Online Journal Universitas Garut
Not a member yet
2148 research outputs found
Sort by
Survey Pemanfaatan Fitofarmaka Untuk Meningkatkan Produktivitas Dan Kesehatan Ayam Petelur : Studi Kasus Di Kecamatan Karangpawitan Garut
Fitofarmaka adalah jenis tanaman yang mengandung senyawa aktif yang dapat berperan dalam pengobatan. Dalam budidaya ternak salah satunya pada unggas ayam petelur, fitofarmaka banyak digunakan untuk tujuan meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan fitofarmaka di Kecamatan Karangpawitan Kabupaten Garut. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan metode survai. Pemilihan peternak ayam petelur yang diambil dilakukan secara purposive. Interview dilakukan secara langsung terhadap 12 peternak terpilih. Hasil penelitian menunjukkan semua peternak ayam petelur telah memanfaatkan bahan fitofarmaka dalam budidaya ayam petelur. Pada umumnya bahan yang digunakan oleh peternak di Kecamatan Karangpawitan dalam budidaya ayam petelur adalah daun sirih (Piper betle L), tanaman sereh (Cimbopogon Nardus L.), daun binahong (Anredera cordifolia), bawang putih (Allium sativum), daun pepaya (Carica pepaya L) dan jahe (Zingiber officinale
Pemanfaatan Smartphone Sebagai Sumber Informasi Pertanian Oleh Kelompok Tani Di Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember
Teknologi berkembang pesat dan merambah semua sektor termasuk sektor pertanian, meskipun sektor ini kurang terdigitalisasi di Indonesia. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK), khususnya smartphone, menjadi penting dalam penyebaran informasi yang cepat dan akurat. Dengan smartphone, petani dapat dengan sendirinya mengakses dan mengadopsi informasi pertanian, tanpa bergantung pada penyuluh pertanian, sehingga dapat meningkatkan usahataninya. Penelitian ini menganalisis terkait karakteristik petani pada kelompok tani di Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember dan hubungan antara karakteristik petani dengan pemanfaatan smartphone sebagai sumber informasi di Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sebanyak 65 responden menggunakan teknik cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik petani dan pemanfaatan smartphone sebagai sumber informasi dengan dua variabel yaitu Status Kepemilikan Smartphone (X7) dan Durasi Pemakaian Smartphone (X8). Petani di Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember sudah memanfaatkan smartphone dengan baik. Penelitian ini merekomendasikan khususnya dinas pertanian untuk melakukan pendampingan dan mengarahkan petani dalam menunjang kemudahan akses informasi secara daring oleh petani.Teknologi berkembang pesat dan merambah semua sektor termasuk sektor pertanian, meskipun sektor ini kurang terdigitalisasi di Indonesia. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK), khususnya smartphone, menjadi penting dalam penyebaran informasi yang cepat dan akurat. Dengan smartphone, petani dapat dengan sendirinya mengakses dan mengadopsi informasi pertanian, tanpa bergantung pada penyuluh pertanian, sehingga dapat meningkatkan usahataninya. Penelitian ini menganalisis terkait karakteristik petani pada kelompok tani di Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember dan hubungan antara karakteristik petani dengan pemanfaatan smartphone sebagai sumber informasi di Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sebanyak 65 responden menggunakan teknik cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik petani dan pemanfaatan smartphone sebagai sumber informasi dengan dua variabel yaitu Status Kepemilikan Smartphone (X7) dan Durasi Pemakaian Smartphone (X8). Petani di Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember sudah memanfaatkan smartphone dengan baik. Penelitian ini merekomendasikan khususnya dinas pertanian untuk melakukan pendampingan dan mengarahkan petani dalam menunjang kemudahan akses informasi secara daring oleh petani
Literasi Keuangan dan Digital di Era Kemajuan Teknologi: Mewujudkan Masyarakat Tangguh dan Cerdas Secara Ekonomi
