e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
Not a member yet
    385 research outputs found

    PENINGKATAN KAPASITAS IBU DALAM DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN STUNTING DI KAMPUNG PINTARENG KECAMATAN TABUKAN SELATAN TENGGARA

    Get PDF
    Salah satu intervensi bidang kesehatan untuk menurunkan prevalensi stunting di Indonesia adalah dengan intervensi gizi spesifik. Di antaranya dengan memberikan edukasi kepada Ibu yang memiliki balita terkait stunting. Strategi ini dapat diperkuat melalui peran perguruan tinggi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Ibu dalam deteksi dini dan pencegahan stunting. Semua anak balita dari Ibu yang menjadi sasaran penyuluhan mendapatkan makanan tambahan berupa susu dan biskuit. Kegiatan pengabdian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pintareng pada Maret-Agustus 2021. Metode yang dilakukan dalam pengabdian ini adalah memberikan penyuluhan kepada Ibu yang memiliki balita tertkait stunting dan deteksi dini stunting. Penyuluhan dilakukan dari rumah ke rumah dengan menerapkan protokol kesehatan yang baik. Dengan meningkatnya pengetahuan Ibu maka diharapkan dapat menjadi salah satu upaya menurunkan prevalensi stunting di wilayah kerja Puskesmas Pintareng. Selain penyuluhan dilakukan juga pemberian makanan tambahan berupa susu dan biscuit. Hasil kegiatan ditemukan bahwa terdapat 7 orang anak stunting sementara 3 orang lainnya masuk kategori normal. Berdasarkan wawancara terdapat faktor risiko stunting pada anak diantanya faktor ekonomi, faktor pengasuhan yang kurang baik, anak sering sakit infeksi, dan anak tidak mau makan. Sebanyak 10 orang Ibu dan 1 orang petugas kesehatan mendapatkan penyuluhan terkait stunting dan deteksi dini stunting. Sebelum dilakukan penyuluhan, mayoritas tingkat pengetahuan ibu masih kurang (90 persen) dan hanya 1 orang Ibu (1 persen) yang memiliki pengetahuan baik terkait stunting. Setelah penyuluhan, pengetahuan ibu menjadi meningkat meskipun pengukurannya dilakukan secara kualitatif (wawancara) dengan demikian kapasitas Ibu dalam deteksi dini stunting juga semakin meningkat. Proses pendidikan kesehatan merupakan proses yang harus dilakukan secara terus menerus sehingga disarankan kepada Puskesmas untuk menyisipkan kegiatan penyuluhan terkait stunting dalam posyandu rutin. One of the interventions in the health sector to reduce the prevalence of stunting in Indonesia is specific nutrition interventions. Among them by providing education to mothers who have toddlers who stunting. This strategy can be strengthened through the role of universities in community service activities. Therefore, this activity aims to increase the capacity of mothers in the early detection and prevention of stunting. All children under five from mothers who were the target of counseling received additional food in the form of milk and biscuits. Service activities are carried out in the work area of ​​the Pintareng Health Center. The method used is to provide counseling to mothers who have toddlers related to stunting and early detection of stunting. Counseling is carried out from door to door by implementing good health protocols. With the good knowledge of mothers, it is hoped that it can be one of the efforts to reduce the prevalence of stunting in ​​the Pintareng Health Center. In addition to counseling, additional food was also provided in the form of milk and biscuits. The results of the activity found that there were 7 stunting children while 3 others were in the normal category. Based on interviews, there are risk factors for stunting in children including economic factors, poor parents, children often getting infections, and children don't want to eat. A total of 10 mothers and 1 health worker received counseling related to stunting and early detection of stunting. Before the counseling was carried out, the majority of mothers' knowledge levels were still lacking (90 percent) and only 1 mother (1 percent) had good knowledge regarding stunting. After counseling, the mother's knowledge increased even though the measurement was done qualitatively (interview). The process of health education is a process that must be carried out continuously so it is recommended to the Puskesmas to insert the outreach activities in Health Center

    GAMBARAN PERMASALAHAN TIDAK TERCAPAINYA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA MASYARAKAT PESISIR KAMPUNG LIKUANG KEPULAUAN SANGIHE

