Online Journal Universitas Garut
Not a member yet
2148 research outputs found
Sort by
Optimalisasi Akses Pendidikan Bagi Siswa Dari Keluarga Kurang Mampu Dalam Mendukung Program Wajib Belajar 12 Tahun
Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan akses pendidikan bagi siswa dari keluarga kurang mampu di Desa Tanjung dalam mendukung program Wajib Belajar 12 Tahun. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui lima tahapan: persiapan, sosialisasi, pelaksanaan kegiatan inti, monitoring-evaluasi, dan refleksi. Kegiatan inti terdiri dari empat program: (1) Maghrib Mengaji sebagai upaya pembentukan karakter religius dan disiplin siswa, (2) Eksperimen Alam Ceria untuk menumbuhkan minat sains secara kontekstual dan menyenangkan, (3) fun with learning English untuk meningkatkan literasi dan kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa asing, serta (4) Berhitung Cerdas untuk memperkuat keterampilan numerasi dasar melalui pendekatan bermain. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan motivasi belajar, kemampuan kognitif, serta partisipasi aktif siswa dan orang tua. Kegiatan ini juga membangun kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah desa. Program ini terbukti efektif sebagai solusi edukatif dan holistik dalam memperluas akses pendidikan yang inklusif bagi siswa kurang mampu di wilayah pedesaan.
Kata kunci: akses pendidikan, keluarga kurang mampu, wajib belajar 12 tahun, penguatan literasi.abstra
Kegiatan Edukasi Melalui Kelas Mengajar Bahagia di Madrasah
Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga penanaman nilai-nilai agama Islam dan pembentukan akhlak mulia. Kolaborasi yang sinergis antara guru, siswa, dan orang tua menjadi faktor pendukung penting. Orang tua memiliki peran dalam mendampingi anak belajar di rumah, sehingga komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan keluarga perlu dijalin. Metode pengabdian ini dilaksanakan melalui pendekatan terintegrasi yang menggabungkan kegiatan intrakurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler di madrasah dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman. Hasil yang dicapai, program ini dapat dijadikan model pelatihan yang berkelanjutan untuk memperkuat pendidikan karakter sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran di lingkungan madrasah. Program ini meningkatkan keterlibatan aktif seluruh pihak, mulai dari guru, siswa, sampai orang tua, menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan optimal siswa, baik dari segi akademik maupun karakter.
Kata Kunci: Edukasi, Kelas Ceria, Madrasah.Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga penanaman nilai-nilai agama Islam dan pembentukan akhlak mulia. Kolaborasi yang sinergis antara guru, siswa, dan orang tua menjadi faktor pendukung penting. Orang tua memiliki peran dalam mendampingi anak belajar di rumah, sehingga komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan keluarga perlu dijalin. Metode pengabdian ini dilaksanakan melalui pendekatan terintegrasi yang menggabungkan kegiatan intrakurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler di madrasah dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman. Hasil yang dicapai, program ini dapat dijadikan model pelatihan yang berkelanjutan untuk memperkuat pendidikan karakter sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran di lingkungan madrasah. Program ini meningkatkan keterlibatan aktif seluruh pihak, mulai dari guru, siswa, sampai orang tua, menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan optimal siswa, baik dari segi akademik maupun karakter
STRATEGI EVALUASI PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSIONAL ANAK USIA 4-6 TAHUN (STUDI KASUS di TK YAA BUNAYYA)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan secara mendalam pendekatan yang diterapkan oleh guru PAUD dalam mendukung perkembangan keterampilan sosial-emosional anak usia 4 sampai 6 tahun. Subjek utama dalam penelitian ini adalah Ibu Khoidatul Hasanah, seorang pendidik PAUD berpengalaman lebih dari 15 tahun, yang menaruh perhatian besar pada pentingnya aspek sosial emosional dalam pendidikan anak usia dini. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah wawancara kualitatif deskriptif sebagai teknik pengumpulan data utama. Temuan penelitian mengungkap bahwa guru menyusun indikator perkembangan sosial mencakup enam dimensi utama: moral dan keagamaan, sosial-emosional, kognitif, bahasa, seni, serta motorik. Dalam pelaksanaannya, guru menggunakan alat observasi harian, mingguan, dan bulanan yang berpedoman pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) untuk menilai kemampuan sosial anak. Untuk membentuk karakter positif, guru memanfaatkan metode keteladanan, aktivitas bermain bersama, serta media visual seperti buku cerita bergambar. Selain itu, peran orang tua dianggap krusial dalam proses evaluasi. Oleh sebab itu, guru menyelenggarakan kegiatan parenting guna memperkuat sinergi antara lingkungan rumah dan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini, strategi serupa dapat diadaptasi secara lebih luas di berbagai lembaga PAUD lainnya.
