Pulau yang menjadi tempat manusia pertama kali sebelum diturunkan ke bumi. Batang Haring atau Pohon Kehidupan juga melambangkan keseimbangan atau keharmonisan hubungan antara sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Sebuah triangulasi, Batang Haring dengan Guci (Balanga) menyimbolkan dua dunia, dimana dunia atas dilambangkan dengan Pohon Kehidupan dan dunia bawah dengan dilambangkan dengan Guci, tapi terikat oleh satu kesatuan yang berhubungan serta membutuhkan.  Sementara buah yang ada pada Batang Haring melambangkan sebuah kelompok dari umat manusia. Dimana kedua buah tersebuat ada yang mengarah ke atas dan juga ada yang mengarah ke atas adalah sebagai pengingat bagi manusia untuk selalu menghargai antara sesama. Jadi tempat asal dari manusia yaitu ada di dunia atas atau Lewu Tatau

    FUNGSI DAN MAKNA API SERTA AIR DALAM UPACARA RITUAL YAJÑA (Perspektif Agama Hindu)

    Get PDF
    Yajna ceremony has meaning and function is very noble , has a value of purity and high spiritual values ​​in accordance with the type of Yajna . Infrastructures used in the yajna , has holy hope to achieve perfection both spiritually and material.sarana in a religious ceremony that is used by Hindus in the form of fire and water is very important and has a very many function as the completeness and perfection of a Yajna. So also is very helpful fire human life , is also important in the yajna ceremony, such as the use dhupa. There are three types of fire called tryagni are three sacred fire used in a series of such Yajna : Awahaniya, garhaspatya and citagni. Fire functions in relation to Hindu religious ceremony is. 1) Fire as Basir master of ceremonies, 2) Fire as an intermediary devotee and worshiped , 3) Fire -fighting all defilements and repellent evil spirits , and  4) The fire as witness the ceremony in the life Terms  begging tirta or holy water requirements are : 1) The applicant must have a clean emotional and physical , 2) Dress in specifically for it - a sacred thing , 3) Facing towards the rising sun or the local mountain , and 4) Hands raised up above head to hold a special place for the holy water of flowers in water and dhupa which has been declared and held . Water in its function as a means of religious ceremony is holy water or Toya / tirta. Tirta serve as a symbol of purification or cleansing. Tirtha sputtering as mentioned above were conducted on human beings, have the meaning that humans acquire the sanctity of themselves, both physically and spiritual

    KOMODIFIKASI TRADISI MEGIBUNG DI LOMBOK

    Get PDF
    Tradisi megibung merupakan kebiasaan masyarakat etnik Bali dan Sasak yang tinggal di pulau Lombok. Megibung adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang untuk makan bersama dan saling berdiskusi dan berbagi pendapat, sedangkan menurut kebiasaan etnik Bali di Lombok megibung merupakan suatu kegiatan makan bersama yang dilaksanakan dalam rangka memenuhi persyaratan upacara terkait dengan panca yadnya bagi golongan agraris. Khususnya pengamalan ajaran dari Lontar Agastya Parwa. Megibung adalah Komodifikasi yang merupakan transformasi hubungan yang sebelumnya bersih dari perdagangan, menjadi hubungan komersial, hubungan pertukaran, membeli dan menjual. Lombok sebagai destinasi wisata melahirkan komodifikasi terhadap budaya terutama tradisi megibung yang diselenggarakan oleh event-event organizer dalam upaya meningkatkan kunjungan wisata. Komodifikasi terjadi dalam beragam aktivitas manusia, tidak terkecuali tradisi. Pada tradisi megibung komodifikasi menyebabkan efisiensi yang membantu pelestarian tradisi megibung di era modern. Komodifikasi yang dilakukan dalam tradisi megibung di Lombok mendorong pertumbuhan ekonomi, tidak merubah tatanan nilai, tetapi justru menambah etos kerja, dan menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk membiayai pembangunan daerah