    Get PDF
    Program perilaku hidup bersih dan sehat di Indonesia sudah berlangsung 26 tahun namun hanya 39,1 persen keluarga di Indonesia yang menerapkan PHBS. Kabupaten Kepulauan Sangihe yang berada paling utara Indonesia dan mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan hidup di wilayah pesisir pantai. Sekitar 45,4 persen penduduknya berpendidikan sekolah dasar dan capaian keluarga ber-PHBS tahun 2021 sebesar 18,3 persen. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran permasalahan tidak tercapainya perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat pesisir. Jenis penelitian yang digunakan penelitian deskriptif dengan metode survei yang dilaksanakan di Kampung Likuang Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan sampel 124 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik purpossive sampling. Instrumen berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan realibilitasnya. Analisis data berupa analisis deskriptik dengan distribusi frekuensi.Hasil penelitian yaitu pengetahuan responden mengenai PHBS sebesar 57,3 persen tidak baik, sikap responden mengenai PHBS sebesar 58,1 persen tidak baik dan tindakan responden mengenai PHBS sebesar 51,6 persen baik. Dapat disimpulkan bahwa rendahnya pengetahuan PHBS pada indikator ASI Ekslusif, Air bersih, mencuci tangan, dan kebiasaan merokok. Rendahnya sikap PHBS pada indikator ASI ekslusif, makan sayur dan buah, aktivitas fisik, dan cuci tangan. Kemudian rendahnya tindakan PHBS pada indikator ASI ekslusif, cuci tangan, jamban sehat, dan pemantauan jentik nyamuk. Oleh karena itu, Kampung Likuang perlu dilakukan pembinaan PHBS. Hygiene and Healthy Lifestyle Behavior (HHLB) coaching programs in Indonesia have been going on for 26 years, but only 39.1 percent of families in Indonesia have implemented HHLB (PHBS). The Sangihe Island Regency is located in the northernmost part of Indonesia, and most of it is people who live as fishermen in coastal areas 45.4 percent of the population has an elementary school education, and the achievement of families with HHLB in 2021 is 18.3 percent. Based on it this study aims to describe the problem of unachieved hygiene and healthy living behavior in coastal communities. This research used descriptive research with a survey method in Likuang Village, North Tabukan District, Sangihe Island Regency, with a sample of 124 respondents. Sampling using a purposive sampling technique. The instrument is a questionnaire that has been tested for validity and reliability. Data analysis is in the form of descriptive analysis with frequency distribution. The study's results showed that the respondent's knowledge about HHLB was 57.3 percent not good, the respondent's attitude about HHLB PHBS was 58.1 percent not good, and the respondent's actions regarding HHLB were 51.6 percent good. It can be concluded that the common knowledge of HHLB is on the indicators of exclusive breastfeeding, hygiene water, washing hands, and smoking habit. Low HHLB attitude on indicators of exclusive breastfeeding, eating vegetables and fruit, physical activity, and washing hands. Then the low HHLB measures indicators of exclusive breastfeeding, hand washing, healthy latrine, and monitoring of mosquito larvae. Therefore, Likuang Village needs to be fostered by HHLB

    GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT KAMPUNG KULUR II MENGENAI PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEJADIAN KECELAKAAN LAUT

    Get PDF
    Kecelakaan dapat terjadi di mana saja menenimbulkan rasa kaget, dan dapat menyebabkan kepanikan. Adanya rasa panik dapat menyebabkan korban baru sehingga dibutuhkankan suatu ketenangan. Pemberian pertolongan pertama pada korban kecelakaan adalah satu hal yang paling penting, karena dengan penanganan secara cepat akibat yang fatal dapat dihindarkan. Tujuan penelitian ini yaitu diketahuinya tingkat pengetahuan masyarakat Kampung Kulur II mengenai pertolongan pertama pada kejadian kecelakaan laut. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif untuk mengetahui tingkat pengetahuan. Hasil nya menunjukkan tingkat pengetahuan responden terbanyak yaitu 55 persen memiliki pengetahuan cukup, 42,5 persen memiliki pengetahuan baik, dan kurang pengetahuan sebanyak 2,5 persen. Diharapkan pihak pemerintah daerah dan tenaga Kesehatan lebih aktif lagi dalam peningkatan pengetahuan masyarakat. Accidents can happen anywhere causing shock and panic. Panic can cause new victims so it needs calmness. First aid to accident victims is one of the most important things because with rapid treatment fatal consequences can be avoided. The purpose of this study wants to know the level of knowledge of the people at Kulur II village to perform first aid in marine accidents. The method used was a descriptive research design to determine the level of knowledge. The results showed that 55 percent of respondents have a sufficient level of knowledge, 42.5 percent of respondents have good knowledge, and 2.5 percent of respondents have less knowledge. The local government, as well as health workers, should be more active to improve the community's knowledge in terms of how to perform first aid

