Jurnal Universitas Pancasakti Makassar
Not a member yet
1188 research outputs found
Sort by
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI PROGRAM KELAS UNGGULAN MTSN 1 LAMONGAN
Kemampuan memecahkan masalah merupakan kemampuan yang perlu dikembangkan selama proses belajar matematika. Hasil observasi memperlihatkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa MTsN 1 Lamongan masih kurang. Penelitian ini bertujuan guna mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa MTsN 1 Lamongan khususnya pada program kelas unggulan. Penelitian ini bersifat kualitatif juga menggunakan metode studi kasus, pengumpulan data melalui wawancara serta tes. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa: (1) peserta didik pada program unggulan telah memenuhi indikator pemahaman masalah dengan mengidentifikasi informasi yang ditanyakan dan informasi yang diketahui secara benar; (2) juga telah memenuhi indikator penyusunan rencana dengan menyajikan rencana solusi yang menyeluruh; (3) juga telah memenuhi indikator untuk pemecahan masalah dengan menguraikan langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut; serta (4) belum memenuhi indikator pemeriksaan kembali karena tidak menulis ulang hasil permasalahan yang diberikan
Analysis of Barriers to the Implementation of Electronic Medical Records in the Outpatient Clinic of Gunung Maria Hospital, Tomohon
The implementation of EMR is expected to improve the quality of healthcare services by facilitating faster access to patient data, reducing recording errors, and enhancing coordination among medical personnel. However, various challenges have been identified in practice, which hinder the system’s effectiveness. This study aims to analyze the barriers to EMR implementation in the Outpatient Clinic of Gunung Maria Hospital, Tomohon. A qualitative approach was employed, using in-depth interviews with informants directly involved in the EMR implementation process. The findings reveal that the barriers arise from multiple aspects. From the human resources perspective, additional time and training are needed to enable staff to adapt to the new system. In terms of technological infrastructure, unstable network connectivity and the limited availability of hardware, such as computers and printers in certain service units, hamper the data input process. Regarding software, the existing system does not fully meet the hospital’s operational needs. Procedurally, insufficient dissemination of the standard operating procedures (SOPs) has resulted in some staff not fully understanding the system’s workflow. Furthermore, the evaluation aspect remains problematic due to the absence of a fully functioning monitoring mechanism. External disturbances, such as power outages, have also contributed to service delays by disrupting the electronic documentation process. In conclusion, the EMR implementation at the outpatient clinic still faces various technical and non-technical challenges. Therefore, improvements and strengthening efforts across multiple aspects are required to ensure that the EMR system can operate more effectively and efficiently in supporting the enhancement of healthcare service quality
Determinants of Compliance Among Chronic Kidney Disease Patients Undergoing Hemodialysis at RSUD ODSK, North Sulawesi
Chronic Kidney Disease (CKD) is a major chronic health issue that requires long-term therapy, one of which is hemodialysis. The success of hemodialysis therapy is highly influenced by patient adherence. However, the adherence rate to scheduled hemodialysis at ODSK Provincial General Hospital, North Sulawesi, is only 71.67%, which is still below the National Quality Indicator standard of 100%. This study aimed to analyze the factors influencing adherence among CKD patients undergoing hemodialysis at ODSK Provincial General Hospital in North Sulawesi. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed. The sample consisted of 78 CKD patients who routinely underwent hemodialysis, selected using total sampling. Data were collected through a structured questionnaire. Chi-square tests and logistic regression analyses were conducted to assess the relationships between variables. The results revealed significant associations between adherence and several factors, including education level (p=0.009), duration of hemodialysis (p=0.004), knowledge (p=0.013), nurse support (p=0.006), and family support (p=0.006). The most influential factors were family support and patient knowledge, with family support emerging as the strongest predictor of adherence among CKD patients undergoing hemodialysis. Efforts to improve adherence should focus on patient education, strengthening the role of nurses and hospital services, and actively involving family members in the patient care process
Improving Governance and Inclusion Public Services in Selaparang District Mataram City
