Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Not a member yet
290 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS PENGAPLKASIAN ZEOLIT DENGAN MENGGUNAKAN METODE TYLER SIEVE ASTM, UP FLOW, DAN CATU DALAM UPAYA PENURUNAN KADAR MERKURI PADA LIMBAH PERTAMBANGAN EMAS RAKYAT
Pertambangan emas rakyat di Indonesia umumnya memanfaatkan merkuri sebagai pengikat mineral emas dari mineral pengotor atau metode amalgamasi. Penggunaan merkuri dapat mengakibatkan degradasi lingkungan, dikarenakan tidak sesuai dengan aturan tentang perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup  yang tertera didalam UU No.32 Tahun 2009. Studi ini bertujuan untuk mengetahui dampak limbah merkuri dari pengolahan pertambangan emas rakyat, mengetahui kemampuan zeolit dalam menurunkan kadar merkuri, menentukan metode yang lebih efektif hingga sesuai dengan ambang batas baku mutu lingkungan sebesar 0,0010 ppm sesuai PP No. 82 Tahun 2001, serta menentukan estimasi biaya penggunaan zeolit dalam satu tahun sesuai tingkat produksi. Zeolit merupakan senyawa alumina silikat dengan struktur berongga dan berpori molekul air yang dapat mudah dipertukarkan sehingga dapat mengasorbsi air. Perolehan data merupakan hasil studi literatur mengenai metode pemanfaatan zeolit pada pertambangan emas rakyat. Metode pemanfaatan zeolit dapat dilakukan bergantian dengan metode penyaringan up flow, menggunakan tyler sieve ASMR, dan catu. Dari studi yang dilakukan terhadap 3 (tiga) metode zeolit terbukti mampu mengurangi kandungan merkuri rata rata 99,2342 % dengan ukuran optimal penggunaan zeolit 20 – 200 mesh. Metode up flow dengan campuran zeolit dan karbon aktif mampu munurunkan kadar merkuri sesuai dengan ambang batas baku mutu lingkungan. Penggunaan zeolit tergolong ekonomis dengan estimasi biaya berkisar Rp 2.000.000 – 5.000.000 pertahun menyesuaikan kapasitas produksi. Perencanaan pemanfaatan zeolit harus dilakukan agar hasil yang diperoleh lebih optimal
PERAMALAN KEBUTUHAN BIJIH BAUKSIT UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN ALUMINIUM NASIONAL MENGGUNAKAN MODEL ARDL DAN VAR
Bauksit merupakan sumberdaya alam yang diekstraksi logam aluminiumnya dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di industri hilir. Indonesia pada tahun 2019 memiliki cadangan bauksit sebanyak 2.87 milyar ton yang terdiri dari 2.05 milyar ton cadangan terkira dan 821 juta ton cadangan terbukti, serta sumberdaya bijih bauksit sebesar 3.88 milyar ton (PSDMBP, 2020) dengan tingkat produksi yang bervariasi setiap tahunnya. Melalui UU No 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara dan UU No 3 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara serta Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, Pemerintah mencanangkan program hilirisasi industri mineral dan batubara untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara industri yang tangguh. Salah satu industri mineral yang dikembangkan adalah industri aluminium dengan bahan baku bauksit. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan aluminium dari tahun ke tahun, perlu dilakukan estimasi ketersediaan bijih bauksit untuk mendukung peningkatan kebutuhan aluminium tersebut. Model estimasi yang digunakan adalah ARDL dan VAR. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsumsi aluminium, PDB Indonesia, harga aluminium, populasi Indonesia, dan produksi aluminium dari tahun 1986-2019. Model yang terpilih merupakan model ARDL (4,4,3,4,2) karena memiliki nilai MAPE yang lebih kecil dibandingkan dengan model VAR. Kebutuhan bauksit selama masa periode peramalan 2020-2025 mencapai 18,616,342 ton
