Online Journal Universitas Garut
Not a member yet
2148 research outputs found
Sort by
Potensi Agribisnis Komoditas Hortikultura Unggulan Kabupaten Garut
Pertanian saat ini merupakan sektor yang memiliki peran sangat penting untuk Kabupaten Garut, karena sektor mempunyai kontribusi tertinggi pada PDRB Kabupaten Garut yang angka kontribusinya mencapai 31% setiap tahunnya. Namun hal tersebut tidak sejalan dengan kondisi perekonomian petani yang masih mempunyai pendapatan yang rendah. Salah satu pembangunan pertanian yang efektif adalah berbasis potensi dan komoditas unggulan yang dipunyai tentunya ditentukan untuk meningkatkan implikasinya pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini antara lain adalah untuk menganalisis penentuan komoditas unggulan. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat time series terkait data produksi komoditas hortikultura Kabupaten Garut selama 3 hingga 5 tahun terakhir yang bersumber dari data BPS Kabupaten Garut dan Provinsi Jawa Barat. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengolahan data kualitatif, Location Quotient dan Dinamic Location Quotient. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 7 komoditas sayuran di Kabuoaten Garut yang mempunyai keunggulan produksi dengan nilai LQ > 1 antara lain komoditas kentang, cabai besar, cabai rawit, kubis, sawi, tomat, wortel. Ada 6 komoditas buah-buahan yang berpotensi untuk dikembangkan karena besarnya angka produksi di Kabupaten Garut antara lain komoditas alpukat, jeruk siam, pisang, sirsak, buah naga dan lemon. Sedangkan untuk komoditas biofarmaka ada 3 komoditas yang unggul produksinya yaitu jahe, kunyit dan lempuyang. Analisis DLQ menunjukkan bahwa ada beberapa komoditas sayuran yang mempunyai prospek yang sangat kuat yaitu melinjo dan labu siam. Komoditas buah-buahan yang mempunyai prospek sangat kuat yaitu lemon, salak dan manggis. Komoditas biofarmaka yang prospektif untuk dikembangkan adalah laos, lempuyang, kunyit, jahe dan kapulaga
MENGGALI POTENSI KARANGTARUNA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN SOSIAL DAN EKONOMI DI ERA DIGITALISASI
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk menggali dan mengembangkan potensi Karang Taruna sebagai agen perubahan sosial dan ekonomi di era digitalisasi. Bertempat di RW 18 Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pemahaman anggota Karang Taruna terhadap peran dan fungsinya, serta terbatasnya pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung kegiatan sosial dan kewirausahaan. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi studi lapangan awal, Focus Group Discussion (FGD), penyuluhan, dan diskusi interaktif. Materi yang disampaikan mencakup perspektif hukum Karang Taruna, strategi penguatan peran pemuda, dan pemanfaatan teknologi digital dalam aktivitas organisasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap peran strategis Karang Taruna serta tumbuhnya kesadaran untuk mengembangkan program kerja berbasis teknologi. Luaran dari kegiatan ini berupa buku referensi, artikel ilmiah, hak cipta atas model kegiatan, serta dokumentasi audiovisual. Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi pengembangan Karang Taruna lainnya dalam menghadapi tantangan sosial-ekonomi di era digital
Sistem Aerasi dengan Pengendalian PID untuk Optimasi Kadar Oksigen Terlarut pada Kolam Ikan
Dissolved oxygen (DO) levels are an important parameter in fish farming because they directly affect fish metabolism, growth, and survival. This study designed an automatic aeration system based on Proportional–Integral–Derivative (PID) control using a LilyGO T-Relay microcontroller and an AC Dimmer module. The system is equipped with DO, pH, and temperature sensors that monitor water quality in real-time and send data to Google Sheets via a Wi-Fi connection. Tests were conducted at four DO setpoints: 4 mg/L, 5.3 mg/L, 6 mg/L, and 7 mg/L. The results showed that the system was able to maintain DO with an average error of 2.02% and energy savings of up to 99.5%, with the lowest power consumption of 0.45 Wh at the 4 mg/L setpoint. This system is considered effective in maintaining water quality while increasing energy efficiency in fish farming.Kadar oksigen terlarut (DO) merupakan parameter penting dalam budidaya ikan karena berpengaruh langsung terhadap metabolisme, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup ikan. Penelitian ini merancang sistem aerasi otomatis berbasis kontrol Proportional– Integral–Derivative (PID) menggunakan mikrokontroler LilyGO T-Relay dan modul AC Dimmer. Sistem dilengkapi sensor DO, pH, dan suhu yang memantau kualitas air secara real-time serta mengirim data ke Google Sheets melalui koneksi Wi-Fi. Pengujian dilakukan pada empat setpoint DO: 4 mg/L, 5,3 mg/L, 6 mg/L, dan 7 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan sistem mampu mempertahankan DO dengan error rata-rata 2,02% dan penghematan energi hingga 99,5%, dengan konsumsi daya terendah 0,45 Wh pada setpoint 4 mg/L. Sistem ini dinilai efektif menjaga kualitas air sekaligus meningkatkan efisiensi energi dalam budidaya ikan
