Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
    28972 research outputs found

    STUDI KASUS : PENANGANAN BRONKOPNEUMONIA PADA ANAK

    No full text
    Bronkopneumonia masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang banyak dialami oleh bayi dan anak-anak. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan penanganan terhadap bronkopneumonia perlu lebih diperhatikan dan ditingkatkan, baik oleh pemerintah maupun tenaga kesehatan. Langkah ini bertujuan untuk menurunkan angka kejadian bronkopneumonia, khususnya di Kota Semarang. Penanganan yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien agar dapat membantu proses penyembuhan secara optimal. Tenaga kesehatan, khususnya perawat, memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan secara profesional kepada anak-anak yang menderita bronkopneumonia. Peran tersebut mencakup upaya promotif, seperti menjaga kebersihan fisik dan lingkungan (tempat sampah, ventilasi, dan area sekitar); preventif, melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat; serta kuratif, dengan memberikan obat-obatan sesuai indikasi yang diresepkan oleh dokter.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penanganan yang diberikan kepada anak dengan bronkopneumonia. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan yang meliputi pengkajian, pemeriksaan fisik, analisis data, penentuan masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan, dan evaluasi. Subjek penelitian berjumlah dua orang anak. Hasil menunjukkan adanya perbaikan kondisi dan peningkatan fungsi pernapasan setelah dilakukan intervensi berupa manajemen jalan napas dan latihan batuk efektif. Kesimpulannya, penanganan yang tepat dan sesuai dengan kondisi pasien dapat mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan pada anak-anak yang mengalami bronkopneumonia

    EVALUASI PROGRAM PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM) DI KOTA CILEGON

    No full text
    Penyakit tidak menular (PTM) dikenal sebagai penyakit kronis yang tidak menular dari orang ke orang. Penyakit tidak menular ini memiliki durasi yang lama dan umumnya berkembang secara perlahan. PTM atau biasa disebut dengan penyakit degeneratif yang merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat karena tingginya angka kesakitan dan kematian secara global, merupakan jenis penyakit yang tidak dapat ditularkan oleh penderitanya kepada orang lain dan sulit dikendalikan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program PTM di Kota Cilegon dan mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan program penyakit tidak menular. Sampel dalam penelitian ini adalah 9 Puskesmas dan Dinas Kesehatan yang terdiri dari kepala Puskesmas, petugas PTM puskesmas, kader, pasien PTM, dan petugas PTM dari Dinas Kesehatan Kota Cilegon. Pelaksanaan program penyakit tidak menular telah berjalan dengan baik. Dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa kendala antara lain faktor cuaca yang kurang mendukung akibat hujan, pembagian tugas dan fungsi yang masih belum tepat, terbatasnya alokasi dana kegiatan program penyakit tidak menular, dan perlunya dukungan peraturan walikota terkait program penyakit tidak menular. Puskesmas mengajukan usulan pendanaan kepada Dinas Kesehatan untuk program penyakit tidak menular dan Dinas Kesehatan melakukan pendekatan kepada pemerintah daerah untuk mendukung peraturan terkait pelaksanaan program penyakit tidak menular

    SIKAP DAN NORMA SUBJEKTIF SEBAGAI PREDIKTOR NIAT PANTANG SEKSUAL MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT

    No full text
    Perilaku seksual pranikah di kalangan mahasiswa menjadi isu strategis dalam kesehatan masyarakat karena berkaitan dengan risiko kehamilan tidak diinginkan, infeksi menular seksual, serta beban psikososial. Salah satu pendekatan preventif yang dianggap efektif adalah perilaku pantang seksual (sexual abstinence). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara sikap dan norma subjektif terhadap niat pantang seksual pada mahasiswa, serta menginterpretasikannya menggunakan kerangka Health Belief Model (HBM). Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 88 mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga yang dipilih melalui teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup dan dianalisis dengan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara sikap terhadap pantang seksual dan niat pantang seksual (p = 0,001; r = 0,333), serta antara norma subjektif dan niat pantang seksual (p = 0,000; r = 0,653). Analisis teoritis berdasarkan Health Belief Model menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, dan self-efficacy berperan dalam pembentukan niat pantang seksual. Norma sosial terbukti menjadi pemicu terkuat dalam mendorong niat, sementara hambatan psikologis dan rendahnya efikasi diri merupakan tantangan utama yang perlu diatasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembentukan niat pantang seksual merupakan hasil interaksi antara faktor personal dan sosial yang kompleks, sehingga intervensi yang efektif harus mempertimbangkan dimensi kognitif, emosional, dan sosial secara menyeluruh

