Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan PGRI Sumbawa Barat
Not a member yet
124 research outputs found
Sort by
Transformasi Kepemimpinan Kepala Madrasah sebagai Faktor Utama dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
This research aims to analyze the strategies of the headmaster as a manager in improving the quality of the madrasah at MI Al-Kautsar Ranggo, using a qualitative approach. Data were collected through observations and interviews and then analyzed using the Moleong et al. approach, which emphasizes the validation of data from multiple sources deemed to have good knowledge related to the focus of the research. The results indicate that the strategies of the headmaster as a manager in improving the quality of the madrasah encompass three aspects: input, process, and output. Input includes a rigorous selection for new students and teachers who want to teach at MI Al-Kautsar Ranggo. These three aspects are interconnected, and without good input and learning processes, the output produced by an educational institution will not be optimal.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi kepala madrasah sebagai manajer dalam meningkatkan mutu madrasah di MI Al-Kautsar Ranggo, menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan Moleong dan kawan-kawan, yang mengedepankan pengecekan kebenaran data dari beberapa sumber yang dianggap memiliki pengetahuan yang baik terkait fokus penelitian yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi kepala madrasah sebagai manajer dalam meningkatkan mutu madrasah meliputi tiga aspek, yaitu input, proses, dan output. Input mencakup seleksi ketat bagi siswa baru dan guru yang ingin mengajar di MI Al-Kautsar Ranggo. Ketiga aspek tersebut saling berhubungan, di mana tanpa input dan proses pembelajaran yang baik, output yang dihasilkan oleh sebuah lembaga pendidikan juga tidak akan maksimal
Kontribusi Pendidikan IPS Dalam Membentuk Warga Negara yang Bertanggung Jawab
With an emphasis on finding successful learning methodologies and assessing their influence on students' character development, this study seeks to investigate how social studies education shapes students' character as responsible citizens. This study employed a qualitative approach and library research methods, obtaining primary and secondary data from literature relevant to social studies education, citizenship theory, and learning methods. The results show that interactive learning methods such as project-based and collaborative learning play an important role in enhancing students' participation and their learning experience. The integration of citizenship values into the curriculum and learning practices was also found to be effective in shaping students' citizenship attitudes and behaviors. The use of information and communication technologies, including e-learning, social media, and educational apps, has great potential to increase student engagement in social studies learning. In conclusion, social studies education requires a comprehensive and innovative approach to achieve the goal of building students' responsible character in societyPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kontribusi pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam membentuk karakter siswa sebagai warga negara yang bertanggung jawab, dengan fokus pada identifikasi strategi pembelajaran efektif dan evaluasi dampaknya terhadap perkembangan karakter siswa. Pendekatan kualitatif dengan metodologi library research digunakan dalam penelitian ini, dengan data primer dan sekunder yang diperoleh dari literatur terkait pendidikan IPS, teori kewarganegaraan, dan metode pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran interaktif seperti pembelajaran berbasis proyek dan kolaboratif memainkan peran penting dalam meningkatkan partisipasi siswa dan pengalaman belajar mereka. Integrasi nilai-nilai kewarganegaraan ke dalam kurikulum dan praktik pembelajaran juga ditemukan efektif dalam membentuk sikap dan perilaku kewarganegaraan siswa. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, termasuk e-learning, media sosial, dan aplikasi edukatif, memiliki potensi besar untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPS. Kesimpulannya, pendidikan IPS membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan inovatif untuk mencapai tujuan pembentukan karakter siswa yang bertanggung jawab dalam masyaraka
Analisis Kesulitan Siswa Tunarungu dalam Berpikir Matematis Materi Perkalian & Pembagian di SLB 1 Cendono
