E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
    711 research outputs found

    SIKAP PELAKU KONVERSI AGAMA HINDU KAHARINGAN KE KRISTEN PADA KEHIDUPAN PERKAWINAN

    No full text
    ABSTRAK Artikel ini merupakan hasil penelitian yang membahas tentang perpindahan agama yang dilakukan oleh penganut agama Hindu Kaharingan kepada umat Kristiani dalam kehidupan berumah tangga, yang fokus pada sikap pelaku perpindahan agama. Penelitian mengenai kasus ini dilatarbelakangi oleh peningkatan kejadian perpindahan agama yang dinilai cukup tinggi di Desa Hurung Bunut, terutama pada tahap perkawinan. Tentu saja konversi tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Termasuk faktor kegelisahan batin yang ada dalam diri, pernikahan dan mendapat hidayah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan psikologis, dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi pustaka. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konversi agama Rambo R. Lewis. Hasil analisis menyatakan bahwa pelaku pindah agama memutuskan untuk menjalani pindah agama karena adanya faktor tertentu, sehingga mengakibatkan perubahan sikap yang dialami pelaku dan agama sebelumnya. Pertama, sikap sosial terhadap individu yang dipandang tidak terjadi perubahan berarti secara sosial, namun secara individu terjadi perubahan sikap dalam sistem penghayatan terhadap ajaran agama yang baru dianutnya dan yang lama. ditinggalkan. Kedua, adanya sikap terhadap tradisi dan budaya, dimana bagi mereka yang berpindah agama, meskipun telah menganut keyakinan lain namun tradisi tetap dilestarikan karena dianggap tradisi yang harus dijaga dan dianggap sebagai bagian dari keberagaman. Ketiga, adanya sikap/sistem keagamaan. ritual, yang mana bagi mereka yang masuk agama, sistem ritualnya berjalan apa adanya, tidak ada batasan boleh atau tidaknya mereka melaksanakannya, karena mereka memahami bahwa ritual dalam agama Hindu Kaharingan bersifat tradisional, namun sebaliknya untuk Penganut Kaharingan, begitu juga dengan tokoh agama Kaharingan, Hal ini sangat memprihatinkan, karena pemahaman yang berbeda, ritual keagamaan bisa saja mengalami pergeseran nilai sebagai tradisi, yang pada keduanya terdapat batasan-batasan tertentu. Sehingga hal ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi para tokoh dan lembaga agama Hindu Kaharingan untuk lebih intensif lagi dalam memberikan pelatihan dan bimbingan kepada generasi muda penganut Hindu Kaharingan dalam memantapkan keimanan terhadap agama yang dianutnya.  Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang membahas mengenai konversi agama yang dilakukan oleh penganut agama Hindu Kaharingan ke Kristen pada kehidupan perkawinan, yang fokus pada sikap pelaku konversi agama. Penelitian terhadap kasus ini dilatarbelakangi oleh adanya peningkatan khasus terjadinya konversi agama yang dianggap cukup tinggi terjadi di Desa Hurung Bunut khususnya pada tahap perkawinan. Tentunya terjadinya konversi dilatarbelakangi atas beberapa faktor penyebab masing-masing berbeda. Termasuk dari faktor kegelisahan batin yang ada pada dirinya, pernikahan dan mendapatkan sebuah hidayah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan psikologis, dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori konversi agama dari Rambo R. Lewis. Hasil dari analisis menyatakan bahwa pelaku perpindahan keyakinan memutuskan mengalami konversi agama karena memiliki faktor-faktor tertentu, sehingga terjadi perubahan pada sikap yang dialami oleh pelaku maupun agama sebelumnya. Pertama Sikap sosial terhadap diri individu, yang dipandang tidak terjadi perubahan yang signifikan secara sosial, tetapi secara individu terdapat perubahan sikap dalam sistem penghayatan terhadap ajaran agama yang baru dianutnya dan yang lama mulai ditinggalkan. Kedua, adanya sikap terhadap Adat Istiadat dan Budaya, yang mana bagi pelaku konversi meskipun dirinya sudah menganut keyakinan lain, tetapi urusan adat istiadat tetap dijaga karena dianggap sebagai adat istiadat yang harus dijaga dan dianggap sebagai bagian dari keanekaragamaan, Ketiga adanya sikap beragama/sistem ritual , yang bagi pelaku konversi agama sistem ritual berjalan apa adanya, tidak ada larangan bagi mereka boleh dan tidaknya dilakukan, karena mereka memahami ritual dalam Hindu Kaharingan bersifat mentradisi, namun disisi lain bagi penganut Kaharingan , maupun tokoh-tokoh agama Kaharingan ini adalah sebuah kekuatiran yang mendalam, karena pemahaman yang berbeda maka bisa saja ritual keagamaan terjadi pergerseran nilai sebagai adat istiadat yang sayogianya kedua adalah terdapat batasan-batasan tertentu. Sehingga ini menjadi PR yang besar bagi tokoh-tokoh juga lembaga keagamaan Hindu Kaharingan agar lebih intensif dalam memberikan pembinaan dan bimbingan terhadap generasi muda penganut agama Hindu Kaharingan dalam memperkuat keimanan terhadap agama yang diyakininya. &nbsp

    Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Pembelajaran: Analisis Penggunaan Dan Pengaruhnya Pada Interaksi Guru-Siswa Di Smpn 5 Katingan Hilir, Kabupaten Katingan)

    No full text
    Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran memiliki potensi besar untuk memberdayakan siswa, yaitu dapat mendorong tumbuhnya keterampilan belajar yang efektif, keterampilan penalaran tingkat tinggi, kemampuan komunikasi lisan dan tulisan yang baik, serta kemampuan dalam menemukan berbagai sumber belajar yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran dan dampaknya pada interaksi guru-siswa di SMPN 5 Katingan Hilir, Kabupaten Katingan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mendokumentasikan pengalaman guru dan siswa dalam mengintegrasikan TIK dalam proses pembelajaran. Melalui wawancara mendalam dan observasi kelas, penelitian ini menjelajahi berbagai aspek penggunaan TIK, termasuk jenis aplikasi yang digunakan, strategi pembelajaran yang diimplementasikan, dan respons siswa terhadap pembelajaran yang melibatkan teknologi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi pola-pola umum dalam interaksi guru-siswa dan memahami dampak positif TIK terhadap partisipasi siswa dan motivasi belajar. Hasil penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana TIK telah mempengaruhi dinamika kelas, memperkaya pengajaran guru, dan meningkatkan keterlibatan siswa. Penelitian ini juga menggali faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi TIK di lingkungan pembelajaran, seperti pelatihan guru, akses internet, dan dukungan teknis. Implikasi hasil penelitian ini dapat memberikan panduan berharga bagi sekolah dan pendidik dalam memperbaiki penggunaan TIK dalam proses pembelajara

    Pengaruh Pembelajaran Pengantar Acara Agama Hindu Kaharingan Terhadap Keterampilan Membuat Sarana Upacara Keagamaan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Hindu IAHN TP Palangka Raya

    No full text
    This research is based on the problems that the author found in the Hindu religious education study program for the 2023/2024 academic year. Research found that students' skills, especially in making ceremonial facilities, can be said to be lacking. This can be seen from the fact that there are still many students who have not been able to make ceremonial facilities such as making ketupat, tawar containers, decorations in the lap for basarah, lack of interest in making ceremonial facilities, and there are still students who are not focused on the learning process so that in this case it requires more efforts to improve student skills in making ceremonial facilities. The purpose of this study is to find out whether there is an influence of learning the introduction of Hindu religious events on the skills of making religious ceremony facilities for students of the Hindu religious education study program of the Hindu Religious Institute of the State Tampung Penyang (IAHN TP) Palangka Raya. This type of research uses a quantitative research approach, with survey methods and data collection methods used for observation, documentation, and questionnaires. Learning data was obtained from distributing questionnaires/questionnaires by distributing them to respondents whose number was already known, namely 52 respondents, while skill data was obtained from the final semester exam scores (UAS) of students in grades A and B in the even semester of the 2023/2024 academic year, the data was analyzed by simple regression using IBM Statistics for windows. From the results of the research that has been carried out, the hypothesis in this study indicates that t count (0.017) < t table (1.675), it can be concluded that the results of the research and discussion in this study do not have an influence between the learning of the introduction of Hindu religious events in Kaharingan and the skills in making ceremonial facilities for students of the Hindu religious education study program class A and class B in the even semester of the 2023/2024 academic year and with a learning period In the high category there were 13 people with a percentage of 6.9%, in the medium category there were 37 with a percentage of 19.47% and in the low category there were 2 people with a percentage of 1.6% of the total 52 respondents

