e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
Not a member yet
385 research outputs found
Sort by
PELATIHAN PEMBUATAN ECO- ENZYME DARI SAMPAH ORGANIK BAGI IBU DI WILAYAH RW3 KEBRAON SURABAYA
Salah satu permasalahan yang terjadi dikota besar adalah masalah pengelolahan sampah. Hal ini terjadi akibat kurangnya lahan pembuangan sampah serta kurang efektifnya pemilahan dan pengolahan sampah. Apabila masalah sampah ini tidak diatasi dengan baik maka akan mengakibatkan pencemaran lingkungan baik udara, tanah serta dapat menimbulkan masalah penyakit karena sampah. Eco- enzyme dibuat dari sampah organic yang dihasilkan di rumah tangga sehingga sampah organik yang dibuang di TPA dapat berkurang. Di wilayah RW 3 Kebraon Surabaya belum ada pelopor yang mampu menggerakkan warga sekitar untuk dapat melakukan pemilahan dan pengolahan sampah terutama eco- enzyme ini. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan ibu untuk dapat mengolah sampah organik menjadi bahan yang dapat dipergunakan lagi sehingga nantinya dapat mengurangi sampah yang dibuang ke TPA dan mencegah pencemaran lingkungan. Kegiatan dilakukan dalam bentuk 3 kegiatan yaitu penyuluhan Kesehatan, demonstrasi pembuatan eco- enzyme dan pendampingan. Setelah dilakukan penyuluhan, sebanyak 70 persen ibu mempunyai pengetahuan yang baik mengenai pengolahan sampah organic dengan eco- enzyme. Kegiatan demonstrasi pembuatan eco- enzyme dilakukan secara langsung di salah satu rumah warga. Kegiatan yang terakhir adalah pendampingan, yaitu dilakukan selama 1 minggu menggunakan media Whatsapp untuk berdiskusi mengenai kesulitan selama membuat eco- enzyme ini. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan respon positif dari mitra. Pengetahuan serta ketrampilan ibu untuk mengolah sampah organic menjadi meningkat. Saran untuk kegiatan selanjutnya yaitu mengadakan pengolahan sampah dalam bentuk lain sehingga lingkungan di sekitar RW 3 Kebraon Surabaya dapat terjaga dengan.
One of the problems that occur in big cities is the problem of waste management. This is due to the lack of land for waste disposal and the ineffectiveness of sorting and processing waste. If this waste problem is not handled properly, it will cause environmental pollution, both air, and soil, and can cause disease problems due to waste. Eco-Enzyme is made from organic waste produced in households so that organic waste disposed of in landfill can be reduced. In the area of RW 3 Kebraon Surabaya, no pioneer can mobilize residents to be able to sort and process waste, especially this Eco-Enzyme. This community service activity aims to increase the knowledge and skills of mothers to be able to process organic waste into materials that can be used again so that later they can reduce waste that is thrown into the landfill and prevent environmental pollution. The activity was carried out in the form of 3 activities, namely health education, demonstration of making Eco-Enzymes, and mentoring. After counseling, as many as 70 percent of mothers had good knowledge about processing organic waste with Eco-Enzymes. The demonstration activity of making Eco-Enzyme was carried out directly in one of the residents' houses. The last activity is mentoring, which is carried out for 1 week using Whatsapp media to discuss the difficulties during making this Eco-Enzyme. This community service activity can run smoothly and get a positive response from partners. Mothers' knowledge and skills to process organic waste are increasing. Suggestions for the next activity are holding waste processing in other forms so that the environment around RW 3 Kebraon Surabaya can be maintained properly
ASUHAN KEPERAWATAN PADA SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA DENGAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK AKIBAT GOUT ARTRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAHUNA BARAT