INOVASI SCORING AUDIT BLASTING ACTIVITY (SABA) SEBAGAI TOLAK UKUR PEMENUHAN IMPLEMENTASI SOP BLASTING ACTIVITY DI PT.AEL SITE MSJ, TENGGARONG SEBERANG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR
PT. AEL Indonesia merupakan salah satu perusahaan blasting service di Indonesia, dan memiliki beberapa site, diantaranya site KPC Sangatta, site KPC Bengalon, site Melak dan site MSJ.Standard Operasional Prosedur ( SOP ) merupakan hal yang selalu wajib ada dalam suatu industri khususnya industri pertambangan, yaitu kegiatan peledakan overburden. Salah satu SOP yang ada adalah SOP Blasting Activity. Pelaksanaan SOP Blasting Activity harus dilakukan monitoring oleh pengawas agar memastikan semua karyawan mengikuti SOP yang ditetapkan, namun dalam pelaksanaan di lapangan, pengawas belum memiliki alat yang lengkap untuk memastikan SOP Blasting Activity dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh semua karyawan. Oleh karena itu dibuatlah suatu inovasi alat audit yang disebut “Scoring Audit Blasting Activityâ€.Scoring Audit Blasting Activity ( SABA) adalah program Audit yang dilaksanakan secara berkala dan fokus pada kegiatan peledakan yang tertuang dalam SOP Blasting Activity dan dapat memberikan feed back terhadap implementasi SOP Blasting Activity. Scoring Audit Blasting Activity ( SABA) dilaksanakan secara bulanan dan dilakukan oleh level pengawas dan level top managemen. Program audit ini berupa scoring (dalam range 0-100) terhadap masing-masing langkah pekerjaan dalam SOP Blasting Activity, seperti persiapan lokasi, penurunan asesoris peledakan, penebaran asesoris, priming, charging, stemming, tie up, pemeriksaan akhir rangkaian peledakan, firing, dan post blast atau pengecekan paska peledakan.Hasil Scoring Audit Blasting Activity ( SABA) ini dilakukan review setiap bulan, apabila terdapat nilai dibawah 100 pada salah satu atau lebih langkah dalam SOP Blasting Activity maka dilakukan perbaikan terhadap kegiatan dalam langkah tersebut, namun apabila dalam audit terdapat nilai sempurna 100 maka akan diberikan apresiasi oleh pengawas atau top managemen.Scoring Audit Blasting Activity ( SABA) dapat menekan kecelakaan dalam aktifitas peledakan seperti misfire dan fly rock. Selain itu program ini dapat memberikan ukuran dan dasar acuan dalam pemenuhan pelaksanaan SOP Blasting Activity
ANALISIS ZONA POTENSI LONGSOR MENGGUNAKAN METODE LANDSLIDE HAZARD ZONATION DI DESA KALIGENDING, KECAMATAN KARANGSAMBUNG, KEBUMEN, JAWA TENGAH
Bencana alam longsor telah melanda Desa Kaligending sejak awal 2009, disusul pada 2017, 2018, 2019 dan baru-baru ini pada Februari 2020 dimana aktivitas manusia mulai membangun dan mengganti kawasan hutan dengan pemukiman atau membiarkan lereng tersebut rentan terhadap erosi. Desa Kaligendang terletak di Kecamatan Karangsambung dengan letak geografis pada 7° 35' 23" lintang selatan, 109° 42' 05" bujur timur. Karangsambung sendiri memiliki struktur geologi yang sangat unik karena merupakan lokasi terjadinya fenomena benturan lempeng benua dan lempeng samudera yang juga menjadi penyebab utama tingginya potensi bencana alam longsor. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan peta zona longsor untuk BPBD dalam rangka mitigasi bencana longsor di masa depan dengan menggunakan metode Landslide Hazard Zonation tahun 1992. Faktor yang diteliti adalah litologi, kemiringan lereng, kebasahan lahan, kerapatan vegetasi, struktur geologi, dan relief relatif dengan ditambahkan parameter curah hujan dengan nilai total 12, maka nilai total tersebut dinamakan Total Evaluation Hazard (TEHD) yang akan dikategorikan menjadi 5 klasifikasi. Kesimpulannya, hasil penelitian ini akan mengungkap empat tingkat kerentanan longsor dengan dukungan validasi data setelah pengolahan data menggunakan SIG
