Online Journal Universitas Garut
Not a member yet
    2148 research outputs found

    POTENSI LARVA LALAT TENTARA HITAM RENDAH LEMAK TERHADAP KECERNAAN DAN FERMENTASI RUMEN IN VITRO SEBAGAI BAHAN PAKAN ALTERNATIF

    No full text
    Purpose: This study aimed to evaluate the differences in nutritional value between whole BSF larvae and defatted BSF larvae through chemical analysis and in vitro rumen fermentation trials. Methods: Four treatments were tested: whole BSF larvae (T1), mechanically defatted BSF larvae (T2), chemically defatted BSF larvae (T3), and soybean meal as a control (T4). Proximate analysis and Van Soest fiber fraction methods were performed. Results: Defatting improved dry matter and organic matter digestibility as well as gas production compared with whole BSF larvae. Ammonia concentration and VFA showed no significant differences among treatments. Conclusion: Fat reduction in BSF larvae enhanced their quality in in vitro rumen fermentation, indicating their potential as an alternative feed ingredient for ruminant livestock.  Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perbedaan nilai nutrisi antara larva BSF utuh dan larva BSF rendah lemak melalui analisis kimia dan uji fermentasi rumen secara in vitro. Penelitian menggunakan empat perlakuan, yaitu larva BSF utuh (T1), larva BSF defatted mekanis (T2), larva BSF defatted kimia (T3), dan bungkil kedelai (T4) sebagai kontrol, masing-masing dengan empat ulangan, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Hasil menunjukkan bahwa proses defatting meningkatkan secara signifikan (P<0,05) kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, dan produksi gas dibandingkan larva BSF utuh. Bungkil kedelai (T4) memberikan nilai tertinggi pada parameter tersebut. Sebaliknya, konsentrasi amonia dan total VFA tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05). Disimpulkan bahwa pengurangan lemak pada larva BSF meningkatkan kualitas fermentasinya secara in vitro, meskipun nilai nutrisinya belum menyamai bungkil kedelai

    Strategi Nafkah Rumah Tangga Nelayan Pencari Ikan Di Desa Binanga Karaeng Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang

    No full text
    Rumah tangga nelayan penangkap ikan menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang disebabkan oleh faktor alam, perubahan musim, serta keterbatasan akses terhadap sumber daya. Untuk mengatasi hambatan tersebut, mereka mengadopsi beragam strategi nafkah guna menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi nafkah serta aset nafkah rumah tangga nelayan pencari ikan di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pemilihan informan secara purposive sampling, yaitu penentuan informan secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif model Miles dan Huberman, yang meliputi tiga tahapan utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan di Desa Binanga menerapkan strategi nafkah dengan mencari sumber pendapatan tambahan di luar sektor perikanan, seperti bertani dan berdagang. Selain itu, pengelolaan aset nafkah dilakukan dengan memaksimalkan 5 jenis modal utama, yaitu modal alam, manusia, sosial, finansial, dan fisik. Pemanfaatan optimal dari kelima modal ini berkontribusi terhadap peningkatan ketahanan ekonomi rumah tangga nelayan serta membantu mereka dalam menghadapi tantangan yang muncul dalam mata pencaharian.Rumah tangga nelayan penangkap ikan menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang disebabkan oleh faktor alam, perubahan musim, serta keterbatasan akses terhadap sumber daya. Untuk mengatasi hambatan tersebut, mereka mengadopsi beragam strategi nafkah guna menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi nafkah serta aset nafkah rumah tangga nelayan pencari ikan di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pemilihan informan secara purposive sampling, yaitu penentuan informan secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif model Miles dan Huberman, yang meliputi tiga tahapan utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan di Desa Binanga menerapkan strategi nafkah dengan mencari sumber pendapatan tambahan di luar sektor perikanan, seperti bertani dan berdagang. Selain itu, pengelolaan aset nafkah dilakukan dengan memaksimalkan 5 jenis modal utama, yaitu modal alam, manusia, sosial, finansial, dan fisik. Pemanfaatan optimal dari kelima modal ini berkontribusi terhadap peningkatan ketahanan ekonomi rumah tangga nelayan serta membantu mereka dalam menghadapi tantangan yang muncul dalam mata pencaharian

