Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Not a member yet
    290 research outputs found

    NILAI TAMBAH PEMANFAATAN LIMBAH PADA KEGIATAN PERTAMBANGAN SEBAGAI WUJUD APLIKASI KAIDAH PERTAMBANGAN YANG BAIK (GOOD MINING PRACTICES)

    No full text
    yang memiliki nilai jual secara ekonomi. Keberadaan kegiatan pertambangan telah memberikan manfaat secara ekonomi bagi berbagai pemangku kepentingan. Selain itu pertambangan juga menghasilkan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan. Salah satu upaya dalam pengelolaan limbah pertambangan adalah dengan melakukan pemanfaatan. Makalah ini bertujuan untuk menganalisa nilai tambah (added value) dari limbah yang dihasilkan oleh kegiatan pertambangan. Metode yang digunakan adalah valuasi moneter terhadap penghematan biaya pengadaan material dan biaya pemulihan lingkungan (remediasi). Studi kasus pemanfaatan oli bekas untuk kegiatan peledakan digunakan sebagai kasus perhitungan nilai tambah. Total value added dari penggunakan oli bekas untuk studi kasus pada makalah ini adalah sebesar Rp 284.718.574,50 yang didapatkan dari tiga komponen valuasi moneter: biayapengolahan oli bekas(BP), biaya penghematan FO (VFO), danmanfaatterhindarnya tanah daripencemaran OB (VL). Namun demikian, perbedaan asumsi yang digunakan akan memberikan value added yang berbeda pula sehingga karakteristik dari prosentase penggunaan oli bekas dan harga pasar yang berlaku terhadap fuel oil dan biaya pengolahan limbah merupakan parameter utama dalam perhitungan ini.Â

    Teknologi Automatic Engine Stopping System (AESS) pada Kondisi Idling Time Alat Berat Guna Efisiensi Pemakaian Bahan Bakar

    No full text
    ermasalahan pemakaian bahan bakar pada alat berat yang terjadi di sebagian besar perusahaan tambang kerap terjadi, seiring waktu berbagai perusahaan tambang mencari ide dan solusi atas permasalahan tersebut. Hal tersebut terjadi karena pemakaian bahan bakar atau fuel alat yang digunakan tidak sesuai dengan rencana awal dan management terhadap fleet yang beroperasi untuk memenuhi target produki perusahaan. Salah satu contoh dari permasalahan tersebut sering sekali terjadi saat unit dalam keadaan idling time atau mengantri pada antrian front loading sehingga sering terjadi juga operator unit tidak mempunyai inisiatif untuk mematikan unit tersebut untuk efisiensi bahan bakarnya. Setiap alat penambangan pada fleet tambang masing-masing memiliki berbagai target pengeluaran yang dikeluarkan seperti pengeluaran bahan bakar liter per jamnya. Permasalahan ini sebaiknya harus cepat diatasi seiring dengan meningkatnya teknologi yang ada mendukung efisiensi pengeluaran perusahaan sebagaimana pengeluaran terhadap bahan bakar alat-alat penambangan. Salah satu sektor ekonomi di Indonesia yang memerlukan investasi dalam jumlah yang cukup besar adalah sektor pertambangan. Pertambangan memerlukan investasi dalam jumlah yang besar untuk keperluan penyelidikan umum, eksplorasi, konstruksi, dan operasi (Fadhila Achmadi et al, 2020). Fuel cost merupakan salah satu penyumbang ongkos atau biaya tambang terbesar pada kegiatan operasi tambang dari awal sampai akhir penambangan, seperti pada gambar di bawah ini

    SISTEM VERTICAL DIGGING, BENCHES ATAU KOMBINASI? MANAKAH YANG DAPAT MEMBERIKAN TINGKAT KEBERHASILAN PALING TINGGI DALAM AKTIVITAS PENAMBANGAN KAPAL KERUK?