INTERPRETASI DATA LOGGING GEOFISIKA DAN HUBUNGANNYA TERHADAP NILAI KALORI BATUBARA DI DAERAH TAMBANG BANKO BARAT PIT 1 PT. BUKIT ASAM TBK. TANJUNG ENIM, SUMATERA SELATAN
Nilai kalori batubara merupakan komponen penting dalam industri pertambangan mulai dari perencanaan, desain, ekstraksi, hingga menyangkut keuntungan dari keberlangsungan tambang itu sendiri. Kualitas batubara ini biasanya didapatkan melalui analisis laboratorium dari data coring batuan, namun hal ini cukup memakan waktu dan juga biaya. Pada penelitian ini kami mencoba mencari hubungan anatara parameter nilai logging geofisika terhadap nilai kualitas batubara yang diharapkan mampu membantu dalam kegiatan prediksi kualitas batubara pada kegiatan eksplorasi. Data yang digunakan adalah data logging geofisika dan dan nilai proksimat hasil uji laboratorium batubara di daerah Tambang Banko Barat Pit 1, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini dilakukan menggunakan software wellCAD untuk menginterpretasi lapisan batubara pada 2 sumur TM 01 dan TM 02. Sedangkan untuk mencari hubungan nilai log densitas terhadap kualitas batubara dilakukan menggunakan Ms. Excel. Dari penelitian ini di dapatkan bahwa terdapat hubungan antara nilai densitas dan kualitas batubara, yaitu semakin rendah nilai densitas dalam satuan gr/cc maka nilai kualitas batubara akan semakin baik.Â
SPESIFIKASI BAHAN MENTAH KAOLIN BELITUNG (UJI BAKAR DAN BESAR BUTIR) UNTUK BAHAN PEMBUATAN ISOLATOR KERAMIK PORSELEN
Bahan baku kaolin cukup banyak di Indonesia. Daerah yang melimpah cadangannya adalah di Pulau Belitung. Sampel diambil dari 18 lokasi yang tersebar di Pulau Belitung. Untuk mengetahui kualitas sampel untuk bahan baku pembuatan isolator keramik porselen maka dilakukan uji bakar  1.400 º C dan uji besar butir. Dari hasil uji bakar : kaolin sangat berpori berwarna putih kecoklatan (broken  white) dan bersifat tahan api. Sampel kaolin umumnya mengandung mineral pengotor berupa senyawa (serisit, felspar dan mineral pemberi warna seperti (Fe2O3) dan titan oksida,TiO2). Pengotor ini sebagian sangat mengganggu apabila akan dijadikan bahan isolator listrik. Untuk hasil analisa besar butir  semua hasil uji besar butir dominan di atas 2 mikron.Berdasarkan standar literatur Worral (2 mikron yaitu  harus lolos 73 %) maka sampel kaolin yang diuji belum masuk dalam klasifikasi kaolin yang memenuhi syarat sebagai bahan keramik porselen. Secara umum sampel yang diuji secara fisik belum memenuhi syarat untuk bahan isolator keramik porselen. Untuk penggunaannya sebagai bahan keramik porselen maka perlu proses pengolahan terlebih dahulu
OTOMATISASI DALAM PENGOLAHAN KUALITAS AIR YANG TERINTEGRASI
Pengolahan kualitas air merupakan tahap terpenting dan terakhir dalam rangkaian proses pengelolaan limpasan air tambang. Proses pengolahan kualitas air secara konvensional yang pengoperasiannya bergantung pada manusia kerap sulit dikontrol konsistensinya dalam penerapan di lapangan. Aktivitas pembubuhan bahan kimia dilakukan dengan metode yang beraneka pada tiap lokasi sehingga sulit diciptakan komunikasi yang efisien untuk menyesuaikan input data kualitas dan kuantitas air dengan jumlah bahan kimia yang perlu dibubuhkan. Didukung dengan perubahan konfigurasi kolam pengendap titik penaatan di area penambangan PT Kaltim Prima Coal (KPC), aplikasi teknologi instrumen automated water sampling and chemical dozing sangat memungkinkan