e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
Not a member yet
    385 research outputs found

    DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT DI PULAU LIPANG KECAMATAN KENDAHE KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE

    Get PDF
    Derajat kesehatan masyarakat di Pulau Lipang sangat penting diketahui dalam rangka penyusunan dan implementasi program kesehatan yang tepat dan berkelanjutan. Gambaran derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat dilihat dengan menggunakan indicator kualitas utama yakni Indeks Mortalitas, Indeks Morbiditas dan Indeks Fertilitas. Selain itu, perlu juga diperhatikan factor-faktor yang mempengaruhi kesehatan seperti; indikator kesehatan lingkungan, upaya pelayanan kesehatan dan perilaku kesehatan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskritif dengan metode survey, populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh Kepala Keluarga di Pulau Lipang berjumlah 106 Kepala Keluarga. Sampel dalam penelitian ini menggunakan Total sampling dan memenuhi kriteria inklusi berjumlah 77 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks Mortalitas dalam 1 tahun terakhir tercatat 14 kasus kematian per 1000 penduduk. Indeks Morbiditas Penyakit Menular berjumlah 49 kasus per 1.000 penduduk, Indeks Morbiditas Penyakit Tidak Menular (PTM) berjumlah 79 kasus per 1.000 penduduk. Indeks fertilitas menunjukkan bahwa persentase ibu hamil berjumlah 7 orang atau 8 persen dan persentase anak balita adalah 18 orang atau 17 persen. Faktor status gizi yakni Bayi yang tidak diberi ASI 31 persen, pemberian Imunisasi BCG dan Hepatitis 0 persen, menggunakan kontrasepsi 56 persen. Indikator kesehatan lingkungan menggunakan air hujan untuk masak dan minum 100 persen, upaya pelayanan kesehatan; menggunakan fasilitas yankes 94 persen, penyuluhan kesehatan oleh nakes 74 persen. Perilaku kesehatan; BABS di hutan 9 persen dan pantai 5 persen. Merokok dalam keluarga 31 persen dan minum alcohol 91 persen. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa indicator mortalitas Diabetes Melitus per-1000 penduduk adalah 40 persen, indicator morbiditas malaria per-1000 penduduk adalah 77,78 persen, indicator morbiditas penyakit jantung adalah 31,03 persen. Indeks Fertilitas ibu hamil 8 persen dan Balita 17 persen. Determinat of public health in Lipang island very important to know in preparation and implementation program of health that appropriate and sustainable. Description determinant of public health is the best can be seen use indicator of main quality that is Mortality Index, Morbidity Index, and Fertility Index. Beside of these third factors very need pay attention too the other factors that influence of health is indicator of environment health, health service efforts and health behavior. This study used a descriptive design with survey method, population in this study was the head of family of 106 the amount . The sample in this study used total sampling and fulfill inclusion criteria of 77 people. The results showed that the mortality index or crude death rate of 14 cases death per 1000 people. Morbidity Index infectious disease showed 49 cases every 1000 people, morbidity of non infectious disease showed 79 cases every 1000 people. Fertility Index showed that pregnant amount of 7 people or 8 percent and percentage toddler were 18 people or 17 percent. The nutritional status was baby not breastfeeding about 31 percent, immunizations of BCG and Hepatitis 0 percent, used contraception 56 percent. Indicator of Environment health used water of rain for cook and drink 100 percent, health service efforts; used health service facilities 94 percent, counseling of health by health workers 74 percent. Health behavior; BABS in forest 9 percent and beach 5 percent. Smooking in family 31 percent and drink of alcohol 91 percent. The Conclusion of this research showed that Mortality Index Diabettes Mellitus every 1000 people was 40 percent, Morbidity index of Malaria every-1000 people were 77,78 percent, Morbidity index of Heart disease was 31,03 percent. Fertility Index pregnance 8 percent and Toddler 17 percent

