e-jurnal Politeknik Negeri Nusa Utara
Not a member yet
385 research outputs found
Sort by
TEKNOLOGI PENANGANAN DAN PENGAWETAN DI ATAS KAPAL PADA NELAYAN KABUPATEN ACEH BARAT
Teknik penanganan dan pengawetan ikan merupakan hal penting yang harusdilakukan dalam indsutri perikanan. Tujuan dari penanganan dan pengawetan ini yaitu menjagakualitas ikan hingga ke tangan konsumen. Kegiatan penanganan harus dilaksanakan dari huludan hilir, yaitu dari kegiatan penangkapan hingga ke pengolahan menjadi produk. Penanganandan pengawetan yang tepat dan baik dapat menghasilkan komoditas yang prima, nilai jual yangtinggi, dan dapat memperluas akses pasar. Hal ini secara tidak langsung berpotensimeningkatkan pendapatan nelayan. Kegiatan sosialiasi dilaksanakan di aula Dinas Kelautandan Perikanan (DKP) Kabupaten Aceh Barat. Tujuan kegiatan ini dilaksanakan yaitu untukmemberikan pemahaman kepada nelayan terkait cara penanganan ikan yang baik di atas kapaldan teknik pengawetan yang bisa dilakukan di atas kapal. Sosialisasi dilaksanakan dua sesi.Sesi pertama memaparkan teknologi penanganan di atas kapal dan sesi kedua teknologipengawetan di atas kapal. Kegiatan sosialisasi ditutup dengan sesi diskusi bersama paranelayan, pada sesi ini banyak informasi-informasi yang diterima dari neayan terkait kondisi dilapangan (laut), sehingga dapat menjadi masukan untuk kami dalam mencari solusi terbaikuntuk para nelayan di Aceh Barat. Salah satu solusi yang diberikan yaitu, mendesign ulangruang palka dengan dengan menambahkan alufo pada bagian insulator palka sehingga bisadimanfaatkan secara optimal dan lebih memperhatikan rasio jumlah es dan ikan selamapenyimpanan di atas kapal sehingga dapat mempertahankan mutu ikan hingga ikan didaratkan.
Fish handling and preservation techniques are important things that must be applied in thefisheries industry. The purpose of this handling and preservation is to maintain the quality ofthe fish until it reaches the consumer. Handling activities must be carried out from upstreamand downstream, namely from fishing activities to processing into products. Proper and goodhandling and preservation could produce prime commodities, high selling value, and expandmarket access. This indirectly has the potential to increase fishermen’s income. Thesocialization activity was carried out in the hall of the Department of Marine Affairs andFisheries (DKP) of West Aceh Regency. The purpose of this activity is to provide fishermenwith an understanding of how to properly handle fish on board and preservation techniquesthat can be applied on board. The socialization was held in two sessions. The first sessionpresented onboard handling technology and the second session preservation technology on board. The socialization activity was closed with a discussion session with the fishermen, inthis session a lot of information was received from fishermen regarding conditions in the field,so that it could be input in finding the best solution for fishermen in West Aceh. One solutiongiven is to redesign the hatch space by adding aluminum foil to the insulator of the hatch sothat it can be used optimally and pay more attention to the ratio of the amount of ice and fishduring storage on the boat so that it can maintain the quality of the fish until the fish is landed
KONTRIBUSI PERAN PEREMPUAN PESISIR TERHADAP KEBUTUHAN EKONOMI KELUARGA DI KAMPUNG PETTA KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi peran perempuan pesisir dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan berapa besar presentase kontribusi perempuan dalam menopang ekonomi keluarga di Kampung Petta Kecamatan Tabukan Utara Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi atau pengamatan yaitu kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan pancaindra. Karena itu, obervasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindera mata serta dibantu dengan pancaindra lainnya untuk menghimpun data penelitian. Rata - rata keuntungan perempuan pesisir Rp 160.000 / hari, rata - rata pendapatan Rp 2.750.000, serta besar kontribusi perempuan pesisir terhadap kebutuhan ekonomi keluarga yaitu sebesar 46,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa Perempuan pesisir mempunyai peran yang penting dalam memenuhi kebutuhan keluarga di Kampung Petta. Perlu adanya kebijakan Pemerintah yang memberikan peluang bagi para perempuan pesisir untuk mengembangkan usaha mereka dan berkontribusi secara aktif bagi masyarakat.