This article aims to analyze the difficulties of deaf students in thinking mathematically in multiplication and division material. This research uses a case study method and uses a qualitative approach. Data collection techniques include interviews, documentation, test results, and observation. Researchers conducted direct observations on deaf students in class V regarding solving arithmetic operation problems. With these observations, the results of initial observations show that students are not yet able to count and determine answers to multiplication and division so they experience difficulty in solving problems. Initial observation results show that students are not yet able to count and determine answers to multiplication and division, so they have difficulty solving problems. Based on the results of observations, it was discovered that many did not understand the distribution of material at the sixth meeting, namely the distribution of questions in story form. However, by practicing questions and researchers providing several media related to multiplication and division material, students can understand the arithmetic operations of multiplication and division. To overcome these difficulties, researchers proposed several alternatives, namely creating more creative learning innovations to improve students' understanding of mathematics lessonsKesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Anak tunarungu sulit mengembangkan kemampuan intelektualnya. Salah satu dampaknya yaitu terjadi kelambatan dan harus melakukan usaha lebih agar paham pada suatu pembelajaran, salah satunya mata pelajaran matematika. Kemampuan yang sangat mendasar yang penting dikuasai pada mata pelajaran matematika yaitu kemampuan dalam operasi hitung perkalian dan pembagian. Peneliti melakukan observasi secara langsung pada siswa tunarungu pada kelas V di SLB 1 Cendono mengenai penyelesaian masalah operasi hitung. Dengan adanya observasi ini, hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa siswa belum mampu berhitung dan menentukan jawaban perkalian dan juga pembagian hingga mengalami kesulitan dalam menuntaskan soal.hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa siswa belum mampu berhitung dan menentukan jawaban perkalian dan juga pembagian hingga mengalami kesulitan dalam menuntaskan soal.Penelitian ini menggunakan metode studi kasus serta menggunakan pendekatan kualitatif. teknik pengumpulan data berupa wawancara,dokumentasi,hasil tes dan observasi. Berdasarkan hasil jawaban siswa, ditemukan banyak yang tidak memahami akan soal pembagian pada pertemuan keenam yaitu soal pembagian berbentuk cerita. Namun dengan adanya pelatihan soal-soal dan peneliti memberikan beberapa media terkait materi perkalian dan pembagian, jadi siswa sudah dapat memahami operasi hitung perkalian dan pembagian. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, peneliti telah mengajukan beberapa alternatif yaitu menciptakan inovasi pembelajaran yang lebih kreatif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran matematika
Meningkatkan Daya Ingat dan Kemampuan Membuat Garis Pada Anak Tuna Grahita Sedang di SLB Negeri Purwosari
The research carried out was to improve memory and line-drawing skills for moderate-level mentally retarded children at SLB Negeri Purwosari Kudus. Children with intellectual disability often have problems developing abilities and memory. The cause of this disability is the lack of learning methods adapted to their needs. This research was conducted using a qualitative descriptive approach where the research subjects were class teachers and students with moderate intellectual disabilities. Data was obtained from observation, structured interviews, and documentation. This research shows that learning with interesting media such as the use of props and visual media can overcome memory and delineation difficulties in mentally retarded children. Another way to improve your line drawing skills is to introduce different types of lines. There are also several internal and external factors that can influence the development of the ability to form queues in mentally retarded children. These internal factors include health, interests, talents, and motivation. Meanwhile, external factors include family and environmental support. Therefore, supporting the learning of mentally retarded children requires family support and the right approach. It is hoped that the results of this research can make a positive contribution to the development of effective learning strategies for mentally retarded childrenPenelitian yang dilakukan adalah untuk meningkatkan keterampilan mengingat dan membuat garis untuk anak tunagrahita tingkat sedang di SLB Negeri Purwosari Kudus. Anak-anak dengan Tuna grahita seringkali mempunyai masalah dalam perkembangan keterampilan dan daya ingat. Penyebab disabilitas ini adalah kurangnya metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dimana subjek penelitiannya adalah guru kelas dan siswa tunagrahita sedang. Data diperoleh dari observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan media yang menarik seperti penggunaan alat peraga dan media visual dapat mengatasi kesulitan memori dan delineasi pada anak tunagrahita. Cara lain untuk meningkatkan keterampilan membuat garis adalah dengan memperkenalkan macam-macam garis. Terdapat pula beberapa faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan membentuk antrian pada anak tunagrahita. Faktor internal tersebut meliputi kesehatan, minat, bakat, dan motivasi. Sedangkan faktor eksternal meliputi dukungan keluarga dan lingkungan. Oleh karena itu, mendukung pembelajaran anak tunagrahita memerlukan dukungan keluarga dan pendekatan yang tepat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan strategi pembelajaran yang efektif bagi anak tunagrahita