    TEKNIK PEMBESARAN IKAN KARANG DI KERAMBA JARING APUNG KAMPUNG BULO KECAMATAN TABUKAN SELATAN

    Get PDF
    Program Kemitraan Masyarakat tentang teknik pembesaran ikan di keramba jaring apung (KJA) Kampung Bulo Kecamatan Tabukan Selatan dilakukan untuk mengatasi permasalahan dari kelompok pembudidaya ikan dimana mereka selalu mengalami keterbatasan dalam penyediaan benih dan kurangnya pengetahuan tentang teknik budidaya ikan di KJA. Metode pengabdian dilakukan dengan cara pelatihan dan pendampingan bagi anggota kelompok untuk melakukan kegiatan pembesaran ikan. Adapun materi dan pelatihan yang diberikan adalah tentang teknik pembesaran ikan di KJA meliputi persiapan wadah, persiapan bibit dan penanganannya, pakan dan pengelolaan pakan. This Community Partnership Program (PKMS) on coral reef rearing technique in floating net cages (KJA) was conducted in Kampung Bulo, South Tabukan sub-district to overcome fisheries problems faced by the local fishermen. Their problems mainly stem from the lack of fish seeds and knowledge on how to cultivate fish in floating net cage. The method used in this PKMS included training and fisheries advisory service on how to rear coral reef fish in the floating net cage with main material presented covering floating net cage preparation, seed preparation and handling, feed and feed management

    RENCANA IMPLEMENTASI PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA BIDANG PERIKANAN DAN PARIWISATA DI PULAU LIPAENG

    Get PDF
                      Hasil perikanan yang melimpah membuat konsumsi hasil laut tidak hanya dinikmati oleh masyarakat pulau Lipaeng tetapi juga dapat dipasarkan ke luar, hal ini dibuktikan dengan adanya hasil perikanan dari nelayan pulau Lipaeng yang dijual di pasar Petta kecamatan Tabukan Utara dan pasar Towoe di kota Tahuna.Pantai Lipaeng kaya akan keanekaragaman biota laut sehingga menjadikanya kandidat untuk wisata bahari. Teknologi informasi dapat menjadi solusi untuk mengembangkan sektor perikanan dan pariwisata. Dalam perencanaan, perlu dilakukan kajian untuk menilai kelayakan implementasi  agar bisa bermafaat dan dapat mengukur risiko yang akan terjadi. Technical Economic Legal Operational Schedule (TELOS) dapat mengukur kelayakan dari rencana implementasi teknologi untuk pengembangan di bidang perikanan dan pariwisata sehingga hasil kajian perencanaan dapat dijadikan cetak biru penerapan teknologi informasi. Berdasarkan hasil yang didapatakan yaitu kelayakan Teknis dengan nilai 0,89 , kelayakan Ekonomi dengan nilai 0,22, kelayakan Hukum dengan nilai 0,60, kelayakan Operasional 0,75, dan kelayakan Jadwal 0,39 maka nilai kelayakan TELOS adalah 0,61 dan dinyatakan LAYAK (B) dengan risiko SEDANG.   Abundant fishery products make the consumption of marine products not only enjoyed by the people of Lipaeng island but also can be marketed to the outside, those was evidenced by the existence of fisheries products from Lipaeng island fishermen who were sold in Petta market in North Tabukan sub-district and Towoe market in Tahuna city. Lipaeng beach is rich in diversity of marine life making it a candidate for marine tourism. Information technology can be a solution for developing the fisheries and tourism sectors. In plan, it was necessary conduct a study to assess the feasibility of implementation in order to take advantage and able to measure the risks that will occur. TELOS can measure the feasibility of a technology implementation plan for development in the field of fisheries and tourism so that the results of the planning study can  used as a blueprint for the application of information technology. Based on the stated results, namely Technical feasibility with a value of 0.89, Economic feasibility with a value of 0.22, Legal feasibility with a value of 0.60, Operational feasibility of 0.75, and the feasibility of a Schedule 0.39, the value of the feasibility of TELOS is 0.61 and declared WORTH (B) with MEDIUM RISK

