Online Journal Universitas Garut
Not a member yet
    2148 research outputs found

    Kajian Semiotika: Urgensi Dukungan Sosial Dalam Lirik Lagu “Stay Alive” Karya BTS

    No full text
    BTS adalah grup K-pop yang sangat terkenal dan diakui secara global, dikenal dengan berbagai lagu mereka yang mengandung pesan-pesan mendalam dan inspiratif. Penelitian ini meggunakan teori dukungan sosial untuk menganalisis lagu BTS “Stay Alive”, bagian dari soundtrack webtoon “7FATES: CHAKHO”, serta metode semiotika Ferdinand de Saussure yang memandang bahasa sebagai sistem tanda yang terdiri dari penanda (signifier) dan petanda (signified), di mana interpretasi makna terbentuk melalui hubungan antara keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu “Stay Alive” menggambarkan pentingnya kehadiran dan dukungan sosial dalam menghadapi tantangan hidup. Bait pertama menunjukkan bahwa tanpa dukungan sosial, seseorang dapat merasa terisolasi dan kebingungan. Bait kedua dan ketiga mengilustrasikan bahwa kehadiran orang yang penting dalam hidup kita dapat menjadi sumber kekuatan. Lirik-lirik pada bait-bait selanjutnya menggambarkan konsep pertukaran sosial dalam teori dukungan sosial, di mana individu saling memberikan dan menerima dukungan

    Analisis Genre Tentang Film Sekawan Limo

    No full text
    Genre menjadi petunjuk bagi penonton untuk mengidentifikasi gaya, struktur dan penceritaan dari sebuah karya film. Saat ini, horor dan komedi masih menjadi genre populer yang masuk dalam kategori film terlaris sepanjang masa di Indonesia. Film horor seringkali menampilkan adegan yang memberikan ketegangan dan ketakutan bagi penonton. Sedangkan film komedi bertujuan untuk memancing tawa. Peneliti tertarik untuk melihat perpaduan unsur fiksi horor dan komedi sehingga memunculkan sub-genre lain, yaitu horor komedi. Salah satu film Indonesia yang diproduksi tahun 2024 dan menggunakan genre horor komedi adalah film Sekawan Limo yang disutradarai oleh Bayu Skak. Film ini menceritakan tentang pengalaman menarik para pendaki gunung yang tersesat di gunung Madyopuro. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis genre film. Peneliti menggunakan repertoire of elements untuk menganalisis karakter, setting, naratif, ikonografi & style dari film Sekawan Limo. Hasil penelitian menemukan bahwa film Sekawan Limo termasuk dalam kategori sub-genre horor komedi. Film tersebut menampilkan beberapa ikon horor serta setting, gaya visual dan penceritaan yang misterius, selayaknya film horor. Namun disisi lain, peneliti juga menemukan adanya unsur-unsur komedi yang membuat penonton tertawa karena aksi dan situasi yang lucu dari para tokoh. Peneliti juga mendapatkan adanya dialog yang menjadi bagian dari komedi verbal yang disampaikan oleh para tokoh saat menertawakan kesulitan yang mereka alami bersama. Kata-kata Kunci: film, genre, horor, komedi, Sekawan Lim

    Analisis respon netizen terhadap pemutusan kontrak coach shin tae-yong di postingan instagram @timnasindonesia

