Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
    28972 research outputs found

    A CASE REPORT : MEDICAL REHABILITATION ON MALE PATIENT AGED 78 YEARS POST TOTAL KNEE REPLACEMENT GENU SINISTRA EC OSTEOARTHRITIS GENU SINISTRA

    No full text
    Osteoartritis (OA) merupakan penyakit degeneratif sendi yang semakin banyak ditemui, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Osteoartritis lebih sering mengenai sendi penopang berat badan terutama sendi lutut. Angka kejadian osteoarthritis lutut di Indonesia mencapai 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita. Namun hal ini juga turut meningkatkan angka komorbiditas pasien, terutama dalam melakukan aktivitas sehari–hari. Pada pasien OA yang tidak membaik dengan terapi konvensional, Total Knee Replacement (TKR) menjadi salah satu tatalaksana yang mampu memperbaiki keluhan dan disabilitas pasien. TKR merupakan tindakan bedah ortopedi yang paling umum dikerjakan di Amerika Serikat dan angkanya juga terus meningkat pada negara berkembang seperti Indonesia. Pemahaman mengenai prosedur rehabilitasi sebelum dan sesudah operasi rekonstruksi menjadi penting dalam keberhasilan prosedur TKR. Pasien laki-laki usia 78 tahun dengan diagnosis OA Genu Sinistra, dilakukan pemeriksaan preoperative hingga follow up pasca 4 Bulan pemasangan TKR. Pasien yang mulanya mengeluh kesulitan melakukan aktivitas sehari hari secara mandiri, pasca tindakan mengalami kemajuan dan perbaikan kualitas hidup

    Tinjauan Kesiapan Pelaksanaan Rekam Medik Elektronik di Puskesmas Sungai Mesa Banjarmasin

    No full text
    Rekam medis yang berisi informasi penting mengenai identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan medis lainnya, harus dikelola dengan akurat dan aman. Puskesmas Sungai Mesa, yang saat ini sedang dalam proses transisi dari sistem konvensional ke digital, menjadi fokus penelitian ini untuk mengevaluasi tingkat kesiapan penerapan RME. Kesiapan yang baik dalam penerapan RME sangat penting agar sistem dapat berjalan dengan optimal dan menghindari masalah di masa depan. Tujuan penelitian ini adalah untuk meninjau kesiapan pelaksanaan Rekam Medik Elektronik (RME) di Puskesmas Sungai Mesa Banjarmasin. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalaui wawancara dengan kepala puskesmas, petugas rekam medis, dan dokter untuk mengidentifikasi kesiapan budaya, kepemimpinan, dan strategi dalam implementasi RME. Hasil penelitian menunjukkan kesiapan puskesmas yang baik dalam menerapkan RME, dengan dukungan budaya organisasi yang positif dan komitmen manajemen yang kuat. Meskipun demikian, tantangan seperti pelatihan staf yang belum merata dan kebutuhan akan dukungan teknis masih perlu diatasi. Kesiapan kepemimpinan terlihat dari langkah-langkah strategis yang diambil, termasuk penyediaan infrastruktur yang memadai dan pelatihan yang terencana. Selain itu, strategi yang jelas dalam transisi ke RME, termasuk evaluasi rutin untuk mengidentifikasi kendala, menjadi faktor penting dalam keberhasilan implementasi. Dengan komitmen yang kuat dari manajemen dan keterlibatan semua pihak, diharapkan RME dapat diimplementasikan secara efektif, memberikan manfaat signifikan bagi pelayanan kesehatan masyarakat