This study aims to determine the contribution of the role of coastal women in fulfilling the economic needs of the family and how much is the percentage in contribution of women in supporting the family economy in Petta Village, Tabukan Utara District, Sangihe Islands Regency. Data collection was carried out by observation, namely human daily activities using the eye senses as their main aid in addition to other senses such as ears, smell, mouth, and skin. Therefore, observation is a person's ability to use his observations through the work of his senses and is assisted by other senses to collect research data. The average profit for coastal women is Rp. 160,000 / day, the average income is Rp. 2,750,000, and the contribution of coastal women to the economic needs of the family is 46,5 %. This shows that coastal women have an important role in fulfill the needs of families in Petta Village. There needs a government policy that provides opportunities for coastal women to develop their businesses and contribute actively to society
PEMBUATAN AKUARIUM DAN SIRKULASI AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN GIRU Amphiprion sp. DI KAMPUNG TALENGEN KECAMATAN TABUKAN TENGAH
Akuarium secara umum selalu dijadikan sebagai wadah untuk membudidayakan ikan hias, baik ikan air tawar maupun air laut. Salah satu jenis ikan hias air laut yang dibudidayakan menggunakan akuarium yaitu ikan giru atau yang lebih dikenal dengan nama ikan badut, klon atau nemo. Membudidayakan ikan giru di dalam akuarium mengharuskan adanya substrat yang baik untuk ikan giru yang memberikan perlindungan dan tempat berteduh untuk ikan giru serta sirkulasi air yang baik untuk menjaga kualitas dan kuantitas air sebagai media pemeliharaan ikan itu. Kegiatan pengabdian kemitraan masyarakat ini dilakukan kepada kelompok masyarakat di Kampung Talengen yang bertujuan memberi pengetahuan tentang pembuatan wadah akuarium dan sirkulasi air dalam budidaya ikan giru. Kegiatan ini dilakukan mencakup kunjungan lapangan (survei), penyampaian materi, pelatihan, evaluasi dan monitoring. Hasil kegiatan yang telah dilakukan menunjukkan kelompok masyarakat Kampung Talengen sudah mengenal dan dapat membuat akuarium secara mandiri serta menyusun shelter berupa mangkuk tanah liat sebagai substrat tempat penempelan anemone dan pompa filter. Selanjutnya hasil evaluasi dan pemantauan menunjukkan masyarakat Kampung Talengen tidak menghadapi kendala dalam membuat akuarium. Hanya saja dalam penanganan ikan giru tahap awal perlu dilakukan secara baik untuk mengurangi tingkat stress ikan dan anemone. Beberapa orang dari mereka telah berinisiatif untuk melakukan budidaya ikan giru di akuarium yang sudah ada. Hal tersebut menunjukkan penerimaan masyarakat untuk menerapkan teknologi budidaya ikan hias air laut menggunakan akuarium yang relatif baru di Kampung Talengen.
Aquariums have been effectively used for rearing both freshwater and seawater ornamental fish. One important marine ornamental fish cultivable in an aquarium is the clownfish or better known as nemo. Rearing clownfish in an aquarium requires good substrates for anemones that provide the clownfish with protection and shelter as well as good water circulation to maintain water quantity and quality as a rearing medium for the fish. Conducted in Talengen village, this community partnership service aimed to provide knowledge to Talengen village’s community on how to design aquarium well equipped with water circulation for clownfish cultivation. This community service involved field survey, demonstrations on how to construct aquarium, substrate for anemone and water pump, training, evaluation and monitoring. The results showed that the community in Talengen Village already knew how to build a fish aquarium, created shelter in form of a clay bowl as a substrate for anemone and installed water filter pumps for maintaining water quality. Although the local people did not have any problems in constructing an aquarium equipped with substrate for anemone and water circulation, they need further training on how to handle clownfish and anemones properly to reduce the animals’ levels of stress. With our team’s help, however, the people in the village have taken initiative to cultivate clownfish in aquariums provided through this community service, strongly suggesting the public's acceptance of the relatively new technology the practice of clownfish cultivation introduced to them
