Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Not a member yet
290 research outputs found
Sort by
ANALISIS PENGARUH JUMLAH DATA PARAMETER BATUAN DALAM PENENTUAN PROBABILITAS KELONGSORAN
Metode Probabilitas Kelongsoran (PK) sering digunakan untuk menentukan kestabilan dari suatu lereng. Dalam metode ini dibutuhkan seminimal mungkin 3 data parameter batuan agar bisa menunjukkan distribusi dari data tersebut, tetapi belum tentu hasil yang dihasilkan akan baik dan representatif apabila menggunakan data yang sedikit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah data parameter batuan serta data minimal yang dibutuhkan untuk mendapatkan nilai PK yang optimal. Dalam penelitian ini digunakan data kohesi, sudut gesek dalam, dan bobot isi batuan merupakan data yang acak dari sebuah perusahaan pertambangan batubara PT XYZ yang memiliki litologi batuan berupa batuan lempung dan batuan pasir. Data tersebut diambil secara acak sebanyak 30 kali setiap kelompok interval data dengan setiap kelompoknya memiliki jumlah data sebanyak 10, 20, 30, 40, 50, dan 60 data. Data tersebut dianalisis secara statistik menggunakan software @RISK dan SPSS untuk mendapatkan jenis persebaran data, mean, standar deviasi, nilai relatif maksimum, dan nilai relatif minimum. Parameter tersebut digunakan sebagai input untuk software Slide 6.0 dengan lereng tunggal statis yang ukuran lerengnya telah diasumsikan beserta letak litologi batuanya sehingga didapatkan nilai PK dari lereng tersebut. 30 data PK tersebut kemudian dibuat persamaan garis lurus untuk setiap kelompok jumlah data dan diproses secara statistik untuk setiap kelompok jumlah data sehingga didapatkan persamaan garis lurus dan statistika deskriptifnya. Untuk statistika deskriptif berupa range, mean, dan standar deviasinya dimasukkan dalam grafik untuk setiap interval data mulai dari 10 hingga 60. Dari grafik terlihat bahwa semakin banyak data yang digunakan maka semakin kecil nilai range dan standar deviasi yang berarti semakin kecil persebaran data PK yang didapatkan sehingga bisa disimpulkan semakin representatif, namun tidak berpengaruh terhadap mean dari data PK yang didapatkan Untuk standar deviasi didapatkan persamaan garis power sebagai acuan dalam menghitung jumlah data minimal untuk digunakan dalam perhitungan PK. Dari grafik terlihat bahwa saat jumlah data >40 hasil standar deviasi sudah tidak terlalu berubah dan apabila dimasukkan standar deviasi sebesar 2.49 sebagai sumbu y dalam persamaan garis power  didapatkan nilai x sebagai jumlah data minimal yaitu 50 data. Sehingga apabila melakukan perhitungan PK menggunakan Slide 6.0 seminimal mungkin menggunakan 40 data atau 50 data agar didapatkan  hasil PK yang baik dan representatif
ANTARA PASAL BERBAHAYA DAN PASAL SOLUTIF REVISI UU MINERBA
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam. Salah satu sumber kekayaan Indonesia yang mejadi aset terbesar negara adalah mineral dan batubara (minerba). Sumberdaya minerba memiliki peran yang sangat penting untuk kemajuan ekonomi negara karena menjadi salah satu sumber devisa atau penerimaan terbesar di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan regulasi dan tata kelola pertambangan yang tepat sehingga tidak hanya menguntungkan beberapa pihak untuk saat ini namun juga tetap memperhatikan tujuan pembangunan berkelanjutan untuk generasi anak bangsa ke depannya. Salah satu upaya yang sudah dilakukan pemerintah adalah dengan membentuk regulasi berupa undang-undang khusus mengatur minerba UU 4/2009. Regulasi diperlukan untuk melakukan pembaruan dan penataan kembali terkait evaluasi kegiatan pengelolaan dan pengusahaan minerba.Dalam 10 tahun semenjak diterbitkannya UU 4/2009, beberapa persoalan krusial belum bisa diselesaikan dengan UU ini. Persoalan yang masih belum dapat diselesaikan