Kata-kata Kunci : Perkembangan Sosial-Emosional, Guru PAUD, Strategi Pembelajaran, Keterampilan Sosial
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan penjelasan rinci tentang metode yang digunakan oleh guru PAUD dalam membantu anak-anak berusia 4 hingga 6 tahun memperoleh keterampilan sosial-emosional. Fokus penelitian ini adalah pada Ibu Khoidatul Hasanah, seorang guru PAUD dengan pengalaman lebih dari 15 tahun, yang memberikan penekanan khusus pada pentingnya perkembangan sosial-emosional dalam konteks pendidikan anak usia dini. Sebagai metode utama pengumpulan data, penelitian ini menggunakan wawancara kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru merencanakan indikator perkembangan sosial anak dengan mencakup enam aspek penting yaitu moral dan agama, sosial-emosional, kognitif, bahasa, seni, dan motorik. Dalam praktiknya, guru PAUD menggunakan instrumen observasi harian, mingguan, dan bulanan yang mengacu pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) untuk mengevaluasi keterampilan sosial anak. Untuk menanamkan karakter yang baik pada anak-anak, guru juga menggunakan metode contoh, kegiatan bermain kelompok, dan media seperti buku cerita bergambar. Dalam strategi evaluasi, keterlibatan orang tua juga dianggap sebagai bagian penting. Guru mengadakan program parenting untuk meningkatkan kerja sama antara sekolah dan rumah. Menurut penelitian ini, metode yang sama dapat digunakan secara lebih luas di lembaga pendidikan anak usia dini lainnya
Revitalisasi Nilai Kewarganegaraan Melalui Project Citizenship : Studi Kasus Di Kawasan Malioboro Yogyakarta
Kawasan Malioboro merepresentasikan ruang publik hibrida yang dinamis, tempat globalisasi pariwisata bersinggungan dengan nilai-nilai kewarganegaraan lokal. Fenomena tersebut menjadi penting untuk dikaji karena kawasan wisata yang mengalami modernisasi sering kali berpotensi mengikis identitas budaya dan nilai kebangsaan masyarakat lokal. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki urgensi untuk memahami bagaimana interaksi multikultural yang terjadi di Malioboro dapat memengaruhi kesadaran dan praktik nilai-nilai kewarganegaraan masyarakat setempat di tengah arus globalisasi pariwisata.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran kawasan Malioboro sebagai ruang publik hybrid dalam menumbuhkan kesadaran kewarganegaraan serta mengidentifikasi dampak positif dan negatif pariwisata internasional terhadap nilai-nilai sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan studi kepustakaan, dilengkapi observasi lapangan dan wawancara dengan pelaku usaha lokal, seniman jalanan, serta pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pariwisata internasional di Malioboro secara dominan memberikan dampak positif terhadap nilai-nilai kewarganegaraan, seperti meningkatnya rasa nasionalisme, kebanggaan budaya, toleransi, dan partisipasi sosial. Pelaku usaha lokal bertransformasi menjadi duta budaya informal yang aktif mempromosikan tradisi Jawa dan Indonesia kepada wisatawan asing. Interaksi lintas budaya juga memperkuat solidaritas sosial dan tanggung jawab bersama dalam menjaga citra positif kawasan. Namun, ditemukan pula tantangan berupa kecenderungan komersialisasi dan pengaruh budaya asing yang dapat mengikis nilai gotong royong serta identitas lokal. Dengan demikian, Malioboro dapat dipandang sebagai laboratorium hidup kewarganegaraan yang menunjukkan bagaimana ruang publik mampu beradaptasi terhadap globalisasi tanpa kehilangan keaslian budaya dan nilai-nilai Pancasila.