    NILAI-NILAI FILOSOFIS UPACARA MANYANGGAR LEWU

    Get PDF
    Manyanggar is derived from the Sangiang’s, “Sanggar” which is means supporting or holding (reject). While Lewu derived from Dayak Ngaju’s, Lewu means village or town. Manyanggar Lewu is one implementation of the conviction of Hindu Kaharingan in creating respect and gratitude to God (Ranying Hatalla Langit), ancestral spirit as the protector of the area of evil spirits (Bhuta Kala). There are 3 types of Manyanggar: 1) Manyanggar Petak Himba (to open a new location) 2) Manyanggar Manampa Karatak Taheta (to open new road) and 3) Manyanggar Lewu. These three kinds of the respective ceremony held for three days in a row. Manyanggar Lewu aims to purify Bhuna Agung and Bhuana Alit (macrocosmos and microcosmos), to achieve balance and well-being as well as happiness and inner (jagadhita and moksa) for the sake of connecting life based on satyam or truth, siwam or sanctity, and sundaram or harmony

    FAKTOR PENGHAMBAT DALAM PEMBELAJARAN AGAMA HINDU MULTIKULTURAL

    Get PDF
    Idealisme pembelajaran adalah upaya pemahaman dan memberdayakan atau membimbing mahasiswa agar memiliki sikap dan perilaku yang baik, jika pembelajaran justru melahirkan perilaku yang tidak baik serta melahirkan proses penindasan itu artinya dalam sistem pembelajaran tersebut mengandung persoalan- persoalan. Dimana keberhasilan sebuah pembelajaran sangat ditentukan dari kesungguhan seorang pendidik, peserta didik, dan institusi pendidikan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Selain itu, keberhasilan pembelajaran juga ditentukan oleh seberapa besar upaya yang dilakukan ketiga komponen itu dalam hal ini adalah pendidik, peserta didik, dan institusi pendidikan mengeliminir atau menyelesaikan problem pembelajaran yang menjadi faktor penghambat keberhasilan pembelajaran. Semakin sedikit faktor penghambat pembelajaran yang muncul selama proses pembelajaran, maka akan semakin besar peluang keberhasilan dalam pencapaian hasil pembelajaran

    EKSISTENSI PENINGGALAN LEGENDA LIANG SARAGI DI KECAMATAN AWANG KABUPATEN BARITO TIMUR

    Get PDF
    In Central Kalimantan, there is a cultural heritage that is still believed to be a place that is a relic form of a legend, known as Liang Saragi. The legend of Liang Saragih relic known as a sacred site. The existence of this sacred site has become a matter that must be known and studied by students, especially the young generation from the East  Barito and it is possible for young people who come from others. Then, the existence of Liang Saragih in public life, especially  for the Hindus of Awang Hayaping subdistrict is that the Legend of Liang Saragih relics affects the daily lives of Hindus Kaharingan especially in terms of belief in the doctrine of reincarnation. So that is why this Legend can be categorized as one of Hinduism Kingdom. In addition, although only left the shape of the cave Liang Saragih, It greatly affects the social life of Hindus; this is because the stories told in the legend consisted of many moral values for those who truly believe in the existence of such things. The existence of heritage of Liang Saragih legend has several functions for the society in general and Hindu in particular, especially Kaharingan. Besides, this legend also includes religious function, social function, economic and aesthetic functions

    Ritual Wara-Nyalimbat Di Desa Paring Lahung Kecamatan Montallat (Kajian Teologi Hindu Kaharingan)