    FAKTOR- FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ULKUS KAKI DIABETIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANGANITU SANGIHE

    Get PDF
    Diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019 menunjukkan bahwa jumlah penderita diabetes di wilayah Indonesia yaitu 3.9 juta orang dan untuk wilayah Sulawesi Utara penderita diabetes berjumlah 59.229 orang. Pasien diabetes mellitus di wilayah kerja puskesmas semakin meningkat pada tiga tahun terakhir yakni sejak 2018 hingga tahun 2020. Pada tahun 2020, jumlah pasien diabetes mellitus dua kali lebih banyak dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan jumlah 85 orang. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor –faktor yang berhubungan dengan kejadian ulkus kaki diabetik pada penderita diabetes melitus (DM) di Wilayah Kerja Puskesmas Manganitu. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei yang bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan secara purposive sampling dengan besar sampe 41 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 48.8 persen responden mengalami ulkus kaki diabetik. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan chi square menunjukkan bahwa probabilitas ulkus kaki dengan umur p sama dengan 0,139 (p lebih dari 0,05), jenis kelamin p sama dengan 0,552 (p lebih dari 0,05), lama menderita DM p sama dengan 0.595 (p lebih dari 0,05), aktivitas fisik p sama dengan 0,585 (p lebih dari 0,05), obesitas p sama dengan 0.001 (p kurang dari 0,05), hipertensi p sama dengan  0.001 (p kurang dari 0,05), riwayat ulkus kaki p sama dengan 0.000 (p kurang dari 0,05). Kesimpulan penelitian ini bahwa tidak terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, lama menderita DM, aktivitas fisik dengan kejadian ulkus kaki diabetic serta terdapat hubungan antara obesitas, hipertensi dan riwayat ulkus kaki diabetic dengan kejadian ulkus kaki diabetik. Diabetes is a chronic disease that occurs when the pancreas does not produce enough insulin or when the body cannot effectively use the insulin it produces. Indonesian Health Profile in 2019 shows that the number of people with diabetes in are 3.9 million people and for the North Sulawesi region there are 59,229 people with diabetes. Diabetes mellitus patients in Manganitu health centers have increased from 2018 to 2020. In 2020, the number of diabetes mellitus patients was twice as high as the previous year with 85 people. The purpose of the study was to determine the factors associated with the incidence of diabetic foot ulcers in diabetes Mellitus (DM) patients in Manganitu Health Center. This research is an analytic survey research using a cross-sectional approach. Sampling method using purposive sampling with 41 respondents. The results showed that 48.8 percent of respondents had diabetic foot ulcers. Chi-square statistic result shows that the probability of foot ulcers with age age p same as 0.139 (p more than 0.05), gender p same as 0.552 (p more than 0.05), length of suffering from DM p same as 0.595 (p more than 0.05), physical activity p same as 0.585 (p more than 0.05), obesity p same as 0.001 (p less than 0.05), hypertension p same as 0.001 (p less than 0.05), history of foot ulcers p same as 0.000 (p less than 0.05). There is no correlation between age, gender, duration of diabetes mellitus, physical activity with the incidence of diabetic foot ulcers, and there is a correlation between obesity, hypertension, and a history of diabetic foot ulcers with the incidence of diabetic foot ulcers in the Managnitu health center

    PROGRAM KEMITRAAN MASYARAKAT PEMBUATAN NUGGET IKAN DI KAMPUNG BENGKETANG KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE, SULAWESI UTARA