    Analisis pemahaman konsep peserta didik menggunakan instrumen four-tier diagnostic test

    No full text
    Analysis of students' concept understanding using a four-tier diagnostic test instrument. This research is related to the understanding of student concepts that are adjusted to the four-level diagnostic test instrument. Then the understanding of the concept being studied is explained in detail into sub-concepts. The aim of this study is to determine students' understanding of the conceptof the development of ectoderm into its derivatives concept. The research method used is descriptive quantitative. The instrument used to measure students' understanding of concept is a diagnostic assessment in the form of a four-tier diagnostic test instrument. The four-tier diagnostic test instrument consists of 20 multiple-choice compound questions. Each question consists of 4 levels: the first level is related to the main question, the second level is related to the student's confidence in the first question, the third level is related to the reasons for the answer to the first question, and the fourth level is related to the student's confidence in the third question. The results of this study are that the sub-concepts that students have not mastered yet are the germinal layers with the highest average percentage of misconceptions (42.46%) and the lowest average percentage of scientific knowledge (28.57%). The sub-concept that students have mastered the most is the sub-concept of the development of ectoderm into epidermis with the second lowest average percentage of misconceptions (18.25%) and the highest average percentage of scientific knowledge (71.53%). In the false negative, false positive, and lack of knowledge criteria, the average percentage isthe low category for all sub-concepts. Due to this, a small number of students are still confused in understanding the concept of the development of ectoderm into its derivatives. However, there are still students who experience misconceptions, so improvements are needed to the learning mechanism. Improvements can be made to the learning methods used. Keyword: descriptive quantitative, diagnostic test, four-tier diagnostic test, misconceptionPenelitian ini berkaitan dengan pemahaman konsep peserta didik yang disesuaikan dengan instrumen four-tier diagnostic test. Kemudian pemahaman konsep yang diteliti dirincikan penjelasannya menjadi subkonsep-subkonsep. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pemahaman konsep peserta didik terhadap konsep perkembangan ektoderm menjadi turunannya. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif deskriptif. Instrumen yang digunakan untuk mengukur pemahaman konsep peserta didik yaitu dengan asesmen diagnostik berupa instrumen four-tier diagnostic test. Instrumen  four-tier diagnostic test terdiri dari 20 pertanyaan pilihan ganda majemuk. Setiap pertanyaan terdiri dari 4 tingkatan: tingkat pertama terkait pertanyaan utama, tingkat kedua terkait kepercayaan diri peserta didik terhadap pertanyaan pertama, tingkat ketiga terkait alasan dari jawaban pertanyaan pertama, dan tingkat keempat terkait kepercayaan diri peserta didik terhadap pertanyaan ketiga. Hasil dari penelitian ini yaitu subkonsep yang belum dikuasai peserta didik yaitu lapisan germinal dengan presentase rata-rata misconception tertinggi dan presentase rata-rata scientific knowledge terendah. Subkonsep yang lebih dikuasai peserta didik yaitu subkonsep perkembangan ektoderm menjadi epidermis dengan presentase rata-rata misconception kedua terendah dan presentase rata-rata scientific knowledge tertinggi. Pada kriteria false negative, false positive, lack of knowledge memiliki presentase rata-rata dengan kategori rendah untuk semua subkonsep. Disebabkan hal tersebut, sebagian kecil peserta didik masih kebingungan dalam memahami konsep perkembangan ektoderm menjadi turunannya.   Kata kunci: four-tier diagnostic test, kuantatif deskriptif, misconception, tes diagnosti

