Journal of Pharmaceutical And Sciences (JPS)
Not a member yet
124 research outputs found
Sort by
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK ETANOL BUAH KAPULAGA (Amomum compactum Sol. ex Maton) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Streptococcus mutans
Local cardamom (Amomumcompactum Sol. Ex Manton) is able to inhibit the growth of fungi and cineol compounds. Local cardamom which is anti-fungal and contains antibacterial properties. This study aims to determine the ethanol extract of cardamom fruit which is formulated into a mouthwash that can inhibit the growth of bacteria Staphylococcus aureusand Streptococcus mutans at certain concentrations. The method of this research is to test the antibacterial activity of Staphylococcus aureus and Streptococcus mutansfrom the ethanol extract of cardamom mouthwash. The preparation was evaluated for physical stability of storage for 4 weeks, pH test and antibacterial test. All cardamom fruit ethanol extract mouthwash preparations have a good physical form and are stable. At 4 weeks of storage, do not have the appropriate pH and antibacterial activity of cardamom fruit ethanol extract mouthwash against Staphylococcus aureus and Streptococcus mutans 2%, 4%, and 6% for Streptococcus mutans, the inhibition diameter was 9 mm, and 8 mm, while Staphylococcus aureus had the inhibition diameter 12 mm, 11 mm, and 10 mm, respectively. The results of this study concluded that the ethanol extract of cardamom fruit can be formulated into mouthwash with concentrations of 2%, 4%, and 6% which have moderate inhibition against Streptococcus mutans bacteria and have strong category inhibition against Staphylococcus aureus bacteria.Kapulaga lokal (Amomum compactum Sol. ex Manton) mampu menghambat pertumbuhan cendawan dan senyawa sineol. kapulaga lokal yang bersifat sebagai anticendawan dan mengandung antibakteri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak etanol buah kapulaga yang diformulasikan menjadi sediaan obat kumur yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutanspada konsentrasi tertentu. Adapun metode dari penelitian ini adalah dengan menggunakan pengujian aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans dari sediaan obat kumur ekstrak etanol buah kapulaga.Sediaan dievaluasi stabilitas fisik penyimpanan selama 4 minggu, uji pH dan pengujian antibakteri. Seluruh sediaan obat kumur ekstrak etanol buah kapulaga yang dibuat memiliki bentuk fisik yang baik dan stabil pada penyimpanan selama 4 minggu, tidak memiliki pH yang sesuai dan hasil uji aktivitas antibakteri sedian obat kumur ekstrak etanol buah kapulaga dengan konsetrasi ekstrak 2%, 4%, dan 6% pada Streptococcus mutans, menghasikan diameter daya hambatnya berurut-turut 8,42 mm; 9,03 mm; dan 9,48 mm, sedangkan Staphylococcus aureus diameter daya hambatnya secara berurutan 12 mm, 11 mm, dan 10 mm. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak etanol buah kapulaga dapat diformulasikan menjadi obat kumur dengan konsentrasi 2%, 4%, dan 6% yang memiliki daya hambat kategori sedang terhadap bakteri Streptococcus mutans dan memiliki daya hambat kategori kuat terhadap bakteri Staphylococcus aureus
PENENTUAN KADAR PARASETAMOL DALAM SEDIAAN TABLET DAN LARUTAN ORAL SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)
According to RI Law no. 36 of 2009, determining the level of efficacious substances from a drug preparation is one of the requirements that must be carried out to ensure the quality of the drug preparation. Drug preparations of good quality will provide the expected effect and one of the parameters is the level of the active substance of the drug must meet the level requirements listed in the Indonesian Pharmacopeia or other standard books. The purpose of this study was to determine the levels of Paracetamol in tablet preparations and oral solution by high-performance liquid chromatography. The determination of the concentration was carried out by the HPLC method using a 2.5 mm x 25 cm VP-ODS shim pack column with