Journal of Pharmaceutical And Sciences (JPS)
Not a member yet
    124 research outputs found

    Adsorpsi Zat Warna Naphtol Blue Black (NBB) Menggunakan Kitosan dari Cangkang Udang yang Terimobilisasi pada Pelat Kaca

    Full text link
    The adsorption of naphtol blue black (NBB) dye using immobilized chitosan on the glass plates had been investigated. The chitosan is derived from chitin deacetylation shrimp shells waste with the degree of deacetylation of chitosan is 75.7%. The produced chitosan were analyzed using FTIR and SEM. The effects of different reaction parameters such as mass of adsorbent, initial pH of solution and initial dye concentration were studied for the adsorption NBB dye. The results from this research showed that 30 mg of adsorbent mass at initial pH 6.0 yielded the optimum conditions for the adsorption of 30 mg/L NBB dye solution at the immobilized chitosan interface with the percentage removal of the dye is 97.187%. The equilibrium adsorption data of this research were analyzed by Langmuir and Freundlich isotherm models.  The maximum adsorption capacity is obtained by using Freundlich isotherm with a correlation coefficient (R2) for 0,989 is greater than the value (R2) 0.968 of Langmuir isotherm which the nF and Kf values were 3.56 and 41.78 L/g respectively. The maximum adsorption capacity (qmax) calculated from the Langmuir model is found to be 45,45 mg/g. The kinetics of the NBB dye adsorption nicely followed the pseudo-first rate which demonstrates that physisorption is the possible rate-limiting step controlling the adsorption process in this research.Adsorpsi zat warna Naphtol Blue Black (NBB) Menggunakan khitosan terimobilisasi pada pelat kaca telah diteliti. Khitosan diperoleh dari deasetilasi khitin pada kulit udang dengan derajat deaasetilasi khitosan sebesar 75,7%. Khitosan yang dihadlikan dianalisis menggunakan FTIR dan SEM. Pengaruh perbedaan parameter reaksi seperti massa adsorben, pH awal larutan dan konsnetrasi awal zat warna dipelajari untuk adsorpsi zat warna NBB. Hadil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 30 mg massa adsorben pada pH awal 6,0 menghadilkan kondisi optimum untuk adsorpsi 30 mg/L larutan zat warna NBB pada khitosan terimobilisasi dengan persentase penyerapan zat warna sebesar 97,187%. Kesetimbangan data adsorpsi dari penelitian ini dianalisis dengan model isotherm Langmuir dan Freundlich. Kapasitas adsorpsi maksimum diperoleh menggunakan isoterm Freundlich dengan nilai koefisien korelasi (R2) 0,989 lebih besar dibandingkan nilai (R2) 0,968 dari isoterm Langmuir dimana nilai nF dan Kf masing-masing 3,56 dan 41,78 L/g. Kapasitas adsorpsi maksimum (qmax) dihitung menggunakan model Langmuir yaitu 45,45 mg/g. Kinetika dari adsorpsi zat warna NBB baik mengikuti laju kinetika ode satu semu yang menunjukkan bahwa fisisorpsi kemungkinan sebagai laju pembatas yang mengontrol proses adsorpsi pada penelitian ini

    Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Bunga Tapak Dara (Catharanthus roseus) Terhadap Bakteri Streptococcus pneumoniae dan Bakteri Klebsiella pneumoniae

