e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
Not a member yet
385 research outputs found
Sort by
PEMBERDAYAAN KELUARGA DAN PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN DALAM MENINGKATKAN KEBERSIHAN DIRI ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANGANITU
Penderita gangguan jiwa sering mengalami gangguan kebersihan diri seperti mandi, menggosok gigi, BAB dan BAK pada tempatnya. Keluarga sangat berperan penting dalam memenuhi kebutuhan perawatan penderita gangguan jiwa sehingga penderita mampu melakukan aktivitas kebersihan diri secara mandiri. Tujuan PKMS ini yaitu melatih keluarga merawat dan memandirikan pasien gangguan jiwa dalam melakukan aktivitas dan latihan seperti: mandi, berpakaian, menyisir rambut, menggunting kuku, mencuci tangan, melatih pasien toileting dengan benar. Tim pengabdi melakukan kunjungan rumah didampingi oleh pemegang program kesehatan jiwa dari Puskesmas Manganitu Kegiatan ini berjalan dengan baik melibatkan 8 orang pasien gangguan jiwa. Hasil yang diperoleh pada hari pertama delapan pasien dibantu oleh keluarga dan tim pengabdi, setelah hari kedua enam pasien dapat melakukan perawatan diri secara mandiri tetapi dua pasien masih belum bisa melakukan perawatan secara mandiri seperti memakai baju dan menggosok gigi. Dukungan keluarga akan terus membawa dampak yang baik kepada ODGJ dalam mempertahankan kebersihan diri.
People with mental disorders often experience problems with personal hygiene, such as bathing, brushing their teeth, defecating and urinating properly. The family plays a very important role in meeting the care needs of people with mental disorders so that sufferers are able to carry out personal hygiene activities independently. The aim of this PKMS is to train families to care for and be independent of mental patients in carrying out activities and exercises such as: bathing, dressing, combing hair, cutting nails, washing hands, training patients to toilet properly. The service team conducted a home visit accompanied by mental health program holders from the Manganitu Health Center. This activity went well involving 8 mental patients. The results obtained on the first day eight patients were assisted by their families and service team, after the second day six patients were able to carry out self-care independently but two patients were still unable to carry out self-care such as wearing clothes and brushing their teeth. Family support will continue to have a good impact on ODGJ in maintaining personal hygien
PENGALAMAN KELUARGA MENGHADAPI STIGMA MASYARAKAT PADA PENDERITA GANGGUAN JIWA
Stigma merupakan bentuk prasangka untuk menolak individu ataupun kelompok karena berbeda dengan yang lain. Seseorang yang mengalami sakit kejiwaan selalu mendapatkan perlakuan buruk dari lingkungan disekitar tempat tinggalnya. Keluarga yang merawatnya juga mendapatkan dampaknya jika memiliki anggota keluarga yang gangguan jiwa. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui bagaimana pengalaman keluarga dalam menghadapi stigma masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan teknik wawancara pada enam keluarga yang berbeda tempat tinggal dan memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur. Analisia data ini menggunakan tujuh langkah Collaizi. Hasil yang didapat yaitu stigma yang buruk akan memberikan dampak kepada ODGJ dan keluarga. Dimana keluarga ikut mendapatkan dampak dari diskriminasi pada keluarga dan anggota keluarga yang sakit jiwa. Berdasarkan wawancara maka penulis menemukan 3 tema utama yaitu persepsi negatif, diskriminasi dari lingkungan sekitar dan kurangnya pengetahuan tentang gangguan jiwa.
