e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
Not a member yet
385 research outputs found
Sort by
MODIFIKASI ALAT TANGKAP BUBU LOKAL UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN KELOMPOK NELAYAN DI PULAU BEENG LAUT KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Alat tangkap Bubu atau yang lebih dikenal dengan sebutan Somba bagi masyarakat lokal, merupakan alat tangkap yang sudah cukup lama digunakan oleh kelompok nelayan penangkap ikan di Kampung Beeng Laut. Namun, keterbatasan konstruksi alat tangkap bubu yang terbuat dari anyaman bambu, mendorong Tim Pengabdi untuk memodifikasi alat tangkap tersebut menjadi lebih tahan lama. Sehingga dengan adanya modifikasi alat tangkap Bubu yang menggunakan besi dan tali jaring bahan PE multifilament, selain lebih tahan lama, juga membantu mengurangi biaya dan waktu pembuatan alat tangkap sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan penangkap ikan demersal. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga kelompok nelayan yang menjadi mitra. Mitra diharapkan dapat melakukan penangkapan ikan yang ramah lingkungan dengan menggunakan modifikasi alat tangkap somba. Tim PKM memberikan penyuluhan dan pelatihan mengenai modifikasi dari alat tangkap somba, serta pelatihan teknik pengoperasiannya. Target luaran yang dihasilkan berupa jurnal ilmiah dan produk alat tangkap somba yang diberikan kepada mitra. Tim PKM juga memberikan penyuluhan tentang ekosistem pesisir dan perencanaan keuangan bagi mitra. Jumlah alat yang diberikan bagi kelompok nelayan yang ada di kampung Beeng Laut yaitu 15 unit bubu, 5 buah cool box, 5 buah kacamata air, dan 3 ujung besi untuk pembuatan alat tangkap Jubi. Hasil yang diperoleh belum maksimal yaitu 1 – 3 ekor ikan per Bubu, karena pengaruh faktor cuaca.
Bubu or better known as Somba by the local people in Beeng Laut Island is a fishing gear that has been used by the people for generations. However, bubu made of bamboo is less durable, motivating our community service team (shorthened for team PKM) to modify the traditional fishing gear to last longer in the sea. The modified bubu is made of iron and multifilament polyethylene (PE) ropes. In addition to being more robust in the sea, this type of bubu is cheaper and requires shorter time to build, therefore possibly increasing the local fishermen’s income. This community service aimed to improve the welfare of our local fishermen partner and encouraged them to practice environmentally friendly fishing method by using the modified bubu. Our PKM team mentored and trained the local fishermen on how to modify Somba and equipped them with necessary fishing techniques. Targated outputs of this PKM include one published scientific article and a few somba fishing gears as final products of this community service. The team also introduced the local people to coastal ecosystems and financial planning. Moreover, the team provided fishermen partner with both fishing and auxiliary fishing tools such as fifteen units of Bubu, each five pieces of cool box and goggle and three iron rods for spears. Unfortunately, during tryout of the modified bubu, the fishermen caught only 1-3 fish due to wheather
PEMBINAAN KESEHATAN LANSIA DI GMIST JEMAAT ZAITUN PAGHULU KARATUNG I KECAMATAN MANGANITU KABUPATEN SANGIHE
Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan melambat, dan figur tubuh yang tidak proporsional (Nugroho, 2008). Pembinaan kesehatan lansia sangat penting dilaksanakan oleh petugas kesehatan. Pembinaan kesehatan lansia meliputi penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan. Pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam masyarakat. Metode pelaksanaan yang diterapkan adalah tahap persiapan, tahap pelaksanaan. Tahapan persiapan dilakukan sebelum kegiatan PKMS. Tahapan pelaksanaan meliputi tahapan penyuluhan kesehatan, tahapan pemeriksaan dan konseling. Hasil pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa jumlah lansia yang memeriksakan kesehatan di Posyandu lansia berjumlah 37 orang (berumur lebih dari 60 tahun). Lansia yang mengalami hipertensi berjumlah 23 orang atau 62,16 persen, mengalami peningkatan gula darah sejumlah 10 orang atau 22.72 persen, mengalami peningkatan asam urat berjumlah 12 orang atau 27.27 persen. Kesimpulan pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa proses sosialisasi terlaksana dengan baik, lansia memahami materi penyuluhan kesehatan dan mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan sehingga lansia dapat merubah pola hidup mereka supaya lebih sehat dan bahagia.