FAKTOR LINGKUNGAN FISIK RUMAH DAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH PESISIR
Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberculosis. TB merupakan salah satu dari sepuluh tertinggi penyebab kematian di seluruh dunia. Di Indonesia angka kematian akibat TB mencapai 140.000 orang per tahun. Di Kabupaten kepulauan Sangihe Tuberkulosis Paru masih menjadi masalah kesehatan. Pada tahun 2018 jumlah kasus TB di Wilayah Puskesmas Manenete berjumlah 21 kasus dan terjadi peningkatan kasus pada tahun 2019 menjadi 44 kasus.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan fisik rumah dengan kejadian TB Paru di Wilayah Puskesmas Manente. Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Hasil analisis bivariat menggunakan uji chi square menunjukkan variabel kepadatan hunian, ventilasi rumah serta jenis dinding rumah memiliki P value kurang dari 0.05 ( kurang dari 0.05). Untuk variabel jenis lantai diperoleh nilai P value lebih dari 0.05 (lebih dari 0.05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kepadatan hunian, ventilasi rumah dan jenis dinding rumah dengan kejadian TB Paru serta tidak terdapat hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadia TB Paru di Wilayah Puskesmas Manente. Pemerintah dan instansi terkait perlu melakukan promosi kesehatan secara rutin terkait upaya pencegahan TB Paru serta mengedukasi masyarakat untuk dapat meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Tuberculosis (TB) is a chronic bacterial infection caused by Mycobacterium tuberculosis. TB is one of the top ten causes of death worldwide. Death caused by TB amount 140,000 people in a year. In Sangihe District, Pulmonary Tuberculosis was a health problem. In 2018 the number of TB cases in Manente Health Center area were 21 cases and increased in 2019 44 cases. The purpose of this study was to determine the relationship between house physical condition factors with the incidence of pulmonary tuberculosis in the Manente Health Center area. Those reseach were analytic survey research with a cross sectional approach. The results of bivariate analysis used the Chi Square Test showed that the variables of house density, house ventilation and type of house walls had a P value of less than 0.05 (less than 0.05). For the floor type variable, the P value was more than 0.05 (more than 0.05). Based on the results the reaseach concluded that those was a relationship between house density, house ventilation and type of house wall with the incidence of Pulmonary Tuberculosis and there was no relationship between the type of floor of the house and the incidence of Pulmonary Tuberculosis in Manente Health Center area. The government and related officer need to carry out regular health promotions about how to prevent Pulmonary Tuberculosis and educate the public able to increase endurance by implementing a clean and healthy lifestyle
PENERAPAN ADAPTASI PSIKOSOSIAL PADA MASYARAKAT PASCA TRAUMA BENCANA ALAM DI KAMPUNG LEBO KECAMATAN MANGANITU
Kejadian gangguan psikososial biasanya mulai muncul segera setelah bencana terjadi (60 persen). Angka kejadian akan turun seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi, hal ini tidak menutup kemungkinan gangguan psikososial akan muncul pada rentang waktu lama setelah terjadinnya bencana. Selain itu, resiko terjadinya gangguan psikososial juga semakin menurun jika tiak terjadi cedera fisik yang berarti dan kehilangan orang terdekat. Tujuan PKMS ini yaitu mengurangi dampak psikologi pasca trauma bencana alam akibat kehilangan berduka terhadap keluarga dan harta benda. Kegiatan penyuluhan dilakukan dari rumah ke rumah hal ini dilakukan karena pandemi Covid-19, dimana tim pengabdian mengunjungi rumah-rumah keluarga yang terdampak dengan bencana alam kampung Lebo Kecamatan Manganitu, kemudian melakukan Intervensi Adaptasi Psikologis pada keluarga, kecemasan yang dirasakan oleh keluarga yang mengalami trauma pasca bencana dapat berkurang dengan selalu melakukan tindakan yang sudah diberikan jika rasa takut/cemas datang kembali. Setelah diberikan penyuluhan dan pemberian intervensi adapatsi psikologis pada masyarakat terdampak bencana alam dikampung Lebo Kecamatan Manganitu dapat mengurangi resiko terjadinya depresi akibat kecemasan yang berlebihan karena kehilangan harta benda dan anggota keluarga lainnya.
