Journal of Pharmaceutical And Sciences (JPS)
Not a member yet
124 research outputs found
Sort by
EKSTRAK KULIT BUAH ANGGUR (Vitis vinifera L) SEBAGAI PEWARNA PADA FORMULASI LIPSTIK
Grapes (Vitis vinifera L.) belong to the family Vitaceae. The color of the fruit varies. There are red, green and purple. The color of this wine contains anthocyanin dyes that can be used as natural dyes to replace synthetic dyes, the colors they contain are pretty intensive, so the researchers aimed to make lipstick formulations using natural dyes from grape skins. The lipstick formulation consisted of Cera alba, lanolin, vaseline alba, cetyl alcohol, oleum ricini, carnauba wax, propylene glycol, titanium dioxide, oleum rosae, butylhydroxytoluene, tween 80, and nipagin, as well as the addition of grape skin extract with a concentration of 15 %, 20%, 25%, 30%, and 35%. Tests on the preparations made include inspection of homogeneity, melting point, lipstick strength, stability test against changes in shape, color, and odor during 30 days of storage at room temperature, smear test, pH examination, and irritation test preference test (Hedonic test). From the research results, grape skin extract can be formulated into lipstick preparations with pink to dark red colors. Lipstick preparations with grape skin extract as a dye are pretty stable, homogeneous, melting point 59°C, have good lipstick strength, pH ranges from 3.7 to 3.9 (close to the pH of the lip skin) are easy to apply with an even color, and do not irritate. Irritation the preparation preferred by 30 panelists was preparation with a concentration of 25%.Buah anggur (Vitis vinifera L.) termasuk famili Vitaceae. Warna buahnya beraneka ragam. Ada yang merah, hijau dan ungu. Warna anggur ini mengandung zat warna antosianin yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami pengganti pewarna sintetik, warna yang dikandungnya cukup intensif, sehingga peneliti bertujuan membuat formulasi sediaan lipstik dengan menggunakan pewarna alami dari kulit buah anggur. Formulasi sediaan lipstik terdiri dari cera alba, lanolin, vaselin alba, setil alkohol, oleum ricini, carnauba wax, propilen glikol, titanium dioksida, oleum rosae, butil hidroksi toluen, tween 80, dan nipagin, serta penambahan ekstrak kulit buah anggur dengan konsentrasi 15%, 20%, 25%, 30%, dan 35%. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, uji stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, uji oles, dan pemeriksaan pH, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic test). Dari hasil penelitian, ekstrak kulit anggur dapat diformulasi menjadi sediaan lipstik dengan warna merah muda sampai merah tua. Sediaan lipstik dengan ekstrak kulit anggur sebagai pewarna cukup stabil, homogen, titik lebur 59°C, memiliki kekuatan lipstik yang baik, pH berkisar 3,7-3,9 (mendekati pH kulit bibir) mudah dioleskan dengan warna yang merata, serta tidak menyebabkan iritasi. Sediaan yang disukai oleh 30 orang panelis adalah sediaan dengan konsentrasi 25%.
