e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
Not a member yet
385 research outputs found
Sort by
PKMS KELOMPOK NELAYAN PINTAR PERTOLONGAN PERTAMA PADA KONDISI DARURAT KESEHATAN LAUT DI KECAMATAN NUSA TABUKAN, PROVINSI SULAWESI UTARA
Pulau Nipa merupakan salah satu pulau terluar di Kabupaten Kepulauan Sangihe tepatnya berada pada wilayah Kec. Nusa Tabukan dimana sebagian besar masyarakat dipulau tersebut berprofesi sebagai nelayan, akses transportasi ke kabupaten ataupun antar kecamatan bahkan antar kampung hanya dapat ditempuh dengan jalur laut sehingga ketika cuaca buruk melanda daerah tersebut sering terisolir. Karakteristik wilayah yang telah disebutkan diatas tak heran bila masyarakat sering mengalami masalah kesehatan yang berhubungan dengan laut antara lain gigitan binatang laut, penyakit dekompresi bahkan sampai terjadinya henti jantung dan apabila cuara buruk akan mengakibatkan korban lambat dalam mendapatkan tindakan pertama. Tujuan dari kegiatan Pengabdian pada Masyarakat ini yaitu peningkatan pengetahuan pada kelompok nelayan dengan metode workshop tentang tindakan pertama dalam kondisi darurat dilaut sehingga diharapkan ketika terjadi kondisi darurat maka pihak keluarga atau masyarakat dapat langsung memberikan tindakan tersebut ditempat kejadian. Kegiatan pengabmas dilaksanakan pada hari senin, 26 Juli 2021 bertempat di Aula Kecamatan Nusa Tabukan, dan yang menjadi peserta yakni perwakilan kelompok nelayan yang berada 5 desa/pulau antara yang berjumlah 21 orang. Pengetahuan peserta di ukur sebelum dan sesudah kegiatan penyuluhan, hasil nya menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat dimana rerata nilai berada pada poin 8 (53,33 persen) dengan kategori cukup meningkat menjadi rerata 14 (93,33 persen) dengan kriteria baik. Setelah kegiatan ini dilaksanakan masyarakat yang mengikuti kegiatan memiliki pengetahuan yang baik mengenai pertolongan pertama kecelakan laut. Diharapkan para peserta bisa menyebarkan pengetahuan yang telah diperoleh kepada tetangga atau sahabat mereka, dan dapat meningkatkan pengetahuan pribadi secara aktif lewat media elektronik.
Nipa Island is one of the outermost islands in the Sangihe Islands Regency, precisely in the Kec. Nusa Tabukan where most of the people on the island work as fishermen, transportation access to districts or between sub-districts and even between villages can only be reached by sea so when bad weather hits the area is often isolated. The characteristics of the area mentioned above do not be surprised if people often experience health problems related to the sea, including marine animals, decompression sickness, even cardiac arrest, and bad things that will cause delays in getting action. The purpose of this Community Service activity is to increase knowledge in fishing groups with the workshop method on the first action in an emergency at sea so that it is hoped that when an emergency occurs, the family or community immediately provides such action at the scene. The community service activity was carried out on Monday, July 26, 2021, at the Nusa Tabukan District Hall, and the participants were representatives of fishermen groups in 5 villages/islands which operated 21 people. The knowledge of participants before and before the extension activities, the results showed an increase in public knowledge where the average value was at point 8 (53.33 percent) with the moderate category increasing to an average of 14 (93.33 percent) with good criteria. After this activity was carried out, the community participated in the activity who had good knowledge of first aid for marine accidents. It is hoped that the participants will be able to spread the knowledge gained to their neighbors or friends, and can actively increase their knowledge through electronic media
GERAKAN LANJUT USIA SADAR COVID-19 DI POSYANDU LANSIA DESA PEMPALARAENG KECAMATAN KENDAHE KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Dalam UU Kesehatan. No 23 tahun 1992, pasal 19ayat 1 tentang Kesehatan manusia usia lanjut perlu mendapatkan perhatian khusus dengan tetap dipelihara dan ditingkatkan agar selama mungkin dapat hidup secara produktif sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat ikut serta berperanaktif dalam pembangunan. Dengan adanyan pandemic Covid-19 yang merupakan ancaman bagi keselamatan lansia sebab efeknya akan lebih berbahaya atau bahkan fatal bila terjadi pada orang lansia, ibu hamil, orang yang memiliki penyakit tertentu, perokok atau orang yang daya tahan tubuhnya lemah. Upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona adalah untuk mematuhi protokol kesehatan, namun hal ini belum memasyarakat sampai di wilayah pedesaan termasuk lansia. Tujuan kegiatan pelaksanaan pengabdian adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang Covid-19, termasuk cara penularannya serta manfaat dari pemberian vaksinasi. Metode yang digunakan yaitu penyuluhan/sosialisasi, dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan berupa pemeriksaan fisik, pemeriksaan tekanan darah, Saturasi Oksigen, pemeriksaan kimia darah yang terdiri dari Cholesterol, Asam Urat dan Gula darah. Hasil yang dicapai pada pengabdian ini yaitu lansia dapat mengerti dan memahami tentang materi yang disampaikan. Dari jumlah lansia yang hadir sebanyak 26 orang semuanya dilakukan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan yang tidak normal diedukasi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut disarana kesehatan.
