e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
Not a member yet
385 research outputs found
Sort by
Gambaran Aktivitas Fisik pada Lansia di Kampung Kumai Kecamatan Tabukan Tengah
Aktivitas Fisik adalah setiap gerakan tubuh yang membutuhkan energi untuk mengerjakannya, seperti berjalan, menari, mengasuh cucu, dan lain sebagainya. Aktivitas fisik yang bermanfaat untuk kesehatan lansia sebaiknya memenuhi kriteria FITT (frequency, intensity, time, type). Frekuensi adalahseberapa sering aktivitas dilakukan, berapa hari dalam satu minggu. Intensitas adalah seberapa keras suatu aktivitas dilakukan. Biasanya diklasifikasikan menjadi intensitas ringan, sedang, berat. Waktu mengacu pada durasi, seberapa lama suatu aktivitas dilakukan dalam satu pertemuan, sedangkan jenis aktivitas adalah jenis-jenis aktivitas yang dilakukan. Survey awal di kampung Kuma I terdapat 90 orang lansia.Tujuan Penelitian untuk mengetahui Gambaran Aktivitas Fisik pada Lansia di kampung Kuma I Kecamatan Tabukan Tengah. (Profil Kampung Kuma I Kecamatan Tabukan Tengah). Rancangan penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan metode survey. penelitian ini dilakukan di Kampung Kuma I kecamatan Tabukan Tengah. Waktu penelitian dilakukan pada bulan juni, populasi pada penelitian ini adalah jumlah lansia sebanyak 90 orang dengan jumlah sampel 60 orang lansia, pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner. Hasil Penelitian yaitu gambaran aktivitas fisik pada lansia di kampung kuma I kecamatan tabukan tengah di temukan lansia dengan aktivitas ringan 22 orang (55%), dan lansia dengan aktivitas sedang 12 orang (30%) sedangkan lansia dengan aktivitas berat 6 orang(15%). Kesimpulan pada penelitian ini bahwa Tingkat aktivitas fisik pada lansia di Kampung Kuma I Kecamatan Tabukan Tengah ialah ringan sebanyak 22 rasponden (55%)
Identifikasi Parasit pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) pada Lokasi yang Berbeda di Kabupaten Kepulauan Sangihe
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parasit pada ikan nila yang dibudidayakan di beberapa lokasi di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Yang telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai bulan Juni 2016. Pengambilan sampel ikan ini dilakukan secara bertahap.Dari setiap lokasi di ambil 10 ekor sampel ikan nila (Oreochromis niloticus). Dengan ukuran 10-25 cm dan berat berkisar 36 gram sampai 64 gram. Hasil penelitian menunjukan adanya kehadiran parasit dari 4 lokasi yang diambil di Kabupaten Kepulauan Sangihe.Yaitu parasit Dactylogirus sp dan parasit Tricodina sp yang ditemukan pada bagian insang dan bagian lendir ikan
Uji Kualitas Biofisik pada Dua Lokasi Berbeda di Kawasan Teluk Talengen
Budidaya perikanan merupakan salah salah satu upaya untuk meningkatkan produksi perikanan di Indonesia secara umum dan secara khusus di Daerah Kepualauan Sangihe. Salah satu lokasi budidaya laut di kabupaten kepulauan Sangihe yang berpotensi besar untuk dikembangkan untuk usaha Budidaya Terutama Teramba Jaring Apung adalah kawasan Teluk Talengen. Hasil analisis matriks kesesuaian lokasi kurungan jaring apung berpedoman dari Affan (2012) dengan 6 parameter amatan dan penilaian skoring skala 4 mendapatkan kisaran nila 70-90 pada skala 0 s/d 100. Sehingga kedua lokasi tergolong baik untuk dikembangkan sebagai areal budidaya.Fluktuasi harian beberapa parameter biofisik adalah sebagai berikut: di Lokasi Teluk Talengen: Suhu 29-300Celsius pH,: 7-8 , Salinitas, 29-310/00, Arus: 0,02-0,012 m/detik, kecerahan : 7-13 m kedalaman, 9-14 m. Di perairan bungalawang, Suhu 29-300Celsius pH, 7-8 , Salinitas, 29-320/00, Arus: 0,04-0,015 m/dtk, kecerahan : 11-15 m kedalaman, 11-15 m