    EFEKTIVITAS PELATIHAN APLIKASI PERKANTORAN TINGKAT DASAR MENGGUNAKAN TEORI ROUGH SET DI KAMPUNG KENDAHE I

    Get PDF
    Kesenjangan digital antara masyarakat perkotaan dan perkampungan merupakan salah satu masalah yang dihadapi Negara berkembang. Kesenjangan tersebut dapat diakibatkan oleh berbagai faktor diantaranya kesenjangan infrastruktur antara kota dan kampung, maupun tingkat kebutuhan masyarakat akan fasilitas dan perangkat TIK seperti telepon seluler, komputer, maupun internet, serta ketersediaan SDM TIK, yang berpengaruh terhadap pemanfaatan TIK di tingkat kampung. Kebijakan dan program-program pemerintah pusat sering menempatkan kampung sebagai objek bukan sebagai subjek, program pemanfaatan TIK hanya sampai pada tingkat kabupaten atau kecamatan. Oleh karena itu, dengan munculnya gerakan dari kampung yang dapat menyelenggarakan pemerintahan secara baik dan mandiri, yang didukung dengan pemanfaatan TIK, menjadi pelajaran bahwa inisiatif tersebut dapat dilakukan dari bawah. Dengan demikian kampung tersebut mampu melaksanakan pembangunan sesuai kebutuhan kampung itu sendiri. Penelitian ini dilakukan di Kampung Kendahe I, Kabupaten Sangihe. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada berbagai pihak diantaranya, Kepala Kampung Kendahe I untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan TIK dalam hal ini adalah pemanfaatan Aplikasi perkantoran tingkat dasar. Aplikasi Perkantoran tingkat dasar yang dimaksud adalah Aplikasi yang berhubungan dengan pengentrian data masyarakat, Microsoft Office merupakan salah satu jenis Aplikasi perkantoran tingkat dasar yang nantinya akan dipakai sebagai tolak ukur data yang akan dipakai dalam penelitian Efektivitas Pelatihan Aplikasi Perkantoran Tingkat Dasar Menggunakan Teory Rough SET  di Kampung Kendahe I.Penelitian berfokus pada penggunaan/pemanfaatan TIK oleh kampung untuk mendukung kegiatan pemerintah kampung terkait pelayanan kepada masyarakat.   The digital divide between urban communities and villages is one of the problems facing developing countries. These gaps caused by various factors including infrastructure gaps between cities and village, as well as the level of community needs for ICT facilities and devices such as cell phones, computers, and the internet, and the availability of ICT human resources, which affects the use of ICT at the village level. Central government policies and programs often place villages as object rather than subjects, ICT used programs only reach the district or sub-district level. Therefore, with the emergence of a movement from the village can organize governance well and independently, which is supported by the used of ICTs, it was become a lesson that the initiative can be carried out from below. Thus the village was carry out development according to the needs of the village itself. This research was conducted in Kampung Kendahe I, Sangihe Regency. The results of this study were expected to provide input to various parties including, the Head of Kampung Kendahe I to find out how the use of ICT in this case it was the utilization of basic office applications. The basic office application in question it was an application that relates to data entry in the community. Microsoft Office is one of the basic office applications that used as a benchmark for data used in research  Kendahe I. The research focus on the use or use of ICTs by villages to support village government activities related to service to the society

    KAJIAN SOSIAL EKONOMI TERHADAP POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM LAUT DAN PESISIR DI PULAU BEBALANG KECAMATAN MANGANITU SELATAN KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi pemanfaatan sumber daya alam laut dan pesisir di Pulau Bebalang Kecamatan Manganitu Selatan Kabupaten Kepulauan Sangihe Propinsi Sulawesi Utara. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengumpulkan data secara langsung melalui wawancara dan observasi di tengah masyarakat Pulau Bebalang.  Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dan menggunakan analisis SWOT dalam pengambilan keputusan untuk pengembangan Pulau Bebalang. Pengambilan data dilakukan dengan mengumpulkan data primer di Kantor Kampung Bebalang, serta kuisioner yang dijalankan untuk 40 orang masyarakat Kampung Bebalang. Pemanfaatan sumber daya alam pesisir dan bawah laut di Pulau Bebalang merupakan gabungan aspek lingkungan, sumber daya manusia, serta faktor sosial ekonomi masyarakat. Potensi wilayah pesisir seperti pantai berpasir, serta potensi bawah laut di Pulau Bebalang seperti kekayaan terumbu karang dan lamun, dapat dikembangkan ke berbagai bidang seperti wisata bahari, tour & travel, konservasi, dan lain sebagainya. Namun, perlu juga memperhatikan adanya ancaman. Rekomendasi strategi untuk pengembangan potensi Pulau Bebalang berada pada kuadaran I artinya Progresif. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan potensi Pulau Bebalang dalam kondisi prima dan mantap sehingga dapat berkembang lebih maju. Kondisi ini memungkinkan dalam peningkatan pendapatan masyarakat sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan.   This study aims to examine the potential utilization of marine and coastal natural resources in Bebalang Island, Manganitu Selatan District, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi Province. Data was collected by collecting data directly through interviews and observations in the community of Bebalang Island. The research method used is descriptive qualitative and uses SWOT analysis in making decisions for the development of Bebalang Island. Data were collected by collecting primary data at the Bebalang Village Office, as well as a questionnaire which was run for 40 people from Bebalang Village. The utilization of coastal and underwater natural resources on Bebalang Island is a combination of environmental aspects, human resources, and community socioeconomic factors. The potential of coastal areas such as sandy beaches, as well as the underwater potential of Bebalang Island, such as the richness of coral reefs and seagrass, can be developed into various fields such as marine tourism, tours & travel, conservation, and so on. However, it is also necessary to pay attention to threats. The recommended strategy for developing the potential of Bebalang Island is in the I consciousness, which means Progressive. This shows that the development of Bebalang Island's potential is in a prime and steady condition so that it can develop more advanced. This condition makes it possible to increase people's income while maintaining environmental sustainability