    No full text
    Pemutusan kontrak pelatih tim nasional Indonesia, Shin Tae-yong, oleh PSSI pada Januari 2025, memicu reaksi masif di media sosial, khususnya Instagram. Keputusan ini menjadi isu kontroversial karena Shin Tae-yong dipandang sebagai figur penting dalam kebangkitan sepak bola Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon netizen terhadap keputusan tersebut dengan fokus pada sentimen, tema utama, dan implikasi komunikasi digital yang dilakukan oleh PSSI. Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode analisis isi terhadap komentar netizen di unggahan Instagram @timnasindonesia. Data dianalisis berdasarkan teori Agenda Setting dan Uses and Gratifications untuk mengeksplorasi bagaimana PSSI memengaruhi diskursus publik dan bagaimana netizen menggunakan media sosial sebagai ruang ekspresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas komentar memiliki sentimen positif terhadap Shin Tae-Yong, dengan tema dominan berupa apresiasi terhadap kontribusinya. Namun, kritik terhadap PSSI juga menonjol, terutama terkait kurangnya transparansi dan kegagalan dalam membingkai narasi yang mendukung keputusan. Harapan untuk masa depan sepak bola Indonesia dan dukungan kepada Erick Thohir juga menjadi bagian dari diskursus. Penelitian ini berkontribusi dalam memahami dinamika komunikasi digital dalam manajemen isu strategis dan memberikan rekomendasi bagi institusi olahraga untuk meningkatkan strategi komunikasi mereka di media sosial. Transparansi, responsivitas, dan keterlibatan publik menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan dan loyalitas penggemar di era digital

    Penerimaan gen z tentang feminine dan masculine energy pada tikTok @feminiyou sebagai strategi hubungan PDKT

    No full text
    Abstract In the digital era, social media platforms such as TikTok significantly shape young people’s perceptions of gender and interpersonal relationships. A prominent narrative is the concept of feminine and masculine energy, often presented as a guide for attraction and relational dynamics. Accounts like @feminiyou encourage women to highlight their feminine traits to balance men’s masculine energy. While appealing, this narrative may reinforce traditional gender stereotypes, restrict self-expression, and create performative pressures in relationships. This study employs a qualitative descriptive approach using Stuart Hall’s reception analysis, categorizing audiences as dominant-hegemonic, negotiated, or oppositional. Findings reveal that most Generation Z respondents adopt a negotiated position, accepting some aspects of the message while adapting it to personal values, cultural norms, experiences, and relational contexts. Feminine and masculine energy are often applied as image-management strategies in early-stage relationships (front stage), but their use becomes flexible or is rejected in more intimate stages (back stage) if it conflicts with authenticity. These results suggest that Generation Z actively and adaptively interprets gender expectations, maintaining relationships that are healthy, equitable, and meaningful. Keywords: Feminine energy; masculine energy; gender role; generation Z; TikTok.   Abstrak Di era digital, media sosial seperti TikTok memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk pemahaman generasi muda mengenai gender dan hubungan interpersonal. Salah satu narasi yang populer adalah konsep feminine dan masculine energy, yang sering dianggap sebagai panduan dalam membangun daya tarik dan dinamika hubungan romantis. Misalnya, akun TikTok @feminiyou mendorong perempuan untuk menonjolkan sisi feminin sebagai upaya menciptakan keseimbangan dengan masculine energy laki-laki. Meskipun narasi ini tampak menarik, penerapannya berpotensi memperkuat stereotip peran gender tradisional, membatasi ekspresi diri, dan memunculkan tekanan performatif dalam relasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerimaan Generasi Z terhadap narasi tersebut melalui pendekatan deskriptif kualitatif, menggunakan metode analisis resepsi Stuart Hall yang membagi audiens menjadi tiga kategori: dominant-hegemonic, negotiated, dan oppositional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas informan berada pada posisi negotiated, yakni menerima sebagian pesan tetapi menyesuaikannya dengan nilai pribadi, budaya, pengalaman, dan dinamika hubungan. Konsep feminine dan masculine energy sering dimaknai sebagai strategi pencitraan pada tahap awal hubungan (front stage) dan dijadikan panduan untuk membangun hubungan ideal. Namun, saat relasi berkembang ke tahap lebih intim (back stage), penerapannya menjadi lebih fleksibel atau bahkan ditolak apabila bertentangan dengan otentisitas diri. Dengan demikian, Generasi Z tidak bersikap pasif terhadap pengaruh media, tetapi secara aktif dan adaptif menafsirkan ulang ekspektasi gender demi menjaga relasi yang sehat, setara, dan bermakna. Kata-kata kunci: Feminine energy; masculine energy; peran gender; generasi Z; TikTok