Stigma is a prejudice to refuse someone or groups because they are different from others. Someone who has a mental illness always bad treated with stigma by around society. And will also impact on the family caring for the patient as well. The Aim of this STUDY wants to know about family experiences facing society's negative community response or stigma to someone with mental disorders. The research method is qualitative where interviewing six (6) different family patients with mental disorders in East District Tahuna Health Center. This data analysis used seven steps of collaizi and the results obtained that the bad stigma will have an impact on the patient and their family. Family members also get the impact of discrimination against mentally ill of patients too. Based on the interview method this research finds three (3) basic themes there are negative responses, discrimination by around society, and less of knowledge about mental disorders
PENGARUH METODE PENGGARAMAN KOMBINASI TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA IKAN HIU (Centrophorus sp.) JAMBAL ROTI
Ikan hiu menjadi salah satu hasil tangkapan nelayan Sangihe yang belum termanfaatkan secara maksimal. Daging hiu hanya diolah secara tradisional menjadi ikan asin dan ikan asap. Alternatif lainnya adalah membuat menjadi ikan asin jambal roti. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakterisktik kimia yang meliputi analisis proksimat, kadar NaCl dan Kadar urea dari ikan hiu jambal roti yang dibuat dengan metode penggaraman kombinasi. Tahapan penelitian meliputi: pembuatan ikan hiu jambal roti dan anailsis kimianya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penggaraman kombinasi menghasilkan ikan hiu jambal roti yang memiliki kadar protein tinggi 46.61 Persen, kadar lemak 3.78 Persen, kadar air 27.36 Persen, kadar abu 14.33 Persen dan kadar NaCl 16.92 Persen serta kadar urea 1.11 Persen. Berdasarkan kadar air dan kadar garam, ikan hiu jambal roti telah memenuhi standar SNI
Shark is one of the catches that has not been utilized in Sangihe. Traditionally, meat of shark were processed such as smoked fish and salted fish. Other that those shark meat might be processed using an alternative way is to make “jambal roti”. The objective of research were to analysis of chemical characterization including proksimat, NaCl value and Urea value. Research step included making of ‘jambal roti’ with combination salting method and chemical analysis. The results show that jambal roti of shark meat has a high protein value 46.61 Percent, lipid 3.78 Percent, water 27.36 Percent, ash 14.33 Percent, NaCl 16.92 Percent and urea 1.11 Percent. Based on water value and ash value, shark ‘jambal roti’ fulfilled SNI
KAREKTERISTIK PINDANG DARI BAHAN BAKU IKAN LAYANG (Decapterus sp.)
Ikan pindang merupakan salah satu produk olahan yang paling popular. Keunggulan ikan pindang adalah ikan pindang merupakan produk siap saji. Penentuan nilai gizi berdasarkan produk pindang ikan layang perlu dilakukan agar konsumen aman dalam mengonsumsinya. Tujuan penelitian untuk mengetahui nilai pengujian kadar air, kadar abu dan organoleptik. Penelitian dilakukan secara deskriktif dan dibandingkan dengan standard pengujian dan beberapa hasil penelitian. Pengujian yang dilakukan meliputi kadar air, kadar abu, dan organoleptik. Hasil pengujian kadar air pada konsentrasi 10 persen sebesar 70.29%, konsentrasi 15 persen sebesar 68.26 konsentrasi 20 persen sebesar 70.57 dan kadar abu pada konsentrasi 10% ebesar 1.67 persen, konsentrasi 15 persen sebesar 2.00 persen, konsentrasi 20 persen sebesar 2.30 persen. untuk nilai organoleptik masih sesuai dengan standar yang ditatapkan oleh SNI.
Fish boiled is wrong one product processed which most popular. Superiority fish boiled is fish boiled is product ready serve. Determination of the nutritional value based on pindang ikan layang needs to be done so that consumers are safe in consuming it. The aim of the study was to determine the value of testing for water content, ash content and organoleptic. The research was conducted descriptively and compared with standard testing and some research results. Tests carried out included moisture content, ash content, and organoleptic. The results of testing the water content at a concentration of 10 percent was 70.29 percent, a concentration of 15 percent was 68.26, a concentration of 20 percent was 70.57 and the ash content at a concentration of 10 percent was 1.67 percent, a concentration of 15 percent was 2.00 percent, a concentration of 20 percent was 2.30 percent. for organoleptic values are still in accordance with the standards set by SNI
PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN
Pada tahun 2018, di Sulawesi Utara angka kematian ibu sebanyak 49 kasus, data di Kabupaten Kepulauan Sangihe pada angka kematian ibu tahun 2017 sebanyak 2 orang. Kurangnya pengetahuan ibu dan keluarga dalam mengenali tanda-tanda bahaya kehamilan akan menyebabkan keterlambatan dalam mencapai akses pelayanan kesehatan, sehingga menyebabkan kematian pada ibu. Tujuan penelitian diketahuinya pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Tahuna timur. Penelitian menggunakan rancangan studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan dengan jenis penelitian kualitatif. Subjek penelitian adalah seorang ibu hamil usia kehamilan 31 – 36 minggu, di wilayah kerja Puskesmas Tahuna timur. Instrumen penelitian menggunakan format pengkajian maternitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien Ny. J. B berusia 35 tahun dengan masa gestasi 31 minggu. Mengalami deficit pengetahuan karena hanya mengetahui satu tanda bahaya kehamilan yaitu perdarahan dari 3 tanda bahaya kehamilan yakni perdarahan pervaginam, mual dan muntah yang parah, kontraksi rahim. Diagnosis keperawatan sesuai adalah defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi. Intervensi keperawatan yang muncul adalah 2 buah tindakan observasi, 3 buah tindakan terapeutik, 3 buah tindakan edukasi. Implementasi keperawatan dilaksanakan selama 2 hari dan sesuai dengan rencana tindakan yang ditegakkan. Evaluasi keperawatan bahwa semua masalah telah teratasi. Kesimpulan penelitian adalah Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda Bahaya Kehamilan yang kurang dapat diatasi dengan adanya pemberian informasi kesehatan. Saran sebaiknya ibu hamil dapat menambah informasi lewat petugas kesehatan atau media lainnya agar pengetahuan yang kurang tentang bahaya kehamilan dapat diatasi.