water-methanol as a mobile phase (3:1), a flow rate of approximately 1.5 ml/minute, and the detection was carried out at a wavelength of 243 nm. The advantage of the HPLC method is the separation system with high speed and efficiency because it is supported by advances in column technology, high-pressure pump systems, and highly sensitive and diverse detectors so that they are able to analyze various samples qualitatively and quantitatively, back in single or mixed components. The results showed that all the specified samples met the content requirements according to the Indonesian Pharmacopeia IV edition 1995, namely not less than 90.0% and not more than 110.0% of the amount stated on the label. The results of the Validation test method carried out obtained a recovery percent of 99.96% with an RSD (Relative Standard Deviation) of 1.81% so that it can be concluded that this method has good sensitivity and accuracy, with a LOD (limit of detection) 0.76 g/ml and LOQ (limit of quantitation) 2.56 g/ml.Menurut undang-undang RI No. 36 tahun 2009, penentuan kadar zat berkhasiat dari suatu sediaan obat merupakan salah satu persyaratan yang harus dilakukan untuk menjamin mutu dari sediaan obat tersebut. Sediaan obat yang mutunya baik akan memberikan efek yang diharapkan dan salah satu parameternya adalah kadar zat aktif dari obat tersebut harus memenuhi persyaratan kadar yang tercantum dalam Farmakope Indonesia atau buku standar Lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan kadar Parasetamol dalam sediaan tablet dan larutan oral secara kromatografi cair kinerja tinggi. Penentuan kadar dilakukan dengan metode KCKT menggunakan kolom shim pack VP-ODS 2,5 mm x 25 cm) dengan fase gerak air - metanol (3:1), laju alir lebih kurang 1,5 ml/menit, dan deteksi dilakukan pada panjang gelombang 243 nm. Keuntungan metode KCKT yaitu sistem pemisahan dengan kecepatan dan efisiensi yang tinggi karena didukung oleh kemajuan dalam teknologi kolom, sistem pompa tekanan tinggi, dan detektor yang sangat sensitif dan beragam sehingga mampu menganalisis berbagai cuplikan secara kualitatif maupun kuantitatif, balik dalam komponen tunggal maupun campuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel yang ditentukan memenuhi persyaratan kadar menurut Farmakope Indonesia edisi IV 1995, yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Hasil uji Validasi Metode yang dilakukan diperoleh persen Recovery 99,96% dengan RSD (Relatif Standar Deviasi) 1,81 % sehingga dapat disimpulkan metode ini memiliki kepekaan dan ketelitian yang baik, dengan LOD (limit of detection) 0,76 µg/ml dan LOQ (limit of quantitation) 2,56 µg/ml.
 
POTENSI ANTIBAKTERI AIR REBUSAN SERBUK, EKSTRAK n-HEKSANA DAN EKSTRAK KLOROFORM CACING TANAH ( Perionyx sp.) TERHADAP BAKTERI Salmonella typhosa
Earthworms are animals that have many benefits and are easy to find—results of information from people consume boiled water of earthworms three times a day for 7 days is used as a typhus medicine, other information is obtained from electronic media, many people also consume earthworms as a typhoid medicine in powder form which is filled into capsules Which can be found in Chinese drug stores, but until now scientific research on earthworms (Perionyx sp.) as an anti-bacterial has not been done. Extraction is done by maceration. Multilevel maceration using chloroform and n-hexane as solvent. The class of chemical compounds was determined on the ethyl acetate extract and the n-hexane extract of the earthworm Perionyx sp.), including alkaloids, glycosides, steroids/triterpenoids, flavonoids, saponins, and tannins. Testing of antibacterial activity of chloroform extract and n-hexane extract against Salmonella typhosa was carried out in vitro by agar diffusion method using metal buffer at a concentration of 500 mg/ml; 400 mg/ml; 300 mg/ml; 200 mg/ml; 100 mg/ml and 50 mg/ml. The results of determining the class of chemical compounds from the chloroform extract of earthworms (Perionyx sp.) showed the presence of chemical compounds