    Peraturan dan Regulasi Keamanan Siber di Era Digital

    No full text
    Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa berbagai kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan, namun juga menimbulkan tantangan baru dalam hal keamanan siber. Artikel ini membahas peraturan dan regulasi keamanan siber di era digital, menyoroti pentingnya kerangka hukum yang efektif untuk melindungi data dan sistem informasi dari ancaman siber. Penelitian ini mengkaji berbagai pendekatan yang telah diadopsi oleh negara-negara maju dan berkembang dalam mengatasi masalah keamanan siber, termasuk undang-undang, standar industri, dan kebijakan pemerintah. Selain itu, artikel ini menganalisis peran kerjasama internasional dalam membangun ekosistem keamanan siber yang tangguh dan efektif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa harmonisasi peraturan di tingkat global serta adaptasi kebijakan yang fleksibel dan dinamis sangat penting untuk mengantisipasi ancaman yang terus berkembang di dunia maya. Melalui pemahaman mendalam tentang regulasi keamanan siber, artikel ini memberikan rekomendasi strategis bagi pembuat kebijakan, penegak hukum, dan praktisi keamanan siber untuk meningkatkan perlindungan dan mitigasi risiko di era digital

    PENGUATAN LITERASI DAN NUMERASI DALAM IMPLEMENTASI MERDEKA BELAJAR DI SEKOLAH DASAR

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terkait penguatan literasi dannumerasi yang dapat dilakukan untuk mendukung pemerintah dalam kebijakan merdekabelajar di Sekolah Dasar. Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka, yaitumemperoleh data, bahan dan rujukan dari berbagai sumber seperti buku, artikel, hasilpenelitian, dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan kebijakan merdekabelajar dan penguatan literasi numerasi di Sekolah Dasar. Mewujudkan merdeka belajarmelalui kebijakan pemerintah selain memfokuskan pada karakter namun juga prosespembelajaran dalam evaluasi berupa asesmen (AKM) dalam upaya memperkuat literasidan numerasi dapat dilakukan dengan menerapkan budaya literasi dan numerasi disekolah, pembentukan team literasi sekolah (TLS), melibatkan pihak ketiga,menggerakkan komunitas praktisi dan juga menjalankan program-program sekolahyang melibatkan peserta didik secara langsung untuk penguatan literasi dan numerasi.Literasi dan numerisasi menjadi kompetensi minimum atau kompetensi dasar yangdibutuhkanpeserta didik untuk bisa belajar. Pelaksanaan asesmen tersebut akandilakukan oleh peserta didik yang berada di tengah jenjang sekolah, sehingga dapatmendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. &nbsp

    KESADARAN BERPOLITIK MASYARAKAT HINDU KAHARINGAN DI KECAMATAN RUNGAN HULU KABUPATEN GUNUNG MAS PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU

    No full text
    Tesis ini mengekaji tentang penguatan kesadaran berpolitik di kalangan masyarakat Hindu Kaharingan di Kecamatan Rungan Hulu, Kabupaten Gunung Mas, dengan fokus pada perspektif pendidikan Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penguatan kesadaran berpolitik, hambatan yang dihadapi, serta upaya tokoh dan lembaga yang dapat dilakukan melalui pendidikan Hindu untuk meningkatkan partisipasi politik. Metode penelitian tesis ini deskriptif kualitatif serta melibatkan observasi dan menggunakan teori Pendidikan Faulo Priere, Teori Sosialisasi Politik, dan Teori Upaya. Temuan menunjukkan bahwa partisipasi politik masyarakat Hindu Kaharingan di Rungan Hulu masih tergolong rendah, yang disebabkan oleh beberapa faktor. Tingkat pendidikan yang rendah, pengaruh tokoh agama, ketidakpercayaan terhadap sistem politik, hambatan ekonomi, dan kurangnya pemahaman politik menjadi kendala utama. Kondisi ini menyebabkan masyarakat membangun fanatisme negatif dan sikap pesimis terhadap politik, serta mengurangi keterlibatan mereka dalam proses politik aktif seperti pemilihan umum. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kesadaran berpolitik melalui pendidikan Hindu, diperlukan program edukasi dan penyuluhan yang terstruktur dan berkelanjutan. Tokoh agama dan lembaga Hindu di Kecamatan Rungan Hulu disarankan untuk lebih proaktif dalam memperkuat kesadaran berpolitik. Inisiatif seperti forum diskusi politik, pelatihan mengenai hak dan kewajiban politik, serta pemberian contoh positif dalam partisipasi politik dapat memperbaiki situasi ini. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan masyarakat Hindu Kaharingan dapat meningkatkan partisipasi politik mereka dan berkontribusi lebih aktif dalam proses politik di daerah mereka

    Gerakan Pemasangan Biopori Untuk Pura Di Denpasar (Gempar) Sebagai Wujud Program Ekoteologi Hindu Versi KMHDI

    No full text
    Abstract The problem of waste after Hindu ceremonies in Bali has been highlighted. This made PC KMHDI Denpasar create a work program called "Biopori Installation Movement for Temples in Denpasar" (GEMPAR).  Based on these problems, this research tries to examine more holistically the essence of the presence of GEMPAR as a work program based on Hindu Ecotheology. In order to support the purpose of this research, 3 problem formulations were formulated, including: 1) The nature of biopori as an environmentally friendly technology, 2) Tri Hita Karana as a Hindu Ecotheology guideline, and 3) The essence of the GEMPAR is a form of Hindu Ecotheology program from KMHDI. Through a qualitative type of research method that uses a case study approach, the results of this study describe the results and discussion that: 1) Biopori is an innovative technology that can play a role in ceremonial waste management in the temple environment. 2) Tri Hita Karana is a Hindu Ecotheology guideline that acts as a reference in maintaining harmony between humans with God, humans with fellow humans, and humans with the surrounding environment. 3) GEMPAR is a form of Hindu Ecotheology program from KMHDI which has useful implications for preserving nature and its contents.Abstrak Permasalahan sampah hasil pasca upacara agama Hindu di Bali mendapat sorotan. Hal ini membuat PC KMHDI Denpasar membuat program kerja bernama “Gerakan Pemasangan Biopori untuk Pura di Denpasar” (GEMPAR).  Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini berusaha meneliti secara lebih holistik tentang Esensi hadirnya GEMPAR sebagai program kerja berlandaskan Ekoteologi Hindu. Guna menunjang tujuan penelitian ini, dirumuskanlah 3 rumusan masalah, antara lain: 1) Hakikat biopori sebagai teknologi ramah lingkungan, 2) Tri Hita Karana sebagai pedoman Ekoteologi Hindu, serta 3) Esensi hadirnya program GEMPAR dari PC KMHDI Denpasar. Melalui metode penelitian berjenis kualitatif yang memakai pendekatan studi kasus, hasil penelitian ini menjabarkan hasil dan pembahasan bahwa: 1) Biopori adalah teknologi inovatif yang mampu berperan dalam pengelolaan sampah upacara di lingkungan Pura. 2) Tri Hita Karana menjadi pedoman Ekoteologi Hindu yang berperan sebagai rujukan dalam menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan lingkungan sekitar. 3) GEMPAR menjadi wujud program Ekoteologi Hindu dari KMHDI yang memiliki implikasi bermanfaat untuk menjaga kelestarian alam beserta isiny