Analisis tingkat penalaran siswa dalam pembelajaran fisika berbasis peer instruction guided inquiry
Analysis of Students’ Reasoning Levels in Physics Learning Based on Peer Instruction Guided Inquiry. This study aims to analyze the level of student reasoning in peer instruction guided inquiry (PIGI) based physics learning. This learning design is used to encourage students' active participation and develop reasoning skills through peer discussion, and guided inquiry. This research is a descriptive study with a sample of 30 high school students in Bandung. Students’ reasoning levels were assessed based on their responses to Concept Test I and Concept Test II, conducted before and after the guided inquiry sessions. The test instrument used was a ranking task exercise. Students’ answers were analyzed and categorized using a reasoning level rubric. The findings indicate that the majority of students demonstrated reasoning at Level 2 (subfunctional) and Level 3 (near-functional). At these levels, students were able to identify relevant variables influencing the given phenomena, but their explanations revealed limited conceptual understanding, leading to difficulties in applying knowledge to different contexts. A general improvement in reasoning level was observed, with most students showing progress from Concept Test I to Concept Test II. These results suggest that the PIGI approach holds potential for enhancing students’ scientific reasoning. However, complementary instructional strategies are needed to support students in analyzing and drawing conclusions from experimental data, enabling them to construct deeper conceptual understanding.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penalaran siswa pada pembelajaran fisika berbasis peer instruction guided inquiry (PIGI). Desain pembelajaran ini digunakan untuk mendorong partisipasi aktif siswa dan mengembangkan kemampuan penalaran melalui diskusi sejawat, dan penyelidikan terbimbing. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan sampel sebanyak 30 siswa SMA di kota Bandung. Data tingkat penalaran diperoleh dari jawaban siswa saat concept test I dan concept test II, yaitu sebelum dan sesudah kegiatan guided inquiry. Bentuk instrumen tes yang digunakan yaitu ranking task exercise. Jawaban siswa dianalisis dan diklasifikasikan menggunakan rubrik tingkat penalaran. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata tingkat penalaran siswa berada pada tingkat dua, yaitu subfunctional dan tingkat tiga, yaitu nearfunctional. Pada tingkat ini, siswa sudah mampu mengindentifikasi variabel yang berpengaruh terhadap fenomena yang diberikan tetapi penjelasan yang digunakan menunjukan adanya keterbatasan pemahaman sehingga akan mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada perubahan konteks. Tingkat penalaran siswa pada saat concept test I dan concept test II cenderung mengalami kenaikan satu tingkat
PEMAHAMAN PENANGANAN CEDERA OLAHRAGA PADA PELATIH CABANG OLAHRAGA BOLA VOLI DI KABUPATEN GARUT
This study aims to determine the level of understanding of volleyball sports coaches in Garut Regency regarding handling sports injuries. The approach used is quantitative descriptive with an instrument in the form of a questionnaire consisting of 35 statement items. Before being used, the questionnaire was tested for validity and reliability with the help of the SPSS 26 application. The results of the validity test showed that all statement items were valid with a validity level of 100%. Meanwhile, the results of the reliability test showed a Cronbach's Alpha value of 0.968, which means that the questionnaire is very reliable. The data obtained were then analyzed using Microsoft Excel to calculate the percentage of each statement item and the percentage score of each coach. The results showed that the highest percentage of statement items reached 94% and the lowest was 68%, while the highest percentage of coach understanding was 94.86% and the lowest was 56%. The overall average of coach understanding of handling sports injuries was 83.31%, which is categorized as very good. Based on these results, it can be concluded that volleyball sports coaches in Garut Regency have a very good understanding of handling sports injuries.