    Get PDF
    Pengolahan hasil perikanan di Kabupaten Kepulauan Sangihe masih terbilang bersifat tradisional karena dilakukan berdasarkan kebiasaan secara turun temurun. Pada umumnya produk yang dihasilkan hanya terbatas pada ikan asin atau ikan asap, belum ada pengolahan dengan menerapkan diversifikasi produk perikanan. Nugget ikan merupakan salah satu produk diversifikasi perikanan dari olahan daging ikan yang digiling halus dan dicampur dengan bahan pengikat, dengan menambahkan bahan dari sayuran untuk dapat melengkapi nilai gizi nugget serta diberi bumbu dan dikukus yang kemudian dicetak menjadi bentuk tertentu selanjutnya dilakukan pembaluran dengan tepung roti, pegemasan dan yang terakhir pembekuan. Tujuan dari Program Kemitraan Masyarakat Stimulus ini yaitu dapat memberikan nilai tambah bagi produk perikanan yang melimpah di Kampung Begketang. Metode yang digunakan meliputi diskusi, tanya jawab serta praktek pembuatan nugget ikan. Hasil yang diperolah dari kegiatan ini yakni masyarakat khususnya Ibu-ibu pengolah dan ibu-ibu kader Posyandu sangat memahami pentingnya mengkonsumi ikan serta dapat memanfaatkan hasil perikanan yang melimpah untuk dapat diolah menjadi produk yang lebih beranekaragam seperti nugget ikan. Nugget ikan secara umum dapat dibuat dari berbagai macam jenis ikan atau hasil perikanan dengan syarat dagingnya mudah didapat atau di ambil. Processing fishery products in the Sangihe Islands Regency is still considered traditional because it is carried out based on habits passed down from generation to generation. Generally, the products produced are only limited to salted or smoked fish. There is no processing by applying fishery product diversification. Fish nuggets are fishery diversification products from processed fish meat that are finely ground and mixed with binders. Nugget products are also added with ingredients from vegetables to complement the nutritional value of nuggets, seasoned, steamed, and molded into specific shapes. Then fish nuggets are covered with breadcrumbs, packaging, and finally freezing. The purpose of the Stimulus Community Partnership Program is to provide added value for the abundant fishery products in Begketang Village, Sangihe Islands. The methods used include discussions and the practice of making fish nuggets. The results showed that the Bengketang community, especially fish processing women and Posyandu cadres, understand the importance of consuming fish and can take advantage of the abundant fishery products to be processed into more diverse products such as fish nuggets. Fish nuggets, in general, can be made from various types of fish or fishery products, provided the meat is easy to get or take

    PANCING SASAHAMIA BAGI NELAYAN PENANGKAP IKAN DI PULAU BEBALANG KECAMATAN MANGANITU SELATANKABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE

    Get PDF
    Pulau Bebalang termasuk dalam wilayah Kecamatan Manganitu Selatan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pulau Bebalang memiliki potensi untuk dikembangkan khususnya potensi ikan karang karena banyak terdapat terumbu karang yang merupakan habitat dari berbagai jenis ikan karang atau demersal. Ada dua spesies ikan demersal yang memiliki nilai jual yang tinggi dipasaran yaitu ikan kurisi yang dikenal oleh masyarakat di Sangihe dikenal dengan nama sahamia dan bembu yang dalam bahasa latinnya dinamakan Etelis carbunculus dan Pristipomoides typus. Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan sahamia dan ikan bembu yaitu pancing (handline) yang oleh masyarakat Pulau Bebalang dan sekitarnya dinamakan Sasahamia sesuai dengan nama ikan yang menjadi tujuan penangkapan dari alat tangkap ini. Namun demikian terbatasnya sarana alat tangkap pancing sahamia yang digunakan dan sarana pendukung lainnya berupa tempat penampungan sementara hasil tangkapan ikan diatas perahu, menjadikan pendapatan nelayan dari hasil tangkapan tidak maksimal dan kualitas ikan yang ditangkap tidak bertahan lama dan cepat membusuk dikarenakan tidak memiliki tempat penampung ikan diatas perahu yang memadai. Berdasarkan permasalahan yang ada di Mitra maka solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan pada nelayan di Pulau Bebalang ini adalah sebagai berikut : 1) Introduksi penerapan ketrampilan teknik pembuatan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan; 2) Penerapan metode/teknik penanganan ikan diatas perahu penangkap ikan; 3) Penyuluhan tentang pentingnya mempertahankan kesegaran ikan hasil tangkapan nelayan sebagai produk yang bisa dijual dengan harga tinggi untuk meningkatkan ekonomi keluarga nelayan penangkap ikan. Bebalang Island is included in the South Manganitu District, Sangihe Islands Regency. Bebalang Island has the potential to be developed, especially the potential of reef fish because there are many coral reefs which are the habitat of various types of reef fish or demersal. There are two species of demersal fish that have a high selling value in the market, namely Kurisi fish which is known by the people in Sangihe known as Sahamia and Bembu which in Latin is called Etelis carbunculus and Pristipomoides typus. The fishing gear used to catch Sahamia and Bembu fish is a fishing line (handline) which the people of Bebalang Island and its surroundings call Sasahamia according to the name of the fish that is the purpose of catching this fishing gear. However, the limited means of fishing gear used for fishing rods and other supporting facilities in the form of temporary shelters for fish caught on boats, makes fishermen's income from the catch not maximized and the quality of the fish caught does not last long and rots quickly due to not having a fish holder above. adequate boat. Based on the problems that exist in Partners, the solutions offered to overcome the problems for fishermen on Bebalang Island are as follows: 1) Introduction of the application of skills in making environmentally friendly fishing gear; 2) Application of methods/techniques for handling fish on fishing boats; 3) Counseling on the importance of maintaining the freshness of fish caught by fishermen as a product that can be sold at high prices to improve the economy of fishing families

    GAMBARAN KEJADIAN DEPRESI PADA LANSIA DI KAMPUNG BENGKETANG KALURAE DAN LENGANENG

    Get PDF
    Depresi menjadi salah satu penyebab paling signifikan dari penderitaan emosional di usia lanjut dan mungkin juga menjadi faktor penyebab morbiditas dari banyak gangguan medis (Casey, 2017). Sekarang ini semua orang di dunia sedang berjuang menghadapi pandemi COVID-19. Penularan cepat wabah pandemi COVID-19, angka kematian yang lebih tinggi, isolasi diri, jarak sosial, dan karantina dapat memperburuk risiko masalah kesehatan mental (Mukhtar, 2020). Kabupaten Kepulauan Sangihe yang merupakan salah satu kabupaten dari provinsi Sulawesi Utara pun terpapar dengan penularan virus corona. Beberapa kampung yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Enemawira yaitu Bengketang, Kalurae dan Lenganeng. Berdasarkan hal tersebut maka merupakan hal yang penting untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Kejadian Depresi Pada Lansia di Kampung Bengketang, Kalurae dan Lenganeng”. Metode dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif untuk mengetahui gambaran kejadian depresi pada lansia di kampung Bengketang, Kalurae dan Lenganeng menggunakan Kuesioner karakteristik Responden yang meliputi data sosio demografi, dan Kuesioner Geriatric Depression Scale. Ditemukan lansia paling banyak berusia 60-74 tahun dengan frekuensi 42 responden (84 persen), jenis kelamin perempuan sebanyak 30 responden (60 persen), pendidikan rendah 27 responden (54 persen) dan pekerjaan Ibu Rumah Tangga 13 responden (26 persen). Sebagian besar lansia yaitu 70 persen tidak depresi, 28 persen berada di kategori kemungkinan depresi dan 2 persen depresi. Bagi tenaga kesehatan dapat memberikan penyuluhan kesehatan pada lansia untuk mencegah terjadinya depresi lebih lanjut. Depression is one of the most significant causes of emotional distress in old age and may also be a contributing factor to the morbidity of many medical disorders (Casey, 2017). Right now everyone in the world is struggling with the COVID-19 pandemic. The rapid transmission of the COVID-19 pandemic outbreak, higher mortality rates, self-isolation, social distancing, and quarantine can exacerbate the risk of mental health problems (Mukhtar, 2020). The Sangihe Islands Regency, which is one of the regencies in the province of North Sulawesi, was also exposed to the transmission of the corona virus. Some of the villages included in the work area of ​​the Enemawira Health Center are Bengketang, Kalurae and Lenganeng. Based on this, it is important to conduct research on “Description of Depression in the Elderly in Bengketang, Kalurae and Lenganeng Villages”. The method in this study is a descriptive method to describe the incidence of depression in the elderly in the villages of Bengketang, Kalurae, and Lenganeng by using the Respondents Characteristics Questionnaire which includes socio-demographic data, and the Geriatric Depression Scale Questionnaire. It was found that the most elderly were aged 60-74 years with a frequency of 42 respondents (84 percent), female sex as many as 30 respondents (60 percent), low education 27 respondents (54 percent) and housewife occupation 13 respondents (26 percent). Most of the elderly, namely 70 percent are not depressed, 28 percent are in the category of possible depression and 2 percent are depressed. Health workers can provide health education to the elderly to prevent futher depression