    SOIL TRANSMITTED HELMINTH PADA ANAK USIA 6 BULAN

    No full text
    Sekitar 1,5 miliar (setara dengan 24%) orang diseluruh dunia mengalami helminthiasis. Sebesar 16.263 per 100.000 anak berusia 5-9 tahun mengalami STH yang merupakan beban usia terbesar dalam penyakit ini. WHO mengakui bahwa helminthiasis adalah penyakit infeksi tropis yang terabaikan di seluruh dunia. Infeksi ini sangat umum di daerah subtropis dan tropis dengan sanitasi yang buruk, praktik kebersihan yang tidak memadai, dan faktor sosial ekonomi berkontribusi terhadap tingkat penularan yang tinggi. Pentingnya pemahanan, penatalaksanaan secara komprehensif serta pencegahan terkait infeksi cacing terutama pada anak. Telah dilaporkan bayi laki-laki berusia 6 bulan 3 hari yang dibawa oleh kedua orangtuanya dengan keluhan BAB keluar cacing 1 minggu sebelumnya disertai dengan penurunan berat badan. Anak memiliki kebiasaan memasukkan tangan ke dalam mulut. Status gizi kurang dengan perawakan normal. Tanda vital dalam batas normal dan tidak ditemukan konjungtiva anemis. Diagnosa helminthiasis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik, hasil allo-anamnesa dari orangtua pasien, dan dokumentasi visual cacing yang terdapat dalam popok pasien 1 minggu sebelumnya. Dilakukan pemeriksaan feses lengkap namun hanya ditemukan serat tumbuhan. Pasien diberikan pengobatan dengan pirantel pamoat serta dilakukan evaluasi. Satu minggu setelah pengobatan, ibu pasien mendokumentasikan masih terdapat cacing pada popok pasien namun dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Pasien diberikan albendazole dan setelah dievaluasi 1 minggu berikutnya, terjadi perbaikan dan tidak ditemukan efek samping dari pengobatan

    PERBEDAAN AKTIVITAS FISIK DAN PERTUMBUHAN LINEAR SISWA SDIT INSAN PERMATA BERDASARKAN JENIS KELAMIN

    No full text
    Aktivitas fisik pada anak usia sekolah memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan fisik dan kesehatan anak. Salah satu indikator pertumbuhan fisik yang digunakan adalah pertumbuhan linear, yang biasanya diukur melalui tinggi badan yang dikaitkan dengan usia. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan pertumbuhan linear serta perbedaannya berdasarkan jenis kelamin pada siswa kelas V dan VI di SDIT Insan Permata, Kota Malang. Data penelitian dikumpulkan melalui Physical Activity Questionnaire for Children (PAQ-C) untuk menilai tingkat aktivitas fisik, serta pengukuran antropometri untuk menghitung z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) sebagai indikator pertumbuhan linear. Dari total 195 siswa, sebanyak 53% tergolong memiliki aktivitas fisik tinggi, sedangkan 47% termasuk kategori kurang aktif. Sebagian besar responden (93,8%) menunjukkan pertumbuhan linear yang normal, sementara sisanya mengalami gangguan pertumbuhan seperti pendek (stunted). Temuan analisis statistik memperlihatkan ditemukannya pengaruh positif signifikan di antara tingkat aktivitas fisik dan pertumbuhan linear (p < 0,05). Selain itu, terdapat perbedaan tingkat aktivitas fisik berdasarkan jenis kelamin, di mana siswa laki-laki umumnya lebih aktif daripada siswa perempuan. Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor sosial budaya dan biologis, seperti kecenderungan pubertas dini pada perempuan. Temuan ini menegaskan pentingnya aktivitas fisik yang memadai dalam mendukung pertumbuhan linear anak usia sekolah, serta perlunya lingkungan sekolah yang mendorong gaya hidup aktif untuk mendukung perkembangan anak secara optimal

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PARTISIPASI PASANGAN USIA SUBUR DALAM PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA OEBELO KECAMATAN KUPANG TENGAH TAHUN 2024

    No full text
    Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi menjadi tantangan serius dalam pembangunan nasional, terutama di wilayah seperti Nusa Tenggara Timur yang memiliki angka kelahiran relatif tinggi. Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, di Desa Oebelo, tingkat partisipasi pasangan usia subur (PUS) dalam program KB masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi PUS dalam program KB, meliputi pengetahuan, jumlah anak, budaya, kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dukungan suami, dan peran tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain survei analitik dan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil secara multistage sampling dari 812 PUS di Desa Oebelo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan, budaya, dukungan suami dan peran tenaga kesehatan dengan partisipasi PUS dalam program KB sedangkan tidak ada hubungan antara kepesertaan JKN dan jumlah anak dengan partisipasi PUS dalam Program KB. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan edukatif, dukungan keluarga, serta peran aktif tenaga kesehatan dalam meningkatkan partisipasi KB. Diperlukan intervensi terintegrasi antara pemerintah, petugas kesehatan, dan tokoh masyarakat guna mengatasi hambatan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat program KB dalam menciptakan keluarga yang sehat dan sejahtera

    HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ANEMIA DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI DI SMAN 1 KARTASURA

