Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Not a member yet
290 research outputs found
Sort by
A REVIEW ON QUANTIFICATION OF ROCK MASS DAMAGE AS CRITICAL CONSIDERATION IN STABILITY ANALYSIS
Jumlah penggalian struktur berukuran besar semakin meningkat, untuk proyek penambangan, bendungan, jalan, dan proyek lainnya. Kerusakan massa batuan sekitar akibat penggalian harus dikuantifikasi dan dipertimbangkan dalam analisis kestabilan struktur. Penelaahan dilakukan terhadap sejumlah referensi primer yang membahas mengenai atau berkaitan dengan kuantifikasi kerusakan massa batuan. Hasil telaahan berupa rangkuman definisi dan faktor penyebab, parameter, serta metode kuantifikasi kerusakan massa batuan. Kerusakan mengacu pada penurunan kualitas akibat pertambahan kekar atau berkurangnya kekuatan massa batuan. Kerusakan ini terjadi dalam daerah pengaruh tertentu dan mengubah sifat mekanik massa batuan. Tingkat kerusakan dinyatakan sebagai perbandingan penurunan paramater kualitas massa batuan setelah penggalian dengan kondisi awal. Kuantifikasi telah dilakukan terhadap lereng dan terowongan tambang maupun proyek lain menggunakan berbagai metode: solusi matematis, monitoring, pengujian di laboratorium, studi numerik, dan atau metode gabungan. Akurasi kuantifikasi tingkat kerusakan massa batuan di sekitar penggalian sangat bergantung pada ketepatan dalam menentukan perubahan propertis kualitas massa batuan aktual. Oleh karena itu diperlukan metode pemantauan yang mampu mencakup area massa batuan terganggu sehingga kondisi kerusakan dapat teridentifikasi dengan tepat
OPTIMALISASI TEKNIK PELEDAKAN PADA AREA DEKAT PEMUKIMAN DALAM RANGKA KONSERVASI CADANGAN BATUBARA
Kegiatan pertambangan telah terbukti dapat memberikan sumbangsih positif terhadap ekonomi area sekitar, sekaligus memberikan dampak negatif pada pemukiman/lingkungan sekitar. Salah satu dampak negatifnya yakni getaran tanah yang dihasilkan dari kegiatan peledakan pertambangan, terutama pada lokasi pertambangan yang berdekatan dengan area pemukiman. Pit C2 Site Sambarata Mine Operation PT. Berau Coal adalah salah satu area pertambangan yang arah penambangannya mendekati pemukiman (500-150 meter dari pemukiman), serta menerapkan metode peledakan dalam proses pemberaian batuan. Berdasarakan hasil survei fisik pemukiman mengacu pada SNI 7571: 2010 tentang standar baku mutu terhadap tingkat getaran peledakan pada kegiatan tambang, diketahui kelas bangunan berada pada kelas 2 yang berarti getaran tanah maksimal yang diperbolehkan dari kegiatan peledakan ≤ 3,0 mm/s. Namun getaran tanah dari kegiatan peledakan pada jarak 500-150 meter dari lokasi peledakan lebih dari 3,0 mm/s. Selain itu, apabila mengacu pada KEPMEN No.1827/K/30/MEM/2018 Hal 79 sub point 9 tentang pengupasan tanah penutup mempersyaratkan adanya kajian teknis jika kegiatan peledakan dilakukan pada jarak kurang dari 500 meter dari manusia. Berdasarakan pemaparan diatas, maka dilakukan optimalisasi teknik peledakan dalam rangka mengurangi getaran tanah agar sesuai dengan nilai ambang batas SNI 7571: 2010 (≤ 3,0 mm/s) dan pemenuhan terhadap regulasi KEPMEN No.1827/K/30/MEM/2018 sehingga kegiatan peledakan dan pertambangan dapat dilakukan dalam rangka konservasi cadangan batubara pada area penambangan yang berjarak 150-500 meter dari pemukiman. Adapun optimalisasi teknik peledakan yang dilakukan yakni pengaturan isian bahan peledak, kustomisasi delay/rangkaian peledakan, penggunaan air deck, dan subtitusi material stemming menggunakan batu pecah (gravel). Optimalisasi tersebut terbukti dapat menghasilkan getaran tanah yang berada dibawah nilai ambang batas (PVS ≤ 3,0 mm/s) sesuai SNI 7571 : 2010 pada radius 500-150 meter dari pemukiman sehingga kegiatan penambangan/peledakan dapat tetap dilakukan dan cadangan batubara sebesar 660.580 ton dapat dikonservasi
