Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Not a member yet
290 research outputs found
Sort by
REDUKSI KECEPATAN DRIVE CONVEYOR SEBAGAI ALTERNATIF PENGURANGAN JARAK TRAJECTORY BATUBARA (STUDI KASUS PROYEK PENINGKATAN MASA PAKAI GUIDE RAIL SAMPLER HEAD END RECALAIMING#2 PT.KPC)
KPC memiliki Conveyor yang terbentang sepangang 26 Km dari melawan sampai Tanjung bara. Masalah Coal trajectory sering terjadi di setiap transfer tower coal conveyor.  Studi kasus mengurangi jarak lintasan trajectory coal flow dilatarbelakangi oleh  kasus terjadinya keausan pada guide rail sampler karena lintasan trajectory coal flow yang menabrak guide rail sampler dan menyebabkan masa pakai rail sangat pendek.Mekanikal Sampler tipe “falling stream cutter†memiliki desain dengan guide rail yang memotong lintasan trajectory. Ausnya guide rail terjadi karena lintasan trajectory terlalu jauh sehingga menabrak guide rail mekanikal sampler. Akibatnya, mekanikal sampler tidak bisa berfungsi normal dan mematikan sistim konveyor.Beberapa opsi untuk mengurangi jangkauan trajectory ini tanpa mengurangi kapasitas produksi batu bara adalah :1. Memundurkan launch pulley menjauhi head pulley.2. Mengecilkan ukuran diameter launch pulley.3. Mengurangi kecepatan drive conveyor.Dari ketiga opsi diatas, yang paling mudah, cepat dan murah adalah opsi ketiga, yakni mengurangi kecepatan drive conveyor. Dalam tulisan ini akan diuraikan analisa perbandingan ketiga opsi diatas dengan menggunakan perhitungan manual dan software. Hasil studi actual di lapangan menunjukkan Trajectory bisa mencapai hasil optimum (tidak mengenai guide rail sampler) dengan mengurangi kecepatan drive conveyor
THE DEVELOPMENT CHARACTERIZATION AND DISTRIBUTION OF COAL SEAM IMPLICATION FOR THE QUALITY VARIATION IN PIT PUNTADEWA, MUARA JAWA FIELD, EASTERN KALIMANTAN
Lapisan batubara di cekungan Kutai memiliki karakteristik yang menarik untuk dikaji, terutama di Formasi Pulaubalang. Endapan sedimen pada masa Eosen Tengah dipengaruhi oleh pola struktur yang berkembang pada masa Paleogen - Neogen serta stratigrafi itu sendiri, yang berimplikasi pada pola distribusi dan kontinuitas yang bervariasi. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kendala dalam kegiatan eksplorasi batubara, terutama pada permodelan batubara. Makalah ini akan mengungkapkan bahwa pola distribusi dan kontinuitas lapisan batubara dapat berubah meskipun dalam jarak yang dekat. Data terpadu berupa data penampang stratigrafi terukur, survei topografi, data kualitas terdekat digunakan untuk membangun model geologi berupa karakteristik perkembangan dan sebaran lapisan batubara. Pada wilayah penelitian ini difokuskan pada empat lapisan batubara (seam A1, seam A2, seam A3 dan seam A4). Berdasarkan hasil studi, rangkaian lapisan tersebut diendapkan dalam Satuan Batulempung Formasi Pulaubalang. Fasies sedimen strata lapisan batubara adalah batulempung berlapis selingan dengan batubara. Fasies ini berkembang menjadi endapan rawa yang dipengaruhi oleh dataran banjir. Lapisan tersebut termasuk dalam nilai batubara yang tinggi berkisar antara 5,926 – 6,365 cal/g (adb) dan 7,441 – 7,498 cal/g (daf). Selanjutnya, geometri batubara dikontrol oleh sedimentasi dan struktur geologi. Ketebalan lapisan relatif sama tetapi di beberapa area berkembang sisipan pengotor, pembelahan lapisan serta sesar yang membatasi kemenerusan lapisan batubara. Dengan mengetahui kondisi geologi, metode ini dapat diterapkan dalam membantu strategi pengembangan pertambangan baik pemodelan geologi maupun estimasi sumberdaya dan cadangan
