Journal of Pharmaceutical And Sciences (JPS)
Not a member yet
    124 research outputs found

    PENGARUH INTERESTERIFIKASI LEMAK SAPI TERHADAP PROFIL LIPIDA MARMUT

    No full text
    Properties of fats are determined by the composition and position (sn-1,2,3) of fatty acids in the fat molecule. Palmitic acid is one of the most atherogenic fatty acids in the sn-2. Interesterification will change the position of palmitic acid in the fat molecule. This study aimed to determine the effect of interesterification on the atherogenic properties of fat. The fat used was beef, extracted by dry rendering, and chemically interesterified using a Na-methoxide catalyst for 20, 30, 60, 90, and 120 minutes. The melting point of the fat was measured using a melting point apparatus then given to guinea pigs. For 21 days, the propyl lipid was measured using the enzymatic method using a micro lab 300 spectrophotometers. The melting point of beef fat from interesterification for 60 minutes was constant, meaning the reaction was complete. Interesterification of beef fat showed an increase in atherogenicity seen from the increase in total cholesterol, triglyceride, LDL and decreased HDL levels after interesterification, respectively 69.20 ± 20.24; 68.60 ± 18.81; 40.43 ± 15.18; 14.33 ± 3.01 mg/dl compared with no interesterification 62.27 ± 16.02; 62.87 ± 14.08; 37.84 ± 13.41; 11.80 ± 2.15 mg/dl (ANOVA, P < 0.05).Sifat aterogenik lemak ditentukan oleh komposisi dan posisi (sn-1,2,3) asam lemak dalam molekul lemak Asam palmitat merupakan salah satu asam lemak yang paling bersifat aterogenik jika berada pada posisi sn-2. Interesterifikasi akan mengubah posisi asam palmitat dalam molekul lemak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh interesterifikasi terhadap sifat aterogeniklemak. Lemak yang digunakan adalah lemak sapi yang diekstraksi dengan cara dry rendering dan diinteresterifikasi secara kimia dengan menggunakan katalisator Na-metoksida selama 20, 30, 60, 90, dan 120 menit, kemudian titik lebur lemak diukur dengan menggunakan melting point apparatus, kemudian diberikan pada marmut secara oral selama 21 hari lalu dilakukan pengukuran propil lipida dengan metode enzimatis menggunakan spektrofotometer mikrolab 300. Hasil pengukuran titik lebur lemak sapi hasil interesterifikasi selama 60 menit sudah konstan artinya reaksi sudah sempurna. Interesterifikasi lemak sapi menunjukkan adanya peningkatan aterogenisitas dilihat dari peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL dan penurunan kadar HDL setelah interesterifikasi berturut-turut sebesar 69,20 ± 20,24; 68,60 ± 18,81; 40,43 ± 15,18; 14,33 ± 3,01 mg/dl dibandingkan dengan tanpa interesterifikasi 62,27 ± 16,02; 62,87 ± 14,08; 37,84 ± 13,41; 11,80 ± 2,15 mg/dl (ANOVA, P < 0,05)

    Isolasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etil Asetat Jamur Endofit Kencur (Kaempferia Galanga L.)

