e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
Not a member yet
385 research outputs found
Sort by
PELATIHAN “PEKA BERAKSI” GUNA TERWUJUDNYA “REMAJA MELEK KESEHATAN DAN SOFT SKILL” PADA KELOMPOK REMAJA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RANOMUUT DAN BENGKOL KOTA MANADO
Berkembangnya teknologi di saat ini sangat mempengaruhi pola perilaku dari remaja tersebut. Hal ini dibuktikan dengan terus meningkatnya masalah kesehatan remaja seperti perilaku seksual menyimpang, kebiasaan merokok, alkohol. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi usia remaja dikarenakan usia remaja mendominasi seluruh agregat usia dengan jumlah penduduk terbanyak dan usia remaja juga merupakan penerus bangsa yang perlu dipersiapkan dari segi kesehatannya. Puskesmas sebagai target mitra yang dipilih adalah puskesmas Ranomuut dan Bengkol. Kedua mitra ini dipilih dikarenakan berada di pusat Kota Manado yang memiliki masalah yang kompleks berkaitan dengan kesehatan remaja. Permasalahan mitra yang dijumpai adalah minimnya keterjangkauan remaja untuk mencapai layanan kesehatan, minimnya pengetahuan berkaitan dengan Kesehatan reproduksi dan perilaku menyimpang pada usia remaja. Oleh karena itu melalui program kemitraan masyarakat PKM ini menawarkan solusi terkait dengan implementasi pelatihan “PEKA BERAKSI” PEndidikan Kesehatan, Kontrol orang tuA, pemBERdayaAn, Keterampilan NegosiaSI sehingga remaja dapat sadar akan kondisi kesehatannya dan juga latihan peningkatan terhadap kemampuan Soft Skill. Kegiatan PKM yang dilakukan berupa pendidikan kesehatan, pemberdayaan serta keterampilan. Proses kegiatan ini berlangsung selama 3 kali pertemuan dengan metode bervariasi yaitu ceramah, demonstrasi dan praktik. Hasil dari kegiatan ini terdapat perubahan signifikan pada pengetahuan dan sikap serta keterampilan remaja yang dapat dipraktikkan dengan baik. Oleh karena itu melalui kegiatan ini diharapkan remaja lebih peduli akan kondisi kesehatannya sehingga mampu memutus rantai keterlibatan remaja dengan perilaku seksual berisiko.
The development of technology in the current era greatly influences the behavior patterns of adolescents. This is evidenced by the increasing health problems among adolescents, such as deviant sexual behavior, smoking habits, and alcohol consumption. This condition is a particular concern for the adolescent age group, as adolescents dominate the entire population with the largest number of people and they are also the future of the nation that needs to be prepared in terms of their health. The chosen target partners for this partnership program are the Ranomuut and Bengkol health centers. These partners were selected because they are located in the center of Manado City, which has complex health-related issues among adolescents. The issues encountered with these partners include the limited accessibility of adolescents to health services, lack of knowledge related to reproductive health, and deviant behavior among adolescents. Therefore, through this Community Partnership Program PKM, a solution is offered related to the implementation of the "PEKA BERAKSI" training program Health Education, Parental Control, Empowerment, and Negotiation Skills, so that adolescents can become aware of their health conditions and also improve their Soft Skills. The PKM activities consist of Health Education, empowerment, and soft skill training. This activity will take place over 3 meetings with various methods such as lectures, demonstrations, and practice. The results of this activity show significant changes in the knowledge, attitudes, and skills of adolescents that can be applied effectively. Therefore, it is expected that through this activity, adolescents will become more concerned about their health conditions and be able to break the chain of adolescents' involvement in risky sexual behaviors
PEMBENTUKAN POSYANDU LANJUT USIA DI GMIST IMANUEL ULUNGPELIANG KECAMATAN TAMAKO KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Pos pelayanan terpadu (Posyandu) lansia adalah pos pelayanan terintegrasi bagi masyarakat usia lanjut di satu wilayah, yang sudah disetujui dan dijalankan oleh sekelompok individu dimana bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. GMIST Imanuel kampung Ulungpeliang kecamatan Tamako merupakan salah satu Jemaat yang belum memiliki posyandu Lansia. Di Indonesia jumlah lansia diatas 60 tahun diprediksi akan meningkat jumlahnya 20 persen sampai tahun 2050. Besarnya jumlah penduduk lansia menjadi beban, jika lansia memiliki masalah penurunan kesehatan