    IDENTIFIKASI MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) DENGAN METODE HIRARC PADA PEKERJA INFORMAL DI PABRIK BATU BATAKO MSL TOFA OEBUFU, KOTA KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR

    No full text
    Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan gangguan pada otot rangka yang sering dialami oleh pekerja akibat postur kerja yang salah, pengangkatan beban berat, dan gerakan berulang. Pekerja informal di pabrik batu batako memiliki risiko tinggi terhadap kejadian MSDs karena kurangnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko kejadian MSDs menggunakan metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control) pada pekerja informal di Pabrik Batu Batako MSL Tofa Oebufu, Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi langsung saat proses produksi, dan dokumentasi terhadap 10 pekerja. Variabel yang dikaji meliputi aktivitas kerja yang berisiko menyebabkan gangguan MSDs serta penilaian tingkat risiko berdasarkan metode HIRARC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari lima tahapan utama dalam proses produksi pengangkutan bahan baku, pencampuran material, pencetakan, pengeringan, dan penyimpanan batako sebanyak 20% aktivitas tergolong risiko tinggi, 60% risiko sedang, dan 20% risiko rendah. Risiko tertinggi ditemukan pada aktivitas pengeringan batako akibat beban berat dan postur kerja membungkuk tanpa alat bantu. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan perlunya pengendalian risiko melalui pemberian Alat Pelindung Diri (APD), pelatihan kerja, perbaikan prosedur kerja, serta penyediaan alat bantu untuk mencegah kejadian MSDs di tempat kerja

    PENGARUH IMPLEMENTASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK DAN KOMPETENSI PERAWAT TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI RUMAH SAKIT KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA

    No full text
    Rekam medis elektronik berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan sehingga pasien merasa puas, cepat dan nyaman dengan pelayanan yang diberikan kemudian mempermudah tugas tenaga kesehatan khususnya perawat dalam mendokumentasikan riwayat perjalanan penyakit pasien dari mulai masuk sampai keluar rumah sakit. Tahapan melakukanimplementasi rekam medis elektronik diperlukan penguasaan dari pengguna itu sendiri agar kualitas data yang dihasilkan menjadi optimal. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh secara simultan dan bersama-sama implementasi rekam medis elektronik dan kompetensi perawat terhadap kualitas pelayanan di rumah sakit. Desain penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 97 responden. Subjek penelitian yang dipilih adalah Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta dan metode pengambilan data menggunakan kuesioner. Hasil Penelitian ini adalah Implementasi Rekam Medis Elektronik dan Kompetensi Perawat Secara Simultan berpengaruh Terhadap Kualitas Pelayanan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta dengan uji simultan (uji f) dengan melihat nilai F hitung sebesar (22.373) > F tabel (3,09) dengan nilai signifikansinya 0,001 < 0,05. Kesimpulan dan saran dari penelitian ini dapat dikatakan bahwa variabel Implementasi Rekam Medis Elektronik dan Kompetensi Perawat bersama-sama dapat memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Kualitas Pelayanan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta, seluruh karyawan dan tenaga kesehatan khususnya perawat yang menggunakan Rekam Medis Elektronik hendaknya diberikan pelatihan atau In House Training (IHT) terhadap penggunaan Rekam Medis Elektronik sehingga kompetensi perawat dalam Implementasi Rekam Medis Elektronik dapat terpenuhi dengan baik

    GAMBARAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN INTEGRASI LAYANAN PRIMER DI PUSKESMAS WAE NAKENG KABUPATEN MANGGARAI BARAT