    Get PDF
    The aim of this research was to isolate the endophytic fungi found in leaves and rhizomes of Kaempferia galanga L. and to test its antibacterial activity. Isolation of endophytic fungi is carried out by cultivating and sub-cultivating fungi that found in leaves and rhizomes of Kaempferia galanga L.  Identification of endophytic fungi is done by its morphology macroscopically and microscopically. Antibacterial activity testing is carried out  by using the agar diffusion method. From the leaves and rhizome of Kaempferia galanga L., five isolates of endophytic fungi were identified as Torulla sp. (KG001), Mucor sp. (KG002), Fusarium sp. (KG003), Geotricum sp. (KG004), and Drechslera sp. (KG005). Three ethyl acetate extracts of the endophytic fungi Torulla sp. (KG001), Fusarium sp. (KG003), and Drechcera sp. (KG005) had antibacterial activity against Gram positive (Staphylococcus aureus and Vibrio cholera) and Gram negative bacterias (Bacillus subtilis and Eschericia coli)  at concentration of 3.75%. The ethyl acetate extract endophytic fungi that had strong antibacterial activity (10-20 mm in diameter) were Torulla sp. (KG001) and Drechslera sp. (KG005). Meanwhile, the endophytic fungi that had moderate antibacterial activity (inhibition diameter 5-10 mm) was the ethyl acetate extract Fusarium sp. (KG003).The strongest antibacterial activity was shown by the ethyl acetate extract Drechslera Sp. with an inhibitory diameter 16 mm against Vibrio cholera .Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur endofit yang terdapat pada daun dan rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) serta menguji aktivitas antibakterinya. Isolasi jamur endofit dilakukan dengan kultivasi dan subkultivasi jamur yang tumbuh dari daun dan rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) yang sebelumnya telah disterilkan pada media potato dextrose agar (PDA). Identifikasi jamur endofit dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis terhadap morfologinya. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi agar. Dari daun dan rimpang kencur diperoleh lima isolat jamur endofit  yang diidentifikasi sebagai Torulla sp. (KG001), Mucor sp. (KG002), Fusarium sp. (KG003), Geotricum sp. (KG004), dan Drechslera sp. (KG005). Tiga ekstrak etil asetat jamur endofit Torulla sp. (KG001), Fusarium sp. (KG003), dan Drechcera sp. (KG005) memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Gram positif  (Staphylococcus aureus and Vibrio cholera) dan Gram negatif (Bacillus subtilis and Eschericia coli) pada konsentrasi 3.75 %. Jamur endofit yang memiliki aktivitas antibakteri kuat (diameter hambat 10-20 mm) adalah Torulla sp. (KG001) dan Drechslera sp. (KG005). Sedangkan, jamur endofit yang memiliki aktivitas antibakteri sedang (diameter hambat 5-10 mm) adalah ekstrak etil asetat jamur Fusarium sp. (KG003). Aktivitas antibakteri terbesar ditunjukkan oleh ekstrak etil asetat isolat jamur Drechslera Sp. dengan diameter hambat 16 mm terhadap bakteri uji Vibrio cholera

    PEMANFAATAN KULIT BATANG MIMBA SEBAGAI ANTITUBERKULOSIS DIBANDINGKAN DENGAN RIFAMPISIN DAN ETAMBUTOL

    No full text
    Indonesia ranks third in the number of tuberculosis, after India and China. Treatment of tuberculosis takes a long time, and the lack of discipline in taking medication has caused the Mycobacterium tuberculosis to be resistant to many synthetic drugs that have been used so far. In contrast, the discovery of new synthetic drugs is very slow. Traditionally, neem bark (Azadirachta indica JUSS.) has been used to treat coughing up blood and phlegm, and the results of previous studies show that ethanol extract of neem bark in vitro can inhibit the growth of Mycobacterium tuberculosis. This study was conducted to determine the toxicity of neem bark extract, formulation of neem bark ethanol extract into tablet preparations, and the potential of this tablet preparation as anti-tuberculosis in vivo in animals. Neem bark extract was made by percolation using an ethanol extractor. Toxicity test was carried out in the form of an acute toxicity test on mice to calculate the LD50 value and histopathological observations of the liver, lungs, and intestines. The tablets were made by wet granulation. The potential test of tablet preparations as anti-tuberculosis was performed in vivo on animals infected with Mycobacterium tuberculosis H37Rv using a nebulizer. The results showed LD 50 = 11.85 ± 0.571, including mild toxic. The ethanolic extract of neem bark can be formulated into tablets using a 6% gelatin binder, Manihot starch and primojel as a binder, and a mixture of starch and lactose as a filler. Neem bark extract tablets can cure tuberculosis of experimental animals that have been infected with Mycobacterium tuberculosis H37RV, which is given a dose of 3 times a day two tablets (50 mg/tablet) for six weeks seen tuberculosis bacteria from +3 to negative, and a dose of 3 times a day once a day. Tablet looks from +3 to +1.Indonesia menduduki urutan ketiga dalam jumlah penderita tuberkulosis, setelah India dan Cina. Pengobatan tuberkulosis membutuhkan waktu yang panjang, dan kurangnya disiplin makan obat menyebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis sudah banyak yang resisten terhadap obat sintetis yang telah digunakan selama ini, sementara penemuan obat sintetis baru sangat lambat. Secara tradisional kulit batang mimba (Azadirachta indica JUSS.) telah digunakan untuk mengobati batuk berdarah dan berdahak, dan hasil penelitian sebelumnya bahwa ekstrak etanol kulit batang mimba secara in vitro dapat menghambat pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui toksisitas ekstrak kulit batang mimba, formulasi ekstrak etanol kulit batang mimba menjadi sediaan tablet, dan potensi sediaan tablet ini sebagai anti tuberkulosis secara in vivo pada hewan. Ekstrak kulit batang mimba dibuat secara perkolasi menggunakan penyari etanol. Uji toksisitas dilakukan berupa uji toksisitas akut pada hewan mencit dengan perhitungan harga LD50 dan pengamatan histopatologi organ hati, paru dan usus. Pembuatan tablet dilakukan dengan cara granulasi basah, dan uji potensi sediaan tablet sebagai antituberkulosis dilakukan secara in vivo pada hewan yang diinfeksikan dengan Mycobacterium tuberculosis H37Rv menggunakan nebulizer. Hasil penelitian menunjukkan LD 50 = 11.85 ± 0.571, termasuk kategori toksik ringan. Ekstrak etanol kulit batang mimba dapat diformulasikan menjadi tablet menggunakan bahan pengikat gelatin 6 %, pengembang amilum manihot dan primojel, pengisi campuran amilum dan laktosa sama banyak. Tablet ekstrak kulit batang mimba dapat menyembuhkan tuberkulosis hewan percobaan yang telah diinfeksikan dengan Mycobacterium tuberculosis H37RV, yaitu pemberian dosis 3 kali sehari 2 tablet (50 mg/tablet) selama 6 minggu terlihat bakteri tuberkulosis dari +3 menjadi negatif, dan dosis 3 kali sehari satu tablet terlihat dari +3 menjadi +1