Entering old age means experiencing physical setbacks, such as sagging skin, graying hair, toothless experiencing, unclear hearing, poor vision, slowing movements, and unproportional body figures. Elderly health development is very important to be carried out by health workers. Elderly health development includes health education and health checks. Community service aims to improve the degree of health and quality of life to achieve a happy and useful old age in family and community life in accordance with its existence in the community. The implementation method applied is the preparation phase, the implementation phase. The preparatory stages are carried out before the PKMS activities. The stages of implementation include the stages of health education, examination and counseling stages. The results of community service show that the number of elderly people who get health checks at the Posyandu for the elderly is 37 elderly people (more than 60 years). Elderly who have hypertension are 23 people or 62, 16 percent, have an increase in blood sugar of 10 people or 22.72 percent, have an increase in urid acid of 12 people or 27.27 percent. Conclusion of community service shows that the socialization process is carried out well, the elderly understand the health counseling material and know the results of health checks so that the elderly can change their lifestyle to be healthier and happier
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT GUNA MENINGKATKAN PERILAKU HIDUP SEHAT DI KAMPUNG LAOTONGAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANALU KECAMATAN TABUKAN SELATAN
Sehat memang bukan segalanya tetapi tanpa kesehatan segalanya menjadi tidak berarti, karena itu kesehatan harus dijaga, dipelihara, dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta di perjuangkan oleh semua pihak. (ProveratidanRahmawati, 2012). Berdasarkan survey rumah tangga di tiap Kecamatan Kabupaten Sangihe Tahun 2017 Pelaksanaan PHBS sejumlah 50,40 persen, khususnya di wilayah pelayanan Puskesmas Manalu ada 2.084 kepala keluarga belum dilakukan pemantauan pelaksanaan PHBS termasuk Kampung Laotongan. (Dinas Kesehatan Sangihe, 2017). Data laporan mahasiswa KKL Tahun 2018 masyarakat Kampung Laotongan yang menderita penyakit hipertensi sebanyak 75 persen dan 89 persen masyarakat lendongan 1 dan 2 membuang sampah di pesisir pantai. Dari permasalahan kesehatan Kampung Laotongan, tim PKMS ingin melakukan promosi kesehatan, pemeriksaan kesehatan dan kerja bakti masal dengan menggunakan metode berupa tahapan persiapan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kegiatan. Pengabdian perilaku hidup sehat di Kampung Laotongan terlaksana dengan baik dengan kegiatan berupa: penyuluhan tentang 10 indikator Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), penanggulangan sampah rumah tangga dan sampah plastik, penyuluhan penatalaksanaan penyakit hipertensi. pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kesehatan berupa asam urat dan gula darah dan diakhiri dengan kegiatan kerja bakti masal disepanjang talud Lendongan 2. Kegiatan ini dilakukan melalui mobilisasi masyarakat untuk ikut terlibat mulai dari perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Diharapkan pemerintah, petugas kesehatan dan masyarakat terus memotivasi dan melakukan Perilaku hidup sehat agar supaya terhindar dari berbagai macam penyakit dan derajad kesehatan masyarakat menjadi lebih baik.