Peran Guru dalam Membangun Kemandirian Pada Anak Autism Spectrum Disorder di Sekolah Sukacita Banjarmasin
This study discusses the role of teachers in fostering independence in children with autism spectrum disorder (ASD). Within the context of inclusive education, teachers hold a crucial role in aiding the development of special needs children. There are challenges in teaching ASD children, as they have a different understanding process compared to typical children. The method of this study is descriptive-qualitative, focusing on the teaching process at Sukacita Banjarmasin School. The study's results show that teachers act as facilitators, guides, motivators, and evaluators during the learning process. With these roles, teachers can assist in enhancing the independence of ASD children emotionally, intellectually, and socially. Therefore, the role of teachers is vitally important in supporting the development of ASD children and granting them better independence.Penelitian ini membahas peran guru dalam membangun kemandirian pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Dalam konteks pendidikan inklusif, guru memegang peran penting dalam membantu perkembangan anak berkebutuhan khusus. Terdapat tantangan dalam mengajar anak ASD karena mereka memiliki proses pemahaman yang berbeda dari anak normal. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan fokus pada pengajaran di Sekolah Sukacita Banjarmasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, motivator, dan evaluator dalam proses pembelajaran. Dengan peran ini, guru mampu membantu meningkatkan kemandirian anak ASD, baik secara emosional, intelektual, maupun sosial. Dengan demikian, peran guru sangat penting dalam membantu perkembangan anak ASD dan memberikan mereka kemandirian yang lebih baik
Kemampuan Menulis Anak Tunagrahita Sedang Kelas II di SDLB Sunan Muria
This research aims to improve the writing skills of moderate-level mentally retarded children at SDLB Sunan Muria. Children with intellectual disabilities often experience obstacles in developing writing skills due to a lack of learning methods that suit the needs of children with intellectual disabilities. This research uses a qualitative descriptive approach with the research subjects being a class II teacher and one student who is mentally retarded. Data was obtained through observation, structured interviews, and documentation. Data analysis goes through stages such as data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The validity of the data is tested through credibility, transferability, dependability, and confirmability. The research results show that the use of interesting media such as videos and the trace-the-dot method is effective in overcoming the writing difficulties of children with intellectual disabilities. It is hoped that this research will provide a positive contribution to the development of effective learning strategies for mentally retarded children.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis pada anak tunagrahita tingkat sedang di SDLB Sunan Muria. Anak-anak tunagrahita sering mengalami kendala dalam mengembangkan kemampuan menulis dikarenakan kurangnya metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak tunagrahita. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian guru kelas II dan satu siswa yang mengalami tunagrahita. Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data melalui tahapan-tahapan seperti reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media yang menarik seperti video dan metode trace the dot efektif dalam mengatasi kesulitan menulis anak tunagrahita. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribus yang positif untuk penyusunan strategi pembelajaran yang efektif bagi anak tunagrahita
Analisis Pemecahan Masalah Geometri dengan Pendekatan Metakognitif ditinjau dari Aspek Strategi Kognitif