    PROFIL FITOKIMIA SENYAWA METABOLIT SEKUNDER EKSTRAK ETANOL BUNGA SENDUDUK (Melastoma malabathricum L)

    Get PDF
    Indonesia is one of the countries that has a diversity of drugs in the world. Indonesia's tropical forest area has the second highest biodiversity in the world after Brazil. Plant (Melastoma malabathricum L) is one of the natural ingredients that can be used as traditional medicine. this study was to identify secondary metabolites contained in the extract of senduduk flower ethanol (Melastoma malabathricum L).Extraction was carried out by maceration using 96% ethanol for 7 days. The extraction obtained is then concentrated with a rotary evaporator. Secondary metabolite content was identified by flavonoid color reaction tested with Mg and HCL reagents, alkaloids were tested with mayer, dragendrof, and Wagner saponin tested by foam reaction, tannin was tested with Fecl3 reagent and triterpenoid / steroid was tested with anhydrous acetic acid reaction. Then the assertion test was carried out using thin layer chromatography (TLC).The results showed that a positive color change was shown in the presence of flavonoids, tannins, and saponins, and based on the results of the assertion test, the pleated layer chromatography test (TLC) showed positive results of flavonoids, saponins.Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman obat didunia. Wilayah hutan tropis indonesia memiliki keanekaragaman hayati tettinggi ke-2 didunia setelah Brazil. Tanaman senduduk (Melastoma malabathricum L) merupakan salah satu bahan alami yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada ekstrak etanol bunga senduduk (Melastoma malabathricum L). Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi  menggunakan pelarut etanol 96% selama 7 hari. Ekstraksi yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan alat rotary evaporator. kandungan metabolit sekunder diidentifikasi dengan reaksi warna flavonoid diuji dengan reagen Mg dan HCL, alkaloid diuji dengan mayer, dragendrof, dan wagner saponin diuji dengan reaksi busa, tanin diuji dengan reagen Fecl3 dan triterpenoid/steroid diuji dengan reaksi asam asetat anhidrat. Kemudian dilakukan uji penegasan dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukan adanya perubahan warna yang positif ditunjukkan dengan adanya mengandung flavonoid, tannin, dan saponin, dan berdasarkan hasil uji penegasan uji kromatografi lapis lipis (KLT) didapatkan hasil positif flavonoid, tannin, dan saponin. &nbsp

    STUDI FISIKOKIMIA BETASIANIN DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI UMBI BIT MERAH (Beta vulgaris L.)