    No full text
    ABSTRAK Metode penambangan dengan kapal keruk (dredging) termasuk ke dalam metode penambangan tambang terbuka aquaeous, karena mekanismenya yang mirip dengan penambangan pada tambang terbuka, hanya saja kegiatan penggaliannya dilakukan di bawah permukaan air dengan alat penggalian berupa ember (bucket). PT. Timah Tbk sebagai salah satu perusahaan tambang yang memiliki ratusan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi untuk komoditas timah dan sebagai satu-satunya perusahaan yang memiliki beberapa unit kapal keruk, menggunakan armadanya dalam kegiatan penambangan endapan timah alluvial lepas pantai (offshore) di perairan Pulau Bangka dan Kepulauan Riau. Terdapat tiga jenis sistem penggalian pada operasional kapal keruk, yaitu sistem vertical digging, sistem benches dan sistem kombinasi. Sistem penggalian yang digunakan  dapat mempengaruhi keberhasilan aktivitas penambangan pada kapal keruk yang dinilai berdasarkan  parameter yaitu nilai Laju Pemindahan Tanah (LPT) dan kemiringan lereng (slope) yang dibentuk oleh proses penggalian. Analisis sistem penggalian bertujuan untuk melihat sistem penggalian manakah yang paling tepat untuk diterapkan pada kapal keruk sesuai dengan lokasi kerjanya. Data yang digunakan dalam analisis sistem penggalian merupakan data yang diperoleh langsung selama proses penggalian Kapal Keruk 21 Singkep 1 pada lokasi kerja Bulan Mei 2019. Data tersebut terdiri dari: nilai penekanan ladder, kecepatan naik turun ladder dan kecepatan tarik kawat. Kemudian pengolahan data dilakukan sehingga didapat nilai Laju Pemindahan Tanah (LPT) dan kemiringan lereng (slope) yang terbentuk dari proses penggalian menggunakan ketiga sistem penggalian yang ada. Analisis data dilakukan sehingga didapat poin-poin yang berkenaan dengan  kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem penggalian. Berdasarkan perbandingan tersebut maka dapat ditentukan sistem penggalian yang paling tepat untuk diterapkan pada Kapal Keruk 21 Singkep 1 sesuai dengan lokasi kerjanya adalah sistem penggalian kombinasi yang memiliki tingkat keberhasilan aktivitas penambangan tertinggi dengan nilai Laju Pemindahan Tanah (LPT) ) yang dapat mancapai target senilai 592,78 m3/jam  dan kemiringan lereng (slope) akhir 45,83˚ yang sesuai dengan standar keamanan penambangan. Kata Kunci:  Kapal Keruk, Sistem Penggalian, Laju Pemindahan Tanah, Kemiringan Lereng,  ABSTRACT Mining using a dredger is an example of an aqueous open surface mining method. Due to its similarities of mining mechanism to a conventional open surface mining method, the difference being only the digging is carried out below the sea level (underwater) using a series of buckets. PT. Timah Tbk is a mining company that holds hundreds of mining concessions (Izin Usaha Pertambangan / IUP) for tin commodity and is the only company that owns several units of dredger, utilizing their fleet for mining operation of off-shore alluvial tin deposit in the waters of Bangka Island and Riau Archipelago. There are three known digging systems of dredger: vertical digging, benches and combination. These digging systems can affect the success of a dredger’s mining operation, which is assessed by following parameters: rate of material removal (Laju Pemindahan Tanah / LPT) and the inclination of slope formed by digging activities. The objective of this analysis on digging system is to find out which system should be applied depending on the dredger’s operational location. This analysis processes primary data obtained from digging activity of Kapal Keruk (dredger) 21 – Singkep 1 in May of 2019. The data consists of: ladder pressure, rate of ladder movement and pulling rate of wire. Thereafter, processing of data results in the value of rate of material removal and the slope inclination. Further analysis will disclose the benefits and also the shortcomings of each digging system. Based on acquired and processed data, the digging system that gives the highest rate of success of Kapal Keruk 21 – Singkep 1, which reflected on its rate of material removal of 592.78 m3/hour and final slope inclination of 45.83° (conform to the mining safety standard), is the combination system. Keywords: Dredger, Digging System, Rate of Material Removal, Slope Inclinatio