    Pengembangan pengetahuan sains melalui metode eksplorasi lingkungan sekitar anak

    No full text
    The Development of Science Knowledge Through Methods of the Environment’s Exploration Around Children. This study aims to describe the process of developing early childhood scientific knowledge through environmental exploration methods. The research subjects consisted of a classroom teacher and twelve children aged 5–6 years in Class B, comprising six boys and six girls. This study employed a qualitative approach with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data display, and drawing conclusions. The results indicate that the development of children's scientific knowledge was carried out in three main stages: (i) the teacher prepared the exploration activities by setting the objectives; (ii) the teacher implemented the activities by discussing the procedures, tools, and materials with the children, as well as guiding and supervising them throughout the process; and (iii) the teacher conducted evaluations and assessments of the children’s exploration outcomes. The study concludes that environmental exploration is an effective strategy for enhancing scientific understanding in early childhood.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengembangan pengetahuan sains anak usia dini melalui metode eksplorasi lingkungan sekitar. Subjek penelitian adalah guru/wali kelas dan 12 anak usia 5–6 tahun di kelas B, terdiri dari 6 anak laki-laki dan 6 anak perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan pengetahuan sains anak dilakukan melalui tiga tahapan utama: (i) guru mempersiapkan kegiatan eksplorasi dengan menetapkan tujuan kegiatan; (ii) guru melaksanakan kegiatan dengan mendiskusikan prosedur, alat, dan bahan kepada anak, serta memberikan bimbingan dan pengawasan selama kegiatan berlangsung; dan (iii) guru mengevaluasi serta memberikan penilaian terhadap hasil eksplorasi anak. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa metode eksplorasi lingkungan sekitar dapat menjadi strategi yang efektif dalam mengembangkan pengetahuan sains pada anak usia dini

    Model Pembelajaran Inkuiri dalam Mendorong Berpikir Kreatif Siswa Kelas V MI pada Pembelajaran IPA

    No full text
    This study aims to investigate the extent to which the implementation of the inquiry-based learning model impacts students' creative thinking skills in science subjects. A quantitative approach was adopted, utilizing a quasi-experimental design with a non-equivalent control group structure. A total of 52 fifth-grade students from a Madrasah Ibtidaiyah (MI) in Bandung City were purposively selected as participants. They were assigned into two groups, comprising 26 students each in the experimental and control classes. An instrument consisting of 8 essay items was administered during both the pretest and posttest phases to assess students’ creative thinking skills. The findings indicated a statistically significant enhancement in the experimental group following the application of the inquiry model, with a posttest average score of 77.8 and an N-Gain of 0.67, classified within the moderate category. These findings affirm the effectiveness of the inquiry approach in fostering divergent thinking and enhancing students’ adaptability in problem-solving. This study offers a practical contribution in providing evidence-based recommendations for elementary science instruction, emphasizing the integration of inquiry-based strategies to cultivate students’ higher-order creative thinking competencies. Keywords: inquiry learning model, creative thinking skills, IPAPenelitian ini bertujuan untuk mengtahui sejauh mana dampak penerapan model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran IPA. Pendekatan kuantitatif diterapkan dalam penelitian ini melalui metode quasi experiment dengan jenis desain non-equivalent control group. Penelitian ini melibatkan dua kelas V pada salah satu MI di Kota Bandung yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan total 52 siswa, yang terbagi secara merata ke dalam kelas eksperimen dan kelas kontrol, masing-masing berjumlah 26 siswa. Instrumen utama yang digunakan adalah tes kemampuan berpikir kreatif dengan jumlah 8 butir soal untuk pretest dan posttest. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa di kelas eksperimen meningkat secara signifikan setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri, dengan rata-rata skor posttest mencapai 77,8 dan N-Gain sebesar 0,67 dalam kategori sedang. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran inkuiri berhasil dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Implikasi praktis dari temuan ini yaitu model pembelajaran inkuiri dapat menjadi alternatif strategi pengajaran IPA di sekolah dasar untuk mendorong siswa memiliki kemampuan berpikir kreatif. Kata Kunci: model pembelajaran inkuiri, kemampuan, berpikir kreatif, IP