    SPONGE UMUM DI TERUMBU-TERUMBU KARANG PERAIRAN TAHUNA KAPULAUAN SANGIHE

    Get PDF
    Sponge makin banyak menarik perhatian para ilmuwan di seluruh dunia bukan karena potensi bioekologisnya saja tetapi juga karena potensi kosmetik dan biomedis dari molekul-molekul bioaktif maupun biomaterial sponge. Sangat disayangkan, pengetahuan tentang diversitas sponge di wilayah dengan biodiversitas tertinggi di dunia seperti Sulawesi Utara dan Wallacea pun masih sangat miskin dengan sebagian informasi diversitas sponge wilayah-wilayah ini tersebar dalam literatur-literatur ilmiah yang sudah usang dan terfragmentasi. Studi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan taksonomi dasar sponge di Sulawesi Utara khusunya di perairan Tahuna Kepulauan Sangihe sekaligus memberikan gambaran umum tentang distribusi dan potensi farmakologis dari sponges yang umum ditemukan di perairan Tahuna. Menggunakan metode acid digestion dan kombinasi mikroskop cahaya dan Corel Draw, kami mengidentifikasi tujuh spesies umum di terumbu karang Tahuna yaitu Agelas nakamurai, Clathria reindwardtii, Ircinia strobilina, Melophus sarasinorum, Speciospohongia vagabunda dan Xestospongia testudinaria. Selain menyentil tentang molekul-molekul bioaktif, tulisan ini juga secara singkat membahas tentang penyebaran ketujuh jenis sponge itu terutama di kawasan Asia Tenggara, selatan Jepang dan Australia untuk memperlihatkan sebaran sekaligus potensi kandungan bioaktif dan biomaterial dari sumberdaya laut amat berharga tetapi terabaikan dalam berbagai program monitoring dan konservasi terumbu karang di Indonesia ini. Sementara M. sarasinorum, S. vagabunda C. reinwardti, dan X. testudinaria terlihat memiliki distribusi sangat luas di wilayah Indo Pasifik, Agelas nakamurai dan I. strobilina sejauh ini baru dilaporkan di perairan Okinawa, Asia Tenggara dan Wallacea meskipun spesies serupa dari kedua genus itu terdistribusi hampir di seluruh Australia. Artikel ini mewakili laporan pertama tentang diversitas, kandungan molekul dan sebaran geografis sponge umum dari perairan Kabupaten Sangihe.   Sponges have attracted considerable attention not only because of their bioecological but also due to cosmetical and medical potentials of bioactive compounds and biomaterials from sponges. Unfortunately, the basic knowledge of this impressive marine invertebrate, even in rich biodiversity region such as North Sulawesi, remains poorly known with such information scattered in old and fragmented literatures. This research aimed to increase the basic taxonomic knowledge and medical potential of seven sponges in Tahuna’s coral reefs  Sangihe Islands as an step to encourage monitoring and concervation of this key species in coral reef in Sangihe Islands. Using acid digestion method and combination of light microscope and Corel Draw, we identified seven common species in Tahuna’s coral reefs namely reinwardti, Ircinia strobilina, Melophus sarasinorum, Speciospongia vagabunda and Xestospongia testudinaria. In addition to providing a quick review on the distribution of these species especially in South East Asia, southern Japan and Australia, the authors also touched on bioactive compounds produced by these animal isolated by one of the authors either from Sangihe Island’s sponges or sponges from other locations to give an overview of the bioactive potential and geographical distributions of the impressive but ignored marine resource in coral reefs’ monitoring and conservation programs in Indonesia. While sepecies such as M. sarasinorum, S. vagabunda C. reinwardti, and X. testudinaria seem to  well distributed in Indopasific, A. nakamurai and I. strobilina are distributed only in south Japan and Wallacea regions although the sibling species of the two sponges have been well reported throughout Australia. This article represents the first report on biodiversity, distribution and bioactive molecules of sponges from Sangihe Islands