Kata Kunci : Kewarganegaraan, malioboro, ruang publik.
Kawasan Malioboro merepresentasikan ruang publik hibrida yang dinamis, tempat globalisasi pariwisata bersinggungan dengan nilai-nilai kewarganegaraan lokal. Destinasi ikonis ini telah berevolusi secara organik dari infrastruktur statis menjadi arena multifungsi yang mendukung beragam kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan rekreasi, menciptakan dinamika kompleks melalui kehadiran wisatawan internasional. Temuan penelitian mengungkapkan dampak positif yang dominan terhadap nilai-nilai kewarganegaraan. Pariwisata internasional memperkuat kebanggaan nasional dan identitas budaya di antara penduduk lokal sekaligus mempromosikan toleransi dan keterbukaan terhadap keberagaman. Interaksi multikultural ini mendorong pola pikir komunitas yang inklusif dan meningkatkan kesadaran untuk menjaga citra positif kawasan ini di dunia internasional. Khususnya, pelaku bisnis lokal telah bertransformasi menjadi duta budaya informal, yang secara aktif mempromosikan tradisi Jawa dan Indonesia kepada pengunjung internasional. Evolusi ini menunjukkan bagaimana pariwisata memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pelestarian dan promosi budaya. Pengembangan Malioboro yang terorganisasi secara mandiri sebagai laboratorium hidup menunjukkan bagaimana ruang publik dapat beradaptasi dengan globalisasi sekaligus mempertahankan keaslian budaya dan memperkuat keterlibatan warga melalui pertukaran lintas budaya yang bermakna.
Kata kunci: Kewarganegaraan, malioboro, ruang publik
Pembelajaran Sains berbantuan Augmented Reality di Sekolah: Kajian Literatur Implementasi dan Dampak Bagi Siswa
This study aims to examine the implementation and impact of using Augmented Reality (AR) in science learning at schools through a literature review approach. The method used is a descriptive-analytical literature review of scientific publications from 2015 to 2025 that discuss the integration of AR in science education at primary and secondary levels. The findings indicate that the implementation of AR enables the visualization of abstract concepts in a more interactive and contextual manner, and strengthens the constructivist approach to learning. The positive impacts of AR on students are evident in improved conceptual understanding, increased learning motivation, and the development of 21st-century skills. Nevertheless, the use of AR requires adequate infrastructure, teacher competence, and well-planned instructional design to ensure its effective and sustainable application.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi dan dampak penggunaan Augmented Reality (AR) dalam pembelajaran sains di sekolah melalui pendekatan kajian literatur. Metode yang digunakan adalah literature review deskriptif-analitis terhadap publikasi ilmiah dalam kurun waktu 2015–2025 yang membahas integrasi AR dalam pembelajaran sains pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi AR memungkinkan visualisasi konsep-konsep abstrak secara lebih interaktif dan kontekstual, serta memperkuat pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran. Dampak positif AR terhadap siswa terlihat pada peningkatan pemahaman konsep, motivasi belajar, serta pengembangan keterampilan abad ke-21. Meskipun demikian, pemanfaatan AR memerlukan kesiapan infrastruktur, kompetensi guru, serta perencanaan pembelajaran yang matang agar penggunaannya efektif dan berkelanjuta
PENGARUH AKTIVITAS PEMASARAN DAN KINERJA PERUSAHAAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
Marketing is becoming a function that cannot be separated from the company's strategic implementation. For this reason, marketing activities should be integrated with all strategic functions of the company. This research aims to examine the impact of marketing activities and firm performance on company value in 32 manufacturing sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period of 2019 - 2022. Companies that focus on customer acquisition and retention through targeted marketing are more likely to achieve steady revenue, which contributes to greater financial stability and increased market value. On the other hand, factors like Debt-to-Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), and