    Pengaruh celebrity worship penggemar k-pop terhadap hubungan romantis pengemarnya

    No full text
    Abstract This research deeply investigates the influence of celebrity worship on the dynamics of romantic relationships among K-Pop fans active on the Instagram platform. The phenomenon of celebrity worship, defined as excessive emotional involvement with celebrities, is analyzed through three key dimensions: entertainment social-value, reflecting attraction to celebrities as a source of entertainment and social interaction; intense-personal feelings, measuring the depth of emotional bonds and personal identification; and borderline pathological tendencies, identifying obsessive or irrational behaviors. Utilizing a quantitative approach and survey method, this study involved 97 respondents selected through purposive sampling, ensuring representation of K-Pop fans currently in romantic relationships. Data were collected via questionnaires integrating the Celebrity Attitude Scale (CAS) to measure celebrity worship and a romantic relationship scale developed based on attachment styletheory, specifically the anxious attachment and avoidant attachment dimensions. The results of simple linear regression analysis consistently demonstrate that celebrity worship has a positive and significant effect on romantic relationships (p < 0.05), with a regression coefficient value of 0.193. This finding implicitly indicates that the higher an individual's emotional involvement with a celebrity, the greater the potential impact on the quality and dynamics of their romantic relationship, particularly in terms of emotional closeness and affective expression. Furthermore, the analysis also reveals a clear correlation between the level of celebrity worshipand tendencies toward anxious attachment and avoidant attachment styles. This suggests that individuals with a high need for emotional validation or a tendency to maintain distance in real relationships may be more susceptible to celebrity worshipas a form of emotional compensation. This research confirms that celebrity worshipis not merely a passive form of entertainment but a complex psychological phenomenon that can substantially affect interpersonal interactions and satisfaction in romantic relationships, highlighting the importance of self-awareness and emotional management in the digital age. Keywords: Celebrity worship; romantic relationships; attachment style; K-Pop fans; social media.   Abstrak Penelitian ini menguji pengaruh celebrity worship terhadap dinamika hubungan romantis pada penggemar K-Pop yang aktif di platform Instagram. Fenomena celebrity worship, bagian dari keterlibatan emosional berlebihan terhadap selebriti, dianalisis melalui tiga dimensi kunci: entertainment social-value, yang mencerminkan ketertarikan pada selebriti sebagai sumber hiburan dan interaksi sosial; intense-personal feelings, yang mengukur kedalaman ikatan emosional dan identifikasi pribadi; serta borderline pathological tendencies, yang mengidentifikasi perilaku obsesif atau tidak rasional. Tujuan penelitian ini untuk mengukur seberapa besar pengaruh celebrity worship penggemar k-pop terhadap hubungan romantis pengemarnya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dan metode survei, studi ini melibatkan 97 responden yang dipilih secara purposive sampling, memastikan representasi penggemar K-Pop yang sedang menjalin hubungan romantis. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengintegrasikan skala Celebrity Attitude Scale (CAS) untuk mengukur celebrity worship dan skala hubungan romantis yang dikembangkan berdasarkan teori attachment style, khususnya dimensi anxious attachment dan avoidant attachment. Hasil analisis regresi linear sederhana secara konsisten menunjukkan bahwa celebrity worship memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap hubungan romantis (p < 0.05), dengan nilai koefisien regresi sebesar 0.193. Temuan ini mengindikasikan semakin tinggi tingkat keterlibatan emosional seseorang terhadap selebriti, semakin besar pula potensi dampaknya terhadap kualitas dan dinamika hubungan romantis mereka, terutama dalam aspek kelekatan emosional dan ekspresi afeksi. Lebih lanjut, analisis juga mengungkapkan adanya korelasi yang jelas antara tingkat celebrity worship dengan kecenderungan pada gaya keterikatan anxious attachment dan avoidant attachment. Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan kebutuhan validasi emosional yang tinggi atau kecenderungan untuk menjaga jarak dalam hubungan nyata mungkin lebih rentan terhadap celebrity worship sebagai bentuk kompensasi emosional. Penelitian ini menegaskan bahwa celebrity worship bukan sekadar bentuk hiburan pasif, melainkan sebuah fenomena psikologis kompleks yang dapat memengaruhi secara substansial interaksi interpersonal dan kepuasan dalam hubungan romantis, menyoroti pentingnya kesadaran diri dan pengelolaan emosi dalam era digital. Kata-kata kunci: celebrity worship; hubungan romantis; attachment style; penggemar K-Pop; media sosial