antara lain: kewenangan perizinan, korupsi penerimaan negara, kewajiban pengolahan dan pemurnian minerba, pencemaran lingkungan hidup, izin penggunaan lahan, dan konflik perusahaan dengan masyarakat setempat yang berujung kriminalisasi. Oleh sebab itu, untuk mengatasi permasalahan krusial tersebut diperlukan revisi regulasi dengan harapan terwujudnya pengelolaan minerba sesuai dengan kaidah pertambangan yang benar atau Good Mining Practice dan berkelanjutan serta terjadinya keselarasan putusan MK terkait paradigma penyelenggaraan minerba.Penyusunan revisi UU Minerba diperhatikan dan dikaji lebih dalam oleh pemerintah dan DPR yang selanjutnya pada tanggal 12 Mei 2020, revisi UU Minerba disahkan menjadi UU 3/2020 yang merupakan perubahan pertama dari UU 4/2009. Terdapat beberapa poin penting dalam revisi UU Minerba yang menarik perhatian publik, diantaranya seperti perubahan kewenangan perizinan, penguatan peran BUMN di sektor minerba, dan aturan reklamasi atau pengembalian lahan bekas tambang yang menuai pro kontra.Pemerintah sebagai pembuat kebijakan khususnya di bidang pertambangan mineral dan batubara memiliki peran strategis dalam pemecahan konflik yang terjadi di sektor pertambangan. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan untuk tidak berorientasi pada isu bisnis pertambangan saja melainkan harus melihat kondisi lingkungan sekitar dan masyarakat dalam mengambil keputusan mengenai kebijakan pertambangan supaya tercipta keserasian dan keadilan baik dari pihak pemerintahan, pelaku usaha, serta masyarakat
PENERAPAN PROGRAM CSR DALAM PERWUJUDAN PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN YANG TERINTEGRASI OLEH PT. POLOWIJO GOSARI, KABUPATEN GRESIK, JAWA TIMUR.
Program tanggung jawab sosial (CSR) yang dilaksanakan oleh PT. Polowijo Gosari merupakan wujud dari berkembangnya industri pertambangan berbasis integrasi dan pemberdayaan masyarakat yang patut dijunjung dan dikelola oleh perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan. Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan standar hidup karyawan, masyarakat, dan lingkungan di sekitar perusahaan, yang dibuat untuk memberikan dampak langsung dan berkelanjutan. Program ini memberikan dampak yang besar, karena industri pertambangan memberikan dampak yang relatif tinggi terhadap perubahaan lingkungan dibandingkan sektor industri lainnya yang diakibatkan oleh adanya kegiatan pertambangan. Dengan adanya program ini diharapkan dapat memberikan contoh dan saran agar industri pertambangan yang akan mengelola suatu areal pertambangan dapat melaksanakan program CSR dan sosial pertambangan yang dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat setempat baik sarana dan prasarana yang dapat menunjang sosial, budaya, dan ekonomi daerah disekitar areal pertambangan
INVASI TEKNOLOGI DIGITAL PADA SEKTOR PERTAMBANGAN INDONESIA
Revolusi industri 4.0 sebagai salah satu milestone kemajuan teknologi tampaknya bukan lagi hanya sekedar cerita isapan jempol belaka, atau angan yang masih jauh di depan mata. Transformasi era digital dalam bidang teknologi tampaknya mampu membuat efisiensi dalam berbagai sektor perindustrian meningkat, yaitu melalui konsep yang dikenal oleh para praktisi industri sebagai “otomatisasi mesinâ€. Tak terkecuali industri pertambangan Indonesia, munculnya pilihan untuk menggunakan teknologi canggih tersebut juga membuat industri ini tertarik untuk meliriknya sebagai alternatif, atau mungkin bahkan, sebagai moda utama keberjalanan industri ini ke depannya. Lantas, apakah revolusi industri 4.0 dapat mengubah keberjalanan industri ini secara besar-besaran
Urgensi Mineral Kritis di Indonesia Seiring Perkembangan Teknologi