Gout Artritis merupakan salah satu penyakit yang telah lama dikenal dan sampai saat ini masih menjadi penyebab berbagai penyakit. Prevalensi gout artritis menurut World Health Organization (WHO) tahun 2018 gout artritis mengalami kenaikan dengan jumlah 1.370 (33,3 persen). Gangguan mobilitas fisik ini sering menjadi masalah keperawatan pada kasus Gout Artritis akibat kadar purin tinggi dalam darah, maka tubuh akan meresponnya dengan ditandai adanya hambatan mobilitas fisik pada sendi, menggigil dan badan lemah. Tujuan studi kasus diketahuinya asuhan keperawatan pada salah satu keluarga dengan gangguan mobilitas fisik akibat gout artritis di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Barat. Metode studi kasus adalah desain studi kasus deskriptif dengan subjek studi kasus satu orang klien yang diamati dan berfokus untuk mengajarkan latihan rentang gerak (ROM) dan melibatkan keluarga untuk membantu klien dalam meningkatkan pergerakan. Hasil yang diperoleh : Diagnosa keperawatan gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit, subjek studi kasus ditemukan nyeri pada lutut dan keluarga tidak tahu perawatan yang dibutuhkan untuk menanggulangi masalah kesehatan atau penyakit yang dialami yang menyebabkan gangguan mobilitas fisik. Kesimpulan : Masalah pada klien teratasi karena klien sudah dapat bergerak walaupun nyeri hilang dan sudah dapat melakukan mobilisasi dini dengan adanya dukungan keluarga. Saran : Perawat lebih meningkatkan pelayanan serta dapat memberikan pendidikan kesehatan pada klien yang menderita gout artritis.
Gout artritis is a disease that has been known for a long time and is still the cause of various diseases. The prevalence of gout artritis to the World Health Organization (WHO) in 2018 gout artritis has increased by 1370 (33,3 percent). Impaired physical mobility was often a nursing problem in cases of Gout artritis due to high levels of purines in the body´s blood which responds to it by being marked by obstacles to physical mobility in the joints, chills and weakness. The purpose of the case study was to find out nursing care in a family with impaired physical mobility due to gout artritis in the work area Puskesmas of the Tahuna Barat. The case study method was a descriptive case study design with a case study subject of one client who was observed and focus on teaching range of motion (ROM) exercise and involve the family to assist the client in improving movement. The result obtained: Nursing diagnosis of impaired physical mobility related to the inability of the family to care of sick family members, case study subjects found knee pain and the family who did not know the treatment needed to overcome health problem or illnesses that caused physical mobility problems. Conclusion: The Problem in the client was resolved because the client was able to move even though the pain was gone and can do early mobilization with family support. Suggestion: Nurse improve services and can provide health education to client who suffering from gout artritis
PEMBERDAYAAN PERILAKU MEMBUANG SAMPAH DAN PENGGUNAAN SAMPAH PLASTIK DI KAMPUNG BEENG LAUT KECAMATAN TABUKAN SELATAN TENGAH
Pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam penanganan masalah sampah diwujudkan dengan adanya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah yang ada di desa-desa. Budaya lama membakar dan membuang sampah ke selokan dan sungai serta laut menunjukkan bahwa setiap upaya untuk membersihkan lingkungan membutuhkan perubahan besar dalam pola pikir masyarakat. Perilaku membuang sampah pada tempat sampah dan penggunaan ulang sampah plastik mengurangi persentase sampah berdasar jenis di Kepulauan Sangihe. PKMS ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat tentang perilaku membuang sampah, memanfaatkan limbah wadah minuman plastik dan pembuatan tempat sampah. Metode yang digunakan berupa penyuluhan, demonstrasi dan kerja bakti. Hasil dari Program Kemitraan Masyarakat Stimulus berupa penyuluhan tentang penanganan dan pengolahan sampah, penyuluhan penanganan Covid 19, pembuatan keranjang sampah dari gelas aqua serta pembuatan tempat sampah. Kegiatan PKMS di Kampung Beng Laut terlaksana dengan baik, dengan harapan masyarakat membuang sampah di tempat sampah yang telah disiapkan dan menggunakan kembali sampah plastik untuk menjadi barang yang bernilai.