    Analisis resepsi penonton pada kepercayaan kekuatan supranatural dalam film kisah tanah Jawa Pocong gundul

    No full text
    Abstract Indonesian horror films often represent society’s belief in supernatural powers as part of a living cultural heritage. One of the films that is particularly relevant to explore is Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul, which presents the theme of retrocognition and various mystical elements such as black magic, occult rituals, and sacred heirlooms. This study aims to analyze audience reception of the supernatural powers depicted in the film. Using a qualitative approach, this research applies Stuart Hall’s reception analysis theory, which categorizes audience interpretations into three positions: dominant-hegemonic, negotiated, and oppositional. Data were collected through in-depth interviews with five informants of diverse socio-cultural and religious backgrounds. The findings reveal that the audience’s interpretations are strongly influenced by personal spiritual experiences, educational background, and individual belief systems. Most informants accepted and believed in the supernatural aspects of the film in line with their own convictions (dominant position), while others took a more critical stance or rejected the mystical content entirely (negotiated and oppositional positions). This study contributes to a deeper understanding of how audiences interpret cultural representations in popular media and provides insight into the ongoing dialogue between traditional values and rational-modern worldviews in contemporary society. Keywords: Audience reception; supernatural powers; retrocognition; horror film; Javanese culture.   Abstrak Film horor Indonesia kerap merepresentasikan kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan supranatural sebagai bagian dari warisan budaya yang masih hidup hingga kini. Salah satu film yang menarik untuk dikaji adalah Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul, yang mengangkat tema retrokognisi dan berbagai elemen mistik seperti santet, ritual ghaib, hingga penggunaan benda keramat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana resepsi penonton terhadap kekuatan supranatural yang ditampilkan dalam film tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode analisis resepsi dari Stuart Hall, yang membagi pemaknaan penonton ke dalam tiga posisi: dominan-hegemonik, negosiasi, dan oposisi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima informan yang memiliki latar belakang sosial dan pandangan keagamaan yang berbeda-beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap kekuatan supranatural sangat dipengaruhi oleh pengalaman spiritual pribadi, tingkat pendidikan, serta sistem kepercayaan yang dianut oleh masing-masing informan. Sebagian besar informan menerima dan meyakini keberadaan kekuatan supranatural dalam film sesuai dengan keyakinan mereka (posisi dominan), sementara lainnya bersikap kritis atau bahkan menolak sepenuhnya unsur mistik tersebut (posisi negosiasi dan oposisi). Penelitian ini berkontribusi dalam memahami cara kerja tafsir audiens terhadap representasi budaya dalam media populer, serta membuka ruang dialog antara nilai-nilai tradisional dan pandangan rasional-modern dalam masyarakat kontemporer. Kata-kata kunci: Resepsi penonton; kekuatan supranatural; retrokognisi; film horor; budaya Jawa

    Instagram sebagai media strategis WEPOSE Indonesia dalam memperkuat keterlibatan komunitas

