Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Not a member yet
290 research outputs found
Sort by
OPTIMALISASI FLOOR BATUBARA PADA KEGIATAN COAL GETTING DI PIT KG PT. BORNEO INDOBARA TAHUN 2021
Konservasi sumberdaya mineral dan batubara selanjutnya disebut konservasi mineral dan batubara adalah upaya yang dilakukan dalam rangka optimalisasi pengelolaan, pemanfaatan dan pendataan sumberdaya minerba secara terukur, efisien, bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai upaya konservasi di PT. Borneo Indobara di bagian pengelolaan untuk memperoleh recovery yang optimal dalam kegiatan coal getting dengan melakukan optimalisasi floor batubara, dimana hal ini sesuai dalam KEPMEN ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman pelaksanaan Kaidah teknik Pertambangan yang baik lampiran VII tentang konservasi batubara. Dalam estimasi cadangan batubara di PT. Borneo Indobara, loss coal dari kegiatan penambangan dengan asumsi 5 cm roof dan 5 cm floor pada setiap lapisan. Optimalisasi batubara ini dilakukan di bagian floor yang secara perhitungan reserve tidak masuk ke dalam cadangan karena asumsi loss coal 5 cm pada floor, dan secara penambangan sudah tidak mampu lagi menggunakan excavator 20 – 30 ton class untuk melakukan getting secara langsung. Jika dipaksakan untuk di getting langsung akan membuat batubara tersebut tercampur dengan material pengotor (dilusi coal). Penentuan metode optimalisasinya yaitu dengan melakukan pengumpulan terhadap batubara sisa di floor yang masih bisa di kerjakan dengan menggunakan excavator 20 ton yg dilengkapi cutting edge, produk yang telah dilakukan pengumpulan tersebut berpotensi memiliki kualitas rendah sehingga penanganan selanjutnya di lakukan metode pencampuran dengan batubara kualitas rendah (floor batubara) di Pit atau ROM. Adapun nilai positif nya secara ekonomis lebih murah dalam pengolahan nya karena tidak memerlukan washing plant. Optimalisasi floor batubara ini pada tahun 2021 dilakukan perencanaan dengan melakukan estimasi tonase batubara 5 cm dari floor dengan menggunakan software. Hasil realisasi optimalisasi floor batubara sebesar 347.12 kt. Optimalisasi floor batubara merupakan salah satu upaya konservasi yang turut berkontribusi terhadap recovery penambangan. Berdasarkan hasil rekonsiliasi produksi terhadap estimasi cadangan tertambang (geomodel) sejak awal penambangan tahun 2011 sampai akhir tahun 2021, recovery penambangan di Pit KG mencapai 101.86%
INDEX TRANSPARANSI CSR PERUSAHAAN TAMBANG DI INDONESIA: STUDI KASUS 15 PERUSAHAAN TAMBANG DI INDONESIA
Program Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh semua perusahaan di Indonesia. Hal ini sejalan dengan beberapa aturan pemerintah Indonesia tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 Pasal 74 Ayat 1 dan UU No.25 Tahun 2007 Pasal 15 Huruf d. Salah satu metode indikator yang digunakan untuk menentukan tingkat keterbukaan pengungkapan CSR setiap perusahaan yaitu dengan Index transparansi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat index transparansi perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia. Data yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan data-data sekunder dari 15 perusahaan tambang besar di Indonesia. Data tersebut mencakup laporan tahunan, laporan CSR, laporan keberlanjutan perusahaan, website perusahaan, dan sumber-sumber lainnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode pendekatan konten analisis dengan mengolah data-data sekunder dari masing-masing perusahaan untuk menentukan derajat keterbukaan pengelolaan CSR berdasarkan tingkat indeks transparansi. Index transparansi perusahaan dinilai dengan bobot 1-10 dengan kriteria penilaian mencakup; (a) Pengungkapan dana CSR tahun berjalan dalam laporan publik (3 poin); (b) Pengungkapan aktivitas CSR tahun berjalan (3 poin); (c) Penerbitan laporan kewajiban perusahaan (2 poin); (d) Pengungkapan strategi CSR (1 poin); (e) Pengungkapan informasi CSR di situs resmi perusahaan (1 poin). Bedasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa: (1) semua perusahaan tambang besar di Indonesia telah melakukan pengungkapan CSR kepada publik; (2) Beberapa perusahaan mempunyai total nilai index transparansi tertinggi 10 poin, hal ini dikarenakan perusahaan tersebut memiliki semua kriteria dalam penilaian; (3) Tidak semua perusahaan memaparkan kegiatan CSR dalam laporan tahunan; laporan CSR; dan laporan keberlanjutan perusahaan; (4) Beberapa perusahaan hanya memaparkan di website perusahaan, seminar internasional, dan sumber-sumber lainnya; (5) Perusahaan tambang yang status kepemilikan sahamnya bersifat terbuka (Tbk) lebih mudah didapatkan laporan tahunan dan laporan keberlanjutan dibandingkan perusahaan dengan kepemilikan saham sendiri
PEMANFAATAN TEKNOLOGI AERASI TENAGA SURYA PADA BUDIDAYA IKAN KARAMBA SIRING APUNG TELAGA BATU ARANG
Dissolved oxygen (DO) atau kebutuhan oksigen merupakan salah satu parameter penting dalam usaha budidaya ikan. Penurunan oksigen menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat, yang dapat menurunkan hasil produksi. Memastikan kebutuhan oksigen tercukupi menjadi hal mutlak sebelum memulai usaha budidaya ikan. Teknologi aerasi tenaga surya menjadi pilihan optimal, selain mampu mencukupi kebutuhan oksigen, namun juga hemat dan ramah lingkungan. Studi ini, bermaksud mengkaji penggunaan aerasi tenaga surya pada usaha budidaya ikan siring apung (KSA) di kolam Telaga Batu Arang (TBA) PT Kaltim Prima Coal (KPC). Lokasi studi merupakan kolam bekas tambang Pit E South seluas 14,6 Ha. Penelitian menggunakan metode eksprimen dengan mengukur 3 variabel, yakni perlakuan menggunakan aerasi dalam keramba, aerasi disamping keramba dan variabel tanpa aerasi. Variabel perlakuan menggunakan pompa venturi, dengan sumber energi berasal dari intensitas penyinaran matahari selama ± 8 jam perhari dengan total energi solar sebesar 9.744 Wb/m2. Pengukuran dilakukan pada 2 KSA dengan perlakuan aerasi dalam keramba, 2 KSA perlakuan aerasi disamping keramba, dan 2 KSA tanpa perlakuan. Pengukuran variabel meliputi jumlah kadar oksigen terlarut dan berat ikan. Studi dilakukan selama kurun waktu februari 2022 sampai dengan April 2022. Hasil pengamatan adalah sebagai berikut: 1) KSA dengan perlakuan aerasi dalam keramba memiliki DO sebesar 6.03 mg/l dengan peningkatan pertumbuhan bobot ikan mencapai 134%. 2) KSA dengan perlakuan aerasi sekitar keramba memiliki DO sebesar 6.16 mg/l dengan peningkatan pertumbuhan bobot ikan mencapai 122%. 3) KSA kontrol memiliki DO sebesar 5.41 mg/l dengan peningkatan pertumbuhan bobot ikan mencapai 119%
KARAKTERISASI GEOKIMIA BATUAN PENGAPIT LAPISAN BATUBARA
Penambangan batubara dapat mempercepat proses terbentuknya air asam tambang (AAT). AATmerupakan limbah hasil kegiatan pertambangan yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungankarena memiliki tingkat keasaman yang tinggi sehingga dapat dengan mudah melarutkan berbagailogam. Dalam rangka penerapan kaidah teknik pertambangan yang baik, regulasi telah mewajibkanperusahaan tambang untuk melakukan kajian terhadap potensi pembentukan AAT saat menyusundokumen studi kelayakan. Kajian yang dilakukan dapat berupa studi geokimia untuk mengetahuikarakteristik batuan dalam menghasilkan asam atau yang dikenal dengan karakterisasi geokimia batuan.Karakterisasi geokimia batuan ditentukan berdasarkan data uji statik yang dikonfirmasi dengan hasil ujikinetik. Empat sampel batuan pengapit batubara yakni ABC 01, ABC 02, ABC 03 dan ABC 04 diambiluntuk dilakukan pengujian skala laboratorium. Dari hasil pengujian, sampel ABC 01 dan ABC 03dikategorikan sebagai batuan yang berpotensi menimbulkan asam (PAF) sedangkan sampel ABC 02dan ABC 04 termasuk batuan yang tidak berpotensi menimbukan asam (NAF). Meskipun berdasarkankriteria penapisan hasil uji statik keempat sampel tergolong PAF, namun dari hasil uji kinetik, hanyasampel ABC 01 dan ABC 03 yang memiliki nilai pH yang sesuai dengan pH AAT, yakni < 4. Uji kinetikmerupakan simulasi proses oksidasi dan pelindian batuan yang terjadi di lapangan, sehingga hasil ujikinetik lebih diyakini tingkat kebenarannya dibandingkan hasil uji statik. Hasil dari karakterisasi batuanini dapat digunakan sebagai acuan dalam penanganan AAT yang terbentuk pada kegiatan penambanganbatubar