    PENGARUH TEKNIK DRIBBLING TERHADAP KETERAMPILAN PENGUASAAN BOLA DALAM PERMAINAN BOLA BASKET SISWA DI SMA NEGERI 17 GARUT

    No full text
    Physical education is a process of interaction between students, educators, and the environment, managed through the development of physical education learning conducted systematically, so that learning can occur effectively and efficiently toward the formation of a whole person. The purpose of this study is to determine the effect of ball modification on the skills of students at SMAN 17 Garut. The method used in this study is a quasi-experimental method (pseudo-experiment).Dribbling training is a method used to help deliver a learning process or convey the learning objectives to be given to students. The modifications include changes in the form of games, tools, and other learning processes. The population in this study consists of all students at SMAN 17 Garut, while the sample includes 42 students. The sampling technique used is purposive sampling. To collect data on students' dribbling skills, the researcher used observation. The results of data analysis testing concluded that the effect of ball modification on students' basic motor skills and gameplay in soccer, basketball, and volleyball at SMAN 17 Garut is 7.3%. Among the 42 students, a significant effect was observed. The conclusion of this study is that systematically designed physical education can be more effective with the modification of tools and learning methods. Ball modification has been proven to have a positive and significant impact in improving basic playing skills, especially dribbling, in soccer, basketball, and volleyball at SMAN 17 GarutPendidikan jasmani adalah proses interaksi antara peserta didik dan pendidik serta lingkungan yang dikelola melalui pengembangan pembelajaran pendidikan jasmani yang dilakukan secara sistematik, sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, dan efisien menuju pembentukan manusia seutuhnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh modifikasi bola terhadap keterampilan SMAN 17 Garut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitia Quasi Exsperimental (Ekperimen semu). Latihan Dribbling  adalah suatu metode untuk membantu menyampaikan suatu proses pembelajaran atau memebrikan tujuan pembelajaran yang akan di berikan kepada peserta didik, modifikasi meliputi bentuk permainan, alat, dan proses pembelajaran lainnya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 17 Garut, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 42 siswa. Penentu sampel dalam penelitian ini, menggunakan teknik porposive sampling. Untuk mengumpulkan data keterampilan Dribbling siswa penulis menggunakan observasi. Hasil pengujian analisis data diperoleh kesimpulan bahwa pengaruh modifikasi bola terhadap hasil gerak dasar dan bermian siswa terhadap permaian sepak bola, basket, dan Voli siswa SMAN 17 Garut sebesar 7,3% Sebanyak 42 siswa-siswi terdapat pengaruh yang signifikan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pendidikan jasmani yang dirancang secara sistematis dapat lebih efektif dengan adanya modifikasi alat dan metode pembelajaran. Modifikasi bola terbukti berpengaruh positif dan signifikan dalam meningkatkan keterampilan dasar bermain, khususnya dalam Dribbling untuk permainan sepak bola, basket, dan voli di SMAN 17 Garut

    EFFECT OF USING SPECIAL EXERCISES TO DEVELOP OF A NUMBER OF COGNITIVE ABILITIES KINESTHETIC AND LEARNING FOOTBALL DRIBBLING SKILL