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman pelatih cabang olahraga bola voli di Kabupaten Garut mengenai penanganan cedera olahraga. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan instrumen berupa angket yang terdiri dari 35 item pernyataan. Sebelum digunakan, angket diuji validitas dan reliabilitasnya dengan bantuan aplikasi SPSS 26. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh item pernyataan valid dengan tingkat validitas sebesar 100%. Sementara itu, hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,968, yang berarti angket tersebut sangat reliabel. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Microsoft Excel untuk menghitung persentase tiap item pernyataan dan persentase skor tiap pelatih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tertinggi dari item pernyataan mencapai 94% dan terendah 68%, sedangkan persentase pemahaman pelatih tertinggi adalah 94,86% dan terendah 56%. Rata-rata keseluruhan pemahaman pelatih terhadap penanganan cedera olahraga adalah sebesar 83,31%, yang dikategorikan sangat baik. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelatih cabang olahraga bola voli di Kabupaten Garut memiliki pemahaman yang sangat baik dalam menangani cedera olahraga
UPAYA PENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BOLA VOLI MELALUI MEDIA MODIFIKASI BOLA KARET PADA KURIKULUM MERDEKA
The aim of this research is to increase interest in learning about volleyball through modified rubber ball media among junior high school students in class VIII J of SMPN 1 Tarogong Kaler. This research method uses the PTK (Classroom Action Research) method. This research design in one PTK cycle consists of four steps, namely planning, implementation, observation and reflection. The population of this study was 38 students in class VIII J of SMP 1 Tarogong Klaer, divided into 18 male students and 20 female students. The data collection technique used was through tests and questionnaires regarding interest in learning volleyball and observation of the learning process. The data analysis technique used in this research is questionnaire observation and learning outcomes tests. This research procedure includes planning, acting, observing and reflecting. The percentage of completeness scores for class VIII J students at SMPN 1 Tarogong Kaler in the initial pre-cycle conditions was (3%) or a total of 3 students achieved learning completeness out of a total of 38 students, then in the first cycle there was an increase of (27%) or a total of 11 students and at the end of cycle II increased by (84%) or a total of 31 students who achieved learning completeness, so that the increase from the initial pre-cycle conditions to the end of cycle II was (80%).Tujuan peneilitian ini untuk meningkatkan minat belajar pembelajaran bola voli melalui media modifikasi bola karet pada siswa smp kelas VIII J SMPN 1 Tarogong Kaler. Metode penelitian ini menggunakan metode PTK (Penelitian Tindakan Kelas) digunakan. Desain penelitian ini pada satu siklus PTK terdiri dari empat langkah yaitu perencanaan,pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII J SMP 1 Tarogong Klaer berjumlah 38 orang yang terbagi atas 18 siswa putra dan 20 siswi putri. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui tes dan pengujian angket minat belajar pembelajaran nola voli dan observasi dari proses kegiatan pembelajaran. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa observasi quisoner, dan tes hasil belajar. Prosedur penelitian ini meliputi planning, acting, observasi dan reflecting. Persentase nilai ketuntasan hasil belajar siswa kelas VIII J SMPN 1 Tarogong Kaler pada kondisi awal pra siklus sebesar (3%) atau sejumlah 3 siswa yang mencapai ketuntasan belajar dari 38 siswa keseluruhan, kemudian pada siklus I terjadi peningkatan sebesar (27%) atau sejumlah 11 siswa dan pada akhir siklus II meningkat sebesar (84%) atau sejumlah 31 siswa yang mencapai ketuntasan belajar, sehingga peningkatan dari kondisi awal pra siklus hingga akhir siklus II sebesar (80%)
Integrasi Faktor Psikologis dan Fisiologis dalam Penelitian Sepak Bola: Systematic Bibliometric Review tentang Self-Efficacy, Motivasi, dan Kapasitas Fisiologis