PENERAPAN METODE SCRUM UNTUK PROYEK PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PADA PERUSAHAAN MEDIA DIGITAL PERTAMBANGAN
Media Pertambangan mengedukasi pembaca dan mendorong peningkatan kualitas dan kapabilitas sumber daya manusia. Keberhasilan peran media tersebut dapat dilihat dari banyaknya jumlah pengunjung pada portal website. Sementara itu, keterbatasan jumlah karyawan dan tingginya beban kerja berpotensi menyebabkan penurunan jumlah konten yang secara langsung berdampak pada penurunan jumlah pengunjung portal website. Oleh karena itu, diperlukan kerangka kerja yang bersifat kompleks dan inovatif yang sesuai dengan karakteristik organisasi. Kerangka kerja tersebut memiliki tiga pilar empiris yakni transparansi, inspeksi, dan adaptasi yang dinamakan sebagai metode scrum. Studi menunjukkan bahwa penerapan metode scrum dapat memberikan pengaruh pada pola pikir dan perilaku karyawan. Ada korelasi positif antara kedisiplinan, agility, dan kolaborasi antar karyawan dengan peningkatan produktivitas sehingga dapat meningkatkan jumlah kunjungan website. Persentase peningkatan jumlah kunjungan website ini menjadi tolak ukur keberhasilan penerapan metode scrum. Penelitian ini menggunakan pendekatan empiris dengan metode scrum. Implementasi penelitian terbagi menjadi tiga tahapan terdiri dari product backlog, sprint planning, dan sprint review. Dimulai dari mengidentifikasi daftar pekerjaan dan komitmen, menganalisis umpan balik pihak-pihak terkait, dan mengevaluasi temuan sebagai proses pengembangan berkelanjutan. PT Dunia Tambang Digital (duniatambang.co.id) adalah perusahaan startup media pertambangan yang mempunyai visi menjadi rumah berita untuk industri pertambangan di Indonesia diharapkan mampu mendorong peranan pertambangan mineral dan batubara demi menunjang industri strategis dan ketahanan nasional. Penelitian ini menjadi salah satu proyek pengembangan dalam dunia digital dan informasi khususnya di sektor pertambangan untuk meningkatkan kualitas dan kapabilitas sumber daya manusi
PEMASANGAN GRIZZLY SCREEN UNTUK MENGURANGI KONTAMINASI BATU BARA PADA OVER LAND CONVEYOR
KPC memiliki konveyor yang terbentang sepanjang 26 km dari Melawan sampai Tanjung bara. Masalah kontaminasi sering terjadi di sepanjang perjalanan rantai distribusi batu bara. Terutama saat batubara ditumpuk di dalam stockpile untuk keperluan blending, kontaminan sering terikut dalam batubara yang akan didistribusikan. Secara umum grizzly screen dipasang pada area dumping hopper batubara sebelum batubara dimasukkan ke dalam crusher. Namun demikian, grizzly screen pada hopper dumping, umum nya hanya menangkap boulder, sedangkan kontaminan yang terikut dalam pengiriman berukuran lebih kecil yang biasa berupa concrete, pipa atau bahkan batu yang lolos dari grizzly screen hopper. Dalam praktek dilapangan, grizzly screen belum pernah dicoba untuk dipasang pada area transfer chute batu bara. Dalam makalah ini disajikan pertimbangan dan perhitungan sederhana untuk mendesain grizzly screen pada transfer chute batu bara termasuk menentukan lebar aperture dari grizzly screen. Grizzly screen dipasang pada transfer chute tail end Overland Conveyor (OLC), selain menangkap kontaminan batu yang lebih besar dari aperture, ternyata grizzly screen juga menangkap kontaminan lain yang berupa pipa atau besi batangan yang tidak tertangkap oleh magnet separator, sehingga ini bisa mencegah kerusakan belt conveyor. Pemasangan grizzly screen pada transfer chute sangat bagus diterapkan pada rantai suplai batu bara, terutama pada fix plant area
PREDIKSI NILAI UNIT-COST PENAMBANGAN BIJIH NIKEL DI INDONESIA MENGGUNAKAN COMPARATIVE DAN STATISTICAL APPROACH
Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai produsen nikel terbesar di dunia. Meningkatnya kebutuhan nikel secara global dalam pengembangan mobil listrik memberikan dampak positif terhadap industri tambang nikel di Indonesia. Hal tersebut berkaitan dengan pemanfaatan nikel sebagai komponen baterai mobil listrik. Lebih dari itu, Indonesia merupakan negara dengan cadangan bijih nikel terbesar di dunia (sekitar 32,7%). Pada tahun 2019, ESDM mencatat produksi nikel Indonesia mencapai 800 ribu ton. Dalam kegiatan penambangan, biaya (cost) menjadi komponen penting untuk mencapai titik optimal fungsi keuntungan (profit). Biaya penambangan per ton (unit-cost) dapat digunakan sebagai parameter untuk menentukan tingkat efisiensi dari suatu kegiatan penambangan. Akan tetapi, masih banyak ditemui berbagai permasalahan terkait formulasi unit-cost yang tidak seragam antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Maka dari itu, penelitian ini akan mengkaji estimasi unit-cost dengan dua pendekatan yaitu comparative dan statistics. Berdasarkan penelitian ini, didapatkan nilai unit-cost yang berkisar antara US18,23/ton menggunakan comparative approach. Rekomendasi yang diberikan yaitu menggunakan metode rasio pembanding, dengan beberapa variabel berupa gaji, total biaya penambangan (total cost), dan produksi per tahun. Sementara, statistical approach menghasilkan formulasi unit-cost
PENGGUNAAN DRONE DENGAN TEKNOLOGI LIDAR DI TAMBANG BAWAH TANAH PT FREEPORT INDONESIA
PT Freeport Indonesia memiliki empat area tambang bawah tanah di distrik Mimika, Papua, Indonesia. Tiga tambang menggunakan metoda ambrukan (block caving) yaitu Grasberg Block Cave (GBC), Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Deep Ore Zone (DOZ); sedangkan tambang Big Gossan (BG) menggunakan metode stope and fill. Metode block caving yang digunakan di DOZ, GBC, dan DMLZ memerlukan banyak lubang penyaluran (Ore Pass) untuk menyalurkan bijih batuan (ore) ke level hauling, untuk open stopes di Big Gossan memerlukan berbagai ukuran stopes tergantung pada posisi mineral yang akan ditambang. Pengukuran dan monitoring kondisi ore pass dan stopes merupakan salah satu kunci penting dalam proses operasi produksi tambang yang berkesinambungan. Banyak kasus telah terjadi dimana penanganan yang terlambat terhadap perbaikan dinding ore pass yang tergerus membuat produksi terhambat di panel dimana ore pass itu berada. Metode monitoring survey konvensional acapkali dinilai memerlukan waktu pengerjaan yang banyak, kualitas data yang bervariasi dan mempunyai beberapa keterbatasan di area terbatas seperti ore pass dan stopes yang memberikan hasil yang tidak akurat dalam pengambilan keputusan dan penundaan pada produksi tambang. Proses ini telah diperbaiki dengan penggunaan Autonomy drone dikombinasikan dengan teknologi LiDAR. Hasil dari penggunaan teknologi drone ini kemudian dibandingkan dengan metode survey konvensional terkait dengan implementasi, hasil akhir dari pengukuran dan proses pengambilan data dalam pengoperasian survey. Kajian ini akan memaparkan secara detail penggunaan teknologi drone LiDAR di tambang bawah tanah untuk setiap tambang bukan hanya untuk memonitor aset infrastruktur pendukung produksi tambang bawah tanah seperti ore pass, raise ventilasi, tapi juga pengukuran pergerakan terowongan, penilaian kondisi wet muck panel dan area yang tidak disanggah ground support. Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa teknologi baru ini dapat meningkatkan kualitas data survey yang diambil dengan aman untuk mendukung proses operasi produksi yang berkesinambungan
BIOAKUMULASI LOGAM PADA TANAMAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU DI DAERAH REKLAMASI TIMBUNAN BATUAN PENUTUP TAMBANG BATU HIJAU, SUMBAWA BARAT