    No full text
    Abstract This study aims to analyze the social media strategies implemented by the Instagram account @wepose.indonesia in enhancing community engagement. The objective of this research is to identify how content strategies, the use of interactive features, and regular evaluations can support the growth of audience engagement both in digital spaces and through direct social activities. WEPOSE Indonesia is a non-profit community actively engaged in empowering marginalized children in Surabaya, utilizing Instagram as the primary medium to disseminate information, foster interaction, and mobilize public participation. This study employs a descriptive qualitative approach with data collected through in-depth interviews and digital documentation, analyzed using Miles and Huberman’s model. The findings indicate that WEPOSE’s success in building engagement derives from structured content strategies, the use of interactive Instagram features such as Reels, Stories, Live, and Direct Messages, as well as routine evaluation through the Insight feature. These strategies reflect the application of the SOME (Share, Optimize, Manage, Engage) model, which supports participatory, responsive, and relevant two-way communication. Challenges such as limited human resources and team consistency are addressed through collaborative work systems and internal capacity strengthening. Audience participation extends beyond digital interactions, being manifested in the form of contributions as field volunteers. With an adaptive and human-centered approach, WEPOSE’s social media strategy successfully creates an inclusive digital space and serves as an effective model for other non-profit communities in fostering sustainable public engagement.. Keywords: Scial media strategy; community engagement; instagram; non-profit organization; digital communication.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi media sosial yang diterapkan oleh akun Instagram @wepose.indonesia dalam meningkatkan keterlibatan komunitas (community engagement). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi konten, penggunaan fitur interaktif, serta evaluasi rutin dapat mendukung peningkatan keterlibatan audiens, baik di ranah digital maupun aktivitas sosial secara langsung. WEPOSE Indonesia merupakan komunitas nirlaba yang aktif dalam pemberdayaan anak-anak marginal di Surabaya, dengan memanfaatkan Instagram sebagai media utama untuk menyebarkan informasi, membangun interaksi, dan menggerakkan partisipasi publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan dokumentasi digital, serta dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan WEPOSE dalam membangun engagement berasal dari strategi konten yang terstruktur, penggunaan fitur interaktif Instagram seperti Reels, Story, Live, dan DM, serta penerapan evaluasi rutin melalui fitur Insight. Strategi ini mencerminkan penerapan model SOME (Share, Optimize, Manage, Engage) yang mendukung komunikasi dua arah yang partisipatif, responsif, dan relevan. Tantangan seperti keterbatasan sumber daya manusia dan konsistensi tim diatasi melalui sistem kerja kolaboratif dan penguatan kapasitas internal. Partisipasi audiens tidak hanya terbatas di ruang digital, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk kontribusi sebagai relawan lapangan. Dengan pendekatan yang adaptif dan humanis, strategi media sosial WEPOSE berhasil menciptakan ruang digital yang inklusif dan menjadi model efektif bagi komunitas nirlaba lainnya dalam membangun keterlibatan publik secara berkelanjutan. Kata-kata kunci: Strategi media sosial; community engagement; instagram; organisasi nirlaba; komunikasi digital

    Analisis Perbandingan Layanan Kesehatan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan Asuransi Mandiri Inhealth: Dampaknya terhadap Motivasi Kerja Karyawan di Perseroan Terbatas Pulau Mahoni

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan layanan kesehatan yang diberikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan Asuransi Mandiri Inhealth serta mengukur dampaknya terhadap motivasi kerja karyawan di Perseroan Terbatas Pulau Mahoni. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memahami seberapa besar pengaruh kedua jenis layanan asuransi tersebut terhadap tingkat motivasi kerja para karyawan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda untuk menguji hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 150 karyawan PT. Pulau Mahoni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan kualitas layanan antara BPJS Kesehatan dan Asuransi Mandiri Inhealth, keduanya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap motivasi kerja karyawan. Hal ini mungkin disebabkan oleh proses layanan yang kurang memadai dan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh sebagian karyawan, khususnya terkait dengan layanan BPJS. Berdasarkan temuan ini, perusahaan disarankan untuk mengevaluasi ulang kebijakan layanan kesehatan yang diterapkan dan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang bisa lebih efektif dalam meningkatkan motivasi kerja karyawan

    PRODUKSI GAS TOTAL, GAS METAN DAN NH3 PELLET PAKAN KAMBING DENGAN IMBANGAN HIJAUAN DAN BIOKONVERSI manure layer BERBEDA SECARA IN VITRO