    SENTRALISASI LISENSI PERANGKAT LUNAK DAN INTERKONEKSI DATA

    No full text
    ABSTRAK Industri 4.0 adalah istilah yang diberikan untuk industri “pintar†dimana mesin/perangkat digabung dengan koneksi jaringan. Tren industri 4.0 adalah otomatisasi dan koneksivitas data termasuk cloud computing. Sekarang, dan masa mendatang di industri 4.0, komputer terhubung satu sama lain untuk akhirnya membuat keputusan tanpa keterlibatan manusia. Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang paling membutuhkan koneksi karena lokasi site terpisah dengan head office. Sebagai pelaku industri pertambangan yang memiliki site lebih dari satu dan tersebar dari Indonesia bagian Barat sampai dengan bagian Timur, PT ANTAM Tbk (ANTAM) memerlukan koneksi antara ­site dengan head office. Salah satu rangkaian pekerjaan ANTAM adalah collecting database eksplorasi, pemodelan geologi dan estimasi sumberdaya serta distribusi block model sumberdaya ke site. Database eksplorasi tersebut digunakan untuk update model geologi dan estimasi sumberdaya setiap triwulan semua komoditas dari tiap site yang sedang aktif kegiatan eksplorasinya. Lisensi software-software yang digunakan oleh ANTAM untuk pemodelan dan estimasi sumberdaya tersebut terpusat di server di head office, sehingga tidak ada lisensi software yang standalone di computer user. Hal tersebut membuat siapapun dandimanapun lokasinya bisa menggunakan lisensi-lisensi yang tersedia dengan koneksi ke server. Hasil update block model sumberdaya kemudian di distribusikan ke site sebagai guidance. Tim di site juga melakukan pengolahan terhadap block model tersebut menggunakan software tertentu dengan lisensi yang tersedia di server melalui koneksi internal ANTAM dari site ke head office di Jakarta. Meskipun dalam pengolahan update block model sumberdaya tidak seluruhnya otomatis, karena masih memerlukan justifikasi resource estimator atau Competent Person, namun dalam pengerjaannya bisa kapanpun dan dimanapun karena lisensi yang terpusat dan dapat digunakan oleh siapapun yang memerlukan. Sentralisasi lisensi perangkat lunak dan interkoneksi data yang dilakukan oleh ANTAM membuat distribusi data eksplorasi dan update block model sumberdaya tiap komoditas ANTAM yang tersebar dari Indonesia bagian Barat sampai bagian Timur tidak terkendala jarak dan waktu, khususnya untuk update block model. Hal tersebut dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, serta siapapun yang memerlukan dapat menggunakan lisensi software yang tersedia di server. Key words: industri 4.0, koneksivitas, lisensi, server, database eskplorasi, block model sumberdaya  ABSTRACT Industry 4.0 is a name given to the idea of smart industry where machines are augmented with the web connectivity. The trend is towards automation and data connectivity includes cloud computing. Now, and into the future as Industry 4.0 unfolds, computers are connected and communicate with one another to ultimately make decisions without human involvement. Mining industry is one of industry that really needs connectivity because the location of site is separate to its head office. As a mining industry with more than one of sites that spread from west part to east part of Indonesia, PT ANTAM Tbk (ANTAM) needs connectivity between sites and head office. One of working cycle of ANTAM is exploration database collecting, geological modeling, resource estimation and distribution the resource block model to sites. The exploration database will be used to update the geological model and estimate the resources every quarter for each commodity of each site which is actively explore. The licenses of ANTAM’s software to do modeling and estimate the resources are centralized in a server in head office, so there is no standalone software license in user computer. Centralized licenses make anyone and everywhere can utilize the licenses using connection to the server. The updated block model distributed to sites as guidance. Team on sites work on the block model use certain software with licenses that centralized in the server through ANTAM’s connection from sites to head office. Although in estimate the resources not fully automation due to still need justification from resource estimator or Competent Person, but in the process could be everywhere and anytime because of centralized licenses. Centralized software licenses and data interconnection of ANTAM make distribution of exploration data and updated block model for each commodities of ANTAM that spread from west part to east part of Indonesia is not a problem, especially for updating the block model. It could be proceed everywhere, anytime by everyone using licenses in the server. Key words: industry 4.0, connectivity, license, server, exploration database, resource block mode

    TELEGRAM MESSENGER BOT FOR REALTIME MINE OPERATION REPORTS

    No full text
    ABSTRAKInformasi realtime sangat penting untuk mendukung kegiatan operasional di tambang Batu Hijau PT. Amman Mineral Nusa tenggara. Selama ini salah satu metode yang digunakan dalam pendistribusian informasi realtime adalah dengan menggunakan MORS SMS Broadcaster yang telah dikembangkan oleh seksi Fleet Management System & Data Analyst yang memanfaatkan layanan GSM Short Message Service (SMS) dari operator seluler. Namun seiring dengan bertambahnya informasi yang harus diberikan dan semakin banyak jumlah pengguna layanan tersebut menjadikan pendistribusian informasi menggunakan SMS semakin tidak efektif dari sisi biaya. Keterbatasan dari sisi format pesan jumlah karakter yang dapat dikirimkan menggunakan layanan SMS juga semakin menurunkan kualitas informasi yang dapat diberikan. Untuk mengatasi kekurangan yang ada di sistem sebelumnya, perlu dikembangkan sistem/layanan baru dalam pendistribusian informasi realtime yang lebih efisien dari sisi biaya dan dapat meningkatkan kualitasi informasi yang disampaikan. Dari perbandingan terhadap beberapa alternatif aplikasi yang sejenis, Telegram dipilih untuk digunakan dalam pengembangan sistem baru karena lebih unggul dalam beberapa parameter perbandingan yang telah ditetapkan. Penggunaan fitur Telegram Bot juga telah memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi biaya dan kualitas informasi laporan yang diberikan untuk mendukung kegiatan operasional dalam menjaga dan meningkatkan produktivitas tambang. Kata Kunci : informasi realtime, Short Message Service, Telegram, Bot, produktivitas tambang   ABSTRACT Realtime information is very important to support operational activities at PT. Amman Mineral Nusa Tenggara’s Batu Hijau mine. One of the methods used in the distribution of realtime information is to use MORS SMS Broadcaster which has been developed by the Fleet Management System & Data Analyst section that utilizes GSM Short Message Service (SMS) services from cellular operators. But along with the increase in information that need to be provided and the increasing number of users of these service makes the distribution of information using SMS increasingly ineffective in terms of cost. Limitations in message format and the number of characters that can be sent in a single SMS also further degrades the quality of information that can be provided. To overcome the weaknesses that exist in the previous system, new systems / services need to be developed to distribute realtime information that is more efficient in terms of cost and can improve the quality of information delivered. From a comparison of several similar application alternatives, Telegram was chosen for use in the development of a new system because it was superior in a number of predetermined comparison parameters. The use of the Telegram Bot feature has also had a significant impact on the cost efficiency and quality of report information delivery to support operational activities in maintaining and increasing mine productivity.  Keywords : realtime information, Short Message Service, Telegram, Bot, mine productivityÂ