In the Health Act. 23 of 1992, article 19 paragraph 1 concerning the health of elderly people, it is necessary to pay special attention to the health of the elderly by maintaining and improving them so that as long as possible they can live productively according to their abilities so that they can take an active role in development. The Covid-19 pandemic is a threat to elderly safety because the effects will be more dangerous or even fatal if it occurs in the elderly, pregnant women, people who have certain diseases, smokers, or people whose immune systems are weak. Efforts to prevent the spread of the Coronavirus adhere to health protocols, but this has not yet been popular in rural areas, including among the elderly. The purpose of the service implementation activity is to increase knowledge about Covid-19, including how it is transmitted and the benefits of giving vaccinations. The method used is counseling/socialization, followed by health checks in the form of physical examinations, blood pressure checks, oxygen saturation, and blood chemistry test consisting of cholesterol, uric acid, and blood sugar. The results achieved in this service are that the elderly can understand the material that has been presented. Of the number of elderly who attended as many as 26 people, were examined and the results of abnormal examinations were educated to carry out further examinations in health facilities
BERBEDA TAPI SAMA: PLASTISITAS MORFOLOGI SPONGE XESTOSPONGIA TESTUDINARIA DARI PERAIRAN KABUPATEN SITARO DAN SANGIHE?
Plastisitas morfologi sponge telah lama menjadi tantangan berat dalam identifikasi jenis sponge dan mempunyai implikasi penting di bidang konservasi spesies, penemuan bahan bioaktif maupun biomaterial berpotensi medis dari invertebrata laut ini. Peran ekologis, kandungan senyawa bioaktif maupun variasi genetik dari X. testudinaria, sponge ikonik di terumbu karang Sulawesi Utara dan Indo-Pasifik ini, telah seringkali dilaporkan. Tetapi penelitian tentang plastisitas X. testudinaria masih sangat terbatas. Untuk menentukan plastisitias X. testudinaria dari Kabupaten Sitaro dan Sangihe, kami membandingkan karakteristik morfologi (contoh, warna, bentuk pertumbuhan, permukaan tubuh, ukuran dan bentuk spikula). Sejauh ini, tiga morfotipe sponge jenis Xestospongia testudinaria telah ditemukan di Kepulauan Sitaro dan Sangihe; (1) morfotipe digitate di Pulau Mahumu, (2) morfotipe lamellate di perairan Enepahembang dan Bebalang dan (3) morfotipe licin di Ulu Siau. Berbeda dengan studi plastisitas X. testudinaria sebelumnya, penelitian kami tidak menunjukkan adanya dominasi dari salah satu morfotipe ini di wilayah di sekitar pelabuhan laut dan daerah dengan masukan sedimentasi tinggi. Kami juga membahas implikasi dari penelitian ini untuk mendapatkan gambaran lebih baik mengenai distribusi berbagai morfotipe X. testudinaria di perairan Nusa Utara.