    HUBUNGAN PENDIDIKAN STATUS KEPEGAWAIAN DAN LAMA KERJA DENGAN KINERJA PERAWAT MELAKSANAKAN ASUHAN KEPERAWATAN

    Get PDF
    Pelayanan keperawatan merupakan salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan yang sangat penting di masyarakat/puskesmas, pelayanan tersebut berfokus pada penerapan asuhan keperawatan yang berkualitas dimana hal itu dapat tercapai bila diberikan oleh perawat profesional yang memiliki motivasi serta berkinerja tinggi. Kemampuan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang bisa bersumber dari diri perawat itu sendiri maupun faktor eksternal lainnya, oleh karena itu pihak manajemen harus mampu mengidentifikasi hal diatas sehingga dapat memberikan solusi guna tercapainya penerapan asuhan keperawatan yang bermutu. Tujuan penelitian untuk melihat hubungan antara karakteristik responden dengan kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di Puskesmas rawat inap Kabupaten Kepulauan Sangihe. Metode yang digunakan yakni cross sectional melihat hubungan antara pendidikan, status kepegawaian dan lama kerja dengan kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan sedangkan pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling dari 3 populasi terjangkau yang dipilih berdasarkan claster pada tiga puskesmas rawat inap yakni PKM Enemawira, PKM Kuma dan PKM manganitu sebanyak 60 orang. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa 48,3 persen perawat yang berkinerja baik dan 51,7 persen perawat memiliki kinerja kurang. Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan terakhir, status kepegawaian, dan lama bekerja dengan kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Diharapkan penelitian ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi organisasi profesi perawat agar memberikan pembimbingan dan penyegaran keilmuan kepada para perawat yang kerja di puskesmas, juga penelitian ini menjadi acuan dalam pembelajaran mempersiapkan mahasiswa untuk bekerja di puskesmas di masa yang akan datang. Nursing services are one of the spearheads of very important health services in the community, these services focus on the application of quality nursing care which can be achieved if provided by professional nurses who are highly motivated and high-performance. This ability can be influenced by various factors comes from the nurses themselves and external factors, therefore the management must be able to identify the factors so that it can provide solutions in order to achieve the application of quality nursing care. This study aimed to know the relationship between respondent characteristics and nurse performance in implementing nursing care at the inpatient health center Sangihe Island district. The method used was cross sectional to see the relationship between education, employment status and length of work with nurses' performance in carrying out nursing care while sampling used was the total sampling of 3 affordable populations selected based on clusters at three inpatient health centers namely PKM Enemawira, PKM Kuma and PKM manganitu as many as 60 people. The results of this study indicated that 48.3 percent of nurses were performing well and 51.7 percent of nurses have poor performance. In this study also found that there was no significant relationship between recent education, employment status, and length of work with the performance of nurses in implementing nursing care. Hopely this research can be an evaluation material for professional nurses organizations to provide scientific guidance and as the refreshment for the nurses who are working at the Puskesmas, also this research become a reference for preparing students to work at the puskesmas in the future