Healthy is not everything but without health, everything becomes meaningless, because of that health must be maintained and improved by every household member and championed by all parties. (Proverati and Rahmawati, 2012). Based on household surveys in each District of Sangihe District in 2017, the implementation of PHBS is 50.40 percent. Especially in the service area of Manalu Community Health Center, 2,084 households have not been monitoring the implementation of PHBS including Laotong Village. (Sangihe Health Service, 2017). Data report by KKL students in 2018 in the village of Laotongan people who suffer from hypertension as much as 75 percent. and 89 percent of the Lendongan 1 and 2 communities dispose of their garbage at the beach. Based on the health problems of Laotongan Village, the PKMS team focused to carry out health promotion, health checks and mass community service work using methods in the form of stages of preparation, implementation, monitoring, and evaluation of activities. The community service of healthy living behaviors in Laotong was carried using 10 indicators of Healthy Clean Living Behavior (PHBS), prevention of household waste and plastic waste, counseling on management of hypertension. blood pressure measurement, gout and blood sugar values and finally the activities were gathering together people to do environment cleaning along the beach at Lendongan 2 retaining wall
PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN (SILVOFISHERY) DI KAWASAN HUTAN MANGROVE BAGI MASYARAKAT PESISIR BOLAANG MONGONDOW SELATAN
Tujuan PKM ini untuk mencari solusi dalam persoalan yang dihadapi. yaitu: 1) Masyarakat belum memanfaatkan lingkungan mangrove, sebagai tempat untuk pemeliharaan ikan; 2) Pemahaman tentang fungsi dan manfaat mangrove bagi kehidupan organisme air masih sangat kurang, serta belum mengetahui bahaya/ancaman yang ditimbulkan akibat penebangan pohon mangrove oleh masyarakat setempat; 3) Sebagian besar ekosistem mangrove yang ada di wilayah ini telah rusak, karena ditebang untuk dijadikan bahan rumah ataupun sebagai kayu bakar; 4) Pengelolaan pembukuan nelayan masih bersifat konvensional, mengakibatkan banyak pengeluaran dan pemasukan tidak tercatat, hal ini mempersulit dalam penghitungan keuntungan yang diperoleh. Target khusus untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas adalah melalui penyuluhan dan pelatihan, pendampingan, dan pendidikan manajemen usaha dan ekonomi secara langsung di lapangan kepada nelayan. Metode pelatihan dilakukan berdasarkan metode otodidak, memberikan ceraman (teori dan praktek) dan diskusi. Pelaksanaan kegiatan dilakukan selama 10 (sepuluh) bulan, dengan tahapan persiapan, pelatihan/ pendampingan, pemantauan, dan monitoring dan evaluasi. Target luaran yang dicapai pada akhir penyuluhan dan pelatihan ini adalah semua anggota kelompok maupun keluarganya mempunyai pengetahuan tentang:1) Fungsi dan manfaat konservasi mangrove, 2) Mitra memahami teknologi budidaya ikan metode silvofishery dan mempraktekkannya pembuatan tambak tumpang sari yang mengkombinasikan tambak dengan penanaman mangrove sehingga akan tersedianya ikan hasil budidaya metode silvofishery; 3) memahami dan mempraktekan dalam membuat pencatatan uang masuk dan keluar serta mampu menganalisis cash flow, sehingga mereka bisa mengatur dan mengetahui keuntungan mereka melalui pembukuan yang baik dan pada akhirnya akan meningkatkan pengetahuan dan produksi ikan di Desa Deaga.
The purpose of this community service (shorten PKM) in Deage Village is to find solutions to the village’s community lack of (1) concern in making use of mangrove area for rearing Nile tilapia using silvofishery technique, (2) understanding about the function and benefit of mangrove for the life of aquatic organisms and the danger of cutting off mangrove, 3) awareness of the disctruction of mangrove forest that they cut down for building houses and for firewoods as well as 4) financial knowledge that led to their monthly high expenditure and low income. To overcome the problems, our team provided the Deaga’s community with counseling, training and mentoring in planting mangroves and education in business, economy and management directly at the field. The training method was based on adult learning methods in form of theory (lecture and group discussion) and practice mangrove plantation and building pond for silvofishery. The PKM was implemented for 10 months, covering key aspects such as preparation, training/assistance, monitoring and evaluation. The achieved targets or outcomes of this community service at the end of this program included (1) improvement in community’s knowledge about and awereness of the functions and benefits of mangroves conservation implemented through the plantation of 500 mangrove trees, 2) a better understanding of the silvofishery fish culture technology shown by the availability of 2 intercropping ponds built by the community combining a lake and mangrove as silvofishery fish cultivation method and 3) a better practice in recording their life expense (income and expenditure) and in analyzing cash flow, allowing them to manage their money through a proper book keeping, which in turn increased fisheries knowledge and fish production in Deaga Village
GAMBARAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA SISWA DI SMA NEGERI 1 TAMAKO KECAMATAN TAMAKO KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Meningkatnya perilaku seksual pranikah dapat berdampak pada kehamilan di luar nikah. Remaja yang memaparkan hamil di luar nikah terus meningkat setiap tahunnya dan mencapai 521 orang atau naik 14,75 persen di tahun 2012. untuk mengetahui gambaran perilaku seksual pranikah pada remaja SMA Negeri 1 Tamako. Desain penelitian deskriptif dengan metode survey. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Tamako pada tanggal 16 Mei sampai dengan 28 Mei 2017. Variabel dalam penelitian ialah perilaku seksual pranikah dengan hasil ukur melakukan atau tidak melakukan. Jenis perilaku seksual yang diukur ialah berciuman, bercumbu, necking, petting, oral sex, dan intercourse. Penelitian ini menggunakan kuesioner baku dari Sitorus yang dimodifikasi oleh peneliti berdasarkan teori. Data diolah dengan Ms. Excell. 56 persen responden sudah pernah melakukan perilaku seksual dalam berpacaran sedangkan 44 persen responden tidak pernah melakukan. Perilaku seksual yang dilakukan terdiri dari berciuman (54 persen), bercumbu (38 persen), necking (17 persen), petting (13 persen), oral sex (12 persen), intercourse (17 persen). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden sudah pernah melakukan perilaku seksual dan berciuman merupakan perilaku seksual yang paling banyak dilakukan. Perlu diaktifkan guru BK sebagai wadah konseling, lebih mengaktifkan kegiatan kesiswaan khususnya kegiatan kerohanian, serta bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dalam pemberian penyuluhan tentang pendidikan seks dan kesehatan reproduksi.