Era kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mengelola keuangan dan mengakses layanan finansial. Namun, kesenjangan digital dan rendahnya literasi keuangan digital di masyarakat pedesaan menjadi tantangan signifikan dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif. Penelitian ini mengkaji kebutuhan mendesak untuk meningkatkan literasi keuangan dan digital masyarakat pedesaan guna membangun masyarakat yang tangguh dan cerdas secara ekonomi. Metode penelitian menggunakan pendekatan edukasi partisipatif melalui seminar dan workshop interaktif yang menargetkan masyarakat umum, pelaku UMKM, dan ibu rumah tangga di Desa Ciburial, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Program mencakup materi pengelolaan keuangan pribadi, layanan keuangan digital (e-wallet, QRIS), pemanfaatan marketplace, literasi investasi, dan perlindungan terhadap pinjaman online ilegal serta investasi bodong. Pengumpulan data dilakukan melalui pre-test dan post-test serta observasi langsung terhadap partisipasi peserta. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman peserta tentang pengelolaan keuangan digital, dengan 80% peserta menunjukkan kemampuan yang meningkat dalam membedakan skema investasi legal dan ilegal. Program berhasil meningkatkan kesadaran terhadap risiko keuangan digital dan memperbaiki keterampilan praktis dalam memanfaatkan teknologi keuangan untuk pengembangan usaha. Penelitian ini menyimpulkan bahwa program literasi keuangan dan digital yang komprehensif sangat penting untuk memberdayakan masyarakat pedesaan agar dapat berpartisipasi efektif dalam ekonomi digital, yang pada akhirnya berkontribusi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pengentasan kemiskinan di wilayah pedesaan
Development of a Guided Inquiry-Based Experimental Design for the Synthesis of GO-PANI from Coconut Shell Charcoal
This study aims to develop an experimental design based on guided inquiry for the synthesis of GO–PANI composites derived from coconut shell charcoal, packaged in a Student Worksheet. The development follows the Research and Development (R&D) model, consisting of three main stages: preliminary study, research, and instructional material development. Preliminary studies analyze the needs through syllabus and journals. The study was in the form of a preliminary test in the laboratory in the synthesis of graphic oxide (GO) with a modified Hummers method, then composed with polyanilin through in situ polymerization. Development of teaching devices in the form of experimental and student worksheet designs. The student worksheet was structured according to guided inquiry phases: orientation to the problem, problem formulation, planning and conducting experiments, data analysis, and drawing conclusions. Validation by three experts indicated that the experimental design and student worksheet were rated highly valid, with an average r value of 0.94. A feasibility test involving ten students showed very positive responses, with an average feasibility score of 92.2%. The success of the experimental design is reflected in its ability to integrate locally sourced biomass-based material synthesis with a contextual and applicable guided inquiry approach. In addition, characterization of the synthesized products using FTIR and SEM confirmed the successful formation of the GO–PANI composite. This research contributes to the development of instructional tools relevant to modern chemistry education while supporting the principles of renewable energy and the sustainable utilization of local resources.
Keywords: Coconut shell charcoal, Experimental design, GO-PANI, Guided inquiry, Student worksheet.This study aims to develop an experimental design based on guided inquiry for the synthesis of GO–PANI composites derived from coconut shell charcoal, packaged in a Student Worksheet. The development follows the Research and Development (R&D) model, consisting of three main stages: preliminary study, research, and instructional material development. Preliminary studies analyze the needs through syllabus and journals. The study was in the form of a preliminary test in the laboratory in the synthesis of graphic oxide (GO) with a modified Hummers method, then composed with polyanilin through in situ polymerization. Development of teaching devices in the form of experimental and student worksheet designs. The student worksheet was structured according to guided inquiry phases: orientation to the problem, problem formulation, planning and conducting experiments, data analysis, and drawing conclusions. Validation by three experts indicated that the experimental design and student worksheet were rated highly valid, with an average r value of 0.94. A feasibility test involving ten students showed very positive responses, with an average feasibility score of 92.2%. The success of the experimental design is reflected in its ability to integrate locally sourced biomass-based material synthesis with a contextual and applicable guided inquiry approach. In addition, characterization of the synthesized products using FTIR and SEM confirmed the successful formation of the GO–PANI composite. This research contributes to the development of instructional tools relevant to modern chemistry education while supporting the principles of renewable energy and the sustainable utilization of local resources.