Morphological plasticity in sponge has become a serious challenge in sponge identification and has an important implication in species conservation. Ecological roles, bioactive compounds, and genetic variation of X. testudinaria, the iconic sponge from the coral reef in North Sulawesi and even Indo-Pacific, have been frequently reported. However, research on the plasticity of X. testudinaria remains limited. To determine the plasticity of this species from Sitaro and Sangihe Islands, we compared the morphological characteristics (e.g. color, growth form, surface, size and the style of spicule). So far, three morphotypes of X. testudinaria have been found in Sitaro and Sangihe Island regencies; digitate, lamellate and smooth surfaces. Different from earlier study on plasticity in X. testudinaria, our research did not show domination of any morphotype in areas near seaport and high sedimentation. We also discussed the implication of this research to get a better understanding of the distribution of X. testudinaria with different morphotypes in Nusa Utara waters
Artikel ALAT TANGKAP IKAN TRADISIONAL BERDASARKAN PARAMETER SELEKTIVITAS DAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN CODE OF CONDUCT FOR RESPONSIBLE FISHERIES DI PULAU MAHUMU
Apabila keberadaan alat tangkap tradisional yang digunakan oleh nelayan berpotensi untuk merusak ekosistem terumbu karang di sekitar pulau-pulau kecil di Kepulauan Sangihe, maka aktivitas penangkap ikan akan berdampak buruk bagi kelestarian lingkungan perairan pesisir pantai. Dibutuhkan penelitian yang sistematis dan obyektif berdasarkan kode etik tatalaksana perikanan yang bertanggung jawab (Code of Conduct for Responsible Fisheries, FAO 1995) terhadap metode dan jenis alat tangkap tradisional yang digunakan oleh nelayan di Kabupaten Kepulauan Sangihe yang di fokuskan pada dua tempat yang menjadi sampel yaitu Pulau Mahumu dan Pulau Bebalang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menyusun daftar pertanyaan yang diajukan pada responden dalam bentuk kuesioner. Responden dalam hal ini adalah nelayan pemilik alat tangkap ikan yang ada di Pulau Mahumu. Pada kuesioner tersebut digunakan pembobotan 1 sampai dengan 4 dalam setiap poin pertanyaan yang mengacu kepada 9 kriteria alat tangkap ramah lingkungan (Firdaus et al. 2017 dalam Pramesthy dan Mardiah, 2019). Hasil penelitian menemukan beberapa kesimpulan yaitu : a). Terdapat 5 jenis alat tangkap ikan tradisional yang dioperasikan di perairan pulau Mahumu, yaitu Soma Paka (gillnet), Soma Tagaho (Pukat dampar), Buya-buya (Tuna hand line), Bawae’ Noru (Hand line) dan Papiti (Senapan Ikan ). b). Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa alat tangkap Pancing Tuna (Buya-buya) memiliki tingkat selektivitas yang sangat baik. Selain itu, data penelitian juga menunjukkan bahwa hanya ada 1 jenis alat tangkap ikan yang ada di Pulau Mahumu, yang memiliki hasil tangkapan sampingan minimumnamun memiliki nilai pasar yang tinggi, yaitu alat tangkap Bawae’ Noru.
If the existence of traditional fishing gear used by fishermen has the potential to damage coral reef ecosystems around small islands in the Sangihe Islands, fishing activities will have a negative impact on the environmental sustainability of coastal waters. A systematic and objective research is needed based on the Code of Conduct for Responsible Fisheries, (FAO 1995) on the methods and types of traditional fishing gear used by fishermen in the Sangihe Islands Regency, focusing on two sample locations, namely Mahumu Island and Bebalang Island. Data collection techniques were carried out by compiling a list of questions posed to respondents in the form of a questionnaire. Respondents in this case are fishermen who own fishing gear on Mahumu Island. The questionnaire uses a weighting of 1 to 4 in each question point that refers to 9 criteria for environmentally friendly fishing gear (Firdaus et al. 2017 in Pramesthy and Mardiah, 2019). The results of the study found several conclusions, namely: a). There are 5 types of traditional fishing gear operated in the waters of Mahumu Island, namely Soma Paka (gillnet), Soma Tagaho (Pukat dampar), Buya-buya (Tuna hand line), Bawae' Noru (Hand line) and Papiti (Senapan Ikan ). b). Based on the results of the study, it can be seen that the Pancing Tuna (Buya-buya) fishing gear has a very good level of selectivity. In addition, research data also shows that there is only 1 type of fishing gear on Mahumu Island, which has a minimum by-catch but has a high market value, namely Bawae' Noru fishing gear
PEMBERDAYAAN PERILAKU MEMBUANG SAMPAH DAN PENGGUNAAN SAMPAH PLASTIK DI KAMPUNG BARANGKA KECAMATAN MANGANITU
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Meteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyebutkan bahwa timbunan sampah di Indonesia tahun 2020 mencapai 67,8 ton. Pertumbuhan jumlah penduduk juga diperkirakan akan membuat jumlah ini terus meningkat. Sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun 3,2 ton yang dibuang ke laut dan yang dibuang dilingkungan sebanyak 10 miliar lembar sampah pertahun atau sebanyak 85.000 per tahun. Permasalahan sampah yang begitu kompleks disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan, disebabkan karena kurangnya informasi yang diterima, ditunjang dengan bagaimana masyarakat bersikap dan bertindak. Berdasarkan survey masyarakat pesisir pantai Kampung Barangka mempunyai kebiasaan membuang sampah di pantai. Tujuan penelitian ingin mengetahui Perilaku Masyarakat dalam Membuang Sampah di Pesisir Pantai Kampung Barangka Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jenis penelitian deskriptif metode survey. Hasil penelitian masyarakat pesisir pantai Kampung barangka berpengetahuan baik, bersikap baik namun bertindak kurang baik dalam melakukan perilaku hidup bersih sehat.