    No full text
    Remaja merupakan individu yang mengalami masa peralihan antara fase kanak-kanak dan fase dewasa. Pada masa remaja perkembangan dan pertumbuhan terjadi sangat cepat. Namun, remaja juga rentan mengalami masalah kesehatan seperti anemia. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia sebesar 32%. Faktor penyebab terjadinya anemia meliputi tingkat pengetahuan tentang anemia rendah, kebiasaan konsumsi suplemen zat besi atau biasa dikenal tablet tambah darah (TTD), dan kecukupan konsumsi pangan dan pemenuhan kebutuhan zat gizi. studi pendahuluan menunjukkan bahwa SMAN 1 Kartasura memiliki prevalensi anemia sebesar 28,03% dan menjadi alasan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di SMAN 1 Kartasura. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross sectional . Sampel yang digunakan sebanyak 83 orang dan dipilih dengan teknik proportional random sampling . Instrumen kuesioner pilihan ganda digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan anemia dan pemeriksaan kadar hemoglobin dengan metode cyanmethemoglobin digunakan untuk menentukan status anemia. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis hubungan adalah uji korelasi Rank Spearman’s dikarenakan data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan anemia dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 1 Kartasura dengan p 0,002 (< 0,05). Pihak sekolah diharapkan dapat memberikan edukasi mengenai anemia dan pencegahannya dengan kerjasama puskesmas terdekat maupun instansi kesehatan lainny

    ANALISIS BAHAYA DAN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PEKERJA DI BAGIAN INSTALASI GIZI RSU GMIM BETHESDA TOMOHON

    No full text
    Kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit tidak hanya menjadi perhatian utama di ruang medis seperti ruang operasi dan laboratorium, tetapi juga di area non-medis seperti instalasi gizi. Di balik aktivitas memasak, memotong, dan menyajikan makanan, terdapat berbagai potensi bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pekerja di instalasi gizi terlibat dalam berbagai aktivitas harian yang memiliki potensi bahaya baik dari aspek fisik, kimia, maupun ergonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis bahaya, menilai tingkat risiko dan menyusun rencana pengendalian terhadap potensi bahaya yang ada di lingkungan kerja instalasi gizi RSU GMIM Bethesda Tomohon. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis Penelitian Kualitatif. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari - Juni 2025. Informan dalam penelitian ini berjumlah 6 orang yang terdiri dari kepala instalasi gizi, tenaga pengolahan makanan, tenaga pramusaji, dan tim K3. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa potensi bahaya yang mencakup faktor lingkungan seperti lantai licin dan suhu panas, faktor alat seperti peralatan tajam dan bahan kimia, serta faktor manusia seperti posisi kerja yang tidak ergonomis dan risiko infeksi silang. Dari hasil penilaian risiko, ditemukan bahwa sebagian besar aktivitas tergolong dalam kategori low risk dan medium risk, namun terdapat beberapa aktivitas yang memiliki high risk, terutama pada proses memotong dan memasak bahan makanan yang melibatkan peralatan tajam dan paparan panas yang tinggi. Selanjutnya, hasil pengendalian risiko yang dapat dilakukan meliputi kepatuhan penggunaan alat pelindung diri, perbaikan sarana fisik seperti ventilasi ruangan, serta pelatihan tentang ergonomi kerja

    FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PARTISIPASI SUAMI SEBAGAI AKSEPTOR KELUARGA BERENCANA DI INDONESIA

    No full text
    Partisipasi pria pasangan usia subur dalam program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia masih tergolong rendah dan menjadi tantangan dalam upaya pengendalian laju pertumbuhan penduduk. Ketimpangan penggunaan kontrasepsi yang masih didominasi oleh perempuan menunjukkan bahwa partisipasi pria sebagai akseptor KB belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi suami sebagai akseptor KB di Indonesia berdasarkan teori Lawrence Green, yang mencakup faktor predisposisi, faktor pemungkin, dan faktor penguat. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan kuantitatif-deskriptif terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan dalam rentang waktu 2021 hingga 2025. Artikel dikumpulkan dari Google Scholar, Portal Garuda, dan ResearchGate yang membahas hubungan antara berbagai variabel dengan partisipasi pria dalam KB. Dari hasil pengumpulan data diperoleh 27 artikel ilmiah yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil Literature review teridentifikasi variabel penelitian yang merupakan faktor yang berhubungan dengan partisipasi suami sebagai akseptor KB sebanyak 20 variabel. Variabel yang ditemukan terdiri atas 12 variabel yang termasuk dalam faktor predisposisi. Faktor predisposisi yang ditemukan antara lain : pengetahuan, pendidikan, sikap, jumlah anak, budaya, usia, nilai anak, pekerjaan, motivasi,persepsi sakit, keyakinan, dan pemahaman kontrasepsi. Faktor pemungkin ditemukan sebanyak 5 variabel meliputi ketersediaan informasi, ekonomi, tempat tinggal, akses terhadap pelayaan kesehatan dan jaminan kesehatan. Faktor penguat yang ditemukan ada sebanyak  3 variabel meliputi dukungan istri, petugas kesehatan, dan keluarga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis teori Lawrence Green dapat memberikan gambaran yang komprehensif dalam memahami keterlibatan pria dalam program KB. Oleh karena itu, diperlukan strategi intervensi yang berfokus pada peningkatan pengetahuan, penguatan dukungan sosial, dan penyediaan layanan kontrasepsi yang ramah pria sebagai upaya mendukung keberhasilan program KB nasional