Community empowerment in handling waste problems is realized through community participation in waste management in the villages. The old culture of throwing trash into rivers and seas shows that any attempt to clean up the environment requires a major change in people mindsets. Behavior of throwing trash and reuse plastic and reduces the percentage of trash by type in the Sangihe Islands. Those PKMS aim to empower the people in Beng Laut about throw of plastics trash, used of plastics drink glass waste and make trash can. The method used were form of counseling, demonstrations and community service. The results of the Stimulus Community Partnership Program were form of counseling on waste handling and processing, counseling on handling Covid 19, make of baskets trash from aqua glass plastics and trash bins. PKMS activities in village Beng Laut going smoothly, hope that people could throwing trash in garbage and make use of plastics trash are become goods value
PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT TATANAN RUMAH TANGGA DI DAERAH KEPULAUAN
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan cerminan pola hidup keluarga yang senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga. Semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga keluarga atau anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan dibidang kesehatan di masyarakat. Hal ini terjadi karena kurangnya perilaku hidup bersih sehat keluarga. Guna mencegah penyakit menular dan tidak menular, setiap anggota rumah tangga perlu diberdayakan,dalam melaksanakan 10 (sepuluh) indikator PHBS Pelaksanaan PHBS Kabupaten Sangihe tahun 2017 50,40 persen. Di Kecamatan Tabukan Selatan Tengah 280 KK Keluarga yang di pantau ,yang ber PHBS 114 (40,2 persen). Tujuan penelitian ingin mengetahui Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga dengan Perilaku Hidup Bersih Sehat. Metode penelitian dengan menggunakan rancangan Cross sectional study. Hasil penelitian tidak ada hubungan pengetahuan dengan penerapan Perilaku hidup Bersih Sehat diperoleh nilai P yaitu sama dengan 0,171 lebih dari ᾳ 0,05 dan ada hubungan antara sikap dengan penerapan Perilaku hidup Bersih Sehat nilai p value 0,03 kurang dari ᾳ (0.05). Disarankan agar setiap anggota keluarga termotivasi melaksanakan 10 indikator PHBS
Clean and Healty living behavior showed of fammily pattern live style in order to prevent infectious and non-communicable diseases, every member of the household needs to be empowered in implementing 10 (ten) indicators of Clean and Healthy Living Behavior. In 2017 the implementation in Sangihe District was 50.40 percent. The family monitored in Tabukan Selatan Tengah Subdistrict were 280 families, apply clean and healthy living behavior about 114 (40.2 percent). Method of those reaseach apply cross sectional study, design and the result of the research show that was not a relationship between knowledge and clean healthy life behavior with p value 0.171 lebih dari ᾳ (0.05) and those was a relationship between attitude and clean healthy lifestyle, p value 0.03 kurang dari ᾳ (0.05). The member of fammily incentive to motivate ten (10) standards of Clean Healty living behavior
HANDLINE DALAM PENANGANAN PASCABENCANA ALAM BAGI KELOMPOK NELAYAN DI KAMPUNG LEBO KECAMATAN MANGANITU KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Secara administratif, Kampung Lebo merupakan wilayah Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara, dengan luas wilayah sebesar 6,59 km2. Jumlah penduduk 1.317 jiwa yaitu 489 KK, yang terdiri atas Laki – laki 809 jiwa dan perempuan 508 jiwa. Pada Tanggal 3 Januari 2020, Kampung Lebo dan beberapa kampung di sekitarnya mengalami bencana alam banjir bandang, yang memakan korban jiwa sebanyak 3 orang. Bantuan penyediaan handline dapat membantu nelayan di Kampung Lebo untuk memperbaiki penghidupan mereka yang lebih baik. Handline atau Pancing ulur terdiri atas beberapa komponen yaitu gulungan tali, tali pancing, mata pancing, dan umpan buatan. Solusi yang dilakukan yaitu pemberian alat tangkap Handline bagi nelayan yang mengalami musibah dan pemberian pengetahuan bagi nelayan tentang manajemen keuangan hasil penjualan ikan. Metode pengabdian yaitu memberikan penyuluhan dan pelatihan, pendampingan, dan monitoring serta evaluasi. PKMS Handline memberdayakan kelompok nelayan di Kampung Lebo dalam usaha penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap handline, bagi masyarakat lokal disebut Bawaede. Hasil tangkapan ada yang dijual dan ada juga yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi sehari – hari. Nelayan dapat lebih efektif menangkap ikan dan membantu meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat pesisir.