 
Studi In Silico Senyawa Dalam Teripang Sebagai Imunomodulator
An immunomodulator is used to normalize body conditions when the immune system is getting weaker. It is believed that sea cucumbers can increase endurance, improve the immune system, increase disease resistance, reduce chronic fatigue syndrome, and reduce stress. This is an experimental study, conducted in in-silico through molecular docking by using the PLANTS application. This study aimed to examine the structures of Holotoxins A and Cucumarioside A2-2 compounds that were broken down into some sea-cucumbers structures, including a non-sugar Stichopus japonicus, a non-sugar Cucumaria japonica, 3 sugar units of Stichopus japonicus, 3 sugar units of Cucumaria japonica, 6 sugar units of Stichopus japonicus, and 5 sugar units of Cucumaria japonica. Further, this study intended to find out the effectiveness of these structures as immunomodulators and their bioinformatics study. Routine and levamisole were used as a comparison. The code of receptor protein used was 5UO1 on the PDB. In the comparison of positive control of Rutin, several tested compounds have a same effect when compared to Rutin. These compounds included 3 sugar units of Stichopus japonicus with a calculated value of 2,37, and 3 sugar units of Cucucmaria japonica with a calculated value of 0,37. The resulting value of the three compounds was T-count < T-table. Hence, there was a meaningful not difference between the three compounds and Rutin as an immunomodulatory medicinePenggunaan imunomodulator digunakan pada keadaan tubuh yang sistem imunnya turun dengan harapan kembali normal. Teripang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh, memperbaiki sistem kekebalan, meningkatkan ketahan terhadap penyakit, merendahkan sindrom kelelahan kronis, dan dapat menurunkan stres. Desain Penelitian ini bersifat eksperimental dengan pengujian secara In Silico dengan molecular docking menggunakan aplikasi PLANTS. Tujuan dari penelitian menguji senyawa Holotoxins A dan Cucumarioside A2-2 yang strukturnya dipecah kembali menjadi struktur non gula teripang Stichopus japonicus, non gula teripang Cucumaria japonica, 3 gula teripang Stichopus japonicus, 3 gula teripang Cucumaria japonica, 6 gula teripang Stichopus japonicus, 5 gula teripang Cucumaria japonica untuk dilihat efektivitasnya sebagai imunomodulator serta kajian bioinformatikanya, sebagai pembanding digunakan rutin dan levamisol. Protein reseptor yang digunakan dengan kode 5UO1 pada PDB. Pada perbandingan kontrol positif Rutin, ada beberapa senyawa uji yang memiliki efektivitas sama baiknya apabila dibandingkan dengan Rutin, adapun senyawanya yaitu senyawa 3 gula teripang Stichopus japonicus dengan nilai Thitung 2,37 dan senyawa 3 gula teripang Cucumaria japonica dengan nilai Thitung 0,37. Kedua senyawa memiliki nilai Thitung < Ttabel sesehingga tidak ada perbedaan bermakna antara kedua senyawa dan rutin sebagai obat imunomodulato
GAMBARAN KEPATUHAN TERAPI INSULIN PASIEN DIABETES MELITUS DI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT BAITURRAHIM TAHUN 2022
Diabetes mellitus is a serious, long-term (or "chronic") condition that occurs when an increase in blood glucose levels occurs because the body cannot produce one or enough of the hormone insulin or cannot use insulin effectively. One way that can be done is to be obedient in undergoing insulin therapy to achieve the success of therapy. The purpose of this study was to determine the picture of insulin therapy compliance of diabetes mellitus patients in the Outpatient Baiturrahim Hospital based on gender, age, and level of education. The type of research carried out is descriptive observational research with a cross-sectional approach model. The sampling technique used Purposive Sampling in 35 patients. The research instrument used was the Morisky Medication Adherence MMAS-8 questionnaire. The results showed that insulin therapy adherence of diabetes mellitus patients in outpatient hospitals had high compliance of 14 patients (40%), moderate adherence of 11 patients (31%), and low compliance of 10 patients (29%).Diabetes melitus adalah kondisi serius, jangka panjang (atau “kronis”) yang terjadi ketika peningkatan kadar glukosa darah terjadi karena tubuh tidak dapat memproduksi salah satu atau cukup hormon insulin atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah patuh dalam menjalani terapi insulin agar tercapainya keberhasilan terapi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kepatuhan terapi insulin pasien diabetes melitus di Rawat Jalan Rumah Sakit Baiturrahim berdasarkan jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional deskriptif dengan model pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling pada 35 pasien. Instrument penelitian yang digunakan adalah kuesioner Morisky Medication Adherence MMAS-8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan terapi insulin pasien diabetes melitus di Rawat Jalan Rumah Sakit Baiturrahim memiliki kepatuhan tinggi sebanyak 14 pasien (40%), kepatuhan sedang sebanyak 11 pasien (31%), kepatuhan rendah sebanyak 10 pasien (29%)
FORMULASI SEDIAAN SERUM EKSTRAK DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN
Red betel leaf (Piper crocatum Ruiz & Pav.) is a plant that has medicinal and cosmetic properties. One of the cosmetics used by society today is facial serum. The purpose of this study was the formulation of facial serum from red betel leaf water extract. The water extract was obtained by means of the Pressurized Hot Water Extraction method using distilled water as a solvent, then phytochemical screening was carried out. Serum is made in several concentrations, namely 1.5% (F1); 2% (F2);3%;(F3) and blank (F0). The quality inspection of the preparation includes homogeneity test, pH, viscosity, stability, irritation test, hedonic test, and antioxidant activity test. The results of phytochemical screening of red betel leaf water extract contained alkaloids, flavonoids, tannins, saponins and triterpenoids. Red betel leaf is formulated into a homogeneous serum preparation with a temporary pH range of 6.1-6.2 after testing has a pH of 5.8-6.1 and does not irritate the skin. The results of the antioxidant activity test showed that the water extract of red betel leaf (Piper crocatum Ruiz & Pav.) was included in the "strong" antioxidant category with an IC50 value of 38.30 g/ml. The IC50 values for serum preparations F0, F1, F2 and F3 were 430.3689 g/ml (weak), 252.03 g/ml (moderate), 115.6 g/ml (moderate) and 58.13 g/ml (strong). Based on this study, it was concluded that all facial serum formulas were homogeneous, stable and did not irritate the skin and serum preparations with 3% red betel leaf water extract (F3) had the best activity in the category of strong antioxidants.Daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai khasiat sebagai obat dan kosmetika. Salah satu kosmetika yang digunakan masyarakat saat ini adalah serum wajah. Tujuan penelitian ini adalah formulasi sediaan serum wajah dari ekstrak air daun sirih merah. Ekstrak air diperoleh dengan cara metode ekstraksi Pressurized Hot Water Extraction menggunakan pelarut akuades, kemudian dilakukan skrining fitokimia. Serum dibuat dalam beberapa konsentrasi yaitu 1,5% (F1); 2% (F2);3%;(F3) dan blanko (F0). Pemeriksaan mutu sediaan meliputi uji homogenitas, pH, viskositas, stabilitas, uji iritasi, uji hedonik, serta pengujian aktivitas antioksidan. Hasil skrining fitokimia ekstrak air daun sirih merah terdapat senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan triterpenoid. Daun sirih merah diformulasikan kedalam sediaan serum yang homogen dengan rentang pH sesaat dibuat 6,1-6,2 setelah pengujian memiliki pH 5,8-6,1 dan tidak mengiritasi kulit. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak air daun sirih merah (Piper crocatumRuiz & Pav.) masuk dalam kategori antioksidan “kuat” dengan nilai IC50 38,30 µg/ml. Nilai IC50 sediaan serum F0, F1, F2 dan F3 berturut turut dengan kategori aktivitasnya adalah 430,3689 µg/ml (lemah), 252,03 µg/ml (sedang) , 115,6 µg/ml ( sedang) dan 58,13 µg/ml (kuat). Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa semua formula serum wajah homogen, stabil dan tidak mengiritasi kulit dan sediaan serum dengan ekstrak air daun sirih merah 3 % (F3) mempunyai aktvitas paling baik dengan kategori antioksidan kuat
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN BIDARA (Ziziphus mauritiana Lam) TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus mutans
Streptococcus mutans, one of the normal microflora in the mouth. Bidara leaves have antimicrobial activity against Streptococcus mutans, because bidara leaves contain various compounds including alkaloids, flavonoids, tannins, saponins. This research method is experimental using disc diffusion method. The sample of this study was Streptococcus mutans, the dilution of bidara leaf extract consisted of 4 concentrations, namely: 20%, 40%, 60%, 80%. Amoxicillin was used for positive control. The results showed that the average diameter of the inhibition zone of bidara leaf extract at a concentration of 20% with a diameter of 11.50 mm, at a concentration of 40% and 60% with a diameter of 12.50 mm and 16.06 mm, at a concentration of 80% with a diameter of 17.50mm. The conclusion is that the higher the concentration of bidara leaf extract, the more the inhibition zone formed will increase. So that bidara leaves are good for use in treating infections caused by Streptococcus mutans bacteria.Streptococcus mutans, salah satu mikroflora normal yang berada didalam mulut. Daun bidara mempunyai aktivitas antimikroba terhadap Streptococcus mutans, karena daun bidara mengandung berbagai senyawa diantaranya adalah alkaloid, flavonoid, tannin, saponin. Metode penelitian ini experimental menggunakan metode difusi cakram. Sampel penelitian ini adalah Streptococcus mutans, pengenceran ekstrak daun bidara terdiri dari 4 konsentrasi diantaranya adalah : 20%, 40%, 60%, 80%. Untuk kontrol positif digunakan amoxicillin. Hasil pengamatan menunjukan bahwa rata-rata diameter zona hambat ekstrak daun bidara pada konsentrasi 20% dengan diameter 11,50 mm, pada konsentrasi 40% dan 60% dengan diameter 12,50 mm dan 16,06 mm, pada konsentrasi 80% dengan diameter 17,50 mm. Kesimpulan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun bidara maka zona hambat yang terbentuk pun akan semakin meningkat. Sehingga daun bidara baik untuk digunakan dalam mengobati infeksi yang disebabkan bakteri Streptococcus mutans
TERAPI PENGGUNAAN OBAT ANTIDIABETIK ORAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT SWASTA, SAMARINDA.