Based on data submitted by the Ministry of Environment and Forestry (LHK) it is stated that the landfill in Indonesia in 2020 reached 67.8 tons. Population growth is also expected to make this number continue to increase. Plastic waste in Indonesia reaches 64 million tons per year, 3.2 tons are dumped into the sea and 10 billion pieces of waste are thrown into the environment per year, or as much as 85,000 per year. The problem of waste is so complex due to a lack of public knowledge about the importance of environmental hygiene and health, due to the lack of information received, supported by how people behave and act. Based on a survey, the coastal community of Barangka Village has a habit of throwing garbage on the beach. The purpose of the study was to find out about Community Behavior in Disposing of Garbage on the Coastal Coast of Barangka Village, Manganitu District, Sangihe Islands Regency. This type of research is the descriptive survey method. The results of the research of the coastal community of Barangka Village have good knowledge, and behave well but act poorly in carrying out clean and healthy living behavior
DETEKSI DINI INGATAN (MEMORI) PADA LANSIA DENGAN MENGGUNAKAN SHORT PORTABLE MENTAL STATUS QUESTIONNAIRE (SPMSQ) DI KAMPUNG BELENGAN KECAMATAN MANGANITU
Perkembangan memori pada lansia dapat mengalami kemunduran terutama dalam perkembangan kemampuan mental, termasuk kehilangan memori, disorientasi dan kebingungan. Penurunan fungsi kognitif yang terjadi pada lanjut usia dapat berlanjut menjadi gangguan demensia vaskuler maupun alzheimer disease apabila tidak ditangani dengan baik. Tujuan PKMS ini yaitu mengetahui fungsi kognitif pada lanjut usia. Kegiatan penyuluhan dilakukan dari rumah ke rumah hal ini dilakukan karena pandemi Covid-19, dimana tim pengabdian mengunjungi rumah-rumah lansia yang tinggal dikampung Belengan Kecamatan Manganitu. Deteksi dini ingatan dilakukan dengan menggunakan Short Portable Mental Status Questionnaire dan penyuluhan kesehatan resiko terjadinya demensia pada lansia. Dari 10 orang lansia yang dilakukan pemeriksaan melalui SPMQ terdapat 7 orang lansia memiliki kemampuan mengingat dengan baik, 2 orang mengalami gangguan mengingat ringan dan 1 orang lansia mengalami gangguan mengingat sedang.