    HUBUNGAN STATUS GIZI DAN MASA KERJA DENGAN GANGGUAN KAPASITAS PARU PADA PEKERJA TEKSTIL DI PT X SRAGEN

    No full text
    Industri tekstil merupakan sektor vital yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan kerja, khususnya gangguan pernapasan, akibat paparan debu dan serat. Selain paparan lingkungan, faktor individu seperti status gizi dan masa kerja juga diduga berperan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi (IMT) dan masa kerja dengan gangguan fungsi paru pada pekerja tekstil. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 51 pekerja tekstil di PT. X Sragen yang diambil secara purposive sampling. Data status gizi (IMT) diperoleh melalui pengukuran antropometri, sedangkan gangguan fungsi paru diukur dengan spirometry. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman menggunakan SPSS. Penelitian ini telah disetujui secara etik. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara status gizi dengan gangguan fungsi paru (p-value= 0,000). Nilai korelasi positif moderat (r=0,602) menunjukkan bahwa semakin buruk status gizi (baik obesitas maupun malnutrisi), semakin besar kemungkinan terjadinya gangguan fungsi paru. Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan gangguan fungsi paru (p-value = 0,168), meskipun sebagian besar pekerja dengan masa kerja lebih singkat menunjukkan gangguan paru sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa status gizi menjadi faktor risiko dominan dibandingkan masa kerja dalam memengaruhi fungsi paru pada populasi ini

    ANALISIS PENGULANGAN FOTO RONTGEN PADA MODALITAS DIGITAL RADIOGRAPHY DI INSTALASI RADIOLOGI DI RSUD MUNTILAN

    No full text
    Digital Radiography (DR) adalah teknologi pencitraan radiologi yang memungkinkan pengambilan gambar sinar-X tanpa menggunakan kaset, sehingga mempercepat alur kerja, meningkatkan kualitas gambar, dan pelayanan pasien. Namun, pengulangan foto rontgen masih dapat terjadi akibat berbagai kesalahan teknis seperti gambar terpotong, posisi pasien yang tidak tepat, artefak, blur akibat gerakan, kolimasi yang kurang tepat, serta pengaturan eksposi yang tidak optimal. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 129/Menkes/SK/II/2008, batas maksimal pengulangan pemeriksaan radiologi adalah ≤ 2%, lebih rendah dari standar internasional sebesar 4–6%. Di RSUD Muntilan, belum pernah dilakukan analisis terhadap tingkat pengulangan pemeriksaan radiologi menggunakan DR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase pengulangan foto rontgen dan mengidentifikasi faktor penyebabnya. Penelitian dilakukan secara kuantitatif melalui analisis database DR dari bulan November 2024 hingga Januari 2025. Hasil menunjukkan angka pengulangan melebihi batas nasional, yaitu 5,89% di bulan November, 6,14% di bulan Desember, dan 5,6% di bulan Januari, dengan rata-rata 5,87%. Faktor utama penyebab pengulangan adalah gambar terpotong (219 kasus), posisi pasien tidak tepat (77 kasus), dan artefak (37 kasus). Hasil ini menunjukkan perlunya peningkatan prosedur teknis, pelatihan petugas radiologi, serta komunikasi yang lebih baik dengan pasien untuk meminimalkan paparan radiasi berulang. Penguatan jaminan mutu dan tindakan korektif sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu layanan radiologi secara keseluruhan

    27,272

    full texts

    28,972

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