Diabetes Mellitus is one of the most common conditions. Therefore, the management and selection of antidiabetic treatment should be a concern in installations providing therapy as primary health care providers, such as hospitals. This study was designed to examine the choice of using oral antidiabetic drugs (ADO) in general patients in the outpatient clinic of a private hospital in Samarinda. This study was conducted using a descriptive design in which data were collected retrospectively. Data were taken from general patient prescriptions in outpatient clinic of private hospitals in Samarinda in June 2022. The results showed that in June 2022 there were 8.30% single ADO therapy and 91.70% combined therapy. From the results of the study, it was found that the ADO drugs prescribed were the biaguanida (Metformin); sulfonylureas (glimepiride, gliclazide, gliquidone); acarbose; and a DPP-4 inhibitor (Vidagliptin). Overall, combination ADO therapy using two (2) drugs was found to be the most common in this study, as many as 182 cases (75.52%). The dominating combination was the combination of metformin and glimepiride, as many as 140 cases (58.09%).Diabetes Melitus merupakan salah satu kondisi yang sering ditemukan. Oleh karena itu, hendaklah tatalaksana dan pemilihan pengobatan antidiabetes menjadi perhatian di instalasi-instalasi pengadaan terapi sebagai penyedia layanan kesehatan primer, seperti rumah sakit. Penelitian ini disusun untuk mengkaji pemilihan penggunaan obat antidiabetik oral (ADO) pada pasien umum di instalasi rawat jalan rumah sakit swasta di Samarinda. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan deskriptif dimana data dikumpulkan secara retrospektif. Data diambil dari resep pasien umum di instalasi rawat jalan RS swasta di Samarinda pada bulan Juni 2022. Hasil penelitian menunjukkan pada bulan Juni 2022 terdapat 8,30% penggunaan terapi ADO tunggal dan 91,70% merupakan terapi kombinasi. Dari hasil penelitian diperoleh obat ADO yang diresepkan adalah golongan biaguanida (Metformin); sulfonilurea (glimepiride, gliclazide, gliquidone); acarbose; dan penghambat DPP-4 (Vidagliptin). Secara keseluruhan, terapi ADO dengan kombinasi menggunakan dua (2) obat ditemukan paling banyak dalam penelitian ini, sebanyak 182 kasus (75,52%). Kombinasi yang mendominasi adalah kombinasi antara metformin dan glimepiride, sebanyak 140 kasus (58,09 %)
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) DALAM SEDIAAN SERUM DENGAN METODE DPPH
The leaves of mengkudu is a native plant from Indonesia that contains flavonoid compounds that have antioxidant activity so that is beneficial for the skin. This research was conducted using the escperimental method and used test materials for ethanol extract of the leaves of the subdued by the maceration method, formulated into serum preparations in various concentrations, namely 3%, 4%, 5% and blanks, and physical quality examination of the preparations. The results of the ph test showed a ph 6,3-6,5. Serum bath results at an F3 concentration (5%) which is the preferred (best) preparation. The results of the 6% moisture content test, the results of obtaining 10,3% leaf extract. It has antioxidant activity including the (strong) category with an IC50 value of 50.40. Testing the antioxidant activity of the ethanol extract of the leaves of mengkudu (morinda citrifolia L.) belongs to the category (very strong) with an IC50 value 44.27 μg / mL, the antioxidant activity of the blanks of serum preparations including the category (inactive) with an IC50 value of 676.49 μg / mL, and all serums of this purifying leaf extract do not cause irritation to the skin.
Daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) Merupakantanamanaslidariindonesia yang mengandungsenyawa flavonoid yang memilikiaktivitasantioksidansehinggabermanfaatuntukkulit. Penelitian ini dilakukan dengan metode eskperimental dan menggunakan bahan uji ekstrak etanol daun mengkudu dengan metode maserasi, diformulasikan kedalam sediaan serum dalam berbagai konsentrasi yaitu 3%, 4%, 5% serta blanko, dan pemeriksaan mutu fisik sediaan. Hasil homogenitas sediaan menunjukan semua homogeny. Hasil uji ph menunjukan ph 6,3-6,5. Hasil sediaan serum pada konsentrasiF3 (5%) yang merupakan sediaan yang disukai (terbaik). Hasil dari uji kadar air 6%, hasil perolehan ekstrak daun mengkudu 10,3%. Memiliki aktivitas antioksidan termasuk katagori (kuat) dengan nilai IC50 50,40. Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun mengkudu (morinda citrifolia L.) termasuk katagori (sangat kuat) dengan nilai IC50 44,27 µg/mL, aktivitas antioksidan blanko sediaan serum termasuk katagori (tidak aktif) dengan nilai IC50 676,49 µg/mL, dan semua sedian serum ekstrak daun mengkudu ini tidak menyebabkan iritasi pada kuli
Isolasi Escherichia coli pada Sumber Air Baku serta Uji Resistensinya Terhadap Antibiotik Ampisilin dan Seftriakson
Citarum river pollution by fecal Coliform (Escherichia coli) is relatively high. Based on the results of monitoring in 2010 showed that the amount of E. coli in several areas drained by the Citarum river exceeded the Water Quality Limit (BMA), which was >1.000/100 ml. Citarum river irrigation is a source of raw water for one of the IPAM in Karawang, which is the source for most of the fulfillment of clean water for daily needs. E. coli can infect through water contamination so this condition can trigger the spread of the disease in the community. Diseases caused by bacterial infections are often treated with antibiotics. The use of antibiotics has increased tremendously in the last 5 decades, resulting in selective solid pressure and potentially triggering resistance in bacteria. This study aims to isolate E. coli and test its resistance to ampicillin and ceftriaxone antibiotics. The methods used in this study include presumptive test, confirmation test, Gram staining, and resistance testing using the Kirby-Bauer method, with the standard used in categorization referring to CLSI 2020. The results showed that E. coli isolates were still sensitive to ampicillin and ceftriaxone antibiotics with an inhibition zone of 26,16 mm and 33,27 mm.Pencemaran sungai Citarum oleh Coliform fecal (Escherichia coli) cukup tinggi. Berdasarkan hasil monitoring pada tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah E.coli di beberapa daerah yang dialiri oleh sungai Citarum melebihi Batas Mutu Air (BMA) yaitu > 1.000/100 ml. Irigasi sungai Citarum merupakan sumber air baku bagi salah satu IPAM di Karawang, yang merupakan sumber bagi sebagian besar pemenuhan air bersih bagi kebutuhan sehari-hari. E.coli dapat menginfeksi melalui kontaminasi air, sehingga dikhawatirkan kondisi ini dapat memicu penyebaran penyakit di masyarakat. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri sering diobati dengan antibiotik. Pemakaian antibiotik telah mengalami peningkatan yang luar biasa selama 5 dekade terakhir sehingga mengakibatkan tekanan selektif yang kuat dan berpotensi memicu kejadian resistensi pada bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi E.coli serta menguji resistensinya terhadap antibiotik ampisilin dan seftriakson. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji pendugaan, uji penegasan, pewarnaan Gram dan pengujian resistensi menggunakan metode Kirby-Bauer dengan standar yang digunakan dalam melakukan kategorisasi mengacu pada CLSI 2020. Pada hasil penelitian didapatkan isolat E.coli yang kemudian dilakukan pengujian resistensi dengan hasil masih sensitif terhadap antibiotik ampisilin dan seftriakson dengan zona hambat masing-masing 26,16 mm dan 33,27 mm
Evaluasi Penyimpanan Obat Di Rumah Pada Masyarakat Bekasi Utara