    Get PDF
    Red beet tubers (Beta vulgaris L.) contain 5-O-beta-glycoside betacyanin compounds which have many benefits. One of which is an antioxidant. Activity study, have been done antioxidant acting test from red beet tubers (Beta vulgaris L.) was extracted using the Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) method using a water solvent and dried by freeze-drying method for 48 hours. Betacyanin was identified by thin-layer chromatography with Rf value 0.7166 and a wavelength of 535 nm analyzed by UV-Vis spectrophotometry. The FTIR spectrum shows that isolates contain functional groups that ware similar to betacyanin standard (Sigma Aldrich). Betasianin obtained in red beetroot extract with levels of 98.6474%. The red beetroot is stable at 40 °C and pH 5. Test its antioxidant activity using the DPPH method (1,1-diphenyl-2-picrylylhydrazyl) with a wavelength of 515.50 nm. The results of this study indicate the antioxidant activity from of red beet tubers (Beta vulgaris L.) with IC50 values of 21.8878 µg/mL, compared to IC50 values of vitamin C 7.1099 µg/mL. it can be concluded that the red beet tubers have a potent antioxidant activity (high antioxidant <50 µg / mL).Umbi bit merah (Beta vulgaris L.) mengandung senyawa betasianin 5-O-beta-glikosida yang memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antioksidan. Pada penelitian ini telah dilakukan uji antioksidan dari umbi bit merah (Beta vulgaris L.)  diekstraksi dengan metode Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) menggunakan pelarut air dan dikeringkan dengan metode freeze drying selama 48 jam. Pengujian betasianin dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dimana diperoleh nilai Rf = 0,7166 dan panjang gelombang 535 nm yang dianalisis dengan metode spektofotometri UV-Vis. Spektrum FT-IR menunjukan bahwa isolat mengandung gugus-gugus fungsi yang identik dengan betasianin standar (Sigms Alderich). Betasianin diperoleh dalam ekstrak umbi bit merah dengan kadar sebesar 98,6474 %. Umbi bit merah stabil pada suhu 40 °C dan pada pH 5. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylylhydrazyl) dengan panjang gelombang 515,50 nm. Hasil penelitian ini menunjukan adanya aktivitas antioksidan dari umbi bit merah (Beta vulgaris L.) dengan nilai IC50 21,8878 µg/mL dibandingkan dengan nilai IC50 vitamin C 7,1099 µg/mL. dapat disimpulkan bahwa umbi bit merah memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat (antioksidan tinggi <50 µg/mL)

    Studi Fisikokimia Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Sebagai Pewarna Pada Formulasi Tablet

    Get PDF
    The mangosteen peel (Garcinia mangostana L.) contains anthocyanin pigments, which has an important role in coloring. This study aims to determine the physicochemical properties of mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L.) with two methods, which is an examination with UV-Vis and FTIR spectrophotometry. Then the extract was characterized, identified, and analyzed for its stability against temperature, pH, and applied as a coloring agent in the formulation of pharmaceutical preparations (tablets). The results showed that the yield of mangosteen peel extract obtained 13.0975 %, drying losses 5.2822 %, total ash content 14.488 %, acid insoluble ash content 0.684 %, water-soluble extract content 29.58 %, extract content dissolved in ethanol 37.78 %, total anthocyanin content with λmax = 367 nm which is = 9.58 mg / 100 g and with λmax = 289 nm which is = 52.43 mg / 100 g. In this study, the anthocyanin pigment content in mangosteen peel extract cannot be used as an alternative to natural dyes for pharmaceutical preparations (tablets).Kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) mengandung pigmen antosianin yang berperan penting dalam pewarnaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisikokimia ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dengan dua metode yaitu pemeriksaan dengan spektrofotometri UV-Vis dan FTIR. Kemudian ekstrak dikarakterisasi, diidentifikasi, dan dianalisa stabilitasnya terhadap suhu dan pH, serta diaplikasikan sebagai coloring agent pada formulasi sediaan farmasi (tablet). Hasil penelitian menunjukan bahwa rendemen ekstrak kulit buah manggis didapatkan 13,0975 %, susut pengeringan 5,2822 %, kadar abu total 14,498 %, kadar abu tidak larut asam 0,684 %, kadar sari yang larut dalam air 29,58 %, kadar sari yang larut dalam etanol 37,78 %, kadar total antosianin dengan λmax = 367 nm yaitu = 9,58 mg/100g dan dengan λmax = 289 nm yaitu = 52,43 mg/100g. Pada penelitian ini kandungan pigmen antosianin di dalam ekstrak kulit buah manggis, tidak dapat menjadi alternatif penggunaan pewarna alami untuk sediaan farmasi (tablet