Increased prematial sexual behavior can impact pregnacy outside marriage. Adolescents who pregnancy outside marriage increase each year and 521 people up to 14,75 percent in 2012. This reseach aim to find out the number of prematial sexual behavior of student in Senior High School of Tamako. This reaseach used descriptive with survey method. The sampling technique used total sampling that according to inclusion criteria. The reseach was conducted in Senior High School Tamako on May 16 to 28 2017. The variable of this reaseach in the pramatial sexual behavior with the results of measuring did or not practice the sexual behavior. The types of sexual behavior measure by kissing, making out, necking, petting, oral sex, and intercouse. This reseach used a Sitorus’s questionnaire and modified by researcher based on theory. Data presented by Microsof Exel. 56 percent had ever sexual behavior of dating while 44 percent of respondents had never ever kissing 54 percent, fondling 38 percent, necking 17 percent, petting 13 percent, oral sex 12 percent and intercourse 17 percent. This reseach concluded that the majority of respondents had ever sexual behavior and kissing was the most commonly did by respondents. Conselor teacher need to be actived as a conseling agency, and have to activate students forum in campus such as spiritual activitie and cooperative between the Health Department to give information about sex education and reproductive health
STIMULUS SERTA TRANSFER TEKNOLOGI PANCING ULUR “PAPALI” UNTUK PENANGKAPAN IKAN KURISI (Etelis carbunculus) DI KAMPUNG KALURAE KECAMATAN TABUKAN UTARA
Pengabdian Kemitraan Masyarakat Stimulus (PKMS) pancing ulur (hand line) jenis papali di Kampung Kalurae dilakukan untuk menjawab beberapa permasalahan yang dihadapi kelompok nelayan mitra. PKMS ini dilakukan dengan mengadakan penyuluhan tentang memahami teknologi penangkapan ikan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan, serta memberikan stimulus berupa bahan untuk 6 unit alat tangkap pancing ulur (hand line) papali kepada Kelompok Nelayan “Sahamia” selaku mitra pengabdian. Penangkapan ikan dengan alat tangkap pancing ulur (hand line) jenis papali dengan target penangkapan ikan Kurisi (Etelis carbunculus) atau sahamia memberikan dampak yang positif bagi nelayan Kampung Kalurae karena harga jual ikan ini di pasar lokal. Permasalahan utama yang dihadapi yakni biaya perawatan pancing ulur papali yang cukup tinggi. Pengabdian Kemitraan Masyarakat Stimulus (PKMS) pancing ulur (hand line) jenis papali ini dilakukan untuk menjawab beberapa permasalahan yang dihadapi nelayan Kampung Kalurae tersebut sebagai mitra pengabdian. PKMS ini dilakukan dengan mengadakan penyuluhan; pelatihan singkat pembuatan alat tangkap pancing ulur serta penyerahan bahan pembuatan pancing ulur untuk 6 orang anggota kelompoknelayanmitra. Hasil pengabdian ini berupa transfer teknologi serta informasi baru tentang teknik dan modifikasi alat penangkapan ikan oleh tim pengabdi kepada nelayan mitra.