Administratively, Lebo Village is an area of Manganitu District, Regency of Sangihe islands, Province of North Sulawesi, with an area of 6,59 km2. Total population is 1.317 people 489 households, consisting of 809 men and 508 women. On January 3rd, 2020, Lebo Village and surrounding villages experienced a flood, which killed 3 people. Handline assistance can help fisher in Lebo Village to improve their livelihoods. Handline consists of several components, namely roller, fishing line, hook, and artificial bait. The solution taken is providing Handline for fisher who experienced disaster and providing knowledge for fisher about financial management of fish sales. The method is providing counseling, training, mentoring, monitoring and evaluation. PKMS Handline empowers groups of fisher in Lebo Village to catch fish using handline, for the local community it is called Bawaede. The catch is sold and used for daily consumption needs. So the handline assistance can help improve the economic life of local community and the fishing ability of the fisher group
PROGRAM KEMITRAAN MASYARAKAT STIMULUS KAMPANYE PROTOKOL KESEHATAN KELUARGA DALAM MENCEGAH PENYEBARAN COVID-19 DI KELUARGA KELURAHAN LESA LINGKUNGAN III
sebagian besar kasus penyebaran covid-19 terjadi dalam klaster keluarga. Klaster keluarga berkaitan erat dengan klaster kantor, klaster pasar yang dapat berpotensi bertemunya di dalam keluarga sehingga klaster keluarga sulit dihindari. Data kasus Covid-19 di Kabupaten Sangihe mengalami peningkatan pada bulan Februari tahun 2021. Adapun berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Sangihe pada 8 Februari 2021, jumlah kasus covid-19 di Kecamatan Tahuna Timur, kasus Covid-19 mengalami peningkatan dan ditemukan sebanyak 6 kasus pasien yang terkonfirmasi positif covid-19. Berdasarkan hasil observasi, warga di Lingkungan 3 Kelurahan Lesa belum mematuhi protokol kesehatan covid-19, yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak pada saat di luar rumah. Dengan demikian, hal ini dapat berpotensi penyebaran covid-19 ketika kembali ke rumah. Pengabdian ini bertujuan memberikan pemahaman bagi masyarakat mengenai penerapan protokol kesehatan covid-19 di lingkungan keluarga serta memberikan kesadaran bagi masyarakat dalam berprilaku sesuai dengan protokol kesehatan covid-19. Metode pelaksanaan terdiri dari penjajakan, penetapan pelaksanaan PKMS, pelaksanaan PKMS, dan evaluasi. Hasil Kegiatan dilakukan dengan memberikan penyuluhan kesehatan berupa protokol kesehatan keluarga dalam mencegah penyebaran covid-19 di lingkungan keluarga, mendemontrasikan cara menggunakan masker dengan benar, membagkan selebaran, membagikan masker, dan memasang poster di lokasi RT 5. Adapun pada saat kegiatan warga menyimak semua materi yang diberikan, menggunakan masker dengan benar, serta yang sebelumnya belum menggunakan masker saat ke luar rumah tampak sudah menggunakan masker.