The incidence of psychosocial disorders usually start immediately after the disaster (60 percent). The incidence rate will decrease over time. However, this does not rule out the possibility that psychosocial disorders will appear for a long time after the disaster. In addition, the risk of developing psychosocial disorders also decreases if there is no significant physical injury and loss of loved ones. The goal of PKMS was reduce the psychological impact of post-traumatic natural disasters due to loss of grief to family and property. Outreach activities were carried out by door to door, those was done because of the Covid-19 pandemic, where the community service team visite the home of families who impact by natural disasters in Lebo village, Manganitu District, then carried out Psychological Adaptation Interventions on families, anxiety felt by traumatized families Post-disaster can be reduced by always take the action that have been given if fear / anxiety returns. After being given counseling and psychological adaptation interventions to peole in Lebo affected by natural disaster, Manganitu District, it can reduce the risk of depression due to excessive anxiety due to loss of property and other family members
PROGRAM KEMITRAAN MASYARAKAT STIMULUS PEMBUATAN PAKAN PROBIOTIK DARI BAKASANG UNTUK MENINGKATKAN SISTEM IMUN DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT IKAN DI KAMPUNG BENGKA, KECAMATAN MANGANITU, KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Budidaya ikan yang dilakukan oleh pembudidaya di Kampung Bengka, Kecamatan Manganitu masih bersifat tradisional dan sampai saat ini masih menggunakan pakan dari pabrik sebagai pakan utama dari ikan yang dibudidayakan. Kegiatan penerapan Program Kemitraan Pada Masyarakat Stimulus (PKMS) ini bertujuan untuk membantu petani ikan di Kampung Bengka Kecamatan Manganitu dalam pembuatan pakan probiotik dari bahan baku bakasang untuk meningkatkan sistem imun ikan, menanggulangi masalah penyakit ikan yang disebabkan oleh berbagai jenis patogen dan juga meningkatkan pertumbuhan ikan. Tahapan pelaksanaan kegiatan ini meliputi: penjelasan pengertian penyakit, faktor-faktor penyebab, cara-cara pencegahan dan pengobatan serta pembuatan pakan probiotik dari bakasang untuk meningkatkan sistem imun ikan. Dengan pemahaman yang benar dan kemampuan untuk melakukan tindakan apabila timbul masalah penyakit di lokasi budidaya, petani–petani ikan di daerah ini akan mampu menekan kerugian akibat penyakit dan dengan demikian penghasilan para petani dapat ditingkatkan. Selanjutnya hal ini akan berdampak pada peningkatan usaha budidaya ikan air tawar.
Fish farming carried out by farmers in Kampung Bengka, Manganitu District is still traditional in nature and is still using factory feed as the main feed for cultivated fish. The activity of implementing the Partnership Program in the Community Stimulus (PKMS) aims to help fish farmers in Kampung Bengka, Manganitu District in making probiotic feed from raw raw materials to increase the fish immune system to overcome fish disease problems caused by various types of pathogens and also to increase fish growth. The stages of the implementation of this activity include: explanation of the definition of disease, causative factors, methods of prevention and treatment as well as making probiotic feed from bakasang to increase the fish's immune system. With the correct understanding and the ability to take action if disease problems arise in the cultivation location, fish farmers in this area will be able to reduce losses due to disease and thereby increase the farmers' income. Furthermore, this will have an impact on increasing freshwater fish cultivation businesses
PELATIHAN KESEHATAN DENGAN PENDEKATAN HEALTH BELIEF MODEL MENINGKATKAN PENGETAHUAN WANITA MENOPAUSE TENTANG RESIKO OSTEOPOROSIS
Menopause adalah salah satu periode pada kehidupan setiap wanita. Penurunan estrogen pada masa menopause menurunkan kepadatan tulang yang mengakibatkan osteoporosis. Salah satu upaya pencegahan osteoporosis adalah senam osteoporosis. Namun banyak Wanita menopause yang tidak memahami resiko osteoporosis dan tidak melakukan upaya pencegahan dengan senam osteoporosis. Tujuan dari kegiatan pengabdian kesehatan masyarakat (PKM) ini meningkatkan pengetahuan Wanita menopause tentang resiko osteoporosis dan keterampilan kader kesehatan dalam mengajarkan senam osteoporosis. Sasaran PKM adalah kader kesehatan dan wanita menopause. Metode pelaksanaan PKM meliputi pembuatan media pendidikan kesehatan berupa leaflet dan video senam osteoporosis, pelatihan kader secara online dan pendidikan kesehatan dengan pendekatan health belief model. Hasil PKM adalah peningkatan pengetahuan wanita menopause tentang resiko osteoporosis dan peningkatan keterampilan kader kesehatan untuk mengajarkan senam osteoporosis. Rekomendasi bagi para kader kesehatan untuk selalu memotivasi para wanita menopause untuk melakukan senam guna mencegah terjadinya osteoporosis pada masa menopause.