Stimulus Community Partnership Service (SCPS)Fishing technology with hand line fishing gear type papali at Kalurae village is conducted to answer some of the problems faced by partner fishing groups. SCPS is carried out by holding counseling about understanding responsible and sustainable fishing technology, and provide stimulus as material for 6 units of hand line fishing gear to “Sahamia” Fishermen Group as a service partner. Fishing technology with papali hand line fishing gear with the target of catching Kurisi (Etlis carbunculus) or sahamia give positive impact on the fishermen of Kalurae Village because of the selling price of these fish in the local market. The main problem faced is the relatively high maintenance costs of papali hand lines. Stimulus Community Partnership Service (SCPS) for papali hand lines is done to answer some of the problems faced by the Kalurae Village fishermen, as service partners. This SCPS is done by holding counseling, short training on the manufacturing of fishing gear and the delivery of materials for making a fishing rod for 6 members of the partner fishing group. The results of this dedication in the form of technology transfer and new information about the techniques and modification of fishing gear by the service team to the fishermen partners
EFEKTIVITAS TEPUNG DAUN LUHU (Ormocarpum cochinchinense Lour.) MERR DALAM PAKAN IKAN UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN SINTASAN HIDUP IKAN BAWAL (Colossoma macropomum)
Pakan ikan adalah komponen paling penting dalam budidaya ikan. Pakan yang berkualitas bagi ikan adalah apabila pakan itu mudah dicerna, tidak mengandung racun, dan mengandung gizi yang tinggi. Daun Luhu banyak terdapat di Kabupeten Kepulauan Sangihe dan sering dijadikan sebagai sayur dan makanan ternak hewan. Daun Luhu (Ormocarpum cochinchinense Lour.) Merr adalah tanaman yang dapat dijadikan pakan ikan untuk sistem kekebalan tubuh ikan sehingga meningkatkan pertumbuhan dan sintasan hidup dari ikan yang dibudidayakan. Menurut Pazhanisamy, M dan G.A.I. Ebenezer, 2013; Maria John et al., 2011 bahwa daun Luhu atau wori O. cochinchinense (Lour.) Merr merupakan tanaman yang mengandung antioksidan dan dijadikan sebagai obat-obatan tradisional atau herbal. Kegiatan penerapan penelitian Unggulan Perguruan Tinggi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pakan daun luhu atau wori terhadap pertumbuhan dan sintasan hidup ikan bawal (Colossoma macropomum). Waktu pelaksanaan penelitian selama 1 bulan dari tanggal 3 Agustus- 3 September 2019 di Kampung Nahepese Kecamatan Manganitu. Prosedur kerja penelitian meliputi beberapa tahap yaitu persiapan pakan uji, persiapan wadah pemeliharaan, persiapan ikan uji, dan pemeliharaan ikan uji. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan bawal berukuran 3-5 cm sebanyak 105 ekor dimana masing-masing wadah didistribusikan 5 ekor ikan. Sedangkan bahan uji yang ditambahkan dalam pakan komersil adalah tepung daun luhu atau wori yang dibuat menjadi tepung kemudian dicampurkan dengan tepung pelet kemudian ditambahkan air secukupnya lalu dicetak dan dijemur dibawa sinar matahari. Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Laju pertumbuhan harian tertinggi ikan bawal selama 30 hari pemeliharaan terdapat pada kontrol dan perlakuan B dan diikuti perlakuan C, A, D, E, dan F. Sintasan hidup ikan bawal pada semua perlakuan di 21 happa yaitu 100%, yang artinya semua ikan uji yang dipelihara hidup semua.