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menganalisis perkembangan penelitian sepak bola yang mengintegrasikan faktor psikologis dan fisiologis, khususnya self-efficacy, motivasi, dan kapasitas fisiologis, melalui pendekatan systematic bibliometric review. Penelusuran literatur dilakukan menggunakan basis data Scopus dengan strategi pencarian terkontrol pada kolom Title, Abstract, and Keywords. Proses seleksi literatur mengikuti pedoman PRISMA 2020, yang menghasilkan 405 artikel untuk analisis bibliometrik dan 15 artikel representatif untuk sintesis kualitatif mendalam. Analisis bibliometrik dilakukan menggunakan VOSviewer dan Biblioshiny untuk mengidentifikasi tren publikasi, kolaborasi antarnegara, serta struktur dan evolusi tematik penelitian. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan jumlah publikasi dalam dekade terakhir, dengan dominasi negara-negara berbahasa Inggris dalam kolaborasi ilmiah global. Analisis co-occurrence kata kunci mengungkapkan bahwa tema fisiologi, performa atletik, dan latihan fisik menjadi fokus utama, sementara topik psikologis dan kognitif seperti self-efficacy, motivasi, dan pengambilan keputusan menunjukkan perkembangan yang lebih baru. Sintesis kualitatif menegaskan bahwa self-efficacy dan motivasi berperan sebagai mediator penting antara beban latihan, pemulihan, dan performa fisik atlet. Temuan ini mengindikasikan pergeseran penelitian sepak bola menuju pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek fisik, psikologis, dan kognitif, serta memberikan implikasi praktis bagi pengembangan model pembinaan dan kepelatihan sepak bola berbasis bukti ilmiah
Pengaruh Radiasi Panas Area Bukaan terhadap Kenyamanan Termal pada Gedung Sekolah X
Thermal comfort is one of the key factors in supporting the teaching and learning process in classrooms, especially in tropical regions like Indonesia, which experience high solar radiation intensity. This study aims to analyze the effect of heat radiation from opening areas on thermal comfort in School Building X. The method involved measuring the dimensions of the building's openings and facades to calculate the Window to Wall Ratio (WWR), as well as determining the Solar Factor (SF) and Shading Coefficient (SC) based on SNI 03-6389-2020. The heat radiation value (Qf”) was calculated for the east and west orientations, which receive the most direct sunlight exposure. The results showed that the highest radiation occurred on the west side at 18.91 W/m² and the east side at 16.42 W/m². Meanwhile, the north and south sides had no Qf” value due to the absence of window openings (WWR = 0). The increase in indoor temperature caused by radiation through openings has a direct impact on the thermal comfort of students, teachers, and university students using the classrooms. Therefore, passive design strategies such as shading and the use of low-E glass are highly recommended to reduce heat load and create a comfortable learning environment.Kenyamanan termal merupakan salah satu faktor kunci dalam menunjang proses belajar mengajar di ruang kelas, terutama di daerah tropis seperti Indonesia yang memiliki intensitas radiasi matahari tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh radiasi panas dari bukaan area terhadap kenyamanan termal di Gedung Sekolah X. Metode yang digunakan adalah dengan mengukur dimensi bukaan dan fasad bangunan untuk menghitung Window to Wall Ratio (WWR), serta menentukan Solar Factor (SF) dan Shading Coefficient (SC) berdasarkan SNI 03-6389-2020. Nilai radiasi panas (Qf”) dihitung untuk orientasi timur dan barat yang paling banyak menerima paparan sinar matahari langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa radiasi tertinggi terjadi pada sisi barat sebesar 18,91 W/m² dan sisi timur sebesar 16,42 W/m². Sedangkan pada sisi utara dan selatan tidak terdapat nilai Qf” karena tidak terdapat bukaan jendela (WWR = 0). Peningkatan suhu dalam ruangan yang disebabkan oleh radiasi melalui bukaan berdampak langsung pada kenyamanan termal siswa, guru, dan mahasiswa yang menggunakan ruang kelas. Oleh karena itu, desain area bukaan pada bangunan pendidikan perlu memperhatikan arah matahari, proporsi bukaan, dan perlindungan terhadap radiasi untuk menciptakan ruang kelas yang nyaman dan efisien secara energi
Analisis Viskositas Oli Melalui Pengujian Eksperimental dengan Prototipe Berbasis Stokes' Law