    ORTODOKSI DALAM AGAMA HINDU KAHARINGAN

    No full text
    This article explores forms of orthodoxy in Kaharingan Hinduism with a focus on the role of the Besorah ritual and local cultural sustainability in Pasir Panjang Village, Central Kalimantan. The background of this research is rooted in the challenges faced in maintaining authentic religious practices amidst the influence of modernization and globalization. The purpose of the research is to analyze how the Besorah ritual serves as a means to strengthen the cultural and religious identity of the local community. The methodology used is a qualitative approach, through participatory observation and in-depth interviews with community leaders and ritual participants. The results show that the Besorah ritual is not just a religious practice, but also a manifestation of cultural values passed down through generations, which contributes to the sustainability of local identity. The ritual strengthens community solidarity and cements the understanding of orthodoxy among Kaharingan Hindus. The conclusion of this study confirms the importance of the Besorah ritual as a tool to maintain and strengthen religious orthodoxy in the context of local cultural dynamics, and highlights the need to preserve traditional practices in the face of modern challenges.Artikel ini menjelaskan bentuk ortodoksi dalam agama Hindu Kaharingan dengan fokus pada peran ritual Besorah dan keberlanjutan budaya lokal dengan lokasi penelitian di Desa Pasir Panjang, kabupaten Lamandau Kalimantan Tengah. Latar belakang penelitian beranjak dari tantangan yang dihadapi masyarakat Dayak Pasir Panjang dalam mempertahankan praktik keagamaan yang otentik di tengah pengaruh modernisasi dan globalisasi. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis bagaimana ritual Besorah berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat identitas kultural dan agama masyarakat setempat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan penyelenggra ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Besorah bukan hanya sekadar praktik keagamaan, tetapi juga merupakan manifestasi dari nilai-nilai kultural yang diwariskan secara turun-temurun, yang berkontribusi terhadap keberlanjutan identitas lokal. Ritual ini memperkuat solidaritas komunitas dan mengokohkan pemahaman ortodoksi di kalangan pemeluk Hindu Kaharingan. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya ritual Besorah sebagai media untuk mempertahankan dan memperkuat ortodoksi agama dalam konteks dinamika budaya lokal, serta menegaskan pentingnya pelestarian praktik-praktik tradisional dalam menghadapi tantangan zaman modern

    PEDAGOGI EKSISTENSIAL HUMANISTIK DALAM PANDANGAN JEAN PAUL SARTRE DAN REFLEKSI ATAS KEBIJAKAN MERDEKA BELAJAR DI INDONESIA