Fish food is the most important component in fish aquaculture. Quality food for fish is when the food is easy to digest, does not contain toxins, and contains high nutrition. Luhu leaf are abundant in the Sangihe island and are often used as vegetables and animal food. Leaf of Luhu (Ormocarpum cochinchinense Lour.) Merr is a plant that can be used as fish food for the fish's immune system, thereby increasing the growth and survival rate of fish cultivated. Pazhanisamy, M and G.A.I. Ebenezer, 2013; Maria John et al., 2011 that the leaves of Luhu or wori O. cochinchinense (Lour.) Merr are plants that contain antioxidants and are used as traditional medicines or herbs. The purpose of the research is to determine the effect of luhu or wori leaf food on the growth and survival rate of pomfret (Colossoma macropomum). The time of the research is 1 month from August 03 2019 to September 03 2019 in Nahepese Village, Manganitu District. The work procedure of the research includes several stages, namely preparation of test food, preparation of maintenance containers, preparation of test fish, and maintenance of test fish. The test fish used in this study were pomfret sized 3-5 cm totaling 105, with 5 fish distributed in happa. While the test material added to commercial food is luhu or wori leaf flour which is made into flour then mixed with pellet flour then added with enough water then printed and dried in the sun. Research data are presented in tables and graphs. The highest daily growth rate of pomfret during 30 days is in the control and treatment B and followed by treatments C, A, D, E, and F. The survival rate of pomfret in all treatments at 21 happa is 100%, which means all of the tested fish are maintained all life
POTENSI BUDIDAYA IKAN DIBEBERAPA PERAIRAN PULAU LIPANG YANG DIKAJI DARI PARAMETER KUALITAS AIR
Pengembangan budidaya laut atau marikultur di Pulau Lipang Kepulauan Sangihe merupakan suatu usaha untuk meningkatkan produksi dan sekaligus merupakan langkah pelestarian kemampuan lingkungan yang serasi dan seimbang dalam rangka mengimbangi pemanfaatan dengan cara penangkapan. Pemilihan lokasi harus mempertimbangkan faktor lingkungan dan kualitas air. Tujuan dari penelitian adalah mengkajii parameter kualitas air sebagai potensi pengembangan area budidaya laut di Pulau Lipang, Kecamatan Kendahe, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah tersedianya data dan informasi tentang kualitas air dalam menunjang kegiatan marikultur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2019. Pengambilan sampel secara langsung dilapangan (in situ) dengan mengukur kualitas air meliputi: suhu, kedalaman, arus, pH (derajat keasaman), salinitas, nitrat, nitrit, fosfat dan amonia. Hasil Penelitian kulitas air di Perairan Pulau Lipang berada pada kategori sangat sesuai (suhu, arus, salinitas, pH, kedalaman) sedangkan untuk arus, kedalaman, fosfat, nitrat berada dalam kriteria cukup sesuai (sedang). Potensi budidaya dapat dilakukan di perairan pulau Lipang untuk komoditas (ikan air laut, teripang, kerang hijau dan kerang mutiara).
The development of marine culture or mari culture in the Lipang Island, Sangihe Archipelago Regency. That is an effort to increase production and environment conservation for the enviroment security usage in compatible and balanced through catching. The selection of location shoud be observed the environment factors and water quality. The purpose of this study is to examine standard of water quality as the potential for development of marine culture area in Lipang Island, Kendahe District, Sangihe Archipelago Regency. And the benefits of this research data give information about water quality to support mari culture activities. This research was conducted in August 2019. Direct sampling in the field (in situ) by measuring water quality that is included: water temperature, depth, current, pH (acidity), salinity, nitrate, nitrite, phosphate and ammonia. The results of water quality research in Lipang Island are in appropriate category (temperature, current, salinity, pH, depth) for current, depth, phosphate, nitrate are in the adequate appropriate criteria (medium). Cultivation potential can be cultivated (sea cucumbers, green mussels and pearl shells)
THE GAMBARAN KEBUTUHAN RASA NYAMAN NYERI PADA PASIEN DENGAN INFARK MIOKARD AKUT DI RSD LIUN KENDAGE TAHUNA
Gejala yang paling sering dirasakan oleh pasien dengan Infark Miokard Akut (IMA) adalah Nyeri dada. Nyeri dada merupakan salah satu keluhan yang paling banyak dijumpai di Rumah Sakit dan sangat menganggu serta menyulitkan seseorang. Tujuan Studi Kasus ini yaitu diketahuinya gambaran penerapan asuhan keperawatan kebutuhan rasa nyaman nyeri pada pasien IMA. Metode yang digunakan penulis adalah deskriptif yang berfokus pada kebutuhan rasa nyaman nyeri pada pasien infark miokard akut. Penelitian dilaksanakan di RSD liun Kendage Tahuna pada bulan April dan Mei 2018, instrumen yang digunakan yaitu pengkajian Keperawatan Medikal Bedah (KMB) dan pengkajian nyeri Numerik. Data dikumpulkan melalui wawancara, hasil Lab dan rekam medik pasien. Hasil yang didapatkan pada kedua pasien subjek studi kasus setelah dilakukan proses keperawatan yakni nyeri berkurang dari skali 7 menjadi skala 3. Kesimpulan: Semua proses keperawatan dapat dilaksanakan. Saran : Pasien dan keluarga terus melakukan teknik yang sudah diajarkan dalam mengatasi nyeri, untuk perawat agar lebih meningkatkan pelayanan yang ada terutama dalam tindakan mengatasi gangguan rasa nyaman nyeri dan untuk peneliti selanjutnya hasil karya ilmiah ini dapat dijadikan referensi serta acuan untuk dikembangkan.