This research aims to determine students' abilities to solve geometry problems using a metacognitive approach, looking at the cognitive strategy aspect. This type of research is qualitative with a descriptive approach. The research subjects consisted of three class IX students of Purwodadi Adventist Middle School with high, medium, and low abilities. Data collection was carried out through testing instruments, test questions, and interviews. The results of this research show that students who are highly skilled in solving geometric problems using a metacognitive approach, looking at the cognitive strategy aspect, have fulfilled the overall indicators very well. Then, students with moderate abilities, in solving geometry problems using a metacognitive approach reviewed in the cognitive strategy aspect, can fulfill all the indicators of the cognitive strategy aspect quite well. Meanwhile, students with low ability in solving geometry problems using a metacognitive approach reviewed in the cognitive strategy aspect have not been able to fulfill some of the indicators in the cognitive strategy aspectPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam meyelesaikan masalah geometri dengan pendekatan metakognitif ditinjau pada aspek strategi kognitif. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari tiga siswa kelas IX SMP Advent Purwodadi yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Pengumpulan data dilakukan dengan uji instrumen soal tes dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang berkemampuan tinggi dalam menyelesaikan masalah geometri dengan pendekatan metakognitif yang ditinjau pada aspek strategi kognitif sudah memenuhi secara keseluruhan indikator dengan sangat baik. Kemudian untuk siswa yang berkemampuan sedang, dalam menyelesaikan masalah geometri dengan pendekatan metakognitif yang ditinjau pada aspek strategi kognitif dapat memenuhi semua indikator aspek strategi kognitif dengan cukup baik. Sedangkan siswa yang berkemampuan rendah dalam menyelesaikan masalah geometri dengan pendekatan metakognitif yang ditinjau pada aspek strategi kognitif belum mampu memenuhi sebagian indikator pada aspek strategi kogniti
Penerapan Teori Polya melalui Pembelajaran Matematika Mengenai Materi Penjumlahan pada Anak Usia Dasar
The aim of this research is to analyze the application of Polya theory through mathematics learning regarding addition material for elementary-age children. This research uses qualitative research with descriptive methods. The results of this research show that Polya's theory has four stages: understanding the problem, preparing a problem-solving plan, implementing the plan, and checking again. Students also really understand the material being explained, especially when the material is delivered not only using verbal explanations but also through learning media. Through Polya's theory, students are able to find a way out or solution to a mathematical problem related to everyday life.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis penerapan teori Polya melalui pembelajaran matematika mengenai materi penjumlahan pada anak usia dasar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu bahwa teori Polya memiliki empat tahapan yakni, memahami masalah, menyusun rencana pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah, dan memeriksa kembali. Siswa juga sangat memahami materi yang dijelaskan, terlebih penyampaian materi tidak hanya menggunakan penjelasan lisan saja tetapi juga melalui media pembelajaran. Melalui teori Polya, siswa mampu mencari jalan keluar atau solusi untuk memecahkan suatu permasalahan matematika yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. 
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar
The aim of this research is to analyze the increase in activity and learning of students who receive TGT-type cooperative learning with those who receive conventional learning. This research is quantitative research, the research design is a true experimental design, with the form of a pretest posttest control group design. The population in this study were all 5th-grade students at State Elementary Schools in Seteluk sub-district. The simple random sampling technique obtained SDN Tapir as the experimental class and SDN 2 Air Suning as the control class. The instruments in the research were activity questionnaires and learning outcomes tests which were first tested for validity and reliability. The Results of the test in the form of pretest, posttest, and normalized gain scores were analyzed using the T-test (because the data is normally distributed). The results of data analysis show that the normalized gain score for learning activities has a value of tcount < ttable (1.099 <2.019). Likewise, the normalized gain score for learning outcomes has a tcount< ttable (0.880 <2.019). So it can be concluded that between the experimental class and the control class, there is a significant difference in the normalized gain score. Based on the research results, it can be concluded that the activity and learning outcomes of students taught using the TGT-type cooperative model are higher than the improvement and activity and learning outcomes of students taught using conventional learning.