yang berakibat pada peningkatan biaya pelayanan kesehatan, sehingga dengan adanya Posyandu lansia sebagai unit pelayanan kesehatan terkecil yang ada di masyarakat merupakan program untuk meningkatkan status kesehatan lansia. Tujuan pelaksanaan kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan serta kualitas hidup lanjut usia. Kegiatan PKMS ini dilaksanakan pada tanggal 27 September 2022 yang dihadiri 30 masyarakat lansia. Dari hasil evaluasi ditemui semua lansia yang hadir sangat senang dengan terbentuknya posyandu lansia di GMIST Imanuel kampung Ulungpeliang Hal ini dibuktikan dengan adanya kesepakan dari ketua MPJ bersama pengurus Lansia serta kepala Puskesmas Tamako saat pelaksanaan PKMS.Target dan luaran yang akan dihasilkan pada kegiatan ini berupa artikel ilmiah di jurnal Tatengkorang, artikel media masa/cetak, dokumen berupa video pelaksanaan di Yutube P3M Politeknik Negeri Nusa Utara.
The integrated service post (posyandu) for the elderly is an integrated service post for the elderly in one area , which has been approved and run by a group of individuals where they can get health services. GMIST Imanuel in Ulungpeliang village, Tamako district, is one of the congregations that has not yet formed an elderly posyandu. The number of elderly people over 60 years old is predicted to increase by 20 percent until 2050. The large number elderly population becomes a burden, if the elderly have problems in health condition which is results in an increasing in the cost of health services. The elderly Posyandu station as the smallest health service unit in the community wil conducted such program to increase the health status of the elderly. Purpose implementing activities were to to increase knowledge about health and quality of life the elderly. This PKMS activity was held on September 27, 2022, which was participated by 30 elderly people. Results of the evaluation it was found that all elderly who attended were very exciyed within establishment of an elderly posyandu station at GMIST Imanuel in Ulungpeliang village. This is proven by the supporting of the chairman of the MPJ with the elderly management and the head of Tamako Health Center during the implementation of PKMS.. The targets and outputs that will be produced in this activity are in the form of scientific articles in the Tatengkorang journal, mass / print media articles, documents in the form of implementation videos at the Youtube P3M North Nusa State Polytechnic
The FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS PERKEMBANGAN BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS ENEMAWIRA KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Setiap tahun lebih dari 200 juta anak kurang dari 5 tahun menunjukkan keterlambatan perkembangan dan 86 persen terjadi di negara berkembang. Sekitar 43 persen anak di negara berkembang dikhawatirkan akan mengalami gangguan perkembangan. Salah satu upaya untuk mengetahui adanya penyimpangan perkembangan bayi dan balita yaitu dengan deteksi dini penyimpangan perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status perkembangan balita di Wilayah Puskesmas Enemawira Kabupaten Kepulauan Sangihe. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode convenience sampling dengan jumlah sampel yaitu 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden termasuk pada kategori memiliki pendidikan tinggi yaitu sebanyak 73.3 persen. Berdasarkan pendapatan keluarga, 60 persen responden termasuk pada kategori keluarga dengan pendapatan rendah. Berdasarkan karakteristik jumlah saudara, maka sebagian besar subjek penelitian tidak memiliki saudara yakni 56.7 persen. Hasil perhitungan KPSP menunjukkan sebagian besar subjek dalam penelitian ini termasuk pada kategori perkembangan meragukan yakni 60 persen. Secara statistik, tingkat pendidikan ibu berhubungan dengan status perkembangan anak p value lebih besar dan sama dengan 0.05. Faktor yang tidak berhubungan dengan status perkembangan anak yakni pendapatan keluarga dan jumlah saudara