Background: Most cases of the spread of covid-19 occur in family clusters. Family clusters are closely related to office clusters, market clusters that can potentially meet within the family so that it is difficult to avoid family clusters. Data on Covid-19 cases in Sangihe Regency increased in February 2021. Based on a report from the Sangihe District Health Office on February 8, 2021, the number of Covid-19 cases in Tahuna Timur District, Covid-19 cases had increased and 6 cases were found. which was confirmed positive for Covid-19. Based on theresults of observations, residents in Neighborhood 3 of Lesa Village have not complied with the Covid-19 health protocol, namely using masks, washing hands, and maintaining distance when outside the home. Thus, this could have the potential for the spread of covid-19 when returning home. This service aims to provide understanding for the public regarding the implementation of the Covid-19 health protocol in the family environment and to provide awareness for the public in behaving by following the Covid-19 health protocol. Method of implementation: Consists of an assessment, determination of PKMS implementation, PKMS implementation, and evaluation. Results: The activity was carried out by providing health education in the form of family health protocols in preventing the spread of covid-19 in the family environment, demonstrating how touse masks correctly, distributing leaflets, distributing masks, and putting up posters at RT 5 locations. listening to all the material provided, using a mask properly, and those who had not previously used a mask when they left the house seemed to have used a mask
POTENSI TEPUNG KULIT BUAH MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA L) UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS)
Ikan membutuhkan pakan dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Pakan ikan adalah komponen paling penting dalam budidaya ikan. Pakan yang berkualitas bagi ikan adalah pakan yang mudah dicerna, tidak mengandung racun, dan mengandung gizi yang tinggi. Kulit buah manggis dapat dijadikan pakan ikan dalam meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan karena mengandung senyawa xantone yang cukup kuat sebagai antioksidan, antiproliferartif, dan antimicrobial. selain itu mengandung flavonoid, saponin, alkaloid, triterpenoid, tanin, dan polifenol (Suksamrarn, 2003; Mardawati et al., 2008; Puspitasari et al., 2013). Komposisi tepung kulit buah manggis yaitu air 9%, abu 2,58%, protein 2,69%, serat kasar 30,05%, gula total 6,92%, dan lainnya (tanin, lemak) 48,76%. Kegiatan penerapan penelitian Unggulan Perguruan Tinggi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung kulit buah manggis terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila (Oreochromis niloticus). Waktu pelaksanaan penelitian selama 1 bulan dari tanggal 08 Agustus sampai 10 September 2020 di Kampung Nahepese Kecamatan Manganitu. Prosedur kerja penelitian meliputi beberapa tahap yaitu persiapan pakan uji, persiapan wadah pemeliharaan, persiapan ikan uji, dan pemeliharaan ikan uji. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nila berukuran 3-5 cm sebanyak 180 ekor dimana masing-masing wadah didistribusikan 20 ekor ikan. Sedangkan bahan uji yang dipakai adalah tepung kulit buah manggis yang ditambahkan dalam tepung pelet kemudian dicampurkan menjadi merata lalu ditambahkan air secukupnya, dicetak dan dijemur. Laju pertumbuhan harian tertinggi ikan nila selama 30 hari pemeliharaan terdapat pada perlakuan B. Sintasan hidup ikan nila pada kontrol dan perlakuan B yaitu 100%, yang artinya semua ikan uji yang dipelihara hidup semua. Sedangkan pada perlakuan A yaitu 95%, dimana ada 1 ekor ikan yang meloncat keluar happa.
Fish need feed for growth and survival. Fish feed is the most important component in fish farming. Quality feed for fish is food that is easily digested, does not contain toxins, and contains high nutrition. Mangosteen rind can be used as fish feed in increasing the growth and survival of cultivated fish because it contains xanthone compounds which are strong enough as antioxidants, antiproliferarts, and antimicrobials. besides containing flavonoids, saponins, alkaloids, triterpenoids, tannins, and polyphenols (Suksamrarn, 2003; Mardawati et al., 2008; Puspitasari et al., 2013). The composition of mangosteen rind flour is 9% water, 2.58% ash, 2.69% protein, 30.05% crude fiber, 6.92% total sugar, and 48.76% others (tannins, fat). This research application activity of Higher Education Excellence aims to determine the effect of adding mangosteen rind flour to the growth and survival of tilapia (Oreochromis niloticus). The time for conducting the research is 1 month from August 8 to September 10 2020 in Nahepese Village, Manganitu District. The research work procedure includes several stages, namely preparation of test feed, preparation of maintenance containers, preparation of test fish, and rearing of test fish. The test fish used in this study were 180 tilapia fish measuring 3-5 cm in which 20 fish were distributed in each container. While the test material used is mangosteen rind flour which is added to the pellet flour then mixed evenly and then added with enough water then printed and dried. The highest daily growth rate of tilapia for 30 days of maintenance was found in treatment B. The survival rate of tilapia in control and treatment B was 100%, which means that all of the tested fish that were reared were all alive. Whereas in treatment A, it was 95%, where 1 fish jumped out of the happa