PENGARUH PELAPUKAN TERHADAP KUAT TEKAN UNIAKSIAL PADA BATUAN ANDESIT
Proses pelapukan merupakan hal yang umum dijumpai pada batuan. Apalagi di daerah yang beriklim tropis memiliki peran dalam mempengaruhi sifat mekanik batuan, khususnya kekuatan massa batuan tersebut. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kekuatan batuan, diantaranya adalah faktor pelapukan batuan. Beberapa jenis batuan yang mengalami pelapukan, salah satunya yaitu batuan andesit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kekuatan batuan andesit fresh dan batuan andesit lapuk di dua lokasi yang berbeda. Dimana lokasi 1 adalah batuan andesit yang masih fresh sedangkan di lokasi ke 2 yaitu batuan andesit yang sudah mengalami pelapukan. Perubahan-perubahan yang terjadi pada proses pelapukan kebanyakan berlangsung secara gradual dan biasanya diikuti oleh pola-pola perubahan yang teratur. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan pengamatan secara langsung di lapangan dan melakukan uji laboratorium yaitu uji kuat tekan uniaksial (Uniaxial Compressive Strength). Dari hasil pengujian UCS diproleh hasil kuat tekan batuan andesit fresh pada sampel 01.A yaitu sebesar 17,16 Mpa, sampel 01.B sebesar 15,44 Mpa, sedangkan batuan andesit lapuk yaitu, sampel 02.A sebesar 12,34 Mpa dan sampel 02.B sebesar 6,64 MPa. Berdasarkan hasil uji UCS di dua lokasi tersebut, lokasi dua memiliki kekuatan massa batuan yang lebih kecil dari massa batuan di lokasi pertama, karena adanya proses pelapukan. Dari hasil analisis, proses pelapukan batuan pada lokasi pertama tergolong dalam kelas I yaitu batuan fresh sedangkan batuan di lokasi kedua tergolong dalam kelas IV yaitu lapuk kuat. Oleh karena itu di lokasi kedua perlu dilakukan perkuatan lereng, untuk menghindari terjadinya longsor.Â
ANALISIS KESTABILAN LERENG BATUAN LUNAK DENGAN MODEL MATERIAL VALIDATED TRANSITION PADA RANCANGAN PIT WARA 2020 PT ADARO INDONESIA
Dalam analisis kestabilan lereng yang baik dibutuhkan tidak hanya data-data yang representatif namun juga pemilihan metode dan parameter batuan yang sesuai dengan kondisi geologi yang ada.. Penerapan failure criteriation dan material type Generalized Hoek Brown (GHB) pada batuan lunak (weak rock) harus dilakukan dengan usaha lebih agar diperoleh hasil yang optimal (Carter T.G, Deiderichs M.S & Carvalho J.L., 2008; Zhai H., et al, 2017; Dinc O.S et al., 2011). Salah satunya adalah penerapan GHB pada kondisi batuan tambang batubara dimana sering ditemukan weak rock dengan UCS < 10 – 15 MPa contohnya adalah di Pit Wara PT Adaro Indonesia.Persamaan Transition GHB yang diajukan oleh Carter et al (2008) dan Carvalho et al (2007) menjadi salah satu solusi dalam penggunaan GHB pada weak rock. Persamaan ini memberikan koreksi dengan memperhitungkan nilai UCS sebagai salah satu kriteria perhitungan parameter GHB. Penerapan persamaan Transition di Pit Wara dilakukan dengan validasi dari nilai UCS invalid dan nilai deformasi dari monitoring prisma RTS sehingga diperoleh persamaan baru yaitu Validated Transition (VT)Analisis kestabilan lereng aktual 2019 pada Pit Wara dengan menggunakan GHB menghasilkan SRF sebesar 1.31 dengan deformasi pemodelan rata-rata pada model actual sebesar 30.6 mm atau dengan gap deformasi sebesar 31%. Sedangkan analisis menggunakan persamaan transisi yang divalidasi atau Validated Transition (VT) menghasilkan SRF 1.53 dan deformasi pemodelan rata-rata sebesar 24.1 mm atau dengan gap deformasi sebesar 4%. Implementasi model aktual pada rancangan Pit Wara 2020 menghasilkan SRF 1.28 untuk penggunaan material GHB dan 1.44 untuk penggunaan material VT. Â