    No full text
    Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia yang masih tinggi menjadi indikator bahwa pelayanan kesehatan primer masih menghadapi tantangan dalam mencapai Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang diharapkan. Sebagai respons, Puskesmas Wae Nakeng ditunjuk sebagai pelaksana kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP) yang bertujuan untuk mentransformasi layanan kesehatan yang terfragmentasi menjadi sistem yang terintegrasi berdasarkan pendekatan siklus hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi kebijakan ILP dari perspektif tenaga kesehatan sebagai pelaksana di lini terdepan, dengan menggunakan kerangka Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR), serta mengevaluasi capaian implementasinya berdasarkan indikator implementation outcome yang mencakup adopsi, implementasi, dan keberlanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi partisipatif, studi dokumentasi, dan diskusi kelompok terarah (FGD) terhadap informan yang dipilih secara purposif, yaitu kepala puskesmas, koordinator klaster, dan tenaga pelaksana layanan. Analisis data dilakukan secara tematik berdasarkan domain CFIR dan indikator hasil implementasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan ILP di Puskesmas Wae Nakeng berjalan dengan baik. Keberhasilan didukung oleh keunggulan relatif dari intervensi, kolaborasi lintas sektor yang kuat, kesiapan organisasi, serta kemampuan adaptif dan sikap proaktif tenaga kesehatan. Proses implementasi berlangsung secara partisipatif dan terstruktur. Tingkat adopsi dan penerimaan terhadap program tinggi, pelaksanaan berlangsung secara konsisten, serta terdapat potensi keberlanjutan yang kuat. Namun, tantangan tetap ada pada keterbatasan sarana prasarana dan rendahnya partisipasi masyarakat. Implementasi kebijakan ILP di Puskesmas Wae Nakeng menunjukkan keberhasilan baik dari sisi struktur maupun operasional. Dukungan lintas sektor, kesiapan organisasi, dan kapasitas tenaga kesehatan menjadi kunci utama. Meski demikian, diperlukan penguatan fasilitas dan strategi pemberdayaan masyarakat untuk menjamin keberlanjutan jangka panjang.   Kata kunci         : CFIR, Implementasi Kebijakan ILP, Implementation Outcome Daftar Pustaka : 60 (2021-2025

    HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG, POLA MAKAN DAN UANG SAKU DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA PUTRI DI SMK ASSA’ADAH BUNGAH GRESIK

    No full text
    Permasalahan gizi ganda, yaitu gizi kurang dan gizi lebih, merupakan masalah umum yang terjadi pada remaja dan berdampak negatif terhadap kesehatan serta produktivitas jangka panjang. Secara global, prevalensi remaja yang mengalami masalah gizi mencapai 17%. Salah satu faktor yang memengaruhi status gizi adalah pengetahuan mengenai gizi seimbang dan pola makan yang diterapkan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi seimbang dan pola makan dengan status gizi pada remaja putri. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel terdiri dari 89 remaja putri yang diambil melalui teknik total sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi Square dan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47,2% responden memiliki pengetahuan gizi seimbang yang baik, 65,2% mengonsumsi sayuran setiap hari, 51,7% mengonsumsi buah-buahan, 67,4% mengonsumsi lauk pauk, dan seluruh responden (100%) mengonsumsi makanan pokok setiap hari. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan gizi seimbang (p=0,008), konsumsi sayuran (p=0,042), buah-buahan (p=0,032), lauk pauk (p=0,045), serta frekuensi konsumsi makanan pokok (p=0,000) dengan status gizi. Kesimpulannya, terdapat hubungan antara pengetahuan gizi seimbang dan pola makan (jenis dan frekuensi konsumsi makanan) dengan status gizi pada remaja putri

    STUDI KUALITATIF PENGALAMAN MENYUSUI IBU USIA REMAJA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SASI KECAMATAN KOTA KEFAMENANU KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA

    No full text
    Kehamilan pada usia remaja berdampak pada rendahnya praktik pemberian ASI eksklusif. Ibu usia remaja menghadapi tantangan biologis, emosional dan sosial budaya yang mempengaruhi keputusan ibu remaja dalam menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman menyusui pada ibu usia remaja di wilayah kerja Puskesmas Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi. Informan utama terdiri dari enam ibu remaja yang melahirkan pada usia ≤19 tahun dan memiliki anak usia 0-24 bulan, informan pendukung terdiri dari enam anggota keluarga, satu petugas kesehatan dan satu kader posyandu. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pedoman wawancara semi-terstruktur dan analisis data dilakukan secara tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi lima tema utama: niat menyusui, pemikiran dan perasaan selama proses menyusui, referensi menyusui, dukungan sosial, dan norma sosial dan budaya. Ibu remaja tetap menyusui karena menyadari manfaat ASI, meski dihadapkan pada hambatan seperti nyeri payudara, keraguan terhadap produksi ASI, dan tekanan sosial. Pengalaman menyusui ibu usia remaja bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Dukungan emosional dan informasi dari keluarga serta tenaga kesehatan diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan menyusui pada kelompok ibu usia remaja

    CASE REPORT OF MALARIA WITH CONCURRENT DENGUE AND TYPHOID FEVER

    No full text
    Di Indonesia, malaria, demam berdarah dengue (DBD), dan demam tifoid merupakan penyakit infeksi endemik yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama. Data Kementerian Kesehatan 2025, menunjukkan tingginya angka kejadian ketiga penyakit ini, terutama di wilayah Papua, Bali, dan daerah perkotaan, yang meningkatkan risiko terjadinya koinfeksi dan memperumit diagnosis serta pengobatan. Dilaporkan kasus seorang pria berusia 18 tahun dengan keluhan demam tinggi, nyeri kepala, mual, dan trombositopenia. Pemeriksaan serologis dan laboratorium awal mengindikasikan infeksi DBD dan tifoid. Pemantauan rutin dan pemeriksaan darah tepi dilakukan dan terdeteksi koinfeksi malaria. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa demam dan trombosit pasien tetap turun meskipun telah diberikan terapi suportif dan antibiotik. Pemeriksaan darah tepi mengonfirmasi infeksi Plasmodium falciparum, sehingga terapi antimalaria dengan Dihidroartemisinin-Piperaquine dan Primaquine ditambahkan. Setelah terapi komprehensif dan pemantauan ketat, kondisi pasien membaik dengan normalisasi tanda vital dan peningkatan trombosit. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa  Koinfeksi malaria, DBD, dan tifoid di Indonesia merupakan kondisi langka namun membutuhkan perhatian khusus. Diagnosis sistematis dan pemantauan intensif sangat penting untuk pengobatan efektif dan mencegah komplikasi. Kesadaran klinis terhadap kemungkinan infeksi multipel pada pasien demam di daerah endemik dapat meningkatkan prognosis dan mengoptimalkan manajemen pasien

    PENERAPAN TERAPI OKUPASI MENGGAMBAR PADA PASIEN HALUSINASI DI RSJD dr. ARIF ZAINUDIN SURAKARTA

    No full text
    Halusinasi pendengaran merupakan gejala umum pada pasien skizofrenia yang berdampak signifikan terhadap fungsi sosial dan kualitas hidup. Intervensi farmakologis kerap menimbulkan efek samping, sehingga pendekatan non-farmakologis seperti terapi okupasi menggambar menjadi alternatif untuk membantu menurunkan intensitas gejala halusinasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penerapan terapi okupasi menggambar terhadap penurunan tanda dan gejala halusinasi pendengaran pada pasien di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif terhadap dua pasien dengan halusinasi pendengaran. Terapi dilakukan selama tiga hari dengan teknik pre-test dan post-test menggunakan instrumen observasi tanda gejala halusinasi dan skala AHRS (Auditory Hallucination Rating Scale). Hasil penelitian terdapat penurunan gejala halusinasi pada kedua responden setelah diberikan terapi. Responden pertama menunjukkan penurunan skor AHRS dari 25 menjadi 18, dan skor gejala dari 9 menjadi 4. Responden kedua mengalami penurunan skor AHRS dari 23 menjadi 15, dan skor gejala dari 8 menjadi 3. Kesimpulan terapi okupasi menggambar efektif dalam menurunkan intensitas halusinasi pendengaran serta memperbaiki respons emosional dan sosial pasien. Terapi ini direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis pendukung dalam perawatan pasien dengan gangguan persepsi sensori

    27,272

    full texts

    28,972

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