    Full text link
    Background: Pneumonia is an acute infection of the lung tissue (alveoli) which can be caused by bacteria, viruses, and fungi. Most are caused by bacteria. Symptoms include high fever accompanied by coughing up phlegm, rapid breathing (breathing frequency >50 breaths/minute), shortness of breath, and other symptoms (headache, restlessness and decreased appetite). Objective: to determine the antibacterial activity and the best concentration of the methanol extract of the vinca flower against Streptococcus pneumoniae and Klebsiella pneumoniae bacteria. Methods: This study was experimental research design, namely experimental activities that determined the independent and dependent variables, also the research parameters. The research phase included sampling, making simplicia, making extracts, testing the characteristics of simplias and extracts, testing the inhibition of vinca flower extract against pathogenic bacteria (Streptococcus pneumoniae and Klebsiella pneumoniae) with a comparison of doxycycline antibiotics.. Result: the methanol extract of the vinca flower had antibacterial activity against Streptococcus pneumoniae and Klebsiella pneumoniae bacteria. Where the antibacterial activity test of the methanol extract of the vinca flower on Streptococcus pneumoniae bacteria showed an average inhibition zone of each concentration, namely: 10% (12.6 mm), 15% (13.26 mm), 20% (15.26 mm). And the bacteria Klebsiella pneumoniae showed the average inhibition zone of each concentration was 10% (12.86 mm), 15% (13.71 mm), 20% (15.86 mm). Conclusion: was vinca flower extract has antibacterial activity and the best concentration to inhibit Streptococcus pneumoniae and Klebsiella pneumoniae bacteria is a concentration of 20%.Pendahuluan: Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Sebagian besar disebabkan oleh bakteri. Adapun gejala berupa panas tinggi disertai batuk berdahak, napas cepat (frekuensi nafas >50 kali/menit), sesak, serta gejala lainnya (sakit kepala, gelisah dan nafsu makan berkurang). Tujuan: untuk mengetahui aktivitas anti bakteri dan konsentrasi yang paling baik dari ekstrak metanol bunga tapak dara terhadap bakteri Streptococcus pneumonia dan Klebsiella pneumoniae. Metode: pada penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental, yaitu kegiatan percobaan yang bertujuan untuk mengetahui variable bebas, variabel terikat dan juga parameter dari penelitian. Tahap penelitian meliputi pengambilan sampel, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak, pengujian karateristik simplia dan ekstrak, uji daya hambat ekstrak bunga tapak dara terhadap bakteri patogen (Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae) dengan perbandingan antibiotik doksisiklin. Hasil: ekstrak metanol bunga tapak dara memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus pneumonia dan Klebsiella pneumonia. Dimana uji aktivitas antibakteri ekstrak metanol bunga tapak dara pada bakteri Streptococcus pneumonia menunjukkan rata-rata zona hambat masing konsentrasi yaitu : 10% (12,6 mm), 15% (13,26 mm), 20% (15,26 mm). Dan pada bakteri Klebsiella pneumoniae menunjukkan rata-rata zona hambat masing konsentrasi yaitu 10% (12,86 mm), 15% (13,71 mm), 20% (15,86 mm). Kesimpulan: bahwa ekstrak metanol bunga tapak dara memiliki aktivitas antibakteri dan konsentrasi yang paling baik untuk menghambat bakteri Streptococcus pneumonia dan Klebsiella pneumonia adalah konsentrasi 20%

    GAMBARAN KUALITAS HIDUP PADA WANITA DENGAN DIABETES MELLITUS

    Full text link
    Latar belakang: Salah satu tujuan utama dalam terapi pengobatan adalah untuk memperbaiki kualitas hidup pasien. Kebanyakan pasien diabetes mellitus memiliki kualitas hidup yang rendah terutama pada pasien Wanita. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran kualitas hidup pasien wanita dengan diabetes mellitus.  Metodologi: Penelitian dilakukan secara deskriptif dan cross sectional. Metode pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling pada responden yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Gambaran kualitas hidup diukur menggunakan kuisioner WHOQOL-BREF yang terdiri dari 26 buah pertanyaan. Hasil:  Dalam penelitian ini diperoleh sampel sebesar 58 orang responden wanita dengan diabetes mellitus. Sebagian besar responden berusia 41-60 tahun (60,34%), menderita diabetes mellitus selama < 5 tahun (58,62%), dan tanpa komplikasi (67,24%). Hasil gambaran kualitas hidup responden sebagian besar memiliki kualitas hidup sedang sebanyak 38%, kualitas hidup buruk sebanyak 34%, kualitas hidup baik sebanyak 24%, dan kualitas hidup sangat baik sebesar 4%. Kesimpulan: Gambaran kualitas hidup pada wanita dengan diabetes mellitus adalah sedang.Background: The main goal of therapeutic treatment is improved the patient quality of life. Most diabetes mellitus patient have low quality of life especially in female. Therefore this study aims to identify the quality of life among female with diabetes mellitus. Methodology: the method of this sudy was descriptive and cross sectional. Respondent who meets inclusion criteria were included in this study. Quality of life were analyzed using WHOQOL-BREF questionnaire. Results: there were 58 female respondent include in this study. Majority of female respondent were 41-60 years old (60,34%), diagnosed with diabetes mellitus for less than 5 years (58,62%) with no complication (67,24%). According to WHOQOL-BREF questionnaire majority female respondent have moderate quality of life (38%), followed by low quality of life (34%), good quality of life (24%) and very good quality of life (4%). Conclusion: Majority of female respondent with diabetes mellitus have moderate quality of life