More than half a million women aged 15-49 years die from causes related to pregnancy and childbirth, and it is the leading cause of death for women in that age group. In North Sulawesi in 2018, the maternal mortality rate was 49 cases, and data in Sangihe Island Regency on the 2017 maternal mortality rate were 2 people. Lack of knowledge of the mother and their families in recognizing dangerous signs of pregnancy will causes delays in reaching access to health services, leading to maternal death. The research objective was to find out a deficit of knowledge among pregnant women about the danger signs in the health center in Tahuna Timur. The Method of research uses a case study design with nursing care. The type of research is descriptive research, the research only describes the phenomena found. The research subject was 1 pregnant woman gestational aged 31-36 weeks, in the work area of the east Tahuna Health Center. The research instrument used a maternity assessment format. The research location was in the work area of East Tahuna in April 2021. The result showed that the patient in NY. J. B is 35 years old and a freelance worker at TK Pertiwi Tahuna, currently, the patient is pregnant with a gestation period of 31 weeks. Experience a knowledge deficit because they only know one danger sign of pregnancy, namely bleeding. The intervention of nursing according to the Indonesian Nursing Diagnosis Standards (SDKI) is the deficit of knowledge related to a lack of exposure to information. Nursing interventions that appear in accordance with the Indonesian Nursing Intervention Standards (SIKI) are 2 observation actions, 3 therapeutic actions, and 3 educational actions. Nursing implementation was carried out for 2 days and is in accordance with the action plan that was enforced. The nursing evaluation was carried out on Thursday, April 29, 2021, and all problems had been resolved. The conclusion of this study is the knowledge of pregnant women about the dangerous signs of pregnancy that cannot be overcome by providing health information. Suggestions that pregnant women should be able to add information through health workers or other media so that the lack of knowledge about the dangers of pregnancy can be overcome
ANALISIS PENGGUNAAN PERANGKAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI BEBALANG SELANG PANDEMI COVID-19
Teknologi informasi dan komunikasi mempunyai peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Terlebih ketika saat ini telah terjadi wabah Corona virus Desease (covid 19) yang telah menjadi pandemi bagi dunia. Hasil penelitian yang dilakukan di Kamapung Bebalang kecamatan Manganitu Selatan Kabupaten Sangihe menunjukkan bahwa secara umum masyarakat Bebalang sudah memiliki dan menggunakan perangkat TIK baik untuk kebutuhan belajar, kerja, atau untuk kebutuhan komunikasi dan aktifitas lainnya. Responden yang menempuh pendidikan dan melaksanakan pembelajaran secara online tergolong tinggi yaitu sebanyak 69 % sedangkan yang melakukan pembelajaran secara offline sebanyak 31%. Perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan untuk kebutuhan belajar dan kerja dari rumah adalah smartphone dan aplikasi yang digunakan adalah Whatsapp yaitu 50%. Responden yang sudah memanfaatkan perangkat TIK dan aplikasinya untuk kebutuhan pekerjaan sebanyak 67% sedangkan yang melaksanakan pekerjaan secara offline sebanyak 33%. Jenis perangkat TIK yang dianalisis yaitu radio, televisi dan parabola, handphone, smartphone, dan laptop/computer. Adanya pandemi covid -19 tidak berpengaruh besar terhadap pembelian perangkat TIK karena hanya sebagian kecil responden yang membeli perangkat tersebut saat adanya pandemic covid 19 yaitu sebanyak adalah 28 %. Alasan terbesar responden memiliki serta memanfaatkan perangkat teknologi informasi dan komunikasi selama masa pandemic covid -19 adalah untuk kebutuhan pendidikan sebanyak 45%. Responden yang dapat mengakses jaringan telekomunikasi dari rumah sebanyak 55%. Banyaknya kebutuhan masyarakat dimasa pandemi menyebabkan pengeluaran keuangan masyarakat meningkat yaitu sebanyak 89%. Namun 95% responden menyatakan bahwa perangkat teknologi informasi dan komnikasi sangat membantu aktifitas yang dilakukan sehari-hari.