Every year, more than 200 million children under the age of five experience developmental delays, with developing countries accounting for 86 percent of the cases. Developmental disorders are expected to affect approximately 43 percent of children in developing countries. Early detection of developmental abnormalities is one effort to discover the existence of developmental abnormalities in infants and toddlers. This study aims to determine the factors related to child development status in the Enemawira Community Health Center, Sangihe. This research was a quantitative descriptive study with a cross-sectional approach. Sampling method using convenience sampling with a total sample of 30 respondents The results showed that most of the respondents 73.3 percent belonged to the category of having higher education. Based on family income, 60% of respondents belong to the category of families with low income. Based on the characteristics of the number of siblings, most of the research subjects 56.7 percent did not have siblings. The KPSP calculation results showed that most of the subjects in this study were included in the "doubtful" category 60 percent. The mother's educational level is statistically related to the child's developmental status p value 0.05. while family income and the number of sibling factors were not related to the development of child status, respectivel
AKURASI DATA PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO
Akurasi data ikan hasil tangkapan berperan penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan keakuratan data produksi perikanan tangkap, mengetahui mekanisme pendataannya dan untuk mengetahui dampak dari ketidakakuratan data produksi perikanan tangkap terhadap kehilangan potensi pendapatan asli daerah di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Metode penelitian ini yaitu Studi Kasus, mekanisme pendataan produksi perikanan tangkap dianalisis dengan deskriptif kuantitatif sedangkan keakuratan data produksi perikanan tangkap dan dampak perbedaan data nilai produksi perikanan tangkap di analisis secara matematis. Materi yang digunakan adalah data volume dan nilai produksi perikanan tangkap yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan Ulu Siau Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro pada tahun 2019 – 2021. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata – rata Penyimpangan Data perikanan tangkap 76,92% dan rata – rata Tingkat Keakuratan Data dari tahun 2019-2021 yaitu 23,08%. Hal ini menunjukan bahwa dalam tiga tahun terahir data produksi yang dirilis Pemerintah Daerah dan menjadi data rujukan Pemerintah Pusat sangat tidak akurat karena tidak sampai 95% tingkat keakuratan datanya (TKD)
The accuracy of capture fisheries production data plays an important role in fisheries resource management. This research aims to determine the accuracy of capture fisheries production data, knowing the data collection mechanism and to knowing the impact of inaccurate capture fisheries production data on the loss of potential local revenue in the Siau Tagulandang Biaro Islands Regency. This research method is a case study, the mechanism of data collection of capture fisheries production is analysed by descriptive quantitative analysis while the accuracy of capture fisheries production data and the impact of differences in capture fisheries production value data are analysed mathematically. The material used is data on the volume and value of capture fisheries production landed at the Ulu Siau Fish Auction Site, Siau Tagulandang Biaro Islands Regency in 2019 - 2021. The results showed that the average deviation of capture fisheries data was 76.92% and the average level of data accuracy from 2019-2021 was 23.08%. This shows that in the last three years the production data released by the Regional Government and became the reference data for the Central Government is very inaccurate because it does not reach 95% of the data accuracy level (DAL
PEMAHAMAN DAN PERILAKU PENCEGAHAN DIABETES MELLITUS DI KALANGAN MASYARAKAT PULAU KAWALUSO
Diabetes Mellitus DM merupakan masalah kesehatan global yang berhubungan erat dengan penyakit metabolic dan kardiovaskuler sehingga sampai saat ini DM masih menjadi masalah kesehatan dunia termasuk di Indonesia. Tingginya prevalensi dan persentase kematian akibat DM menyebabkan perlunya penelusuran mengenai pemahaman dan perilaku masyarakat tentang cara mencegah terjadinya DM. Pencegahan DM sangat diperlukan untuk mencegah timbulnya DM dan komplikasinya. Kendala utama saat ini adalah kurangnya pemahaman masyarakat di Pulau Kawaluso untuk mengikuti pola hidup sehat sehingga mempengaruhi perilaku manajemen kesehatan masyarakat tidak cukup baik. Permasalahan ini menjadi tantangan dalam mencegah adanya peningkatan kasus DM. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pemahaman dan perilaku masyarakat di Pulau Kawaluso untuk mencegah terjadinya DM. Penelitian ini adalah penelitian deskritif kuantitatif dengan metode survei. Dilaksanakan sejak bulan Juli sampai dengan Oktober 2022 di Pulau kawaluso Kecamatan Kendahe Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan jumlah populasi 643 orang. Pengambilan sampel menggunakan non probality sampling dengan teknik purposive sampling maka setelah mengadakan perhitungan sampel didapatkan besar sampel berjumlah 96 subjek atau responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat Pulau Kawaluso tentang pencegahan DM berada pada kategori kurang atau 79.17 persen. Hasil penelitian tentang Perilaku pencegahan DM menunjukkan masyarakat berperilaku negatif atau 58.33 persen. Kesimpulan penelitian ini adalah pemahaman masyarakat tentang pencegahan DM di Pulau Kawaluso berada pada kategori kurang dan perilaku masyakat untuk mencegah DM sebagian besar masyarakat berperilaku negatif. Saran bagi petugas kesehatan agar lebih meningkatkan promosi kesehatan berkaitan dengan pencegahan DM dan bagi masyarakat agar senantiasa menjaga lifestyle supaya terhindar dari penyakit DM
Diabetes Mellitus is a global health problem that is closely related to metabolic and cardiovascular disease, so Diabetes Mellitus DM remains a worldwide health concern, including in Indonesia. The high prevalence and percentage of deaths caused by DM emphasize the need to investigate the understanding and behavior of the community to prevent DM. Preventing DM is crucial to avoid the onset of diabetes and its complications. The primary challenge at present is the Kawaluso community's lack of understanding in adopting a healthy lifestyle, which impacts the effectiveness of public health management. This issue presents a challenge in curbing the rise of DM cases. The research aims to understand the behavior and attitudes of the communities on Kawaluso Island, Kendahe District, Sangihe Island Regency, which has a population of 643 people. The sampling method involves non-probability sampling with a purposive sampling technique, resulting in a sample size of 96 subjects or respondents. The research results indicate that the community's understanding on DM prevention in Kawaluso Island falls within the lower category, at 79.17 percent. The research findings regarding behavior for preventing DM reveal that the community exhibits negative behavior at a rate of 58.33 percent. In conclusion, this research reveals that the understanding of communities about preventing DM in Kawaluso Island falls within the lower category, and the community's behavior for DM prevention indicates a predominant negative trend. Recommendations for health workers include enhancing health promotion efforts related to DM prevention. Additionally, the community is advised to consistently maintain a healthy lifestyle to prevent the occurrence of D
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DALAM PENINGKATAN PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT DI LEHUPU KECAMATAN TABUKAN SELATAN TENGAH KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Salah satu cara mengatasi masalah sampah adalah dengan membuat tempat penampungan sampah sementara (TPS) atau tempat penampungan akhir (TPA). Hal ini diharapkan agar dapat mengurangi volume sampah dan masalah sampah yang mengaibatkkan dampak lingkungan kesehatan pada masyarakat pesisir dan laut serta mempermudah manajemen pengelolaan sampah. Berdasarkan data dari mahasiswa KKL Politeknik Negeri Nusa Utara di Kampung Lehupu Kecamatan Tabukan Selatan Tengah Tahun Akademik 2019/2020 ada 30 rumah 34 persen yang membuang sampah di laut dengan menenggelamkannya ke dasar laut dan 25 rumah (29 persen) dibakar, 21 rumah (24 persen) di buang sembarang, 10 rumah (12 persen) dibuang di kebun dan hanya 1 rumah yang menggali lubang untuk membuang sampah. Berdasarkan latar belakang masalah, tim pengabdi telah melakukan pengabdian tentang “PKMS Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Dalam Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih Sehat Melalui Pembuatan Tempat Pembuangan Sampah. Kegiatan dilaksanakan di Kampung Lehupu Kecamatan Tabukan Selatan Tengah Kabupaten Kepulauan Sangihe pada Juni-Agustus 2021. Tahapan kegiatan pengabdian diawali dengan melakukan penyuluhan tentang pengelolaan sampah rumah tangga, pandemi COVID-19, vaksinasi COVID-19 dan pemberian bantuan 3 sak semen dan cat guna pembuatan tempat sampah dengan tujuan agar masyarakat tidak lagi membuang sampah di laut tapi membuang sampah di tempat sampah yang tersedia. Pembuatan tempat sampah dilakukan oleh masyarakat secara suka rela dan bergotong royong. Adanya kegiatan yang sama dan berkelanjutan sangat diharapkan agar perilaku membuang sampah pada tempatnya menetap pada masyarakat Lehupu.