Menopause is a period in every woman's life. The decrease in estrogen during menopause reduces bone density, resulting in osteoporosis. One of the efforts to prevent osteoporosis is osteoporosis exercise. However, many postmenopausal women did not understand the risk of osteoporosis and did not had efforts to prevent osteoporosis. The purpose of this community health service activity was to increase the knowledge of menopausal women about the risk of osteoporosis and the skills of health cadres in teaching osteoporosis exercises. Activity’s target were health cadres and postmenopausal women. The method of this activity was making health education media in the form of leaflets and videos of osteoporosis exercises, online cadre training, and health education with a health belief model approach. The results of this activity were increasing knowledge of postmenopausal women about the risk of osteoporosis and skills of health cadres to teach osteoporosis exercise. Recommendations for health cadres to always motivate menopausal women to do exercise to prevent osteoporosis
Artikel TEKNIK PEMBUATAN GADING PERAHU PENANGKAP IKAN TIPE PAMO DI KAMPUNG PARA SALENGKERE KECAMATAN TATOARENG
Proses pembuatan gading perahu merupakan salah satu tahapan yang penting dan sangat menentukan dalam pembuatan perahu berbahan kayu, karena dalam konstruksi kapal, gading berfungsi selain untuk memperkuat kapal dari terjangan gelombang juga berfungsi dalam pembentukan badan kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pembuatan gading perahu penangkap ikan tipe pamo di Kampung Para Salengkere Kecamatan Tatoareng. Penelitian dilakukan dengan melaksanakan observasi atau pengamatan langsung dan partisipasi aktif dalam pembuatan dan pemasangan gading perahu tipe pamo. Secara umum teknik pembuatan gading perahu tipe pamo di Kampung Para Salengkere Kecamatan Tatoareng menggunakan bahan kayu kapuraca (Callophyllum inophyllum) yang dalam bahasa lokal disebut dingkaleng yang tahan terhadap air laut, kuat dan memiliki serat yang padat. Pada proses pembuatan gading terdapat beberapa bentuk gading yang di buat untuk 1 (satu) unit perahu yaitu gading berbentuk huruf “V” pada bagian haluan dan bentuk huruf “U” pada midship sampai buritan perahu dan pemasangannya di mulai dari bagian linggi depan perahu ke arah buritan. Jumlah gading yang dipasang pada perahu tipe pamo yang dibuat berjumlah ganjil sebanyak 23 buah dengan jarak antar gading 28 cm.
The process of making hull frame represents one the most important and crucial stages in building wooden boats because in ship construction, frames function to strengthen the ship from waves and to form a ship's hull. This reserach aimed to determine the technique of making “pamo”-type hull frame in Para Salengkere Village, Tatoareng District. We applied field observation and active participation in building pamo-type hull frame in Para Salengkere Village, Tatoareng District using local wood known as “kapuraca” or “dingkaleng” because of its resistance to sea water, strong and dense fibers. We used V shaped frame on the bow, round bottom (RB) at midship and "U" shape at the stern of the boat and the installation starts from the front height of the boat towards the stern. We installed an odd number (23) of tusks with a distance of 28 cm among the tusks
ASUHAN KEPERAWATAN KETIDAKNYAMANAN PASCA PARTUM DI RUANGAN DAHLIA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LIUN KENDAGE TAHUNA
Persalinan dapat menyebabkan luka di daerah perineum sehingga akan menyebabkan ketidaknyamanan pasca partum berupa nyeri pada luka jahitan perineum. Ketidaknyamanan pasca partum merupakan perasaan tidak nyaman yang berhubungan dengan kondisi setelah melahirkan. Tujuan penelitian adalah menerapkan asuhan keperawatan ketidaknyamanan pasca partum di ruangan Dahlia Rumah Sakit Daerah Liun Kendage Tahuna. Metode penelitian adalah studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, dengan subyek penelitian yaitu dua ibu pasca partum. Hasil penelitian ini dilakukan dengan menerapkan proses keperawatan. Tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu mengidentifikasi nyeri pada ibu, mengontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri, membatasi pengunjung yang datang, mengajarkan teknik nonfarmakologis yaitu teknik relaksasi napas dalam, monitor tanda-tanda vital, mengajarkan kepada ibu untuk beraktivitas yang ringan seperti berjalan disekitar ruangan dan duduk dan menganjurkan kepada ibu agar perineum tetap bersih dan sesering mungkin mengganti pembalut. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa perasaan nyaman yang berhubungan dengan kondisi setelah melahirkan meningkat. Saran diharapkan ibu nifas dapat mempertahankan kebersihan perineum pada saat masa nifas sehingga penyembuhan luka perineum ibu dapat berjalan dengan normal dan merasakan kenyamanan pasca partum.