Kegiatan reklamasi di Tambang Batu Hijau dilakukan bersamaan dengan kemajuan penambangan sesuai dengan kaidah pertambangan yang baik serta untuk memenuhi peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Kegiatan revegetasi dilakukan dengan penanaman area reklamasi dengan berbagai jenis tumbuhan asli Batu Hijau sehingga nantinya tersusun komposisi vegetasi dengan jenis yang beragam, baik jenis tumbuhan penghasil kayu (timber tree) maupun jenis tumbuhan produk non kayu (non-timber forest product). Kandungan logam dalam bahan pangan dikategorikan sebagai cemaran logam. Tingkat cemaran logam dalam bahan pangan dari tanaman diduga dipengaruhi oleh media tanah tempat tumbuh dan jenis tanaman itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah menghitung nilai faktor bioakumulasi atau Bioaccumulation Concentration Factor (BCF) pada 3 jenis bahan pangan dari produk non kayu yaitu kemiri, rebung dan rotan. Penelitian ini menggunakan 15 sampel tiap jenis bahan pangan dan 15 sampel tanah yang masing-masing berasal dari daerah reklamasi Batu Hijau dan daerah kontrol. Parameter analisis yaitu total logam yaitu As, Cd, Cr, Cu, Pb, Hg, Mo, Ni, Se dan Zn. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa terdapat 3 konsentrasi logam tertinggi di reklamasi yaitu Cu, Zn, Cr, sedangkan pada kontrol adalah Zn, Cu, Cr. Pada Kemiri, kandungan Cu dan Zn ditemukan lebih tinggi di area kontrol, pada tanaman rotan kandungan Cu dan Zn terukur lebih rendah di reklamasi, sedangkan pada logam Cu, Mo, Ni, dan Zn terdeteksi lebih rendah pada area reklamasi dibandingkan area kontrol. Logam As, Cd, Pb, dan Hg pada area reklamasi terdeteksi lebih tinggi dibandingkan area kontrol. Hasil perhitungan BCF di daerah reklamasi antara 0,001 – 0,147 yang dikategorikan sebagai akumulasi rendah. BCF paling tinggi di area reklamasi maupun di hutan alam adalah logam Se. Analisis ANOVA one-way dilakukan untuk mengetahui perbedaan kandungan logam bahan pangan antara area reklamasi dengan hutan alam. Hasil uji ANOVA one-way pada semua logam menghasilkan nilai signifikansi < 0.05 yang berarti terdapat perbedaan kandungan tiap logam yang signifikan di area reklamasi dan kontrol. Ketiga jenis tanaman pangan memiliki kandungan logam Cu dan Zn yang melebihi batas maksimal baik di area reklamasi maupun kontrol
DARI GALIAN KE MEJA MAKAN: KETAHANAN PANGAN DARI PASCATAMBANG
Program pascatambang dapat berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan daerah, khususnya pada isu pertanian dan pangan. Integrasi pascatambang dan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dari pencapaian tujuan tersebut. Melalui pengelolaan lingkungan yang optimal, akses terhadap sumber daya, serta program pemberdayaan yang bertumpu pada organisasi dan potensi lokal, program pascatambang dapat mendukung keberlanjutan pertanian lokal dan pemenuhan pangan daerah sekitar tambang. Artikel ini membahas tiga program pertanian-pangan dan pascatambang KPC. Kesimpulan dari pembahasan ini adalah pencapaian kedaulatan pangan akan dapat diraih apabila ada keberpihakan perusahaan tambang dalam kebijakan, aksesibilitas, dan penguatan kelembagaan produsen pangan. Mencapai kedaulatan pangan tidak cukup dengan pembangunan infrastruktur dan besarnya alokasi anggaran. Dukungan terhadap ketahanan/kedaulatan pangan perlu diikuti dengan penguatan kelembagaan produsen pangan, termasuk menjamin keterjangkauan terhadap sarana produksi, dan pengorganisasian petani-produsen pangan
OPTIMALISASI SHORT TERM MINE SCHEDULING MENGGUNAKAN AUTOS 2.0 SCHEDULER UNTUK INTEGRASI LONG TERM MINE PLAN DENGAN MINE OPERATION