    No full text
    Research aims to reveal   impact of using special exercises in development of a number of cognitive abilities and learning   skill of dribbling football. And to compare in post-test between two study groups in development of a number of cognitive abilities kinetic and learning skill of dribbling football for students of fifth grade of primary school, and   researcher used   experimental approach to suit nature of   research, represented   Community of research was students of Khank Elementary School (fifth grade), for (2023-2024) academic year, which numbered (146) students was distributed over four sections. The research sample was selected by lottery, as   draw led to   selection of   divisions (B, D), and thus   number of   sample reached (62) students, as well as draw led to selection of students of Division (A) a sample for stability and pilot experiments and were excluded a number of student of sample for lack of equality with sample, and thus final number of sample (32) pupils divisive for two  (experimental , control) groups at (16) pupils for each, a percentage was (21.917%) of a community of study. The suggested exercises were division by lottery. educational programs fulfillment  it took eight weeks, divided at two units  weekly, units time it was (40 m). In through research re returns ached by researcher that educational programs applied to two research groups have a positive impact on development of some cognitive abilities kinetic influential football. Experimental group, which used special skill exercises focused on motor sensation, outperformed control group, which used   traditional method (skill exercises program only). Advantage of development of cognitive abilities in experimental group was effectively reflected in improvement of learning process of skill of dribbling football. Researcher recommended emphasizing synchronization of cognitive development when embarking on learning basic football skills. And emphasis on development of cognitive abilities among young age groups in football. As well as emphasizing development of cognitive abilities when learning basic skills in other group events, and conducting studies and research to develop cognitive abilities for different age stages

    EFFECT OF A REHABILITATION PROGRAM ON SOME PHYSICAL VARIABLES AND SHOULDER JOINT PAIN LEVEL IN INJURED WEIGHTLIFTERS

    No full text
    Shoulder joint is one of the most commonly injured joints among weightlifters due to nature of movement, which requires lifting heavy loads and repetitive motions. This leads to a decrease in functional efficiency and an increase pain level and decline in physical abilities. This research aims to identify effect of a standardized rehabilitation program on some physical variables and pain level of shoulder joint in injured weightlifters. The researcher used experimental method with a pre- and post-design for one group, sample included (10) weightlifters who had mild to moderate injuries to shoulder joint. An eight-week rehabilitation program was implemented, consisting of three weekly sessions. It included specific exercises to strengthen rotator cuff muscles, improve joint flexibility, and increase muscle balance. Pain levels were closely monitored using Visual Acuity Scale (VAS), and physical variables such as muscle strength, range of motion, and flexibility were measured. Results showed a statistically significant improvement in physical variables in experimental group compared to control group, and a significant decrease in pain levels after implementation of rehabilitation program. In addition, there was an inverse correlation between decrease in pain levels and improvement in muscle strength and flexibility. The study recommends adopting proposed rehabilitation program as an effective means of rehabilitating shoulder joint injuries in weightlifters, and paying attention to integrating physical and functional measurements with pain assessment to accurately monitor the progression of the condition

    Penerapan Augmented Reality (AR) dalam Pembelajaran Fisika: Studi Kasus pada Materi Optik

    No full text
    This study aims to explore the application of Augmented Reality (AR) technology in physics education, focusing on optical materials. In the context of physics education, especially in Central Maluku, AR can serve as a solution to overcome the challenges of understanding abstract concepts such as light refraction, reflection, and light interaction with lenses. The use of AR allows students to view physical phenomena in a more concrete and interactive three-dimensional form, which helps enhance their understanding of optical materials that are difficult to grasp through conventional methods. This research employs a descriptive qualitative approach with semi-structured interviews and an exploratory approach with ten physics teachers in Central Maluku Regency. The findings indicate that although there are challenges such as limited devices and lack of teacher training, the use of AR has a positive impact on student engagement, material understanding, and learning outcomes. This study concludes that AR has great potential in improving the quality of physics education, although further support in terms of infrastructure and training is needed to optimize its implementation in schools.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan teknologi Augmented Reality (AR) dalam pembelajaran fisika, dengan fokus pada materi optik. Dalam konteks pendidikan fisika, khususnya di daerah Maluku Tengah, AR dapat menjadi solusi untuk mengatasi tantangan pemahaman konsep-konsep abstrak seperti pembiasan cahaya, refleksi, dan interaksi cahaya dengan lensa. Penggunaan AR memungkinkan siswa untuk melihat fenomena fisika dalam bentuk tiga dimensi yang lebih konkret dan interaktif, yang membantu meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi optik yang sulit dipahami melalui metode konvensional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara semi-terstruktur dengan pendekatan eksploratif kepada sepuluh guru fisika di Kabupaten Maluku Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan perangkat dan kurangnya pelatihan guru, penggunaan AR memberikan dampak positif terhadap keterlibatan siswa, pemahaman materi, dan hasil belajar mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AR memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran fisika, meskipun dibutuhkan dukungan lebih lanjut dalam hal infrastruktur dan pelatihan untuk memaksimalkan penerapannya di sekolah