When someone is sick, especially sick with mild complaints. People tend to do self-medicate before deciding to go to see professionals. These treatment actions includes a person action to obtaining drugs, using drugs, storing drugs and dispose of drugs. Storing medicine at home is an effort behavior of someone to self-medication and treatment of chronic disease. Improper storage of drugs can lead to irrational drug use, waste of health resources, and risks to human health, which is a bad impact. This study aims to identify how to store drugs in the people of North Bekasi to avoid inappropriate drug storage. The method used is descriptive analytic with instrument in the form of a questionnaire, data taken from february-april. A total of 166 respondents met the criteria, being compared to the way of storing drugs according to BPOM with the results were 83 (50.0%) respondents stored drugs properly and 83 (50.0%) respondents stored drugs poorly.Ketika seseorang sakit, khususnya sakit dengan keluhan yang ringan. Masyarakat cenderung melakukan pengobatan sendiri terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk pergi ke profesional. Tindakan pengobatan ini antara lain mencakup tindakan seseorang untuk mendapatkan obat, menggunakan obat, menyimpan obat dan membuang obat. Menyimpan obat di rumah adalah perilaku dalam upaya swamedikasi dan pengobatan dari penyakit kronis. Penyimpanan obat yang tidak tepat dapat memicu penggunaan obat yang tidak rasional, pemborosan sumber daya kesehatan, dan risiko kesehatan manusia yang mana merupakan dampak yang buruk. Melakukan penyimpanan obat yang telah disesuaikan dengan ketentuan yang tertera pada masing-masing obat merupakan langkah penyimpanan obat yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana penyimpanan obat pada masyarakat di kecamatan Bekasi Utara untuk menghindari penyimpanan obat yang kurang tepat. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan digunakan instrumen berupa kuesioner, data yang diambil dari bulan februari-april. Sebanyak 166 responden memenuhi kriteria dibandingkan dengan cara penyimpanan obat menurut BPOM dengan didapati hasil yaitu 83 (50,0%) responden melakukan penyimpanan obat dengan baik dan 83 (50,0%) responden menyimpan obat dengan kurang baik
The Analisis Kesesuaian Terapi Skabies terhadap Panduan Praktik Klinis (PPK) di Puskesmas Songgon, Banyuwangi
Introduction: Scabies is an infectious ectoparasitic disease that is still a public health problem in Indonesia. There are differences in the pattern of prescribing or therapy in various health facilities.
.Aim of study: Knowing the suitability of scabies therapy against the Clinical Practice Guidelines (PPK) at the Songgon Health Center, Banyuwangi.
Method: This study uses a descriptive analysis design with a retrospective study. This study looked at the medical record data of random patients with a diagnosis of scabies from February to May 2021 at the Songgon Health Center, Banyuwangi.
Results and Discussions: Overall, there were 7 treatments given to patients with a diagnosis of scabies, which corresponded to PPK only 2 types of drugs (28%), with deviations from PPK, namely 5 types of drugs (72%). It was found that 22 respondents (56%) received 2-4 ointment therapy, 16 respondents (41%) received 5% permethrine therapy, 1 respondent (3%) did not receive definitive line therapy for scabies. The rate of non-adherence to therapy is 3% related to definitive treatment of scabies.
Conclusions: Scabies therapy at the Songgon Health Center, Banyuwangi has not been in accordance with the Clinical Practice Guidelines (CPG).Latar Belakang: Skabies merupakan penyakit infeksi ektoparasit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Terdapat perbedaan pola peresepan atau terapi di berbagai fasilitas kesehatan.
Tujuan Penelitian: Mengetahui kesesuaian terapi skabies terhadap Panduan Praktik Klinis (PPK) di Puskesmas Songgon, Banyuwangi.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain analisis deskriptif dengan studi retrospektif. Penelitian ini melihat data rekam medik pasien secara acak dengan diagnosis skabies dari bulan Februari sampai Mei 2021 di Puskesmas Songgon, Banyuwangi.
Hasil Penelitian: Secara keseluruhan, terdapat 7 terapi yang diberikan pada pasien dengan diagnosis skabies, yang sesuai dengan PPK hanya 2 jenis obat (28%), dengan penyimpangan dari PPK yaitu 5 jenis obat (72%). Didapatkan 22 responden (56%) mendapatkan terapi salep 2-4, 16 responden (41%) mendapatkan terapi permethrine 5%, 1 responden (3%) tidak mendapatkan terapi lini definitif untuk skabies. Angka ketidaksesuaian terapi sebesar 3% terkait terapi definitif skabies.
Kesimpulan: Terapi skabies di Puskesmas Songgon, Banyuwangi belum sesuai dengan Panduan Praktik Klinis (PPK)