Credit Ratios do not directly affect a company’s value.Pemasaran saat ini telah menjadi fungsi yang tidak bisa dipisahkan dari penerapan strategi organisasi. Oleh karena itu, aktivitas pemasaran harus diintegrasikan dengan seluruh fungsi strategis organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak aktivitas pemasaran dan kinerja perusahaan terhadap nilai 32 perusahaan di sektor manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2019 – 2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode regresi linear, yang menunjukkan bahwa nilai perusahaan dipengaruhi oleh aktivitas pemasaran ; return on assets, credit ratio, dan debt to equity ratio tidak berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan
FORMULASI SIRUP EKSTRAK DAUN MIANA Coleus Scutellariodiaes (L) Benth
Daun Miana telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat secara tradisional untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk sebagai obat untuk gangguan pencernaan seperti maag. Meskipun demikian, penggunaan daun Miana sebagai obat belum memiliki dosis yang pasti dan memerlukan pengolahan terlebih dahulu, sehingga kurang praktis. Oleh karena itu, ekstrak daun Miana diformulasikan dalam bentuk sirup. Pemilihan sediaan sirup didasarkan pada sifat cairnya yang memungkinkan untuk bekerja lebih cepat dalam menetralkan pH asam lambung, serta memberikan kemudahan dan efektivitas dalam penggunaannya. Tujuan penelitian adalah untuk memformulasi sediaan sirup obat maag ekstrak etanol daun Miana (Coleus scutellarioides (L) Benth) dengan variasi konsentrasi madu sebagai bahan pemanis menjadi sediaan sirup obat maag yang stabil. Skrining fitokimia dilakukan setelah proses ekstraksi, diikuti dengan pembuatan formula sirup dengan variasi konsentrasi madu sebagai pemanis, yaitu 40-60%. Selanjutnya, dilakukan evaluasi terhadap sifat-sifat fisik seperti uji organoleptik, penentuan bobot jenis, pH, dan viskositas. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak daun Miana mengandung senyawa kimia alkaloid, fenol, dan saponin. Sediaan sirup yang dihasilkan memiliki sifat organoleptik dengan warna coklat hingga coklat tua, aroma khas madu, dan rasa manis dari madu. Evaluasi sifat fisik sirup menunjukkan pH 4,932-5,141, bobot jenis 1,143-1,193 g/mL, dan viskositas 3,059-5,568 P. Ketiga formula memenuhi persyaratan pH dan viskositas.Daun miana telah lama digunakan oleh masyarakat dan secara empiris dapat mengobati berbagai macam penyakit, salah satunya digunakan sebagai obat untuk pencernaan yaitu obat maag. Penggunaannya sebagai obat belum memiliki dosis yang pasti dan penggunaanya belum praktis karena harus diolah terlebih dahulu. Oleh karena itu ekstrak daun miana diformulasi menjadi sirup. Bentuk sediaan sirup menjadi pilihan karena bentuknya cair sehingga dapat bekerja dengan cepat menetralkan pH asam lambung dan agar penggunaannya lebih praktis dan efektif. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan sirup ekstrak daun miana yang memiliki sifat farmaseutik yang optimal. Formulasi diawali dengan skrining fitokimia hasil ekstraksi, formulasi sirup dengan variasi konsentrasi madu sebagai bahan pemanis yaitu 40-60%. Kemudian dilakukan evaluasi sifat-sifat farmaseutik seperti organoleptis, penentuan bobot jenis, pH dan viskositas.Hasil yang diperoleh adalah ekstrak daun miana memiliki kandungan kimia alkaloid, fenol dan saponin. Formulasi sediaan sirup dengan bahan tambahan berhasil membuat sirup dengan sifat organoleptik yaitu memiliki warna coklat hingga coklat tua, memiliki aroma khas madu, rasa manis dari madu. Hasil evaluasi sifat farmaseutik yaitu pH 4,932-5,141, bobot jenis 1,143-1,193 g/mL dan viskositas 3,059 – 5,568 P. Ekstrak etanol daun miana dapat diformulasi menjadi siru
UJI TOKSISITAS SUB KRONIK EKSTRAK ETANOL DAUN BIDARA (Ziziphus mauritana L) TERHADAP GINJAL TIKUS