Memasuki era industri 4.0 sudah bukan rahasia umum lagi jika hampir seluruh lini kehidupan umat manusia menggunakan teknologi.Perkembangan teknologi di dunia saat ini tengah mengalami pertumbuhan yang pesat,tak terkecuali di Indonesia.Hampir seluruh sektor industri terus melakukan inovasi untuk menciptakan teknologi terbaru termasuk industri pertambangan mineral dan batubara atau minerba.Dalam industri pertambangan minerba teknologi adalah sebuah kebutuhan dan tuntutan,karena dapat mempermudah segala proses penambangan mineral dan batubara baik dari eksplorasi hingga pemasaran dan juga dapat menghasilkan produk berkualitas tinggi yang memiliki daya saing.Misalnya penerapan teknologi digital sehingga munculnya software atau inovasi-inovasi baru yang menunjang proses penambangan.Penelitian yangdilakukan oleh Jasipto et al (2020) untuk menghitung stabilitas terowongan dilakukan dengan metode numerik menggunakan software RS2 2019 hasil perhitungan tersebut berupa y-velocity lalu diverifikasi dengan mendekati hasil pengukuran PPV aktual merupakan salah satu bukti bahwa teknologi mempermudah proses penambangan
Menakar Masa Depan Industri Nikel Laterit sebagai Bahan Baku Teknologi Baterai Mobil Listrik di Indonesia
Secara geologis, Indonesia terletak pada titik pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, selain itu Indonesia merupakan negara yang berada pada wilayah khatulistiwa yang memiliki iklim tropis. Kondisi tersebut sangat mendukung adanya proses pelapukan pada batuan yang sangat intensif. Keterdapatan endapan nikel laterit di Indonesia yang berada pada zona khatulistiwa tersebut berakitan dengan distribusi jalur tektonik ofiolit yang terangkat ke permukaan akibat proses tektonik yang disebabkan oleh interaksi lempeng benua Indo-Australia, Eurasia dan lempeng samudra Pasifik
Prediksi dan Arah Kebijakan Mengenai Bijih Nikel di Indonesia dalam Menghadapi Peningkatan Permintaan Baterai Mobil Listrik
Indonesia memiliki potensi nikel laterit terbesar di dunia dengan total cadangan mencapai 21 juta metrik ton dengan sebaran lokasi cadangan di berbagai titik seperti di Kawasan Timur Indonesia (KTI) terutama di Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Papua1,2. Dibalik potensinya yang sangat melimpah, United States Geological Survey melaporkan Indonesia mengalami perlambatan produksi nikel dengan perkiraan sekitar 10,9% pada 2020. Indonesia sanggup memproduksi nikel sebesar 853 ribu metrik ton pada tahun 2019 yang kemudian menyusut menjadi sekitar 760 ribu metrik ton pada tahun 20203. Di Indonesia, beberapa kebijakan telah disahkan untuk meregulasikan penambangan dan penjualan nikel, seperti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11 Tahun 2020 dan Nomor 35 Tahun 2017
ANALISA KEWAJARAN ATAS PENGGUNAAN BAHAN BAKAR PADA ALAT GALI-MUAT DAN ALAT ANGKUT MENGGUNAKAN UJI DUA-UJUNG
Ketiadaan metode untuk mengetahui batas kewajaran dari konsumsi bahan bakar minyak pada operasional pertambangan, menjadikan pendekatan secara statistik dilakukan untuk mengetahui batas kewajaran dari konsumsi bahan bakar minyak secara aktual dibandingkan dengan yang tertera pada manual handbook dari alat operasional yang digunakan. Konsumsi bahan bakar menurut manual handbook untuk alat gali-muat LIEBHERR 9350 sebesar 207,23 liter/jam dan HITACHI 2500 sebesar 191,51 liter/jam, sedangkan alat angkut CATERPILLAR 777D sebesar 36-53 liter/jam (kategori rendah), 53-73,8 liter/jam (kategori medium), dan 73,8-96,5 liter/jam (kategori tinggi). Pendekatan secara statistik ini dilakukan setelah pemenuhan konsep pemindahan tanah mekanis. Sebagai hasilnya, didapatkan perbedaan konsumsi bahan bakar aktual dengan manual handbook pada alat gali-muat LIEBHERR 9350 sebesar 3,72% Â dan HITACHI 2500 sebesar 3,26% dimana hal tersebut masih termasuk batas wajar pemakaian bahan bakar sedangkan alat angkut CAT 777D yang beroperasi pada LIEBHERR 9350 memiliki perbedaan konsumsi bahan bakar sebesar 29,64% dimana hal tersebut sudah melebihi batas wajar pemakaian dan CAT 777D yang beroperasi pada HITACHI 2500 memiliki perbedaan konsumsi bahan bakar sebesar 7,14% dimana hal tersebut masih dalam batas wajar pemakaian bahan bakar alat