    PERENCANAAN IN PIT DUMP (IPD) PIT D2 UNTUK OPPORTUNITY REDUCE DISTANCE DAN MITIGASI DARI BAHAYA GEOTEKNIK BLOK 1-4, BINUNGAN MINE OPERATION 1 – PT. BERAU COAL

    No full text
    ABSTRAK Pit D2 merupakan salah satu Pit dengan metode tambang terbuka di PT. Berau Coal yang berlokasi di Binungan Mine Operation-1. Pit D2 di kerjakan oleh PT. Sapta Indra Sejati (PT. SIS) sebagai mitra kerja dari PT Berau Coal. Target  produksi tahun 2019 Pit D2 yaitu overburden 16.117.353 BCM, Coal 1.473.686 MT dengan SR 9,59. Pit D2 berada disisi selatan sungai Kelay dan merupakan akses utama jalan hauling coal BMO1 dan transportasi karyawan dari Rumah / mess ke site Tambang BMO1 dan BMO2.Secara LOM, Plan Disposal terdapat pada Out Pit Dump (OPD) D2 dengan kapasitas disposal 30 MBCM pada jarak 2,6 Km dan In Pit Dump K dengan kapasitas disposal 6 MBCM pada jarak 3,2 Km. In Pit Dump K harus dilakukan karena merupakan disposal material rawa Pit D2 tahun 2019 sebanyak 6 MBCM. Salah satu opportunity untuk menurunkan angka distance adalah dengan melakukan In Pit Dump Pit D2 dengan percepatan finishing pit sehingga didapatkan distance 1,8 Km dengan kapasitas 5 MBCM. Kapasitas volume In Pit Dump terbatas dikarenakan perlu kajian geoteknik sehingga disposal In Pit Dump aman dikerjakan. Adapun overall distance 2019 adalah 2,4 km.Secara geoteknik, Pit D2 terdapat struktur geologi kompleks membentuk lembah lipatan (syncline) dan punggung lipatan (anticline) dengan batuan yang bersifat low strength. Adapun seam utama (main seam) batubara yaitu D-2, litologi area Pit D2 memiliki kemiringan perlapisan (dip) 6-10o. Hasil cross section pada desain rencana Pit dengan litologi batuan memperlihatkan adanya potensi bedding undercut di sisi side wall utara. Historical longsor di side wall telah terjadi sebanyak 2 kali dalam waktu 1 Tahun, hasil analisis geoteknik secara LOM desain terjadinya longsoran dikarenakan desain yang membentuk bedding undercut dengan bidang gelincir dibawah seam D-2 yang menyebabkan terjadinya longsoran bidang, ditambah banyaknya joint vertical yang membuat terjadinya longoran toppling. PT. Berau Coal tidak memperbolehkan adanya pemotongan bedding undercut dan masuk dalam 11 Golden Rules PT Berau Coal. Untuk melakukan bedding under cut diperlukan kajian geoteknik untuk analisisnya.Adanya opportunity short distance dan perencanaan mitigasi bahaya geoteknik maka Mine Planner dan Geotechnic Engineer membuat perencanaan  In Pit Dump Pit D2 secara paralel dengan kemajuan tambang, sehingga dari segi perencanaan dibutuhkan timing dan sequence yang tepat untuk mengeksekusi area sidewall utara. Â