Keywords: Coconut shell charcoal, Experimental design, GO-PANI, Guided inquiry, Student worksheet
Pembelajaran IPA Berbasis Lingkungan vs Konvensional: Studi Komparatif Pemahaman Konsep Benda Siswa Kelas IV: Analisis perbandingan hasil belajar siswa berbasis lingkungan dan konvensional
This study aims to analyze the effectiveness differences between environment-based learning and conventional learning in improving elementary school students’ understanding of objects and their functions. The research was motivated by the low conceptual understanding of students in science subjects when teachers still predominantly use lecture methods and textbooks. The research method employed was a quasi-experimental design with a pretest-posttest control group design. The sample consisted of 54 fourth-grade students elementary schools in North Lampung, selected using purposive sampling. The experimental group (n=27) received environment-based learning by utilizing real objects around the school such as leaves, stones, water, and daily-use materials to construct understanding. Meanwhile, the control group (n=27) received conventional learning through lectures and textbooks. Research instruments included a validated concept comprehension test and student activity observation sheets. Data were analyzed using an independent t-test with a significance level of 5% (α = 0.05). The findings revealed a significant difference between the two groups. The experimental group’s posttest average reached 86,59 with an N-gain of 0.65 (moderate-high category), while the control group achieved an average of 74,18 with an N-gain of 0.33 (low-moderate category). The t-test showed p < 0.05, indicating that environment-based learning was more effective than conventional learning in improving students’ understanding of objects and their functions. These findings are consistent with prior studies emphasizing the importance of contextual and environmental approaches in science learning. In conclusion, environment-based learning not only enhances students’ cognitive outcomes but also fosters environmental awareness. The implication of this study is that elementary school teachers are encouraged to integrate environmental potential as a contextual and authentic learning resource.
Keywords: Environment-Based Learning,Conventional Learning, Object Concepts, Science Learning Outcomes.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efektivitas antara pembelajaran berbasis lingkungan dan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan pemahaman konsep benda dan kegunaannya pada siswa sekolah dasar. Latar belakang penelitian didasari oleh rendahnya pemahaman konseptual siswa pada mata pelajaran IPA ketika guru masih dominan menggunakan metode ceramah dan buku teks. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control group design. Sampel penelitian adalah 54 siswa kelas IV sekolah dasar di Lampung Utara yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Kelompok eksperimen (n=27) mendapatkan pembelajaran berbasis lingkungan, yaitu memanfaatkan objek nyata di sekitar sekolah seperti daun, batu, air, dan benda sehari-hari lainnya untuk mengkonstruksi pemahaman. Sementara itu, kelompok kontrol (n=27) memperoleh pembelajaran konvensional berbasis ceramah dan buku teks. Instrumen penelitian berupa tes pemahaman konsep yang telah divalidasi oleh ahli, serta lembar observasi aktivitas siswa. Data dianalisis menggunakan uji-t independen dengan taraf signifikansi 5% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Nilai rata-rata posttest kelompok eksperimen mencapai 86,59 dengan N-gain 0,65 (kategori sedang-tinggi), sedangkan kelompok kontrol memperoleh rata-rata 74,18 dengan N-gain 0,33 (kategori rendah-sedang). Uji-t menghasilkan nilai p < 0,05, yang berarti pembelajaran berbasis lingkungan lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan pemahaman konsep benda dan kegunaannya. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menekankan pentingnya pendekatan kontekstual dan lingkungan sekitar dalam pembelajaran IPA. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan mampu meningkatkan hasil belajar kognitif sekaligus menumbuhkan sikap peduli lingkungan pada siswa. Implikasi dari penelitian ini adalah guru di sekolah dasar dianjurkan untuk lebih mengintegrasikan potensi lingkungan sekitar sebagai sumber belajar nyata yang kontekstual.
Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Lingkungan, Pembelajaran Konvensional, Konsep Benda, Hasil Belajar IPA
PROFIL KONDISI FISIK ATLET TARUNG DERAJAT PUTRA JAWA BARAT PON XX PAPUA TAHUN 2021
This study aims to analyze the physical condition of the West Java Tarung Derajat PON Pelatda male athletes based on several main components, namely flexibility, balance, leg explosive power, agility, and endurance. This study uses a quantitative descriptive method with physical measurements through a series of standard tests.
The results showed that the average athlete flexibility was 20.3 cm with a standard deviation of 4.33, which is in the moderate to good category. In terms of balance, an average of 28.3 seconds was obtained with a standard deviation of 18.0, which indicates a fairly large variation between athletes. Leg explosive power had an average of 127.5 cm with a standard deviation of 13.2, which indicates that most athletes have adequate explosive strength. The average agility of athletes was 31.8 seconds with a standard deviation of 3.35, which is in the good category. Meanwhile, the average athlete endurance reached 46.5 points with a standard deviation of 5.15, which indicates a good level of fitness. Overall, the physical condition of the athletes of Pelatda PON Tarung Derajat is already in the good category, although there are still variations between individuals, especially in the aspect of balance. Therefore, a more specific and structured training program is needed to optimize the physical components that still vary. This finding confirms that physical condition is a crucial factor in the performance of Tarung Derajat athletes, so that coaching that focuses on improving physical fitness is an important step in preparing for high-level competitions.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi fisik atlet Pelatda PON Tarung Derajat putra Jawa Barat berdasarkan beberapa komponen utama, yaitu fleksibilitas, keseimbangan, daya ledak tungkai, kelincahan, dan daya tahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pengukuran fisik melalui serangkaian tes standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata fleksibilitas atlet adalah 20,3 cm dengan simpangan baku 4,33, yang berada dalam kategori sedang hingga baik. Pada aspek keseimbangan, diperoleh rata-rata 28,3 detik dengan simpangan baku 18,0, yang menunjukkan adanya variasi yang cukup besar antar atlet. Daya ledak tungkai memiliki rata-rata 127,5 cm dengan simpangan baku 13,2, yang menunjukkan bahwa sebagian besar atlet memiliki kekuatan eksplosif yang memadai. Kelincahan rata-rata atlet adalah 31,8 detik dengan simpangan baku 3,35, yang berada dalam kategori baik. Sementara itu, daya tahan rata-rata atlet mencapai 46,5 poin dengan simpangan baku 5,15, yang menunjukkan tingkat kebugaran yang baik. Secara keseluruhan, kondisi fisik atlet Pelatda PON Tarung Derajat sudah berada dalam kategori baik, meskipun masih terdapat variasi antar individu, terutama dalam aspek keseimbangan. Oleh karena itu, diperlukan program latihan yang lebih spesifik dan terstruktur untuk mengoptimalkan komponen fisik yang masih bervariasi. Temuan ini menegaskan bahwa kondisi fisik merupakan faktor krusial dalam performa atlet Tarung Derajat, sehingga pembinaan yang berfokus pada peningkatan kebugaran jasmani menjadi langkah penting dalam persiapan kompetisi tingkat tinggi
Efektivitas Lembar Kerja Berbasis PBL terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Ekosistem
This study investigates the effectiveness of Student Worksheets based PBL (Problem-Based Learning) in improving the science learning outcomes of third-grade elementary school students, specifically on the topic of ecosystems. A quasi-experimental design with a pretest-posttest control group was employed, involving two purposively selected classes: the experimental group used Student Worksheets based PBL, while the control group utilized conventional LKPD with traditional teaching methods that did not integrate problem-solving activities. The learning outcomes were assessed through written tests and analyzed using independent t-tests to determine significant differences between the groups. The results revealed that students who used Student Worksheets based PBL demonstrated significantly better science learning outcomes compared to those who used conventional LKPD. This finding highlights that Student Worksheets based PBL is effective in enhancing students' conceptual understanding and problem-solving