    PENETAPAN KADAR DILTIAZEM HCI DALAM SEDIAAN TABLET SECARA SPEKTROFOTOMETR ULTRAVIOLET

    No full text
    The rhizome of mango Curcuma is empirically used as a traditional medicine for the treatment of gastric pain, pain, and inflammation due to hemorrhoids, sore throat, bronchitis, and asthma. The aim of this study was to determine the chemical compound content of secondary metabolites and the activity of the ethanol extract of Temu Mango (Curcuma mangga Val.) on the reduction of carrageenan-induced rat paw edema. The results of a preliminary examination of the chemical content of the rhizome of Intersection mango (Curcuma mango Val.) showed the presence of glycosides, flavonoids, saponins, essential oils, and steroids. In general, the suspension of the ethanol extract of Temu Mango at doses of 50, 100, 200 mg/kg BW gave an anti-inflammatory effect that began to appear in the first half-hour and continued to increase with increasing time. An increase of 2 times the dose of the ethanol extract of Temu Mango showed an anti-inflammatory effect that was not significantly different, but with an increased dose of 4 times, it showed a significant difference. Even the ethanol extract of Intersection mango at a dose of 200 mg/kg BW gave almost the same effect as indomethacin.Diltiazem adalah obat yang dikenal sebagai derivat benzothiazepin yang termasuk dalam kelompok antagonis kalsium, digunakan dalam pengobatan hipertensi, angina pektoris dan aritmia. Tujuan dari penetian ini adalah mengaplikasikan metode spektrofotometri dan menentukan kadar diltiazem dalam sedian tablet generik dan nama dagang yang terdapat di pasaran. Metode yang digunakan yaitu secara spektrofotometri ultraviolet dalam pelarut HCI 0,1 N pada panjang gelombang 236 nm. Metode ini memiliki beberapa keuntungan antara lain dapat digunakan untuk analisis suatu zat dalam jumlah kecil, pengerjaannya cepat dan relatif lebih murah dibandingkan dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Dan hasil penentuan kadar tablet yang ferdapat di pasaran diperoleh kadar untuk tablet diltiazem generik (Kimia Farma) 107,69 ± 0,31%, tablet diltiazem generik (Indofarma) 96,97 ± 0,26%, tablet nama dagang Farmabes®(Fahrenheit) 92,20 ± 0,86%., Herbesser®(Tanabe)gg 06 $, 0,33% dan Dilmen® (Sanbe) 100,96± 0,52%. Semua tablet yang ditentukan memenuhi persyaratan kadar menurut Farmakope Indonesia edisi IV tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket

    REVIEW: EKSIPIEN UNTUK PEMBUATAN TABLET DENGAN METODE KEMPA LANGSUNG

    Get PDF
    Tablets are very popular in a pharmaceutical dosage form. Tablet preparations can be made in various ways, including by direct compression methods, wet granulation, dry granulation, fast melt granulation, and foam granulation. Each of these methods has advantages and disadvantages. The direct compression methods have the advantages of a fast process that only requires mixing and compressing. Not all active ingredients can be directly compressed because they have a weakness in the flow properties and less compressible. The direct compression process requires additional materials or excipients called filler-binders. This review article will discuss the development of excipients for the manufacture of tablets by direct compression. At present, there are many excipients for direct compression in the market, with various advantages. The excipient is a co-processed material developed from the original material which cannot be used for direct compression excipients. Various co-processing that is done at the end will produce new materials that have better properties. With the availability of various types of direct compression excipients, the formulator has a variety of choices to be applied in the formulas designed. This will provide flexibility in selecting excipients to be applied to various active substances so that they will produce a dosage form with good quality.Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang sangat popular. Sediaan tablet dapat dibuat dengan berbagai cara, diantaranya dengan metode kempa langsung, granulasi basah, granulasi kering, fast melt granulation, dan foam granulation. Masing-masing metode tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Metode kempa langsung memiliki kelebihan pada prosesnya yang cepat yaitu hanya membutuhkan proses pencampuran dan pengempaan. Tidak semua bahan aktif dapat langsung dikempa karena memiliki kelemahan pada sifat alirnya yang jelek dan tidak kompresibel. Proses kempa langsung memerlukan bahan tambahan atau eksipien yang disebut filler-binder. Artikel review ini akan mendiskusikan tentang perkembangan eksipien untuk pembuatan tablet secara kempa langsung. Saat ini banyak eksipien kempa langsung yang ditawarkan di pasar, dengan berbagai keunggulannya. Eksipien tersebut merupakan material co-processed yang dikembangkan dari material asal yang tidak dapat digunakan untuk eksipien kempa langsung. Berbagai co-processing yang dilakukan pada akhir akan menghasilkan material baru yang memiliki sifat-sifat yang lebih baik. Dengan tersedianya berbagai jenis eksipien kempa langsung, maka formulator memiliki pilihan yang beragam untuk diaplikasikan dalam formula yang dirancang. Hal ini akan memberikan keleluasaan dalam memilih eksipien untuk diaplikasikan pada berbagai zat aktif sehingga akan menghasilkan sediaan yang bermutu