    EDUKASI TERKAIT ADAPTASI KEBIASAAN BARU DAN DONASI THERMOGUN PADA PELKA PEMUDA DI GMIST EL-SYADDAY TAHUNA

    Get PDF
    Protokol kesehatan pencegahan COVID-19 seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan harus tetap dipertahankan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Gereja GMIST El-Syadday merupakan salah satu gereja yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pelaksanaan ibadah di gereja telah mulai dilaksanakan kembali pada gedung Gereja. Pelayanan kategorial (Pelka) Pemuda yang ada di GMIST El-Syadday diharapkan mampu saling mengingatkan dan memberikan edukasi kepada orang-orang sekitar tentang pentingnya disiplin dalam pelaksanaan protokol kesehatan pencegahan COVID-19. Sampai sejauh ini belum ada penyuluhan kesehatan yang diberikan secara langsung kepada Pelka Pemuda tersebut. Saat diwawancarai terkait ketersediaan alat pemindai suhu tubuh, Ketua Jemaat GMIST El-Syadday mengatakan bahwa mereka memiliki 1 alat pemindai suhu tubuh. Tujuan kegiatan ini yaitu memberikan edukasi terkait AKB serta memberikan donasi thermogun.Metode yang digunakan yaitu penjajakan, persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil kegiatan dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2020 bertempat di ruang Serbaguna GMIST El-Syadday Tahuna. Jumlah peserta sebanyak 15 orang. Pada kegiatan ini turut hadir Ketua BPMJ GMIST El-Syadday Tahuna. Tim pengabdian memberikan edukasi terkait AKB. Edukasi diberikan dalam bentuk materi presentasi melalui metode ceramah. Tim Pengabdi juga membagikan flyer terkait protokol kesehatan pencegahan COVID-19. Dalam rangka mendukung penerapan AKB maka tim pengabdi memberikan donasi satu buah alat pemindai suhu tubuh (thermogun) kepada mitra agar dipergunakan untuk mendeteksi suhu tubuh anggota jemaat sebelum masuk ke ruangan ibadah di Gereja.Kesimpulan Pemuda GMIST El-Syadaytelah mendapat edukasi dan memahami tentang Adaptasi kebiasaan Baru. Alat pemindai suhu tubuh yang telah didonasikan telah digunakan pada kegiatan ibadah. Health protocols to prevent COVID-19 such as wearing masks, physical distancing and washing hands must be applied during Adaptation New Habits period. El-Syadday GMIST is one of the church in Sangihe Island Regency. Church services have reopened in the church building. Youth ministry those at GMIST El-Syadday were expected to be able to remind each other and provide education to people around the importance of discipline in implementing COVID-19 prevention health protocols. So far, no health education has been provided directly to them youth ministry. When interviewed about the availability of a body temperature scanner, the Head of the GMIST El-Syadday congregation said that they have one tool of Thermogun. The purpose was to provide education related to Adaptation New Habits and to donate thermogun. The method used assessment, preparation, implementation and evaluation. Results of the activity were held on July 26, 2020 at the GMIST El-Syadday Tahuna. The number of participants were 15 people. In this activity, the Chairman of BPMJ GMIST El-Syadday Tahuna was also present. We provide education related to Adaptation New Habits. Education was given in the form of presentation materials through the lecture method. We also distributed flyers related to COVID-19 prevention health protocols. To support the implementation of the Adaptation New Habits, we were donate thermogun those can be used to detect the body temperature of church members before entering the church. Conclusion GMIST El-Syadday youth were received education and understood about Adaptation New Habits. Thermogun has been used for religious activities