abilities, especially in ecosystem topics. The study's limitations include a small sample size and a brief intervention period. In practical terms, the findings suggest that Student Worksheets based PBL can be a valuable and engaging alternative learning tool, while socially, it promotes the development of active and creative learning environments in elementary education.Penelitian ini menginvestigasi efektivitas Lembar Kerja Peserta Didik berbasis PBL (Problem-Based Learning) dalam meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas tiga sekolah dasar, khususnya pada topik ekosistem. Desain eksperimen semu dengan kelompok kontrol pretest-posttest digunakan, melibatkan dua kelas yang dipilih secara purposive: kelompok eksperimen menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik berbasis PBL, sementara kelompok kontrol menggunakan LKPD konvensional dengan metode pengajaran tradisional yang tidak mengintegrasikan aktivitas pemecahan masalah. Hasil belajar diukur melalui tes tertulis dan dianalisis menggunakan uji t independen untuk menentukan perbedaan signifikan antara kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik berbasis PBL memperoleh hasil belajar IPA yang secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan siswa yang menggunakan LKPD konvensional. Temuan ini menyoroti bahwa Lembar Kerja Peserta Didik berbasis PBL efektif dalam meningkatkan pemahaman konseptual dan kemampuan pemecahan masalah siswa, terutama pada materi ekosistem. Keterbatasan penelitian ini meliputi ukuran sampel yang kecil dan durasi intervensi yang singkat. Secara praktis, temuan ini menunjukkan bahwa Lembar Kerja Peserta Didik berbasis PBL dapat menjadi alat pembelajaran alternatif yang bernilai dan menarik, sementara secara sosial, pendekatan ini mendukung pengembangan lingkungan pembelajaran yang aktif dan kreatif dalam pendidikan dasar
Analisis Keterampilan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Fisika pada Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP)
This research is a quantitative descriptive study. The subjects in this study were Physics Education students, Class of 2021. The research instrument used was the Introduction to School Environment 2 (PLP 2) assessment instrument. Furthermore, the data analysis technique used in this study was quantitative descriptive analysis which included mean scores, diagrams, and categorization. The results of the study showed that the teaching skills of Physics Education students, Class of 2021 had met the criteria as good prospective educators, as seen from the preliminary stage, core stage, closing stage and the personality of prospective educator students in the learning process. This is evidenced by the average preliminary stage assessment obtained of 28.22 which is in the very good category, then the average core stage assessment of 165.86 which is in the very good category, and the average closing stage assessment of 36.19 which is in the very good category, and the average personality assessment of 167.91 which is in the very good category. Based on this, it can be concluded that the teaching skills of Physics Education students are in the very good category, and have met the criteria as good prospective educators.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek pada penelitian ini yaitu mahasiswa Pendidikan fisika Angkatan 2021. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu instrumen penilaian Pengenalan Lingkungan Persekolahan 2 (PLP 2). Selanjutnya teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis deskriptif kuantitatif yang meliputi mean skor, diagram, dan kategorisasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterampilan mengajar mahasiswa Pendidikan fisika Angkatan 2021 telah memenuhi kriteria sebagai calon pendidik yang baik, terlihat dari tahap pendahuluan, tahap inti, tahap penutup serta kepribadian dari mahasiswa calon pendidik dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dibuktikan dengan rerata penilaian tahap pendahuluan yang diperoleh sebesar 28,22 yang berada pada kategori sangat baik, kemudian rerata penilaian tahap inti sebesar 165,86 yang berada pada kategori sangat baik, dan rerata penilaian tahap penutup sebesar 36,19 yang berada pada kategori sangat baik, serta rerata penilaian kepribadian sebesar 167,91 yang berada pada kategori sangat baik. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengajar mahasiswa Pendidikan fisika berada pada kategori sangat baik, dan telah memenuhi kriteria sebagai calon pendidik yang baik. 
Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Monoculture (Monopoly Culture) Terhadap Pemahaman Siswa Kelas V
This study aims to examine the effect of using the monoculture (Monopoly Culture) learning media on the understanding of Maluku cultural heritage material among fifth-grade students at SD Negeri 1 Lateri in the subject of Social Science and Natural Science (IPAS). The IPAS learning process, which tends to be less interactive and limited to discussion-based methods, is one of the factors affecting students' understanding of the material. Therefore, a game-based learning media, modified with local cultural values, is expected to enhance student engagement and understanding. This study employs a quantitative approach with a Pre-Experimental One Group Pretest and Posttest design. The results show that the use of monoculture media significantly improves students' understanding. The Paired Sample t-Test results revealed a significant difference between the pretest and posttest scores with a significance value of 0.000 (< 0.05). Furthermore, the N-Gain calculation yielded a mean value of 0.8007, indicating a high level of effectiveness in improving students' understanding of the cultural material. The Monoculture media serves not only as an enjoyable learning tool but also supports the introduction and reinforcement of local cultural values within the learning context. This study confirms that game-based learning that integrates local culture can improve learning outcomes and student engagement.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran MONOCULTURE (Monopoli Culture) terhadap pemahaman materi warisan budaya Maluku pada siswa kelas V SD Negeri 1 Lateri dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Pembelajaran IPAS yang cenderung kurang interaktif dan terbatas pada metode diskusi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pemahaman siswa terhadap materi. Oleh karena itu, media pembelajaran berbasis permainan monopoli yang dimodifikasi dengan nilai-nilai budaya lokal diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Pre-Experimental One Group Pretest and Posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media monoculture secara signifikan meningkatkan pemahaman siswa. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest dengan nilai signifikansi 0,000 (< 0,05). Selain itu, perhitungan N-Gain menghasilkan nilai rata-rata 0,8007, yang menunjukkan tingkat efektivitas yang tinggi dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi budaya. Media monoculture tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran yang menyenangkan tetapi juga mendukung pengenalan dan penguatan nilai budaya lokal dalam konteks pembelajaran. Penelitian ini mengkonfirmasi bahwa pembelajaran berbasis permainan yang mengintegrasikan budaya lokal dapat meningkatkan hasil belajar dan keterlibatan siswa
Pengembangan Quality Control Phantom Berbahan Akrilik dan Aluminium
The high cost of phantoms for Quality Control (QC) in diagnostic imaging remains a challenge for hospitals in non-urban areas. This study developed a simple and affordable phantom using acrylic and aluminum. Ten circular acrylic layers, each 3 mm thick, were stacked and embedded with 15 holes filled with aluminum disks of varying thicknesses (1–15 mm). The phantom was exposed to X-rays at tube voltages of 50 kV, 60 kV, and 70 kV, with 5 ms exposure time and 160 mA current. Gray level analysis using ImageJ showed that 60 kV produced the best image contrast and clear differentiation of aluminum thicknesses. At 50 kV, thicker aluminum (10–15 mm) was hard to distinguish, while at 70 kV, thinner disks (1–5 mm) were less visible. These results indicate that the developed phantom is sensitive to exposure parameter changes and has potential use in educational and basic X-ray imaging system evaluation.Tingginya biaya phantom untuk Quality Control (QC) citra diagnostik menjadi kendala bagi rumah sakit di wilayah non-perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan phantom sederhana dan terjangkau menggunakan bahan akrilik dan aluminium. Lembaran akrilik setebal 3 mm dibentuk melingkar dan disusun menjadi 10 lapis, kemudian diberi 15 lubang yang diisi kepingan aluminium dengan ketebalan bertingkat dari 1 mm hingga 15 mm. Phantom dieksposi sinar-X dengan variasi tegangan tabung 50 kV, 60 kV, dan 70 kV, selama 5 ms dan arus 160 mA. Hasil analisis tingkat keabuan dengan ImageJ menunjukkan bahwa tegangan 60 kV menghasilkan citra dengan kontras terbaik dan variasi ketebalan aluminium yang jelas. Pada 50 kV, ketebalan aluminium 10–15 mm sulit dibedakan, sedangkan pada 70 kV, ketebalan 1–5 mm tidak tampak jelas. Temuan ini menunjukkan bahwa phantom yang dikembangkan cukup sensitif terhadap perubahan parameter eksposi, dan berpotensi digunakan sebagai alat bantu evaluasi sistem pencitraan sinar-X dalam konteks pendidikan dan pengujian dasar