Childbirth can cause injury in the perineal area so that it will cause post-partum discomfort in the form of pain in the perineal suture wound. Post partum discomfort is the feeling of discomfort associated with the postpartum condition. The research objective was to apply Postpartum Discomfort Nursing Care in the Dahlia room Public Hospital Liun Kendage Tahuna. The research method was a case study with a nursing process approach, with the research subject, namely two post-partum mothers. The result of this study were conducted by applying the nursing process. Nursing actions taken are identifying pain in the mother, controlling the environment that aggravates the pain, limiting visitors who come, teaching non-pharmacological techniques, namely deep breathing relaxation techniques, monitoring vital signs, teaching mothers to do light activities such as walking around the room and sat down and advised the mother to keep the perineum clean and to change the pads as often as possible. The conclusion of this study shows that the feeling of comfort associated with postpartum conditions increases. Suggestion It is hoped that postpartum mothers can maintain perineal cleanliness during the puerperium so that the healing of the mother's perineal wounds can run normally and feel comfortable after partum
PENGALAMAN KELUARGA MENGHADAPI TRAUMA PASCA BENCANA ALAM DI KAMPUNG LEBO KECAMATAN MANGANITU
Bencana tidak bisa lepas dari siapapun jika sudah kehendak sang kuasa pasti akan terjadi, dan keluarga yang mengalami dampak dari bencana alam ini harus bisa menerima setiap kenyataan hidup yang sudah terjadi. Bencana alam yang dialami membuat keluarga kehilangan rumah, harta benda bahkan anggota keluarga yang sangat dikasihi. Pengalaman yang sangat menyakitkan ini adalah bagian dari kehidupan yang harus dijalani pasca bencana alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan pengalaman keluarga menghadapi bencana alam di kampung Lebo. Metode : penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif fenomenologi dengan teknik wawancara mendalam kepada 6 keluarga yang terdampak bencana alam di Kampung Lebo Kecamatan Manganitu. Analisis data yang digunakan mengacu pada tujuh langkah teknik analisis data collaizi. Hasil : Penelitian ini menunjukkan keluarga merasakan dampak trauma pasca bencana alam sehingga ditemukan tujuh tema besar yaitu 1) Tanda awal bencana, 2) Respon terhadap banjir, 3) Beban psikologi 4) Jenis dukungan, 5) Beban ekonomi, 6) Makna setelah terjadi bencana, 7) Harapan untuk Lebo. Tujuh tema tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain dan merupakan pengalaman hidup partisipan menghadapi pasca trauma bencana alam. Kesimpulan : Akibat dari kejadian ini menyebabkan keluarga mengalami beban psikologi karena kehilangan barang berharga. Meskipun sulit menerima kenyataan harus kehilangan yang orang yang dikasihi serta benda berharga tetapi dukungan yang selalu datang dari berbagai pihak sehingga keluarga mengurangi beban yang dialami. Dengan kejadian ini keluarga mengalami perubahan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Melalui kejadian ini keluarga menyadari bahwa ini kehendak sang pencipta sehingga harapan kedepan bencana alam ini tidak akan terjadi lagi di kampung.
Disasters cannot be separated from anyone if the power has the will of it, it will definitely happen, and families who experience the impact of this natural disaster must be able to accept it. The natural disasters experienced have made families lose their homes, property and even loved family members. This painful experience is a part of life that must be lived after a natural disaster. The purpose of this study is to describe the experiences of families facing natural disasters in Lebo village. Methods: This study used a phenomenological qualitative research method with in-depth interviews with 6 (six) families affected by natural disasters in Lebo Village, Manganitu District. The data analysis used refers to the seven steps of the Collaizi data analysis technique. Results: Those study showed that families feel the impact of trauma after natural disasters so that seven major themes were found, 1) Early signs of disaster, 2) Response to flood, 3) Psychological burden 4) Types of support, 5) Economic burden, 6) Meaning after a disaster, 7) Hope for Lebo. The seven themes were interconnected with one another and represent the life experiences of the participant in dealing with natural disasters. Conclusion: The consequences of those incident caused the family to experience a psychological burden due to the loss of valuables. Even though it was difficult to accept the fact that you were lose loved ones and valuable objects, support always come from all people so that the family could reduces the burden experienced. With this incident the family experienced economic changes in meeting their daily needs. Through those incident the family realized those was the creator's will so that in the future this natural disaster would not happen again in the Lebo village