    No full text
    This research focuses on an exploration of Jean Paul Sartre’s thoughts related to the philosophy of existentialism. The philosophical thinking of this existentialist will form a stream of existentialist education philosophy that is more inclined to the application of humanistic education. The method used in this research is a qualitative method with a philosophical hermeneutic approach. The results of this study show that humanistic existentialist pedagogy is an educational approach that prioritises the individuality and subjective experience of students. Rooted in the philosophies of existentialism and humanism, this approach positions teachers as facilitators who help students find the meaning of life, develop identity, and explore personal values. The main focus is to empower students to take an active role in the learning process, encourage self-reflection and build independence. Through deep interaction between students and subject matter, this approach triggers holistic development, not only of cognitive aspects but also emotional, social, and spiritual. Teachers not only teach facts, but also guide students in relating learning to the reality of everyday life. It aims to create individuals who are more aware, responsible, and have a deeper understanding of themselves as well as the surrounding environment. The humanistic existentialist pedagogical approach and the concept of ‘Merdeka Belajar’ both prioritise individual autonomy in learning. Both the humanistic existentialist approach, which emphasises personal growth and freedom in learning, and the concept of ‘Merdeka Belajar’, which gives students the opportunity to manage their own learning, both provide space for students to take an active role in the learning process, respect the uniqueness of each individual, and encourage personal responsibility in learning from each learner.Penelitian ini berfokus pada sebuah upaya penelusuran dari pemikiran Jean Paul Sartre berkaitan dengan filsafat eksistensialisme. Pemikiran filosofis dari eksistensialis ini akan membentuk aliran filsafat pendidikan eksistensialis yang lebih cenderung pada penerapan pendidikan humanistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik filosofis. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pedagogi eksistensialis humanistik merupakan pendekatan pendidikan yang mengutamakan individualitas dan pengalaman subjektif siswa. Dengan berakar pada filsafat eksistensialisme dan humanisme, pendekatan ini memposisikan guru sebagai fasilitator yang membantu siswa menemukan makna hidup, mengembangkan identitas, dan mengeksplorasi nilai-nilai personal. Fokus utamanya adalah memberdayakan siswa untuk mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran, mendorong refleksi diri, dan membangun kemandirian. Melalui interaksi yang mendalam antara siswa dan materi pelajaran, pendekatan ini memicu perkembangan holistik, tidak hanya aspek kognitif tetapi juga emosional, sosial, dan spiritual. Guru tidak hanya mengajarkan fakta, tetapi juga membimbing siswa dalam mengaitkan pembelajaran dengan realitas kehidupan sehari-hari. Hal ini bertujuan untuk menciptakan individu yang lebih sadar, bertanggung jawab, dan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang diri mereka sendiri serta lingkungan sekitar. Pendekatan pedagogi eksistensialis humanistik dan konsep merdeka belajar sama-sama mengutamakan otonomi individu dalam pembelajaran. Baik dalam pendekatan eksistensialis humanistik yang menekankan pertumbuhan pribadi dan kebebasan dalam pembelajaran maupun konsep merdeka belajar yang memberi kesempatan pada siswa untuk mengatur jalannya belajar sendiri, keduanya memberikan ruang bagi siswa untuk mengambil peran aktif dalam proses belajar, menghargai keunikan setiap individu, serta mendorong tanggung jawab pribadi dalam pembelajaran dari setiap anak didik

    Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together (NHT) Untuk Meningkatkan Kerjasama Siswa Sekolah Dasar

    No full text
    Education does not only focus on developing cognitive aspects, but also needs to be directed at improving affective aspects. Collaboration as a form of affective aspect of students needs to continue to be developed so that it will be able to produce people who have an understanding of the importance of working together and the other impacts it has. However, there is still a reluctance among students to complete assignments together, and even tend to do it independently, even though it is a group assignment. The importance of cooperation for students makes teachers gives pressure for emphasis on the cooperation aspect in classroom learning by implementing learning methods that lead to the development of cooperation skills, including by implementing the Number Heads Together (NHT) type cooperative model. Analysis of research data shows that the application of the NHT model in learning can increase student collaboration. This can be seen from the increase in the total average score from cycle I of 74, increasing to 82.5 in cycle II and being in the Very Good category.Pendidikan tidak hanya berfokus pada pengembangan aspek kognitif, namun juga perlu di arahkan pada peningkatan afektif. Kerjasama sebagai salah satu bentuk aspek afektif siswa perlu terus dikembangkan sehingga akan mampu menghasilkan insan yang memiliki pemahaman akan pentingnya kerja bersama dan dampak lain yang ditimbulkan. Walau demikian masih terjadi keengganan siswa untuk menyelesaikan tugas secara bersama, dan bahkan cenderung mengerjakan secara mandiri, walaupun hal itu adalah merupakan tugas kelompok. Pentingnya kerjsama bagi siswa sehingga guru harus memberi penekanan khusus pada aspek kerjasama dalam pembelajaran dikelas dengan menerapkan metode pembelajaran yang mengarah pada pengembangan kemampuan dalam bekerjasama, diantaranya yaitu dengan menerapkan model kooperatif tipe Number Heads Together (NHT). Analisis data hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model NHT dalam pembelajaran dapat meningkatkan kerjasama siswa. Hal ini tampak dari peningkatan nilai total rata-rata dari siklus I sebesar 74 meningkat menjadi 82,5 pada siklus II dan berada dalam kategori Sangat Baik

    302

    full texts

    711

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