This article aims to analyze Selaparang Inclusion as a strategic approach to strengthening governance and improving the quality of public services in Selaparang District, Mataram City. This study uses a qualitative descriptive method assisted by the NVivo 12 Plus tool to analyze the data. The results show that the active participation of local stakeholders, such as the Selaparang District Head and the Mataram Inclusive Formulation Team, indicates a collaborative and reflective process, although obstacles are still encountered in directing the concept of inclusion so that it is easily understood by the wider community. Meanwhile, the main targets of Selaparang Inclusion show that the elderly are the group with the greatest attention (30%), followed by people with disabilities (23.33%), children (20%), women (16.67%), and indigenous communities (10%). These findings provide a concrete picture of the direction of priority programs and indicate the still low attention to women and indigenous communities. Overall, the Selaparang Inclusion program has succeeded in becoming a collaborative platform across actors in building an inclusive region. However, further efforts are still needed to increase representation and access to services for underrepresented groups. This program is an example of good practice in realizing just, equal, and participatory governance at the local level
Analysis of The Influence of Competency, Motivation, and Work Environment on Employee Performance in The Library and Archives Service of the Bontang City Government
This study investigates the influence of competence, work motivation, and the work environment on employee performance at the Bontang City Library and Archives Service. The research aims to analyze how these three internal factors interact to shape employee productivity, satisfaction, and commitment in a public sector setting. Employing a quantitative research approach with a causal-explanatory design, the study utilizes a structured questionnaire distributed to employees as respondents. Data were analyzed through statistical techniques, including correlation and regression analysis, to determine both partial and simultaneous effects of each variable on performance outcomes. The findings reveal that competence significantly enhances task effectiveness, motivation drives employee engagement and commitment, and a supportive work environment improves satisfaction and overall productivity. Collectively, these factors contribute to strengthening institutional performance and promoting good governance practices in local administration
Peran Dukungan Sosial dalam Kepatuhan Terapi Antiretroviral pada Orang dengan HIV: Systematic Review
Salah satu tantangan utama dalam pengendalian HIV adalah rendahnya kepatuhan Orang dengan HIV (ODHIV) dalam mengonsumsi terapi antiretroviral (ARV). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan kepatuhan mengonsumsi ARV pada ODHIV melalui pendekatan systematic review dengan pedoman PRISMA. Pencarian artikel dilakukan pada periode Maret hingga Juli 2025 melalui database PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kata kunci “arv AND adherence AND social support”. Kriteria inklusi meliputi artikel penelitian asli dengan subjek ODHIV, tersedia dalam teks lengkap secara gratis, dan membahas hubungan antara dukungan sosial dan kepatuhan ARV. Artikel yang berbayar, berbentuk review, komentar, atau laporan yang tidak lengkap dikecualikan dari analisis. Dari 21.205 artikel yang ditemukan, 10 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis lebih lanjut. Enam dari sepuluh artikel menunjukkan adanya hubungan signifikan antara dukungan sosial dan kepatuhan ARV. Bentuk dukungan sosial yang ditemukan mencakup dukungan keluarga, teman sebaya, kelompok dukungan, dan Pendamping Minum Obat (PMO). Pengungkapan status HIV dan kepuasan terhadap layanan kesehatan turut memperkuat efek dukungan sosial. Kesimpulan: Dukungan sosial memiliki peran penting dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan ARV. Diperlukan penguatan intervensi berbasis komunitas yang melibatkan keluarga dan teman sebaya sebagai bagian dari strategi pengendalian HIV yang berkelanjutan dan partisipatif
Faktor Determinan Kejadian Sindrome Baby blues Syndrome Pada Ibu Nifas di Kupang, Indonesia
Sindrom baby blues pada ibu nifas adalah masalah kesehatan mental yang sering terjadi setelah melahirkan, namun seringkali diabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian sindrom baby blues pada ibu nifas di RSUD S. K. Lerik, Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 106 ibu nifas sebagai responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner EPDS (Edinburg Postnatal Depression Scale) dan dianalisis dengan uji chi-squaremdan dan regresi logistik. Hasil menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis persalinan (OR = 0,80; CI 95% = 0,10-0,63; p = 0,016), pengaruh dukungan suami (OR = 93,5; CI 95% = 11,41-767,05; p = 0,000), dukungan tenaga Kesehatan (OR = 3,32; CI 95% = 1,01-10,98; p = 0,049), dukungan keluarga (OR = 43,3; CI 95% = 5,45-344,72; p = 0,000) sedangkan jumlah anak tidak berpengaruh signifikan (OR = 0,00; CI 95% = 0,00-0,00; p = 1,000). Dukungan suami Adalah faktor terpenting untuk mencegah terjadinya baby blues syndrome