The development of memory in the elderly can experience a decline, especially in the development of mental abilities, including memory loss, disorientation, and confusion. The decline in cognitive function that occurs in the elderly can progress to vascular dementia and Alzheimer's disease if not treated properly. The purpose of this PKMS is to know cognitive function in the elderly. Counseling activities were carried out from the house to house, this was done because of the Covid-19 pandemic, where the service team visited the homes of the elderly who lived in Belengan village, Manganitu District. Early detection of memory is carried out using the Short Portable Mental Status Questionnaire and health education on the risk of dementia in the elderly. Of the 10 elderly people who were examined through SPMQ, 7 elderly people had good memory skills, 2 people had mild memory problems and 1 elderly had moderate memory problems
PENERAPAN DIVERSIFIKASI PRODUK HASIL PERIKANAN SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KONSUMSI IKAN MASYARAKAT KAMPUNG BIRAHI KECAMATAN TABUKAN SELATAN
Diversifikasi Olahan Ikan merupakan motivasi baru untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa ikan yang biasanya dikonsumsi dalam bentuk digoreng, dibakar atau dimasak dalam keadaan utuh dapat dibuat makanan yang lebih menarik dan tetap bergizi yang dapat dikonsumsi mulai dari anak-anak, dewasa, sampai usia lanjut. Beberapa produk diversifikasi hasil perikanan antara lain: bakso ikan, nugget ikan, samosa ikan, dan amplang ikan. Tujuan dari kegiatatan PKMS ini antara lain :1). Mengenalkan ikan sebagai bahan pangan yang mengandung aspek gizi, 2). Memberikan pemahaman tentang manfaat ikan untuk kesehatan keluarga dan kecerdasan anak, 3). Menanamkan minat untuk menyukai ikan sebagai makanan sehari-hari, 4). Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam pembuatan diversifikasi produk hasil perikanan sehingga meningkatkan konsumsi ikan masyarakat. Kegiatan ini melibatkan anggota kader posyandu, ibu hamil dan ibu menyusui Kampung Birahi. Metode yang digunakan yaitu metode observasi, penyuluhan dan pelatihan. Melalui Program PKMS ini kader dan masyarakat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang kandungan gizi dan manfaat ikan dalam meningkatkan kecerdasan otak pada anak, membantu kesehatan janin, menyehatkan jantung, menurunkan resiko kanker, menurunkan angka stunting, serta menjaga imunitas dimasa pandemi, dan menumbuhkan kreativitas masyarakat dalam mengolah ikan sebagai sarana pemenuhan gizi.
Fishery product diversification is a new strategy recently introduced to the public in Birahi village in the South Tabukan district. It aimed to increase the awareness of the people in the village towards the value of fishery product diversification, further processing fish usually consumed in the form of fried, grilled, or cooked products into more attractive and nutritious products such as fish balls, fish nuggets, fish samosas and fish amplang targeted for children, adults and the elders in the village. The objectives of this community service (PKMS) included 1). introduce nutritional aspects of fish as important food ingredients 2). teach the benefits of fish consumption for family health and children's intelligence, 3). instill an interest in daily fish consumption 4). increase the knowledge and skills in processing diversified fishery products, which in turn increase fish consumption in the community. This community service involved caders from Integrated Healthcare Center (Posyandu), pregnant women, and breastfeeding mothers of Birahi village. The used method in this community service was observation, counseling, and training. Through this PKMS program, the Posyandu’s caders and the public gained knowledge and understanding of the nutritional aspects of fish and the benefits of fish consumption in increasing brain intelligence in children, helping fetal health and heart health, reducing cancer risk and stunting, in maintaining immunity during the covid pandemic and in fostering community creativity to process fish as a way of fulfilling the community’s nutritional needs
HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA PADA PERAWAT DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD KOTA KOTAMOBAGU
Beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan/aktifitas yang dilakukan oleh perawat selama bertugas disuatu unit pelayanan keperawatan. Setiap hari, dalam melaksanakan pengabdiannya seorang perawat tidak hanya berhubungan dengan pasien, tetapi juga dengan keluarga pasien, teman pasien, rekan kerja sesama perawat, berhubungan dengan dokter dan peraturan yang ada di tempat kerja serta beban kerja yang terkadang dinilai tidak sesuai dengan kondisi fisik, psikis dan emosional. Studi pendahuluan terhadap beberapa perawat di instalasi gawat darurat RSUD Kota Kotamobagu didapat gambaran bahwa petugas perawat RSUD Kota Kotamobagu merupakan lingkungan kerja yang memiliki kecenderungan stres tinggi. Tujuan penelitian menganalisis hubungan beban kerja dengan stres kerja pada perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Kota Kotamobagu. Jenis penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan rancangan cross sectional. Teknik pengumpulan data menggunakan total sampling dimana semua populasi dijadikan sampel penelitian dengan jumlah sampel yaitu 30 perawat. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan beban kerja dengan stres pada perawat dengan nilai p-value sama dengan 0,000. Saran perawat harus bisa memanfaatkan waktu luang untuk beristirahat dengan benar sehingga tidak mengalami kelelahan yang berlebihan. Selain itu perawat perlu menciptakan kerjasama antar teman kerja untuk menciptakan kondisi kerja yang baik dan menyenangkan agar beban kerja berkurang dan tidak menyebabkan stres yang berlebih.