Information and communication technology has an important role in social life, especially when there has been an outbreak of the Corona virus Desease (covid 19) which has become a pandemic for the world.. The results of research conducted on Bebalang Island show that in general the citizen in Bebalang already have and use ICT equipment for learning, working, or for communicating needs and other activities. Respondents who took education and carried out online learning were high at 69%, while those who did offline learning were 31%. Information and communication technology devices used for learning and working from home are smartphones and the most widely used application is Whatsapp, which is 50%. Respondents who have used ICT tools and their applications for work needs were 67% while those who carried out work offline were 33%. The types of ICT equipment analyzed are radio, television and satellite dish, cellphone, smartphone, and laptop/ computer. The existence of the Covid-19 did not have a major effect on the purchase of ICT equipment because only a small proportion of respondents purchased these devices during the Covid 19 pandemic, which was 28%. The biggest reason respondents owned and used information and communication technology devices during the Covid-19 pandemic was for educational needs as much as 45%. The number of respondents who can access th e telecommunication network from home is 55%. The large number of community needs during the pandemic caused public financial spending to increase by as much as 89%. However, 95% of respondent
IMPLEMENTASI METODE SIMPLE MULTI ATTRIBUTE RATTING TECHNIQUE UNTUK PEMILIHAN PENERIMA BANTUAN DANA PENDIDIKAN
Tingginya biaya pendidikan di suatu perguruan tinggi merupakan salah satu kendala yang di hadapi oleh beberapa mahasiswa yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikannya diperguruan tinggi. Pemberian bantuan dana pendidikan atau yang disebut juga bantuan dana pendidikan adalah salah satu cara dalam mengatasi permasalahan yang disebutkan. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Petra menawarkan bantuan dana pendidikan untuk setiap mahasiswa yang kurang mampu dan berpertasi dalam bidang akademik. Jumlah pendaftar yang sangat besar dan sedangkan jumlah bantuan dana pendidikan yang disediakan hanya sedikit sehingga membuat proses seleksi menjadi begitu lambat. Pada prosesnya penentuan bantuan dana pendidikan yang sekarang masih dilakukan secara konvensional, jadi sangat sulit untuk memutuskan siapa – siapa penerima yang berhak untuk mendapatkan bantuan dana pendidikan dan prosesnya membutuhkan beberapa waktu yang cukup lama. Dilihat dari permasalahan yang ada maka, akan dibangun sebuah aplikasi yang dimana harapkan dapat membantu dalam proses dalam mendukung pembuat keputusan untuk menentukan nama calon mahasiswa yang penerima bantuan dana pendidikan dengan menggunakan sebuah metode yaitu SMART atau Simple Multi Attribute Rating Technique. Dalam penentuan penerima bantuan dana pendidikan dibutuhkan beberapa kriteria sebagai berikut berpestasi dalam bidang akademik yang dilihat dari IPK dan IPS, Aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, dan Pendapatan dari orang tua dari mahasiswa. Dari hasil implementasi aplikasi yang dibangun sudah bisa dikatakan layak digunakan maka, diharapakan kedepan, tentunya aplikasi yang dibuat bisa lagi dikembangkan dan proses seleksi calon penerima bantuan dana pendidikan menjadi jauh lebih efisien.