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peningkatan aktivitas dan belajar peserta didik yang memperoleh pembelajaran koopetarif tipe TGT dengan yang memperoleh pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, desain penelitian adalah true eksperimental design, dengan bentuk pretest postest control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 5 SD Negeri dikecamatan seteluk. Teknik pengambilan sampel simple random sampling, diperoleh SDN Tapir sebagai kelas eksperimen dan SDN 2 Air Suning sebagai kelas kontrol. Instrumen dalam penelitian adalah angket aktivitas dan tes hasil belajar yang telebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil tes berupa skor pretes, postes dan gain ternormalisasi dianalisis dengan menggunakan T-test (karena data berdistribusi normal). Hasil analisis data menunjukkan skor gain ternormalisasi untuk aktivitas belajar memiliki nilai thitung < ttabel(1,099<2,019). Begitu juga dengan skor gain tenormalisasi hasil belajar memiliki thitung < ttabel (0,880<2,019). Sehingga dapat disimpulakan bahwa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki perbedaan yang signifikan pada skor gai tenormalisasi. Berdasarkan hasil penelitian ditarik kesimpulan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model kooperatif tipe TGT lebih tinggi dari pada peningkatan dan aktivitas dan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional
Pentingnya Kesadaran Mahasiswa Dalam Membina Karakter dan Etika di Lingkungan Kampus
A conducive campus environment can influence student learning achievement. With a supportive campus environment, students will be more enthusiastic in their learning process so their achievement will also increase. In creating a conducive campus environment, that can motivate students to study and improve their achievements, cooperation is needed from all elements of the campus, consisting of; students, lecturers, staff, and cleaners. The method used in this research is a literature review which is carried out by collecting, identifying, and analyzing research work. Students who can act reasonably in carrying out their activities as students know the importance of ethics. For example, when students demonstrate ethical justice, students act as a control mechanism that can prevent students from acting anarchically. Students who practice ethics can treat everyone and everything with respect. Since many students, when protesting, mistake freedom for irresponsible freedom, ethical students must understand freedom and responsibility. The level of student awareness in complying with regulations regarding ethics in campus life is at a medium level. This means that they know the ethics of campus life and most of them have implemented them. However, students are easily influenced by other people or influenced by certain circumstances and situations. For example, when lecture times have been agreed upon by students and lecturers, there are still students who are late for various reasons.Lingkungan kampus yang kondusif dapat mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa. Karena dengan lingkungan kampus yang mendukung, mahasiswa akan lebih semangat dalam proses belajarnya sehingga prestasinya juga akan meningkat. Dalam menciptakan lingkungan kampus yang kondusif, yang dapat memotivasi mahasiswa dalam belajar dan meningkatkan prestasinya, diperlukan kerja sama dari seluruh elemen kampus, yang terdiri dari; mahasiswa, dosen, staff, petugas kebersihan. Metode yang digunakan dalama penelitian ini literatur review yang dilakukan dengan mengumpulkan, mengidentifikasi, melakukan analisis dari karya penelitian. Mahasiswa yang dapat bertindak secara wajar dalam menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa dengan mengetahui pentingnya etika. Misalnya, ketika mahasiswa berdemonstrasi untuk keadilan etis, mahasiswa bertindak sebagai mekanisme kontrol yang dapat mencegah mahasiswa bertindak anarkis. Mahasiswa yang mempraktikkan etika dapat memperlakukan semua orang dan segala sesuatu dengan hormat. Karena banyak siswa, saat memprotes, salah mengira kebebasan sebagai kebebasan yang tidak bertanggung jawab, siswa etis harus memahami kebebasan dan tanggung jawab. Tingkat kesadaran mahasiswa dalam mematuhi peraturan mengenai etika di kehidupan kampus berada pada tingkatan sedang. Maksudnya mereka mengetahui etika di kehidupan kampus dan sebagian besar sudah mengimplementasikannya. Namun mahasiswa mudah terpengaruh oleh orang lain atau terpengaruh oleh keadaan dan situasi tertentu. Misalnya ketika waktu perkuliahan yang telah disepakati mahasiswa dan dosen, tetapi masih ada saja mahasiswa yang telat dengan berbagai alasa