belonging to the alkaloid group, while the n-hexane extract did not indicate the presence of chemical compounds detected. The n-hexane extract of tar h (Perionyx sp.) had an inhibitory effect on the growth of Salmonella typhosa at a minimum inhibitory concentration of 400 mg/ml of 10.9mm, while the chloroform extract had a minimum inhibitory concentration of 300 mg/ml with an inhibitory diameter of 12.87 mm.Cacing tanah adalah hewan yang mempunyai banyak khasiat dan mudah untuk ditemukan. Hasil informasi dari masyarakat bahwa, mengkonsumsi air rebusan cacing tanah tiga kali sehari selama 7 hari digunakan sebagai obat tifus, informasi lain diperoleh dari media elektronik, banyak masyarakat Juga mengkonsumsi cacing tanah sebagai obat tifus dalam bentuk serbuk yang diisi kedalam kapsul Yang dapat dijumpai di toko obat Cina, namun sampai sekarang penelitian secara ilmiah mengenai Cacing tanah (Perionyx sp.) sebagai antibakteri belum dilakukan. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi. maserasi bertingkat menggunakan pelarut kloroform dan pelarut n-heksana. Penentuan golongan senyawa kimia dilakukan terhadap ekstrak etil asetat dan ekstrak n-heksana cacing tanah Perionyx sp.) meliputi golongan senyawa alkaloid, glikosida, steroida/triterpenoida, flavonoid, saponin dan tannin. Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak kloroform dan ekstrak n-heksana terhadap bakteri Salmonella typhosa dilakukan secara in vitro dengan metode difusi agar menggunakan pencadang logam pada konsentrasi 500 mg/ml; 400 mg/ml; 300 mg/ml; 200 mg/ml; 100 mg/ml dan 50 mg/ml. Hasil penentuan golongan senyawa kimia dari ekstrak kloroform cacing tanah (Perionyx sp.) menunjukan adanya senyawa kimia golongan alkaloid, sedang ekstrak n-heksana tidak ada menunjukkan adanya senyawa kimia yang terdeteksi. Ekstrak n-heksana cacing tar h (Perionyx sp.) memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhosa pada konsentrasi hambat minimum 400 mg/ml sebesar 10,9mm, sedang ekstrak kloroform memiliki konsentrasi hambat minimum 300 mg/ml dengan diameter hambat 12,87 mm
Uji Aktivitas Anti-inflamasi Dan Daya Hambat Siklooksigenase-2 ekstrak etanol Daun Malur (Brucea javanica (L.) Merr.)
Inflammation is a normal protective response to tissue damage mediated by Cyclooxigenase-2 (COX-2) enzyme. This study aims to determine the anti-inflammatory activity ethanol extract of (Brucea javanica (L.) Merr.) and its inhibitory effect on COX-2 enzyme. The animals used in this study were male white rats which were divided into 5 groups, dose250 mg/kg BB, dose 500 mg/kg BB, comparative control (Celecoxib), positve control and negative controls. Determining of anti-inflammatory activity was carried out by inducing the soles of the Rats with carragen and then measuring the edema volume using a pletismometer and measuring COX-2 inhibiton using a microplate Reader. The results showed that the ethanol extract of malur leaves doses 250 mg/kg BB and 500 mg/kg BB had significant anti-inflammatory activity (p <0.05). The dose 500 mg/kg BB has a significant inhibitory effect on COX-2 (p <0.05), but dose 250 mg/kg BB does not have significant inhibitory effect on COX-2. It can be concluded that the ethanol extract of malur leaves has anti-inflammatory effects at doses 250 mg/kg BB and 500 mg/kg BB and inhibitory effect against COX-2 at a dose 500 mg/kg BB.Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap kerusakan jaringan yang dimediasi oleh enzim siklooksigenase-2 (COX-2). Penelitian ini bertujuan untuk melihat aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun malur (Brucea javanica (L.) Merr.) dan daya hambatnya terhadap enzim COX-2. Hewan yang digunakan pada penelitian ini ialah tikus putih jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu dosis 250 mg/kg BB, dosis 500 mg/kg BB, pembanding (Celecoxib), kontrol positif dan kontrol negatif. Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan cara menginduksi telapak kaki tikus dengan karagen kemudian diukur volume udemnya menggunakan pletismometer dan pengukuran daya hambat COX-2 menggunakan microplate readers. Hasil uji analisis menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun malur dosis 250 mg/kg BB dan 500 mg/kg BB memiliki aktivitas antiinflamasi secara signifikan (p < 0,05). Dosis 500 mg/kg BB memiliki daya hambat terhadap COX-2 secara signifikan (p < 0,05) sedangkan dosis 250 mg/kg BB tidak memiliki daya hambat terhadap COX-2 secara signifikan. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun malur memiliki efek antiinflamasi pada dosis 250 mg/kg BB dan 500 mg/kg BB dan daya hambat terhadap COX-2 pada dosis 500 mg/kg BB
Pemilihan Skabisida dalam Pengobatan Skabies
Scabies is a skin infection caused by the Sarcoptes scabiei mite. In 2017, WHO included scabies in the list of neglected tropical diseases. Treatment of scabies is currently still having problems due to incorrect drug selection. The difficulty of diagnosing scabies has made the drugs prescribed were not appropriate. The purpose of this article is to discuss the types of scabicide that can be used and to review the advantages and disadvantages of using them. Scabies can be treated with scabies, such as sulfur presipitatum, gamma benzene hexachloride, benzyl benzoate, crotamitone, permethrin, ivermectin, and herbal therapy. Of these several scabies, permethrin is the most widely used drug due to its higher efficacy. It is hoped that this article will become a reference for clinicians in choosing the right scabicide for patients.Skabies merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Pada tahun 2017, WHO memasukkan skabies ke dalam daftar neglected tropical disease. Pengobatan skabies saat ini masih mengalami kendala karena kesalahan pemilihan obat. Sulitnya penegakan diagnosis skabies menyebabkan obat yang diresepkan pun tidak tepat. Tujuan dari artikel ini adalah untuk membahas jenis-jenis skabisida yang dapat digunakan serta meninjau kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Skabies dapat diobati dengan skabisida, seperti sulfur presipitatum, gama benzen heksaklorida, benzil benzoat, krotamiton, permetrin, ivermektin, dan terapi herbal. Dari beberapa skabisida tersebut, permetrin adalah obat yang paling banyak digunakan karena efikasinya yang lebih tinggi. Artikel ini diharapkan dapat menjadi acuan para klinisi dalam memilih skabisida yang tepat bagi penderita
Uji Daya Hambat Sediaan Sampo Air Perasan Jeruk Purut (Citrus hystrix) Terhadap Pertumbuhan Microsporum gypseum
The shampoo is a dosage material used as a hair cleanser and epicarp head, especially the problem of dandruff caused by fungus. Kaffir lime has the content of essential oils, flavonoids and tannins are efficacious as an antifungal. The purpose of this study was to test the shampoo of kaffir lime and to know its inhibitory power to growth of Microsporum gypseum fungus. The type of this research is experiment with using agar diffusion method. Samples studied were epicarp juice of lime and mesocarp of kaffir lime with concentration respectively 10%, 20%, 30%, 40%, 50%. Shampoo dosage evaluation tests include inhibitory test, organoleptic test, pH test, high foam test and wetting test. The results showed that the lime mesocarp juice had inhibitory at 10% (13,09 mm) concentration, 20% (14,9 mm) concentration, 30% (18,52 mm) concentration, 40% concentration (20,86 mm ) and a concentration of 50% (22.53 mm). While the results of epicarp water of lime juice have a weak inhibitory power with a concentration of 10% (5,66 mm), Concentration of 20% (7,09 mm), concentration of 30% (8,09 mm), concentration of 40% (10,19), and concentration of 50% (11,36). Effective concentration on the preparation of shampoo preparations is the concentration of 20% and 30% of the lime juice mesocarp juice. The results of the evaluation test of two anti-dandruff shampoo formulations meet the requirements of a good shampoo and have respective inhabitants of F1 (20%) has a resistance of 14,54 mm and F2 (30%) has a resistance of 19,12 mm. Both dosage preparations are anti-dandruff.Sampo merupakan bahan sediaan yang digunakan sebagai pembersih rambut dan epicarp kepala terutama masalah ketombe yang disebabkan oleh jamur. Buah jeruk purut memiliki kandungan senyawa minyak atsiri, flavonoid dan tanin yang berkhasiat sebagai antijamur. Tujuan penelitian ini untuk menguji sampo dari jeruk purut dan mengetahui daya hambatnya terhadap pertumbuhan jamur Microsporum gypseum. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan menggunakan metode difusi agar. Sampel yang diteliti adalah air perasan epicarp jeruk purut dan mesocarp jeruk purut dengan konsentrasi masing-masing 10%, 20%, 30%, 40%, 50%. Uji evaluasi sediaan sampo meliputi uji daya hambat, uji organoleptis, uji pH, uji tinggi busa dan uji waktu membasahi. Hasil penelitian menunjukkan air perasan mesocarp jeruk purut memiliki daya hambat pada konsentrasi 10% (13,09 mm), konsentrasi 20% (14,9 mm), konsentrasi 30% (18,52 mm), konsentrasi 40% (20,86 mm) dan konsentrasi 50% (22,53 mm). Sedangkan hasil dari air perasan epicarp jeruk purut memiliki daya hambat yang lemah dengan konsetrasi 10% (5,66 mm), Konsentrasi 20% (7,09 mm), konsentrasi 30% (8,09 mm), konsentrasi 40% (10,19), dan konsentrasi 50% (11,36). Konsentrasi efektif pada pembuatan sediaan sampo adalah konsentrasi 20% dan 30% dari air perasan mesocarp buah jeruk purut. Hasil uji evaluasi sediaan dari dua formulasi sampo anti ketombe memenuhi persyaratan sampo yang baik dan mempunyai daya hambat masing-masing yaitu F1(20%) memiliki daya hambat 14,54 mm dan F2(30%) memiliki daya hambat 19,12 mm. Kedua sediaan sampo bersifat anti ketombe
ANALISIS CEMARAN LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) PADA LIPSTIK YANG DIJUAL DI KOTA BANDA ACEH SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM
One of the cosmetic preparations that have become the main cosmetics for women is lipstick. The lipstick used must be free from contamination, especially heavy metal contaminants such as lead (Pb). Requirements for the content of lead (Pb) in cosmetics according to BPOM RI Number Hk.03.1.23.07.11.6662 the Year 2011, do not exceed the threshold value of 20 mg/kg or 20 ppm. This study aims to measure the concentration of the heavy metal lead (Pb) in lipstick preparations measured in Banda Aceh City by atomic absorption spectrophotometry. The population in this study were all lipstick samples sold in the city of Banda Aceh. Lipstick sampling was carried out by a random sampling method, as many as five lipstick samples. The results showed that the lead levels in sample code 1 were 6.83 mg / kg, sample 2 was 0.12 mg / kg, sample 3 was 0.72 mg / kg, sample 4 was 2.99 mg / kg and sample 5 is 1.2 mg / kg. So it can be denied that of the five lipstick samples all of them meet the requirements, the threshold value of lead (Pb) contamination in the sample is still below 20 mg/kg or 20 ppm.Salah satu sediaan kosmetika yang telah menjadi kosmetika utama bagi para wanita adalah lipstik. Lipstik yang digunakan harus terbebas dari cemaran terutama cemaran logam berat seperti timbal (Pb). Persyaratan kandungan cemaran logam berat timbal (Pb) dalam kosmetik menurut BPOM RI Nomor Hk.03.1.23.07.11.6662 Tahun 2011, tidak melebihi nilai ambang batas sebesar 20 mg/kg atau 20 ppm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi logam berat timbal (Pb) dalam sediaan lipstik yang beredar di Kota Banda Aceh secara spektrofotometri serapan atom. Populasi dalam penelitian ini yaitu sampel lipstik yang dijual dikota Banda Aceh, pengambilan sampel lipstik dilakukan dengan metode random sampling, sebanyak lima sampel lipstik. Hasil penelitian diperoleh kadar timbal bertutut-turut pada sampel kode sampel 1 yaitu 6,83 mg/kg, sampel 2 yaitu 0,12 mg/kg, sampel 3 yaitu 0,72 mg/kg, sampel 4 yaitu 2,99 mg/kg dan sampel 5 yaitu 1,2 mg/kg. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari lima sampel lipstik keseluruhannya memenuhi persyaratan, nilai ambang batas cemaran logam berat timbal (Pb) dalam sampel masih dibawah 20 mg/kg atau 20 ppm.