    ANALISIS HUBUNGAN FAKTOR PSIKOSOSIAL TERHADAP TINDAKAN TIDAK SELAMAT PEKERJA PADA PROYEK KONSTRUKSI PADA KETINGGIAN DI TANGERANG

    Get PDF
    Kontruksi merupakan sektor yang identik dengan risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Kegiatan yang terdapat dalam proyek konstruksi dapat menjadi sumber berbagai bahaya. Pada bulan Maret 2022 terdapat 4 dari 10 pekerja di proyek konstruksi X yang melakukan tindakan tidak selamat dan satu diantaranya mengalami kecelakaan dari ketinggian. Adapun faktor-faktor risiko yang mempengaruhi tindakan tidak selamat diantaranya usia, masa kerja, pengetahuan, pendidikan, keluhan fisiologis, dan keluhan kebiasaan sehari – hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor psikososial dengan tindakan tidak selamat pada pekerja proyek konstruksi pada ketinggian di Tangerang. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi cross-sectional. Analisis statistik menggunakan uji chi square dimana sampelnya sebanyak 102 pekerja yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 42 dari 102 pekerja (41,2 persen) melakukan tindakan tidak selamat. Variabel pengetahuan, keluhan fisiologis, keluhan kebiasaan sehari-hari berhubungan dengan tindakan tidak selamat. Dengan demikian perusahaan dapat melakukan sosialisasi/edukasi kepada pekerja terkait materi tindakan tidak selamat serta penerapan tindakan selamat sehingga para pekerja lebih safety dalam bekerja. Construction work is an identical sector with a high risk of work accidents. Activities involved in construction projects can be a source of various hazards. In March 2022, 4 out of 10 workers committed unsafe acts and one of them had an accident from a height. Age, years of service, knowledge, education, physiological complaints, and complaints of daily habits have been known to be risk factors and causes of a tendency towards unsafe actions. This study aims to analyze the relationship between psychosocial factors and unsafe acts on constructio n project height workers in Tangerang. This research uses quantitative analytics with a crosssectional design study. Data were analyzed using chi-square with a sample of 102 workers selected by a simple random sampling method. This study showed that 42 of 102 workers (41,2 percent) performed unsafe actions. Results from this study indicate that there is a significant relationship between knowledge, physiological disorders, and disorders of daily habits. Socializing and educating workers about dangerous acts and applying safety measures to make workers safer at work