    PERANAN BAHAN/SISA ORGANIK LAIN SEBAGAI PENGGANTI TOP SOIL TEHADAP KEBERHASILAN REKLAMASI/REVEGETASI DI WILAYAH BEKAS TAMBANG BAUKSIT PT ANTAM Tbk UBP BAUKSIT KALIMANTAN BARAT1

    No full text
    ABSTRAK Top Soil masih memegang peranan penting untuk menunjang keberhasilan kegiatan reklamasi/revegetasi pada areal bekas tambang, khususnya pertambangan terbuka (open pit/cast). Lapisan/layer top soil yang relatif tipis/sedikit membuat kegiatan reklamasi/revegetasi menjadi tidak maksimal. Diperlukan bahan/sisa organik lain sebagai alternatif untuk menggantikan fungsi/peran top soil untuk memperbesar persentasi keberhasilan kegiatan reklamasi/revegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran dari bahan/sisa organik lain untuk membantu memperbaiki kualitas lahan di areal bekas tambang bauksit. Penelitian dilakukan dari mulai dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019, di areal reklamasi PT ANTAM Tbk UBP Bauksit, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Metode yang digunakan adalah pembuatan dem plot ukuran 20m x 6m dengan  kolom 1 (satu) sebagai kontrol (areal tanah asli/bekas tambang),  kolom 2 (dua) untuk TKKS, Kolom 3(tiga) dengan Serasah, serta Kolom 4 (empat) dengan top soil. Keempat kolom tersebut untuk melihat sejauhmana tingkat pertumbuhan tanaman pokok (jambu hutan dan Jambu mete) dan Legume Cover Crop (LCC) dengan menggunakan perlakuan tersebut. Analisa sifat fisik kimia tanah juga dilakukan untuk mengetahui kandungan dari tiap-tiap bahan/sisa organik lain yang kemudian dibandingkan dengan top soil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan/sisa organik lain dapat memberikan konstribusi positif pada areal reklamasi/revegetasi, dengan meningkatkan percepatan pertumbuhan cover crop dan tanaman pokok. Hasil penelitian juga saat ini sudah diaplikasikan untuk kegiatan reklamasi/revegetasi PT ANTAM Tbk UBP Bauksit mulai dari tahun 2018 sampai dengan saat ini. Kata kunci : Top Soil, bahan/sisa organik lain, bekas tambang bauksit, open pit/cast, reklamasi, revegetasi, Jambu Hutan, Jambu Mete, LCC.   ABSTRACT Top Soil still plays an important role to support the success of reclamation/revegetation activities in mine out areas, especially open pitcast mining. Top soil layers that are relatively thins/lightly make reclamation/revegetation activities not optimal. Other organic materials/waste is needed as an alternative to replace the function/role of top soil to increase the percentage of successful reclamation/revegetation activities. This study aims to determine the extent of the role of other organic materialswaste to help improve the quality of land mine out areas. The study was conducted from 2017 to 2019, in the reclamation area of PT ANTAM Tbk UBP Bauksit, Tayan Hilir District, Sanggau Regency, West Kalimantan Province. The method used is making a demonstration plot of 20m x 6m size with column 1 (one) as a control (original / mine out area), column 2 (two) for TKKS Treatment, Column 3 (three) for Serasah Treatment, and Column 4 (four) with top soil. The four columns are to see the extent of growth of staple plants (local guava and Cashew) and Legume Cover Crop (LCC) using these treatments. Analysis of soil chemical physical properties was also carried out to determine the content of each other organic material /waste which was then compared with top soil. The results showed that other organic materials/waste can make a positive contribution to the reclamation / revegetation area, by increasing the acceleration of cover crop growth and staple crops. The results of the study have also been applied for the reclamation/revegetation activities of PT ANTAM Tbk UBP Bauxite starting from 2018 until now. Keywords: Top Soil, other organic materials /waste, bauxite mining, mine out,  open pit/cast, reclamation, revegetation, Local Guava, Guava, LCC, Cashe

    IMPLEMENTASI UNDANG – UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 PADA PENGAWASAN PENAATAN PERIZINAN LINGKUNGAN HIDUP DI SALAH SATU PERUSAHAAN TAMBANG BIJIH NIKEL DI KABUPATEN KONAWE SELATAN, PROVINSI SULAWESI TENGGARA