Pemberian obat tradisional secara berulang dapat berpotensi toksik dan merusak organ-organ vital seperti jantung, paru-paru, hati, dan ginjal. Daun bidara digunakan secara tradisional oleh masyarakat sebagai antimikroba, analgesik, antipiretik, antiinflamasi, antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keamanan ekstrak etanol daun bidara terhadap ginjal tikus. Penelitian menggunakan tikus wistar yang terdiri atas 4 kelompok. Kelompok 1 diberi NaCMC sebagai kontrol, kelompok 2, 3 dan 4 diberikan masing-masing ekstrak etanol daun bidara dosis 50 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 2000 mg/kgBB secara oral sekali sehari selama 14 hari. Pengukuran kadar kreatinin dilakukan sebelum dan setelah pemberian ekstrak kemudian dilakukan analisa statistik untuk mengetahui adanya perbedaan pada tiap kelompok uji. Setelah itu, dilakukan pembedahan untuk pemeriksaan histopatologi ginjal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun bidara selama 14 hari tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar kreatinin tikus (p<0,05). Hasil pemeriksaan histopatologi memperlihatkan adanya kerusakan seperti peradangan, degenerasi, kongesti dan nekrosis yang berbeda pada masing-masing kelompok dengan kerusakan terbesar pada dosis 2000 mg/kgBB. Pemberian berulang ekstrak etanol daun bidara secara oral tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kadar kreatinin tikus tetapi secara histopatologi menunjukkan adanya beberapa kerusakan terutama pada dosis 2000 mg/kgBB.Uji toksisitas subkronis oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji dengan dosis berulang. Pemberian obat tradisional secara berulang dapat berpotensi toksik dan merusak organ-organ vital seperti jantung, paru-paru, hati, dan ginjal sehingga perlu dilakukan uji toksisitas untuk mengetahui keamanannya. Daun bidara digunakan secara tradusional oleh masyarakat sebagai antimikroba, analgesik, antipiretik, antiinflamasi, antidiabetes. Penelitian ini menggunakan hewan uji tikus wistar yang dibagi dalam 4 kelompok. Hewan uji diberikan ekstrak etanol daun bidara dengan dosis 50 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 2000 mg/kgBB yang diberikan selama 14 hari secara oral. Pengukuran kadar kreatinin dilakukan sebelum dan setelah pemberian ekstrak. Setelah itu, dilakukan pembedahan untuk pemeriksaan histopatologi ginjal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun bidara selama 14 hari tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar kreatinin tikus (p<0,05). Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan adanya kerusakan seperti peradangan, degenerasi, kongesti dan nekrosis yang berbeda pada masing-masing kelompo
UJI IRITASI DAN UJI EFEKTIVITAS SEDIAAN WHITE ACTIVATED CARBON SERBUK KAYU ULIN (Eusideroxylon zwageri) SEBAGAI AGEN ADSORBEN KERINGAT PADA KULIT KETIAK
White Activated Carbon serbuk kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) merupakan terobosan yang digunakan dalam penyerapan keringat pada kulit ketiak penyebab bau badan dengan menunjang kemudahan dalam pemakaian. Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas iritasi primer, uji hedonik, dan efektivitas White Activated Carbon serbuk kayu ulin sebagai agen penjerap keringat berlebih pada kulit ketiak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode uji tempel untuk uji iritasi, uji hedonik, dan uji efektivitas. Uji iritasi dengan hewan uji kelinci albino, sedangkan uji hedonik dan uji efektivitas menggunakan alat skin analyzer pada responden manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks iritasi primer sebesar 0,22, uji hedonik pada responden menunjukkan kategori “suka” untuk bau, warna, bentuk, dan kesukaan setelah diaplikasikan, dan hasil uji efektivitas pada uji Paired T-Test diketahui bahwa nilai sig≤0.05, artinya terdapat penurunan jumlah keringat setelah penggunaan White Activated Carbon pada kulit ketiak.White Activated Carbon serbuk kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) merupakan terobosan yang digunakan dalam penyerapan keringat pada kulit ketiak penyebab bau badan dengan menunjang kemudahan dalam pemakaian. Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas iritasi primer, uji hedonik, dan efektivitas White Activated Carbon serbuk kayu ulin sebagai agen penjerap keringat berlebih pada kulit ketiak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode uji tempel untuk uji iritasi, uji hedonik, dan uji efektivitas. Uji iritasi dengan hewan uji kelinci albino, sedangkan uji hedonik dan uji efektivitas menggunakan alat skin analyzer pada responden manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks iritasi primer sebesar 0,22, uji hedonik pada responden menunjukkan kategori “suka” untuk bau, warna, bentuk, dan kesukaan setelah diaplikasikan, dan hasil uji efektivitas pada uji Paired T-Test diketahui bahwa nilai sig≤0.05, artinya terdapat penurunan jumlah keringat setelah penggunaan White Activated Carbon pada kulit ketiak
Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Apoteker Komunitas dalam Pemantauan Pengobatan Pasien Tuberkulosis di Provinsi dengan Prevalensi Tuberkulosis Tinggi di Indonesia
Indonesia ranks second globally in tuberculosis (TB) cases, with West Java identified as a high-burden TB region. Community pharmacists, often the first point of patient contact, have the potential to support TB monitoring. However, their role remains underutilized and understudied. This study aimed to evaluate community pharmacists' knowledge, attitudes, and practices (KAP) in monitoring TB medication, and to examine the relationships among these variables and respondent characteristics. A cross-sectional study was conducted among 419 pharmacists across 27 districts and cities in West Java Province. Data were collected via a validated online questionnaire comprising KAP domains. Descriptive statistics, Spearman’s correlation, and Chi-Square tests were used to analyze relationships between KAP scores and demographic/professional characteristics. Community pharmacists demonstrated moderate knowledge in TB treatment (14.94 ± 1.99), generally have a positive attitude towards the importance of their role and ability to monitor use of TB drug (21.6 ± 3.3). In practice, community pharmacists are low in reporting, monitoring, and providing assistance related to TB patients (10.7 ± 5.2). Significant but low correlations were observed between knowledge and attitude (r = 0.110, p = 0.024), knowledge and practice (r = 0.116, p = 0.018), and attitude and practice (r = 0.343, p < 0.001). Practice scores were significantly associated with access to patient consultation services (p < 0.001), while knowledge was linked to pharmacy location (p = 0.032), and attitude to gender (p = 0.026). Although community pharmacists in West Java show sufficient knowledge and positive attitudes, their involvement in TB monitoring practices remains limited. Targeted education and policy interventions are essential for their engagement in national TB control efforts.Secara global, kasus tuberkulosis di Indonesia menduduki peringkat kedua setelah India, yaitu sebesar 11%. Apotek komunitas dapat menjadi pendukung untuk memantau pasien TB dan meningkatkan hasil pengobatan TB. Peran apoteker di apotek saat ini belum terlibat dalam manajemen TB di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan praktik apoteker dalam memantau obat pada pasien TB. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional yang dilakukan di wilayah Provinsi Jawa Barat dengan jumlah responden sebanyak 419 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apoteker memiliki pengetahuan cukup (14,94 ± 1,99), tingkat sikap cukup (21,6 ± 3,3), dan tingkat praktik cukup (10,7 ± 5,2) dalam memantau obat pada pasien tuberkulosis. Berdasarkan hasil uji korelasi, terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap dan praktik apoteker (p<0,05). Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan antara variabel pengetahuan dengan karakteristik responden yaitu lokasi apotek, variabel sikap berhubungan dengan jenis kelamin dan memperoleh pelayanan konsultasi, dan variabel praktik berhubungan dengan memperoleh pelayanan konsultasi. Tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik apoteker dalam pengawasan obat dinilai cukup dan terdapat hubungan antara ketiga variabel tersebut. Strategi Program edukasi TB bagi apoteker sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik apoteker berdaya dalam kegiatan pemantauan pasien TB. Penguatan program edukasi TB dan perancangan strategi yang melibatkan apoteker secara berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan kontribusi apoteker dalam upaya pemantauan pengobatan pasien TB dan mendukung program TB, terutama di Indonesia sebagai negara dengan beban TB yang tinggi