Era Industri 4.0 mengharuskan industri termasuk perusahaan tambang seperti PT ANTAM Tbk, untuk melakukan transformasi dari proses manual ke era digital dan otomatisasi. Selain itu, dalam kondisi saat ini hasil dari Scheduling LoM belum bisa digunakan 100% di lapangan. Hal tersebut disebabkan karena block model yang digunakan masih secara keseluruhan (LoM) yang mengakibatkan pendetailan scheduling membutuhkan waktu yang lama (1 bulan). Hal ini tidak sejalan dengan perubahan bisnis ANTAM yang dinamis yang mengakibatkan adanya perubahan perencanaan tambang dalam waktu yang singkat. Untuk menjawab tantangan tersebut tim penulis menciptakan AUTOS 2.0 Scheduler. Metode yang dilakukan adalah dengan perbaikan atau improvement yang berkelanjutan melalui Quality Control Circle (QCC) dengan melihat aspek Quality, Delivery, Safety, dan Morale (QDSM). Hasil dari improvement didapatkan dengan dikembangkannya AUTOS 1.0 menjadi AUTOS 2.0 Scheduler. AUTOS 1.0 berguna untuk otomatisasi blending dan pra scheduling, sedangkan AUTOS 2.0 Scheduler berguna untuk melakukan pendetailan penjadwalan penambangan ke dalam bulanan, mingguan, ataupun harian. Proses pendetailan penjadwalan penambangan ke dalam short term mine plan dengan adanya AUTOS 2.0 Scheduler membuat waktu yang dibutuhkan menjadi lebih cepat 2 minggu, praktis, efektif, dan efisien. Dengan menggunakan software ini dapat memberikan informasi penyebaran ketebalan ore dan waste sehingga dapat menentukan metode penambangan yang tepat dan aman. Selain itu, terjalin komunikasi teknis yang lebih baik antara perencana jangka panjang hingga jangka pendek dengan mine operation melalui SOP. Manfaat lainnya dari AUTOS 2.0 Scheduler ini adalah memungkinkannya untuk dapat diterapkan pada komoditas lain seperti nikel dan batubara. Pengembangan ini masih dapat dilakukan dengan sangat luas sehingga dapat bermanfaat kepada unit bisnis pertambangan ANTAM yang lain ataupun perusahaan tambang yang lain
PERANCANGAN DAN EKSPERIMENTASI ALAT MEJA ANGIN (AIR TABLE) UNTUK PEMISAHAN MINERAL BIJIH TIMAH SECARA GRAVITY CONCENTRATION
Meja angin (air table) adalah alat yang memanfaatkan metode gravity concentration untuk memisahkan mineral berharga dengan mineral pengotor berdasarkan perbedaan berat jenis (BJ) termasuk perbedaan bentuk (shape) dan ukuran (size) dengan menggunakan media angin. Alat ini berbentuk meja digerakkan secara mekanis dengan menggunakan media udara/angin. Proses air table dilakukan secara kering (dry process) dan produk yang dihasilkan berupa konsentrat, middling dan tailing. Dalam upaya memenuhi kebutuhan praktikum mahasiswa dan penelitian untuk tugas akhir di Jurusan Teknik Pertambangan, khususnya di Laboratorium Pengolahan Bahan Galian, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, telah dilakukan kegiatan perancangan alat meja angin.Tujuan penelitian ini adalah perancangan alat air table dimulai dari desain dan pembuatan meja hingga perhitungan dan pembuatan komponen utama lainnya yaitu motor penggerak dengan sistem pulley dan mesin angin (blower machine). Untuk mengetahui keberhasilan perencanaan dan evaluasi kinerja alat air table, maka dilakukan eksperimentasi dengan memanfaatkan beberapa kombinasi variabel. Proses eksperimentasi alat dilakukan pengujian dengan menggunakan sampel bijih timah Sisa Hasil Pencucian (SHP) di PPBT Toboali, PT Timah Tbk. Pada percobaan awal dilakukan beberapa kombinasi variabel antara lain; kemiringan meja berat feed (gram), dan waktu proses (menit). Dari hasil eksperimentasi menunjukkan bahwa kinerja alat menunjukkan kinerja yang baik tetapi belum optimal dimana perolehan konsentrat terendah dicapai 50,20 % dan perolehan tertinggi sebesar 71,18% pada kemiringan 4,2°, berat feed 500 gram dan waktu proses 25 menit. Dari evaluasi kinerja menunjukkan bahwa alat air table sudah berfungsi relatif baik, tetapi diperlukan perbaikan dan pengaturan variabel yang lebih variatif dan sampel dan jumlah bijih timah yang representatif, sehingga dapat menghasilkan perolehan dan kadar yang lebih maksimal