One way to overcome the waste problem is to create a temporary waste shelter (TPS) or final shelter (TPA). This is expected to reduce the volume of waste and waste problems that cause environmental health impacts on coastal and marine communities and facilitate waste management. Based on data from KKL (Community Service Program) at the State Polytechnic of North Nusa in Lehupu Village, South Tabukan District, Middle of the Academic Year 2019/2020, there were 30 houses, 34 percent of which were thrown garbage in the sea in sinking it into the seabed and 25 houses (29 percent) were burned, 21 houses (24 percent) ) was thrown away, 10 houses (12 percent) were dumped in the garden and only 1 house dug a hole to dispose of garbage. Based on the background of the problem, the service team has done service on "PKMS for Empowering Coastal Communities in Improving Clean and Healthy Life Behaviors through the Construction of a Garbage Disposal Site”. The activity was carried out in Lehupu Village, South Central Tabukan District, Sangihe Islands Regency in June-August 2021. The stages of service activities begin with conducting counseling on household waste management, the COVID-19 pandemic, and COVID-19 vaccination, and providing assistance with 3 bags of cement and paint for making trash cans with the aim that people no longer throw garbage in the sea but throw garbage in the trash. which is available. The construction of garbage dumb is carried out by the community voluntarily and by working together. The existence of the same and sustainable activities is highly recommended so that the behavior of disposing of waste in its place remains in the Lehupu community
PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIBERI PAKAN FERMENTASI
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui performa ikan nila mencakup pertumbuhan, dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila yang diberi pakan fermentasi. Dilaksanakan pada bulan Mei-Oktober 2021 di Kampung Hiung Kecamatan Manganitu. Wadah pemeliharaan menggunakan kolam yang dilengkapi dengan wadah pemeliharaan menggunakan wadah keranjang plastik. Pembuatan pakan uji dilakukan dengan menggunakan bahan baku lokal yaitu tepung dedak, tepung jagung, tepung bungkil, tepung ikan, vitamin, tepung sagu dan difermentasi dengan menggunakan EM4 dan ragi. Ikan uji yang digunakan yaitu ikan nila ukuran 8-10 cm sebanyak 50 ekor, masing-masing wadah sebanyak 10 ekor. Adapun rancangan penelitian yaitu A. Pakan tanpa fermentasi, B. pakan fermentasi 3 hari, C. Pakan fermentasi 5 hari dan C) pakan fermentasi 7 hari, D) pakan fermentasi 11 hari. Parameter pengamatan yaitu uji fisik, pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, kualitas air. Dari hasil penelitian diperoleh tingkat daya tahan pakan yang tertinggi terdapat pada perlakukan B Fermentasi 3 hari selama 14,27 menit. Pertambahan berat dan panjang tertinggi yaitu pada wadah B (pakan fermentasi 3 hari) dengan pertambahan berat 18,8 gram dan pertambahan panjang 4,73 cm. Tingkat kelangsungan hidup ikan berkisar 80-100%, Hasil pengukuran suhu pemeliharaan yaitu 25-27 ºC dan pH air pemeliharaan ikan 7-8
This research was conducted to know the performance of tilapia such as the growth, and survival rate of tilapia feeding with fermented fish feed. It was held in May-October 2021 at Hiung Village, Manganitu District. The maintenance container uses a pond equipped with a maintenance container using a plastic basket container. The test feed was made using local raw materials, namely bran flour, corn flour, cake flour, fish meal, vitamins, and sago flour, and fermented using EM4 and yeast. The test fish used were tilapia measuring 8-10 cm as many as 50 fish, 10 fish in each container. The research design is A. unfermented feed, B. 3 days fermented feed, C. 5 days fermented feed and C) 7 days fermented feed, D) 11 days fermented feed. Observation parameters are physical test, growth, survival rate, and water quality. From the results of the study, the highest level of feed resistance was found in treatment B Fermentation 3 days for 14, 27 minutes. The highest weight and length gain was in container B (3 days fermented feed) with an increase in weight of 18.8 grams and an increase in length of 4.73 cm. The survival rate of fish ranges from 80-100%. The results of the measurement of rearing temperature are 25-27 C and the pH of fish rearing water is 7-8