    No full text
    Gas metan merupakan produk fermentasi rumen pada ternak ruminansia, merupakan gas rumah kaca utama yang berkontribusi dalam efek pemanasan  global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi gas dan persentase gas metan  pelet pakan kambing dengan berbagai imbangan hijauan dan biokonversi manure layer secara in vitro. Biokonversi dibuat dengan menfermentasi manure layer close house dengan Aspergillus niger dan Sacharomices cereviseae selama 6 hari pada suhu 30°C.  Penelitian ini mengunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan yaitu imbangan hijauan : biokonvensi manure layer dalam formulasi pelet pakan kambing yaitu:  A= 25%:75%; B= 50%:50%; C=75%:25%; dan D= 0%:100% dengan 4 ulangan. Campuran Hijauan dan biokonversi manure layer di cetak dalam bentuk pelet dan diuji secara in vitro. Hasil penelitian menunjukan bahwa imbangan hijauan dan biokonversi manure layer 50%:50% menunjukan produksi gas total 207,94 ml lebih tinggi (P<0,05) dibanding perlakuan lainnya. Persentase metan pada imbangan ini didapatkan 15,3% dan kandungan amonia cairan rumen 2,67 mM. Imbangan 50%:50% ini merupakan imbangan hijauan dan biokonversi manure layer yang tepat dalam formula pelet pakan kambing.

    Pengaruh PENGARUH DOSIS BAHAN PENGIKAT TEPUNG UMBI GARUT (Maranta arundinacea) TERHADAP SIFAT FISIK PELET INDIGOFERA (Indigofera zollingeriana): Pellet Indigofera

    No full text
    Abstract The type and dosage of binder affect the quality of the pellets produced. Arrowroot tubers contain starch which has the potential to be used as a binder. This study aims to determine the effect of binder dose of arrowroot tuber flour (Maranta arundinacea) on the physical properties of indigofera pellets (Indigofera zollingeriana). Research on the physical properties of pellets was conducted at the Integrated Laboratory, Faculty of Agriculture, Garut University from July to August 2024. The method used in this research is experimental method. The design used was a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 4 replicates, consisting of P0 (30% Molasses) as control, P1 (20% Arrowroot Flour), P2 (30% Arrowroot Flour), P3 (40% Arrowroot Flour) and P4 (50% Arrowroot Flour). The parameters tested were density, bulk density,  compacted density, specific gravity and stack angle. The data obtained were analyzed Using ANOVA and Duncan’s Multiple Range Test at the 5% level. he results showed that the use of different doses of arrowroot tuber flour (Maranta arundinacea) binder affected the physical properties of indigofera (Indigofera zollingeriana) pellets. The use of arrowroot tuber flour with a dose of 40% gave the optimal results on the parameters of pile bulk density,  compacted density, and stack angle. Keywords:  Binder, Arrowroot Flour, Indigofera, Physical Characteristics, PelletJenis dan dosis bahan pengikat mempengaruhi kualitas pelet yang dihasilkan. Umbi garut mengandung pati yang berpotensi untuk dijadikan bahan pengikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis bahan pengikat tepung umbi garut (Maranta arundinacea) terhadap sifat fisik pelet indigofera (Indigofera zollingeriana). Penelitian pengujian sifat fisik pelet dilaksanakan di Laboratorium Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas Garut pada bulan Juli hingga Agustus 2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, yang terdiri dari P0 (30 % Molases) sebagai kontrol , P1 (20 % Tepung Umbi Garut), P2 (30% Tepung Umbi Garut), P3 (40 % Tepung Umbi Garut) dan P4 (50% Tepung Umbi Garut). Parameter yang diuji yaitu densitas, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, berat jenis, dan sudut tumpukan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Sidik Ragam dan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dosis bahan pengikat tepung umbi garut (Maranta arundinacea) yang berbeda berpengaruh terhadap sifat fisik pelet indigofera (Indigofera zollingeriana). Penggunaan tepung umbi garut dengan dosis 40% memberikan hasil optimal pada parameter kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, dan sudut tumpukan   Kata kunci: Bahan Pengikat, Tepung Umbi Garut, Indigofera, Sifat Fisik, Pele

    0

    full texts

    2,148

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Online Journal Universitas Garut
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