    Perbandingan Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum sanctum) dan Daun Sambiloto (Andrographis paniculata) Terhadap Pertumbuhan Escherichia coli

    Full text link
    Escherichia coli infection can be treated with antibiotics. However, antibiotic resistance can occur if its use is inappropriate for adopting alternative therapies, including developing therapy with the potential of medication based on plants. Sambiloto (Andrographis paniculata) and kemangi (Ocimum sanctum) leaves are two substitutes that can be utilized in medicine as antibacterial agents. This research was conducted to analyze the comparison of inhibition of kemangi (Ocimum sanctum) leaves, sambiloto (Andrographis paniculata) leaves, and a combination of both against the growth of Escherichia coli bacteria in vitro. Test for inhibition activity used a paper disc diffusion method. The results showed that the extract of kemangi (Ocimum sanctum) leaves and sambiloto (Andrographis paniculata) leaves obtained the highest inhibition zone occurring at concentrations of 100%. In the combination test of the two extracts, a concentration of 50%:50% gave the most optimum inhibition zone with an average diameter of 33,1 mm. The one-way ANOVA statistical (p=0.001) results showed a significant difference in the diameters of the inhibition zone of each treatment group on the growth of Escherichia coli bacteria.Penanganan infeksi Escherichia coli dapat diatasi dengan penggunaan antibiotik. Namun, resistensi antibiotik dapat terjadi jika penggunaannya tidak tepat. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan pengobatan alternatif dengan memanfaatkan tumbuhan sebagai terapi dasar yang mungkin sebagai obat. Daun kemangi ( Ocimum sanctum ) dan daun sambiloto ( Andrographis paniculata ) merupakan alternatif yang dapat digunakan dalam pengobatan sebagai zat antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya hambat pada daun kemangi ( Ocimum sanctum ) dan daun sambiloto ( Andrographis paniculata ) serta kombinasi keduanya terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara in vitro. Uji aktivitas daya hambat menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kemangi ( Ocimum sanctum ) dan daun sambiloto ( Andrographis paniculata ) memperoleh zona penghambatan tertinggi pada konsentrasi 100%. Pada uji kombinasi kedua ekstrak, konsentrasi 50%:50% memberikan zona hambat paling optimum dengan diameter rata-rata 33,1 mm. Hasil statistik one-way ANOVA (p=0,001) menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada diameter zona hambat dari masing-masing kelompok perlakuan terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli

    PENGARUH FAKTOR PERILAKU KELUARGA TERHADAP PENERAPAN PHBS PADA TATANAN RUMAH TANGGA DI KELURAHAN TIMBANG LANGKAT KECAMATAN BINJAI TIMUR KOTA BINJAI

