Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
28972 research outputs found
Sort by
ANALISIS HUBUNGAN KINERJA PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN KEPATUHAN PASIEN DALAM PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI RUMAH SAKIT X SURAKARTA
Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol pada pasien rawat jalan dapat menyebabkan pengobatan yang tidak efektif dan meningkatkan risiko resistensi antibiotik. Menurut WHO, sekitar 700.000 kematian per tahun diakibatkan oleh infeksi resisten antibiotik. Kepatuhan pasien dalam penggunaan antibiotik sangat penting untuk keberhasilan terapi, dan pelayanan kefarmasian berperan dalam meningkatkan pemahaman serta kepatuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan pasien rawat jalan dalam penggunaan antibiotik dan menganalisis hubungan antara kinerja pelayanan kefarmasian dengan kepatuhan pasien di Rumah Sakit X Surakarta. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 100 pasien rawat jalan yang menerima resep antibiotik, dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner MMAS-8 untuk kepatuhan dan kuesioner berbasis standar Pelayanan Informasi Obat (PIO) untuk kinerja pelayanan kefarmasian. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Chi-Square. Sebanyak 68% pasien rawat jalan dikategorikan patuh dalam penggunaan antibiotik. Karakteristik responden menunjukkan mayoritas berusia 36–45 tahun (37%), berjenis kelamin perempuan (76%), berpendidikan terakhir SMA/SMK/MA (36%), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (35%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara kinerja pelayanan kefarmasian dengan kepatuhan pasien (p-value = 0,533; p > 0,05). Tingkat kepatuhan pasien rawat jalan dalam penggunaan antibiotik di Rumah Sakit X Surakarta tergolong tinggi (68%), namun kinerja pelayanan kefarmasian tidak berhubungan signifikan dengan kepatuhan pasien. Faktor lain seperti pemahaman pasien dan dukungan sosial perlu diteliti lebih lanjut untuk meningkatkan kepatuhan
DETERMINAN PERILAKU MEROKOK PADA MAHASISWA DI ORGANISASI IKATAN MAHASISWA TORAJA DI MANADO (IKMA TORNADO)
Perilaku merokok di kalangan mahasiswa semakin meningkat, terutama karena mereka berada dalam fase transisi menuju kedewasaan dan cenderung dipengaruhi oleh faktor sosial dan psikologis. Data menunjukkan bahwa prevalensi merokok di Indonesia terus naik, dengan jumlah perokok baru yang signifikan, terutama di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan determinan mahasiswa terhadap perilaku merokok. Penelitian ini dilakukan di Organisasi Ikatan Mahasiswa Toraja di Manado (IKMA TORNADO) dengan jenis penelitian deskritif analisis univatiat dan bivariat, menggunakan teknik total sampling. Populasi pada penelitian ini sebanyak 220 orang dengan sampel sebanyak 220 responden. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner, aplikasi Microsoft Excel dan Statistical Programme for Social Science (SPSS). Hasil penelitian diperoleh bahwa 60.0% responden memiliki pengetahuan yang kurang baik, 88.6% responden terpengaruh dari orang tua, dan 95.0 % responden terpengaruh oleh teman sebaya. Terdapat 3 variabel yang berhubungan dengan perilaku merokok yaitu pengetahuan tentang bahaya rokok (p-value=0,003), pengaruh orang tua (p-value=0,002) dan pengaruh teman sebaya (p-value=0,003). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa IKMA TORNADO memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang bahaya merokok dan Sebagian besar terpengaruh oleh orang tua serta teman sebaya dalam perilaku merokok. Mayoritas mahasiswa di IKMA TORNADO merokok dan terdapat hubungan antara pengetahuan, pengaruh orang tua dan pengaruh teman sebaya dengan perilaku merokok
EFEKTIVITAS PULSE OXIMETRY SEBAGAI SKRINING PENYAKIT JANTUNG BAWAAN KRITIS BAYI BARU LAHIR : LITERATUR REVIEW