    UJI MATERIAL PLYWOOD PERAHU PENANGKAP TUNA TIPE PUMPBOAT DI SANGIHE TERHADAP SERANGAN BIOFOULLING

    Get PDF
    Dampak yang ditimbulkan oleh organisme penempel (biofouling) masih menjadi tantangan bagi nelayan pemilik perahu atau kapal. Pumpboat merupakan alat transportasi antar pulau dan sarana yang digunakan masyarakat pesisir kepulauan Sangihe untuk menangkap ikan. Biaya operasional yang tinggi seharunya tidak lagi ditambah dengan biaya pemeliharaan yang tinggi, sehingga nelayan dapat meminimalisir kerugian dimasa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya tahan material plywood marine use yang biasanya digunakan nelayan Sangihe terhadap pertumbuhuan biofouling. Perendaman material yang sudah dicat dan dikeringkan dilakukan selama satu bulan. Perhitungan IS (intensitas serangan) dilakukan dengan mengumpulkan data luas permukaan material sebelum diserang dan setelah diserang setiap minggu. Hasil yang diperoleh yaitu minggu pertama 19.8 %, minggu ke-2 48.8 %, minggu ke-3 63.6% dan minggu ke-4 87.4%. Tingginya laju pertumbuhan ini mengharuskan pengaplikasian metode khusus, sehingga performa konstruksi dan mesin kapal tetap maksimal saat melaut.   The impact caused by adhering organisms (biofouling) is still a challenge for fishermen who own boats or ships. Pumpboat is an inter-island transportation tool and a means used by the coastal communities of the Sangihe Islands to catch fish. High operational costs should no longer be coupled with high maintenance costs, so that fishermen can minimize losses in the future. This study aims to determine the durability of marine use plywood material, which is usually used by Sangihe fishermen against biofouling growth. Immersion of the material that has been painted and dried is carried out for one month. The calculation of IS (intensity of attack) is done by collecting data on the surface area of ​​the material before being attacked and after being attacked every week. The results obtained are 19.8% in the first week, 48.8% in the 2nd week, 63.6% in the 3rd week and 87.4% in the 4th week. This high growth rate necessitates the application of special methods, so that the ship's construction and engine performance remains optimal while at sea

    PENERAPAN MODEL DATA UAV FOTOGRAMETRI UNTUK SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ZONA PEMANFAATAN LAHAN (Studi Kasus: Kampung Bukide Kecamatan Nusa Tabukan)

    Get PDF
    Penelitian ini menghubungkan data remot sensing Unmaned Aerial Vehicle (UAV) untuk pengolahan data spasial berbasis sistem informasi geografis. Teknologi ini merupakan salah satu alternatif solusi untuk mendapatkan data lebih detil, real time, cepat dan lebih murah dibandingkan dengan penggunaan peta citra satelit. Kelebihan lain dari AUV dibandingkan foto citra satelit, AUV dalam proses pengambilan data foto udara berada pada posisi di bawah awan sehingga mampu menghasilkan data foto udara beresolusi tinggi. Hal tersebut dipengaruh oleh karena AUV tidak banyak di intervensi oleh perubahan atmotfer dibandingkan dengan foto hasil citra satelit. Proses digitalisasi menggunakan metode pengenalan objek dan segmentasi citra mengunakan perangkat lunak agissoft metashape, ArGIS10.4 dan Geomatica versi 2014. Hasil dari tahapan metode tersebut diketahui wilayah kampung bukide memiliki luas ± 143,59 ha. Luas tersebut diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu tutupan lahan vegetasi 135,49 ha, area pantai 1,55 ha dan Pemukiman seluas 6,59 ha. Hasil ini diperoleh dari pengenalan citra data UAV serta pengambilan titik koordinat pada 6 bentang alam yang digunakan sebagai acuan pada proses pengenalan citra dan georefensi. This study links remote sensing data to Unmaned Aerial Vehicle (UAV) for spatial data processing based on geographic information systems. This technology is an alternative solution to get more detailed, real time, fast and cheaper data compared to using satellite imagery maps. Another advantage of AUV compared to satellite imagery is that in the process of capturing aerial photo data, it is located under the cloud so that it can produce high-resolution aerial photo data. This was influenced by the fact that the AUV was not much intervened by changes in the atmosphere compared to satellite images. The digitization process uses object recognition and image segmentation methods using the 2014 version of Agissoft Metashape software, ArGIS10.4 and Geomatica. The results of these stages of the method show that the area of the Bukide village has an area of ± 143.59 ha. The area is classified into three parts, namely vegetation land cover of 135.49 ha, beach area of 1.55 ha and settlements of 6.59 ha. These results were obtained from the introduction of UAV data images and the taking of coordinate points in 6 landscapes which were used as references in the image recognition and georeference process

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