STUDI PROSES LEDAKAN AKIBAT GAS METANA BATUBARA PADA TEROWONGAN TAMBANG SKALA LABORATORIUM DENGAN SIMULASI COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS ANSYS FLUENT
Ledakan gas metana dan debu batubara merupakan bencana terbesar di dunia pertambangan dan banyak menyebabkan korban terutama para pekerja tambang bawah tanah batubara. Metana mudah meledak di udara saat konsentrasi berkisar 5% hingga 14% (Coward dan Jones, 1952). Penelitian ini bertujuan menganalisis proses terjadinya ledakan akibat gas metana pada terowongan bawah tanah dan menentukan faktor-faktor yang terpengaruh dalam terjadinya ledakan akibat gas metana pada terowongan bawah tanah. Model terowongan bawah tanah skala laboratorium dengan geometri balok tertutup ukuran 164 cm (Panjang) x 19 cm (lebar) x 25 cm (tinggi). Lalu dilakukan simulasi menggunakan variasi konsentrasi metana 5%, 6% dan 9,5% volume. Spark ignition menggunakan high voltage electric trigger dengan energi sebesar 6 J dengan durasi 2 ms. Hasil penelitian ini 1) proses terjadinya ledakan akibat gas metana pada terowongan bawah tanah dimulai dengan adanya gas metana dengan konsentrasi 5% - 9,5% dalam terowongan, lalu diinisiasi penyalaan sehingga menghasilkan ledakan dengan tekanan ledak dan temperatur tertentu. 2) Faktor-faktor yang terpengaruh dalam terjadinya ledakan akibat gas metana pada terowongan bawah tanah adalah temperatur dan tekanan ledak. Semakin besar konsentrasi metana yang diberikan maka semakin besar pula temperatur, tekanan ledak dan nilai pembakaran yang dihasilkan. Semakin jauh dengan titik spark, semakin kecil nilai temperatur dan tekanan ledak
IMPLEMENTASI INTEGRASI PROSES PENGOLAHAN BAUKSIT DAN PEMANFAATAN RED MUD DI TAYAN, KALIMANTAN BARAT UNTUK INDONESIA MAJU 2045
Generasi Indonesia Emas 2045 merupakan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2017. Indonesia diproyeksikan akan mendapat bonus demografi pada tahun 2045. Atas dasar itu, pengembangan Sumber Daya Manusia di berbagai sektor perlu dioptimalkan, salah satunya di industri pertambangan pada sub-sektor pengolahan dan pemurnian bahan galian yang penting untuk dilakukan modernisasi industri melalui inovasi teknologi. Indonesia adalah negeri yang kaya akan cadangan & sumberdaya bijih bauksit yang salah satunya berada di Tayan, Kalimantan Barat. Menurut Undang-undang dan Peraturan Menteri ESDM, bauksit harus diolah dan dimurnikan di dalam negeri sebelum di ekspor. Oleh karena itu diperlukan sistem integrasi proses pengolahan bauksit dari bijih hingga alumina serta pemanfaatan produk samping berupa red mud. Makalah ini bertujuan untuk memberikan inovasi mengenai proses terintegrasi pengolahan bauksit dan pemanfaatan red mud. Makalah ini dibuat menggunakan metode studi literatur. Diberikan juga analisis mengenai hubungan antara satu proses dengan yang lain dan pembahasan mengenai pengaruh variasi kondisi percobaan terhadap hasil dari setiap proses. Kesimpulan diambil dari analisis dan pembahasan sistem terintegrasi yang dihubungkan dengan beberapa literatur dan teori untuk menjawab tujuan. Sistem yang dibuat terdiri dari beberapa proses yaitu scrubbing, pemisah magnetik, flotasi kebalikan, proses bayer, dan aplikasi potensial red mudyang diintegrasikan dalam bentuk diagram alir. Sistem ini adalah inovasi dalam peningkatan integrasi supply-chain dari hulu ke hilir, yang sejalan dengan program pemerintah. Inovasi sistem terintegrasi ini masih sebatas ide blue print yang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk penerapannya pada skala lapangan