Penyakit jantung bawaan (PJB) kritis merupakan salah satu klasifikasi dari PJB yaitu malformasi struktur jantung sejak lahir dan memerlukan intervensi segera dalam satu tahun kehidupan. Penyakit ini dapat dideteksi menggunakan pulse oximetry screening. Literature review ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pulse oximetry screening dalam skrining PJB kritis pada bayi baru lahir. Sumber data yang digunakan adalah original article, original investigation, dan original research mengenai efektivitas pulse oximetry screening untuk mendeteksi PJB kritis pada bayi baru lahir. Artikel berbahasa Inggris, menggunakan e-database dari Pubmed, Proquest, dan ScienceDirect. Artikel dilakukan ekstraksi data, item data, dan sintesis hasil untuk menjawab tujuan penelitian. Ada 8 artikel yang telah ditelaah, didapatkan bahwa pulse oximetry screening memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi pada beberapa penelitian. Usia bayi baru lahir menentukan hasil penelitian ini. Terdapat penelitian yang melakukan skrining pada usia < 12 jam, 12-24 jam, dan 24-48 jam. Selain itu, berbagai jenis PJB kritis dapat dideteksi melalui pulse oximetry dan pemeriksaan ekokardiografi. Pemeriksaan laboratorium dan USG dapat menjadi pemeriksaan penunjang jika didapatkan hasil negatif pada pulse oximetry screening untuk menyingkirkan penyebab infeksi. Pulse oximetry screening efektif sebagai deteksi dini PJB kritis. Hal ini diketahui dari angka sensitivitas dan spesifitas yang tinggi pada skrining ini. Dan jenis-jenis PJB kritis dapat diketahui dengan pemeriksaan ekokardiografi
PENGARUH PEMBERIAN AROMATERAPI EUCALYPTUS OIL PADA BALITA USIA 1-3 TAHUN DENGAN ISPA
ISPA masih jadi permasalahan kesehatan di Indonesia sebab akibatnya yang lumayan besar untuk penderitanya, terutama pada orang dewasa serta anak- anak. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2018 menyebutkan jika 56,51% anak- anak Indonesia yang berumur 1-4 tahun mengidap ISPA.metodologi single group pretest-posttest, menggunakan desain praeksperimen. yang dilakukan pada bulan April - Mei tahun 2025. Sampel peneliti sebanyak 17 balita usia 1-3 tahun yang mengalami ISPA Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling, Variable penelitian ini adalah variable independen dan dependen, Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji Wilcoxon untuk membandingkan kondisi balita sebelum dan sesudah intervensi.Sebelum dilakukan intervensi,berada pada ISPA sedang yaitu 7 orang anak (64,7%), 4 orang anak (35,3%) berada pada kategori ISPA ringan. setelah dilakukan intervensi,4 orang anak (35,3%) dinyatakan sembuh, sedangkan 7 orang anak (64,7%) masuk ke kelompok ISPA ringan. Analisis statistik Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p 0,01. Angka ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kondisi sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi minyak kayu putih karena lebih kecil dari taraf signifikansi yang ditetapkan (α 0,05).Dari penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa pemberian aromaterapi eucalyptus oil berpengaruh terhadap penurunan gejala ISPA pada balita usia 1-3 tahun di Desa Binor Kecamatan Paiton.Terjadi perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi, yang ditunjukkan melalui penurunan gejala ISPA yang semula sedang berubah menjadi ISPA ringan
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DI POSBINDU KELURAHAN KAMPUNG JAWA KOTA TOMOHON
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas global, dikenal sebagai "silent killer" karena sering tidak menunjukkan gejala awal. Prevalensi hipertensi yang tinggi di Indonesia, termasuk di Kota Tomohon, menandakan pentingnya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang faktor risiko hipertensi. Posbindu sebagai sarana deteksi dini dan edukasi komunitas memiliki peran strategis dalam mengedukasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pengetahuan tentang faktor risiko hipertensi di Posbindu Kelurahan Kampung Jawa, Kota Tomohon. Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel adalah 77 orang dari 89 peserta Posbindu yang diambil dengan teknik total sampling. Instrumen berupa kuesioner berbasis Taksonomi Bloom, mencakup enam level kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 83,1% responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi, dengan distribusi tertinggi pada kategori "mengingat" (C1) sebesar 80,5% dan terendah pada "mencipta" (C6) sebesar 24,7%. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi untuk meningkatkan kemampuan evaluatif dan kreatif dalam pencegahan hipertens