KELUHAN UTAMA DENGAN LENGTH OF STAY (LoS) DI RSD LIUNKENDAGE TAHUNA
Keluhan utama merupakan penyebab utama sehingga pasien ke Rumah Sakit, oleh karena itu Unit Gawat Darurat UGD yang merupakan pelayanan terdepan selama 24 jam wajib memberikan pelayanan prima secara cepat dan tepat oleh tenaga dokter ataupun perawat yang telah tersertifikasi guna penyelesaian permasalahan pasien, selanjutnya pasien akan dirawat di ruang perawatan bila dibutuhkan atau dapat langsung pulang ke rumah, lama rawat pasien akan sangat bergantung pada kondisi penyakit dan hal lainnya. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui apakah adanya hubungan antara keluhan utama dan lama rawat inap pada pasien diruang perawatan bougenvil RSD Liun kendage Tahuna, proses pengambilan data menggunakan data retrospektif yang ada di bagian medical record maupun ruang perawatan dan Unit Gawat darurat, dengan jumlah sampel sebanyak 200 orang, Analisa data menggunakan program computer dengan jenis uji komparatif numerik tidak berpasangan Kruskall Wallis. Hasil penelitian didapatkan Pasien yang dirawat paling banyak berusia 45 sampai dengan 54 tahun, berjenis kelamin perempuan, berdomisili di Tahuna, Pengguna BPJS, Nyeri merupakan keluhan terbanyak pasien, dan pasien pulang dalam kondisi sembuh. Uji bivariate didapatkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara keluhan utama dan lama perawatan di ruang bougenvile selang januari 2020 sampai dengan desember 2021 dengan nilai p 0,54. Saran diharapkan kepada RSD Liun kendage Tahuna untuk terus mengevaluasi dan melakukan penelitian untuk mengetahui variabel yang mempengaruhi lama perawatan pasien, agar supaya pasien dan keluarga sebagai pengguna layanan akan merasa puas terhadap layanan yang diterima nantinya
The main complaint is the main cause for patients to go to the hospital, therefore the Emergency Unit ER which is the foremost service for 24 hours is obliged to provide excellent service quickly and precisely by certified doctors or nurses in order to resolve patient problems, then the patient should be treated in the treatment room if needed or can go straight home, the length of stay of the patient depends on the severity of disease and other factors. This study determined the relationship between the main complaints and the Length of Sstay of patients at the bougainville room at Liun Kendage Hospital, Tahuna. The data collection process used retrospective data in the medical record section as well as in the treatment room and emergency room, Number of samples were 200 Data of patients. Data was analyzed by the computer program, numerical comparative test Kruskall Wallis was used in this research. Study showed that the majory of patients admitted during 2020 to 2021 were aged 45 up to 54 years, female, live in Tahuna, BPJS users, with the most complaints of pain, and patients returning home because of fully recovered. Bivariate test showed that there is no significant relationship between the main complaint and the length of stay with a p-value of 0.54. RSD Liun Kendage Tahuna expected to continue the evaluatiom and conduct research to find out factors related to patient care during hospitalization to improve services and increase the users satisfaction
DUKUNGAN KELUARGA PADA ANAK DENGAN MASALAH KETERLAMBATAN MENTAL DI KECAMATAN MANGANITU
Menjaga dan membesarkan anak berkebutuhan khusus merupakan tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua karena anak merupakan anugerah Tuhan yang dititipkan bagi setiap orang tua. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dukungan keluarga merawat anak dengan keterlambatan mental di Kecamatan Manganitu. Metode: penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara kepada 5 keluarga yang merawat anak di Kecamatan Manganitu. Analisis data yang digunakan mengacu pada tujuh langkah teknik analisis data collaizi. Hasil penelitian ini yaitu dukungan keluarga pada anak dengan masalah keterlambatan mental sangat penting mulai dari memberikan mencari informasi tentang kesehatan anak, kebutuhan makan minum, fasilitas pendidikan sampai kasih sayang yan diberikan merupakan dukungan terbesar yang diharapkan oleh anak dengan keterlambatan mental sehingga anak akan merasa dihargai dan sayangi oleh orang tua. Kesimpulan: Dukungan keluarga yang diberikan orang tua pada anak dengan masalah keterlambatan mental yaitu dukungan Informasi, dukungan emosional, dukungan instrumental dan dukungan penghargaan. Orang tua memiliki peran terhadap tumbuh kembang anak