APLIKASI HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN UNTUK MENINGKATKAN LAJU PERTUMBUHAN IKAN KAKAP (Lutjanus sp.) PADA KERAMBA JARING APUNG DI TELUK TALENGEN
Budidaya ikan kakap sering terkendala dengan kurang tersedianya pakan rucah secara kontinyu dan berkelanjutan, karena pakan rucah tersedia secara musiman. Budidaya ikan kakap harus diselingi dengan pemberian pakan pelet, apalagi pakan pelet yang diperkaya dengan hormon pertumbuhan rekombinan dapat menjadi salah satu solusi. Mempercepat laju pertumbuhan ikan dapat dilakukan dengan pemberian hormon pertumbuhan rekombinan. Hormon tersebut dijadikan sebagai sumplemen pakan bagi ikan maupun udang. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan laju pertumbuhan ikan kakap menggunakan hormon pertumbuhan rekombinan yang dibudidayakan dengan sistem keramba jaring apung di Teluk Talengen. Tahapan penelitian terdiri dari persiapan wadah dan ikan uji, pembuatan pakan dan pemeliharaan selama 30 hari. Perlakuan yang dilakukan adalah dosis hormon pertumbuhan rekombinan yang diaplikasikan ke pakan dan diberikan pada ikan kakap. Dosis yang diberikan adalah : 0 mg/kg, 2 mg/kg, 3 mg/kg, dengan tiga kali ulangan. Ikan kakap yang digunakan berukuran 3-5 cm dengan padat tebar 10 ekor per wadah. Dosis hormon pertumbuhan rekombinan akan dicoating menggunakan putih telur dan disemprot ke pakan. Pemberian pakan dilakukan secara at satiation dengan frekuensi pemberian sebanyak 2 kali pada pagi dan sore hari. Hasil penelitian memperlihatkan perlakuan terbaik yaitu dosis 3 mg/kg pakan meningkatkan bobot tubuh (8,8 gr), SGR (3,43%), EP (28,3%) dan SR (100%) dibandingkan perlakuan kontrol. Hal tersebut menunjukkan hormon pertumbuhan rekombinan memberi pengaruh positif meningkatkan laju pertumbuhan dan survival rate ikan kakap selama 30 hari pemeliharaan.
Snapper cultivation is often constrained by the lack of continuous and sustainable feed availability, because trash feed is readily available. The cultivation of snapper fish must be interspersed with providing pellet feed, moreover pellet feed enriched with recombinant growth hormone can be a solution. Accelerating the growth rate of fish can be done by offering recombinant growth hormone. This hormone is used as a supplement to feed for fish and shrimp. The aim of this study was to increase the growth rate of snapper using recombinant growth hormone cultivated with floating net cage system in Talengen Bay. Stages of taking care of research from containers and test fish, making feed and maintaining it for 30 days. The treatment is a recombinant growth hormone which is applied to feed and given to snapper. The doses given were: 0 mg/ kg, 2 mg/kg, 3 mg/kg, with three replications. The snapper used is 3-5 cm in size with a stocking density of 10 fish per container. The dose of recombinant growth hormone will be coated using egg white and sprayed into the feed. Feeding is done occasionally with a frequency of offering 2 times in the morning and evening. The results of the best treatment treatment, namely the dose of 3 mg / kg of feed increased body weight (8.8 gr), SGR (3.43%), EP (28.3%) and SR (100%) compared to control treatment. This shows that the growth of recombinant growth hormone has a positive effect on increasing the growth rate and survival of snapper for 30 days of rearing
ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN PANCING ULUR DI KAMPUNG KARATUNG II KECAMATAN MANGANITU KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Penelitian ini bertujuan untuk melihat besarnya pendapatan nelayan pancing ulur di Kampung Karatung II Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kampung Karatung II terletak di Kecamatan Manganitu dengan jumlah penduduk 991 jiwa. Pendapatan nelayan di Kampung Karatung II bergantung pada hasil tangkapan. Jenis ikan hasil tangkapan pada umunya yaitu ikan Selar (Selaroides sp.). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2020 di perairan Kampung Karatung II Kecamatan Manganitu. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi terhadap para nelayan. Pendapatan nelayan pancing ulur di Kampung Karatung II yaitu sebesar Rp 1.250.000,- per bulan. Berdasarkan SK Gubernur Sulawesi Utara No. 330 Tahun 2020, upah minimum Provinsi Sulawesi Utara tahun 2020 Rp 3.310.723,- (tiga juta tiga ratus sepuluh ribu tujuh ratus dua puluh tiga rupiah) setiap bulan, dengan demikian pendapatan nelayan di Kampung Karatung II termasuk dalam kategori rendah.