Nurse workload is defined as all activities carried out by nurses while serving in a nursing service unit. In carrying out the service, a nurse does not only deal with patients, but also with the patient's family and friends, co-workers, dealing with doctors. The regulations in the workplace as well as the workloads are sometimes judged not to be in accordance with physical. psychological and emotional conditions of the nurses. A preliminary study conducted on several nurses in the emergency department of the Kotamobagu City Regional Hospital showed that the nurses were working in an environment with high tendency stress. The purpose of this study was to analyze the relationship between the workload and work stress on nurses in the Emergency Department of Kotamobagu City Regional Hospital. This study applied an analytic survey with a cross sectional approach. The data collection used total sampling with all of the population were included as research samples with a total sample of 30 nurses. The data analysis was carried out using chi-square test. The results showed that there was a relationship between workload and stress on nurses with p-value same as 0.000. It is advised that the nurses to take advantage of free time to rest properly so as not to experience excessive fatigue. In addition, the nurses need to create working cooperation among co-workers to create good and pleasant working conditions so that the workload is reduced and does not cause excessive stress
PERBEDAAN PENGARUH AROMATERAPI LAVENDER DAN TERAPI MUSIK
Dismenore merupakan gangguan fisik yang sangat menonjol berupa rasa sakit/kram pada perut yang terjadi pada saat haid dan menjadi masalah ginekologi paling umum dialami perempuan di berbagai tingkat usia. Ada berbagai macam intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi dismenore tersebut, misalnya dengan teknik distraksi melalui pemberian terapi musik ataupun dengan teknik relaksasi melalui pemberian aromaterapi lavender. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui perbedaan pengaruh aromaterapi lavender dan terapi musik terhadap dismenore pada mahasiswi Keperawatan Politeknik Negeri Nusa Utara. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperiment dengan rancangan one grup pre test post test design without control dengan mengambil mahasiswi keperawatan semester 1, 3, dan 6 sebagai populasi penelitian. Responden penelitian akan dipilih melaui teknik purposive sampling, dimana sampel dipilih berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria. Responden diberi perlakuan tindakan aromaterapi lavender dan terapi musik. Skala nyeri haid (dismenore) responden diukur sebelum dan sesudah tindakan dengan menggunakan pengkajian nyeri NRS (Numeral Rating Scale). Hasil penelitian diolah menggunakan SPSS 20 dengan menggunakan uji wilcoxon sebagai uji statistik. Hasil penelitian diperoleh sebagian besar responden mengalami nyeri sedang (skala 4-6) berjumlah 91,4 persen. Rata-rata responden sebelum diberikan terapi musik merasakan nyeri ringan pada skala 5 dengan skala nyeri terendah 4 dan tertinggi 8, akan tetapi setelah diberikan terapi rata-rata skala nyeri responden berada pada skala 1 dengan skala nyeri terendah 0 dan tertinggi 6, sedangkan untuk responden yang diberikan aromaterapi lavender juga terjadi perubahan skala nyeri, dari skala 5 menjadi 3 dengan nilai tertinggi awalnya 6 menjadi 5 dan terendah awalnya 3 menjadi 0. Nilai negative ranks pada kedua tindakan yang diberikan masing-masing 34 dan 29, artinya bahwa terdapat 34 responden yang mengalami penurunan nyeri setelah diberikan tindakan terapi musik dan 29 responden yang mengalami penurunan nyeri setelah diberikan tindakan aromaterapi lavender. Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai p sama dengan 0,000 (p kurang dari 0,05) yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan terapi musik dan arometerapi lavender terhadap penurunan dismenore. Kesimpulan penelitian ini ialah aromaterapi lavender dan terapi musik berpengaruh menurunkan dismenore, sehingga dapat disarankan penggunaan aromaterapi lavender dan terapi musik bagi perempuan yang mengalami dismenore.