The high cost of education in a tertiary institution is one of the obstacles faced by some students who are less able to continue their education in tertiary institutions. Providing educational funding assistance or what is also known as educational funding assistance is one way to overcome the problems mentioned. STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) offers educational funding assistance to every student who is underprivileged and excels in academics. The number of applicants was very large and the amount of education funding provided was only a small amount, which made the selection process very slow. In the process of determining education funding assistance which is now still being carried out conventionally, it is very difficult to decide which beneficiaries are entitled to receive education funding assistance and the process takes quite a long time. Judging from the existing problems, an application will be built which is expected to assist in the process of supporting decision-makers to determine the names of prospective students who receive education funding assistance using a method, namely SMART or Simple Multi Attribute Rating Technique. In determining recipients of educational funding assistance, several criteria are needed as follows: achievement in the academic field as seen from GPA, active in student activities, and income from parents of students. From the results of the implementation of the application that was built, it can be said tha t it is suitable for use, so it is hoped that in the future, of course, the application that is made can be further developed. The selection process for prospective recipients of educational funding assistance becomes much more efficient
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PESISIR DI PULAU MAHUMU KECAMATAN TAMAKO KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Pulau Mahumu yang terletak pada koordinat 3 24’11,970” LU dan 125 34’ 2,382” BT (KKP, 2012). Pulau Mahumu merupakan salah satu pulau yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Tamako Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jarak tempuh dari ibukota Kecamatan Tamako yaitu 8 km dan jarak tempuh dari ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe yaitu 53 km, dengan menggunakan perahu motor. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai Petani yaitu sebesar 53,14 % dan kemudian diikuti oleh nelayan sebesar 40 %. Kondisi sosial budaya di Kampung Mahumu yaitu masyarakat memiliki tingkat solidaritas yang tinggi, serta sifat kekeluargaan dan gotong royong yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai – nilai kearifan lokal di Pulau Mahumu dalam kaitannya dengan pengelolaan wilayah pesisir di Pulau Mahumu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pengamatan (observasi), wawancara mendalam (indepth interview) serta studi kepustakaan. Pengamatan yaitu teknik pengumpulan data dengan mengamati situasi dan kondisi lingkungan serta perilaku masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Pulau Mahumu mempunyai rasa solidaritas dan kekeluargaan yang tinggi. Kearifan lokal di Pulau Mahumu seperti menoma, tidak boleh memotong pohon bakau, serta gotong royong membangun rumah. Kearifan lokal tersebut menjaga keberlangsungan hidup di pulau kecil dan keberlanjutan sumber daya laut dan perikanan. Kearifan lokal yang ada di Pulau Mahumu merupakan daya tarik tersendiri dalam pengembangan wisata bahari pada Klaster Teluk Dagho.
Mahumu Island is located at the coordinates of 3° 24'11.970" North Latitude and 125° 34' 2.382" East Longitude (KKP, 2012). Mahumu Island is one of the islands included in the administrative area of Tamako District, Sangihe Islands Regency. The distance from the capital of Tamako District is 8 km and the distance from the capital of Sangihe Islands Regency is 53 km, by using a motor boat. Most of the population work as farmers, which is 53.14% and then followed by fishermen by 40%. The socio-cultural conditions in Mahumu Village are that the community has a high level of solidarity, as well as a high level of kinship and mutual cooperation. This study aims to describe the values of local wisdom on Mahumu Island in relation to the management of coastal areas on Mahumu Island. The method used in this research is observation (observation), in-depth interview (in-depth interview) and literature study. Observation is a technique of collecting data by observing environmental situations and conditions as well as community behavior. The results showed that the people on Mahumu Island had a high sense of solidarity and kinship. Local wisdom on Mahumu Island, such as menoma, is not allowed to cut mangrove trees, and mutual cooperation in building houses. This local wisdom maintains the survival of small islands and the sustainability of marine and fishery resources. The local wisdom that exists on Mahumu Island is the main attraction in the development of marine tourism in the Dagho Bay Cluster
GAMBARAN PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN PUSKESMAS DI DAERAH KEPULAUAN
Salah satu prioritas reformasi kesehatan adalah meningkatkan dan pemerataan pelayanan yang bermutu bagi masyarakat di daerah terpencil dan kepulauan. Salah satu permasalahan di daerah kepulauan dan daerah terluar seperti pada wilayah kerja Puskesmas Nusa Tabukan adalah sistem rujukan dari Puskesmas menuju Rumah Sakit Tipe C yaitu RSD Liun Kendage Tahuna. Oleh karena itu perlunya suatu studi untuk memiliki gambaran pelaksanaan sistem rujukan puskesmas di daerah Kepulauan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan rancang bangun cross sectional. Penelitian ini dilakukan di kampung Nipa, Pulau Nusa yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Nusa Tabukan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang pernah mendapatkan pelayanan rujukan berupa pendampingan oleh perawat atau petugas kesehatan rerata dalam 3 tahun terakhir dengan jumlah sampel sebanyak 59 orang. Hasil Penelitian ini menunjukkan pelaksanaan rujukan pasien di wilayah kepulauan Puskesmas Nusa Tabukan berjalan dengan baik walaupun belum terdapat perahu/ambulance laut yang terstandar dan masih menggunakan perahu komersil/masyarakat yang dimodifikasi sementara untuk SOP pelaksanaan rujukan secara baku belum ditetapkan dan masih bersifat fleksibel. Diharapkan kerjasama antara pihak pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan dan perangkat kampung dalam memfasilitasi transportasi rujukan pasien.