RISK MANAGEMENT THROUGH LANDSLIDE BACK ANALYSIS IN GRASBERG MINE, PAPUA
Grasberg is an ‘ultra-deep’ open pit copper-gold mine located in the highland of Jayawijaya mountain range of Papua province, Indonesia. Throughout its long history, Grasberg had critical geotechnical challenges that pose a threat to their operational and mining infrastructures. Landslide is one of the geotechnical hazards that has extreme potential damage that need to be further addressed. In general, one of the routines for approaching landslide behavior is through numerical analysis which is called a runout analysis.There are three main tasks to run this analysis:1. Modeling back-analysis on the past landslide events at Grasberg to define behavioral parameters that meet its actual components namely maximum distance reached, thickness, and deposits distribution of debris flows. 2. Prediction of upcoming model of landslide events that incorporating mm precision topographical survey and detailed geological structure identification via laser scanning as a reasonable landslide’s thickness limit.3. Development of risk management based on predictive landslide model and working criteria as a guidance for mine operation The combination of runout analysis and slope movement criteria which was provided by radar monitoring will give clear guidance and required action plans from mining operation team to address potential landslide issues in the mine to provide safe-productive mine operation
STUDI KARAKTERISTIK BEBERAPA BATUBARA INDONESIA UNTUK MENDUKUNG PROSPEK PEMANFAATANYA
Batubara merupakan hasil tambang yang memiliki beragam manfaat. Pada umumnya, batubara di Indonesia dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang biasa disebut batubara uap atau sebagai bahan baku industri baja yang biasa disebut batubara kokas. Baik batubara uap maupun batubara kokas memiliki spesifikasi kualitas yang berbeda satu sama lainnya sesuai dengan kebutuhan dari proses pemanfaatanya masing-masing. Agar batubara dapat dimanfaatkan sesuai dengan kualitasnya, perlu dilakukan pengujian kualitas terhadap sampel-sampel batubara. Pada penelitian ini dipilih contoh batubara yang berasal dari beberapa formasi geologi pembawa batubara, yaitu Formasi Batu Ayau dan Formasi Tanjung di Cekungan Barito, Formasi Balikpapan di Cekungan Kutai, dan Formasi Muara Enim di Cekungan Sumatera Selatan. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian proksimat, pengujian ultimat, pengukuran nilai kalori, dan pengujian FSI (Free Swelling Index). Hasil dari pengujian-pengujian tersebut akan mencerminkan proses pembatubaraan yang telah dialami oleh batubara. Batubara yang telah mengalami pembatubaraan hingga peringkat Subbituminus dengan tipikal Gross Calorific Value di kisaran 5000 kcal/kg (ar), kandungan air di bawah 36 % (ar), kandungan abu di bawah 15% (adb), kandungan zat terbang di kisaran 40% (adb), dan kandungan sulfur di bawah 0,9% (adb) lebih cocok untuk dimanfaatkan sebagai batubara uap. Sedangkan batubara yang telah mengalami pembatubaraan hingga peringkat bituminus dengan tipikal kandungan air di bawah 15% (ar), kandungan abu di bawah 12% (adb), kandungan belerang di bawah 1% (adb), dan FSI di atas 6 lebih cocok untuk dijadikan batubara kokas
RANCANGAN KONSEP, IDENTIFIKASI PARAMETER, SERTA METODA ANALISIS YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM EKSPLORASI LOGAM TANAH JARANG PADA ENDAPAN SEDIMENTER PEMBAWA TIMAH