Pengaruh Tahap Adaptasi Salinitas yang Berbeda terhadap Keberhasilan Hidup, Nafsu Makan dan Kondisi Ukuran Benih Ikan Nila (Oreochromis Niloticus, Bleeker)
Pemanfaatan pantai untuk meningkatkan produksi ikan dapat dilakukan dengan berbegai cara, salah satunya adalah melalui budidaya jenis ikan nila yang dapat beradaptasi di lingkungan pantai. Salah satu jalan ketersedian benih adalah memproduksinya dari hasil adaptasi bertahap dari air tawar ke air laut. Tahap adaptasi salinitas yang rendah (5 dan 10 ppt) menunjukkan tingkat keberhasilan hidup yang tinggi, nafsu makan yang besar dan kondisi tubuh yang baik dibandingkan jika tahapan adaptasi salinitas yang tinggi (15 ppt). Perbedaan kemampuan adaptasi salinitas pada ikan nila uji ini lebih banyak dikaitkan dengan kurangnya energi yang dipakai untuk osmoregulasi saat ikan uji mengalami perubahan salinitas pada tingkatan rendah (5 dan 10 ppt) yang rendah.Sehingga energi tersebut dapat dipakai untuk bertahan hidup, nafsu makan baik dan bertumbuh
Gambaran Pengetahuan Siswa tentang Bahaya Seks Bebas bagi Kalangan Remaja di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri I Tahuna
Hubungan seks yang dilakukan diluar pernikahan bagi kalangan remaja sudah tidak asing lagi. Banyak sekali alasan mengapa remaja melakaukan hubungan seks bebas, agar supaya dikatakan gaul sampai untuk mendapatkan uang. Berdasarkan penelitian diberbagai kota besar di Indonesia sekitar 20 hingga 30% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah. Sebanyak 62,7% anak SMP mangaku sudah tidak perawan (Simanjorang,2011). Angka kehamilan di SMK Negeri I Tahuna terhitung sejak tahun 2003 tercatat ada 15 siswa, Sejak 3 tahun terakhir rata-rata ada 5 siswa yang putus sekolah karena kehamilan yang tidak diinginkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMK Negeri I Tahuna berada dalam kategori baik (95%) hal ini menunjukan bahwa pada umumnya siswa sudah memahami bahaya seks bebas di kalangan remaja. Disarankan kepada siswa untuk dapat memanfaatkan lebih baik lagi fasilitas internet dan perpusatakaan yang ada
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Mas Koi (Cyprinuscarpio Koi) yang Diberi Pakan Buatan
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan mas koi (Cyprinuscarpio koi) yang diberi pakan buatan. Pembuatan pakan dan uji pakan lewat pemberian kepada ikan mas koi (Cyprinuscarpio koi) dilakukan di Kampung Hiung Kecamatan Manganitu.Penelitian ini dilakukan dengan 4 perlakuan yaitu A (Pakan protein 20%), B (Pakan Protein 30%), C (Pakanbuatan 40%) dan D (Pakan komersil sebagai control), setiap ulangan terdiri dari 10 ekor ikan mas koi. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: tepung ikan, tepung dedak padi, tepung kedelai, tepung jagung, tepung daluga, premix. Metode formulasi pakan menggunakan metode bujur sangkar. Ikanmas koi dipelihara dengan pemberian pakan buatan. Frekuensi pemberian pakan secara addlibitum 2 kali sehari, yaitu pagi: 08.00, dan sore hari : 17.00. Pengukuran panjang tubuh dilakukan selang 7 hari selama 28 hari pemeliharaan. Sedangkan untuk tingkat kelangsungan hidup dengan pengamatan jumlah ikan yang mati setiap hari
Pemanfaatan Limbah Deproteinasi Kitin pada Pembuatan Sabun Padat