Uji Efektivitas Tanaman Patah Tulang (Euphorbia tirucalli) pada Mus musclus sebagai Antihiperglikemia
Hiperglikemia adalah kondisi dimana kadar gula dalam darah melebihi batas normal, sehingga hiperglikemia menjadi salah satu tanda dari penyakit diabetes melitus. Ekstrak tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli) diketahui memiliki kandungan senyawa yang berpotensi menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan dosis efektif ekstrak tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli) sebagai antihiperglikemia pada mencit (Mus musculus) putih. Penelitian ini menggunakan metode uji toleransi glukosa secara oral dengan membagi hewan uji kedalam 5 kelompok perlakuan, tiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit. Kelompok kontrol negatif diberikan Na CMC 1%, kelompok kontrol positif diberikan glibenklamid dengan dosis 5 mg, kelompok perlakuan diberikan sediaan suspensi tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli) dengan konsentrasi 2,5%, 5% dan 10%. Pengujian Pengukuran kadar glukosa darah dimulai pada menit 30, 60, 90, 120 dan 150 dengan menggunakan alat glukometer. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak tanaman memiliki aktivitas antihiperglikemia. Ekstrak tanaman patah tulang konsentrasi 2,5%, 5% dan 10% dapat menurunkan kadar glukosa darah pada mencit yang mengalami hiperglikemia. Konsentrasi dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah pada mencit yaitu konsentrasi ekstrak tanaman patah tulang 5% dan 10% dengan signifikansi >0,05 dengan kontrol positif
Kualifikasi Pendidikan Tenaga Kesehatan dan Dampaknya Terhadap Mutu Pelayanan di RSUD Toto Kabila: Studi Kualitatif Deskriptif
Mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit sangat bergantung pada kompetensi tenaga kesehatan sebagai ujung tombak penyelenggara layanan. Kualifikasi pendidikan menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas dan efisiensi pelayanan, namun masih ditemukan variasi latar belakang pendidikan yang tidak selalu relevan dengan bidang kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran kualifikasi pendidikan tenaga kesehatan dalam mendukung mutu pelayanan di RSUD Toto Kabila. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap tenaga medis, paramedis, administrasi, dan manajemen rumah sakit yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan yang divalidasi dengan triangulasi. Hasil menunjukkan adanya variasi kualifikasi mulai dari diploma, sarjana, hingga non-kesehatan. Tenaga dengan kualifikasi sesuai bidang lebih memahami SOP, bekerja disiplin, dan memberikan pelayanan optimal, sementara tenaga yang tidak relevan menghadapi kendala teknis yang berdampak pada keterlambatan dan menurunnya kepuasan pasien. Ditemukan pula hambatan berupa keterbatasan tenaga berkualifikasi tepat, distribusi kerja tidak merata, dan minimnya pelatihan berkelanjutan. Penelitian ini menegaskan bahwa kualifikasi pendidikan tenaga kesehatan berperan krusial dalam menjamin mutu pelayanan rumah sakit, khususnya di wilayah daerah
Analisis Faktor Faktor Yang Memengaruhi Waktu Tunggu Pelayanan Rawat Jalan di RSU GMIM Pancaran Kasih Manado
Waktu tunggu pelayanan rawat jalan merupakan salah satu indikator mutu penting dalam menilai kinerja rumah sakit. Standar nasional pelayanan di Indonesia menetapkan waktu tunggu optimal kurang dari 60 menit, namun masih banyak rumah sakit belum memenuhi target tersebut akibat keterbatasan tenaga kesehatan, alur pelayanan yang belum efisien, serta permasalahan sarana prasarana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi waktu tunggu pasien rawat jalan di RSU GMIM Pancaran Kasih Manado. Menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 78 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik dengan bantuan program spss. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengetahuan pasien, pelayanan administrasi, sumber daya manusia, dan sarana prasarana memiliki hubungan yang signifikan dengan waktu tunggu pelayanan (p < 0,001). Uji regresi logistik menunjukkan model yang layak (Hosmer-Lemeshow p = 0,306), dengan faktor dominan adalah sarana prasarana (OR = 46.03; 95% CI = 3.16-669.98) diikuti sumber daya manusia (OR = 30.15; 95% CI = 4.00-226.91), pelayanan administrasi (OR = 24.87; 95% CI = 2.99-206.71), dan pengetahuan pasien (OR = 16.47; 95% CI = 2.04-132.86). Disimpulkan bahwa peningkatan sarana prasarana dan optimalisasi sumber daya manusia perlu menjadi prioritas manajemen rumah sakit untuk mempercepat waktu tunggu dan meningkatkan mutu pelayanan rawat jalan