    No full text
    ABSTRAKRuang lingkup pengawasan perizinan lingkungan hidup dilakukan dengan kegiatan 1) Pemeriksaan terhadap dokumen lingkungan hidup dan perizinan yang terkait, 2) Pemeriksaan terhadap fasilitas pengendalian pencemaran air, 3) Pemeriksaan terhadap fasilitas pengendalian pencemaran udara emisi dan ambien, 4) Pemeriksaan terhadap pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun,  5) Pemeriksaan terhadap pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, 6) Pemeriksaan pengelolaan limbah padat Non B3 dan/atau sampah domestik. Tahapan kegiatan penambangan bijih nikel laterit yang dilakukan di salah satu perusahaan di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara antara lain 1) Tahap perencanaan, 2) Land clearing, 3) Pengupasan over burden, 4) Ore getting, 5) Pembuatan cone produksi. Proses penambangan akan menghasilkan produksi bijih nikel. Bijih nikel dari tambang berupa raw nikel diangkut dengan menggunakan Dump Truck dengan kapasitas 20 mt. Pengangkutan bahan galian menggunakan Dump Truck menempuh jarak hauling 17 km dari tambang sampai ke EFO (Exportable Final Ore), penumpukan di EFO dengan system dome yang dikelompokkan sesuai kadar atau level kualitas bahan galian. Material raw nikel yang terkumpulkan di EFO kemudian dimuat ke tongkang yang disesuaikan dengan market permintaan domestik kasaran Ni 1,80 – 1,95% dengan rata – rata tonase pengapalan lokal 6.000 – 7.500 mt. Sedangkan untuk pasar ekspor kisaran Ni <1,7% dengan rata – rata tonase pengapalan ekspor 50.000 mt. Pada pengawasan yang dilakukan perbandingan antara dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dengan hasil pelaporan RPL dan hasil temuan lapangan perusahaan telah melanggar Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pasal 20 ayat (3) huruf b, Pasal 67, Pasal 68 huruf c, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air pada Pasal 34 ayat (2) dan (3), Pasal 37, Pasal 40 ayat (2), Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara pada Pasal 21 huruf a dan b, Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun pada Pasal 12 ayat (1), Pasal 25 ayat (1) huruf b, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2013 tentang Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun pada Pasal 2 ayat (5) dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Nomor 06 tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan bijih Nikel Pasal 8, ayat (1) dan ayat (2). Berdasarkan analisis yuridis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan tambang bijih nikel tersebut Tidak Taat.Kata Kunci :  Bijih Nikel, Lingkungan Hidup, Pengawasan, Peraturan, Perizinan. ABSTRACTThe scope of environmental licensing supervision is carried out with activities 1) Inspection of environmental documents and related permits, 2) Reports of water pollution control facilities, 3) Reports of emission and ambient air pollution control facilities, 4) Reports of the management of Hazardous Substances and Toxic, 5) Inspection of the management of Hazardous and Toxic Waste, 6) Inspection of management of Non toxic and dangerous material solid waste and/or domestic waste. Stages of laterite nickel ore mining activities carried out in one company in Konawe Selatan Regency, Southeast Sulawesi Province include 1) Planning phase, 2) Land clearing, 3) Over-load stripping,  4) Ore getting, 5) Production of cone production. The mining process will produce nickel ore production. Nickel ore from mines in the form of nickel raw is transported using a Dump Truck with a capacity of 20 mt. Transportation of mining materials using a Dump Truck takes a hauling distance of 17 km from the mine to the EFO (Exportable Final Ore), stacking on EFO with a dome system that is grouped according to the level or quality level of minerals. The nickel raw material collected at EFO is then loaded onto a barge which is adjusted to the domestic market demand of Ni 1.80 - 1.95% with an average local shipping tonnage of 6,000 - 7,500 mt. As for the export market, the range of Ni <1.7% with an average shipping tonnage of 50,000 mt. In monitoring conducted a comparison between Environmental Monitoring Plan (EMP) documents with EMP reporting results and company field findings has violated Law Number 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management in Article 20 paragraph (3) letter b, Article 67, Article 68 letter c, Government Regulation Number 82 of 2001 concerning Management of Water Quality and Water Pollution Control in Article 34 paragraphs (2) and (3), Article 37, Article 40 paragraph (2), Government Regulation Number 41 of 1999 concerning Pollution Control Air in Article 21 letters a and b, Government Regulation Number 101 of 2014 concerning Management of Hazardous and Toxic Waste in Article 12 paragraph (1), Article 25 paragraph (1) letter b, Minister of the Environment Regulation Number 14 of 2013 concerning Symbols and Label of Hazardous and Toxic Waste in Article 2 paragraph (5) and Minister of the Environment Regulation Number 06 of 2006 concerning Wastewater Quality Standards for Businesses and/or Mining Activities for Nickel Ore Article 8 paragraph (1) and paragraph (2).. Based on the juridical analysis that has been done, it can be concluded that the nickel ore mining company is Not Obedient.Keywords: Nickel Ore, Environment, Supervision, Regulation, Licensing

    PENGEMBANGAN SISTEM DIGITAL CHECKER BERBASIS APLIKASI MOBILE ANDROID SEBAGAI PENCATATAN RITASE SECARA REAL TIME PADA PT. SATRIA BAHANA SARANA