    Get PDF
    Abstak Dalam cakupan budaya-relegi, pelaksanaan ritual Wara-Nyalimbat, merupakan warisan budaya-tradisi leluhur yang memilik makna teologi ‘sebagai sebuah keyakinan terhadap tujuan akhir kehidupan’ melalui sebuah prosesi yang sangat simbolik dengan ritus mengantarkan roh arwah (Dia/Liau) ke suatu tempat yang dinamakan Tuluyon Sangkir Langit Antai Kalalungan Tatau/Kolong Bulau (alam Kalalungan [Bhatara-Bhatari]), dalam keyakinan bahwa roh arwah telah dalam keadaan suci, sehingga ‘martabatnya’ telah meningkat menjadi Kalalungan/Dewa-Dewi (manifestasi Tuhan). Oleh karena itu roh arwah tersebut diberi nama dengan istilah Dewa Kalalungan Aning Kalalio. Selanjutnya Dewa Kalalungan Aning Kalalio secara otomatis memiliki hakekat mulia Ju’us Tuha Allahtalla (Tuhan), sehingga kemudian diyakini sebagai ‘penyelamat’ yang akan diminta pertolongan/kehadirannya ketika keturunannya mengalami kesulitan hidup. Keberadaaan ritual ini juga dimaksudkan sebagai bentuk penghayatan terhadap keberadaan Ju’us Tuhaalahtala (Tuhan). Hal ini senada dengan pendapat Wiana  (1993) dalam buku yang berjudul “Bagaimana Umat Hindu Menghayati Tuhan” bahwa salah satu jalan menghayati Tuhan melalui Budaya Agama. Budaya agama adalah bagaimana upaya penghayatan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk kegiatan budaya. Pelaksanaan ritual Wara-Nyalimbat ini dapat pahami sebagai sebuah bentuk kegiatan budaya-relegi. Teori yang digunakan dalam tulisan ini adalah teori budaya-relegi. Teori ini digunakan untuk mengetahui proses budaya-relegi yang mewarnai kehidupan umat Hindu Kaharingan, khususnya terkait dengan tradisi Wara-Nyalimbat. Kebudayaan sebagaimana dijelaskan Wiana seperti diatas, dan Ahimsa-Putera dalam Nur Syam (2005: 13) merupakan produk dari aktifitas nalar manusia. Melalui akal-nalarnya manusia dapat berkarya dan menghasilkan peradaban. Sedangkan kebudayaan diimplementasikan melalui makna-makna yang diteruskan secara historis dan terwujud dalam simbol-simbol. Sehingga rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana konstruksi budaya-relegi tradisi ritual Wara-Nyalimbat baik melalui prosesi, sarana-prasarana yang digunakan, maupun makna teologi yang tersirat, dilakukan secara turun temurun oleh umat Hindu di Desa Paring Lahung Kecamatan Montallat. Tulisan ini merupakan hasil penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi, menemukan bahwa tradisi Wara-Nyalimbat menjadi salah satu media penunaian karma (kewajiban-sosial) kepada kerabat-handai-taulan yan