Potensi perairan di Indonesia kaya dengan berbagai jenis invertebrate,salah satunya udang. Produksi udang yang tinggi akan menghasilkan limbah, yang memiliki potensi besar sebagai penghasil kitin. Proses produksi kitin memanfaatkan konsentrat basa dalam proses deproteinasi. Pada tahap deproteinasi menghasilkan limbah cair deproteinasi yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai produk yang memiliki nilai ekonomis. Sabun merupakan salah satu produk dari pemanfaatan limbah deproteinasi dengan teknik penyabun. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah deproteinasi kitin sebagai produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi dengan cara pembuatan sabun padat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode saponifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahawa kadar air terbaik pada perlakuan konsentrasi NaOH 3% sebesar 16.98%, nilai pH pada perlakuan konsentrasi NaOH 3% sebesar 11.14, stabilitas busa pada perlakuan konsentrasi NaOH 3% sebesar 180 mm dan total daya hambat bakteri pada konsentrasi NaOH 5% sebesar 6,0×101. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi larutan NaOH 3% merupakan perlakuan terbaik
Mutu Ikan Pindang Selar (Selaroides Sp.) pada Berbagai Konsentrasi Ekstrak Daun Kemangi
Ikan sebagai bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan mengandung asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai biologisnya mencapai 90%, dengan jaringan pengikat sedikit, sehingga mudah dicerna. Pengolahan ikan pindang selar (Selaroides leptolepis)menggunakan penambahan bahan pengawet alami ekstrak daun kemangi melalui beberapa proses yaitu persiapan bahan baku, penyiangan, penimbangan ikan, penimbangan garam dan ekstrak daun kemangi, pembaluran garam dan ekstrak daun kemangi, dan pengukusan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui mutu ikan pindang selar (Selarodies leptolepis) dengan penambahan konsentrasi ekstrak daun kemangi. Berdasarkan hasil analisis nilai kadar air untuk konsentrasi ekstrak kemangi 0% nilai kadar air adalah 64,8%. konsentrasi ekstrak kemangi 4% adalah 62,47% dan konsentrasi ekstrak kemangi 8% adalah 61,60 %, hasil analisis nilai pH untuk konsentrasi ekstrak daun kemangi 0% adalah 7,80. konsentrasi ekstrak kemangi 4% adalah 6,80 dan konsentrasi kemangi 8% adalah 6,77, hasil analisis pengujian Angka Lempeng Total (ALT) pada konsentrasi ekstrak kemangi 0% adalah 6,5×10-2. Konsentrasi ekstrak kemangi 4% adalah 3,2×10-2dan konsentrasi ekstrak kemangi 8% adalah <250 koloni/gram. Hasil analisis pengujian organoleptik pada ikan pindang selar (Selaroides leptolepis) untuk konsentrasi ekstrak kemangi 0%,konsentrasi ekstrak kemangi 4% dan konsentrasi ekstrak kemangi 8% telah memenuhi persyaratan mutu
Pengaruh Bleeding pada Penanganan Ikan Pasca Tangkap terhadap Kadar Histamin Ikan
Kualitas ikan segar sebagai bahan mentah untuk produk awetan dan olahan merupakan faktor utama yang sangat menentukan kualitas produk yang dihasilkan. Ikan yang telah mengalami kebusukan akan menghasilkan berbagai senyawa kimia hasil penguraian bakteri dan enzim yang pada kadar tertentu dapat membahayakan konsumen. Histamin merupakan senyawa kimia hasil penguraian histidin yang pada kadar tertentu membahayakan orang yang mengkonsumsinya. Penanganan ikan pasca tangkap sangat menentukan tingkat kesegaran ikan tersebut. Penanganan ikan tidak baik akan mempercepat laju pembusukan pada ikan. Teknik pengeluaran darah pada ikan pasca tangkap atau bleeding termasuk teknik penanganan yang saat ini telah diterapkan pada beberapa negara seperti Jepang dan beberapa negara Eropa. Di Indonesia termasuk di Sulawesi Utara, teknik bleeding ini belum populer di kalangan nelayan maupun pelaku usaha di bidang perikanan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh bleeding terhadap tingkat kesegaran ikan pasca tangkap. Parameter uji kualitas kesegaran tersebut ditentukan oleh kandungan histamin dan penilaian orgonoleptik. Adapun yang menjadi perlakuan dalam penelitian ini yaitu ikan yangdiberi perlakuan bleeding (A) dan ikan dengan perlakuan tanpa bleeding (B). Parameter yang diamati yaitu Histamin dengan metode Elisa ( FAO, 2006), Nilai Organoleptik (SNI). Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa Ikan segar yang diberi perlakuan bleeding (Pengeluaran darah) cenderung memiliki kandungan histamin dibandingkan dengan ikan segar yang tidak melalui proses bleeding. Karakteristik ikan segar masih nampak pada ikan yang telah melalui proses bleeding sedangkan pada ikan yang tanpa perlakuan bleeding telah mengalami perubahan warna pada insang setelah 12 jam penyimpanan
Hubungan antara Pengetahuan Perawat dengan Pelaksanaan Perawatan Ulkus Diabetik di RSUD Liunkendage Tahuna
Salah satu penyakit degeratif yang saat ini makin bertambah jumlahnya di Indonesia ialah diabetes mellitus. Menurut survey World Health Organisation (WHO), Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes melitus dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk Indonesia yakni sebanyak 5,6 juta untuk usia diatas 20 tahun, dan diprediksikan akan meningkat menjadi 8,2 juta pada tahun 2020 (Supari, 2005). Salah satu komplikasi dari diabetes melitus ialah ulkus diabetik. Penyembuhan luka yang lambat dan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi, cenderung terjadi sehingga ulkus diabetik dapat berkembang, dan terdapat resiko tinggi perlu dilakukannya amputasi tungkai bawah. Hal tersebut merupakan masalah bagi keperawatan yang sangat komplekspenatalaksanaannya.Penderita diabetes mempunyai resiko 15% terjadinya ulkus diabetik pada masa hidupnya dan resiko terjadinya kekambuhan dalam 5 tahun sebesar 70%.Beberapa penelitian di Indonesia melaporkan bahwa angka kematian yang diakibatkan oleh ulkus diabetik berkisar 17%-32%, sedangkan angka laju amputasi berkisar antara 15%-30%. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara pengetahuan perawat tentang perawatan ulkus diabetikum dengan pelaksanaan perawatan ulkus diabetikum di RSUD Liunkendage Tahuna. Metode yang digunakan dalam penilitian ini ialah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh perawat yang ada di ruang Bougenville, Crysant, dan Edelweis, sedangkanteknik pengambilan sampel ialah total sampling sebanyak 30 orang. Penelitian berlangsung mulai tanggal 01 November – 30 November 2015. Pengolahan data menggunakan SPSS 17 dengan menggunakan uji Fisher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18 orang (60%) responden memiliki pengetahuan baik dan 12 orang (40%) responden memiliki pengetahuan kurang, sedangkan hanya 5 orang (16.7%) yang melakukanperawatan ulkus diabetik dengan sempurna dan 25 orang (83.3%) melakukan perawatan ulkus diabetik dengan tidak sempurna. Dari hasil uji Fisher didapatkan nilai p = 0.364, artinya bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan pelaksanaan perawatan ulkus diabetik. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pengetahuan responden berada pada kategori baik (60%) dan sebagian besar responden melakukan perawatan ulkus diabetik dengan tidak sempurna (83.3%), serta tidah ada hubungan signifikan antara pengetahuan responden dengan pelaksanaan perawatan ulkus diabetik. Disarankan kepada pihak RS agar dapat menyusun standar prosedur baku khusus perawatan ulkus diabetik serta perlunya pelatihan perawatan ulkus diabetik bagi perawat