Dysmenorrhea is a very prominent physical disorder in the form of pain/cramping in the abdomen that occurs during menstruation and is the most common gynecological problem experienced by women at various ages. Various kinds of nursing interventions can be done to overcome dysmenorrhea, for example with distraction techniques through music therapy or relaxation techniques through lavender aromatherapy. The purpose of this study was to determine the difference in the effect of lavender aromatherapy and music therapy on dysmenorrhea in Nursing students at the State Polytechnic of North Nusa. This study uses a quasi-experimental research design with a one-group pre-test post-test design without control by taking nursing students in semesters 1, 3, and 6 as the research population. Research respondents will be selected through the purposive sampling technique, where the sample is selected based on several criteria. Respondents were treated with lavender aromatherapy and music therapy. The respondent's menstrual pain scale (dysmenorrhea) was measured before and after the procedure by using the NRS (Numeral Rating Scale) pain assessment. The research results will be processed using SPSS 20 using the Wilcoxon test as a statistical test. The results showed that most of the respondents experienced moderate pain (scale 4-6) amounting to 91.4 percent. The average respondent before being given music therapy felt mild pain on a scale of 5 (mean value of 5.31) with the lowest pain scale at 4 and the highest at 8, but after being given therapy the average respondent's pain scale was on a scale of 1 (mean value 1.43) with the lowest pain was 0 and the highest was 6. Meanwhile, for respondents who were given lavender aromatherapy, there was also a change in pain scale, from a scale of 5 to 3 with the highest initial value being 6 to 5 and the lowest initially being 3 being 0. Wilcoxon test results obtained a p-value same as 0.000 (p less than 0.05) which means that there is a significant effect of music therapy and lavender aromatherapy on the reduction of dysmenorrhea
DAERAH PENANGKAPAN PANCING ULUR DASAR (BOTTOM HAND LINE) DI SEKITAR PESISIR TELUK TAHUNA
Keberadaan daerah penangkapan ikan bagi usaha penangkapan ikan, lebih khususnya cakupan nelayan kecil sangat mempengaruhi kondisi perekonomian. Semakin dekat daerah penangkapan ikan, akan semakin mudah untuk dijangkau dan dapat meminimalisir biaya produksi. Tingginya aktivitas manusia di suatu peraiaran merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan perubahan suatu kondisi perairan. Di Teluk Tahuna dan sekitarnya, nelayan mengalami kesulitan dalam menangkap ikan demersal di sekitar Teluk Tahuna. Penelitian ini bertujuan untuk melaihat keberadaan daerah penangkapan ikan demersal dengan pendekatan metode deskriptif. Pengambilan data yaitu mencakup kedalaman, arus dan posisi dengan menggunakan GPS. Hasil yang diperoleh yaitu daerah penangkapan ikan demersal mulai bergeser ke arah Maselihe (lebih jauh dari sebelumnya), hal ini terlihat dari jumlah hasil tangkapan yang lebih sedikit di Teluk Tahuna dibandingkan di sekitar Maselihe. Jumlah daerah penangkapan ikan terdiri dari 8 pos, dengan kecepatan arus berkisar antara 8 det/ 5 m di perairan sekitar Maselihe sampai dengan 3. 37 menit /5 m di perairan sekitar Lesa dan Batulewer (Teluk Tahuna). Kedalam daerah pengoperasian alat tangkap yaitu 22.6 m sampai dengan 44.8 m.
The existence of fishing grounds for fishing businesses, especially the scope of small fishermen, greatly affects economic conditions. The closer the fishing area is, the easier it will be to reach and minimize production costs. The high level of human activity in a waters is one of the important factors that cause changes in water conditions. In Tahuna Bay and its surroundings, fishermen have difficulty catching demersal fish around Tahuna Bay. This study aims to examine the existence of demersal fishing areas with a descriptive method approach. Data retrieval includes depth, current and position using GPS. The results obtained are that the demersal fishing area begins to shift towards Maselihe (further than before), this can be seen from the lower number of catches in Tahuna Bay than around Maselihe. The number of fishing areas consists of 8 posts, with current speeds ranging from 8 second/5 m in the waters around Maselihe, and to 3.37 minutes /5 m in the waters around Lesa and Batulewer (Teluk Tahuna). The depth of the fishing gear operating area is 22.6 m to 44.8 m