This study aims to determine the income of hand line fishermen in Karatung II Village, Manganitu District of Sangihe Islands Regency. Karatung II Village is located in Manganitu District with population of 991 people. The income of fishermen in Karatung II village depends on the catch. The kind of fish caught is Selar (Selaroides sp.). This research was carried out in September to October 2020 in the waters of Karatung II village, Manganitu District. Data collection techniques were carried out by interviewing and observing the fishermen. The income of hand line fishermen in Karatung II Village is Rp. 1,250,000 per month. Based on the Decree of the Governor of North Sulawesi No. 330 of 2020, the minimum wage of North Sulawesi Province in 2020 was IDR 3,310,723 (three million three hundred ten thousand seven hundred and twenty three rupiahs) every month, and therefore, the income of fishermen in Karatung II Village is categorized as a low income
KAJIAN TOTAL BAKTERI DAN KADAR HISTAMIN TUNA PASCA TANGKAP DI PERAIRAN SANGIHE
Tuna yang berkualitas sangat ditentukan oleh penanganan pasca tangkap, yang kita akui aspek-aspek pasca tangkap ini belum merata dikuasai oleh masyarakat nelayan di Kepulauan Sangihe, sehingga mengakibatkan permasalahan keamanan pangan terutama kadar histamin yang melampaui batas. Histamin terbentuk akibat adanya kesalahan selama proses penanganan dan pengolahan. Tingginya temperatur adalah penyebab utama terbentuknya histamin. Histamin dapat menyebabkan keracunan pada orang yang mengkonsumsinya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan total bakteri dan kadar histamin tuna pasca tangkap di perairan Sangihe. Parameter uji dalam penelitian ini meliputi pengambilan dan preparasi sampel, Uji total bakteri, dan kadar histamin pada tuna segar. Analisis histamin menggunakan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukan bahwa TPC pada ketiga lokasi, yaitu Kauhis 9,7 x 104 cfu/g Santiago 2,8 x 104 cfu/g masih memenuhi standar SNI untuk tuna segar yaitu 5,0 x 105 cfu/g, sedangkan pada pasar Towo 8,2 x 105 cfu/g telah melewati batas standar. Kadar histamin dari ketiga lokasi masih dikategorikan sangat aman < 5 ppm dari standar yaitu 100 ppm.
Quality tuna is very much determined by post-capture handling, which we admit that these post-catch aspects have not been evenly controlled by the fishing community in the Sangihe Islands, resulting in food safety problems, especially histamine levels that exceed the limit. Histamine is formed due to errors during the handling and processing process. The high temperature is the main cause of the formation of histamine. Histamine can cause poisoning in people who take it. This study aims to determine the total bacteria and histamine levels of post-caught tuna in Sangihe waters. The test parameters in this study include sample collection and preparation, total bacterial test, and histamine levels in fresh tuna. Histamine analysis used the Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) method. The results showed that the TPC in the three locations, namely Kauhis 9.7 x 104 CFU / g Santiago 2.8 x 104 CFU / g still met the SNI standard for fresh tuna, namely 5.0 x 105 CFU / g, while in the Towo 8 market, 2 x 105 CFU / g has exceeded the standard limit. The histamine levels from the three locations were still categorized as very safe < 5 ppm from the standard, namely 100 ppm