    A Survey of Reading Requirements in Physics Education Journals for Undergraduate Students

    No full text
    This study investigates the reading needs and difficulties of Indonesian undergraduate Physics Education students when engaging with English-language physics education journals. Using a descriptive quantitative survey design, data were collected from 52 students through a semi-standardized 40-item Likert questionnaire (1–5) covering eight dimensions: reading purposes, awareness of journal structure, vocabulary and technical terms, comprehension skills, reading strategies, reading difficulties, attitudes and motivation, and institutional support. Content validity was confirmed through expert judgment, and internal consistency was excellent (Cronbach’s alpha = 0.956). Descriptive analysis in Google Sheets showed that students strongly value journal reading for coursework, thesis writing, and professional preparation, and they demonstrate basic familiarity with IMRAD conventions. However, they still experience major barriers in understanding discipline-specific and methodological vocabulary, interpreting multimodal data such as tables, graphs, and diagrams, and navigating Result sections when journal layouts vary. Strategy use also remains limited, as students tend to read linearly and rely on translation tools rather than using abstract-first reading, skimming, or scanning consistently. Although motivation toward journal reading is positive, low confidence in reading without translation indicates that skills development has not matched their academic awareness. The study highlights the need for integrated journal-reading support in Physics Education programs, especially systematic vocabulary enrichment, guided multimodal-reading practice, and flexible strategy training, supported by stronger institutional access to international journals.Penelitian ini menelaah kebutuhan dan kesulitan membaca mahasiswa Pendidikan Fisika di Indonesia saat berinteraksi dengan jurnal pendidikan fisika berbahasa Inggris. Dengan desain survei kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan dari 52 mahasiswa menggunakan kuesioner semi-standar berisi 40 item skala Likert (1–5) yang mencakup delapan dimensi: tujuan membaca, kesadaran struktur jurnal, kosakata dan istilah teknis, keterampilan pemahaman, strategi membaca, kesulitan membaca, sikap dan motivasi, serta dukungan institusional. Validitas isi diperkuat melalui expert judgment, dan reliabilitas internal berada pada kategori sangat tinggi (Cronbach’s alpha = 0.956). Analisis deskriptif menggunakan Google Sheets menunjukkan bahwa mahasiswa menilai membaca jurnal sangat penting untuk tugas perkuliahan, penulisan skripsi, dan persiapan profesi, serta sudah mulai mengenal konvensi jurnal seperti IMRAD. Namun, mereka masih menghadapi hambatan besar pada penguasaan kosakata teknis fisika dan istilah metodologi, penafsiran data multimodal seperti tabel, grafik, dan diagram, serta pencarian bagian Result ketika format jurnal berbeda. Penggunaan strategi membaca juga belum optimal karena mahasiswa cenderung membaca secara linear dan bergantung pada alat terjemahan, sementara strategi efisien seperti membaca abstrak terlebih dahulu, skimming, dan scanning belum digunakan secara konsisten. Walaupun motivasi membaca jurnal cukup positif, rendahnya kepercayaan diri membaca tanpa terjemahan menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran akademik dan keterampilan nyata. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan membaca jurnal yang terintegrasi dalam program Pendidikan Fisika, khususnya pengayaan kosakata secara sistematis, latihan membaca multimodal yang terpandu, serta pelatihan strategi membaca yang fleksibel dengan dukungan akses institusional ke jurnal internasional

    0

    full texts

    2,148

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Online Journal Universitas Garut
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