GAMBARAN KELUHAN SUBJEKTIF KELELAHAN MATA PADA PEGAWAI PENGGUNA KOMPUTER DI KPU KABUPATEN SABU RAIJUA
Perkembangan teknologi digital menjadikan komputer sebagai alat utama dalam menunjang aktivitas kerja di berbagai sektor, termasuk instansi pemerintahan. Penggunaan komputer dalam durasi panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, salah satunya adalah kelelahan mata. Kondisi ini sering diabaikan meskipun berdampak pada kenyamanan dan produktivitas kerja. Fenomena ini perlu menjadi perhatian, khususnya di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Sabu Raijua yang memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan mata dan masih minim penelitian sejenis. Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 31 orang yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Visual fatigue Index (VFI) dan dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 responden (61%) mengalami kelelahan mata. Keluhan lebih banyak dialami oleh responden berusia ≥45 tahun (38,7%), laki-laki (41,9%), masa kerja >4 tahun (41,9%), penggunaan handphone >2 jam/hari (45,2%), tidak melakukan istirahat mata (16,1%), memiliki kelainan refraksi (41,9%), serta bekerja menggunakan komputer >4 jam/hari (25,8%) dan tanpa komputer <2 jam/hari (38,7%). Sebagian besar responden juga tidak menggunakan anti-glare screen (54,8%), kacamata anti radiasi (48,4%), dan bekerja dengan jarak monitor <50 cm (61,3%). Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa kelelahan mata umum terjadi pada pegawai pengguna komputer dengan durasi kerja visual tinggi dan kebiasaan kerja yang belum ergonomis. Diperlukan perhatian khusus pada aspek ergonomi dan edukasi perlindungan mata untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap penglihatan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN PENGGUNAAN REKAM MEDIS ELEKTRONIK (RME) PADA UNIT RAWAT JALAN RUMAH SAKIT BHAYANGKARA DENPASAR
Seluruh fasilitas pelayanan kesehatan diwajibkan menggunakan Rekam Medis Elektronik (RME) diakhir tahun 2023. Kepuasan Pengguna RME dapat berdampak pada penggunaan RME. Tujuan penelitian ini adalah menentukan faktor yang mempengaruhi kepuasan penggunaan RME di poliklinik rawat jalan RS Bhayangkara Denpasar. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan analitik kuantitatif. Sampel penelitian ini berjumlah 95 orang pengguna RME di Unit Rawat Jalan. Variabel dalam penelitian ini adalah karakteristik responden (usia, jenis kelamin, jenis pengguna RME, masa kerja, dan Tingkat Pendidikan), sikap petugas terkait penggunaan RME, harapan kinerja dari RME, kualitas informasi RME, dan kepuasan penggunaan RME (variable terikat). Uji regresi logistik menemukan faktor yang paling berpengaruh terhadap kepuasan pengguna RME di Rumah Sakit Bhayangkara Denpasar adalah sikap pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan pengguna RME dipengaruhi oleh faktor sikap pengguna, kualitas RME, dan harapan kinerja RME. Melihat hal tersebut maka penting bagi rumah sakit untuk melakukan sosialisasi dan pelatihan penggunaan RME
PENINGKATAN KUALITAS HIDUP LANSIA MELALUI EDUKASI DAN PEMERIKSAAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (HIPERTENSI, DIABETES MELITUS DAN KOLESTEROL) BERBASIS ASUHAN KEBIDANAN DI PUSKESMAS LUBUK BINTIALO KECAMATAN BATANG HARI LEKO KABUPATEN MUBA
Penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan kolesterol tinggi merupakan permasalahan kesehatan utama pada lansia yang berdampak terhadap peningkatan morbiditas dan penurunan kualitas hidup. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia melalui edukasi kesehatan dan pemeriksaan penyakit tidak menular berbasis asuhan kebidanan. Kegiatan dilaksanakan di Puskesmas Lubuk Bintialo, Kecamatan Batang Hari Leko, Kabupaten Musi Banyuasin, dengan melibatkan 30 lansia sebagai responden. Intervensi dilakukan melalui penyuluhan dengan metode ceramah, diskusi, dan media cetak, serta pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest terhadap pengetahuan dan sikap peserta. Hasil analisis menggunakan uji Paired Sample t-Test menunjukkan adanya peningkatan signifikan secara statistik pada pengetahuan (p = 0,000 untuk hipertensi dan diabetes melitus; p = 0,004 untuk kolesterol) serta pada sikap (p = 0,000 untuk hipertensi dan kolesterol; p = 0,005 untuk diabetes melitus). Seluruh nilai signifikansi < 0,05 menunjukkan bahwa edukasi dan pemeriksaan yang diberikan mampu meningkatkan pemahaman serta membentuk sikap positif lansia terhadap pencegahan dan pengelolaan penyakit tidak menular. Kegiatan ini juga menghasilkan luaran berupa artikel ilmiah dan penguatan kemitraan dengan tenaga kesehatan setempat. Dengan demikian, program edukasi dan pemeriksaan berbasis asuhan kebidanan terbukti efektif sebagai strategi promotif dan preventif dalam mendukung peningkatan kualitas hidup lansia secara berkelanjutan
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN STUNTING DI DESA BATU AMPAR
Pendahuluan: Stunting adalah kondisi yang disebabkan oleh malnutrisi kronis akibat asupan nutrisi yang tidak mencukupi dalam jangka panjang yang disebabkan oleh penyediaan makanan yang tidak memadai. Tujuan: Untuk menetapkan bagaimana tingkat pendidikan ibu dan status gizi berkaitan dengan terjadinya stunting. Metode: Penelitian ini menggunakan strategi analitik cross sectional. Populasi dan ukuran sampel studi terdiri dari 30 responden, yang ditentukan melalui metode sampel acak dan tes statistik yang disebut Uji Chi-Square. Hasil: Tabel analisis Chi-Square memperlihatkan bahwa angka p untuk kedua variabel berada di bawah 0,05, yang mengindikasikan adanya hubungan antara keadaan gizi dan frekuensi stunting (p = 0,000), serta antara tingkat pendidikan ibu dan frekuensi stunting (p = 0,000). Kesimpulan: Terdapat korelasi yang penting antara prevalensi stunting di Desa Batu Ampar dengan keadaan gizi dan tingkat pendidikan.
Kata kunci: Tingkat Pendidikan, Status Gizi, Stuntin
STATUS ANEMIA MENYEBABKAN PENURUNAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS
Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan kondisi kerusakan ginjal struktural dan fungsional yang berlangsung lebih dari 3 bulan, menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara progresif. Hemodialisis merupakan prosedur penting bagi pasien gagal ginjal kronis. Salah satu komplikasi GGK yang signifikan adalah anemia, yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien secara langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara anemia dan kualitas hidup pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Bantul. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 68 pasien yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner WHO-QoL Bref, sedangkan anemia ditentukan berdasarkan kadar hemoglobin yang diperoleh dari rekam medis pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rho untuk mengetahui hubungan antara variabel yang diteliti. Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kualitas hidup baik (100%, n=68). Tingkat anemia pasien gagal ginjal kronis sebagian besar berada pada kategori anemia sedang (47,1%, n=32), kategori anemia ringan (44,1%, n=30) dan 8,8% (n=6) memiliki anemia berat. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara anemia dan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani hemodialisis (p=0,001). Status anemia dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis. Oleh karena itu, kolaborasi diperlukan untuk memastikan asupan makanan yang tepat dan berpotensi meningkatkan kadar hemoglobin. Perencanaan aktivitas yang disesuaikan dengan kapasitas fungsional pasien terkait dengan status anemia juga sangat direkomendasikan dalam asuhan keperawatan untuk mempertahankan kualitas hidup pasien