    HEGEMONI KEKUASAAN EKONOMI TERHADAP AGAMA HINDU DAN KEBUDAYAAN DI BALI

    Get PDF
    Kegiatan orang Bali kini tertuju pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, masyarakat dari hari ke hari hanya untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi perindividu, keluarga atau instansi. Rela kehujanan, kepanasan, menempuh jarak yang jauh, bergadang atau menyicil kendaraan dan sebagainya, untuk mendapatkan imbalan guna pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Komunikasi antara individu semakin berkurang karena masing-masing orang disibukkan oleh kegitannya masing-masing, belum lagi menjamurnya pasar modern seperti mall, super market, indomaret, dan sejenisnya tingkat komunikasi masyarakat sudah sangat sedikit karena masyarkaat tidak seperti berbelanja di pasar tradisional tingkat komunikasi setiap orang kental dengan keakraban dan saling menyapa sebab terdapat sistem tawar menawar. Pola pikir efesiensi, idelaisme, bisnisme, keuntungan, dan modernisasi banyak mengakibatkan konflik, kekerasan dan perpindahan.   Kekeuasaan ekonomi mencakup semua elemen kehidupan manusia, ekonomi ada dalam politik, ada dalam agama. Kekuasaan ekonomi tidak saja menguasai satu bidang melainkan semua bidang kehidupan, baik itu masyarakat perkotaan, pemerintahan, pedesaan bahkan pedalaman. Kini kebutuhan masyarakat pedesaan dan perkotaan relatif sama seperti TV, HP, motor, mobil dan yang lainnya. Watak orang Bali telah berubah secara signifikan dalam dekade terakhir ini, orang Bali tidak lagi diidentifikasi sebagai orang yang lugu, sabar, ramah, dan jujur yang pernah digambarkan oleh Baterson. Akibat globalisasi anak-anak sekarang enggan untuk belajar karya kesenian Bali, maka tiga generasi yang akan datang tidak ada penerus yang meneruskan budaya Bali, tentunya tidak ada lagi penolong orang Bali kedepan.   Pemerintah memberikan peluang kepada masyarakat kecil untuk membuka usaha dengan memberikan tempat berjualan khusus orang Bali dan memberikan modal tanpa bunga yang besar, memberikan pelayanan kesehatan dan penyuluhan rutin. Pemerintah bersama lembaga Hindu dan institusi pendidikan Hindu lainnya yang ada di Bali membatasi kreativitas yang kurang bernuansa budaya dan agama Hindu. Pemerintah dan desa pakraman bekerja sama membangkitkan peraturan desa Pakraman tentang tata letak pembangunan, penerimaan pendatang yang harus mengikuti peraturan di mana pendatang itu berada. Pemerintah dan perguruan tinggi Hindu yang ada di Bali bersatu untuk memberikan penyuluhan pengetahuan kepada masyarakat secara     ISSN : 2089-6662                                                                                                                 Ketut Agus Nova   Jurnal Widya Katambung                                                                               Volume 7, Nomor 1, 2016     berkontinu serta memberikan bantuan alat-alat yang dibutuhan dalam usaha menunjang budaya. Pemerintah dan perguruan tinggi Hindu dan desa pakraman bekerja sama membentuk kurikulum berbasis agama dan budaya yang bobotnya tidak kalah dengan bobot mata pelajaran lainnnya. Selain itu hendaknya di Bali ada pendidikan berbasis Hindu atau sekolah Hindu baik dari TK, SD, SMP dan SMA. Pemerintah lebih mengencarkan penduduk pendatang agar dibatasi disesuaikan dengan pasokan pangan dan luas daerah Bali agar tidak terjadi krisis seperti saat ini. Paling penting yang mesti dilakukan segera oleh pemerintah adalah mempersatuan aliran-aliran atau sampradaya yang juga disebut kesadaran Hindu yang berkembang di Bali untuk bersatu mengajegkan Bali, mejaga Budaya Bali, dan meninggalkan egoisme kelompok melainkan menuju persatuan yang indah.  Kegiatan orang Bali kini tertuju pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, masyarakat dari hari ke hari hanya untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi perindividu, keluarga atau instansi. Rela kehujanan, kepanasan, menempuh jarak yang jauh, bergadang atau menyicil kendaraan dan sebagainya, untuk mendapatkan imbalan guna pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Komunikasi antara individu semakin berkurang karena masing-masing orang disibukkan oleh kegitannya masing-masing, belum lagi menjamurnya pasar modern seperti mall, super market, indomaret, dan sejenisnya tingkat komunikasi masyarakat sudah sangat sedikit karena masyarkaat tidak seperti berbelanja di pasar tradisional tingkat komunikasi setiap orang kental dengan keakraban dan saling menyapa sebab terdapat sistem tawar menawar. Pola pikir efesiensi, idelaisme, bisnisme, keuntungan, dan modernisasi banyak mengakibatkan konflik, kekerasan dan perpindahan.   Kekeuasaan ekonomi mencakup semua elemen kehidupan manusia, ekonomi ada dalam politik, ada dalam agama. Kekuasaan ekonomi tidak saja menguasai satu bidang melainkan semua bidang kehidupan, baik itu masyarakat perkotaan, pemerintahan, pedesaan bahkan pedalaman. Kini kebutuhan masyarakat pedesaan dan perkotaan relatif sama seperti TV, HP, motor, mobil dan yang lainnya. Watak orang Bali telah berubah secara signifikan dalam dekade terakhir ini, orang Bali tidak lagi diidentifikasi sebagai orang yang lugu, sabar, ramah, dan jujur yang pernah digambarkan oleh Baterson. Akibat globalisasi anak-anak sekarang enggan untuk belajar karya kesenian Bali, maka tiga generasi yang akan datang tidak ada penerus yang meneruskan budaya Bali, tentunya tidak ada lagi penolong orang Bali kedepan.   Pemerintah memberikan peluang kepada masyarakat kecil untuk membuka usaha dengan memberikan tempat berjualan khusus orang Bali dan memberikan modal tanpa bunga yang besar, memberikan pelayanan kesehatan dan penyuluhan rutin. Pemerintah bersama lembaga Hindu dan institusi pendidikan Hindu lainnya yang ada di Bali membatasi kreativitas yang kurang bernuansa budaya dan agama Hindu. Pemerintah dan desa pakraman bekerja sama membangkitkan peraturan desa Pakraman tentang tata letak pembangunan, penerimaan pendatang yang harus mengikuti peraturan di mana pendatang itu berada. Pemerintah dan perguruan tinggi Hindu yang ada di Bali bersatu untuk memberikan penyuluhan pengetahuan kepada masyarakat secara     ISSN : 2089-6662                                                                                                                 Ketut Agus Nova   Jurnal Widya Katambung                                                                               Volume 7, Nomor 1, 2016     berkontinu serta memberikan bantuan alat-alat yang dibutuhan dalam usaha menunjang budaya. Pemerintah dan perguruan tinggi Hindu dan desa pakraman bekerja sama membentuk kurikulum berbasis agama dan budaya yang bobotnya tidak kalah dengan bobot mata pelajaran lainnnya. Selain itu hendaknya di Bali ada pendidikan berbasis Hindu atau sekolah Hindu baik dari TK, SD, SMP dan SMA. Pemerintah lebih mengencarkan penduduk pendatang agar dibatasi disesuaikan dengan pasokan pangan dan luas daerah Bali agar tidak terjadi krisis seperti saat ini. Paling penting yang mesti dilakukan segera oleh pemerintah adalah mempersatuan aliran-aliran atau sampradaya yang juga disebut kesadaran Hindu yang berkembang di Bali untuk bersatu mengajegkan Bali, mejaga Budaya Bali, dan meninggalkan egoisme kelompok melainkan menuju persatuan yang indah. &nbsp