TOP SOIL USAGE EFFICIENCY UP TO 73% WITH THE IMPLEMENTATION OF GROOVE SYSTEM AT LIMESTONE MINE RECLAMATION AREA PT SEMEN INDONESIA (PERSERO) TBK
Based on Law Number 3/2020, Good Mining Practice’s criteria are mining safety provisions, environmental management, and monitoring, including reclamation and post-mining activity, conservation of minerals and coal, and management of mine waste before being released into the environment. Directorate General of Mineral and Coal state's Strategic plan reclamation target for 2021 is 7.025 hectares and 7.050 hectares in 2022. PT Semen Indonesia, as one of the mining companies, is committed to supporting the reclamation target as stated in their Yearly Land Reclamation Plan. Mine floor reclamation on limestone quarry was generally performed using top soil spreading which cost up to 3,000 m3 of top soil per hectare area. Whereas top soil availability on site is limited. As a result, the existing top soil reserve could not fulfill the needs of reclamation to cover entire mining floor. The practice of Spreading Method depletes reserved top soil, causes excessive planting media preparation and revegetation cost. This challenging condition encourages PT. Semen Indonesia to innovate to suppress reclamation cost without reducing the success rate. The company concluded that Groove Planting System could reduce both top soil transport cost and revegetation cost, even increase the survival rate of the trees. This method reduced up to 2,200 m3 of top soil usage per hectare area, reduced top soil hauling cost, reduced tree planting and treatment, even increased the success rate of reclamation. With this innovation, company could suppress reclamation cost without sacrificing reclamation quality. Benefits emerging from Groove System Implementation include; Reduced top soil volume usage for reclamation up to 73%; Reduced revegetation cost up to 49% or IDR 66,794,354/ha; Cost efficiency of planting media preparation up to IDR 168,000,000/ha; Increased tree survival rate up to 100%; Regulation mandate compliance of Post Mining Reclamation; Best practice pioneer of Post Mining Reclamation using Groove System
ANILISIS DAMPAK BIAYA DAN LINKUNGAN PADA SKENARIO OPTIMASI PEMANFAATAN LIMBAH OLI SEBAGAI PENCAMPUR BAHAN PELEDAK (STUDI KASUS PT BERAU COAL)
PT Berau Coal sebagai perusahaan pertambangan yang bergerak di bidang energi untuk komoditas batubara, berkontribusi dalam penyediaan energi global. Salah satu upaya PT Berau Coal dalam mengurangi intensitas konsumsi energi dan emisi adalah dengan menerapkan konsep 3R waste oil sebagai blending agent untuk kegiatan peledakan pada proses penambangan. Improvement project ini memberikan banyak manfaat bagi perusahaan terutama dari segi aspek keuangan dalam hal efisiensi biaya dan kepatuhan lingkungan. Pelaksanaan proyek ini telah dilakukan sejak tahun 2015. Selama kurun waktu 2015-2020 masih terdapat kesenjangan antara realisasi penggunaan limbah oli sebagai blending agent dengan rata-rata komposisi pelaksanaan sebesar 34% dari limbah oli yang tersedia. kapasitas pabrik pengolahan dan izin yang ada optimum sebesar 48%. Penelitian ini menghitung gap yang kemudian didefinisikan sebagai hilangnya peluang yang terjadi pada periode 2015-2020 dan memberikan skenario optimasi pemanfaatan limbah oli pada periode 2021-2025 untuk menciptakan dampak optimal pada efisiensi biaya dan dampak lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Ruang lingkup penelitian ditinjau dari aspek finansial dengan pendekatan konsep capital budgeting dan aspek lingkungan melalui pendekatan konsep Proper dan carbon pricing hingga monetisasi manfaat pengurangan emisi karbon. Data diperoleh dari berbagai sumber antara lain data perusahaan, studi pratinjau, dan data yang tersedia di berbagai media publikasi. Hasil pengolahan data, dampak optimalisasi pemanfaatan limbah oli dengan komposisi 100% terhadap efisiensi biaya adalah 41.122,92. Kesimpulannya, optimalisasi pemanfaatan limbah oli bumi sebagai pengganti bahan bakar minyak sebagai campuran bahan peledak memberikan dampak ganda yang optimal terhadap efisiensi biaya dan mengurangi intensitas konsumsi energi dan emisi