    Full text link
    Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) reflects a family's lifestyle that always pays attention to and maintains the health of all family members and can play an active role in health activities in the community. The study aimed to determine the effect of family behaviour factors on the implementation of PHBS in household arrangements in Timbang Langkat Village, East Binjai District, Binjai City. The research design used a quantitative method carried out by an analytical survey with a Cross-Sectional Study approach. The population in this study were all people in Timbang Langkat Village, as many as 1,786 homemakers. The sample using the Accidental Sampling system was 95 homemakers. Data analysis used univariate, bivariate and multivariate analysis. The results showed a relationship between education, social status, knowledge, attitudes and roles of health workers in implementing PHBS in household arrangements in Timbang Langkat Village, East Binjai District, Binjai City. At the same time, the most dominant factor is knowledge p = 0.000 <0.05 and 95% CI = 6.361-600,181 with OR = 61.789. This study concludes that there is education, knowledge, social status attitudes and health workers' role in applying PHBS in household arrangements in Timbang Langkat Village, East Binjai District, Binjai City. It is suggested to the Kelurahan to provide socialization and education in collaboration with the puskesmas about the importance of implementing PHBS in households and conducting cooperation programs, hand washing programs with soap, and other programs aimed at implementing PHBS in order to create a healthy and clean environment.Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan cerminan pola hidup keluarga yang senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh faktor perilaku keluarga terhadap penerapan PHBS pada tatanan rumah tangga di Kelurahan Timbang Langkat Kecamatan Binjai Timur Kota Binjai. Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif yang dilakukan survei analitik dengan pendekatan Cross Sectional Study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang ada di Kelurahan Timbang Langkat sebanyak 1.786 orang ibu rumah tangga. Sampel menggunakan sistem Accidental Sampling sebanyak 95 ibu rumah tangga. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pendidikan, status social, pengetahuan, sikap dan peran petugas kesehatan terhadap penerapan PHBS pada tatanan rumah tangga di Kelurahan Timbang Langkat Kecamatan Binjai Timur Kota Binjai. Sedangkan faktor yang paling dominan yaitu pengetahuan p = 0,000 < 0,05 dan 95% CI = 6.361-600.181 dengan OR= 61.789. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada pendidikan, pengetahuan, sikap status social dan peran petugas kesehatan terhadap penerapan PHBS pada tatanan rumah tangga di Kelurahan Timbang Langkat Kecamatan Binjai Timur Kota Binjai. Disarankan kepada pihak Kelurahan dalam memberikan sosialisasi dan edukasi dengan kerjasama dengan pihak puskesmas tentang pentingnya PHBS di terapkan di rumah tangga dan melakukan program gotong royong, program cuci tangan pakai sabun, dan program lainnya yang bertujuan untuk penerapan PHBS agar terciptanya lingkungan yang sehat dan bersih

    Hubungan penggunaan alat pelindung diri (APD) dengan kejadian keracunan pestisida golongan organofosfat secara fisik pada petani di desa batin baru Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah

    Full text link
    Background: The widespread use of organophosphate pesticides has an impact on increasing poisoning cases; as many as 80% of pesticide poisoning cases are organophosphate pesticide poisoning cases. Objective: This study determined the relationship between using personal protective equipment (PPE) and the physical incidence of organophosphate pesticides among farmers in Batin Baru Village, Bandar District, Bener Meriah Regency. Method: This type of research is an analytic survey with a cross-sectional approach. The population in this study were all farmers in Batin Baru Village, Bandar District, Bener Meriah Regency, totalling 370 people. A sample of 79 people was obtained by using the Slovin formula. Samples were taken by accidental sampling technique. Data were analysed using the chi-square test. Results: The study showed that from organophosphate poisoning, the majority of respondents were not poisoned by organophosphate pesticides, 73 respondents (92.4%), and from the use of PPE of the majority of respondents used PPE, as many as 61 respondents (77.2%). Based on the results of the Chi-Square statistical test and at a 95% confidence level, it was carried out to find out the relationship between the use of personal protective equipment (PPE) and the incidence of physical organophosphate peptide poisoning among farmers in Batin Baru Village, Bandar District, Bener Meriah Regency in 2020, a P value of 0.003 was obtained (P ≤ 0.05). Conclusion: In this study, statistically, there was a significant relationship between the use of PPE and the incidence of organophosphate pesticide poisoning. It is suggested that farmers use PPE to prevent pesticide poisoning.Latar Belakang: Penggunaan pestisida organofosfat secara luas berdampak pada meningkatnya kasus keracunan, yakni sebanyak 80% kasus keracunan pestisida merupakan kasus keracunan pestisida organofosfat. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Dengan Kejadian Pestisida Golongan Organofosfat Secara Fisik Pada Petani Di Desa Batin Baru Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah. Metode: Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani yang ada di Desa Batin Baru Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah yang berjumlah 370 orang. Sampel sebanyak 79 orang, didapat dengan menggunakan rumus slovin. Sampel diambil dengan teknik accidental sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi-square. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa dari keracunan organofosfat mayoritas responden tidak keracunan pestisida golongan organofosfat sebanyak 73 responden (92,4%). Dari penggunaan APD mayoritas responden sebagian menggunakan APD sebanyak 61 responden (77,2 %). Berdasarkan hasil uji statistik Chi Square dan pada derajat kepercayaan 95% dilakukan untuk mengetahui Hubungan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan Kejadian Keracunan Peptisida Golongan Organofosfat Secara Fisik Pada Petani di Desa Batin Baru Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah Tahun 2020, diperoleh nilai P Value 0,003 (P ≤ 0,05). Kesimpulan: penelitian ini secara statistik bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan APD dengan kejadian keracunan pestisida golongan organofosfat. Disarankan kepada para petani agar menggunakan APD agar mencegah keracunan pestisida

    Penetapan Kadar Kurkumin Dalam Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma Xanthorriza) Dengan Teknik Maserasi Dan Remaserasi

    Full text link
    Background; Indonesia is one of the agrarian countries where most of the population relies on agriculture. One of Indonesia's mainstay natural commodities is temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb). Temulawak production in Indonesia in 2015 was recorded at 25.730.163 kg. Temulawak still has great potential to be developed because it has the active ingredient curcumin in it. Curcumin is a phenolic compound that provides a yellow pigment obtained from the rhizome of the ginger family (Zingiberaceae). Objective; To determine the determination of curcumin content in Curcuma Temulawak (Curcuma xanthorriza) rhizome extract with maceration and remaceration techniques. Method; This research is included in pure experimental complete randomized design unidirectional pattern. Results; In this study, the suspected compounds that act as anti-gastric ulcers are flavonoids and curcumin. Flavonoids are a class of secondary metabolites consisting of about 7,000 structures that have been identified to date. Conclusion; Maceration time treatment has a very significant effect on yield, total phenolic content, total curcumin content and antioxidant activity of temulawak rhizome extract.bertumpu pada bidang pertanian. Salah satu komoditas bahan alam andalan Indonesia yakni temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb). Produksi temulawak di Indonesia pada tahun 2015 tercatat sebanyak 25.730.163 kg. Temulawak masih sangat berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki bahan aktif kurkumin di dalamnya. Kurkumin termasuk senyawa fenolik yang memberikan pigmen berwarna kuning yang diperoleh dari rimpang tanaman family Jahe (Zingiberaceae). Tujuan; Untuk Mengetahui Penetapan Kadar Kurkumin dalam Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza) dengan Teknik Maserasi dan Remaserasi. Metode; Penelitian ini termasuk dalam eksperimental murni rancangan acak lengkap pola searah. Hasil; Pada penelitian ini yang diduga sebagai senyawa yang berperan sebagai anti-tukak lambung adalah flavonoid dan kurkumin. Flavonoid adalah kelas metabolit sekunder yang terdiri dari sekitar 7.000 struktur yang telah terindentifikasi sampai saat ini. Kesimpulan; .  Perlakuan waktu maserasi berpengaruh sangat nyata terhadap rendemen, kadar total fenolik, kadar total kurkumin dan aktivitas antioksidan ekstrak rimpang temulawak