This study aims to analyze research data in the form of dynamic-kinematic viscosity values of two types of oil, namely SAE 30 and SAE 50, using the falling ball method based on Stokes' Law through an experimental prototype. Data were collected by measuring the falling time of a sphere through a fluid column and subsequently analyzed statistically. The measurement results showed that SAE 50 consistently resulted higher viscosity values (ranging from 288 to 365 kg/m·s) compared to SAE 30 (ranging from 174 to 252 kg/m·s), aligning with their respective viscosity characteristics. The Anderson-Darling normality test yielded AD values of 0.266 for SAE 30 and 0.319 for SAE 50, with p-values above 0.05, indicating that the data follow a normal distribution. These findings support the effectiveness of the falling ball method as a simple, economical, and accurate approach for characterizing fluid viscosity, both in experimental applications and educational settings in fluid mechanics.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data hasil penelitian berupa nilai viskositas dinamik dan kinematik dua jenis oli, yaitu SAE 30 dan SAE 50, menggunakan metode bola jatuh yang berbasis pada Hukum Stokes melalui prototipe eksperimental. Data diperoleh melalui pengukuran waktu jatuh bola dalam kolom fluida dan kemudian dianalisis secara statistik. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa viskositas oli SAE 50 secara konsisten lebih tinggi (kisaran 288–365 kg/m·s) dibandingkan SAE 30 (kisaran 174–252 kg/m·s), sesuai dengan karakteristik kekentalan masing-masing. Uji normalitas menggunakan Anderson-Darling menghasilkan nilai AD sebesar 0,266 untuk SAE 30 dan 0,319 untuk SAE 50, dengan p-value masing-masing di atas 0,05, menandakan bahwa data terdistribusi normal. Temuan ini memperkuat efektivitas metode bola jatuh sebagai pendekatan yang sederhana, ekonomis, dan akurat untuk karakterisasi viskositas fluida, baik dalam konteks eksperimental maupun pendidikan teknik fluida
Penerapan Algoritma Machine Learning dalam Analisis Pola Kesalahan Konseptual Siswa pada Pembelajaran Sains
Science education often faces challenges related to conceptual errors made by students, which can hinder their understanding of the material being taught. This study aims to identify and analyze common conceptual errors through the application of machine learning algorithms. The method employed in this research is a literature review approach, where various relevant studies are analyzed to understand the application of machine learning in the context of science education. The findings of the study indicate that several machine learning algorithms, such as large language models and interactive visualization techniques, can be utilized to detect misconceptions in students with higher accuracy and provide more personalized feedback. Although there are some challenges related to the accuracy and reliability of the systems used, the application of these techniques shows significant potential in enhancing the effectiveness of science education. Overall, the application of machine learning in science education can make a substantial contribution to helping teachers analyze and correct the conceptual errors made by students, ultimately improving the quality of the learning process. The implications of this research suggest the need for further development to create technology-based education systems that can better respond to students' learning needs.Science education often faces challenges related to conceptual errors made by students, which can hinder their understanding of the material being taught. This study aims to identify and analyze common conceptual errors through the application of machine learning algorithms. The method employed in this research is a literature review approach, where various relevant studies are analyzed to understand the application of machine learning in the context of science education. The findings of the study indicate that several machine learning algorithms, such as large language models and interactive visualization techniques, can be utilized to detect misconceptions in students with higher accuracy and provide more personalized feedback. Although there are some challenges related to the accuracy and reliability of the systems used, the application of these techniques shows significant potential in enhancing the effectiveness of science education. Overall, the application of machine learning in science education can make a substantial contribution to helping teachers analyze and correct the conceptual errors made by students, ultimately improving the quality of the learning process. The implications of this research suggest the need for further development to create technology-based education systems that can better respond to students' learning needs