untuk diterapkan.Unit pengolahan kualitas air otomatis terdiri dari alat pengukur kuantitas dan kualitas air otomatis, pusat kontrol, dan pembubuh otomatis. Data debit dan kulitas air dianalisa oleh alat ukur otomatis sebagai data input pengolahan yang selanjutnya akan dikirimkan secara realtime ke pusat kontrol. Perintah tersebut dilanjutkan kepada perangkat pembubuh otomatis untuk membubuhkan bahan kimia sesuai dengan dosis yang dibutuhkan. Data pemakaian bahan kimia akan tersimpan dalam memori perangkat dan dapat diambil ketika dibutuhkan. Data berguna sebagai fungsi evaluasi proses pengolahan. Untuk penyempurnaan proses, instalasi baffled channel diaplikasikan setelah titik pembubuhan untuk memaksimalkan keefektifan proses pencampuran bahan kimia dengan air yang diolah.Penerapan dan integrasi sistem konfigurasi kolam, baffled channel, dan instrumen otomatis dapat meningkatkan efisiensi pengolahan. Ketepatan data kuantitas dan kualitas air menghasilkan jumlah penggunaan bahan kimia yang tepat dan mengeliminasi faktor kesalahan manusia yang kerap ditemukan pada pengolahan secara konvensional. Kontinuitas pembubuhan bahan kimia dapat diandalkan tiap saat selama 24 jam dan dapat dimonitor secara realtime oleh para pemangku kepentingan
STUDI ANALISA KETERDAPATAN AIRTANAH PADA TAMBANG UTARA DAN SELATAN POMALAA DENGAN PENDEKATAN WATERSHED MODELLING SYSTEM
Airtanah merupakan salah satu aspek penting dalam aktivitas penambangan yang perlu untuk diidentifikasi dan diketahui baik pola aliran permukaan maupun pola atau model aliran air bawah permukaan. Hal tersebut dikarenakan, dengan kita mengetahui pola aliran air baik permukaan maupun bawah permukaan perencanaan penambangan akan semakin detil dan komprehensif sehingga dapat mengantisipasi dan memitigasi risiko yang akan muncul dikemudian hari akibat airtanah tersebut. Penelitian dilakukan untuk melakukan identifikasi keterdapatan air tanah pada tambang utara, pit Everest, Pomalaa dan tambang selatan dengan pendekatan awal berupa watershed modelling system. Metode penelitian menggunakan data primer berupa data muka airtanah, pendekatan geolistrik serta topografi atau kontur sebagai acuan. Analisa yang digunakan menggunakan pendekatan delineasi basin airtanah permukaan sebagai indikasi awal lalu dikonfirmasi dengan data bawah permukaan berupa model 2D dan 3D muka airtanah serta pemodelan resistivitas untuk mengetahui sebaran akuifer. Hasil penelitian menunjukan dengan pendekatan watershed dapat diketahui indikasi awal seepage atau rembesan pada Pit Everest, Tambang utara lalu dikonfirmasi dengan data bawah permukaan bahwa pada titik seepage elevasi topografi dan elevasi model muka airtanah berada pada level yang sama sehingga titik tersebut merupakan titik luahan sesuai dengan kenampakan aktual lapangan pada Pit Everest.Sementara pada area tambang selatan, baik model muka airtanah serta model resistivitas menunjukan level airtanah berada dibawah topografi sehingga tidak ada rembesan atau seepage yang menghambat aktivitas penambangan tambang selatan. Dengan pendekatan ini maka dapat diketahui keterdapatan airtanah serta pola aliran air baik pada permukaan maupun bawahpermukaan pada tambang utara dan selatan site Pomalaa. Selain itu paradigma preventif dapat diterapkan pada lokasi lain agar dapat memitigasi risiko akibat airtanah lebih awal
KAJIAN KESERASIAN JUMLAH ALAT MEKANIS DENGAN FLEET YANG HETEROGEN PADA AKTIVITAS PEMUATAN BATUBARA DI STOCKPILE CP 02 PT BINUANG MITRA BERSAMA