 
Antibacterial Activity Test of Ethanol Extract from Dried Simplicia Garlic (Allium sativum L.) Against Bacillus cereus Bacteria
This research is aimed to find out the extract activity dried simplisia of garlic (Allium sativum L.) as an antibacterial which is capable to inhibiting growth of Bacillus cereus bacterium, to find out the alkaloid secondary of metabolites, flavonoid, tannin and saponin that contained in dried extract of garlic and to find out a concentration that has the most antibacterial activity which is capable to inhibiting growth of Bacillus cereus bacterium. Garlic was extracted by maceration method using a solvent ethanol 96%. After the extract obtaned, then phtochemical screening and standardization test. Thickening technique by evaporation used vacum rotary evaporator until thick extarct was obtained. Antibacterial activity thest by using disk diffusion method. This research was used seven concentrations which were 20% (b/v), 30% (b/v). 40% (b/v), 50% (b/v), 60% (b/v), 80% (b/v)and100% (b/v). The result of phytochemical screening test, ethanol extract garlic (Allium sativum L.) positive contained compound alkaloid, flavonoid, saponin and tannin. Standardization of power simplisia fulfill the requirements set by Depkes RI 2000. The result of activity test of optimum antibacterial was obtained inhibitory power with the number 27 mm on 40% (b/v) concentration. This proves that garlic (Allium sativum L.) have antibacterial affects against Bacillus cereus bacteriu
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lamk.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus epidermis, DAN Salmonella typhi
Jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.) have health benefits as an antimicrobial. The leaves contain flavonoids, tannins, saponins which act as antimicrobials. The purpose of this study was to study the potential antibacterial activity of ethanol extract of jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.) On the bacteria Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, and Salmonella typhi. This research conducted with an experimental method that included the collection and processing of samples, the examination of the simplicia characterization and phytochemical screening. The concentration of jackfruit leaf ethanol extract. Used was at a concentration of 500 mg mL, 400 mg/mL, 300 mg/mL, 200 mg/mL, 100 mg/mL, 100 mg/mL, 50 mg/mL , 25 mg/mL, 10 mg/mL 30 mg/ml chloramphenicol and blanks. Using the disk diffusion method to measure the clear zone against the bacteria Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, and Salmonella typhi. Antimicrobial inhibition of ethanol extract of jackfruit leaves against Staphylococcus aureus bacteria at a concentration of 500 mg/mL has a strong antibacterial inhibition with a diameter of 10.8 mm. The bacteria Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, and Salmonella typhi at a concentration of 500 mg/mL have inhibitory power, 9.2 mm, 9.6 mm, and 8.8 mm in the medium category. Positive control chloramphenicol has powerful antibacterial inhibition with an inhibition zone diameter of 28.6 mm.Daun nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) mempunyai manfaat bagi kesehatan sebagai anti mikroba. Daun nangka mengandung flavonoid, tanin, saponin yang bersifat sebagai antimikroba. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, dan Salmonella typhi. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental meliputi pengumpulan dan pengolahan sampel, pemeriksaan karakterisasi simplisia dan skrining fitokimia. Konsentrasi Ekstrak etanol daun nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) yang digunakan adalah pada konsentrasi 500 mg/mL, 400 mg/mL, 300 mg/mL, 200 mg/mL, 100 mg/mL, 50 mg/mL, 25 mg/mL, 10 mg/mL kloramfenikol 30 mg/ml dan blanko. Menggunakan metode disc diffusion untuk mengukur zona bening terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, dan Salmonella typhi. Daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 500 mg/mL memiliki daya hambat antibakteri yang kuat dengan diameter 10,8 mm. Bakteri Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, dan Salmonella typhi pada konsentrasi 500 mg/mL memiliki daya hambat, 9,2 mm, 9,6 mm, dan 8,8 mm dengan kategori sedang. Kontrol positif yaitu kloramfenikol memiliki daya hambat antibakteri yang sangat kuat dengan diameter zona hambat 28,6 mm
UJI EFEKTIVITAS AFRODISIAKA EKSTRAK ETANOL ALBEDO (MESOCARP) SEMANGKA (Citrullus lanatus (Thunb.) Matsumura & Nakai) PADA MENCIT (Mus musculus)
Sexual dysfunction is a condition where sexual intercourse is difficult. Sexual dysfunction includes erectile dysfunction, impotence, premature ejaculation and disorders of desire (libido). One of the ways to overcome sexual disorders is by using aphrodisiac. Aphrodisiac is a kind of stimulating substance that can increase sex drive. One of the fruits that has an aphrodisiac effect is watermelon, precisely on the white layer on the skin that contains citrulline. This study aims to determine the aphrodisiac potential and the number of effective doses of watermelon albedo (mesocarp) ethanol extract (WAEE) against mice using ICC (Introducing, Climbing and Coitus). This research is an experimental study using 30 mice and divided into 5 groups. Group I (negative control) CMC 0.5%; group II (positive control) Pasak Bumi herbal medicine; group III; IV; V WAEE at a dose of 7; 13; and 27 g / kgBB. The mice were given orally and the ICC intensity was calculated. ICC intensity was statistically analyzed using the One Way ANOVA method and Duncan's Post-Hoc test using SPSS 24.0. The results of the ICC intensity statistical test between the Pasak Bumi herbal medicine and EEAS groups showed no significant difference with a value of α> 0.05. From the results of the study it can be concluded that EEAS has the potential as an aphrodisiac in mice with the most effective dose of 13 g / kgBW.Disfungsi seksual merupakan suatu keadaan yang mengalami kesulitan dalam berhubungan seksual. Disfungsi seksual meliputi disfungsi ereksi, impotensi, ejakulasi dini dan gangguan hasrat (libido). Pengatasan gangguan seksual salah satunya dengan menggunakan afrodisiaka. Afrodisiaka merupakan semacam zat perangsang yang dapat meningkatkan gairah seks. Salah satu buah yang memiliki efek afrodisiaka yaitu buah semangka, tepatnya pada lapisan putih pada kulit yang mengandung sitrulin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi afrodisiaka dan jumlah dosis yang efektif dari ekstrak etanol albedo (mesocarp) semangka (EEAS) terhadap mencit dengan menggunakan ICC (Introducing, Climbing and Coitus). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan 30 ekor mencit dan dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I (kontrol negatif) CMC 0,5 %; kelompok II (kontrol positif) jamu pasak bumi; kelompok III; IV;V EEAS dengan dosis 7; 13; dan 27 g/kgBB. Pemberian pada mencit secara oral dan dihitung intensitas ICC. Intensitas ICC dianalisis secara statistik menggunakan metode One Way ANOVA dan uji Post-Hoc Duncan menggunakan SPSS 24.0. Hasil uji statistik intensitas ICC antara kelompok jamu pasak bumi dan EEAS menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dengan nilai α > 0,05. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa EEAS berpotensi sebagai afrodisiaka pada mencit dengan dosis yang paling efektif sebesar 13 g/kgBB