    OTOTOKSISITAS PADA PASIEN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT: SCOPING REVIEW PADA STUDI DI INDONESIA

    Full text link
    A wide variation in ototoxicity or hearing loss due to injectable anti-tubercular drugs in patients with multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) has been reported globally and in Indonesia. This scoping review assesses the ototoxicity of second-line injectable anti-tubercular drugs in Indonesian patients with MDR-TB. This review was conducted under the recommended PRISMA extension for scoping review (PRISMA-ScR). The Google Scholar and PubMed database were used to search the articles on MDR-TB in the Indonesian population. Seven studies were identified based on the inclusion criteria reporting kanamycin and capreomycin in the management of MDR-TB. Ototoxicity was observed in 39.3% (116/295) MDR-TB patients. Ototoxicity was observed in kanamycin, 38.7% (105/271 patients); capreomycin, 36,8% (7/19 patients); and kanamycin plus capreomycin, 80% (4/5 patients).  Only one study reported risk factors ototoxicity in MDR-TB patients. Ototoxicity was significantly associated with older age and the length of kanamycin therapy correlates with hearing loss. This review identified a high prevalence of ototoxicity in Indonesian patients with MDR-TB treated with second-line injectable drugs. Efforts were urgently needed to develop guidelines for monitoring ototoxicity, improving pharmacist and clinician awareness, and educating patients or caregivers to report hearing loss symptoms as a sign of ototoxicity.   Keywords: MDR-TB; Ototoxicity, Second-line injectable    Variasi yang luas dalam ototoksisitas atau gangguan pendengaran akibat obat antituberkulosis injeksi pada pasien dengan multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) telah dilaporkan secara global dan di Indonesia. Scoping review ini mengulas ototoksisitas obat antituberkulosis injeksi lini kedua pada pasien MDR-TB di Indonesia. Tinjauan ini dilakukan menggunakan PRISMA extension for scoping review (PRISMA-ScR). Database Google Scholar dan PubMed digunakan untuk mencari artikel tentang MDR-TB pada penelitian di Indonesia. Tujuh penelitian diidentifikasi berdasarkan kriteria inklusi yang melaporkan kanamisin dan kapreomisin sebagai tatalaksana MDR-TB. Ototoksisitas ditemukan pada 39,3% (116/295) pasien TB-MDR. Ototoksisitas diamati pada kanamisin, 38,7% (105/271 pasien); kapreomisin, 36,8% (7/19 pasien); dan kanamisin ditambah kapreomisin, 80% (4/5 pasien). Hanya satu penelitian yang melaporkan faktor risiko ototoksisitas pada pasien TB-MDR. Ototoksisitas secara signifikan terkait dengan usia yang lebih tua dan lamanya terapi kanamisin berkorelasi dengan gangguan pendengaran. Review ini mengidentifikasi prevalensi tinggi ototoksisitas pada pasien MDR-TB Indonesia yang diobati dengan obat injeksi lini kedua. Upaya sangat diperlukan untuk mengembangkan pedoman untuk memantau ototoksisitas, meningkatkan kesadaran apoteker dan dokter, dan mendidik pasien untuk melaporkan gejala gangguan pendengaran sebagai tanda ototoksisitas