    MANFAAT ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSEPEKTIF HINDU

    Get PDF
    Bangsa Indonesia pada umumnya  di era globalisasi memerlukan Ilmu Pengetahuan dan teknologi untuk menunjang kehidupan berbangsa dan negara demi tercapainya kesejahteraan lahir dan batin. Begitu juga umat Hindu khususnya sangat memerlukan ilmu pengetahuan untuk menunjang hidup dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Titib,(1996:248), yang menyatakan bahwa: seseorang dengan memiliki Ilmu Pengetahuan (jnana) akan memperoleh kesejahteraan, ketenangan dan kebahagian. Ilmu pengetahuan memberikan bimbingan, pertimbangan terhadap yang baik dan buruk. Sesuai dengan pendapat tersebut maka sangat jelas bagi kita bahwa ilmu pengetahuan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita serta bagi umat Hindu pada umumnya.  Adapun manfaat ilmu pengetahuan bagi kita sebagai umat Hindu, adalah  (1) Melenyapkan ketidaktahuan/kegelapandan kebodohan (Awidya). Ketidahtahuan kita akan lenyap dengan kita belajar dan berguru atau dengan mengikuti pendidikan baik formal dan nonformal khususnya pendidikan agama Hindu. Agar kebdodohan (Awidya) lenyap, sehingga kita mampu memperoleh kesejahteraan lahir dan batin. (2) Mampu membedakan benar dan salah, baik dan buruk. Setiap manusia pasti mempunyai hati nurani, oleh sebab itu manusia dalam ajaran Hindu mampu  mempertimbangkan apa yang akan diperbuatnya sebelum melakukan pekerjaan. Selain mempunyai hati nurani agama Hindu mempunyai norma atau aturan yang mengikat (Etika)sebagai rambu-rambu atau batasan-batasan seseorang untuk melaksanakan kehidupan sosial dimasyarakatsehingga mengetahui dan mampu memilah-milah mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. (3) Mampu melaksanakan ajaran agama dimasyarakat. Menganut agama tertentu secara tradisional tidak berubah-ubah sepanjang hidup seseorang. Relevan dengan Teori Durkheim mengatakan bahwa agama memperkuat ikatan atau solidaritas sosial (Agus,2006:208-209). Menurut Scharf ( 2004: 11), Manusia akan bersama-sama melaksanakan suatu ibadat, dan merasa pelaksanaan ibadat itu sebagai suatu yang amat penting. Sesuai dengan pendapat tersebut, maka dengan kita menguasi ilmu pengetahuan kita juga sebagai umat Hindu diharapkan mampu melaksanakan kehidupan sosial dimasyarakat dengan beribadah dan melaksanakan ajaran agama (melaksnakan yajna, ritual agama dan melakukan tirtha yatra)

    302

    full texts

    711

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