Caring for and raising children with special needs is the duty and responsibility of parents because children are God's gifts that are entrusted to every parent. The purpose of this study was to determine family support in caring for children with mental retardation in Manganitu District. Method: this study used a qualitative research method with interview techniques to 5 families who cared for children in Manganitu District. The data analysis used refers to the seven-step collaizi data analysis technique. The results of this study are that family support for children with mental retardation is very important, starting from providing information about children's health, eating and drinking needs, educational facilities to the affection that is given, which is the greatest support expected by children with mental delays so that children will feel valued and loved by parents. Conclusion: Family support given by parents to children with mental retardation problems, namely information support, emotional support, instrumental support and appreciation support. Parents have a role in the development of children
KEKERASAN DALAM BERPACARAN PADA SISWA SMA DAN SMK DI KECAMATAN TABUKAN UTARA
Masalah yang sering terjadi dan dialami oleh pasangan dalam hubungan berpacaran ialah terjadinya tindakan kekerasan, dimana tindakan kekerasan ini berdasarkan data dari Komnas Perempuan (2020) berada pada urutan ketiga pada tahun 2016-2020, setelah kekerasan istri dan anak perempuan. Terjadi sekitar 2.073 kasus (2018), 1.815 kasus (2019), dan 1.309 kasus (2020). Tujuan penelitian ini ialah diketahuinya gambaran tingkat kekerasan dan bentuk – bentuk kekerasan dalam berpacaran pada siswa SMA dan SMK di Kecamatan Tabukan Utara. Data penelitian dikumpulkan dengan mengisi kuesioner Conflict Tectict Scale (CTS. Responden dipilih melaui teknik purposive sampling, dimana sampel dipilih berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria. Jumlah responden yang memenuhi kriteria berjumlah 135 orang dan mewakili dari siswa SMA Negeri 1 Tabukan Utara, SMK Tabukan Utara, dan SMK Muhamadiyah Naha. Hasil penelitian diperoleh bahwa seluruh responden mengalami tindakan kekerasan dalam berpacaran. Tingkat kekerasan yang dialami oleh responden berada pada skala sangat rendah 12,7 persen. Terdapat 5 tindakan kekerasan yang paling banyak dialami oleh responden ialah diperiksa handphone (kekerasan sosial) 85,2 persen, diabaikan (kekeraan psikis) 44,4 persen, selalu diawasi (kekerasan psikis) 37 persen, dicurigai (kekerasan psikis) 32,6 persen, dan dituduh selingkuh (kekerasan psikis) 25,2 persen.
Dating violence is a big problem and it is happen in common dating couples in the world. Data from Komnas Perempuan (2020) said that, at five years ago (2016-2020), dating violence occupy possition in third big violence under privacy violance to wife and daughters in 2018 2.073 cases, 2019 1.815 cases, and than 2020 1.093 cases. Purpose of this reseach is to know general description of the level of violence than another data of dating violence types to Students in Senior High School and Vacational High School Student in Tabukan Utara Distric. Reaseach data taken from 30 statement of respondents in Conflict Tectic Scale (CTS) questionares. Total respondent who met the criteria were 135 students and representative of Senior High School and Muhamadiyah Naha Vacational High School Student in Tabukan Utara Distric. Result of those reseach were all respondents had dating violence, the lowest data 12.7 percent. Found 5 data violences of checking cellphone or smartphone (social violance) 85,2 percent, data violence of not given attention about 44.4 percent (physic violance), 37 percent data violence of no room tobe friends (physic violance), 32.6 percent (physic violance) data or violence being watched, and 25 percent (physic violance) is considered to have relationship with someone other than her or him lover