    REVIEW : ANALISIS EFEKTIFITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIPHOID ANAK DI INDONESIA

    Full text link
    Indonesia is one of the endemic areas for typhoid fever with the majority of the incidents occurring in the age group 3-19 years (91% cases) (Cammie F. L. 2005; Brusch, J.L.,2010; IDAI, 2008). The high incidence of typhoid fever requires a pharmacoeconomic evaluation to get the best therapy in terms of economic value. One of the methods used is the method of Cost-Effectiveness Analysis. The purpose of this research is to find out which antibiotic has the most cost-effectiveness based on the ACER value obtained from various sources of articles published in 2016- 2021. This method is used related to the current pandemic period were preventing the transmission of COVID-19 activities is increasingly being limited, one of which is avoiding face-to-face meetings in research. The results showed that typhoid fever was more common in boys with an age range of under 12 years. The antibiotics most commonly used are chloramphenicol, thiamphenicol, ceftriaxone, cefixime, cefotaxime, ampicillin, and amoxicillin. The most Cost Effectiveness based on ACER value (Rp. /day free of fever) is Ceftriaxone.Indonesia merupakan salah satu wilayah endemis demam tifoid dengan mayoritas angka kejadian terjadi pada kelompok umur 3-19 tahun (91% kasus) (Cammie F. L.,2005; Brusch, J.L.,2010 IDAI, 2008). Tingginya angka kejadian demam tifoid, memerlukan evaluasi farmakoekonomi untuk mendapatkan terapi yang paling terbaik dari segi nilai ekonomisnya. Salah satu metode yang digunakan adalah metode Analisis Efektitivitas Biaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Antibiotik yang paling Cost Effectiveness berdasarkan nilai ACER yang diperoleh dari berbagai sumber artikel terbitan tahun 2016-2021. Metode ini digunakan terkait masa pandemic saat ini dimana untuk mencegah penularan COVID-19 kegiatan semakin dibatasi salah satunya dengan menghindari pertemuan tatap muka dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit demam tifoid lebih banyak diderita anak laki-laki dengan rentang usia dibawah 12 tahun. Antibiotik yang paling sering digunakan adalah Kloramfenikol, Tiamfenikol, Seftriakson, Sefiksim, Sefotaksim, Ampisislin dan Amoksilin. Terapi yang paling Cost Effectiveness berdasarkan nilai ACER (Rp./hari bebas demam) adalah Seftriakson

    Identifikasi Kandungan Asam Retinoat pada Krim Pemutih yang diperjual Belikan Secara Online di Kota Samarinda dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis dan Spektrofotometri UV-Visible

    Full text link
    Whitening creams are cosmetic preparations that are very often traded in the market because they are able to reduce skin brightness and black spot on the face. Whitening creams can contain chemicals that are harmful to the skin, such as, mercury, hydroquinone, and retinoic acid. Retinoic acid is prohibited from being used in whitening creams because it can cause dry, burning, and teratogenic (defects in the fetus) skin. The purpose of this study was to identify whether the whitening creams traded online in Samarinda City contained retinoic acid and to determine the level of retinoic acid in the face whitening cream. The samples studied were 5 samples each of sample A, sample B, sample C, sample D, and sample E. Qualitative analysis was carried out by the thin layer chromatography method using the n-hexane-acetone (6:4) and observed under 254 nm UV light. Based on qualitative analysis, sample B and Sample D were positive containing retinoic acid with rf values of sample B (Rf 0.48), sample D (Rf 0.47). The results of quantitative analysis using UV Visible spectrophotometry showed that all five samples contained retinoic acid with levels of 0.003%-0.024%.Krim pemutih adalah sediaan kosmetika yang sering diperjual belikan di pasaran karena dapat mengembalikan kecerahan kulit juga mengurangi warna hitam pada wajah. Krim pemutih dapat mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi kulit, seperti, merkuri, hidrokuinon, dan asam retinoat. Asam retinoat dilarang digunakan dalam krim pemutih karena dapat menyebabkan kulit kering, rasa terbakar, dan teratogenik (cacat pada janin). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi apakah krim pemutih yang diperjual belikan secara online di Kota Samarinda mengandung asam retinoat dan untuk mengetahui kadar asam retinoat dalam krim pemutih wajah tersebut. Sampel yang diteliti adalah 5 sampel masing-masing sampel A, sampel B, sampel C, sampel D, dan sampel E. Analisis kualitatif dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis menggunakan fase gerak n-heksan-aseton (6:4) dan diamati di bawah sinar UV 254 nm. Berdasarkan analisis kualitatif diperoleh sampel B dan Sampel D positif mengandung asam retinoat dengan nilai Rf sampel B (Rf 0,48), sampel D (Rf 0,47). Hasil analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV Visible menunjukkan bahwa kelima sampel mengandung asam retinoat dengan kadar 0,003%-0,024%

    106

    full texts

    124

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal of Pharmaceutical And Sciences (JPS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