The most common symptom felt by patients with Acute Myocardial Infarction is chest pain. Chest pain is one of the most common complaints in hospitals, very disturbing and complicated. This study aimed to recognize the need for pain reliefs in patients with Acute Myocardial Infarction. The method used in this study was descriptive study which focuses on the need for pain relief in patients with acute myocardial infarction. The study was conducted at Public Hospital Liun Kendage Tahuna on April and May 2018, the instruments used were the Surgical Medical Nursing assessment and Numerical pain assessment. Data was collected through interviews, Lab results and patient medical records. The results obtained from the two patients after received the nursing care was the pain reliefs from scale 7 reduce to scale 3. Conclusions: All nursing processes could be implemented. Suggestion: Patients and families should continue for doing the techniques to reduce pain; The nurses should improve nursing services, especially in pain reliefs; and for further researchers the results of this study can be used as references and the basic knowledge for the development of the futher study
HIGIENE DAN SANITASI LINGKUNGAN DI KAWASAN OBYEK WISATA PESISIR PANTAI EMBUHANGA KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Kesehatan lingkungan menjadi penting untuk diperhatikan agar tidak menimbulkan munculnya suatu penyakit. Perhatian harus diarahkan kepada pemenuhan fasilitas sanitasi di tempat wisata, sanitasi makanan, hingga pengelolaan limbah. Sehingga hal yang menjadi fokus pengabdian kemitraan masyarakat stimulus adalah higiene dan sanitasi lingkungan tempat wisata pesisir pantai Embuhanga. Metode pengabdian masyarakat secara keseluruhan terdiri dari tiga tahap, yang terdiri dari tahap pertama persiapan awal, tahap kedua penyuluhan dan pengadaan perlengkapan pengabdian, tahap ketiga evaluasi kegiatan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang higiene sanitasi lingkungan dan masyarakat dapat menerapkannya sesuai ketentuan yang ada. Berdasarkan analisis kesiapan kampung dalam pelaksanaan higiene sanitasi lingkungan obyek wisata pesisir pantai yang didapatkan dari Kapitalaung bahwa kebijakan kampung tentang higiene sanitasi wisata pesisir pantai secara khusus belum ada, pengembangan kegiatan berbasis kesehatan lingkungan belum ada, dan pengelolaan sarana dan prasarana sanitasi lingkungan belum optimal. Selanjutnya dilakukan penyuluhan tentang higiene sanitasi lingkungan dan pengadaan sarana sanitasi serta sign mark kesehatan lingkungan. Setelahnya dilakukan evaluasi ke lokasi obyek wisata hal-hal yang sudah direalisasikan dari kegiatan sebelumnya. Kesimpulannya higiene sanitasi lingkungan belum optimal dan kegiatan pengabdian masyarakat membantu masyarakat dalam penerapan higiene sanitasi lingkungan terutama untuk obyek wisata pesisir pantai Embuhanga.
Environmental health plays a crucial role in preventing the emergence of any kind of diseases. Therefore, attention should be given to meet various sanitary standards such as intourist destination, local culinary and waste management. This community service focused on hygiene and environmental sanitation of Embuhanga coastal tourist destination. A three stages method was applied in this community service including preparation, extension and provision of the community service as well as evaluation of the program with the aim of increasing public knowledge on environmental sanitation and community hygiene to meet the existing regulation. Based on our analysis of readiness, it was found that the village was unready to implement the environmental sanitation and hygiene program on the coastal tourist destination mainly because of the absence of the village’s policy on sanitation and health-based activities in addition to unoptimal management of environmental and sanitary facilities and infrastructure in the village. As a result, environmental sanitation and hygienic program was introduced and campaigned by our team to the village, which was further supported by provision of sanitary facilities and health sign marks by the team to the village. Finally,this community service was evaluated by our team. In conclusion, this community service helped the community in Embuhanga village implement the environmental sanitation and hygiene program for Embuhange’s coastal tourist destination