    PELATIHAN PEMBUATAN IKAN ASAP CAIR DI KAMPUNG PETTA KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE

    Get PDF
    Pengolahan ikan asap di kampung Petta masih tradisional, dimana produk yang dihasilkan memiliki mutu yang selalu berbeda, serta umur simpan yang relatif pendek. Selain itu, pengasapan tradisonal dapat menyebabkan polusi lingkungan akibat asap yang dikeluarkan. Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah teknologi Pengasapan Asap Cair. Teknologi ini sudah digunakan di beberapa tempat sebagai penganti pengasapan tradisional tetapi di Sangihe teknologi ini belum dikenal oleh masyarakat pengolah ikan asap. Tujuan dari pengabdian ini ialah memperkenalkan asap cair, melatih pengolah ikan asap untuk melakukan pengasapan ikan menggunakan asap cair, dan melatih cara pengemasan ikan asap yang tepat. Metode pelaksanaannya meliputi: survei untuk mendapatkan kelompok pengolah ikan yang sudah pernah berusaha dan membicarakan persiapan penerapan teknologi bersama ketua kelompok dan pemerintah setempat, penyuluhan dan pelatihan pengolahan ikan asap dengan asap cair serta cara pengemasan vakum, pemberian bantuan alat, pendampingan, dan evaluasi. Sebelum praktek pengolahan ikan asap cair, kelompok diberi pemahaman tentang sanitasi, higienis, dan good manufacturing practices (GMP), untuk menambah pengetahuan kelompok pengolah. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kelompok pengolah “Berkat” dan kelompok “Petta” sangat menerima teknologi yang diberikan, dan dapat melakukan sendiri karena teknologinya sederhana, waktu pengolahan lebih singkat, mutu hasil lebih baik, higienis, dan mudah dilakukan. Berdasarkan hasil pengabdian maka dapat disimpulkan bahwa materi dan pelatihan yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh kelompok masyarakat. Walaupun demikian, masih perlu dilakukan penambahan fasilitas yaitu alat pembuat asap cair untuk melengkapi alat pengolahan yang sudah diberikan. Smoked fish processing in Petta village remains traditional to this day charaterized by products of varyiing quality and relatively shortlived. In addition, traditional fish smoking poses health and environmental threats due to the released smoke. The right solution to solve this problem includes the application of liquid smoked technology. This technology has been well practized in several places to replace traditional smoking methods. However, it has been barely recognized by the smoked fish processors in Sangihe Islands. The objective of this training and fisheries advisory services were to introduce liquid smoke technology, to train smoked fish processors to smoke fish using liquid smoke, and to train the fish processors the proper way to pack smoked fish. The implementations of this program included (1) survey on the existing fish processing groups in Petta, (2) discussion about the introduced technology and transfer knowledge with the group leader and the local government, (3) training and practices on liquid smoke processing techniques, of vacum packaging technique and provison of equipments, assistance, and evaluation. Before practice sessions, the group was introduced to sanitation, hygiene, and good manufacturing practices (GMP), to increase their knowledge on the liquid fish processing. The results strongly indicated that the fish processing group "Berkat" and group “Petta” have well addopted the fish processig technology and could apply it themselves because the technology was simple, the processing time was shorter, and the quality of the final product was better, more hygienic and more practical. The training and fisheries advisory sercives were warm wellcomed by the community group. However, it is still necessary to add another liquid smoke production equipments to complement the current fish processing equipment

    PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU RUMAH TANGGA TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT TATANAN RUMAH TANGGA DALAM UPAYA PENCEGAHAN CORONA VIRUS DISEASE 2019

    Get PDF
    Corona virus disease 2019 (Covid 19) sedang melanda dunia termasuk Indonesia dan kota Manado. Oleh karena itu diperlukan upaya promosi kesehatan tentang upaya pencegahan Covid-19 seperti pelaksanaan PHBS tatanan rumah tangga. Kegiatan ini dilakukan melalui ceramah dan menggunakan media leaflet pada ibu rumah tangga yang tergabung pada PKK Dasawisma 2 Lingkungan 6 Kelurahan Taas Kecamatan Tikala Kota Manado sebanyak 30 orang. Variabel yang diukur yaitu tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa berdasarkan pengukuran tingkat pengetahuan tentang PHBS tatanan rumah tangga semuanya masuk pada kategori baik. Namun ada beberapa indikator yang masih perlu ditingkatkan seperti mencuci tangan dengan benar dan beraktifitas fisik setiap hari minimal 30 menit. Corona virus disease (Covid 19) is currently sweeping the world, including Indonesia and the city of Manado. Therefore, health promotion efforts are needed regarding efforts to prevent Covid-19, such as implementing clean and healthy behavior in household. This activity was carried out through lectures and using leaflet media for 30 housewives who were members of the PKK Dasawisma 2 Lingkungan 6 Taas Subdistrict, Tikala District, Manado City. The variable measured is the level of knowledge using a questionnaire. The results of the activity show that based on the measurement of the level of knowledge about clean and healthy behavior in household into the good category. However, there are several indicators that still need to be improved, such as washing hands properly and doing physical activity every day for at least 30 minutes

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