One of the priorities for health reformation is to improve and equal health services to the community in remote areas and archipelagos. One of the problems in the islands and outermost areas, for example in the working area of the Nusa Tabukan Health Center, is the referral system from the Public Health to Type C Hospital, namely RSD Liun Kendage Tahuna. Therefore, a study is needed to have an overview of the implementation of the Public Health center referral system in the Archipelago area. This research was a descriptive study, with a cross-sectional design. This research was conducted in Nusa Utara Island, which is the working area of the Nusa Tabukan Health Center. The population of this study was all people who had received referral services in the form of assistance by nurses or health workers in the last 3 years on average with a total sample of 59 participants. The results of this study indicate that the implementation of patient referrals in the islands of Nusa Tabukan Health Center is going well even though there is no standardized boat/ambulance and still uses modified commercial/community boats, while the operating standard procedure (SOP )referral has not been established and it depends on the situation. This research recommends that cooperation between local government through the Health Department and village officials should facilitate the transportation of the patient
HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE, SUHU DAN PENCAHAYAAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT SKABIES DI PONDOK PESANTREN AL – FALAH SUKAENING KABUPATEN BANDUNG BARAT
Skabies adalah penyakit kuit yang terjadi pada manusia dan sering terjadi di pondok pesantren dikarenakan Personal hygiene yang kurang baik pentilasi, pencahayaan yang kurang dan kepadatan hunian. Skabies bisa juga disebut penyakit budugan sering di jumpai di pondok pesantren asrama dan panti asuhan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan personal hygiene, suhu dan pencahayaan dengan kejadian Penyakit skabies di pondok pesantren Al - Falah Sukawening Kabupaten Bandung Barat. Jenis penelitian ini adalah menggunakan desain cross sectional dengan subjek penelitian ini adalah 68 santri yang tinggal di Pondok Pesantren Al – Falah Sukawening. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan data primer dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian kepada 68 responden, menunjukkan bahwa suhu (p sama dengan 0,001), pencahayaan (p sama dengan 0.001), dan personal hygiene (p sama dengan 0,022) memiliki hubungan dengan kejadian skabies. Sebaiknya meningkatkan upaya penyuluhan di pondok pesantren mengenai sanitasi lingkungan yang baik dan mengenai tata cara melakukan dan menjaga personal hygiene yang baik.
Scabies is a disease that occurs in humans and often occurs in Islamic boarding schools due to poor personal hygiene, ventilation, insufficient lighting, and density of occupancy. Scabies can also be called Budugan disease which is often encountered in boarding schools and orphanages. The research objective was to determine the relationship between personal hygiene, temperature, and lighting with the incidence of scabies in Al - Falah Islamic boarding school, Sukawening, West Bandung Regency. This type of research is using a cross-sectional design with the subjects of this study being 68 students who live in Al-Falah Sukawening Islamic Boarding School. Sampling was done by using the total sampling technique. Data collection using primary data using a questionnaire. The results of the study on 68 respondents showed that temperature (p same as 0.001), lighting (p same as 0.001), and personal hygiene (p same as 0.022) had a relationship with the incidence of scabies. It is better if you increase the extension efforts in Islamic boarding schools regarding good environmental sanitation and the procedures for doing and maintaining good personal hygiene