PEMANFAATAN TEKNOLOGI PEMOMPAAN LUMPUR UNTUK PENAMBANGAN KEMBALI TAMBANG EAST1, TAMBANG LATI – PT. BERAU COAL
Pada rencana penambangan akhir (Life of Mine) Pit PQRT terdapat area lubang bekas tambang (Void) East1 yang masih menyisakan cadangan batubara 2.17 juta ton dengan stripping ratio (SR) 5.5. Void East1 terakhir ditambang tahun 2011 sehingga meninggalkan lumpur (mud) yang diperkirakan mencapai 1.5 juta m3 dan air sebesar 15.5 juta m3. Sementara dalam rencana penambangan tahun 2021, sisi barat Void East1 sudah masuk sequence penambangan di akhir tahun 2021, oleh sebab itu diperlukan penanganan terkait lumpur di Void East1. Untuk penanganan lumpur Void East1 terdapat dua pilihan metode, yaitu secara konvensional menggunakan unit loader dan hauler atau menggunakan teknologi pompa lumpur (slurry pump). Setelah dikaji dari aspek operasional dan keselamatan serta perhitungan biaya operasional, maka metode penggunaan pompa lumpur jauh lebih efektif, efisien, dan ekonomis. Terminologi slurry sendiri merupakan campuran material lumpur (mud) yang solid (S.G = 1.8 gr/cc) dengan air (S.G = 1.0 gr/cc) sehingga diperoleh Specific Gravity (S.G) dari slurry sebesar 1.3 gr/cc. Secara teknis metode pemompaan lumpur Void East1 menggunakan 2 unit pompa lumpur diameter 8 inci (HP8K) dari Eddy Pump (dredger) ke slurry tank (hooper) untuk kemudian dipompakan menggunakan 1 unit pompa booster diameter 6 inci dari Warman. Lokasi pembuangan (disposal) slurry adalah Void OS yang terletak 4 km di sebelah Barat Void East1. Keseluruhan pompa booster yang digunakan dari Void East1 sampai Void OS mencapai 4 unit pompa dengan panjang pipa HDPE mencapai 4,220 meter. Sementara itu untuk freshwater Void East1 dipompakan menuju Water Monitoring Point (WMP) 13 & 15 LT. Pemompaan slurry Void East1 yang dimulai dari bulan April sampai Desember 2021 berhasil memompakan volume slurry sebesar 2.8 juta m3 dengan S.G rata-rata dari slurry sebesar 1.23 gr/cc. Debit rata-rata 1 unit pompa slurry mencapai 338 m3/jam. Volum lumpur (mud) Void East1 yang berhasil dipindahkan ke disposal Void OS menggunakan pemompaan slurry mencapai 724 ribu m3
PERBAIKAN BERKESINAMBUNGAN FUEL RATIO MELALUI PROJECT DIGITALISASI
Fuel Cost merupakan salah satu unit cost terbesar didalam operational penambangan, sehingga diperlukan perhatian khusus terhadap pemakakaian fuel dalam aktifitas Penambangan. Biaya rata-rata Pemakain fuel dari total cost penambangan berkisar +/- 35%. Dengan besarnya biaya tersebut maka harus dipastikan pemakaian fuel harus efektif dan efisien. Untuk mendapatkan pemakaian fuel yang efisien maka dibutuhkan beberapa perbaikan baik dari segi operational, technical dan equipment. Perbaikan – perbaikan tersebut bertujuan untuk memastikan fuel ratio bisa lebih effective dan effisient sehingga diikuti dengan penurunan biaya pemakaian fuel. Perbaikan fuel ratio harus dilakukan secara berkesinabungan sehingga diperlukan mekanisme dan metode yang memudahkan kita dalam melakukan identifikasi dan perbaikan yang dibutuhkan. Dengan digitalisasi yang dilakukan secara menyeluruh yang meliputi seluruk aktififitas operasional penambangan maka kita akan mampu mengidentifikasi kontributor penyebab kenaikan fuel sehingga dapat segera ditentukan perbaikan yang diperlukan. Key initiative yang harus dilakukan monitoring dan dipastikan selalu dalam kondisi ideal agar fuel ratio bisa efisien adalah kondisi jalan, kondisi loading point, kondisi dumping point, operator heatmap dan FBR unit loading. Pengelolaan data secara digital dengan engine Power Bi yang bersumber dari data otomatis maupun manual mampu mengklasifikasi fuel ratio berdasarkan aktifitasnya yang terdiri dari Overburden Loading, overburden hauling, coal loading, coal hauling, topsoil loading, topsoil hauling dan support. Dengan membagi fuel ratio berdasarkan aktifitasnya maka memudahkan dalam mengukur aktifitas mana yang sesuai dengan rencana atau lebih tinggi dari rencana, sehingga perbaikan bisa dilakukan secara fokus terhadap aktifitas yang diatas rencana