    No full text
    ABSTRAK Pengembangan sistem digital checker merupakan tranformasi dari sistem manual yang di distribusikan ke dalam bentuk digital berbasis aplikasi mobile android. Selama ini proses pencatatan setiap ritase dilakukan oleh checker. Checker adalah karyawan yang secara khusus melakukan pencatatan ritase. Proses pencatatan ritase yang dilakukan saat masih bersifat manual menggunakan kertas, dan hasil dari proses pencatatan manual melalui kertas tersebut kemudian diolah dan dianalisa pada satuan kerja Operasional Control Center (OCC). Setelah proses pengolahan data dan analisa yang dilakukan oleh satuan kerja OCC, barulah kemudian dilaporkan ke management. Dari penerapan sistem checker manual tersebut dapat menyebabkan proses pengambilan keputusan bisnis apabila dilihat dari sisi management kurang efektif dan efesien. Selain itu juga dibutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui serta memutuskan pencapaian produksi secara ideal berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Oleh sebab itu maka dibutuhkan media perantara berupa sistem aplikasi berbasis mobile android. Tujuan dari pengembangan sistem digital checker ini adalah untuk mengalihkan sistem yang selama ini manual menjadi digitalisasi yaitu pencatatan ritase menggunakan mobile android pada PT. Satria Bahana Sarana. Metodologi dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research), dengan pendekatan metode 4-D (Define, Design, Develop, Disseminate) yang digunakan dalam pengembangan sistem digital checker. Adapun aplikasi yang dibangun berbasis android menggunakan bahasa pemograman PHP dan database MySQL, Indexing & Elastic for (temporary saving) serta web service API (Application Programming Interface), TypeScript. Implementasi akhir dari pengembangan sistem digital checker ini dapat mempercepat dan memberikan informasi ritase melalui penginputan data secara langsung oleh checker dengan sistem aplikasi mobile android, sehingga proses ritase dapat diketahui dengan cepat dan tepat karena data disajikan secara real time selama 24 Jam. Sistem digital checker berbasis aplikasi android telah diuji coba pada PT. Satria Bahana Sarana di site Bangko pit 1 utara dan site Mahayung. Dampak dari penerapan aplikasi digital checker ini juga dapat meminimalisir penumpukan dan penggunaan kertas. Kata Kunci : digital checker, ritase, android, 4D, PT. Satria Bahana Sarana  ABSTRACT The development of a digital checker system is a transformation of a manual system that is distributed into digital form based on an android mobile application. The during this recording process, each participant is carried out by the examiner. Inspector is an employee who specifically records the reality. The process of recording the ritase is done while still manually using paper, and the results of the manual recording process through paper are then processed and analyzed in the Operational Control Center (OCC) departement. After the data processing and analysis carried out by the OCC departement, it is then reported to management. From the application of this manual inspection system, it can cause the decision making process taken by the management to be less effective and efficient. In addition it takes a long time to be discussed and also determine the ideal production in accordance with predetermined criteria. Therefore we need media related to the android mobile-based application system. The purpose of the development of this digital checker system is to move the system that has been manually into digitization, namely the recording of ritase using an android phone at PT. Satria Bahana Sarana. The methodology in this research is action research, by studying the 4-D (Define, Design, Develop, Disseminate) method used in the development of digital inspection systems. Android based applications use the PHP programming language and MySQL database, Indexing & Elastic for (temporary storage) and web service API (Application Programming Interface), TypeScript. The final implementation of the development of the digital checker system can accelerate and provide social information through inputting data directly by the checker with the android mobile application system, so that the security process can be supported quickly and precisely in accordance with the data presented in real time for 24 hours. Android based digital checker system has been tested on PT. Satria Bahana Sarana at Bangko site pit 1 north and Mahayung site. The impact of implementing this digital checking application can also minimize paper buildup and use Keywords: digital checker, ritase, android, 4D, PT. Satria Bahana SaranaÂ

    PROJECT : PEMANFAATAN LAPISAN SOIL DIATAS RAWA UNTUK REVEGETASI DI AREA PIT WEST SITE LATI MINE OPERATION – PT. BERAU COAL