Pengoptimalan jumlah alat angkut dan alat muat menjadi penting dalam pencapaian produktivitas alat mekanis pada aktivitas pemuatan batubara, baik dengan kondisi fleet yang homogen maupun dengan kondisi fleet yang heterogen. Penggunaan match factor dalam penentuan rasio tingkat kedatangan alat angkut dengan waktu pelayanan alat muat suatu fleet biasa diterapkan namun dengan asumsi kondisi fleet yang homogen dimana alat angkut dengan tipe yang sama dilayani oleh alat muat dengan tipe yang sama pula. Namun realisasi fleet yang heterogen pada aktivitas pemuatan batubara sering terjadi akibat penambahan alat mekanis dengan tipe yang berbeda baik pada alat muat maupun pada alat angkutnya. Perhitungan match factor yang digunakan dalam paper ini mengacu pada dua kondisi fleet yang heterogen yaitu pada Fleet 1 dimana satu tipe alat angkut (Hino 500 FM 260 JD) dilayani dua tipe alat muat (Excavator JCB JS305 LC dan Wheel Loader Komatsu WA500) dan pada Fleet 2 dimana dua tipe alat angkut (Hino 500 FM 260 JD dan Hino 700 FY 3248) dilayani dua tipe alat muat (Excavator JCB JS305 LC dan Wheel Loader Komatsu WA500). Nilai match factor yang dihasilkan pada Fleet 1 adalah 1,17 sehingga rekomendasi yang diberikan yaitu mengurangi alat angkut sebanyak 10 unit. Sedangkan nilai match factor yang dihasilkan untuk Fleet 2 adalah 1,34 sehingga rekomendasi yang diberikan yaitu mengurangi alat angkut Hino 500 FM 260 JD sebanyak 21 unit atau Hino 700 FY 3248 sebanyak 16 unit
INSTALASI WASTE WATER TREATMENT PLANT (WWTP) UNTUK MENURUNKAN TOTAL SUSPENDED SOLID SESUAI BAKU MUTU PADA AIR SUMP YANG BERKADAR SILIKA TINGGI
Proses pengelolaan air limbah di industry pertambangan sangatlah penting karena dapat mempengaruhi kelancaran proses penambangan. Air limbah yang tidak dapat dikeluarkan dari area bukaan tambang secara optimal dapat menghambat bahkan menghentikan aktivitas penambangan. Namun, jika air limbah tersebut dikeluarkan tanpa proses pengelolaan yang baik maka dapat berpotensi mencemari lingkungan sekitar dan juga melanggar aturan terkait nilai baku mutu air pada Pergub Sumsel No 8 Tahun 2012. Dampak dari pencemaran air adalah adanya sanksi administrasi hingga penyetopan produksi dari Pemerintah. Air limbah yang ada di Tambang PT Bara Anugrah Sejahtera memiliki karakteristik unik yaitu mengandung kadar silika yang tinggi. Hal ini menyebabkan partikel Total Suspended Solid (TSS) sulit untuk diendapkan secara normal. Hal ini terlihat pada kondisi air di big sump yang tetap konsisten kadar TSS di atas 5000 mg/liter walaupun terendap dalam periode yang cukup panjang. Berbagai jenis chemical telah dicoba untuk menurunkan kadar TSS namun belum ada yang dapat menurunkan TSS hingga baku mutu secara efektif dan efisien. PT Bara Anugrah Sejahtera melakukan inovasi dan berinvestasi dengan membangun fasilitas Waste Water Treatment Plant (WWTP) dalam mengelola air limbah agar dapat memenuhi baku mutu air secara efektif dan efisien. Mekanisme WWTP adalah memompa air limbah ke dalam labirin baffle untuk dicampurkan bersama chemical tertentu yang terdiri dari Koagulan dan Flokulan untuk mengikat antar partikel TSS menjadi bentuk gumpalan yang disebut Floc sehingga terpisah dari air secara stabil. Floc ini yang akan terendap pada saluran air terbuka sebelum settling pond yang kemudian akan dikuras menggunakan pompa lumpur ke mud pond terpisah agar siklus pengelolaan air tidak terhambat karena pendangkalan.Instalasi WWTP yang dikombinasikan dengan chemical tertentu yang terdiri dari Koagulan dan Flokulan terbukti dapat mengelola air limbah tambang berkadar silika tinggi di atas 780 mg/liter untuk memenuhi baku mutu air pada TSS <300 mg/liter tanpa mempengaruhi tingkat keasaman pada air.Â