Endapan sedimenter adalah endapan sekunder yang dikenal juga sebagai Endapan Plaser (Placer Deposit) atau Endapan Letakan, dimana salah satunya adalah endapan timah alluvial yang ada di Pulau Bangka dan Belitung. Selain mineral pembawa timah seperti Kasiterit, terdapat juga Mineral Ikutan Timah (MIT) pembawa Rare Earth Element (REE) atau Logam Tanah Jarang (LTJ) berupa ilmenite, rutile, xenotime, monzonite, dan zirkon. Karena mineral-mineral pembawa REE atau LTJ ini merupakan MIT, maka karakteristik fisik dari MIT menjadi sangat penting untuk diketahui dan dipelajari. Oleh sebab itu rancangan konsep awal serta identifikasi parameter sangat penting untuk diidentifikasi pada perancangan kegiatan eksplorasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah alat yang digunakan, preparasi, dan pemilihan pengolahan data, variabilitas hasil analisis kadar pada variasi lokasi dan jenis sampel. Hal ini dimungkinkan karena sifat pengambilan sampel sangat penting untuk mendapatkan gambaran lengkap untuk sebaran geokimia MIT. Di sisi lain mengingat yang menjadi target eksplorasi adalah mineral pembawa timah, maka perlu dilakukan juga kajian khusus sehubungan optimasi spasi bor untuk timah dan mineral ikutan pembawa REE yang dihubungkan dengan variasi-variasi lokasi endapannya. Pemahaman konsep ini sangat penting diketahui dalam rangka konservasi sumberdaya alam, khususnya dalam pengelolaan endapan timah serta mineral-mineral ikutannya, terutama pembawa LTJ/REE
PENINGKATAN PRODUKSI BATUBARA DENGAN OPTIMALISASI CADANGAN BATUBARA PIT 11 UTARA PT ARUTMIN INDONESIA, TAMBANG ASAMASAM
Kondisi Pit 11 Utara tambang Asamasam di tahun 2020 semakin mendekati desain akhir dan adanya dorongan upaya konservasi cadangan batubara, maka mining engineering department tambang Asamasam melakukan optimasi cadangan batubara dengan penambahan desain di area Pit 11 Utara. Langkah optimasi yang dilakukan adalah melalui penegakan lereng-lereng, memotong jalan final dan juga pendalaman lubang bukaan pada seam utama di Pit 11 Utara dengan tetap meminimalkan stripping ratio sehingga optimasi yang dilakukan tetap bernilai ekonomis. Desain awal penambangan pada desain Pit Shell Pit 11 Utara, akan final pada elevasi -65 mdpl. Namun setelah optimasi bottom Pit 11 Utara direncanakan dapat final sampai elevasi M85-M90 mdpl. Hal ini didukung oleh kondisi geologi model batubara pada seam utama tersebut yang menebal. Salah satu tantangan pekerjaan optimasi pada Pit 11 Utara. Dari sisi geoteknik, dilakukan analisis kestabilan terhadap desain optimasi dan monitoring lereng secara real time menggunakan radar (SSR) karena area optimasi merupakan salah satu area kritis. Dari kegiatan optimasi ini didapatkan penambahan batubara sebanyak 445.4 kton batubara hingga akhir bulan September. Perolehan tambahan batubara ini mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam menaikkan produksi tambang Asamasam
STUDI PERILAKU KESELAMATAN KARYAWAN DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SOBAT ( SAFETY OBSERVATION OF BEHAVIOUR AT AEL), DI PT. AEL INDONESIA, SITE MSJ SEPARI TENGGARONG SEBERANG,KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR
PT. AEL Indonesia merupakan salah satu perusahaan blasting service di Indonesia, dan memiliki beberapa site, diantaranya site KPC Sangatta, site KPC Bengalon, site Melak dan site MSJ.Berdasarkan root cause safety accident 2009-2019, safety rule breaching 2009-2019, survey keselamatan terhadap seluruh karyawan 2019, survey keselamatan terhadap management 2019, ditemukan bahwa perilaku keselamatan perlu diperbaiki dan belum ada program perilaku keselamatan yang berjalan secara efektif.PT. AEL Indonesia menciptakan program “SOBAT†Safety Observation of Behaviour at AEL. Program†SOBAT†ini memiliki arti harafiah suatu perilaku karyawan yang di observasi oleh teman atau sesama karyawan. Program “SOBAT†mengidentifikasi seluruh perilaku karyawan mulai dari yang minor sampai mayor.Program “SOBAT†di rilis sejak Februari 2020 dan diimplementasikan sejak Maret 2020, berdasarkan data yang ada, terdapat 40 % perilaku tidak aman yang dapat berpotensi menyebabkan kecelakaan. Melalui program “SOBATâ€, perilaku tidak aman ini dapat di identifikasi langsung oleh karyawan dengan karyawan atau teman, dan dapat langsung melakukan saran perbaikan perilaku yang dilakukan karyawan atau teman di lingkungan PT. AEL Indonesia. Melalui program “SOBATâ€, saran perbaikan perilaku tidak aman langsung dilakukan oleh karyawan atau teman dan langsung di lakukan perbaikan perilaku oleh karyawan atau teman yang sebagai Objek “SOBATâ€.Program “SOBAT†dilaksanakan setiap mingguan secara berkala dan dilakukan oleh semua karyawan mulai dari level bawah sampai atas dan sudah mengikuti training “SOBAT†AEL. Sampai sejauh ini sudah ada 80 % karyawan yang sudah melaksanakan “SOBAT†AEL.“SOBAT†(Safety Observation of Behavior at AEL) dapat mengidentifikasi perilaku aman dan tidak aman dan untuk perilaku karyawan yang tidak aman dapat dilakukan nasehat langsung dari rekan karyawan lainnya yang diharapkan dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan perilaku tidak aman sehingga diharapkan dapat mengurangi kecelakaan yang ditimbulkan. dengan perilaku. tidak aman
ANALISIS TEKNIS PENGGUNAAN SHOTCRETE PADA TAMBANG BAWAH TANAH GRASBERG BLOCK CAVE (GBC) DI PT. FREEPORT INDONESIA PROVINSI PAPUA
Penggunaan shotcrete merupakan salah satu penyanggaan sekunder untuk menjaga kestabilan lubang bukaan pada metode penambangan block caving yang diterapkan PT. Freeport Indonesia di area Grasberg Block Cave (GBC). Pada pengaplikasian shotcrete dilapangan divisi engineering menambahkan material dari kebutuhan sebenarnya sebanyak 240% sebagai faktor overspray. Penambahan tersebut akan mempengaruhi besarnya biaya material shotcrete dan tidak sesuai dengan program efisiensi perusahaan pada masa development. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tidak optimalnya penggunaan shotcrete, melakukan pencegahan untuk mengurangi shotcrete yang terbuang dilapangan, dan mengurangi penambahan shotcrete faktor overspray saat perencanaan. Metode penelitian dengan mengumpulkan data primer yang diperoleh langsung dilapangan dan data sekunder yang diperoleh dari arsip perusahaan serta studi literatur. Pada perencanaan shotcrete, kapasitas getmen mixer 4 m³ dapat melapisi heading dengan shotcrete sepanjang 4,65 meter dan berdasarkan data pengukuran panjang dan luasan area shotcrete hanya membutuhkan rata-rata 1,97 m³. Hasil analisis berdasarkan 22 data mixer, didapatkan volume shotcrete yang terisi dalam getmen mixer rata-rata 3,86 m³, shotcrete yang tertempel pada heading rata-rata 3,16 m³, dan panjang yang dapat di shotcrete pada penyemprotan full drift hanya 2,96 meter. Sehingga terdapat overspray rata-rata 121% yang menunjukkan penambahan material faktor overspray saat perencanaan kurang dari 240%. Overspray yang terjadi dipengaruhi oleh faktor overbreak, ketebalan shotcrete 12-27 cm yang melebihi dari perencanaan 7,5 cm, ketidaksesuaian volume pengisian getmen mixer yang kurang dari 4 m³, dan material terbuang dilapangansaat spraying (rebound) dan saat proses transfer material dari getmen mixer ke maxijet