    No full text
    ABSTRAKPit West pada site Lati Mine Operation (LMO) merupakan salah satu Pit terbesar di PT. Berau Coal dengan target produksi 2019 untuk overburden removal sebesar 166.007.173 BCM dan batubara sebesar 13.475.859 MT. Dengan rencana bukaan lahan seluas 146 Ha dan rencana revegetasi seluas 235 Ha. Area rawa yang masuk di dalam rencana bukaan lahan adalah seluas 88 Ha (60% dari rencana bukaan lahan) dengan kedalaman rawa rata-rata mencapai 25 – 30 m. Besarnya luasan area rawa yang masuk dalam rencana bukaan lahan dan tingginya rencana revegetasi dengan kebutuhan soil sebesar 2.937.500 BCM menjadi latar belakang dari project ini dilakukan. Berdasarkan perhitungan potensi lapisan soil di atas rawa yang dapat dimanfaatkan adalah sebesar 2.201.860 BCM. Secara kualitas dan kesuburan tanah belum dilakukan analisis. Melihat potensi ini dibentuklah project initiative dengan tujuan memanfaatkan lapisan soil di atas rawa untuk digunakan sebagai media tanam revegetasi. Department in charge (DIC) project ini adalah short term mine planner, enviro, operation, dan pit service. Metode analisa project yang digunakan adalah problem, identification, corrective, action (PICA). Penentuan lokasi dumping menjadi faktor penting karena material lapisan soil di atas rawa yang dapat didumping hanya pada area datar dan tidak diperkenankan pada area slope disposal karena pertimbangan safety serta teknis operasional. Secara bersamaan lapisan soil di atas rawa diloading dengan teknis layering front loading untuk membentuk pad excavator. Treatment lapisan soil di atas rawa membutuhkan waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan treatment soil original karena material dalam kondisi basah. Material lapisan soil di atas rawa area pit (source) dan revegetasi (destination) dilakukan sampling dengan metode teknik sampling systematic random sampling untuk mengetahui kualitas lapisan soil di atas rawa dengan 12 parameter pengujian diantaranya PH – H2O, C-organik, N-total, P & K-potential, P-tersedia, C/N organik, K-tersedia, KTK, K Na Ca Mg, % kejenuhan basa, Al & H, dan % Kejenuhan Al. Secara keseluruhan sesuai hasil uji laboratorium kandungan unsur hara lapisan soil diatas rawa hampir sama baik dengan soil pada area original. Berdasarkan kajian dan rekomendasi enviro lapisan soil di atas rawa secara kandungan sifat kimia layak untuk digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman untuk revegetasi. Melalui project ini area revegetasi yang telah dicover dengan material lapisan soil di atas rawa (November 2018-Juni 2019) sebagai bagian konservasi lingkungan adalah seluas 41,20 Ha dengan pencapaian year to date 2019 revegetasi hingga Juni adalah 100% (actual 109,11 Ha, plan 108,79 Ha). Keyword : soil, rawa, revegetasi ABSTRACTPit West on the Lati Mine Operation (LMO) site is one of the largest pits at PT. Berau Coal with a production target of 166,007,173 BCM 2019 for overburden removal and coal of 13,475,859 MT on 2019, with a planned mine area of 146 Ha and revegetation plan area of 235 Ha. The swamp area included in the land clearing plan is 88 hectares (60% of the land clearing plan) with an average swamp depth of 25-30 m. Large size of the swamp area included in the land clearing plan and soil requirements of 2,937,500 BCM for revegetation plan be the background of this project. Based on the calculation of the potential layer of soil above the swampy material that can be used for revegetation is 2,201,860 BCM. In terms of quality and soil fertility, there has not been analyzed. Based on this case, a project initiative was formed with the aim of utilizing the soil layer above the swampy material for use as revegetation plant. People in charge on this project are short term mine planner, environment, operation, and pit service section. Problem, identification, corrective, action (PICA) used as problem identification method. Determination of the dumping location becomes an important factor because the soil layer material above the swampy material can only be dumped on a flat area and not allowed in the slope disposal area due to safety considerations and operational techniques. Simultaneously the soil layer above the swampy material is loaded with special method to form an excavator pad. Treatment of the soil layer above the swampy material takes wider than the original soil treatment because the material is wet. Soil layer material above the pit area (source soil) and revegetation (destination) was carried out sampling by systematic random sampling technique to determine the quality of the soil layer above the swamp with 12 test parameters including PH - H2O, C-organic, N-total, P & K-potential, P-available, organic C / N, K-available, CEC, K Na Ca Mg,% base saturation, Al & H, and% Al saturation According to the results of laboratory tests the nutrient content of the soil layer above the swamp is almost as good as the soil in the original area. Based on the study and recommendations, layer of soil above the swamp the chemical properties are suitable for use as plant growth media for revegetation. Through this project the revegetation area that has been covered with soil layer material above the swamp (November 2018-June 2019) as part of environmental conservation is 41.20 Ha with the achievement of year to date 2019 revegetation until June is 100% (actual 109.11 Ha , plan 108.79 Ha) Keyword : soil, swamp, revegetatio

    0

    full texts

    290

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