    STUDI TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI PUSKESMAS RASIMAH AHMAD BUKITTINGGI

    Get PDF
    A Study of Community Knowledge Levels on the Use of Antibiotics has conducted at Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi. Less knowledge regarding the use of antibiotics can cause inaccuracy in the use of antibiotics themselves. This inaccuracy can cause health problems in the form of resistance. This study aims to determine the level of public knowledge about the use of antibiotics. Research data collection carried out using a questionnaire with a descriptive method for selecting respondents using accidental sampling techniques from one hundred respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using a computer program. Based on the results of research data, the level of knowledge shows that 17 people (17%) of respondents have less knowledgeable and 60 people (60%) of respondents have enough knowledge, and as many as 23 people (23%) have good knowledge. From these results, it can conclude that overall the level of public knowledge about the use of antibiotics is in the sufficient category. Thus increasing knowledge of the use of antibiotics needs to be further improved, one of which is to increase the role of health workers, especially pharmacists, to give information to the public through communication, information, and education (IEC) on the use of antibiotics.Telah dilakukan Studi Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Penggunaan Antibiotik Di  Puskesmas  Rasimah Ahmad Bukittinggi. Kurangnya pengetahuan terkait penggunaan antibiotik dapat menyebabkan ketidaktepatan akan penggunaan antibiotik itu sendiri. Ketidaktepatan ini dapat menimbulkan permasalahan kesehatan berupa resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan antibiotik. Alat pengumpul data menggunakan kuesioner dengan metode deskriptif dan cara pengambilan responden dengan teknik Accidental Sampling dengan jumlah responden sebanyak 100 orang dengan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Data dianalisi dengan menggunakan program komputer. Berdasarkan hasil data penelitian tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa 17 orang (17%) responden memiliki pengetahuan yang kurang, 60 orang (60%) responden memiliki pengetahuan cukup dan sebanyak 23 orang (23%) memiliki pengetahuan baik. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan antibiotik berada dalam kategori cukup. Dengan demikian peningkatan pengetahuan terhadap penggunaan antibiotik perlu lebih ditingkatkan, salah satunya adalah meningkatkan peran petugas kesehatan terutama apoteker untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat dengan cara komunikasi, memberikan informasi dan edukasi (KIE) terhadap penggunaan antibiotik. &nbsp

    FORMULASI NANOEMULSI EKSTRAK KUNYIT (Curcuma longa L.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN

    Get PDF
    Turmeric (Curcuma longa L.) is a plant commonly used as traditional medicine by the community. Curcumin from turmeric is known to have bioactive compounds that have antioxidant properties but have low solubility and bioavailability activity. Nanoemulsion was made to improve stability andbioavailability of turmeric (Curcuma longa L.). The preparation of nanoemulsion were use homogenization method at 30° C and 10° C. The extract concentration used was 30% and Tween 3% as an emulsifier. The results of this study indicate that the nanoemulsion particle size at a temperature of 30°C has a smaller size of 18.1 nm. The antioxidant activity of turmeric extract nanoemulsion preparations had IC50 of 31.16%, and 32.11%. This result is higher than the extract that is equal to 30.01%. Turmeric extract nanoemulsion is stable at high storage 40°C, and the solubility of nanoemulsion is increasedKunyit (Curcuma longa L.) merupakan tanaman yang biasa digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat. Kurkumin dari kunyit diketahui mempunyai senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai antioksidan tetapi kelarutan dan bioavailabilitasnya rendah. Untuk memperbaiki sifat tersebut, maka dibuatlah kunyit (Curcuma longa L.) dalam formulasi baru berbentuk nanoemulsi. Penelitian ini menggunakan metode homogenisasi inversi suhu 30°C dan 10°C. Konsentrasi ekstrak yang digunakan sebanyak 30% dan Tween 3% sebagai emulsifier. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran partikel nanoemulsi pada pembuatan suhu 30°C memiliki ukuran lebih kecil yaitu 18,1 nm. Aktivitas antioksidan dari sediaan nanoemulsi ekstrak kunyit memiliki IC50 sebesar 31,16% dan 32,11%. Hasil ini lebih besar dibanding ekstrak yaitu sebesar 30,01%. Sediaan nanoemulsi ekstrak kunyit stabil pada penyimpanan 40°C serta kelarutannya meningka

    106

    full texts

    124

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal of Pharmaceutical And Sciences (JPS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