A Pre-Liminary Study : Potential Economic Tailing Exploring by Geophysical Logging Method in Bangka
In Bangka-Belitung Provinces, PT Timah TBK hold 120 mining concession permit (IUP) which is about 428,378.98 Ha. Mining activities begun significantly at colonial era (before 1945) and continued until recent day. The massive mining activities produced abounded remains tailing (mineral processing residue). The selective mining on tin ore caused the other potential economic mineral were neglected. Hence, this study is aimed to reorganize and manage the potential economic mineral at tailing area that’s distributed in mining consesion permit of PT Timah TBK . Study area are located in Air Rirung (Bangka Regency) and Air Nudur (South Bangka). Both are comprised of tailing material (loose sediment). Geophysical logging tools (GammaRay and Density Log), elemental analysis (using XRF handheld portable) and grain size analysis (sieving) are applied to identify the interest tailing area. Low density and high Gammaray indicate dominantly clay content in coarse sand, while high density and low Gammaray indicate little or no clay content in coarse sand. Furthermore, GammaRay detected Thorium (Th) and Uranium (U) content that come from monazite mineral. The heavy mineral (ilmenite) is distributed on bottom of each layering (stage). By element to element correlation, stannum (Sn) shows good correlation to Fe-Ti and Ce-Y-La-Th-U. Comparing to Gammaray, at fraction -#200 Th and Y shows good positive corelation to GR log, while at fraction +#200 Th and Y shows good negative correlation. In spatial distribution, the heavy mineral and coarse grain are deposited near from the source while the light mineral and fine grain relatively are deposited faraway from the source. Using IDW Method, the potential REE in monazite mineral are estimated of 8.0 tonnes in Air Rirung and 1.6 tonnes in Air Nudur
PEMBANGUNAN JEMBATAN HD 785 (PIT E BLOK 7 EAST – OPD H4 BLOK 56) DALAM RANGKA MENDUKUNG TARGET RENCANA PRODUKSI DI BMO PT BERAU COAL
Binungan Mine Operation (BMO) adalah salah satu site operasional tambang yang dimiliki oleh PT Berau Coal, dengan rencana produksi site BMO dari tahun 2017 hingga 2025 adalah sebesar 646 Juta Bcm overburden (OB) dan 61 juta MTon (MT) batu bara dengan stripping ratio (SR) 10.58. Untuk merealisasikan rencana penambangan tersebut dibutuhkan jembatan pengangkutan Over Burden (OB) yang melintasi Sungai Inaran dengan lebar sungai ± 30 meter dan tinggi pasang surut hingga 7 m. Jembatan pengangkutan OB akan menghubungkan PIT E (blok 7) dengan Out Pit Dump (OPD) Pit H4 blok 5-6 yang memiliki kapasitas sebesar 60 juta Bcm. Dengan mempertimbangkan volume timbunan yang di rencanakan dan opportunity dumping jarak dekat, desain jembatan dibuat dua lajur agar kegiatan penambangan dapat optimal. Jembatan dibangun dengan bentang 50 m, dan dibagi menjadi 2 segmen yaitu bentang 24 m dan 26 m. Jembatan di desain untuk bisa mengakomodir unit Heavy Duty (HD) 785 dengan berat total (muatan) 163.78 t. dan axle load (maks) 112.353 t serta dibangun dengan sistem komposit meggunakan girder baja. Permodelan jembatan dilakukan dengan menggunakan program Autodesk Robot Structure dengan di dukung data geoteknik, sehingga didapat desain yang optimal. Dengan dibangunnya jembatan HD ini, menjadikan alternative area dumping point untuk kebutuhan site BMO semakin banyak sehingga dapat memenuhi rencana produksi jangka panjang yang telah disusun, jembatan ini juga berperan dalam pemangkasan jarak dumping yang semula jarak dumping dari Sisi Timur ke sisi Barat sebesar 3,5 km menjadi 2,5-3 km